Taiyou no Uta

(A Song to the Sun)

.

.

Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.

Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc,KyuMin!


Music: Taiyou no Uta by Erika Sawajiri


.

"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."

"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."

"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."

.


"Ingat Kyuhyun-ah, hati-hati kalau keluar. Pastikan tidak ada yang mengenalimu. Dan jangan lupa janjimu tadi, sebelum jam 5 pagi kau harus sudah tiba di hotel! Ya! Jangan seenaknya―"

Suara teriakan Leeteuk yang terakhir benar-benar tidak mampir ke telinga Kyuhyun. Setelah konser hari ke duanya selesai setengah jam lalu, namja itu segera meminta ijin―dengan susah payah pada sang manager untuk jalan-jalan malam―katanya, kau taulah apa yang benar. Tidak sabar untuk segera bertemu dengan teman barunya yang kemarin.

Aneh.

Padahal Kyuhyun bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru. Tapi entah kenapa saat bersama Sungmin rasanya begitu nyaman. Ya, bahkan sekarang Kyuhyun sudah bisa melupakan permasalahannya dengan si-yeoja-kurang-ajar itu.

Hah.. Sang namja aegyo berambut pirang itu sukses membuat 'Sang Bintang Asia' menaruh perhatian penuh padanya. Mungkin keduanya akrab karena hobi yang sama atau dasarnya Sungmin termasuk orang yang ramah dan pintar bersosialisasi hingga Kyuhyun sudah merasa seterbiasa itu padanya.

Bisa juga sih, tapi ahh... Seperti Kyuhyun peduli saja. Yang penting kan dia bisa merasa nyaman dengan Sungmin. Urusan alasan? Mana peduli dia~

Sekarang, 30 menit berlalu. Kyuhyun mulai menepikan Audi hitamnya di jalan yang kemarin. Matanya awas mencari sosok namja berambut pirang itu.

'Kemana dia?'

Alisnya sedikit mengkerut saat Kyuhyun tidak bisa menemukan sosok Sungmin dimanapun. Ahh, mungkin saja hyungnya itu memang belum datang, kan?

'Dia pasti datang sebentar lagi.'

Berbekal keyakinan itu, Kyuhyun mencabut kunci mobilnya dan bergegas turun. Memilih untuk berdiri dengan bersandar pada mobilnya.

"Ah, Sungmin hyung!"

Seruan riang itu terucap begitu sosok manis yang malam ini mengenakan sweater hitam beraksen pink tampak di ujung jalan. Ditangan kanannya dengan setia tergenggam tempat gitar berwarna serupa.

Yang dipanggil mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Sedikit terkejut sebelum tersenyum ramah dan menyahut pelan, "Annyeong Kyuhyun-ah."

"Kenapa kau baru datang, hyung?"

"Aku memang biasa datang jam segini, kok. Kau sendiri, kenapa bisa disini?"

Kyuhyun merengut sebal mendengar itu. Segera setelah mereka mendudukkan diri dengan nyaman di trotoar, Kyuhyun berujar "Kenapa bilang begitu? Kau tidak ingin aku ada disini hyung?"

"Lho? Kapan aku bilang begitu?" sanggah Sungmin polos. Namja itu mulai mengeluarkan gitarnya, bersiap menyalurkan hobi serta bakatnya. "Lagi pula aku senang kau kemari. Aku jadi ada teman ngobrol."

Kyuhyun mengangguk sambil mengulum senyum senang-eh, kenapa? "Kau mau menyanyi lagi ya, hyung? Kali ini lagu apa?"

"Ehm.. 'Taiyou no Uta'."

"Eh? Artinya apa? Apa itu juga lagu ciptaan mu?"

Sungmin menoleh dan tersenyum lembut ke arah Kyuhyun. "Taiyou no Uta artinya 'Sebuah lagu untuk mentari'. Dan, tidak.. Lagu itu milik Erika Sawajiri-ssi. Lagu favoritku sebenarnya."

