.
.
Taiyou no Uta
(A Song to the Sun)
.
.
Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.
Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc,KyuMin!
Music: Shining Star by Super Junior
.
"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."
"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."
"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."
.
"Aku penderita Syndrom XP." Sungmin menyela lirih. Namja itu melepas genggaman tangan mereka dan mulai mendudukkan diri di lantai sangkar. Sebisa mungkin menyembunyikan diri dari sinar matahari yang akan menerobos.
"Aku bisa mati jika terkena sinar matahari. Terserah jika kau tidak percaya."
"... Mwo?"
Hanya jawaban dengan suara bergetar itu yang mampu diberikan Kyuhyun. Matanya melebar dalam kejut. Sembari menatap tak percaya ke arah Sungmin yang mulai menyembunyikan wajahnya ke lututnya yang tertekuk.
.
"... Mian, tapi aku harus pulang. Waktuku habis."
"Ha ha... Kalau aku masih hidup, aku pasti kesini lagi."
"Langit itu... Apa langit itu juga terlihat indah saat tidak berwarna hitam?"
"Aku memang perang, kok. Perang melawan matahari."
"Aku tidak punya kesempatan yang kau ucapkan tadi. Sesederhana itu."
.
Perlahan, ingatan akan kalimat aneh yang terucap dengan nada riang itu kembali menyeruak. Membaur bersama perkataan mengejutkan barusan dan mulai tersusun rapi. Melengkapi potongan puzzle yang asalnya rumpang, pun membentuk satu pemahaman di diri namja tampan itu.
Kyuhyun terhenyak.
Sama sekali tidak menyangka dibalik sifat cerianya nan manis, sosok Lee Sungmin yang terlihat rapuh itu menyimpan beban yang demikian. Dia bilang apa tadi?
Syndrom XP, eoh?
Kyuhyun memang tidak tahu penyakit macam apa itu. Tapi dilihat dari namanya yang tidak familiar, ditambah reaksi Sungmin yang seperti itu membuatnya menarik satu kesimpulan kalau penyakit itu lumayan langka, dan mungkin juga cukup mematikan.
―Cukup mematikan? Jangan membuatku tertawa Cho Kyuhyun. Kalimat itu terlalu sederhana baginya.
"... Aku bisa mati jika terkena sinar matahari."
Kalimat yang terucap beberapa menit lalu kembali menggema di kepalanya. Membuat Kyuhyun tersadar dan langsung menoleh ke arah jendela disampingnya.
Mata obsidiannya mengerjap, saat menemui berkas-berkas sinar keemasan mentari yang mulai mencoreng ungunya langit. Menyebar ke seluruh tempat terbuka yang mampu diterobosnya. Tak terkecuali sangkar besi ini.
Biang lala ini berhenti di puncak tertinggi. Dengan lubang jeruji di jendela yang tidak memiliki penghalang. Akan sangat mudah bagi sinar keemasan itu untuk masuk dan menjamah mereka disini.
Sadar akan hal itu, Kyuhyun bergegas menarik Sungmin ke bagian pojok. Membuat sangkar besi yang mereka naiki sedikit bergoncang. "Mian... Jeongmal mianhae, hyung." ucap Kyuhyun lirih.
Sungmin mendongak. Tersenyum lembut saat mata foxynya menatap pandangan penuh sesal dari namja ini. "Ma'af untuk apa? Ini bukan salahmu, Kyuhyun-ah."
"Salahku. Semua salahku hyung. Aku sudah membuatmu terjebak disini. Kalau saja.. Kalau saja aku tidak memaksamu tadi, kau pasti sudah aman dirumah sekarang. Mian, aku benar-benar tidak-"
"Kyuhyun, aku tidak menyalahkanmu." potong Sungmin. Tatapannya tulus, tak ayal menyerukan kejujuran di ucapannya barusan. "Jangan salahkan dirimu. Terjebak disini... Mungkin memang takdir. Tapi setidaknya, aku bisa melihat matahari terbit, kan? Walau mungkin ini yang terakh―"
"Hyung!" sentak Kyuhyun. Namja itu mengerjapkan matanya. Mencoba mengusir kaca bening yang membuat pandangannya mengabur. "Ini bukan yang terakhir."
