Yeah ! terima kasih atas review chapter 1 kalian my lovely readers!
Buat yang bertanya, ini fanfic HunHan ^^ mainly HunHan. Nanti akan ada pairing lain juga. nah chapter 2 sudah datang! Happy reading!
Title : A Prince Who Turns Into a Deer
Main Cast : Sehun, Luhan, Kai
Pair : HunHan, side!Kaisoo Taoris BaekYeol Sulay Chenmin
Genre : Fantasy Romance
A PRINCE WHO TURNS INTO A DEER
chapter 2
Selama hidupnya di istana, Sehun tak pernah jatuh cinta. Tak seperti layaknya orang biasa, sebagai seorang pewaris tahta kerjaaan, ia belajar di istana. Ayahandanya mendatangkan guru-guru handal dari berbagai penjuru negeri untuk mengajari dirinya dan kakaknya. Mempelajari berbagai ilmu yang tak pernah orang awam dapatkan meskipun dalam mimpi. Mempelajari berbagai macam bahasa-bahasa asing yang bahkan Sehun sendiri tak pernah mengerti darimana asalnya. Ia tak pernah bergumul dengan rakyat biasa. Masa kecilnya hanya ia habiskan dengan kakak kembarnya, Jongin. Mungkin karena itulah ia tak pernah sekalipun menyukai lawan jenisnya. Memang, ayahnya sering mengadakan pesta dan mengundang remaja-remaja ke istana tapi tak sekalipun ia menaruh sedikit perhatian pada gadis-gadis yang mencoba mendekatinya. Tak seperti Jongin yang doyan sekali meladeni dan malah menggoda gadis-gadis itu. seringkali Jongin meminta ayahnya untuk mengadakan perjamuan dengan Kerajaan lain. Dan memang Jongin sedang jatuh cinta pada seorang pangeran dari Kerajaan timur. Entah , Sehun tak ingat namanya. Jongin selalu memujinya. Baik di hadapan dirinya bahkan ayahanda dan ibu. Sehun hanya bisa memutar bola matanya berulang-ulang sampai lelah setiap mendengar rayuan Jongin dan hanya bisa tertawa ketika Pangeran itu menolaknya, berkali-kali. Sehun mengakui kalau pangeran yang disukai kakaknya itu memang cute. Tetapi tak cukup membuat Sehun merasakan seperti ini.
Sehun yakin. Wajahnya sekarang mungkin sama tololnya dengan wajah Jongin yang biasanya ia pasang saat menatap belahan hatinya. Sehun tak bisa berkata apapun. Matanya tertancap pada sosok indah yang sedari tadi bernyanyi di tepi sungai jernih. Suara gemericik air yang jernih tak mampu mengalahkan indahnya suara laki-laki itu. tanpa Sehun sadari, ia menutup matanya dan mendengarkan dengan seksama lagu yang pria itu gumamkan.
"Hao xiang shen me dou bu dong de yi ge hai zi yi yang chun zhen
Chong sheng na ge mei li de shun jian
Shuang yan bi shang you zheng kai le pa zhe yi qie zhi shi meng Liu lian"
Sehun baru menyadari bahwa bahasa yang terdapat pada lagu itu berbeda dengan bahasa yang ia gunakan. Tetapi Sehun mampu memahami semua itu. terima kasih atas pelajaran bahasa asing yang gurunya ajarkan dulu. Sehun tak mampu mengalihkan pandangannya dari makhluk misterius yang ada di depannya.
Sehun ingin mendekati makhluk itu. ia ingin mengenal dan berbicara dengannya. Entah apa yang mendorongnya. Apa ia sedang jatuh cinta?
Sehun memberanikan diri keluar dari balik pohon dimana ia mengintip sedari tadi. selama menuju makhluk itu, ia tak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya. Layaknya terhipnotis.
"s-siapa kau?!"
Pekik makhluk itu membuat Sehun terbangun dari lamunannya. Makhluk itu telah bangkit dari posisinya. Burung-burung yang mengelilingi beterbangan meninggalkan sisinya. Ia kelihatan sangat ketakutan. Matanya membulat lebar dan bibirnya yang mungil gemetaran.
