Title : A Prince Who Turns Into a Deer

Main Cast : Sehun, Luhan, Kai

Pair : HunHan, side!Kaisoo Taoris BaekYeol Sulay Chenmin

Genre : Fantasy Romance

A PRINCE WHO TURNS INTO A DEER

Chapter 4

Tingginya tangkai bunga matahari yang menjulang menutupi sosok Luhan yang tengah meringkuk di tengahnya. Manusia rusa itu duduk memeluk lututnya. Wajahnya bengong. Matanya yang lebar berkedip-kedip lucu memikirkan hal yang baru saja terjadi.

Sehun… Sehun baru saja menciumnya.

Pipi Luhan memerah lagi. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya. Masih terrekam jelas dalam memori Luhan. Mereka sedang mencari buah arbei dan bunga matahari untuk mengobati lukanya. Lalu tiba-tiba wajah Sehun mendekat dan…! dan, dan…

"Arrggggghhh!" Luhan menggoyang-goyangkan kepalanya dengan lucu. Ia bangkit dari tanah dan berlari lagi. Mencoba menenangkan debaran yang tak kunjung berhenti di dadanya. Luhan berhenti di tepi sebuah tebing dimana ia menemukan buah arbei tadi.

Luhan duduk di tebing. Ia melirik cabang buah arbei yang menjuntai kearahnya dan menariknya sampai ke bawah. Ada gerombolan buah yang berwarna hitam dan merah muda. Wajah Sehun terbayang lagi. Lebih tepatnya bibir Sehun. Luhan terpaku dan memandangi buah arbei yang belum matang. Ia menjilat bibirnya dengan lidah. Wajahnya mengernyit.

Bibirnya masih terasa asam. Ciuman Sehun tadi meninggalkan rasa asam gara-gara buah arbei itu. Dengan ragu-ragu, Luhan memetiknya. Alih-alih mengambil buah yang masak, ia malah mengambil buah yang berwarna merah muda segar. Yang Masih belum matang. Ia menggigit ujung buah itu dan seketika matanya menyipit menahan asam yang mencemari lidahnya. Tetapi meskipun begitu, Luhan melanjutkan memakan buah itu sampai habis.

"Rasanya tidak enak…." Luhan cemberut seketika buah itu habis dikunyahnya.

Luhan memetik lagi. Kali ini ia mengambil yang masak. Ia menggigit buah itu dan tersenyum lucu.

"Manis" ujarnya.

Tetapi kemudian senyumnya lenyap. Meskipun buah yang ini manis, tetapi mengapa dirinya menyukai rasa asam itu? wajahnya memerah lagi.

"Sehun… kenapa kau menciumku…?" desah Luhan kebingungan. Ia mengambil salah satu bunga matahari yang ada ditanduknya dan memetik kelopaknya satu demi satu.

Luhan berpikir bahwa meskipun buah yang belum masak itu rasanya asam,tetapi di bibir Sehun, semuanya terasa lebih manis.

.

Sehun hanya menatap makan malamnya dengan hampa. Pandangannya kosong. Malam itu seperti biasa, Sehun makan malam bersama Ayah, Ibu, dan Jongin. tetapi seenak apapun makanan yang terhidangkan di meja, Sehun tak bisa konsentrasi melahapnya. Pikirannya selalu terbang pada Luhan, Luhan, dan Luhan. Agaknya ini membuat Ratu Yixing khawatir melihat keadaan putranya yang sedari tadi bengong.

"Sehun, ada apa? Kenapa kau tidak makan?" tanya Ibunya cemas.

"…"

Sehun masih saja bengong. Ratu Yixing saling melempar pandang dengan suaminya. Jongin menyeringai. Ia mendekat pada adik kembarnya itu dan berseru tepat di telinganya.

"Oi Sehun cadel!"

Sehun tersentak dan berdiri dari kursinya. Ia memandang sekitarnya dan mendapati ayah ibunya terkaget-kaget. Ia menatap kakaknya yang berusaha menahan tawa. Sehun marah. Ia mengambil lap dan melemparnya ke wajah Jongin yang menyebalkan.

"Sialan!" umpat Sehun.

" Sehun, jaga bicaramu!" suara ibunya meninggi.

Sehun menatap ibunya takut-takut.

"Ma-maaf…" ia kembali duduk di kursinya. Ia mengambil sendok dan mulai makan lagi.

"Oh iya, Sehun. Bagaimana dengan piknikmu hari ini?" tanya Jongin.

"Piknik?" Sehun mengangkat alis.

"Yeah. Bukannya tadi pagi kau masuk dapur dan minta dibawakan makanan banyak sekali?"

Jantung Sehun mencelos. Kakaknya ini paling tahu bagaimana mengorek informasi darinya. Ia akan menanyakan ini di depan kedua orangtuanya agar Sehun tidak berbohong. Jongin tahu Ia tak pernah bisa bohong di depan mereka.

"Benarkah? Ibu tidak tahu itu. Kau piknik dimana?"

"Erm…itu…" Sehun tidak tahu harus mengatakan apa.

"Tidak hanya itu! beberapa hari yang lalu Sehun juga membawa buku dalam jumlah banyak. Entah dia bawa kemana" cerocos Jongin lagi.

"Buku? Pantas saja buku ayah banyak yang hilang. Oh ya, novel itu sudah selesai dibaca?" Ayahnya ikut-ikutan.

"Oh…! Ya, ya. Aku sudah selesai membacanya, ayah" Sehun menggaruk kepalanya.

"Bagus,kan? Jongin, Kau juga harus membacanya" saran ayah.

Apa?

"Novel? Aku tidak mau! Aku tidak suka membaca novel!"

Sehun menghela nafas lega. Syukurlah, karena buku itu sudah ia berikan pada Luhan dan mustahil manusia rusa itu mau mengembalikannya meskipun Sehun minta baik-baik.

"Tapi…boleh juga! Aku dengar pangeran itu suka membaca novel! Aku akan memberitahunya!" lanjut Jongin riang.

Sehun melotot. Sial…! Bagaimana sekarang!?

"Jadi, Sehun? Dimana kau piknik tadi pagi?" tanya Jongin lagi.

Anak ini…!

"Erm…di hutan utara" gumam Sehun sambil mengunyah dagingnya.

"Besok mau pergi lagi? Ibu akan bilang pada dapur istana untuk memasak makanan kesukaannmu"

"TIDAK USAH!" seru Sehun, membuat semuanya terlonjak.

"Erm…erm…maksudku, Itu semua hanya bekal! Aku bukannya piknik atau apa"

"Oh ya? bekal sebanyak itu?" kejar Jongin lagi.

"Ya. Aku memakan semuanya. Puas?" bisik Sehun.

"Lain kali, kalau mau piknik, ajak kakakmu juga. Kalian jarang sekali main bersama belakangan ini" tegur sang ayah.

APAAA? MENGAJAK JONGIN?

"Wow! Ide bagus. Aku punya banyak waktu luang" seru Jongin.

" Omong-omong,bagaimana dengan perburuan kalian? Sudah menemukan rusa itu?" tanya Raja tiba-tiba.

Sehun yang sedang mengunyah daging empuk itu tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan ayahnya.

"Uhuk…!"

Ratu Yixing segera memberikan segelas air pada putranya. Sementara Jongin menepuk punggungnya keras-keras.

" Pelan-pelan kalau makan, adikku" Jongin tersenyum lembut yang malah membuat Sehun ingin muntah.

"Nah, Jongin. Mulai dari kau, bagaimana perburuanmu?" tanya ayahnya lagi.

" Diluar dugaan, rusa itu sulit ditemukan, Ayah. Sayang sekali aku masih belum menemukannya" Jongin terdengar sangat menyesal.

Blah! Mencarinya? Yang kau lakukan hanyalah bermalas-malasan di istana! Pikir Sehun.

"Tapi sepertinya, Sehun sudah menemukannya, Ayah"

Mata Sehun melebar. Ia menatap Jongin yang duduk disebelahnya, ia menepuk-nepuk punggung Sehun dengan bangga.