Kyuhyun mulai memindahkan topi hitamnya ke kepala Sungmin. "Kau akan baik-baik saja―"
Tidak lupa dengan mantel hitam yang asalnya membalut tubuh namja jangkung itu. "―aku jamin itu. Kau akan keluar dari sini dengan selamat. Aku janji."
"Kau tidak perlu―"
"Cukup percaya saja padaku, Lee Sungmin."
Yang disebut namanya terdiam saat sepasang lengan Kyuhyun menariknya dalam pelukan. Menyembunyikan kepala pirangnya dalam dada, dan berujar tegas. "Bagian ini menghadap kebarat hyung. Dan di pojok. Setidaknya hanya sedikit sinar matahari yang bisa masuk. Sementara bagian timur akan ku halangi dengan tubuhku."
Mata Kyuhyun mulai awas memastikan kalau tidak ada seinchi pun dari tubuh Sungmin yang bisa terpapar sinar ultraviolet itu. "Lihat kan? Tidak ada sinar matahari yang bisa menyentuhmu hyung. Percaya padaku, ne?"
Sungmin mendesah. Mengangguk di dada Kyuhyun dan mulai memejamkan matanya. "Gomawo. Ma'af sudah merepotkanmu, Kyu."
Penyanyi muda itu tidak bisa menahan senyum mirisnya saat mendengar ini. Orang ini memang terlalu baik atau apa? Jelas-jelas dia yang sudah membuat nyawanya terancam sekarang. Bagaimana bisa Sungmin berkata seperti itu?
"Ck... Berhentilah menjadi orang yang terlalu baik, hyung." ―akan lebih baik kalau kau langsung mencaciku saja.
Gumaman itu hanya dibalas dengan sebaris tawa ringan dari Sungmin. Membuat setelahnya, hanya tidak ada lagi pembicaraan lain.
Kyuhyun masih statis dengan posisinya yang mendekap erat hyungnya. Dengan tangan kanan yang sesekali mengusap lembut punggung namja aegyo itu. Berusaha untuk sedikit memberi kenyamanan pada namja yang baru dikenalnya kemarin.
Cih.. Kalau mengingat fakta itu, Kyuhyun jadi semakin merasa bersalah. Demi Tuhan yang jarang dikunjunginya di gereja, mereka ini baru kenal dua hari! 48 jam kurang. Tapi lihat? Apa yang telah dilakukannya sekarang?
Dia telah membawa teman barunya itu dalam masalah yang sanggup mengancam nyawanya (Walau bukan sepenuhnya salah Kyuhyun―karena pada dasarnya namja itu memang tidak tahu apapun). Membawa Sungmin dalam keadaan sulit yang harusnya dihindari. Teman macam apa dia? Mungkin, lebih baik malam itu Kyuhyun tidak perlu menyapa sang namja aegyo. Bukankah dengan begitu Sungmin tidak akan terjebak dalam kondisi seperti ini?
Tapi mungkin juga Kyuhyun tidak sepenuhnya menyesal. Bertemu dengan namja berambut pirang itu... Entahlah. Yang pasti, hanya kebodohannya yang telah membawa Sungmin dalam bahayalah hal yang paling dikutuknya.
Awas saja, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Sungmin, dia tak yakin akan mampu mema'afkan dirinya sendiri.
Sekarang, jarum jam ditangan Kyuhyun baru bergeser pada menit ke sepuluh. Masih ada duapuluh menit lagi hingga sangkar besi mereka mampu membawa keduanya turun. Dapat dirasa Kyuhyun, matahari sudah terbit sempurna di timur sana.
Terbukti dengan sinarnya yang menghantam langsung kedalam tempat mereka berada.
