Taiyou no Uta
.
(A Song to the Sun)
.
.
Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.
Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!
Music: Only Human by K
Ashita no Tameni by Sungmin SuJu
.
"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."
"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."
"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."
.
Adakalanya, seseorang merasa bahwa dialah orang yang paling menderita di dunia. Seolah Tuhan tak pernah mencurahkan sedikit nikmat dan kasih sayang padanya. Padahal, nikmat dan kasih itu tidak melulu tampak pada apa yang dia inginkan. Adakalanya juga, seseorang akan menghujat Tuhan saat tiba-tiba kesedihan dan kemalangan menimpanya. Menuduh, tanpa mau melihat kebelakang dan mengingat kembali jajaran nikmatNya beberapa waktu lagu. Disisi lain, tidak sedikit pula orang yang pasrah dan tak lagi menggantungkan harapan pada sang Penguasa Semesta. Dia tak pernah menghujat, tapi juga tak mau berharap. Seolah takut jika harapan yang digantungnya hanya akan menjatuhkan ke jurang kesakitan yang lebih dalam.
Tapi benarkah yang seperti itu?
Naif-kah aku jika berkata adakalanya seseorang harus menyadari kodratnya sebagai manusia? Makhluk lemah yang tak bisa apapun jika tak memiliki harapan pada Tuhan. Katakanlah aku tak realistis. Tapi sadarilah, terkadang jika kita mau percaya akan selalu ada kebahagian yang menanti diujung kegelapan ini.
Karena itulah kehidupan. Itulah kasih sayang Tuhan, yang selalu adil tanpa perlu kau meragu olehNya.
.
.
"Domo arigato gozaimasu, sensei. Kondo oboete okimasu(Terimakasih banyak, dokter. Saya akan mengingatnya lain kali)."
"Doittashimashite. Odaiji ni, Lee-san(Sama-sama. Semoga lekas sembuh, tuan Lee)."
Sungmin tersenyum kecut mendengar ini. "Hai, arigato. Itte kimasu Yamada-sensei(Ya, terimakasih. Saya pergi dulu dokter Yamada)."
Setelah memberi satu bungkukan hormat pada dokter yang telah merawatnya lima tahun belakangan, namja manis itu berjalan ke arah dua namja yang telah berdiri menyambutnya. Sungmin tersenyum tulus. Benar-benar menghapus senyum kecutnya barusan.
"Kyuhyun-ah, Leeteuk-ssi, terimakasih sudah membantuku sampai sini." ujarnya sambil membungkuk hormat.
"Tidak perlu sesungkan itu Sungmin-ah. Panggil 'hyung' saja." balas Leeteuk ramah.
"Ne, ma'af telah merepotkanmu hyung."
"Dokter tadi bilang apa hyung?"
Sungmin menoleh kearah Kyuhyun yang masih menatap cemas ke arahnya. Dengan satu senyuman khas-nya namja manis itu menjawab "Gwaenchanha, tidak ada yang perlu―"
"Tapi kenapa raut wajahmu seperti itu?"
Senyum dari namja bermarga Lee itu sukses lenyap dari wajahnya. Membuat ketiganya dilingkupi oleh suasana canggung yang tak nyaman. Leeteuk menoleh ke arah Kyuhyun yang masih memfokuskan pandangan penuh selidiknya pada Sungmin. Sembari memutuskan kalau belum saatnya dia perlu ikut campur di pembicaraan keduanya.
"Saat ditanam bermain tadi... Kau menyuruhku percaya padamu kan? Sekarang... Maukah kau juga percaya saja pada ucapanku tadi, Kyuhyun-ah?" jawab Sungmin lamat-lamat.
"Tapi hyung―"
"Jebal, Kyu."
Telak. Kali ini Kyuhyun hanya mampu terdiam, mengusap wajahnya cepat dan akhirnya mengangguk. "Ne, hyung."
"Nah, sekarang sebaiknya kau pakai lagi mantelmu Sungmin-ah. Mumpung ini masih pagi, kami bisa mengantarmu pulang." Leeteuk yang asalnya diam mulai mengangkat suaranya. Mengerling kearah Sungmin yang mengangguk patuh.
"Ani. Lebih baik Sungmin hyung ke apartemenku saja, nanti malam baru ku antar pulang." Sanggah Kyuhyun cepat.
"Boleh juga. Mungkin lebih baik begitu, Sungmin-ah."
"Lho? Bukannya kau bilang nanti sore kalian harus pulang ke Korea, Kyu?"
Kyuhyun tersenyum evil, sembari melirik cepat ke arah Leeteuk yang menatapnya jengah. "Itu urusan mudah. Benarkan Leeteuk hyung?"
Sungmin ikut menoleh ke arah sang manager, seolah tak percaya pada ucapan santai artis muda itu. "Arrasseo, tidak masalah karena jadwal Kyuhyun memang berakhir kemarin malam."
"Tapi tidak bisa begitu. Aku tidak mau merepotkan kalian lagi. Dan juga Umma―"
"Aissh... Di apartemenku masih ada jaringan telfon. Kau tidak perlu sepanik itu. Lagi pula, hadiah yang janjikan tadi ada disana, kau tidak mau mengambilnya dulu hyung?" pancing Kyuhyun.
Yah... Sepertinya kau berhasil Kyuhyun-ssi. Lihat saja mata foxy sewarna karamel Sungmin sekarang mulai berbinar tertarik.
