Title : A Prince Who Turns Into a Deer
Main Cast : Sehun, Luhan, Kai
Pair : HunHan, side!Kaisoo Taoris BaekYeol Sulay Chenmin
Genre : Fantasy Romance
A PRINCE WHO TURNS INTO A DERR
Chapter 3
Sehun mengawasi Luhan yang tengah bermain di tepi sungai. Ia melihat Luhan yang dengan mudahnya menangkap ikan-ikan di sungai yang jernih itu dengan tangan kosong. Sehun berdecak kagum ketika ikan mungil itu menari-nari di kaki Luhan yang terendam di air, seakan patuh kepada Tuannya. Bukan kali ini saja Sehun menyaksikan Luhan berinteraksi dengan hewan. Sehun sudah sering menyaksikan Luhan bercanda dengan seekor kelinci, yang kata Luhan bernama Min, kelinci itu hanya duduk di samping Luhan sambil mencicit tidak jelas. Awalnya Sehun melihat itu sebagai pemandangan konyol, tapi ketika Luhan mulai tertawa sendiri setelah cicitan Min, Sehun sadar kalau Luhan bukannya gila karena dia tiba-tiba tertawa. Tak hanya itu, kadang wajah Luhan berubah sedih, kadang juga dahinya berkerut seolah berpikir, tak jarang ia tiba-tiba berseru 'Ooh!' saat mendengar Min yang meracau di sisinya. Seolah-olah Luhan mengerti bahasa yang para hewan itu ucapkan. Tetapi sepertinya memang Luhan mengerti. Luhan bukan seorang pendengar yang buruk. Ia membalas Min dengan bahasa yang ia gunakan sehari-hari. Yang ajaibnya, Min juga mengerti!
Sehun menghampiri Luhan yang sekarang nyaris hanya kepalanya saja yang tampak. Ia merendam tubuhnya di dalam sungai. Ini Luhan sebut sebagai 'mandi'. Tanduk rusanya yang indah menyembul dari dalam air. Luhan mengangkat kepalanya dari air secara tiba-tiba,membuat Sehun terkejut.
"Wooah!" seru Sehun.
Luhan menoleh ke belakang dan menjumpai wajah terkejut Sehun.
"Maaf, Sehun. Apa aku mengejutkanmu?" tanya Luhan.
"Tidak. Hanya saja…kau merendam kepalamu begitu lama. Aku berpikir apa kau baik-baik saja..." Sehun menggaruk kepalanya.
Mendengar ini, Luhan tertawa.
"Oh. Tenang saja. Aku dengar Sun tidak enak badan, jadi aku melihat keadaannya" jelas Luhan dengan nada sedih.
"S-Sun?" Sehun tidak paham. Siapa itu?
"Sun. Ikan koki yang hidup di sungai ini" jelas Luhan dengan polos.
"O-Oh…" Sehun hanya bisa ber-Oh ria.
Luhan mengangguk dengan lucu. Sementara Sehun tidak tahu harus berkata apa. Ia mendekati Luhan yang masih berendam di sungai itu.
"La-lalu, bagaimana keadaan Sun?" tanya Sehun. Sebisa mungkin ia tidak mau kelihatan asing dengan lingkungan Luhan, termasuk teman-temannya.
"Syukurlah…! Ia baik-baik saja. Ia bilang perutnya bertambah besar. Aku rasa ia sedang hamil" Luhan berkata sambil memainkan air. Sehun ikut tersenyum mendengar kabar bahagia itu.
Ternyata benar, batin Sehun. Luhan memang bisa berkomunikasi dengan hewan.
"Sehun tidak mau mandi? Airnya segar sekali lho" tawar Luhan.
"Hah? Bolehkah?"
"Tentu saja. Asal Sehun tidak berenang di sini. Airnya terlalu dangkal dan aku tidak yakin teman-temanku menyukai rumah mereka didatangi orang asing"
"Kalau begitu, tidak usah saja" Sehun mengernyitkan dahi.
"Ah, ayolah! Jangan seperti itu. Mereka ramah! Sehun,kan,temanku. Temanku juga teman mereka. Ayolah, kau akan menyesal tidak mencobanya"
Sehun ragu-ragu. Tetapi ia tidak mau mengecewakan Luhan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membiasakan diri dengan lingkungan Luhan, termasuk sungai ini. Maka Sehun melepas sepatu, jubah, dan rompinya. Ia berdiri dengan pipi bersemu merah menyadari Luhan mengawasinya menanggalkan busananya satu persatu. Sehun hanya memakai celana, berdiri di tepi sungai dengan canggung.
"Sehun mau mandi dengan celana itu? yakin?" tanya Luhan.
"Erm…aku malu…" Sehun berbisik pada dirinya sendiri. Pipinya semerah tomat. Busana Luhan hanya pakaiannya yang terbuat dari kulit. Pakaiannya sehari-hari. Busana itu seperti baju terusan yang berakhir di atas lututnya. Dan Luhan nampak nyaman dengan semua itu. Sementara Sehun berusaha menutupi dadanya yang terekspos. Luhan tak bisa menahan tawanya.
"Kenapa harus malu?" tanya Luhan sambil menahan tawa.
"Ja-jangan tertawa kau!"
Tiba-tiba Luhan menarik tangan Sehun dan menariknya ke dalam sungai. Wajah Sehun menemui permukaan air terlebih dahulu. Luhan tertawa terpingkal-pingkal. Sehun mengangkat wajahnya dan menggosok-gosoknya dengan keras.
"Luhan…! Apa-apaan kau ini?!" seru Sehun.
"Hahahahaha maaf maaf Sehun. Kalau begini kau tidak akan pernah masuk ke sungai" bela Luhan. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada seolah meminta maaf.
Sehun cemberut. ia menatap Luhan yang masih tertawa dan menyiram Rusa itu dengan air. Air itu memasuki rongga mulut Luhan dengan sempurna, membuatnya tersedak.
"Uhuk uhuk! Sehun kejam sekali kau!" Luhan marah-marah. Sehun menyeringai puas.
"Itu balasan karena membuat celanaku basah" balas Sehun.
"Itu salahmu! Siapa yang tadi malu melepas celananya?!"
Pipi Sehun memerah lagi. Ia berbalik dan berjalan di dalam air menjauhi Luhan dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati! Disitu ada Rin si kepiting!" seru Luhan.