"Lagu untuk mentari ya, sepertinya bagus. Bernyanyilah hyung, aku juga ingin mendengar suaramu lagi." angguk Kyuhyun paham. Namja itu mulai menopangkan dagunya, mengamati Sungmin yang mulai memetik intro nyanyiannya.

"Furueteiru watashi no te ni, hajimete kimi ga furete.
Yasashi kimochi atatakasa―"

Kyuhyun mengernyit saat bayang Sungmin yang berhenti memetik gitar tertangkap matanya. Namja manis itu memandang aneh ke arah tangan kirinya, dan tak lama langsung menggeleng sembari kembali memetik gitarnya.

"―atatakasa ni yatto kizuitanda.
Tozashita mado akereba, atarashii kaze ga―
ck..."

"Wae?" tanya Kyuhyun.

Namja bermarga Cho itu memandang khawatir kearah Sungmin yang sibuk mengamati telapak tangan kirinya. Menggerakkan―membuka dan menutup― jemari lentiknya seolah memastikan jika tiap sambungan tulang di sana masih menempel dengan baik.

"Aniyo." jawab Sungmin akhirnya.

Walau jawaban seadanya itu tidak memuaskan rasa penasaran Kyuhyun, namja itu memilih bungkam. Hanya mengangguk dan menatap Sungmin yang kembali memetik gitar untuk meneruskan lagunya.

"Atarashii kaze ga fuita...
Waratte naite kimi to deaete, mieru sekai wa kagayaki dashita.
Himawari yureru taiyou no―"

Lagi, petikan gitar pengiring lagu itu terpotong. Membuat rasa khawatir dan penasaran Kyuhyun memuncak. "Sungmin hyung, gwaenchanha?"

"Ne, gwaenchanha." desah Sungmin lirih. Tangan kanannya terangkat dan mengacak rambut pirang yang kali ini tidak tertutupi topi.

Sementara sepasang mata foxy indah itu memandang pasrah pada tangannya yang lain.

"Jinjayo? Tapi kenapa tanganmu―"

"Sudah kubilang aku baik-baik saja Kyuhyun."

Sebaris kalimat ketus itu terucap bersamaan dengan tatapan dingin yang mengarah ke namja di sampingnya. Sedetik setelahnya, Sungmin kembali menghela nafas. Terlihat gurat dinginnya perlahan luntur, terganti oleh raut bersalah yang mengembang.

"Mian. Aku tidak bermaksud kasar, ma'afkan aku Kyu."

Kyuhyun, yang asalnya terkejut dengan kalimat tajam dari bibir hyungnya langsung tergagap. "N.. Ne, ne. Nado mianhae, hyung-ah. Ma'af telah-err... Terlalu ikut campur."

Yang lebih tua tersenyum sekilas dan mengangguk. Selang beberapa satuan waktu mulai meraih tempat gitar disampingnya dan membereskan sang gitar ke tempatnya.

"Lho, kau sudah selesai hyung? Kenapa cepat sekali?" protes Kyuhyun. Dilihatnya hyungnya itu mulai menekuk kakinya, memeluk kedua lututnya dengan lengan putih yang tertutup sweater lengan pendek.

"Aku juga belum ingin berhenti. Tapi... Sudah tidak bisa lagi. Rasanya sulit sekali."

"Hah? Kau bicara apa sih?"

Heran deh.

Orang disampingnya ini kenapa hobi sekali berkata aneh? Apa maksudnya coba kalimat 'sudah tidak bisa' dan 'sulit sekali' itu? Apa ada hubungannya dengan protes Kyuhyun tadi? Bukan berarti dia bodoh, namja itu jenius lho.

Tapi memahami rentetan kalimat dari hyungnya ini juga bukan hal mudah. Banyak puzzle yang masih rumpang perihal siapa itu Lee Sungmin bagi Cho Kyuhyun.

Eh, berbicara tentang aneh―

"Oh ya hyung. Apa maksud kata-katamu kemarin?"

―Kyuhyun jadi teringat ucapan aneh Sungmin yang lain.