Ini benar-benar buruk. Kyuhyun merasa seperti tengah berada dalam kepungan musuh saat dirinya terdesak dalam game. Dia tidak boleh bergerak, tidak seinchi pun atau sinar matahari bisa dengan lihainya menerobos pertahan mereka. Bedanya dengan game, disini tidak ada option save poin. Atau nyawa cadangan. Sekali dia lengah, entah kemungkinan buruk apa yang akan mereka dapat. Ah.. Salah, yang benar, entah hal buruk macam apa yang akan menimpa namja dalam dekapan Kyuhyun saat ini.
Namja penyuka game itu mendesah berat. Berusaha menenangkan diri sembari merogoh ponsel hitam di saku mantelnya. Sebisa mungkin tidak melakukan kecerobohan apapun yang mampu membuat kain tebal itu bergeser dari tugasnya.
"Yeobbose―"
"Hyung!" sambut Kyuhyun cepat begitu sambungan itu diterima oleh sang manager. "Kau masih di hotel sekarang?"
"Ya! Kyuhyun-ah, kau kemana saja? Tidak ingat kita―"
"Aissh.. Diamlah hyung. Nanti ku jelaskan. Sekarang, kumohon kau segera naik taksi dan pergi ke Tokyo dome. Bawa kunci cadangan mobilku dan jemput aku di Tokyo Dome City dekat situ."
"Tunggu... Tunggu, apa-apaan kau? Kau tidak sedang membuat masalah kan?"
"Ya! Apa maksudmu, hyung? Sudahlah nanti kujelaskan. Mobilku ada di parkiran blok E, begitu hyung sampai segera bawa mobilku sedekat mungkin dengan wahana biang lala yang kita kunjungi dulu. Jebal, temanku sedang dalam masalah. Dan cepat, jangan sampai lebih dari 20 menit dari sekarang hyung."
Jeda sejenak terdengar, hingga akhirnya desah nafas mengerti sampai di telinga Kyuhyun. "Arrasseo... Kupastikan aku sudah disana 15 menit lagi."
"Jeongmal gomawo, Eeteuk hyung."
"Ne. Hati-hati dongsaeng-ah."
Kyuhyun mematikan handphonenya sekarang.
Ganti mengeratkan pelukannya pada namja yang hanya terdiam pasrah di dadanya. Diusapnya lembut kepala pirang bertutup mantel hitam Sungmin. Sembari berbisik ditelinga "Kau dengar hyung? Eeteuk hyung segera sampai sebentar lagi. Setelah kita turun, mobil akan langsung didepan sana. Kau akan keluar dari sini dengan selamat. Sinar matahari itu tidak akan mengenaimu."
Dapat dirasanya hyungnya itu merespon dengan satu anggukan. Suaranya lirih, agak teredam mengingat wajahnya yang masih tersembunyi "Ne, gomawo Kyu."
"Shining Star! like a little diamond, makes me love... Naegen kkoomgyeolgateun
dalkomhan misoro nal
barabomyeo
soksagyeojweo..."senandung merdu Kyuhyun mulai terdengar. Mengisi keheningan di sangkar besi itu dengan lirik apik bernada ceria.
"Hangsang hamkke halgeora
till the end of time..."
Matahari dibelakang mereka sudah terbit sempurna saat ini. Disekitar mereka mulai terang, langit ungu gelap yang semula menghampar mulai berganti. Tersepuh penuh oleh jalaran sinar panjang berwarna keemasan.
Sesekali, mata obsidian Kyuhyun bergerak waspada. Mengawasi kalau-kalau ada bagian tubuh Sungmin yang luput dari lindungan mantelnya. Sambil tetap bersenandung lirih, Kyuhyun membenarkan letak mantel yang sedikit tersibak oleh gerakan namja aegyo itu. Untung saja mantel hitam itu lumayan besar―karena biasa digunakan Kyuhyun untuk menyamar― hingga tampaknya mantel favoritnya kali ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
"Apa kau kepanasan hyung?" tanya Kyuhyun.