"Ouch!" Sehun memekik kesakitan ketika ia merasakan kakinya digigit atau lebih tepatnya dijepit oleh sesuatu. Ia mengangkat kaki kirinya dan mendapati seekor kepiting mungil memeluk jari-jari Sehun dengan capitnya yang tajam. Ia memutar kepalanya perlahan dan melihat Luhan sedang menahan tawanya, yang gagal ia lakukan.
"Terlambat" gumam Sehun saat ia berusaha membuat Rin menyingkir dari kakinya.
Sungai ini bersumber dari air terjun tak jauh dari rumah Luhan. Air di sungai ini hangat. Nyaman. Tak kalah dengan pemandian di istana. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Seorang makhluk fantasi mandi ditemani sahabat-sahabat hewannya. Berlatar belakang air terjun yang memuntahkan air secara terus menerus. Luhan begitu cantik. Sinar matahari yang jatuh ke sungai memantul ke wajahnya yang sempurna. Membuatnya seolah bercahaya. Ia menatap Rusa itu sambil tersenyum hangat.
Sehun memutuskan bahwa dirinya mulai mencintai hutan utara ini.
.
Sudah seminggu sejak Sehun bertemu dengan Luhan si manusia rusa. Tiap harinya ia datang ke hutan ini untuk menemui temannya itu. Sejauh ia perhatikan, Luhan hanya bermain dengan teman-teman hewannya dan tak melakukan apapun. Mungkin karena kakinya masih sakit. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Luhan sehari-hari, sebelum mereka bertemu.
"Luhan, mana teman-temanmu yang lain?" tanya Sehun tiba-tiba.
Luhan yang sedang menjalin anyaman dari daun menatapnya heran.
"Bukankah aku sudah memperkenalkan semua teman-temanku pada Sehun? Masih ingat Joon si merpati dan Min si kelinci, kan? Juga Rin. Bekas gigitannya belum hilang,ya?"
"Uh,maksudku, bangsamu. Kau tahu…" Sehun membuat isyarat dengan kedua tangan diatas kepala,merujuk pada tanduk rusa di kepala Luhan. "Manusia rusa yang lain"
Luhan melebarkan matanya. Wajahnya berubah drastis secara tiba-tiba. Ia mengalihkan pandangannya dari Sehun. Matanya menerawang jauh. Sehun berpikir apakah ia salah bicara.
"Ma-maaf. Kalau kau tak mau menceritakannya, aku tak akan memaksamu" sambar Sehun cepat-cepat.
Luhan menghela nafas kemudian tersenyum lemah.
"Tidak apa-apa, Sehun. Aku bukannya tidak mau menceritakannya. Hanya saja, ceritanya panjang… dan menyedihkan" kata Luhan.
"Lupakan aku pernah menanyakan itu, Luhan" Sehun makin merasa tidak enak. Ia telah membangkitkan kenangan buruk Luhan.
"Mereka tidak ada"
"Eh?"
"Bangsaku. Tidak ada yang seperti itu"
"Sungguh, Luhan. Aku tidak memaksamu menceritakannya"
"Benar. Maaf. Aku rasa, aku juga belum siap menceritakannya pada Sehun" Luhan tersenyum lemah.
.
Hari berikutnya, Sehun datang lagi ke hutan utara seperti biasa. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya. Hutan ini bagaikan rumah kedua baginya. Untuk mengusir kebosanan, ia membawa buku yang baru saja Ayah berikan padanya. Judulnya 'Penguasa Waktu'. Kisah cinta yang sangat tragis dari Negeri yang terletak di utara. Sehun bisa menebak itu hanya dari prolognya. Ia tidak tahu ternyata ayahnya penggemar novel seperti ini.
Sehun sedang bersandar di bawah pohon apel rindang dimana rumah pohon Luhan terletak ketika Rusa itu muncul secara tiba-tiba dari belakang. Luhan bersandar di sisi pohon yang lain. Rusa itu merasa bosan dan melihat Sehun yang kelihatannya sedang asyik melakukan sesuatu, ia jadi penasaran.
"Sehun sedang apa?" tanya Luhan. Ia memiringkan kepalanya melihat buku yang dipegang Sehun.
"Oh? Hanya membaca buku" Sehun tersenyum. Ia memperhatikan bahwa telinga rusa Luhan bergerak-gerak lucu.
"Membaca buku?" tanya Luhan tidak mengerti.
"Ya. Kau mau membacanya? Tapi ini cerita sedih" Sehun menutup buku itu dan menyodorkannya pada Luhan. Rusa itu menerimanya dengan antusias. Matanya membulat penuh kekaguman. Ia menyentuh buku itu dengan sangat hati-hati. Ia membuka buku itu tepat di bagian tengah. Wajahnya bingung ketika yang ia jumpai hanyalah rangkaian huruf-huruf aneh.
"Luhan, bukunya terbalik" tegur Sehun.
"Terbalik?"
"Ya. Lihat, bagian atas dan bawah terbalik. Bagaimana kau bisa membacanya?" Sehun tertawa. Luhan berkedip.
"Mana kutahu. Aku tidak bisa membaca" Luhan berujar dengan polos.
Dan tawa Sehun seketika lenyap.
Sehun menutupi wajahnya. Benar. Apa yang diharapkan seseorang yang sejak awal mungkin sudah menghabiskan seluruh hidupnya di hutan belantara? Sekolah? Tentu saja Luhan tidak bisa membaca.
"Sehun? Kau baik-baik saja?" Luhan mengguncang-guncangkan bahu Sehun yang menutupi wajahnya sambil berpikir.
"Benar, maaf, eh aku tidak menyadari itu sebelumnya. Baiklah. Nah. Erm sekarang kembalikan buku itu padaku"
"Kenapa?" wajah Luhan seketika berubah kecewa.
"Karena kau tidak bisa membaca" jawab Sehun datar.
"Tidak!" Luhan memeluk benda itu erat-erat, menjauhkannya dari Sehun.
"Kenapa?" Sehun terheran-heran.
"Aku tidak pernah melihat benda ini sebelumnya! Apa tadi Sehun bilang? Buku? Dan apa lagi tadi? cerita? Jadi benda bernama buku ini bisa bercerita? Ajaib!"
Sehun tidak menyangka reaksi Luhan akan seheboh ini. Ia terkikik melihat wajah Luhan yang serius. Luhan sangat lucu.
"Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan mengambilnya. Buku itu boleh untukmu"
"OH TIDAK SEHUN BERCANDA" Luhan berteriak di dekat telinganya.