"Ng? Kata-kata apa?" balas Sungmin polos. Namja imut itu memiringkan kepalanya bingung. Membuat poni pirangnya tertarik gravitasi bumi dan bergerak menutupi sebelah matanya. Ekspresinya itu lho... Duh―

―Cute sangat. Sumpah.

"Err... Waktu kau bilang 'kalau aku masih hidup, aku pasti kesini lagi'. Apa maksudnya itu? Memangnya hyung tentara yang sedang perang, apa?"

"Oh, itu." Sungmin tertawa kecil. "Bukan apa-apa kok. Tapi... Perang ya? Aku memang sedang perang, Kyu. Perang melawan matahari."

Kyuhyun memutar bola matanya jengah. Nah, kan? Dia mulai lagi. "Ck... Kau berkata aneh lagi, hyung." tandasnya kesal. "Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu yang bisa kupahami saja?"

Hyungnya memilih diam.
Tidak merespon pertanyaan Kyuhyun yang terakhir dan-tanpa bisa diduga Kyuhyun, merebahkan tubuh mungilnya diatas trotoar dingin. Memandang kosong ke langit dengan berbantalkan kedua lengan.

Dia bergumam pelan, "Langit itu... Apa langit itu terlihat lebih indah saat tidak berwarna hitam?"

Namja disampingnya menoleh, posisi Sungmin yang berbaring disamping Kyuhyun membuat wajah namja manis itu berada dibelakangnya. Sang hallyu star itu perlahan menggeser tubuh. Menyandarkan punggung ke dinding tinggi dibelakangnya.

Heh... Kyuhyun belum cukup gila untuk mengikuti hyungnya yang masih berbaring sambil menatap langit itu. Mau ditaruh dimana mukanya yang tampan ini jika ada orang yang melihatnya tengah berbaring di trotoar? Bisa turun image kerennya nanti.

Menyingkirkan pikiran narsis barusan, Kyuhyun ikut mendongak. Ikut mengamati langit Tokyo yang hitam kejam dengan jutaan bintang.

"Tentu saja indah. Apalagi saat cuaca cerah dan tidak ada awan, warna birunya benar-benar cantik hyung." ―seperti kau.

Eh? Kyuhyun bilang apa tadi?

"Benarkah?"

"Ne. Masa tidak sadar sih?"

"Aku tidak pernah melihatnya." Senyum kecutnya terkembang.

"Mwo?" Kyuhyun menurunkan wajahnya. Ganti menatap bingung ke arah Sungmin yang masih menatap intens langit di atas. Dapat dilihatnya, namja manis itu mulai mengangkat tangan. Seolah dia bisa menggapai langit tinggi itu.

"Sekali saja. Aku ingin melihat langit yang berbeda dari ini. Langit yang biru. Yang bersih dari bintang dan hanya disinari mentari― kyu?"

Kyuhyun tersenyum lembut. Tangan Sungmin digenggamannya terasa halus. Hangat, hingga membuat rasa aneh kemarin kembali menelusup ke dadanya. Perlahan, namja tampan itu berdiri. Menarik Sungmin untuk melakukan hal yang sama.

"Ayo ikut aku hyung."

"Hah?"

"Ck... Bukan 'Hah'. Dan jangan menatapku seperti itu. Katanya kau ingin melihat langit? Aku tahu tempat yang bagus."

Ganti sekarang Sungmin yang menatap aneh pada Kyuhyun. Mereka ini baru kenal dua hari-ralat, dua malam, Lho. Bagaimana bisa namja ini mengajaknya pergi?

"Mau kemana?" respon Sungmin ragu. Ah~ dia bahkan tidak protes dengan tangannya yang masih digenggam Kyuhyun. Tidak sadar sih tepatnya.

"Tokyo dome. Pokoknya ikut saja hyung. Tenang, aku bukan orang jahat kok." bujuk Kyuhyun gigih. "Mau ya hyung?"

"Ng..."

"Kalau kau masih bingung, pikirkan sambil jalan saja hyung." putus Kyuhyun seenaknya.