Sungmin mulai bergerak pelan dalam pelukannya. Yah, sudah pasti hyungnya itu kepanasan. Dan sesak. Siapa juga yang betah berada dalam lingkupan mantel hitam serta dekapan erat selama hampir 30 menit?
Walau begitu, sama sekali tidak ada keluhan yang terlontar dari bibir sewarna sakuranya. Sekali lagi, Sungmin hanya membalas pertanyaan Kyuhyun dengan tawanya. Kali ini ditambah sebaris gumaman ringan "Nan gwaenchanha, Kyuhyun-ah. Kau tidak perlu khawatir seperti itu."
Kyuhyun tertawa lirih. Kagum dengan ketenangan―atau malah kepasrahan?― hyungnya. "Ne. Kau memang harus baik-baik saja hyung. Karena setelah ini, aku masih punya hadiah untukmu."
"Eh? Ulang tahunku sudah lewat tahu."
"Anggap saja kau akan ulang tahun saat ini."
"Hump..." kekehan lembut Sungmin terdengar. "Arra... Memang apa hadiahnya?"
Kyuhyun tersenyum lembut―walau tahu Sungmin tidak bisa melihatnya. "Rahasia~ kalau kuberi tahu namanya bukan hadiah hyung."
Beberapa waktu berselang, 25 menit sudah mereka lalui di sini. Matahari sudah mulai naik saat Kyuhyun mendengar suara khas mobilnya mulai mendekat. Tampaknya, managernya itu sudah sampai.
Dapat dilihat Kyuhyun, Leeteuk sudah turun dari mobil dan sedang berbicara dengan si ahjusshi pengoperasi mesin―kemampuan Nihon-go hyungnya memang tidak sefasih Sungmin. Tapi setidaknya, masih jauh lebih baik dari pada dirinya.
"Hyung! Arahkan mobilnya sedekat mungkin dari sini!"
Leeteuk menoleh saat mendengar teriakan Kyuhyun. "Gwaenchanha Kyuhyun-ah?"
"Nan gwaenchanha. Dekatkan saja mobilnya hyung!" teriak Kyuhyun tak sabar.
Leeteuk mengernyit tak mengerti, tapi segera bergegas melakukan perintah artis asuhannya. Tentu saja setelah berdebat dengan si ahjusshi agar mobilnya diperbolehkan memasuki wahana biang lala itu.
"5 menit kurang, hyung. Kau pasti akan baik-baik saja. Percaya padaku, ne?" ucap Kyuhyun lega.
Hyungnya sudah memarkirkan Audi hitam di depan pagar pembatas wahana. Sekitar 5 meteran dari lokasi mereka. Lumayan dekatlah. Ne, Sungmin pasti tidak akan apa-apa. Hyungnya itu pasti akan selamat.
"Aku percaya padamu, Kyuhyun-ah. Gomawo."
.
.
GREEK
.
.
Akhirnya, derit sesama besi yang saling beradu kembali terdengar setelah 30 menit-yang super lama. Membuat keduanya tanpa sadar mendesah lega. Perlahan, sangkar besi ini mulai bergerak lambat. Merayap turun hingga akhirnya berhenti total dengan sedikit goncangan kecil.
"Buka pintu belakangnya, hyung!" instruksi Kyuhyun lagi.
"Sudah!" balas Leeteuk.
Sementara didepan mereka, si ahjusshi penjaga mulai membuka kunci pengaman sangkar. Raut mukanya sedikit terkejut saat mendapati posisi keduanya yang lumayan aneh ―Kyuhyun yang tengah memeluk Sungmin yang terbungkus mantel. Tentu saja hal itu mengundang raut heran dari siapapun yang melihat.
"Ware-ware wa err..."
"Ware-ware wa genki desu, oji-san(kami baik-baik saja, paman)" tuntun Sungmin pelan.
Kyuhyun menggangguk. Langsung mengucapkan kalimat "contekan" dari hyungnya pada si ahjusshi. Disambut dengan anggukan dan seraut senyum minta ma'af dari sang penjaga.