"Astaga…! I-iya aku serius. Aku berikan buku itu untukmu, Luhan" telinga Sehun mendengung.
Mata Luhan berkaca-kaca. Ia memeluk Sehun dengan tiba-tiba. Sehun tak bisa lebih kaget lagi.
"Terima kasih, Sehunnie..!" isak Luhan.
"Su-sudahlah, itu bukan apa-apa" pipi Sehun bersemu merah. Luhan selalu membat jantungnya bekerja lebih ekstra ketika mereka sedekat ini. Luhan melepaskan pelukannya.
"Jadi bagaimana caranya agar buku ini mau bercerita…?"
"Oh. Karena kau belum bisa membaca maka aku yang akan membacakannya"
"Sehun bilang buku ini bisa bercerita? Mengecewakan" Luhan cemberut.
"Hahaha sudahlah, duduk disini dan dengarkan aku membaca" Sehun menepuk rumput kosong di sebelahnya. Luhan langsung duduk menyilangkan kakinya dengan patuh. Sehun tertawa.
"Dengarkan baik-baik,ya"
Luhan mengangguk antusias. Sehun berdeham.
"Pada suatu ketika, hiduplah seorang Raja…"
.
"Sang Raja tak menginginkan itu lagi. Tak ada satupun di duna ini yang dapat membuatnya mati dengan tenang sebelum ia berhasil menjumpai kekasihnya lagi. Itupun kalau ia bisa mati…astaga hari sudah gelap!"
Sehun nyaris menyelesaikan buku itu ketika ia menyadari bahwa matahari sudah terbenam. Ia harus segera pulang. Ia melirik manusia Rusa di sisinya. Luhan sudah tertidur pulas di bahunya entah sejak kapan. Sehun menghela nafas. Ia tidak mau pulang. Tapi ia harus.
Maka Sehun menutup buku itu dan meletakkannya di paha Luhan. Ia membelai wajah Rusa itu. Wajah tertidurnya sungguh damai. Tanduknya yang panjang nyaris mengenai pipi Sehun. Ia kelihatan pulas sekali. Ia tidak mau mengganggu tidurnya. Maka dengan berat hati Sehun merobek secarik perkamen, menuliskan sesuatu dan menaruhnya di dalam buku itu.
Setelah itu, ia bangkit dengan sangat hati-hati. Takut Rusa itu terbangun. Ia mengendap-endap menuju kudanya. Ia menatap Luhan untuk yang terakhir kali sebelum menghilang dalam kegelapan. Kembali ke istananya.
.
Paginya, Luhan terbangun tiba-tiba dan mendapati sebuah buku tergeletak di pahanya. Ia melihat sekelilingnya dan betapa ia kecewa ketika ia tak melihat jejak Sehun dimanapun.
"Sehun?" panggil Luhan
Tak ada jawaban.
Luhan menghela nafas. Kemana Sehun? biasanya ia selalu berpamitan sebelum pulang. Dengan langkah tertatih ia menyeret kakinya yang tak kunjung sembuh menuju sarang. Tak lupa ia mendekap buku itu. Bagaimanapun, buku ini mengingatkannya pada Sehun. Pipi Luhan memanas. Ia heran sendiri. Ia duduk di 'rumahnya' yang nyaman dan membuka buku itu lagi. Seketika ia membuka buku itu, secarik perkamen meluncur jatuh ke pahanya. Ia meraih kertas itu, menelitinya, memutuskan bahwa tak satu katapun ia pahami, kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
.
Hari sudah siang dan Sehun tak menunjukkan tanda-tanda akan segera datang. Sudah dua hari sejak kepergian Sehun. Pemburu itu masih belum menunjukkan batang hidungnya. Luhan cemas. Jangan-jangan Sehun sudah melupakannya? Ia bosan harus menemani dirinya setiap hari dan menggendongnya kemanapun karena kakinya masih saja belum sembuh. Kalau dipikir-pikir, siapa yang mau berteman dengan makhluk aneh seperti dirinya? Manusia bukan, Rusa juga bukan. Ia hanya makhluk yang lemah.
Luhan mendengar suara dari luar sarang dan memutuskan untuk meminta maaf pada Sehun karena telah berpikiran buruk seperti itu. Ia menyeret kakinya ke luar, berharap itu Sehun.
"Sehun…!" sambut Luhan dengan ceria.
Tetapi matanya membulat ketakutan karena yang ia jumpai bukanlah Sehun, melainkan wajah bodoh Troll yang memenuhi pintu rumahnya.
,
Sehun buru-buru menjejalkan tumpukan buku ke dalam kantung tas. Ia menggantungnya di kedua sisi perut kudanya. Senyum tersungging di bibirnya yang tipis. Hari ini ia akan mengajari Luhan membaca. Melihat Rusa itu sangat tertarik dengan buku yang ia berikan kemarin, ia berpikir alangkah senangnya apabila Luhan juga bisa membaca. Sehingga ia tidak akan bosan lagi. Ia juga ingin meminta maaf karena tidak mengunjungi Luhan dua hari ini. Tapi ia sudah meninggalkan pesan, ia harap Luhan mau mengerti.
Ia mengecek semua barang-barang yang perlu dibawa sekali lagi, setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Sehun menjejak tanah dan menaiki kudanya. Saat itulah saudara kembarnya muncul dari pintu gerbang istana.
"Rajin sekali saudaraku" puji Jongin. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Rambutnya yang hitam kecoklatan masih terlihat berantakan. Ia baru saja bangun. Sementara Sehun sendiri sudah terjaga sejak pukul enam pagi. Yah, mana bisa Jongin tidur apabila di istananya ada pesta sebesar itu?
Dua hari ini, istana Kerajaan Barat tak pernah kelihatan sepi. Raja Joonmyeon memanggil juru masak handal dari seluruh negeri dan memerintahkan mereka untuk memasak hidangan terenak dan terbaik. Tak ketinggalan Ratu Yixing yang menginstruksikan penjahit favoritnya untuk menciptakan dua potong busana terbaik untuk kedua putranya yang tampan. Jongin dan Sehun berulang tahun yang ke sembilan belas kemarin. Seluruh kerajaan merayakannya dengan gembira. Begitu pula rakyatnya. Mereka semua diundang ke pesta terbuka yang diadakan Raja Joonmyeon di balairung kerajaan. Mendekornya dengan sangat indah.