Sehun yang sadar kalau ia sudah membuatnya takut , mulai panik. Ia hanya ingin menyapa dan mengenal makhluk itu. betapa bodohnya ketika ia malah semakin memperpendek jarak diantara mereka dan membuatnya makin panik.
"jangan takut ! aku hanya seorang pengembara. Aku datang dari Barat" kata Sehun berusaha menenangkannya.
Tetapi makhluk itu malah berusaha kabur. Ia lari tetapi kemudian ia terjatuh. Ia tersungkur di tanah memegangi kakinya.
"kau baik-baik saja ?" sehun berusaha meraih tangannya hanya untuk ditampik kembali dengan kasar.
"jangan sentuh aku !" bentaknya.
"m-maaf…! Aku tak bermaksud menyakitimu sama sekali. aku melihatmu dari jauh dan..dan aku sangat menyukai suaramu. Maaf telah lancang mendengarkanmu menyanyi" sehun berusaha menjelaskan. Ketika mengucapkan itu ia bersumpah melihat makhluk itu memerah pipinya.
"pembohong ! aku tahu kau seorang pemburu ! pergilah ! jangan ganggu kami !"
Sehun merasa sangat sedih. Memang benar ia sedang berburu tapi ia hanya ingin bicara dengannya. tidak lebih.
Makhluk bertanduk rusa itu berusaha bangkit. Namun belum sempat menyeret kakinya,ia sudah terjerembap lagi.
"hei kau baik-baik saja?!" sehun mulai khawatir.
"jangan ! jangan bunuh aku! Jangan memanahku lagi! aku mohon pergi!" ia mulai histeris. Ia menyeret badannya jauh-jauh dari Sehun.
Sehun tidak paham dengan apa yang dikatakan makhluk itu. memanahnya? Ia tak pernah merasa memanah manusia. Tak mungkin ia berusaha membunuh manusia. Seingatnya, kemarin ia hanya berhasil melukai kaki rusa itu…
Tunggu.
Kemarin ia memanah seekor rusa. Tetapi meleset dan hanya mengenai kakinya. Dan di hadapannya sekarang ada seorang makhluk ajaib bertanduk rusa dan kebetulan, kakinya terluka.
Mungkinkah ?
Ia kembali menatap makhluk itu yang mulai menangis histeris.
Sial! Umpat Sehun.
"jangan menangis ! Aku tidak akan menyakitimu lagi !" janji sehun.
"pergilah, apakah kau tak melihat kakiku sedang terluka?" makhluk itu berkata di sela-sela tangisannya yang makin deras.
"aku tahu ! maafkan aku yang telah membuat kakimu begini. Tapi setidaknya biarkan aku mengobatinya sekarang"
Sehun merasa bersalah, ia melihat kaki yang indah itu. jenjang dan langsing. Tetapi Sehun telah membuat salah satu kakinya berdarah. Tampaknya , makhluk itu berusaha membalut luka itu dengan kain tetapi itu belum cukup. Darahnya masih terus mengalir.
"apa? Kau mau mengobatinya?" makhluk itu bertanya balik, ragu.
"Betul. Kakimu semakin parah. Kalau tidak segera diobati, kau bisa kehilangan banyak darah. Tak ada yang bisa menolongmu di tengah hutan ini !" sehun terdengar putus asa.
Makhluk itu masih kelihatan ragu tetapi tubuhnya sudah mulai tenang. Tangisannya sudah mulai berhenti. Ia memegangi kakinya yang berdarah. Wajahnya yang cantik nampak kesakitan.
Itu pasti sakit, batin Sehun.
Ia semakin merasa bersalah. Ia sudah tidak punya waktu lagi. nyawa makhluk itu menjadi taruhannya. Ia harus mengobatinya,segera.
Maka ia memberanikan diri menggendong makhluk itu yang ternyata sangat sangat ringan, Sehun tak memedulikan pekikan tanda tidak setuju darinya.
"h-hei turunkan aku..! apa yang kau inginkan?!" makhluk itu memukuli sehun.
"diamlah, darahmu terus mengalir!" bentak sehun. Membuatnya kaget dan terdiam.
"bisakah kau tenang sedikit? Aku bersumpah tidak akan membunuhmu" ujar sehun dengan nada yang lebih lembut.
"lalu,kau mau bawa aku kemana?" tanya 'rusa' itu.