"Y.. Yah! Kyuhyun-ah, jangan menarikku begitu. Aku belum bilang setuju, kan? Lepaskan aku!"

"Nae Minnie hyung yang manis~ jangan bertingkah seolah kau ini yeoja yang ingin ku culik. Tenang saja, aku pasti memulangkanmu tanpa lecet, kok."

O o... Sekarang sudah berani berkata 'nae', eoh? Pabboya Kyuhyun!
.


.
Sekarang, 15 menit berlalu. Audi hitam yang mereka tumpangi mulai melambat dan akhirnya berhenti total di depan bangunan megah berbentuk bulat telur. Si empunya mobil mulai mengukir senyum kagumnya saat bayang megah Tokyo dome telah terpeta di matanya.

"Sekarang, mau apa kita disini?"

Suara kesal dari namja disampingnya membuat Kyuhyun terkekeh. Tanpa menoleh, dia menjawab pelan. "Tiap aku berlibur ke Jepang, aku pasti menyempatkan diri untuk berkunjung ke sini."

Tidak ada respon dari Sungmin. Sepertinya namja aegyo itu tahu, kalimat Kyuhyun akan berakhir panjang.

"Tapi aku tidak berani masuk ke sana. Hanya berdiam di mobil sambil mengamatinya dari jauh. Kau tahu hyung? Di saat seperti ini, aku selalu bermimpi agar kelak, saat aku menginjakkan kaki pertama kali di dalam sana, aku sedang melakukan persiapan untuk konser tunggalku.

"Aku sedang bersiap dibalik panggung untuk menghibur para penonton yang duduk di tiap bangku. Yang meneriakkan namaku dan akan tertawa riang saat aku mulai menyanyi. Aku selalu bermimpi untuk itu. Tapi hingga sekarang, aku tidak tahu entah kapan aku bisa berdiri di dalam sana."

"Kau Cho Kyuhyun, kan?"

Yang disebut namanya menoleh.

Sungmin sekarang tersenyum lembut, tangannya perlahan terangkat dan mengusap rambut ikal yang muda. "Hallyu star yang disebut-sebut sebagai soloist sempurna. Aku yakin itu bukan sekedar mimpi, dongsaeng-ah. Kau pasti bisa berada di dalam sana. Berdiri diatas panggung yang megah dengan tribun yang terisi penuh. Kau punya kesempatan, jangan lepaskan apa yang bisa kau raih saat ini."

"Kau janji akan datang saat itu?"

"Aku tidak punya hak berjanji." jawab Sungmin diplomatis.

Mata Kyuhyun mengernyit tak setuju. "Kenapa begitu? Kau berbicara tentang kesempatan dan semangat. Lalu bagaimana denganmu hyung?" tanyanya. "Kau juga punya kesempatan untuk menjadi penyanyi. Kapan kau akan mengambil kesempatan itu?"

Si namja aegyo memejamkan matanya, menyandarkan tubuh ke jok mobil yang nyaman. "Aku tidak punya kesempatan yang kau katakan tadi. Sesederhana itu." jawabnya tenang.

Kyuhyun mendesah. Sekali lagi menoleh ke arah bangunan tinggi Tokyo dome sebelum memutuskan keluar dari mobilnya. Namja itu melangkah ke sisi yang lain, bermaksud dan membukakan pintu untuk hyungnya. Tangannya sekarang terulur, menunggu Sungmin untuk menyambut ajakan penuh harapnya.

"Lupakan saja yang tadi. Sekarang, ayo kita senang-senang hyung. Di dekat sini ada taman hiburan yang buka sampai pagi. Di situ juga, akan ku tunjukan tempat terindah untuk melihat langit." tawar Kyuhyun. Namja itu sudah siap dengan mantel hitamnya di tangan yang lain dan topi berwarna senada di kepalanya.

Tapi melihat Sungmin yang diam membuat Kyuhyun berdecak kesal. Tanpa pikir panjang, dia segera menggenggam dan menarik tangan hyungnya. Membawa namja yang dua tahun lebih tua darinya melangkah cepat menuju gerombolan keramaian di ujung sana.