Pesta ini sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Kerajaan Barat. Selain memanjakan kedua putranya, Sang Raja juga memanjakan rakyatnya yang bebas untuk datang kapanpun. Dapur istana menyajikan hidangan yang belum pernah mereka rasakan atau lihat sebelumnya. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa pesta ini menjadi ajang untuk para gadis-gadis untuk bertemu dengan kedua pangeran negeri mereka.
Tak hanya gadis-gadis, bahkan pemuda-pemuda datang dan berusaha mengenakan busana terbaik mereka. Dengan harapan bahwa salah satu atau kedua, kalau mujur, dari pangeran itu mau melirik mereka. Dan kalau beruntung, diajak berdansa.
Jongin jelas sekali menikmati pesta ulang tahunnya ini. Ia menunggu-nunggu pesta rakyat ini untuk menghitung berapa jumlah penggemarnya. Kedua putra raja ini sama-sama tampan, cerdas, dan gagah. Gadis-gadis di negerinya selalu memandang keduanya dengan memuja. Berharap pangeran memilih mereka. Bahkan gadis-gadis ini telah membentuk kelompok penggemar sendiri.
Sudah bukan rahasia umum bahwa Jongin, putra tertua Raja Joonmyeon, sekaligus kakak dari saudara kembarnya, Sehun, memiliki penggemar yang tak sedikit. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gadis yang mengerubunginya di pesta itu. mengelu-elukan namanya, dan jangan pernah lupakan berapa banyak kado yang memenuhi kamar Jongin setelah itu. Kado untuk Jongin selalu lebih banyak dibanding kado yang diperoleh Sehun.
Sehun bukanlah seorang pangeran yang sombong. Tidak. Ia dikenal sebagai putra kedua Raja Joonmyeon yang pendiam dan pemalu. Sangat berlawanan dengan kakak kembarnya yang lincah. Senyum bahkan seringai tak pernah meninggalkan wajah Jongin. Sementara, sang adik, Sehun selalu memasang wajah tanpa ekspresinya dimanapun. Mungkin karena itulah jumlah penggemarnya tak sebanyak yang dimiliki Jongin.
"Memangnya aku peduli" ujar Sehun, tiap ia menyaksikan gadis-gadis yang selalu mengikuti Jongin dengan setia kemanapun. Sehun memang selalu mengatakan itu tetapi ini kadang membuat Sehun kesal sendiri. Memang ia berbeda sekali dengan Jongin. Tetapi bila hanya untuk mendapatkan kado yang banyak dari rakyatnya, Sehun tak akan pernah mencoba untuk menjadi diri Jongin. Toh, orangtuanya tak pernah membeda-bedakan kasih sayang untuk dirinya.
Sehun tak bisa menikmati pesta ulang tahunnya sendiri dan berulang kali menghela nafas malam itu. Pikirannya melayang ke hutan utara. Dimana suara air terjun memekakkan telinga. Sungainya hangat. Pohon-pohon tak hanya mengugurkan daun tetapi juga buahnya. Bunga-bunga berbagai jenis dan warna menghampar di sepanjang mata memandang. Bagaikan negeri fantasi yang ada di negeri dongeng.
Sehun memang merindukan semua itu. Tetapi ada yang lebih ia rindukan. Ia merindukan Luhan. Sesosok makhluk fantasi yang sangat indah. Dengan kedua tanduk rusa yang menggantung di kepalanya. Sehun harus menyediakan waktu selama dua hari untuk pesta ulang tahunnya. Selama itu juga ia harus menahan kerinduannya pada Luhan. Menahan kerinduan pada keusilan manusia rusa itu. Juga tawanya yang renyah.
Tetapi berbeda dengan Sehun, pesta semalam menjadi malam yang tak akan pernah dilupakan bagi Jongin. Ia berhasil mengundang Pangeran pujaannya ke istana! Mereka berdua bertemu dan sekali lagi berusaha merayu pangeran yang sangat ia sukai itu. Menghancurkan hati penggemarnya. Sehun memutar bola matanya berulang kali melihat tingkah Jongin yang tak kenal lelah mengajak pangerannya berdansa dan akhirnya, ia berhasil.
Karena itu senyum Jongin tak pernah luntur sejak semalam. Bahkan setelah pangeran dari Kerajaan Timur itu menunggangi kudanya dan pulang ke istananya sendiri.
"Tahukah kau ada kotoran di sudut matamu?" tanya Sehun datar. Ia memperhatikan Jongin yang bersandar di pintu gerbang istana. Masih memakai piyama. Belum mandi dan bau.
"Tahukah kau, Sehun adikku? Dia cute sekali semalam. Oh alangkah senangnya saat ia mau kuajak ke lantai dansa. Setelah itu aku mengajaknya ke taman belakang dimana tak ada penggemarku yang mengikuti kami dan setelah itu-"
"Hentikan!" Sehun menggelengkan kepala cepat-cepat sebelum Jongin sempat menceritakan hal-hal terlampau pribadinya yang jelas dirinya tak sudi dengar.
"Aku belum selesai! saat aku hendak menciumnya, ia malah mendorongku! Ah, mungkin aku memang terlalu bergerak cepat. Dia pemalu sekali seperti dirimu. Tapi kesempatan berikutnya, dia akan menjadi milikku" Jongin tersenyum licik. Sehun tidak habis pikir.
"Yeah yeah, selamat berjuang, kakakku Jongin" ujar Sehun datar. Ia menghentakkan kudanya dan beranjak pergi. Pembicaraan ini tak akan selesai bila ia terus meladeni omongan Jongin.
"Hei! Belakangan ini kau rajin,ya. Berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sebelum petang. Kau masih mencari rusa itu? kau sudah menemukannya? Dan apa itu yang kau bawa? Buku?" tanya Jongin penasaran.
Jantung Sehun mencelos. Jangan sampai Jongin tahu tentang Luhan.
"Bu-bukan urusanmu! Mandi sana! Dasar mesum bau" dengan itu Sehun meninggalkan kakaknya.
.
"TOLOOOOOOOOONG!"
Luhan tertatih menghindari Troll besar yang mengejarnya. Ia sudah berusaha menyeret kakinya yang pincang untuk kabur. Tetapi Troll itu semakin dekat. Luhan terpuruk di kaki pohon oak dan menangis, melihat makhluk besar itu semakin dekat.
"Sehun…dimana dirimu? dimana saat aku membutuhkanmu?"