"aku akan membawaku ke kudaku. Aku membawa sedikit obat. Aku memang bukan tabib handal, tapi kalau sekedar luka yang aku buat sendiri, kurasa aku masih bisa mengatasinya"
'Rusa' itu mengeluarkan suara seperti menggerutu perlahan,menandakan berakhirnya perlawanan yang ia tunjukkan. Ia mulai rileks di tangan Sehun. Bahkan mendekatkan wajahnya ke bahu lebar pangeran itu. layaknya rusa kecil yang manis. Sehun tersenyum kecil melihat ini.
Tak lama kemudian, ia menjumpai kudanya tengah merumput. Ia langsung menghampirinya, menurunkan dan membaringkan makhluk itu di atas rumput yang nyaman. Sehun mulai mengeluarkan obat-obatannya.
Saat Ayah mengirimnya seorang guru untuk mempelajari ilmu pengobatan,ia tak bercanda. Sehun benar-benar dibuat menguasai berbagai macam ilmu pengobatan. Mengingat ibunya adalah seorang penyembuh paling termahsyur di negeri manapun. Ratu Yixing adalah penyembuh hebat. Tabib handal. Maka keturunannyapun harus sehebat itu. tetapi tetap saja, Jongin selalu selangkah lebih depan darinya.
Tetapi ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan Jongin. Ia harus segera mengobati makhluk malang ini. maka ia membuka perbekalannya dan mengeluarkan berbagai obat yang khusus ibunya bawakan sebelum memulai perburuan. Ia mengenali cairan hijau bening kental dalam botol kaca yang ia pegang sekarang sebagai ramuan ginseng. Ini cocok untuk mengobati luka tertusuk.
Sehun sibuk mencari sehelai kain untuk mengoleskan ramuan itu pada luka si 'Rusa',ketika ia tak menemukan apapun akhirnya ia memutuskan untuk menyobek jubahnya sendiri. jubah itu bukan benda yang murah dilihat dari bahannya, tapi Sehun tak peduli.
"sekarang yang harus kau lakukan hanyalah rileks" ujar sehun lembut. Mata 'Rusa'itu melebar ketakutan.
"apakah akan sakit?" tanya makhluk itu pelan.
Sehun tertawa. Ia memperhatikan bahwa telinganya , telinga yang menyerupai telinga rusa itu mulai menegang seiring dengan ketakutannya.
"kau harus tahan sedikit. Ya? aku bisa melakukan ini. percayalah" ujar sehun menenangkan.
"b-baiklah.."
"ini akan segera selesai. aku janji"
Dengan itu , sehun membersihkan darah yang masih mengucur dari luka itu dengan air yang bersih,kemudian menuangkan ramuan ginseng ke kain jubahnya dan mengoleskannya ke kulit 'Rusa' yang terluka. Seketika obat itu berkontak dengan kulit, sehun memperhatikan wajah Si Rusa ia menggigit bibir bawahnya menandakan ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Ibu sehun memang pernah bilang bahwa obat itu memang perih. Obat yang manjur selalu membawa awal yang buruk.
Sehun terus menekankan kain itu ke luka si 'Rusa', membuatnya gemetar menahan rasa sakit. sehun semakin merasa bersalah melihatnya merasakan penderitaan semacam ini. maka ia menggenggam tangannya yang halus dengan tangannya yang bebas. Membuat si 'Rusa' terkejut dan membuka matanya. mata yang indah dan jernih itu menatapnya dengan syok. Sehun tersenyum membuat pipinya memerah.
Setelah beberapa menit berlalu dan tangan mereka saling bertaut, sehun menarik tangannya kembali dari luka dan tangan si 'Rusa'. Sehun tersenyum melihat pipinya bersemu merah.
"sudah…selesai?" tanya 'Rusa'itu.
"maaf, tapi sayangnya belum" sehun tersenyum tipis. "aku harus menjahit luka ini"
"ja-jahit?" serunya ketakutan.
"aku harus menutup luka ini kalau tidak darahnya akan terus mengalir" jelas sehun layaknya seorang tabib.
"jangan khawatir. Apakah kau masih merasa sakit sekarang?"
"eh? Tidak.."