"Aku perhatikan, dia keluar masuk hutan utara setiap hari. Sepertinya Sehun sangat ingin jadi Raja selanjutnya" Jongin tertawa.

"Benarkah? Kau sudah menemukan rusa itu, Sehun?" tanya Raja Joonmyeon.

"BELUM!"

"Astaga, Sehun. Kenapa kau berteriak terus dari tadi?" omel ibunya.

Ayahnya sedikit kecewa mendengar itu.

"Baiklah. Lanjutkan perburuan kalian. Andai saja kalian segera menemukannya… punggungku sudah terlalu tua untuk memimpin peperangan ck ck ck"

Dengan itu, Raja Joonmyeon meninggalkan meja makan sambil memegangi punggungnya. Ratu Yixing langsung mengikuti suaminya dan pergi ke kamar. Ia menuntun suaminya yang sebenarnya masih kelihatan muda, entah. Mungkin ada yang salah dengan punggungnya.

" Jangan khawatir, Ayah! Aku akan segera menemukannya!" seru Jongin sebelum ayah dan ibunya menghilang ke kamar.

Sehun melanjutkan makannya sebentar dan kemudian beranjak meninggalkan meja makan.

"Oi, Sehun! kau mau kemana?"

"Aku mau tidur" gumamnya.

"Kapan kita akan piknik?" Jongin cemberut.

Sehun mendengus. "Itu bukan piknik! Dan siapa bilang aku akan mengajakmu?"

"Pelit sekali kau" balas Jongin.

Jongin mengambil buah sebagai penutup makanan. Sehun menemukan dirinya terpaku menatap Jongin yang ternyata mengunyah buah arbei. Wajahnya seketika panas teringat ciumannya dengan Luhan.

"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Jongin heran. Ia mendekati Sehun yang kaget dan mendorong kakaknya itu.

"Si-Siapa bilang?!" Sehun meninggalkan meja makan menuju kamarnya.

" Hei, apa kau demam?" seru Jongin.

"Bodoh!"

Sehun membanting pintu kamarnya keras-keras. Ia bersandar di pintu dan menyentuh pipinya yang panas. Benar juga. Besok ia akan menemui Luhan lagi. Tapi… bagaimana kira-kira Luhan akan bereaksi setelah ciuman itu? Apakah ia akan membenci dirinya? Atau bahkan Luhan tak mau menemuinya lagi?

Sehun mengenyahkan semua pikiran jelek itu dan menepuk kedua pipinya keras-keras. Ia mengganti pakaiannya dengan piyama dan meringkuk dalam selimut. Jantungnya berdebar-debar menanti pertemuan besok. Ia tersenyum malu dan menyentuh pipinya yang masih terasa panas. Saat itu ia menyadari bahwa bukan pipinya saja yang panas, tetapi juga dahi dan seluruh tubuhnya.

.

Sehun bangun dan duduk di kasurnya dengan wajah linglung. Ia bisa melihat matahari sudah tinggi lewat jendelanya yang terbuka. Ia menyentuh dahinya yang panas dan rasanya seperti terbakar. Kepalanya pusing. Kemudian ia bersin. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Sampai Sehun kesal sendiri. Hidungnya merah sekali. Rasanya ia sulit bernafas. Ia mengeluh dan menjatuhkan diri ke kasur. Sekujur tubuhnya rasanya mendidih. Tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk terlelap lagi.

,

Luhan menghela nafas untuk yang mungkin keseratus kalinya hari itu. Ia sedang duduk di tepi sungai dan merendam kakinya di air yang sejuk itu. Berkali-kali ia melirik jalan yang biasa dilalui Sehun. Dan jejak pemburu itu masih tidak terlihat. Sudah siang, dan Sehun belum datang juga. Apakah ia sedang ada pesta lagi…?

Luhan mengeluh. Atau jangan-jangan… Sehun hanya ingin mencium dirinya dan kemudian pergi? Ia menendang air yang membasahi wajahnya sendiri. Kenapa ia berpikiran seperti itu?

"Aku jahat sekali…" desahnya.

Baru setengah hari saja, ia sudah merindukan Sehun. Merindukan kehadirannya di hutan ini dan bermain bersamanya. Ia kesepian. Tetapi teman-temannya sudah menghiburnya sejak tadi. Bukankah biasanya ia langsung ceria lagi? Ada apa dengannya? Memang ia tidak tahu harus memasang wajah seperti apa kalau bertemu Sehun lagi, tapi Luhan sangat ingin bertemu dengan pemburu itu. Dan Luhan menghela nafas lagi.

.

Ratu Yixing mondar-mandir di kamar putranya. Bersama beberapa dayangnya, ia berkali-kali memeriksa keadaan Sehun. Ketika ia hendak membangunkan putranya yang tidak biasanya bangun siang itu, ia kaget sekali melihatnya terbaring di kasur dengan lemah. Nafasnya pendek-pendek dan ia mengigau dalam tidurnya. Sekujur tubuhnya juga panas sekali. Ratu Yixing yang khawatir langsung mengompres dahi putranya dengan kain dingin, Berharap menurunkan panasnya.

Tetapi Sehun masih saja mengeluh dalam tidurnya dan itu membuat ibunya ingin menangis. Ia berusaha meracik obat untuk putra bungsunya itu. Bahkan Raja Joomyeon sampai membatalkan rapatnya dengan jenderal demi menemani putranya yang sedang sakit. Sementara Jongin tidak tahu harus melakukan apa, ia malah diusir keluar oleh sang ibu ketika usahanya membantu merawat adiknya berantakan. Ia malah menumpahkan air dingin ke tubuh adiknya, yang kemudian menangis gara-gara itu.

"Ck, aku kan hanya ingin membantu" gerutunya.

.

Setelah seharian penuh bergulat dengan demam tinggi, Akhirnya malam itu panas Sehun turun juga. Ia berbaring di ranjang setelah makan sup rumput laut. Ibunya berusaha membuatnya minum obat yang ia lakukan dengan enggan. Rasanya pahit dan Sehun tidak suka itu. .

.

Sehun sedang mengenakan pakaiannya dan berjalan keluar kamar ketika ibunya membuka pintu kamarnya tiba-tiba.

"Kau mau kemana?" tanya ibunya dengan nada tinggi. Matanya membulat lebar.

"Aku uhuk aku mau berburu uhuk" Sehun melewati ibunya begitu saja. Ibunya yang geram langsung menarik jubah putranya dari belakang sehingga Sehun tertarik ke belakang.

"Ibu! Jangan main-main!" protes Sehun, membenarkan jubahnya.

"Kau tidak akan pergi kemana-mana. Sekarang ganti baju lagi dan berbaring di kasur!" perintah ibunya.

"Tapi ibu uhuk!" Sehun hendak membantah tapi tenggorokannya gatal sekali. rasanya ingin sekali ia garuk.

"Dengan keadaan tubuh seperti itu kau mau berburu? Kau mau Ibu marah, hah?"

"Tapi, Bu. Aku tidak bisa uhuk disini terus"

"Ibu tahu, Ibu tahu. Kau ingin sekali menangkap rusa itu tapi kesehatanmu jauh lebih penting sekarang!"

Ratu Yixing menuntun putranya yang sempoyongan menuju tempat tidur lagi. ia menggeleng-gelengkan kepala ketika ia merasakan bahwa panas di tubuh putranya mulai naik lagi. ia menggenggam tangan Sehun dan menempelkannya pada dahi putranya sendiri.

"Lihat, berjalan saja masih sempoyongan, Badanmu juga masih sepanas itu. Mana mungkin ibu membiarkanmu keluar?"

"Uhuk uhuk uhuk!"

"Batukmu juga semakin parah…! Jangan membantah dan berbaring saja! Ibu akan ambilkan obat"

Sehun merengek. Ia harus pergi. Ia ingin menemui Luhan. Kemarin ia sudah tidak bertemu rusa itu. Apa yang akan Luhan pikirkan nanti? Apalagi setelah ciuman itu, Ia takut Luhan menyimpulkan bahwa dirinya hanya ingin mempermainkannya saja.