Troll itu mengangkatnya dari tanah dengan tangannya yang berbonggol-bonggol. Ia bergidik ketika ia merasakan makhluk menjijikkan itu membaui tubuhnya. Rasanya Luhan ingin mati saja. Manusia Rusa yang malang berakhir mati dimakan Troll bodoh. Ia menangis. Dan entah kenapa wajah Sehun melintasi pikirannya. Ia memejamkan mata dan pasrah dengan semua yang akan terjadi padanya…
Luhan mendengar suara panah melesat dan yang terjadi selanjutnya adalah dirinya meluncur ke tanah, tangan besar Troll itu tak lagi mencengkeramnya. Tetapi sebelum ia menyentuh tanah, seseorang menangkapnya. Luhan membuka matanya yang langsung melebar ketika mengetahui bahwa seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Sehun.
"Se-Sehun…?" Luhan terkejut.
Wajah Sehun penuh kelegaan. Ia baru saja menjejakkan kaki di dekat rumah Luhan ketika ia mendengar Luhan menjerit minta tolong. Untung saja ia sempat memanah Troll itu tepat sebelum makhluk itu memangsa Luhan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun.
Kepanikan masih jelas tergambar di wajahnya yang basah karena air mata. Luhan menatap Sehun dengan wajah sedih. Membuat Sehun mengernyitkan dahi. Luhan tidak bisa memutuskan mau tertawa atau menangis. Memang, ia sungguh bersyukur dirinya gagal menjadi makanan Troll. Ia juga lega melihat Sehun kembali setelah tak ada kabar selama dua hari dari si pemburu. Tetapi di saat yang sama ia juga ketakutan, bagaimana kalau Sehun tidak menyelamatkannya? Apa jadinya ia kalau Sehun tidak muncul di saat yang tepat? Ia akan berakhir di perut Troll itu. Tetapi…ia juga marah melihat wajah Sehun yang begitu mengkhawatirkannya. Akhirnya Luhan memutuskan untuk menangis semakin kencang.
"He-hei?! Ada apa? Apa kau terluka? Kau baik-baik saja?" Sehun mengangkat wajah Luhan yang bersembunyi di bahunya. Ia berhasil melihat wajah Luhan. Manusia Rusa itu sesenggukan. Nafasnya tidak terkontrol. Ingusnya ada dimana-mana.
"Baik-baik saja kepalamu!" seru Luhan tepat di depan wajah Sehun.
"Hah? Lu-"
"Kau tak tahu betapa takutnya aku! Bagaimana kalau tadi kau masih juga tidak muncul dan Troll itu menjadikan aku sebagai sarapannya?"
"Ma-maafkan aku, Lu-"
"Kemana saja kau Selama ini hah!"
"Aku harus menghadiri pesta ulang tahunku-"
"Pesta!?"
"Ye-yeah…itu pesta ulang tahunku. Mana mungkin aku tidak datang! Lagipula, aku sudah mengatakannya padamu,kan?"
"Seingatku kau tidak pernah menceritakannya" Luhan cemberut. Sehun menghela nafas.
"Sudah. Waktu itu -saat aku membacakan buku untukmu- kau tertidur, aku tidak tega membangunkanmu tapi saat itu aku harus cepat pulang. Aku sudah menulis pesan di secarik perkamen bahwa aku tidak akan datang selama dua hari-"
"Pesan?"
"Yeah. Aku menyelipkannya di buku itu supaya kau mengetahuinya. Kau melihat pesan itu,kan?"
"Yup"
"Nah, kenapa kau bilang aku tidak memberitahumu?"
"Aku memang melihat pesan itu, Sehun. Melihat. Dan itu saja tidak membuatku memahami apa isinya"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa membaca, ingat?"
Sehun terdiam. Ia menutupi wajahnya, malu. Benar. Duh, betapa bodohnya ia. Bagaimana ia bisa lupa kalau Luhan tak bisa membaca?! Apa yang ia harapkan ketika ia menuliskan pesan untuknya? Bagaimana ia bisa berpikir bahwa Luhan bisa membaca tulisan tangannya sementara Rusa itu tidak bisa membaca!
Luhan masih tetap cemberut. Perdebatan itu akhirnya dimenangkan olehnya. Ia melepaskan diri dari genggaman Sehun dan menjauh. Ia bergidik ngeri ketika ia menyaksikan mayat Troll yang tergeletak. Sehun mengawasi Luhan dan langsung menggendongnya lagi ketika ia melihat Manusia Rusa itu berjalan tertatih-tatih.
"Maafkan aku, Luhan" ujar Sehun.
Luhan tidak menjawab.
"Maafkan aku, Hei Rusa yang manis" goda Sehun.
Luhan terkekeh.
"Dengar, Aku membawakan buku yang banyak untukmu!"
Mendengar ini mata Luhan berbinar-binar.
"Benarkah?"
Sehun mengangguk cepat.
"Tidak hanya itu, aku akan mengajarimu membaca! Jadi kau tidak akan bosan lagi. Kau ingin sekali membaca banyak cerita,kan?"
"Bisakah aku membaca seperti Sehun?"
"Tentu saja! Aku yang akan mengajarimu. Kau pasti bisa!"
"Baiklah. Kau dimaafkan~~" Luhan menyanyi sambil tersenyum riang.
.
Luhan sedang memancing di sungai pagi itu. Yah, ia harus berjalan jauh sekali dari rumahnya hanya untuk mendapatkan ikan. Ia jarang sekali makan ikan atau daging. Makan ikan atau daging sama halnya dengan makan teman-temannya sendiri. Tetapi kali ini Luhan ingin membuat suatu kejutan untuk Sehun. Sudah dua minggu lamanya Sehun selalu menemani dirinya sampai sembuh, sampai ia bisa berjalan normal kembali. Sebagai ucapan terima kasih, Luhan ingin memasak sesuatu untuk Sehun. Pada umumnya, Luhan hanya makan sayur-sayuran. Tetapi ia tidak yakin Sehun menyukai makanan jenis itu. Karena itu, ia mencari sungai yang terletak sangat jauh dari rumahnya. Ia tidak mau membunuh teman-temannya sendiri dan dijadikan santapan. Ia harus mencari sungai dimana ia tidak mengenal ikan-ikan disitu. Mungkin kalau mendengar ini, Sehun akan tertawa dan menggodanya habis-habisan.
Luhan selesai membakar ikan racikannya ketika Sehun datang. Ia melihat Luhan sedang sibuk berjongkok di dekat suatu perapian yang ia buat di luar rumah. Asap mengepul mengotori wajah Luhan yang berkeringat. Sehun tersenyum melihat ini.