Tokyo merupakan kota yang tak pernah mati, ne? Tokyo dome city ini contohnya.

Lihat saja, hingga nyaris larut begini, masih banyak lalu lalang pengunjung di taman bermain yang mereka kunjungi.

Kyuhyun memandang keramaian di kanan kirinya dengan senyum tipis. Walau dia tidak terlalu senang dengan keramaian, setidaknya berbagai macam permainan dan jejeran toko pernak-pernik mampu sedikit mengangkat penatnya. Berbeda dengan sosok penyanyi disampingnya, Sungmin menatap tertarik pada setiap apa yang mereka jumpai. Binar kagum dengan jelas terpancar dari sepasang mata sewarna karamel itu. Membuatnya tampak seperti anak kecil yang baru permata kali diajak ke taman hiburan oleh orang tuanya.

"Kyu... Itu apa? Kita kesana, ne?"

Mendengar suara penuh harap Sungmin membuat Kyuhyun menghentikan langkah mereka. Ikut memandang ke satu wahana yang mampu membuat si aegyo tertarik.

"Oh.. Roaler coaster? Kau yakin mau naik itu, hyung?"

Kyuhyun tertawa pelan melihat Sungmin yang menjawab pertanyaannya dengan satu anggukan semangat. Tanpa menunggu, namja itu segera membawa kakinya untuk menuruti keinginan hyungnya. Menghabiskan semalam penuh dengan mencoba berbagai wahana yang tersedia di sini.

Sekalinya Kyuhyun sedikit heran dengan antusiasme Sungmin. Namja itu terlihat aneh dengan tingkahnya yang sering terkejut kagum saat mereka berganti wahana. Tak ubahnya seperti orang yang sama sekali tidak tahu apa itu taman hiburan. Walau begitu, ekspresi bahagia yang tercetak jelas di wajah aegyonya mampu menghapus rasa heran barusan.

Memang siapa yang tahan dengan raut senang yang teramat tulus dari seorang Lee Sungmin? Kyuhyun yakin jutaan orang diluar sana akan berfikiran sama jika mereka berada di posisinya sekarang.

"Kau senang, hyung?" tanya Kyuhyun begitu mereka turun dari wahana yang-entah-keberapa.

"Ne. Aku senang sekali. Baru kali ini aku tahu bagaimana serunya taman bermain itu. Jeongmal gomawo Kyuhyun-ah." senyum manis dengan setia terkembang di wajah Sungmin. Sepertinya suasana hatinya sedang sangat baik.

Membuat Kyuhyun yang berada disampingnya turut tersenyum. Mengeratkan genggaman tangan mereka― oh, apakah aku sudah bilang kalau tangan mereka masih bertaut? (Aku hanya khawatir Sungmin hyung tersesat, kok! Jangan berpikir macam-macam, dong!) ―dan kembali berjalan.

"Ne. Sekarang, saatnya kita ke tempat yang ku katakan tadi. Kau pasti akan kagum saat melihat langit dari sana hyung."

Sungmin mengerjap semangat. "Jinja? Dimana itu? Ayo sekarang―"

TIT TIT TIT

Shit.
Rasanya Kyuhyun sangat ingin membanting jam tangan biru tua yang tengah berbunyi berisik. Namja bermarga Cho itu berujar pelan saat menyadari ekspresi Sungmin yang mulai mengkeruh. "Hyung harus pulang, ya?"

"Ne. Antar aku kembali ke jalan tadi, arra?"

"Memang hyung ada urusan apa, sih? Kemarin malam juga pulang duluan. Aku masih ingin di sini hyung."

Senyum sedih Sungmin terbentuk.

"Mian, jeongmal mianhae. Tapi aku hanya bisa menemanimu sampai sini." kalimat itu terucap lirih. Mengundang kernyit heran kembali terbentuk di dahi Kyuhyun.

"Ne, ne. Arrasseo. Tapi kita naik itu dulu ya?"