Ratu Yixing datang lagi dan kali ini membawa sebotol obat berwarna hitam kental. Melihatnya saja Sehun sudah ingin muntah. Ibunya memaksa Sehun menelan semangkuk penuh botol itu dalam sekali teguk. Wajah Sehun mengernyit penuh jijik. Ibunya meninggalkan dirinya terbungkus dalam selimut tebal, ia bisa mendengar omelan ibunya.

"Nah, sekarang istirahat! Berburu boleh saja tapi itu kalau kau sudah sembuh total! Mana bisa kau jadi raja kalau sakit seperti itu?"

.

Empat hari sudah berlalu dan Sehun benar-benar frustasi. Empat. Hari. Dan ia belum bertemu Luhan sama sekali! Sehun menendang-nendang selimut yang membungkusnya. Sebenarnya dirinya sakit apa sampai berhari-hari begini? Ibunya benar-benar mengawasi dirinya dengan ketat. Mustahil baginya untuk menyelinap ke hutan.

Ia tergolek lemah ke kanan dan kiri. Ia menatap langit yang terlihat dari jendela kamarnya. Ia sangat merindukan Luhan sampai rasanya sakit. Mungkin, ia belum kunjung sembuh karena merindukan Luhan. Sehun tertawa getir.

Habis sudah. Luhan pasti akan membencinya…

Sehun sedang meratapi nasibnya ketika langit yang damai tiba-tiba berubah ramai. Puluhan burung berwana putih melintasi langit yang damai itu. Sehun berlarian ke tepi jendela dan menengadah. Ia takjub melihat semua itu. Ia memperhatikan bahwa di kaki burung itu masing-msing terikat sesuatu. Ia menunduk dan melihat ayahnya berdiri dengan para menterinya, sedang membicarakan sesuatu yang amat serius. Sepertinya burung-burung itu sedang ditugaskan oleh ayahnya untuk mengirim surat pemberitahuan kepada kerajaan tetangga.

Tunggu. Surat?

Sehun terperangah. Benar juga! kenapa ia tidak memikirkannya dari awal?!

Seperti ada yang menyalakan lampu di dalam kepalanya, ia berlari menuju rak buku, tersandung karpet dalam perjalanannya. Tapi Sehun tidak peduli. Ia harus cepat!

.

Luhan mengernyitkan dahi dan menatap langit. Ada banyak sekali burung berterbangan jauh ke utara. Luhan menggertakkan lehernya. Ia mendongak sejak tadi sampai lehernya nyeri. Ia menghela nafas dan meletakkan dagu di lututnya. Setangkai bunga matahari jatuh dari kepalanya. Ia meraba tanduk rusanya dan melepas mahkota bunga matahari layu yang Sehun buatkan untuknya. Dan ia tersenyum getir mengingat nama itu.

Sejak ciuman itu, Sehun sudah tidak pernah mengunjunginya lagi. Memang benar. Sehun hanya berjanji menemaninya sampai kakinya sembuh. Mungkin Sehun berpikir bahwa dirinya sudah tidak butuh bantuan lagi. Untuk apa menghabiskan waktu berjam-jam di hutan untuk merawat manusia separuh binatang aneh seperti dirinya?

Luhan menghela nafas. Ia membuang bunga matahari dari tanduknya satu persatu. Bunga itu sudah layu. Tentu saja. Sudah empat hari sejak Sehun menyematkan bunga itu di tanduknya. Bunga itu hanyut dibawa aliran sungai. Luhan menatap bunga layu itu sampai terjun ke air terjun di bawahnya. Saat ini, Luhan berusaha untuk tidak menangis yang ternyata gagal ia lakukan.

"Sehun… kau dimana…?" Luhan terisak.

Dan saat itu, ia menyadari ada sesuatu mengitari kepalanya. Benda itu mengitari tanduknya seakan tanduknya adalah hal yang menarik. Luhan menengadah kesal. Ia menampik seekor burung yang sudah berani mengganggunya. Burung kecil gemuk itu kini berusaha mematuknya. Luhan menggoyang-goyangkan kepalanya agar burung itu pergi tapi si burung itu malah hinggap di tanduknya dengan keras kepala.

"Aaaah menyebalkan!" Luhan berteriak kesal.

Ia membiarkan burung itu bertengger di tanduknya. Luhan cemberut. Ia bisa merasakan burung itu mematuki rambutnya. Ia memejamkan mata dengan kesal. Menyedihkan. Sekarang ia tidak tahu apakah ia menangis gara-gara Sehun atau burung menyebalkan itu.

Burung itu terus mematuki rambutnya. Luhan melirik burung diatasnya dengan penuh dendam. Luhan berkedip. Ia baru menyadari kalau di kaki burung itu terikat sesuatu.

Apa itu?

Luhan mengangkat tangan dan melihat burung itu terbang menghinggapinya. Di salah satu kakinya, terikat sebuh gulungan kertas. Ia melepaskan ikatan itu dan membuka gulungan kertas itu.

Luhan bersyukur sekarang ia sudah bisa membaca dan menulis. Ia membaca tulisan yang ada di kertas dan terkejut saat namanya disebutkan dalam baris pertama.

Untuk Luhan

Di sarangnya yang nyaman,

Aku tahu mungkin ini sudah terlambat tapi izinkan aku untuk minta maaf karena sudah lama tidak mengunjungimu. Aku tidak mau kau berpikir bahwa aku hanya mempermainkanmu saja. Saat ini aku sedang sakit parah dan tidak bisa datang ke hutan utara. Aku sungguh menyesal dengan keadaan ini. Aku sangat ingin menemuimu. Aku mengatakan ini sejujurnya dan aku harap Luhan percaya.

Aku sangat merindukanmu, Luhan.

Aku bingung bagaimana caranya agar bisa bertemu denganmu, kemudian saat aku sedang putus asa, aku melihat burung berterbangan dari jendela kamarku. Hahaha. Kau berpikir aku pasti bodoh sekali,kan? Ya. Aku memutuskan untuk menulis surat padamu karena aku masih sakit dan tidak bisa datang ke hutan utara. Aku harap Luhan mau memaafkanku! _

Nah, kalau aku menerima surat balasan dalam hitungan sepuluh dari sekarang, itu artinya Luhan sudah memaafkanku. Baiklah, aku akan mulai menghitung mundur! Aku tunggu.

Catatan: cukup ikat surat balasanmu ke burung gemuk berwarna biru tadi.

Catatan lagi: maaf, burungnya suka mematuk!

Sehun si pemburu.

Luhan menengadah dan tersenyum tidak percaya. Sehun bodoh. Tentu saja aku memaafkanmu. Ia menatap surat di tangannya dan menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir. Kali ini ia menangis bahagia. Tangisan kelegaan. Bukan tangisan penuh kesedihan dan penuh kekesalan beberapa waktu yang lalu.

Luhan teringat sesuatu. Sehun sudah menghitung mundur. Ia harus menulis surat ini cepat-cepat!

"Sehun bodoh! Bagaimana aku bisa menulis semuanya dalam hitungan sepuluh?!"

.

Sehun duduk termenung di ranjangnya. Tak henti-hentinya ia menatap langit. Wajahnya cemas. Apakah Luhan menerima suratnya? Bagaimana kalau Luhan lupa cara membaca? Bagaimana kalau Luhan bisa membaca tapi lupa cara menulis?

Sehun tersentak ketika ia mendegar suara ketukan dari jendelanya. Ia berlari dan membuka jendela dan melihat seekor burung biru gemuk mematuki kaca jendelanya, burung itu bertengger di tepinya. Di salah satu kakinya terikat sebuah gulungan kertas. Senyum Sehun langsung mengembang untuk pertama kalinya dalam empat hari itu.

Ia melepaskan ikatan itu dan membuka gulungan kertas. Burung biru tadi bertengger dan mengintip dari balik bahunya. Jantung Sehun berdebar-debar.