"Apa yang kau lakukan?" tegur Sehun.
Luhan terkejut dan melihat Sehun sudah berdiri di belakangnya. Ia cepat-cepat berdiri dan berusaha menyembunyikan aktivitasnya. Tapi hidung Sehun lebih tajam. Ia mencium aroma yang menggoda. Ia mendorong Luhan ke sisi dan melihat apa yang Luhan masak. Empat tusuk ikan dibakar di atas api.
"Aku tidak tahu kau bisa memasak" Ujar Sehun heran.
"Aku tidak bisa selamanya makan rumput mentah-mentah,kan?" Luhan memutar bola matanya. "Yang penting, sekarang duduklah"
Sehun tidak tahu apa yang direncanakan manusia rusa ini. Tetapi ia menyilangkan kakinya dan melihat Luhan mengangkat ikan bakar matang itu dan meletakkannya di atas daun yang lebar. Sehun tergiur mencium aromanya. Ia ingin sekali mencicipi masakan Luhan.
Luhan berdeham. Ia duduk dengan gelisah.
"Erm..erm..karena aku bisa berjalan kembali, maka aku pikir ini saat yang tepat-"
"Oh…! Jadi ini pesta perayaan?" sela Sehun. Luhan yang kata-katanya dipotong hanya melotot. Sehun berdeham dan memilih bungkam.
"Terima kasih" Lanjut Luhan. "Jadi, karena kakiku sudah sembuh total, yang memungkinkan aku bisa berjalan kembali, aku ingin berterima kasih pada Sehun yang sudah mau merawat lukaku dan bahkan menemaniku sampai sembuh. Tidak lupa kepada jasanya yang telah mencegahku jadi sarapan Troll"
Luhan mengakhiri sambutannya dengan pipi yang merah. Sehun yang mendengar ini hanya terdiam. Jadi…Luhan repot-repot membuatkan ia hidangan hanya untuk berterima kasih? Sehun tidak bisa berkata apa-apa.
"Te-terima kasih…" Sehun hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau yang salah tingkah? Ayo makan! Aku tidak berjanji ini akan enak, tapi setidaknya ini pantas untuk dicoba"
Luhan menyodorkan setusuk ikan bakar pada Sehun yang dengan gembira meraihnya. Ia menggigit ikan itu dan matanya melebar penuh kagum. Masakan Luhan enak sekali!
"Bagaimana?" tanya Luhan harap-harap cemas.
"Enak sekali!" puji Sehun. Luhan tersenyum lega. Syukurlah, kalau Sehun menyukainya.
Makan siang hari itu sangat mengasyikkan bagi Luhan. Ia tak lagi makan sendiri. Senang rasanya punya teman makan.
Sehun dan Luhan berbaring di atas rumput dengan perut kekenyangan. Mereka tertawa. Mengelus-elus perut mereka yang buncit. Dan dengan ini, Sehun menemukan suatu ide.
.
Sehun masuk ke dapur istana pagi itu. Ketika para juru masak sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makan siang untuk anggota kerajaan. Para juru masak disitu terheran-heran melihat pangeran datang ke dapur. Kedua pangeran memang sering datang ke dapur. Tapi itu sudah cerita lama. Itu adalah masa ketika pangeran masih kecil. Mereka sering sekali mengusili dan mengganggu juru masak. Mencuri persediaan makanan dan menghabiskannya dengan rakus. Tetapi Sehun curiga Jongin masih sering melakukannya. Sekarang pangeran hanya bergelut dengan buku dan buku. Karena itu para juru masak sangat senang melihat Pangeran Sehun mengunjungi mereka lagi.
"Tuan muda…! Selamat pagi, Tuan muda. Apa yang membuat pangeran repot-repot datang kesini? Apabila Tuan menginginkan sesuatu, katakan saja pada Pelayan. Tuan muda tidak perlu kesini" seorang juru masak terharu.
"Tidak masalah. Lagipula aku merindukan tempat ini. Kalau aku tidak merepotkan, maukah kalian menyiapkan sesuatu untukku?"
"Katakan saja, Tuan muda. Apa yang Tuang muda inginkan?"
"Erm. Aku ingin kalian menyiapkan bekal untuk perjalananku. Keluarkan semua makanan yang ada di dapur ini dan bawakan ke kudaku. Apa kalian sanggup?"
"Tidak masalah, Tuan muda! Kami akan segera menyiapkannya!"
"Terima kasih banyak" Sehun tersenyum. Tidak lama kemudian, tumpukan berbagai jenis makanan sudah menggantung dengan aman di kedua sisi kudanya. Dan Jongin, seperti biasa, tak lupa berkomentar.
"Woah. Kau bisa gendut, Sehun" Jongin memperhatikan jumlah makanan yang Sehun bawa. Sehun tidak mendengarkan dan memacu kudanya meninggalkan pintu gerbang istana. Jongin mengernyitkan dahi. Berpikir. Kemarin ia membawa banyak sekali buku, dan sekarang ia membawa berkarung-karung makanan. Apa yang sebenarnya sedang adiknya lakukan?
.
Mulut Luhan mernganga melihat hamparan makanan yang ada di hadapannya. Makanan yang ia tidak pernah lihat sebelumnya! Sehun tersenyum puas melihat reaksi Luhan. Ia ingin Luhan merasakan makanan yang sering ia makan sehari-hari. Karena itu ia membawa makanan dalam jumlah besar agar Luhan bisa menyimpannya. Ia juga meminta Luhan memanggil semua teman-teman hewannya untuk mencicipi makanan yang ia bawa. Suasana menjadi riuh. Mereka semua berpesta.
Luhan kebingungan memilih makanan yang akan ia makan. Terlalu banyak makanan! Ia melihat bulatan kecil putih yang di dalamnya terdapat bulatan Syang lebih kecil lagi berwarna kuning, Sehun bilang itu telur. Juga sayur putih yang rasanya pedas bernama Kimchi. Makanan menyerupai tali berwarna kuning dan putih yang disiram kuah pedas. Entah Luhan lupa namanya. Biarpun awalnya rasanya aneh tapi semua itu enak! Sangat enak! Apalagi yang ia makan sekarang, cairan kental berwarna cokelat dan rasanya manis sekali. Namanya sama dengan warna makanan itu, cokelat. Ada cokelat berbentuk cair dan batang. Juga ada makanan dingin berbentuk krim yang berwarna-warni. Luhan meringis menahan dingin saat mencicipi makanan itu. Rasanya sama saat musim dingin dimana ada butiran salju turun dari langit. Luhan berpikir apakah makanan ini terbuat dari salju. Sehun hanya tertawa dan menjelaskan kalau makanan itu adalah es krim dan tidak, itu tidak terbuat dari salju. Sehun menjelaskan dengan sabar.