"Di luar sudah mulai terang, hyung. Apa kau kuat berlari?" tanya Kyuhyun begitu ahjusshi itu menggeser tubuhnya. Memberi jalan bagi mereka untuk keluar dari sangkar besi yang telah 30 menit menahan.
"Aku tidak apa-apa. Tenang saja."
"Ne. Ahh.. Ani, jangan buka mantelnya hyung. Aku yang akan menuntunmu ke mobil. Menurut saja padaku, arra?"
Sungmin mengangguk. Kembali melipat tangannya yang semula berniat membuka mantel yang membungkus bagian atas tubuhnya. Merasakan pelukan Kyuhyun terlepas dan ganti membantunya menuruni sangkar besi biang lala.
"Kajja, hyung." tukas Kyuhyun. Namja tampan itu segera merangkul pundak Sungmin, sebisa mungkin menyingkat waktu di tempat panas ini.
Tapi sayang bagi mereka, langkah tergesa keduanya membuat rangkulan longgar Kyuhyun atas Sungmin terlepas. Namja aegyo itu terjatuh. Membuat mantel hitam yang menjadi pertahanan terakhirnya tersingkap lebar.
Kyuhyun menoleh begitu merasakan rangkulannya terlepas. Matanya melebar ketakutan saat mendapati Sungmin yang telah terduduk di tanah dekat undakan sambil menutupi matanya dengan sebelah tangan.
"Sungmin Hyung!"
Tanpa membuang waktu, penyanyi muda itu langsung menyambar mantelnya. Membenarkan letak kain tebal itu sembari membawa Sungmin berlari ke arah pintu mobil yang terbuka.
BRAK
Suara bantingan pintu mobil menggema bersama deru nafas memburu keduanya. Sungmin menghela nafas lega. Tapi tidak Kyuhyun.
Namja bermarga Cho itu menatap ngeri saat Sungmin perlahan menurunkan mantelnya. Menampakkan lengan kanan dan sebagian wajahnya yang tercoreng bercak kemerahan― seperti habis terbakar― di atas kulitnya yang putih susu.
"Hyung... Ini―"
"Ani. Gwaenchanha." Sungmin menepis halus tangan Kyuhyun saat namja itu mencoba menyentuh pipinya. "Gomawo, Kyu. Ma'af telah merepotkanmu."
Hening menyela.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sungmin sedang berpikir-entah-apa sambil mengalihkan pandangan ke luar. Sementara Kyuhyun masih kekeuh menatap khawatir pada luka atau apalah-itu-namanya berwarna kemerahan yang tercetak jelas di sebagian tubuh hyungnya. Kontras sekali dengan kulitnya yang tidak terjamah sinar matahari tadi.
Benarkah kontak langsung dengan matahari memang seterlarang itu bagi Sungmin?
.
.
.
.
"Xeroderma Pigmentosumatau biasa dikenal sebagai syndrom XP merupakan satu kelainan genetik dimana kulit menjadi sangat peka terhadap sinar matahari. Seperti pada Sungmin tadi, saat kulitnya terkena sinar matahari akan timbul bercak-bercak merah. Itu bukan noda biasa, pada penderita XP bercak seperti itu bisa menjurus ke arah kanker kulit. Karena itu, interaksi penderita dengan sinar matahari sangat terlarang." gumam Leeteuk datar.
Mata namja berparas cantik itu menoleh ke arah Kyuhyun yang masih terdiam sembari menatap kosong pada lantai putih University of Tokyo Hospital. Dia tahu, artis yang sudah dianggapnya sebagai dongsaengnya sendiri itu pasti tertekan oleh rasa bersalah sekarang.
Perlahan, Leeteuk menaikkan tangannya. Mengusap lembut pundak Kyuhyun sembari mengalunkan sebaris kalimat penenang "Tapi tenang saja, Sungmin pasti baik-baik saja. Dia namja yang kuat."
"Ne." balas Kyuhyun seadanya.