"itu berarti obatnya sudah bekerja. Selain sebagai penghenti infeksi, Obat ini memang sangat sakit sampai-sampai kau tidak akan merasakan lagi kakimu untuk beberapa saat. Karena itu saat aku menutup lukamu nanti,kau tak akan merasakan sakit sedikitpun"
Mata 'Rusa' itu berbinar-binar. Terkesima oleh kata-kata yang baru saja sehun luncurkan. Pemandangan ini membuat sehun ingin tertawa. Sedetik lalu, wajahnya ketakutan tapi sekarang semua itu sudah terhapus dengan wajah komikal.
"apa aku bisa memulainya sekarang?" tanya sehun. "aku khawatir efek obatnya hilang"
"ah tentu saja! Silahkan" makhluk itu menyodorkan kakinya lebar-lebar pada sehun yang membuat mata sang pangeran melotot. Situasi yang sungguh canggung. Tangan sehun jadi gemetar saat menyentuh kaki mulus itu. tetapi tampaknya makhluk itu tidak peka dengan situasi ini dan makin mendekatkan dirinya dengan sehun. Membuat sang pangeran berjengit.
Mata lebar sang 'Rusa' tak pernah meninggalkan gerakan tangan sehun yang menjahit lukanya dengan cekatan. Sehun bisa melakukan ini dengan cukup baik tapi ia yakin Jongin mampu melakukan ini lebih cepat darinya. Setelah beberapa menit,akhirnya sehun selesai menjahit luka itu.
"sudah selesai sekarang,lukamu sudah sembuh" ujar sehun tersenyum.
"benarkah? Aku pikir aku bisa mati kemarin, banyak sekali darah yang keluar dan rasanya sakit sekali" makhluk itu sedikit cemberut , membuatnya semakin menggemaskan.
"aku minta maaf sekali lagi telah membuatmu terluka seperti itu" ujar sehun cepar-cepat.
"aku tahu kau sangat menyesal. kalau tidak, kau tidak akan repot-repot mengobatiku seperti ini" 'Rusa' itu tersenyum yang membuat sang pangeran lega.
"terima kasih banyak,Tuan Pemburu" makhluk itu menambahkan.
"terima kasih juga telah mempercayaiku…eh…" sehun tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya dengan apa, apakah sopan kalau ia memanggilnya 'Rusa'?
"eh..bolehkah aku tahu siapa namamu?" tanya sehun malu-malu.
Makhluk itu diam sejenak,seakan berpikir. Sehun menahan napas. Ia sudah dimaafkan kan? Ia ingin sekali mengenalnya lebih jauh.
"Luhan. Panggil aku Luhan" jawabnya sambil tersenyum.
Sehun tak mampu berkata apa-apa selama beberapa saat. Senyum Luhan yang begitu indah berhasil membuatnya membeku. Suara Luhanlah yang mengembalikannya ke bumi.
"siapa namamu, Tuan Pemburu?" tanya Luhan penasaran. Ia mendekatkan wajahnnya yang cantik ke wajah sehun.
"a-aku..? namaku Sehun. A-aku dari Barat" jawab sehun tergagap-gagap,tidak menduga wajah Luhan sedekat ini.
"Sehun…? Sehun" Luhan mengulangi namanya sambil tersenyum kecil membuat Sehun semakin tak tahu harus berbuat apa. Luhan sangat menggemaskan.
"sehun sehun sehun sehun" ulang Luhan terus menerus.
"y-yah , jangan panggil aku terus begitu,Luhan"
"t-tidak apa-apa kan? Bukankah kita berteman? Apa Sehun tak mau berteman denganku..? " tanya Luhan ragu-ragu.
"apa yang kau katakan? Tentu saja aku mau berteman denganmu!" seru Sehun.
"syukurlah" Luhan tersenyum lega. "akhirnya aku bisa punya teman"
"benarkah? Jadi kau tidak punya teman?" tanya Sehun.
"tidak juga. aku berteman dengan Joon si Burung merpati, Min si kelinci dan banyak lagi!" ujar Luhan antusias.
"sepertinya temanmu baik sekali" ujar Sehun sambil tertawa.
"tentu saja. Lain kali aku akan mengenalkannya pada Sehun,ah tentu saja kalau kau mau" Luhan tampak ragu.