Sehun sedang bermain-main dengan Min yang mengerat wortel yang khusus ia bawa untuk kelinci itu. Luhan menghabiskan semangkuk tali berwarna kuning, kalau tidak salah namanya Mie, tali itu sangat pedas dan Luhan sudah tidak bisa menahannya. Maka ia merogoh kantong karung makanan lagi dan menemukan sebuah botol besar. Luhan membuka tutupnya dan melihat cairan. Air! Luhan langsung meneguknya sampai habis. Rasanya manis sekaligus aneh.
Sehun sedang makan krim cokelat yang sangat ia suka. Krim itu mengotori mulut Sehun dimana-mana. Ia berusaha membersihkan krim cokelat itu dengan menjilatinya. Luhan yang melihat krim itu masih menempel di bibir Sehun, mendekat dan secara tiba-tiba mengeluarkan lidahnya. Mata sehun melebar sempurna ketika Luhan menyapukan lidahnya ke sudut bibirnya. Luhan berhasil mendapatkan apa yang ia cari dan menelan krim cokelat yang tadi menempel di sudut bibir Sehun. Ia menjilat bibirnya dengan sensual. Sehun tak mampu berkata apa-apa.
Apa yang baru saja Luhan lakukan padanya ?!
"Lu-Luhan…" Sehun terbata-bata. Wajahnya memerah.
"Rasanya manis. Aku mau lagi! Sehun menghabiskannya,ya!?"
"Ma-maaf. Aku sangat suka cokelat jadi aku menghabiskannya. Aku tidak tahu kalau Luhan juga me-menyukainya. Besok akan kubawakan lagi-"
"Tidak bisa! Aku mau sekarang" Luhan merengek dengan manja.
"Ha-hah? aku sudah tidak punya cokelat lagi"
"Ada! Kau punya! Sehun menyimpannya di bibirmu tadi!"
"Luhan! Kau ini kenapa?!"
"Buka mulutmu!"
"Tu-tunggu tunggu tunggu!"
Kali ini Luhan menempelkan bibirnya ke bibir Sehun yanag masih belepotan krim cokelat. Ia sekali lagi menyapukan lidahnya ke permukaan bibir Sehun. Seakan tak cukup dengan semua itu, Luhan membuka paksa mulut Sehun dengan kasar . Segera setelah ia menemukan lidah Sehun, ia pun mengambil alih daging berwarna merah muda itu dan mengulumnya dengan bibirnya. Menyedot-nyedot mencoba mencari rasa manis yang membuatnya ketagihan. Luhan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Sehun dan menjelajahi gua itu. Ia mencumbu Sehun dengan membabi buta sampai Sehun tak bisa bernafas. Ia mendorong bahu Luhan mengisyaratkan bahwa ia membutuhkan oksigen.
"Luhan!"
Teriakan Sehun ia abaikan. Setelah selesai dengan rasa manis yang ia dapatkan. Luhan mulai bertingkah aneh lagi. Ia mendorong tubuh Sehun sehingga pemuda itu berbaring di atas rumput. Mata Sehun sebesar piring saat Luhan mulai meraba-raba tubuhnya.
"Keluarkan cokelatnya! Jangan disembunyikan!" Luhan mencari-cari cokelat yang bahkan Sehun berani bersumpah tak pernah ia simpan di tubuhnya. Ia membuka rompi Sehun dengan kasar dan memasukkan kedua tangannya ke dalam baju Sehun. Jari-jari Luhan yang menyentuh kulit Sehun membuatnya berjengit karena merasakan geli. Sehun menggeliat-geliat tidak nyaman di atas rumput itu.
"Luhan! Haha! Hentikan! Geli,tahu! Huahahaha!" Sehun tak bisa memutuskan apakah sekarang ia tertawa atau menangis. Luhan tidak memedulikan protes Sehun dan terus menurunkan tangannya ke daerah lain ketika ia tidak menemukan apapun di bagian atas tubuh Sehun.
Mata Sehun tidak bisa lebih lebar lagi tetapi jantungnya semakin tidak karuan saat Luhan menyentuh bagian yang sangat privat dari tubuhnya. Ia berteriak kesakitan merasakan tangan Luhan meremas bagian itu dengan kasar. Luhan memasukkan tangannya ke dalam saku celana Sehun, ketika ia tidak menemukan apa-apa, Luhan mengira bahwa Sehun menyembunyikannya di dalam celananya.
Wajah Sehun berubah horror saat Luhan memasukkan jarinya ke dalam celananya, tapi sebelum Luhan menarik celananya, ia mendorong Luhan dan berhasil menahan gerakannya dengan menindih manusia rusa itu. Luhan terus memberontak dengan menendang-nendang Sehun. Ia berbalik memiting tangan Luhan. Ia tidak menyadari kalau ada batu di dekat mereka bergumul, dan sebelum Sehun sempat mencegah, dahi Luhan menemui batu itu. Dengan bunyi 'Tok' yang lumayan keras, Luhan tak sadarkan diri.
Sehun terengah-engah. Ia tidak percaya apa yang baru saja terjadi! Apa yang terjadi pada Luhan? Dia bertingkah seperti binatang yang kepanasan. Sehun menyentuh dadanya yang terus bergemuruh. Ia memperhatikan wajah Luhan yang pingsan. Wajahnya memerah, ia juga bersendawa. Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan dan mencium aroma syang khas. Ia mengedarkan pandangan dan menemukan sebotol besar anggur yang telah kosong tak bersisa. Sehun menghela nafas.
"Jadi ini penyebabnya" Sehun melempar botol itu dengan kesal. Kenapa bisa ada anggur di dalam karung yang ia bawa? Sehun sendiri belum pernah meminum itu. Ibunya bilang ia baru boleh meminum itu kalau ia sudah dewasa. Sekarang Sehun tahu betul kenapa ibunya berkata seperti itu.
"Jangan" Sehun menggeleng-gelengkan kepala."Jangan pernah memberikan minuman ini lagi pada Luhan"
.