Untuk Sehun

Yang sedang sakit,

Aku baru saja bisa menulis dan aku cemas akan membutuhkan waktu lama untuk menulis semua ini! tapi apabila Sehun menerima surat ini lebih dari hitungan sepuluh, bukan berarti aku tidak memaafkan Sehun!

Aku juga ingin minta maaf karena sudah berpikiran buruk tentang Sehun. aku menunggu selama empat hari dan Sehun tidak pernah datang!

Aku kesepian.

Tapi! Kemudian aku menerima surat dari Sehun dan aku sangat gembira!

Yang lebih penting, apa yang terjadi padamu, Sehun? kau sakit? apakah separah itu? sudahkah Sehun minum obat?

Sehun bilang tanda melengkung di belakang kalimat itu adalah tanda saat kau ingin bertanya. Lalu, tanda apa yang harus aku gunakan ketika aku sedang khawatir dan cemas?

Aku benci menulis! Sebab aku takut perasaanku yang sebenarnya tidak tersampaikan. Aku harap Sehun tahu kalau aku benar-benar cemas dengan keadaan Sehun sekarang. Jangan khawatirkan aku. Aku disini sehat-sehat saja.

Jangan memaksakan diri untuk datang ke hutan utara kalau Sehun belum sembuh benar! ingat ya! aku sudah bicara pada burung gemuk itu dan aku akan tahu kalau Sehun sudah sembuh benar atau tidak.

Catatan: aku juga merindukan Sehun!

Luhan si rusa.

Aku juga merindukan Sehun.

Aku juga merindukan Sehun.

Aku juga merindukan Sehun.

Sehun membaca baris itu berulang-ulang. Ia memekik dalam hati. Luhan juga merindukan dirinya. Benarkah itu? wajahnya memerah lagi.

Sehun tertawa. Entah ia menertawakan tulisan Luhan yang seperti cakar ayam atau cara Luhan mengutarakan semuanya. Dan lagi soal hitung mundur itu, Padahal Sehun hanya ingin menggodanya. Tetapi Luhan menanggapinya dengan serius. Ia menggeleng-geleng sambil tersenyum.

Syukurlah, Luhan memaafkannya. Ia menatap surat itu dan membelainya. Akhirnya ia bisa mengetahui kabar Luhan biarpun hanya lewat surat. Tak apa. Sehun sudah cukup senang seperti ini saja. Tapi tetap saja, melihat wajah Luhan adalah yang paling ia inginkan saat ini.

.

Sehun dan Luhan terus bertukar surat hampir setiap hari. Bahkan dalam sehari, kadang mereka menulis surat sampai berkali-kali. Ada saja yang mereka bicarakan. Topik pembicaraan mereka seputar keadaan Luhan dan hutan utara. Sehun selalu mengatakan bahwa ia sangat merindukan semua itu. Tetapi sebenarnya ia lebih merindukan Luhan. Ia ingin sekali bertemu dan bermain dengan manusia rusa itu. Tetapi baik Luhan dan ibunya masih melarangnya untuk pergi. Kondisi kesehatannya sudah membaik, hanya saja kalau tidak mau kambuh lagi, Sehun harus istirahat penuh.

Sehun sama sekali tidak menyinggung soal ciuman itu. Sehun memutuskan untuk tidak membahasnya lewat surat karena ia pikir itu bukan hal yang pantas dibicarakan bila tidak berhadapan langsung. Ia ingin mengatakan itu pada Luhan dengan serius dan spesial. Ia ingin cepat sembuh dan mengunjungi hutan utara lagi! rasanya sudah berabad-abad ia dikurung dalam kamar oleh ibunya. Untung saja ada Luhan yang selalu menulis surat untuknya. Ia menyimpan semua surat Luhan dengan hati-hati. Ia membacanya berulang-ulang sampai bosan. Tapi anehnya ia tak pernah merasa bosan. Ia membaca sambil membayangkan wajah Luhan yang lucu mengatakan semua yang ditulisnya. Ini sangat membantu proses penyembuhannya.

"Apa yang kau tulis?"

Sehun sedang menulis surat untuk Luhan, ia bercerita tentang buku baru yang baru saja ayahnya berikan padanya ketika ia dikagetkan oleh suara Jongin. Sehun tersentak dan mendapati wajah kakaknya mengintip dari balik bahu. Sehun cepat-cepat membereskan semua surat Luhan yang berceceram di kasurnya, juga surat yang belum selesai ia tulis.

"Jo-Jongin! Sejak kapan kau ada disitu?!" Sehun kaget sekali.

"Aku? sudah cukup lama. Mungkin… yah sejak awal"

"Kenapa kau ada di kamarku?! Pe-pergi sana!"

Jongin berdecak.

"Aku disuruh ibu untuk mengantarkan obat yang baru. Ibu sedang sibuk. Ck dasar kau ini"

Sehun mengawasi Jongin meletakkan botol berisi obat hitam yang selama ini ia minum. Ia menatap kakaknya tajam. Apakah Jongin melihat semua yang ia tulis? Apakah ia tahu kalau ia sedang menulis surat pada Luhan? Sehun tidak mau Jongin tahu soal manusia rusa itu…

Jongin duduk tepi ranjang adiknya. Sehun masih mendekap semua gulungan surat dari Luhan dengan erat. Seakan takut kakaknya itu akan merampasnya. Ia melotot pada Jongin.

"Kenapa kau ini, Sehun?" tanya Jongin heran, kenapa adiknya ini terus melotot padanya?

Sehun tidak menyadari bahwa ia telah membuat Jongin merasa tidak nyaman. Ia berdeham dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ck, tidak perlu melotot begitu hanya karena aku mengintip surat cintamu" gumam Jongin.

Wajah Sehun langsung memerah.

"Bu-bukan…! Aku tidak menulis surat cinta!" bantah Sehun.

"Ayolah, adikku. Kau tidak pernah menulis surat selama ini, dan tiba-tiba kau menjadi orang gila yang tertawa sendiri saat membaca selembar kertas yang entah dari siapa. Juga isi surat itu tadi, kelihatannya kalian akrab sekali"

Sehun semakin memerah wajahnya. Jongin menyeringai. Ia berhasil menggoda Sehun. IA mendekat dan berbisik.

"Aku melihatmu berkali-kali mencoba menulis tanda hati dan menghapusnya lagi. Kau sedang jatuh cinta,ya?"

"TIDAK!"

"Yeah, tidak salah" Jongin terkekeh.

"Cepat keluar dari kamarku dan ku katakan sekali lagi…! Aku tidak menulis surat cinta!" raung Sehun.

" Kalau begitu, sebenarnya apa yang kau tulis?"

"Arggggghhh keluar keluar!"

Tak perlu disuruh dua kali, Jongin langsung kabur begitu melihat Sehun sudah mulai marah. Ia tertawa sepanjang koridor.

.

Sehun sedang menunggu balasan dari Luhan ketika perutnya tiba-tiba sakit. Ia langsung pergi ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Jongin masuk ke kamarnya.

"Sehunnie~~ waktunya makan" Jongin menyanyi dengan riang. Ia masuk ke kamar adiknya dan mendapati ranjangnya kosong.

Kemana dia?

Jongin mendengar suara air dari kamar mandi. Ia mengangkat bahu dan akan keluar dari kamar adiknya, ketika ia mendengar suara ketukan dari jendela. Jongin membuka jendela itu dan mendapati seekor burung gemuk berwarna biru bertengger di tepinya.

"Wah, ada burung! Bukannya ini burung pengantar surat milik ayah?"

Jongin memperhatikan burung itu dan menyadari bahwa di kakinya terdapat sebuah gulungan kertas. Ia pun mengambil gulungan itu dan burung itu langsung pergi. Ia mulai membaca gulungan kertas itu dan menyadari kalau itu adalah sebuah surat. Tulisannya jelek sekali, Jongin sampai ingin tertawa.

Untuk Sehun

Yang melamun di tepi jendela,

Aku baru saja makan! Aku memetik buah apel yang sedang berbuah lebat di tepi hutan! Sehun sudah makan,belum? Sudah minum obat? Sudah istirahat?