Sungmin menoleh ke arah bianglala yang tengah ditunjuk Kyuhyun. Sedikit ragu saat matanya kembali melirik ke arah jam tangan yang angkanya mulai berganti.

"Ayolah hyung, kita sudah sampai sini. Dari sana langitnya benar-benar indah. Setelah ini, aku pasti akan mengantarmu pulang. Sampai rumah deh." Kyuhyun berujar, menanti respon dari namja di depannya. Saat sanggahan tak terdengar, dia kembali berkata "Jebal hyung, aku akan kembali ke korea nanti sore. Setidaknya, biarkan aku membuat satu kenangan di Tokyo bersamamu."

Saat satu anggukan akhirnya dilihat Kyuhyun, senyum kemenangannya langsung terbentuk. Segera saja, namja tampan itu membawa Sungmin untuk mengantri di stan Biang lala. Tidak terlalu panjang sebenarnya, tapi cukup memakan waktu.

"Tenang sajalah, hyung. Tidak akan lama kok." Kyuhyun berujar memenangkan saat mendapati Sungmin yang sesekali mengerling cemas ke arah jamnya.

Satu senyum singkat dan jawaban "Ne." pelan dan Sungmin menjadi percakapan terakhir mereka. Sebelum keduanya mulai menaiki benda berbentuk sangkar(?) yang akan memanjakan pandangan siapa pun yang menaikinya dengan hamparan luas kota Tokyo saat malam.

Perlahan, sangkar besi itu mulai naik. Merayap lambat seolah memberi kesempatan pada penumpangnya untuk menikmati suguhan fajar di ibukota negara Jepang itu.

Sungmin memandang takjub pada lukisan Tuhan yang luar biasa indah itu. Langit yang hitam keunguan, hamparan rumah penduduk yang tertata apik, hingga semilir angin yang menerobos jeruji besi di jendela disampingnya.

Sungguh. Baru kali ini dia tahu seperti apa indahnya Tokyo dari atas.

"Bagaimana? Indah kan hyung?"

"Ini indah sekali. Darimana kau tahu tempat ini, Kyu?"

"Eeteuk hyung yang memberi tahuku. Ngomong-ngomong, apa kau baru pindah ke Tokyo hyung?"

Sungmin menggeleng. Masih tetap memandang hamparan luas Tokyo di saat malam dan menjawab "Ani. Aku dan umma sudah cukup lama pindah ke Jepang. Sekitar 5 tahunan."

"Kalau begitu, kenapa kau bisa tidak tahu tempat ini?" heran juga Kyuhyun dengan orang di depannya ini.

Kalau memang sudah selama itu Sungmin di Tokyo, kenapa dia terlihat seperti turis asing yang tidak tahu apapun?

"Aku tidak punya kesempatan untuk mencari tempat seperti ini, dongsaeng-ah." tawa Sungmin. Namja itu kemudia menyamankan posisi duduknya di sandaran kursi. Membuat sosoknya―dan Kyuhyun, karena dia juga melakukan hal yang sama― sedikit tersamar keberadaannya dalam sangkar besi yang mereka naiki.

Kyuhyun kembali bingung dengan jawaban Sungmin. Lagi-lagi hyungnya ini berbicara tentang kesempatan. Sebenarnya, kesempatan macam apa yang tidak dimiliki Sungmin?

Tapi dia memilih diam. Hanya menikmati sepoi angin dan wajah ekspresif yang tersuguh di depannya. Hening menyela mereka. Tampaknya, baik Kyuhyun maupun Sungmin tetap merasa nyaman dengan 'sepi' saat ini. Diam dan menanti sangkar besi yang membawa mereka turun, kemudian berputar naik lagi beberapa kali.

GREEK

Goncangan dan sangkar besi yang tiba-tiba terhenti membuat keduanya terkejut. Kyuhyun segera melongokkan kepala ke jendela di kanannya. Matanya mendapati ahjusshi yang bertugas untuk menjalankan mesin bianglala mulai memakai topi dan bersiap meninggalkan tempat.