Sehun menunggu Luhan siuman. Ketika si rusa menggeliat bangun. Ia menatap lingkungan di sekitarnya dengan aneh. Sehun menatapnya dengan awas. Jangan bilang Luhan masih mabuk…
"Apa yang terjadi? Sejak kapan aku tertidur?" tanya Luhan kebingungan.
Sehun bernafas lega. Ia menghampiri Luhan yang duduk kebingungan dan memberikannya air putih dari botolnya. Setelah meminumnya, Luhan agak baikan.
"Sehun, kepalaku sakit. Apa yang terjadi?" desak Luhan. Ia memegangi dahinya yang merah dan bengkak. Sehun menatap Luhan kasihan.
"Kau terjatuh dan kepalamu terantuk batu" Sehun sedikit berbohong. Mana mungkin ia menceritakan yang sebenarnya,kan? Ia membelai dahi Luhan dengan lembut.
"Sakit,ya? Jangan khawatir. Aku tahu sesuatu yang bisa meringankan sakit itu. Ayu ikut aku"
Mereka berdua masuk ke dalam hutan untuk mencari tumbuhan yang Sehun maksud. Sesekali, Luhan memegangi kepalanya yang masih berdenyut-denyut sakit. Sehun tersenyum memperhatikan ini. Kasihan ia.
"Luhan" panggil Sehun.
"Ya?" Luhan menghentikan langkahnya.
"Sekarang kalau kau bisa memberitahuku dimana letak bunga matahari dan pohon arbei di hutan ini, aku berjanji rasa sakitmu akan segera hilang" Sehun tersenyum.
"Bunga matahari dan Pohon arbei?"
"Ya. Kau tahu,kan, bunga berwarna kuning yang menyerupai matahari dan buah kecil-kecil yang mirip strawberry atau anggur?"
Luhan mengernyitkan dahinya sesaat, seakan berpikir. Sehun menunggu dengan sabar. Ketika wajah Luhan berubah cerah ia langsung menarik tangan Sehun ke arah berlawanan.
"Ikut aku!" ajak Luhan dengan riang. Luhan berubah menjadi seekor rusa dan melesat berlari di depan.
Tak lama kemudian mereka sampai di hamparan bunga matahari yang sangat indah. Tangkainya tinggi sekali, tetapi Sehun dengan mudah memetiknya. Ia mendengar derap langkah dan melihat seekor rusa menggigit buah arbei di moncongnya. Sehun tersenyum mengetahui itu Luhan.
"Bunga matahari ini dapat meredakan sakit kepalamu. Sementara buah arbei itu mampu mengobati luka memar di dahimu. Nanti akan kubuatkan ramuannya" jelas Sehun.
Ia berjongkok di depan rusa itu dan membelai-belai bulunya. Luhan mendekatkan kepalanya dengan patuh ke tangan Sehun. Ia menyelipkan bunga matahari di tanduknya yang indah. Satu,dua,tiga. Ia juga memetik daun bunga itu dan melilitkannya di tanduk si rusa sehingga kepalanya nampak seperti taman bunga kecil. Sehun mengecek hasil karyanya dan tersenyum. Ia menyadari bahwa rusa itu sudah berubah menjadi manusia lagi. Sehun memetik bunga matahari lagi, kali ini lebih kecil, merangkainya menjadi suatu lingkaran menyerupai bando dan menaruhnya dengan hati-hati di rambut Luhan yang kecokelatan. Sekarang Luhan memiliki sebuah mahkota bertengger di kepalanya. Sehun tersenyum puas.
"Nah, sekarang kau adalah pangeran di hutan ini" ujar Sehun.
Pipi Luhan bersemu merah. Mereka berdua berdiri di tengah hamparan bunga matahari yang tinggi. Nyaris menyembunyikan wujud mereka berdua. Mereka berdua saling memandang. Sehun mengakui bahwa Luhan itu sangat indah. Cantik dan polos. Ia ingin mengatakan itu tetapi rasanya ada yang sesuatu yang menahannya. Tatapan Luhan yang menghujam langsung ke bola matanya membutakan pikiran Sehun. Ia mengalihkan pandangannya ke bibir Luhan. Bibir itu masih menggigit buah arbei.
Entah apa yang menggerakkan Sehun. Ia ingin merasakan sentuhan itu lagi. Ia ingin menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Maka ia memegang kedua lengan Luhan. Menjaganya agar tetap di tempat. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir itu. Sehun mengambil buah arbei merah muda yang masih Luhan gigit dengan tautan bibirnya, kemudian mengunyahnya. Rasa buah arbei yang masih belum matang itu tak mau pergi dari lidah Sehun. Segera, Luhan juga bisa merasakan asamnya buah itu ketika bibir Sehun menyentuh milik Luhan.
Mata Luhan melebar tetapi ia tak menarik diri. Ia membiarkan Sehun memperdalam ciuman itu. Tetapi ciuman Sehun sangat polos. Tak ada lidah maupun suara kecupan yang erotis. Ia tak ingin membuat Luhan ketakutan. Luhan memejamkan matanya perlahan dan merasakan Sehun mengecupnya dengan lembut.
Setelah rasanya seperti berabad, Sehun membuka mata dan melepaskan tautan kedua bibir itu. Luhan pun melakukan hal yang sama. Tangan Sehun menyusuri lengan Luhan sebelum melepaskannya. Wajah keduanya sewarna buah arbei yang belum masak itu.
"Luhan…"
Luhan menunduk dan mundur selangkah semi selangkah. Belum sempat Sehun memanggilnya, Luhan sudah berlari dan menghilang di tengah bunga matahari yang rapat. Sehun hanya berharap Luhan tidak marah atas apa yang ia lakukan barusan. Ia tersenyum seperti orang gila.
Maka, Ciuman pertama Pangeran Sehun rasanya manis seperti anggur. Memabukkan, menggairahkan, dan menggelikan. Sementara ciuman keduanya asam. Membuat bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdentang. Tetapi Pangeran Sehun memutuskan untuk lebih menyukai ciuman yang kedua. Meskipun rasanya asam, biarpun itu tanpa izin Luhan. Tapi ia tak menyesalinya. Tak akan. Karena itulah perasaannya yang sesungguhnya.
Hari itu, Pangeran Sehun dari Kerajaan Barat secara resmi telah menemukan cinta pertamanya.
-to be continued-
Fluff dimana-mana *lempar bunga matahari* (ノ^_^)ノ
Jangan lupa review^^ semakin banyak review, semakin cepat pula updatenya.
see ya soon in the next chapter. –author-