Sehun tahu tidak? Baru-baru ini Joon si merpati bilang kalau ia menyukai burung gemuk itu! padahal burung itu sangat menyebalkan! Dia suka sekali mematukiku!

Min si kelinci juga bilang kalau ia merindukan Sehun! tapi aku curiga, mungkin ia hanya merindukan wortel darimu.

Aku ingin sekali membaca buku baru itu! Semua buku disini sudah selesai aku baca! Hahaha aku haebat,kan? Aku juga belajar agar bisa menulis dengan bagus! tulisan tangan Sehun sangat rapi, aku iri~~~~

Heheheheheeee

Karena aku sendirian maka aku menghabiskan waktu bersama rusa-rusa yang lain. Aku suka sekali memperhatikan mereka. Rasanya seperti melihat keluargaku sendiri.

Luhan si rusa.

"Apa yang kau lakukan?"

Jongin tersentak oleh suara tajam di dekatnya. Ia mendongak dan mendapati Sehun sudah berada di depannya. Wajahnya terlihat marah. Jongin menelan ludah.

"Oh hei, Sehun. Kau sudah selesai?"

"Aku tanya, apa yang kau lakukan?!"

"Aku sedang mengantar makan siang untukmu-"

Sehun tiba-tiba merampas surat itu dari tangan Jongin dan meremasnya. Ia menatap Jongin kesal.

"Keluar dari kamarku" perintah adiknya.

"Sehun, aku-"

"Keluar!" Sehun membelakangi kakaknya. Jongin menghela nafas lalu meninggalkan kamar itu.

.

Jongin terdiam di kamarnya. Ia menatap langit lewat jendela kamarnya dan berpikir. Dahinya berkerut. Ia memikirkan surat adiknya yang baru saja, dengan lancang, ia baca. Sehun marah sekali. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya.

Tapi isi surat itu.

Siapakah yang mengirim surat itu? Siapakah Luhan? Dan kata-kata hutan,rusa, juga keluarga.

Pikiran Jongin melayang lagi ke surat itu. Ia menggigit bibirnya. Ia curiga Sehun sudah menemukan rusa itu. Tapi anehnya, kenapa Sehun tidak segera membawanya ke istana? Bukankah selama ini adiknya selalu sangat giat mencari rusa itu? Kenapa?

Jongin menggigiti kuku jari telunjuknya. Alisnya bertaut. Bagaimana ini? bagaimana kalau Sehun memang benar-benar menemukan rusa itu dan memenangkan pertarungan ini? Ia akan gagal menjadi raja dan Sehunlah yang menang.

Jongin mengenyahkan semua pikiran itu dan tersentak melihat kawanan burung terbang melintasi jendelanya. Ia berpikir keras, kemudian seringai muncul di bibirnya yang tebal.

"Cukup, Jongin. Kau tidak akan tahu kalau diam saja disini" bisiknya kepada dirinya sendiri.

.

Sehun sedang mengikatkan surat pada kaki burung gemuk itu. Ia masih kesal. Jongin telah membaca suratnya. Ia cemas Jongin tahu soal Luhan. Apa yang harus ia lakukan? Ia melihat burung itu terbang meninggalkan jendelanya dan perlahan-lahan menghilang. Sehun menghela nafas. Ia duduk di kasur dan menunggu surat balasan dari Luhan. Masih dengan wajah muram.

Di tepi hutan kerajaan barat, Jongin sudah siap dengan kudanya. Ia sedang menunggu burung yang amat ia kenal. Ia tahu Sehun baru saja menulis surat untuk pengirim misterius itu. Ia menengadah dan mencoba mencari jejak burung gemuk berwarna biru. Ia menyeringai ketika ia menangkap sekelebat bayangan berwarna biru di langit. Ia menendang kedua sisi perut kudanya dan memacunya dengan kecepatan tinggi.

Jongin mengejar burung itu dibalik padatnya pohon-pohon di hutan barat. Sesekali ia mendongak dan mengawasi agar burung itu tidak hilang dari pandangannya. Burung itu menuntunnya melewati batas hutan barat milik kerajaan mereka. Jongin mengawasi burung itu dari bawah. Masih memimpin di atasnya, burung itu tiba-tiba menukik ke utara. Jongin mengendalikan kudanya dan mengikuti arah yang dituju si burung. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah bayangan gelap di depan. Mata Jongin menyipit. Kemudian ia menyeringai.

Hutan utara.

Rapatnya pohon di depan membuat hutan ini terlihat gelap dan menyeramkan. Jongin memasuki hutan itu tanpa ragu. Untuk beberapa lama, ia kehilangan jejak burung itu. jongin sempat kebingungan dan berputar-putar saja di daerah itu, tetapi kemudian ia melihat burung itu bertengger di sebuah ranting pohon. Jongin menunggu sampai burung itu terbang lagi. Mungkin burung itu kelelahan. Jongin melihat burung itu terbang lagi dan berusaha mengikutinya. Ia sampai di sebuah padang rumput yang luas dimana ada danau besar yang airnya sangat jernih. Ia memasuki hutan lagi yang susunan pohonnya tidak terlalu rapat. Jongin tersenyum puas, dengan begini ia bisa mengawasi burung itu dengan mudah. Jongin melewati sebuah air terjun yang sangat indah. Ia nyaris saja jatuh ke bawah tebing ketika burung itu menukik tajam ke bawah. Jongin mengendalikan kudanya dan mengawasi burung itu berputar-putar di sebuah gua. Ia melihat kawanan rusa minum di tepi sungai yang berasal dari air terjun itu. Jongin turun dari kudanya dan mengendap-endap di balik pohon, sekarang ia melihat ke bawah. Burung gemuk itu hinggap di salah satu tanduk rusa yang tengah bergerombol di tepi sungai. Burung itu mematuki tanduk si rusa. Dan Jongin bersumpah ia melihat seorang pria muncul secara tiba-tiba di tengah kerumunan rusa itu.

Jongin berkedip dan menggosok-gosok matanya. Apa matanya tengah menipunya? Apa ia salah lihat? Ia bersumpah ia tidak melihat pria itu tadi! sejak kapan-

Jongin semakin terperangah ketika ia menyadari bahwa pria itu memiliki dua tanduk menyerupai rusa yang tumbuh begitu saja di kepalanya.

Alis Jongin bertaut. Apa-apaan itu?

Pria itu memiliki rambut berwarna pirang madu. Di kepalanya terdapat rangkaian bunga mawar dan juga matahari. Bunga itu disematkan di tanduknya. Ia juga memiliki rangkain bunga yang lebih kecil melingkar menyerupai mahkota di rambutnya. Jongin berdeham dan mengakui kalau pria ini memang –erm- cantik.

Pria itu mengangkat tangannya dan burung itu seketika terbang. Bertengger dengan patuh di tangan itu. Pria itu tersenyum. Ia membuka ikatan di salah satu kaki burung itu dan mendapatkan sebuah gulungan kertas. Senyumnya semakin lebar. Burung itu bertengger lagi di tanduknya sementara pria bertanduk rusa itu duduk di tepi sungai dan membuka gulungan kertas itu. Ia merendam kakinya ke dalam air sungai dan membaca surat itu dengan riang. Ia juga menemukan sebuah kalung berliontin kepala rusa lengkap dengan tanduknya dalam gulungan itu.

Jongin berkedip berulang-ulang layaknya orang bodoh. Ia mengalihkan pandangan dari pria bertanduk rusa itu. Ia bersandar di pohon dan tertawa tidak percaya.

Luhan si rusa.

Jongin meremas rambutnya dengan gemas. Jadi, Luhan adalah teman yang biasa bertukar surat dengan Sehun. Luhan ini adalah manusia bertanduk rusa yang tinggal di hutan utara. Dan Jongin tahu kalau Sehun selalu mengunjungi Luhan ini tiap kali ia pergi berburu di hutan utara ini. Jadi benar, Sehun sudah menemukan rusa ajaib itu. Rusa ini benar-benar cantik. Beda dari rusa umumnya. Tanduknya indah dan kakinya panjang. Bulunya berwarna terang. Terang saja ayah menginginkannya.