Hei, mereka berdua ini masih di dalam sangkar lho. Sialnya lagi, sangkar besi itu berhenti di puncak tertinggi. Akan sangat gila jika mereka harus melompat untuk keluar dari sini.

"Ya! Ahjusshi, kami masih disini!"

Mendengar teriakan yang cukup keras membuat sang pengoperasi mesin menoleh. Menatap terkejut dan berkata dalam bahasa yang tidak dimengerti Kyuhyun―tentu saja. Mereka masih di Tokyo, ingat?

Melihat Kyuhyun yang menautkan alis bingung membuat Sungmin mendecak. Ditariknya pundak namja itu dan ganti melongokkan kepala untuk berteriak ke arah si ahjusshi. "Oji-san! Ware-ware ni koko de o okiwasuremashita!(Paman! Kami tertinggal di sini)"

"Kami-sama... Gomennasai ne, shou-shou omachi kudasai!(Astaga... Ma'afkan saya, tolong tunggu sebentar)"

Keduanya dapat melihat si ahjusshi kembali ke arah posnya. Mulai melakukan entah-apa-itu-namanya untuk menjalankan kembali biang lala yang terhenti.

Sungmin mengerling ke arah jam tangannya. 05.10 AM. Gawat.

"Gomen ne, isoide kudasai? Nan pun desu ka?(Ma'af bisakah lebih cepat? Butuh berapa menit?)"

"Iie nai yo. San juu fun gurai. (Tidak bisa, kira-kira butuh 30 menit)"

Teriakan balasan itu membuat Sungmin terhenyak. 30 menit? Ya Tuhan...

"Hyung! Apa yang ahjusshi itu katakan? Kenapa wajahmu terlihat ketakutan begitu?" tanya Kyuhyun cepat. Panik juga dia saat melihat ekspresi wajah Sungmin yang seperti baru melihat hantu.

"30 menit... Ahjusshi itu bilang, mesinnya baru bisa bisa hidup setelah 30 menit." jelas Sungmin. Suaranya bergetar, seolah fakta itu merupakan vonis mati baginya.

"Aigo... Aku kira apa. Santai sajalah hyung. Kan cuma 30 menit. Lagi pula…" Kyuhyun mengerling kearah jam tangannya. "Sekitar 5 menit lagi matahari akan terbit. Kita bisa melihatnya dari sini. Pasti indah sekali."

"5 menit?"

"Ne. Wae? Kenapa semakin panik?"

Dapat dilihat Kyuhyun Sungmin menyender lemas kearah sandaran dibelakangnya. Ekspresinya benar-benar ketakutan. Membuat Kyuhyun refleks menggenggam kedua tangannya yang terasa dingin.

"Hyung! Gwaenchanha? Kau kenapa? Ya! Hyung, jawab aku."

"Ani... Tidak akan baik-baik... Jika aku masih di sini, ini buruk." respon Sungmin kacau.

"Sungmin hyung, tenanglah. Memang kenapa, apa ada masalah?" tanya Kyuhyun lembut. Sebisa mungkin berusaha melepas rasa takut yang membelit hyungnya.

Kali ini Sungmin memejamkan mata erat. Menarik nafas berulang―untuk memenangkan diri. "Masalah besar bagiku. Aku... Aku bisa mati jika terus disini dan terkena sinar matahari nanti."

Kyuhyun melongo mendengar itu. Otaknya sibuk mencerna jawaban yang diberikan Sungmin dengan tangan yang gemetar. 'Dia bisa mati jika terkena sinar matahari'? Ya! Memangnya Sungmin itu vampiryang bisa mati karena begituan? Konyol sekali.

"Y.. Yah! Jangan bercanda dengan wajah seperti itu. Kau membuatku takut hyung!" protes Kyuhyun. Dia kesal pastinya. Merasa dibohongi dan dikerjai habis-habisan oleh Sungmin.

"Apa aku terlihat bercanda Kyuhyun?"