Mereka bertiga memang langsung melaju ke rumah sakit ini begitu keluar dari Tokyo Dome City beberapa saat lalu―walau harus berdebat sengit melawan Sungmin yang ngotot tidak mau ke rumah sakit. Leeteuk saat itu hanya diam menurut, namja itu sudah kenal Kyuhyun sejak lama. Karenanya dia tahu kalau Kyuhyun bukan tipe orang yang akan bicara saat sedang panik. Dan terbukti, begitu Sungmin masuk ke dalam ruang pemeriksaan―tanpa ditemani, kali ini si namja aegyo benar-benar tidak mau mengalah- tanpa disuruh pun Kyuhyun sudah berbicara dengan sendirinya.
Dari bertanya "Apa kau tahu penyakit macam apa syndrom XP itu hyung?" hingga menceritakan siapa dan bagaimana dia bisa bertemu namja manis bernama Lee Sungmin.
"Leeteuk hyung, darimana kau tahu banyak tentang penyakit itu?" Tanya Kyuhyun setelah mereka diam beberapa saat. Matanya menangkap binar gelap yang sedikit terpantul pada pandangan hyungnya saat ini.
"Kaoru Amane... Temanku. Dia juga penderita syndrom ini. Sebenarnya XP termasuk syndrom langka. Aku sedikit tidak percaya saat kau menanyakan syndrom itu dan berkata Sungmin tengah menderita XP. Ternyata aku bisa bertemu orang lain setelah Kaoru."
"Dimana teman hyung itu sekarang?"
Leeteuk menggeleng sedih sekarang. Memutus kontak mata mereka berdua. "Dia sudah meninggal. 3 tahun lalu. Mianhae, tapi yang kutahu... 60% dari penderita syndrom XP hanya mampu bertahan hingga umur 20 tahun."
"Panggil aku hyung kalau begitu, aku lebih tua dua tahun darimu Kyuhyun-ah."
Dan Kyuhyun hanya bisa terdiam dengan wajah pias serta tangan yang gemetar sekarang.
'Ya Tuhan, hyung...'
.
TBC or End?
.
Special Thanks:
ELF sampemati, Cho
SungHyun, Lee soo hyun, ELFjiEyounG2112, Lee Demin, fygaeming, Cho Hyun Min,
Desysaranghaesuju, Cho Miku, Syubidubidu, Melly, Kyunnie'Minnie,
Shin Na Daniel, elf203, Saeko Hichoru, Park Min Rin, Hyeri, Jung
Hyun Hyo, Rima KyuMin ELF, eternal spring, gyuminworld, dian minimin, AIDASUNGJING, wine137, Dila Choi, emak mecca
Saya bawa lanjutannya nihh,, sebelum lupa, saya kembali tegaskan, saya terinspirasi sama dorama jepang 'TAIYOU NO UTA' waktu buat ini. Tapi saya pastikan alurx bakal beda sama ntu film, kalo kesamaan scane, mungkin bakal ada.
Mian kalau ch ini pendek dan gaje, saya udah rada takut waktu niat update yang ini. Mian juga nggak ada balesan review ch kemarin, saya buru-buru soalnya. Besok di sekolah udah mulai UKK, so, untuk 2 minggu kedepan saya minta ijin hiatus ya readers,,, XD
Untuk yang tanya, sepertinya udah bisa kejawab di ch ini deh. Buat endnya, mohon semangati saya untuk bisa buat ending yang sesuai dengan harapan readers semua. Otak saya kadang eror dan suka nulis yang enggak2 soalnya XP oh ya, twitter saya ada di ClaRoses itu akun beneran nggak keurus, jadi jangan heran ya kalo rada 'aneh'. =="
Terimakasih banyak untuk review dan sarannya di ch kemarin, tanpa anda semua saya pasti tidak akan sampai disini,,, pendapatnya untuk ch ini selalu ditunggu. so readers, jangan bosan untuk memberi masukan ke saya ya?
.
.
Thanks for reading, and mind to read the next chapter?
V
V
V