Jongin menyeringai. Apakah ayahnya juga tahu kalau wujud sebenarnya Rusa ini adalah seorang manusia?

Jongin mengintip lagi dari balik pohon dan melihat ke bawah. Luhan itu sudah bangkit dari tepi sungai dan berlari menuju sebuah gua. Ia mengambil sebuah buku dan tinta pena. Ia menulis di bawah pohon dengan riang. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menggulung kertas yang sudah ia tulis, mengikatnya pada burung gemuk tadi yang selalu bertengger di tanduknya.

Jongin cepat-cepat bersembunyi ketika Luhan menengadah dan melambai pada burung yang terbang membawa suratnya. Luhan tersenyum sampai burung itu menghilang dari pandangan. Kemudian ia masuk lagi ke guanya.

Jongin mengintip lagi. Luhan sudah tidak ada. Baiklah. Ia juga sudah selesai. Ia menaiki kudanya lagi dengan hati-hati dan menyentaknya berlari.

Jongin berpacu meninggalkan hutan utara dengan seringai lebar. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

.

Sehun sedang berbaring di kasurnya ketika ia mendengar suara ketukan dari arah pintu. Pintu itu terbuka dan wajah kakaknya muncul. Sehun mendengus keras.

"Ibu menyuruhmu makan malam" ujar Jongin sambil tersenyum.

Sehun mengernyitkan dahi. Bukankah selama ia sakit, ibunya selalu membawakan makanan untuknya? Sehun bangkit dari kasur dan mengikuti kakaknya ke ruang makan. Disana sudah disediakan banyak makanan. Ayah dan ibunya menunggu Sehun duduk dan memulai makan malam mereka.

"Aku pikir ibu akan membawakan makan malamku ke kamar" ujar Sehun.

"Tidak baik terus berada di kamar. Kau harus menghirup udara segar juga"

Sehun mengangkat wajahnya yang berubah cerah.

"Apakah artinya aku sudah boleh keluar?"

Ibunya melotot. Sehun langsung tersenyum kecut.

"Siapa bilang? Ibu hanya bilang kau harus keluar dari kamar!"

"Yeah yeah…." Sehun menekuni nasinya lagi dengan cemberut.

"Jongin, bagaimana perburuanmu?" tanya Raja Joonmyeon tiba-tiba.

Sehun menatap Jongin yang duduk di sampingnya. Jongin mengunyah dagingnya lambat-lambat, seakan berpikir. Ia mengangkat wajah dan tersenyum pada ayahnya.

"Maaf, Ayah. Sayangnya aku belum menemukannya. Tinggal sedikit lagi" Jongin kedengaran sangat, sangat menyesal.

Ayahnya menghela nafas.

"Ayah harap kalian menemukannya lebih cepat sehingga aku bisa memutuskan siapa yang akan jadi raja selanjutnya. Dengan Sehun yang masih sakit begini…"

"Ayah bicara apa? Aku sudah sembuh! Aku yang akan menemukannya, ayah!" bantah Sehun. Ia tidak mau diremehkan.

"Berburu boleh saja, tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu" ujar Jongin, ia membelai rambut adiknya dengan lembut. Sehun melotot.

Keluarga itu menyelesaikan makan malam mereka. Raja dan Ratu meinggalkan meja makan. Begitu juga kedua putranya. Dalam perjalanannya menuju lantai atas dimana kamarnya berada, Sehun mendegar Jongin memanggilnya .

"Sehunnie!"

Sehun berhenti dan menoleh. Jongin berdiri di anak tangga paling bawah dan tersenyum padanya. Sehun memutar bola matanya.

Mau apa lagi kakaknya ini?

"Aku mengantuk. Aku mau tidur" Sehun melanjutkan langkahnya ke lantai atas.

"Tunggu!" Jongin berlari kerahnya.

"Ada apa?" Jelas, Dari nada bicaranya yang ketus,Sehun masih kesal .

"Aku hanya ingin minta maaf" ujar Jongin tiba-tiba.

"Hah?" Sehun berkedip tidak percaya.

Jongin menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.

"Erm… maksudku, soal surat kemarin. Aku sudah lancang membacanya. Maafkan aku"

Sehun menatap Jongin tidak percaya. Apa kakaknya salah makan? Seingatnya, Jongin jarang sekali meminta maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat. Ia memperhatikan kakaknya yang bergerak-gerak dengan canggung. Wajahnya memang terlihat sangat menyesal. Sehun berdeham.

"Ye-yeah, tidak apa-apa. Asal jangan kau ulangi lagi" ujar Sehun tak kalah canggung.

Wajah jongin langsung berubah cerah. Ia memeluk adiknya tiba-tiba. Erat sekali sampai Sehun sesak nafas.

"Jo-Jongin! lepaskan!"

Jongin melepaskan pelukan itu dan tersenyum lebar. Ia mengacak-acak rambut Sehun dengan gemas. Sehun mengerang.

"Apa-apaan kau ini!?" Sehun merapikan rambutnya lagi.

"Terima kasih sudah memaafkanku! Baiklah, sekarang istirahatlah! Kau harus cepat sembuh!"

Sehun menggeleng-geleng. Kenapa kakaknya tiba-tiba jadi sok perhatian begini?

"Yeah, aku kesal sekali. Tiap malam panas di tubuhku selalu naik. Aku ingin cepat-cepat berburu" gumam Sehun sambil menaiki tangga menuju kamarnya.

"Selamat malam, Sehunnie! Mimpi indah, ya! cepat sembuh!" Jongin melambai penuh semangat.

Sehun melambaikan tangan seadanya kemudian ia memasuki kamar. Jongin masih melambai biarpun Sehun sudah tidak kelihatan lagi. Kemudian senyumnya berubah jadi seringai.

" Kau harus cepat sembuh,Sehunnie. Karena sebentar lagi kau harus menghadiri upacara pelantikanku sebagai raja yang baru"

Jongin berbalik menuju kamarnya sendiri. Ia tersenyum penuh kemenangan.

"Maaf, adikku sayang. Tapi aku tidak akan membiarkanmu membawa Luhan ke istana. Memang benar kau yang berhasil menjerat rusa itu, tapi… lubang jebakanku lebih dalam dan gelap. Akulah yang akan jadi raja, Sehunnie. Aku tak akan gagal, karena aku sudah berjanji pada Pangeran Kyungsoo"

.

Luhan sedang berlarian di atas tebing. Ia mengikuti rusa-rusa yang tengah melintasi hutan. Maka Luhan yang sedang bosan berubah menjadi rusa dan memutuskan mengikuti mereka. Setelah berlari untuk beberapa saat, Kawanan rusa itu berhenti merumput di tepi danau. Mereka juga minum disana.

Tiba-tiba Luhan mendengar suara air dan teriakan minta tolong. Ia mendongak dan mencoba mencari sumber suara itu. Betapa terkejutnya ia ketika ia mendapati seorang manusia tenggelam di danau. Tangannya melambai-lambai minta tolong.

"Toloooooooong!"

Luhan langsung mengubah wujudnya menjadi manusia lagi dan menceburkan diri ke danau. Kawanan rusa itu langsung berantakan dan berlarian. Ia berenang ke tengah danau dan menarik manusia itu ke tepinya. Ia menyeret pria yang kehabisan nafas itu dan membaringkannya di rumput.

"Ohok ohok…!" Orang itu tersedak air yang tertelan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Luhan panik.

Pria itu mulai tenang. Ia berusaha mengatur nafasnya. Luhan memperhatikan manusia ini. Kulitnya gelap, rambutnya hitam kecokelatan. Ia mengenakan baju sederhana layaknya rakyat biasa, beda dengan Sehun yang selalu berpakaian bagus dilengkapi jubahnya.

"Aku sudah- baik-baik saja…" ujarnya.