"Ck.. Serius hyung, nama ada orang yang mati―"

"Aku penderita Syndrom XP." Sungmin menyela lirih. Namja itu melepas genggaman tangan mereka dan mulai mendudukkan diri di lantai sangkar. Sebisa mungkin menyembunyikan diri dari sinar matahari yang akan menerobos. "Aku bisa mati jika terkena sinar matahari. Terserah jika kau tidak percaya."

.


TBC or End?


.

.
Special thanks:
Lee Demin (setan? Haha masa umin setan sih? Ini lanjut pake kilat kan?), Evilkyu Vee (udah dilanjut nih...), WhiteViolin (umin kan emang udah misterius dari sananya XP, udah pernah nonton ya? Tapi ini bakalan beda kok, kalo penasaran review terus yaa :D), Syubidubidu (aneh? Ahh masa sih? Udah lanjut nih XD), Cho SungHyun (ahh.. Nama korea favorit saya! Tanya kenapa~ :D,, ming belum meninggal kok, udah di update chingu~), elf203 (udah lanjut, gomawo...), kyurin minnie (udah kejawab di ch ini kan? Dah lanjut nihh), Saeko Hichoru (si kyu juga nyebut2 vampir tadi #tunjukkyu udah lanjutt), Lee soo hyun (udah TBC, review lagi ya kalo gitu, #plak! XP hehe gomawo udah di ingetin chingu, itu typo kok, mata saya emang rabun), Park Min Rin (aduh.. Jangan dong, tendang saya kerumahnya min aja #maunya udah lanjut nih), Chikyumin (udah kejawabkan? Sipp..), Jae Rin Kyu (sipp.. Si kyu emang kalo lagi terkenal gak ngajak2 (?) :D ), Naka Kaburagi (Hm... Sebaikx chingu cek dulu sebelum menuduh saya meniru. Jujur, saya belum pernah baca ff yg pairx selain kyumin. Begitu chingu kasih tau, saya cepet2 buka ntu fic. Dan hasil.x,, walla, saya menemuka perbedaan yg mencolok, dari mulai setting, alur, penokohan, sampai tiap kalimat pun beda ==" dari manax yang meniru? Kalo maksud chingu soal min yg cuma keluar malem, chingu udah tau alasanx dari ch ini kan? Tapi kalo chingu belum puas dengan jawaban saya, silahkan PM, bakal saya jelasin sepuasnya.), eternal spring (happy or sad end yaaa? XP), dita minimin (udah tahu alasan.x kan? Soal ending, mari kita liat sama2 XD), Cho miku (udah kilat nih.. Akan saya jelasin pelan2 chingu), Fygaeming(sipp).

Saya bawa lanjutannya nihh,, sebelum lupa, saya kembali tegaskan, saya terinspirasisama dorama jepang 'TAIYOU NO UTA' waktu buat ini. Tapi saya pastikan alurx bakal beda sama ntu film, kalo kesamaan scane, mungkin bakal ada.

Sebelum itu, saya mau tanya pada readerdeul, adakah yang sudah menemukan ff yg mirip dengan ff saya sebelum ini? Kalau ada, mohon di analisis dulu sebelum menuduh saya meniru #tunjukreviewreplay. Saya berani jamin, ff ini murni saya yg buat.Bukan PLAGIAT atopun MENIRU dari ff author yg lebih senior.

Kalau misal.x yang disebut meniru adalah bagian 'keluar malem'nya, bukankah ada alasan.x di ch ini? Apakah 'jenis penyakit' yang sama bisa dikatakan meniru?

Yah,, jadi panjang ==" tapi saya bener2 shock nih #lebeh. 2th di ffn, baru kali ini saya di sebut meniru...

Okelah, gomawo atas RnRx di ch 1, ma'af untuk typo, dan bolehkan saya kembali meminta kritik, saran, dan koreksix lagi di ch ini?
Karena saya sadar, tulisan saya masih jauh dari kata bagus. Dan author tanpa reader bukanlah apa-apa~ jeongmal gomawo :) #hug

Thanks for reading, and mind to read the next chapter?
V
V
V