"kenapa kau berpikir begitu? Tentu saja aku tidak keberatan. Sebenanrnya, Aku juga tidak terlalu punya banyak teman" Sehun berusaha merendah. Tapi memang begitu kenyataannya. Ia tidak belajar di sekolah layaknya rakyat biasa. temannya hanya saudara kembarnya yang menyebalkan.
"jadi Sehun dan aku sama ya" Luhan menatapnya dengan matanya yang lebar.
"kurang lebih seperti itu" Sehun berusaha mengubah suasana.
"ayo sekarang kita bermain saja! Aku akan mengenalkanmu pada Joon dan Min dan yang lain! Sehun pasti menyukai mereka!" dengan itu ia menarik tangan Sehun dan bangkit, tetapi Sehun lupa mengatakan bahwa luka yang baru saja ia jahit belum menutup dengan sempurna dan masih dibutuhkan waktu beberapa hari untuk bisa berjalan seperti semula.
Karena itu , Luhan tak bisa menjaga keseimbangannya dan terjatuh lagi. ia meringis kesakitan.
"meskipun aku mengatakan kalau lukamu sudah sembuh tapi sebenarnya tak ada obat yang seperti itu" Sehun menghela nafas. Ia membantu Luhan bangkit. Rusa itu mengedipkan matanya tidak paham.
"hanya waktu yang bisa menyembuhkannya, karena itu butuh beberapa hari lagi agar kau bisa berjalan lagi dengan normal" lanjut sang pangeran dengan nada sedih.
Luhan membelalak tidak percaya. Bagaimana ia bisa bermain dengan Joon dan Min nanti? Lebih lagi, bagaimana caranya mencari makan? Ia bisa kelaparan! Dan kalau ada binatang buas, ia tidak akan bisa melarikan diri! Bagaimana kalau ada pemburu lagi? Luhan sibuk memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Mimik wajahnya berubah-ubah. Ia mengerutkan dahinya. Mengerucutkan bibirnya yang mungil dan kadang memegangi dagunya seolah-olah berpikir. Ia memang sedih tapi wajahnya tak sepenuhnya menyiratkan itu.
Ini membuat Sehun ingin tertawa. Bagaimanapun Sehun tahu perasaan Luhan. Dan bagaimanapun, Sehun adalah orang yang menyebabkan semua itu. maka Sehun ingin menebus kesalahannya.
Sehun meraih tangan Luhan yang membuat Si Rusa menghentikan pemikirannya yang semakin jauh kemana-mana. Luhan mendongak menatap Sehun, bertanya-tanya.
"jangan khawatir, aku akan menemanimu disini sampai kau sembuh total" ujar Sehun.
"b-benarkah?" Luhan membelalak.
"aku yang melukaimu maka adil apabila aku membantumu, Luhan"
"tapi-
"bukankah tadi kau bilang kita berteman? Apa salahnya membantu teman?"
Mendengar kata 'teman' membuat Luhan berhenti membantah lagi. ia melirik tangannya yang masih digenggam oleh tangan hangat Sehun. Teman. Kata yang sangat hangat dan menyenangkan. Dan Sehun adalah teman pertamanya. Betapa lama ia menantikan seorang teman untuk datang padanya. Maka Luhan tersenyum dan membalas genggaman tangan Sehun lebih erat.
"benar" Luhan tersenyum. "ayo, teman, sekarang antar aku ke rumahku" Luhan menunjuk ke arah dimana sarangnya berada.
Luhan dengan lucunya memerintah Sehun. Sang pangeran tertawa. Ia berjongkok di depan Luhan. Ia menunggu Luhan menaiki punggunnya tetapi yang ditunggu malah berdiri dengan gelisah.
"tunggu apalagi?" tanya Sehun heran.
"eh…baiklah." Dengan ragu-ragu, Luhan menaiki punggung Sehun. Sehun dengan perlahan mengangkat tubuhnya dan menggendong Si Rusa ke sarangnya. Sehun menggumamkan lagu kecil selama menuju sarangnya, ia tidak tahu bahwa ada rona merah yang sekarang menjalar di pipi Luhan. Dan jantung yang berdegup semakin keras di balik punggungnya.
-to be continued-
Semakin banyak review, semakin cepat update^^ thx for reading ^^ love ya –author-