"Syukurlah" Luhan bernafas lega. " Aku pikir kau akan tenggelam tadi"

"Te-terima kasih" ujar pria itu sambil tersenyum.

Luhan mengangguk lucu.

Pria itu tak hentinya menatap Luhan dengan takjub. Ia sangat heran melihat tanduk rusa yang ada di kepala Luhan. Ia menyentuh tanduk itu yang membuat Luhan terkejut.

"Ah! Maaf! Aku tidak bermaksud apa-apa…! Hanya saja, Hanya saja, aku belum pernah berjumpa dengan makhluk sepertimu. Aku melihatmu berubah jadi manusia dan terjun menyelamatkanku."

Wajah Luhan memerah. Ia tahu ia aneh. Pria ini pasti kaget melihat manusia setengah rusa seperti dirinya.

"Aku memang begini" Luhan menunduk malu. Pria itu mengangkat alisnya. Telinga rusa Luhan yang berbulu berubah kuyu.

"Maaf, sepertinya aku membuatmu tersinggung" sesal pria itu.

"Ah, tidak! Tidak apa-apa. Siapapun pasti terkejut saat pertama kali melihatku. Karena itu aku bersembunyi di hutan ini"

"Aku rasa kau harus menyembunyikan dirimu lagi" ujar pria itu lagi.

"Ke-kenapa?" Luhan mulai takut.

Pria itu menoleh kesana kemari, seakan takut ada yang mendengar pembicaraan mereka, ia mendekat pada Luhan dan berbisik.

" Aku dengar,Raja dari kerajaan barat sedang memerintahkan perburuan rusa pada putranya"

"Perburuan rusa?"

"Ya. Raja itu memerintah putranya untuk menangkap rusa ajaib yang ada di hutan utara sebagai persyaratan untuk menjadi raja selanjutnya. Dan aku tahu sejak pertama kali melihatmu, bahwa kaulah rusa yang dimaksud"

Mata Luhan melebar.

"Aku bukannya menakutimu. Aku hanya memperingatkan agar kau lebih berhati-hati. Aku harap kau menyembunyikan diri lagi lebih jauh ke hutan. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh kerajaan barat apabila pangerannya berhasil mendapatkan mahkluk unik sepertimu, tapi aku tahu, itu akan sangat sangat buruk"

Luhan mulai gemetaran.

"Pangeran ini berwajah tampan. Tapi jangan sampai kau tertipu dengan wajahnya itu. Ia tinggi. Kulitnya putih dan rambutnya berwarna kelabu. Bibirnya tipis dan cara bicaranya agak aneh"

Jantung Luhan mencelos. Sepertinya ia mengenal pria ini…

"Dengar, bila kau bertemu dengan pria yang memiliki ciri-ciri seperti itu, cepatlah bersembunyi!"

Luhan membisu. Wajahnya cemas. Pria itu menatap Luhan dengan kasihan. Ia menepuk-nepuk bahu manusia rusa itu penuh simpati.

"Sayang sekali aku harus pergi. Aku sedang mencari rumput untuk kudaku kemudian aku terpeleset dan tiba-tiba aku sudah tenggelam hahaha bodoh sekali…"

Pria itu menggaruk kepalanya dengan canggung. Luhan tidak membalas. Wajahnya masih galau. Pria itu menghela nafas.

"Aku pergi sekarang. Aku akan selalu mendoakan keselamatanmu. Semoga kau beruntung" ujar pria itu.

"Tunggu!" Luhan memanggil pria itu.

"Ya?"

"Kalau boleh tahu… bisakah kau memberitahuku siapa nama pengeran itu…?" tanya Luhan ragu-ragu.

Pria itu mengangkat alis dan menerawang. Kemudian wajahnya berubah cerah ketika ia berhasil mengingatnya.

"Namanya Pangeran Sehun" lanjut pria itu dan Luhan rasanya ingin menangis.

Pria itu memperhatikan perubahan raut wajah manusia rusa itu.

"Aku-aku pergi dulu" pamit pria itu hati-hati, Tak mau mengganggunya.

"Tunggu" panggil Luhan lagi.

"Y-ya?"

"Siapa namamu? Aku belum berterima kasih"

Pria itu tersenyum.

"Namaku Jongin, aku seorang penggembala kuda dari timur"

.

Sehun bersiul denga riang di kamarnya. Ia sedang mengenakan jubah kesayangannya. Setelah seminggu lebih ia hanya meringkuk di kamar, akhirnya ia berhasil sembuh! Ibunya telah mengizinkannya untuk berburu lagi. Itu artinya ia bisa ke hutan utara dan bertemu Luhan lagi. Senyum di wajahnya tak pernah berhenti mengembang.

Ibunya masuk kamar dan membawakannya beberapa bekal untuk perjalanannya. Ia merapikan jubah Sehun dan menyisir rambut putranya dengan rapi.

"Kau kelihatan senang sekali" ibunya heran.

"Tentu saja! Aku sudah sembuh. Aku tidak perlu minum obat pahit itu dan bisa berburu lagi!"

"Ibu harap penyakitmu tak kambuh lagi. Penyakit itu sedang mewabah di kerajaan"

"Benarkah?"

"Yah untung saja ibu berhasil menemukan obat yang tepat untuk menangkal penyakit itu, wabah penyakit itu bisa dicegah dari awal. Ayahmu memerintahkan pengawal untuk memberikan obat itu dari rumah ke rumah"

Sehun tahu kalau ibunya adalah seorang tabib hebat semasa mudanya. Ayah bercerita bahwa dulu ia sedang ikut perang bersama ayahnya, kakek Sehun yang saat itu menjadi raja, ketika ia bertemu ibu. Kerajaan barat dan kerajaan utara sedang berseteru dan pecahlah perang. Ayah terluka parah dan tak ada tabib yang sanggup mengobatinya. Saat itulah, putri kerajaan utara merasa iba dan menawarkan untuk mengobati pangeran yang menjadi musuh kerajaannya sendiri. Kemudian dari situ, entah bagaimana ceritanya, Kedua kerajaan sepakat untuk gencatan senjata. Dan sepertinya Pangeran Joonmyeon tidak mampu melupakan kebaikan putri kerajaan utara yang telah menyelamatkan nyawanya. Maka ia melamar putri Yixing dan membawanya ke barat. Kemudian lahirlah si kembar Jongin dan Sehun.

Diam-diam, Sehun sangat bangga pada ibunya ini. Sejauh ini, belum ada penyakit yang tidak mampu disembuhkan olehnya. Tiba-tiba Sehun teringat akan Luhan, juga tanduk rusanya. Ia selalu berpikir bahwa itu merupakan suatu kutukan. Ia berpikir, bisakah ibunya menyembuhkan kutukan itu…?

"Ibu!" panggil Sehun tiba-tiba.

"Ya?"

"Erm, aku punya seorang teman" wajah Sehun memerah.

"Teman?" ibunya tersenyum nakal.

"Teman! Sungguh teman!" tapi tentu saja Sehun berharap hubungannya dengan Luhan lebih dari sekedar teman…

"Kenapa dengan temanmu ini?"

"Erm… dia mempunyai suatu penyakit yang tak kunjung sembuh. Penyakit ini seperti kutukan! Dan aku berpikir bisakah ibu menyembuhkannya…?"

"Kutukan? Kenapa tidak? Coba bawa temanmu kemari! Ibu akan berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkannya"

Wajah Sehun langsung berubah cerah. Ia memeluk ibunya erat-erat.

"Terima kasih, Ibu! Aku akan segera membawanya kemari! Aku mencintai Ibu!"

Denga itu, ia meninggalkan kamar dan meluncur ke kandang kuda tempat kudanya bermalas-malasan selama seminggu ini. Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ayo, Windy! Antar aku ke hutan utara. Luhan pasti senang mendengar ini!"

.

Luhan menangis. Hatinya sakit sekali. Kawanan burung menghinggapi tanduk rusanya. Min si kelinci menatapnya dengan sedih. Hewan itu mencicit seolah bicara dengan Luhan. Mencoba menenangkannya. Tapi Luhan terus menangis dan menangis sampai matanya bengkak.

"Min… apa yang harus aku lakukan…?"

Min yang ditanya hanya mencicit.

"Aku benci Sehun. Aku tidak menyangka dia sejahat ini! dia hanya- hanya memanfaatkanku. Dia menjebakku! Aku hanyalah hewan buruannya…"

Luhan menangis putus asa. Ia menghapus air matanya dan meraih rangkaian bunga yang ada di tanduknya. Ia melemparkan bunga itu satu persatu dengan kasar ke dalam sungai.

"Aku pikir aku berhasil memiliki seorang teman, tapi ternyata aku salah! Sehun pembohong. Kata-katanya manis sekali. Dia sudah berhasil memanahku waktu itu, seharusnya aku tahu! Setelah itu dia pura-pura baik dengan merawatku, menyelamatkanku dari Troll, mengajari membaca dan menulis, juga membawakan makanan! Dia bahkan menciumku…"

Luhan membiarkan air matanya menetes tak terkendali.

"Ternyata semua itu hanya jebakan… Sehun penipu"

Luhan mendengar suara derap langkah kuda dan menghapus air matanya cepat-cepat. Ia berbalik dan mendapati Sehun tersenyum padanya. Pangeran itu turun dari kuda dan berlari padanya. Sehun mendekap Luhan erat-erat. Akhirnya ia bisa bertemu Luhan lagi.

Luhan melepaskan pelukan itu dengan paksa. Ia berbalik dan menjauhi pangeran itu. Sehun berkedip tidak paham.

Ada apa dengan Luhan?

"Maaf, Aku tidak membalas suratmu yang terakhir. Aku sudah sembuh total! Aku ingin memberimu kejutan dengan kedatanganku!"

Luhan tetap membisu. Sehun tersenyum maklum.

"Maafkan aku, Luhan. Ayolah. Oh ya. Coba tebak,aku akan mengajakmu kemana?"

Jantung Luhan mencelos. Ini dia… ini dia. Sehun akan mempersembahkannya pada ayahnya untuk jadi raja.

"Aku akan mengajakmu ke rumah! Ibuku adalah seorang tabib yang sangat hebat! Dia bisa menyembuhkan penyakitmu. Jadi kau tidak perlu punya tanduk dan telinga rusa itu! kau tidak perlu tinggal di hutan ini lagi!"

"Lebih baik aku disini selamanya" gumam Luhan.

"Eh? Apa?"

"Aku bilang, lebih baik aku disini selamanya!" Luhan berbalik dan berteriak. Dadanya naik turun. Wajahnya marah sekali. Air matanya mengalir lagi. Sehun sangat kaget melihat kondisi Luhan.

"Luhan…? Ada apa…?" tanya Sehun cemas.

"Aku lebih baik berada disini daripada harus jadi persembahan raja"

Jantung Sehun mencelos. Apa…?

"Luhan, kau ini bicara apa?"

" Aku tidak menyangka kau seburuk itu, Sehun" Luhan menggeleng tidak percaya.

"Luhan-"

"Kenapa kau membohongiku?!" raung Luhan.

"Kapan aku berbohong padamu?"

Luhan memutar bola matanya cepat.

"Kau adalah Pangeran Sehun dari kerajaan barat,bukan?! Kau diperintahkan untuk menangkapku agar kau bisa naik tahta,bukan?!"

Sehun terperanjat. Bagaimana Luhan bisa tahu?

"Apa aku salah, Tuan pemburu? Oh salah. Bukan. Apa aku salah,Pangeran?"

Sehun menggelengkan kepala cepat-cepat. Ini tidak seperti yang Luhan pikirkan! Luhan telah salah paham!

"Aku bisa jelaskan, Luhan-"

"DIAM!" Luhan menutupi kedua telinga rusanya rapat-rapat dengan tangannya.

"Pergilah, Sehun. Aku lelah dengan semua kebusukanmu. Aku memang bodoh dan kau sangat pintar. Aku mengakui itu. Dan kalau kau menyesal dengan semua ini, aku mohon dengan sangat, biarkan aku pergi. Kau juga. Aku tak mau melihat wajahmu lagi di hutan ini"

Dengan itu, Luhan pergi. Sehun menatap punggung Luhan yang mulai menjauh.

Sial! Kenapa semuanya jadi begini?!

"Luhan, dengarkan aku dulu…" ratap Sehun.

Luhan tahu kalau Sehun mengejarnya. Ia berhenti dan berbalik dengan cepat. Sehun menatapnya dengan putus asa. Ia melepas kalung yang ada di lehernya. Kalung berliontin kepala rusa itu adalah pemberian Sehun tempo hari. Ia melemparkan kalung itu ke sungai. Sehun menyaksikan kalung itu tenggelam ke dasar sungai. Ia menatap Luhan lagi dengan wajah memelas. Wajah Luhan kelihatan murka. Ia berbalik dan meninggalkan Sehun. Ia masuk ke dalam hutan dan tak pernah menoleh lagi.

.

Esoknya,Luhan memutuskan untuk pindah ke dalam hutan lebih jauh lagi. Ia tidak mau berada di tempat tinggalnya yang lama. Tidak. Tempat itu terlalu penuh dengan kenangan akan Sehun. Hatinya sangat sakit tiap ia mengingat nama itu.

Ia sedang berjalan tak tentu arah di tengah hutan. Mencoba mencari buah-buahan yang bisa dimakan ketika ia mendengar suara derap langkah kuda.

Jantung Luhan mencelos. Siapa itu?

Ia mengintip dari balik pohon dan melihat seorang pria berjubah indah seperti yang biasa Sehun kenakan. Tetapi ia bukan Sehun. Rambutnya berwarna cokelat gelap dan kudanya bukan berwarna putih seperti biasanya.

Pria itu turun dari kuda dan mengawasi keadaan sekitarnya. Mata Luhan melebar. Ia ingat siapa orang itu! ia adalah pria yang telah ia tolong tempo hari! Pria yang juga telah berbaik hati memberitahunya soal Sehun. Ia muncul dari balik pohon dan hendak menghampiri pria baik itu. Ia tidak memperhatikan bahwa ia menginjak sebuah tali yang tersembunyi oleh daun-daun yang berguguran. Ia berteriak ketika kakinya terjerat dan ia pun terangkat ke atas. Menggantung di pohon dengan kepala di bawah.

"Tolong….!" Luhan berteriak. Pria itu menoleh dan melihat Luhan tergantung di pohon. Matanya melebar penuh kaget.

"Tolong aku…! Turunkan aku!" Luhan memohon-mohon.

"Kau lagi?" ujar pria itu terkesima.

"Jongin! Tolong turunkan aku!"

Pria itu menggeleng perlahan.

"Aku tidak bisa"

"Kenapa?"

Pria itu menyeringai.

"Karena tidak mungkin bagiku melepas hewan buruan yang sudah susah-susah aku tangkap"

Mata Luhan membulat ketakutan.

"Kau…! Jongin! Kau yang memasang jebakan ini?!"

"Tepat sekali" jawabnya kalem

"Kenapa? Apa yang kau inginkan dariku?"

"Ah, aku belum bilang kemarin? Pangeran kerajaan Barat itu sebenarnya ada dua"

"Apa maksudmu….?!"

Kepala Luhan sudah pusing sekali digantung terbalik begini. Ia mengawasi Jongin menyeringai mengerikan.

"Aku bukanlah penggembala kuda seperti yang aku ceritakan. Perkenalkan, aku Jongin. Kakak kembar Sehun. Pangeran kerajaan Barat yang lain. Aku datang untuk menangkapmu, Luhan"

-to be continued-

Author lelet ini minta maaf karena sudah hampir satu bulan tidak update! Berhubung ada beberapa story lain yang harus update juga, tapi Author akan berusaha update rutin sebisa mungkin! terima kasih atas review readers! Author sangat senang membaca respon readers semua! *tebar confetti* see ya in the next chap! ^_^ I love you –HZTWYF-