"Jinjayo? Aku mau! Ayo kesana sekarang, Kyu!"
oOo
Matahari di luar sana sudah tinggi. Tetap berpendar angkuh di atas langit biru tanpa tedeng awan yang menghalangi. Musim panas memang sudah sampai pertengahan umurnya. Wajar jika 'bintang besar' itu masih kekeuh mempertahankan eksistensinya di langit. Untung saja, kaca film Audi hitam ini cukup tebal untuk menghalau sinar keemasan itu menerobos ke dalamnya.
Kyuhyun telah menatap lama ke arah matahari pagi ini. Sebelum menghela nafas, dan mengalihkan pandang ke arah Sungmin yang sibuk bertelfon ria di sebelahnya.
"... Hai, daijobou. Watashi wa genki desu, umma(... Ya, tidak ada masalah. Aku baik-baik saja umma)."
"..."
"Chijin no ie desu. Ochitsuite kudasai(Dirumah kenalan. Tenang saja)."
"..."
"Wakarimashita, umma. Ohayou mo(Aku mengerti, umma. Selamat pagi juga)."
KLIK!
Sungmin mendesah lelah sebelum menyerahkan kembali I-phone yang digunakannya pada sang pemilik. "Gomawo, Kyuhyun-ah."
Kyuhyun mengangguk cepat. "Cheonma, hyung. Memang... Umma-mu tadi bilang apa?"
"Tidak ada, hanya menyuruhku pulang setelah malam saja. Apa... boleh?"
"Tentu saja hyung." jawab Kyuhyun dengan tawanya. "Biar nanti malam kuantar pulang."
Namja manis itu kembali merespon Kyuhyun dengan gumam terimakasihnya. Sebelum mengalihkan pandangan ke arah rumah mewah beraksen Jepang di depan sana. Sungmin baru sadar kalau mereka bertiga tadi tidak menuju salah satu gedung apartemen, malah melajukan mobil menuju daerah perumahan mewah di distrik Bunkyo yang ramai.
Setelah Leeteuk keluar lebih dulu dari Audi hitam ini―mau mengambil payung untuk Sungmin― namja berambut pirang itu langsung meminjam ponsel dongsaengnya. Berniat mengabari sang umma yang pasti sangat khawatir (ini sudah memasuki pukul 6 lebih kalau kau tanya. Terlambat dua jam dari waktu 'normal' namja aegyo itu untuk pulang dari 'penjelajahannya'). Membuatnya tak sadar jika 'apartemen' yang dimaksud Kyuhyun adalah rumah mewah dengan halaman luas yang tertata apik itu.
"... Err Kyu, ini yang kau maksud 'apartemen'?" heran Sungmin.
Yang ditanya terkekeh pelan. "Tokyo adalah tempat liburan favorit umma, karena itu beliau memilih membeli sebuah rumah disini." jelas Kyuhyun. Namja itu mencondongkan badannya ke arah jendela, ikut mengamati kediamannya yang lain. "Lagi pula, fungsinya juga hampir sama dengan apartemen kan hyung?"
Sungmin mengangguk mengerti. "Jika kau memang sudah punya rumah disini, kenapa mesti menginap di hotel?"
Oh... Pertanyaan yang terakhir itu sepertinya akan lama direspon Kyuhyun. Bertanya kenapa?
Lihat saja, Sungmin yang tiba-tiba menoleh mampu membuat mata obsidian Kyuhyun menangkap potret manis si aegyo dalam jarak dekat―ingat Kyuhyun yang tadi mencondongkan tubuhnya kan?― membuatnya bisa menatap lebih jelas bagaimana rambut pirang halus itu terjatuh pasrah di sepasang pipi putih chubby-nya (walau masih tercemar semburat kemerahan samar) atau mengagumi bagaimana sepasang foxy eyes yang penuh daya magis itu mengerjap lembut karena terkejut dengan posisi wajah mereka yang 'lumayan' dekat.
Tidak salah kan jika Kyuhyun sekarang hanya mampu terdiam takjub?
Wew~ jika melihat yang seperti ini Kyuhyun bahkan yakin jika tunangan(mantan)nya di Korea sana kalah indah dengan sosok namja di depannya.
TOK TOK TOK
"Sungmin-ah, kau bisa keluar sekarang."
Mendengar suara tenor Leeteuk dan ketukan kaca mobil disebelah mereka refleks membuat keduanya menjauhkan wajah. Hah~ untung saja kaca film mobil ini mampu menutup akses pandangan orang di luar sana. Kalau tidak, kira-kira apa ya yang akan dipikirkan sang manager saat melihat artis asuhannya tengah berada di posisi yang cukup 'mengundang gosip' seperti itu?
"E-eh, aku keluar dulu." ujar Sungmin canggung.
"Tunggu hyung." Kyuhyun menyambar lengan Sungmin yang berniat membuka pintu mobil. Tangannya menyambar topi dan mantel hitam yang tadi sempat dilepas hyungnya. "Pakai ini dulu."
Darah Kyuhyun berdesir cepat saat tangan pucatnya menyibak poni pirang hyungnya guna memakaikan topi hitam itu ditempatnya. Tidak berbeda saat dia sedang meng-kerudungkan mantelnya menyelimuti tubuh mungil si aegyo. Penyanyi muda itu beruntung karena suaranya saat berkata tidak terdengar gugup. "Hati-hati. Jangan sampai tersandung seperti tadi."
"N-ne."
BRAK
Pintu mobil telah ditutup, tapi Kyuhyun masih statis ditempatnya. Tetap menatap Sungmin yang tengah dituntun Leeteuk memasuki rumah dibawah naungan payungnya, hingga akhirnya hyung dan managernya itu sukses menapakkan kaki di teras kayu berwarna cokelat tua itu dengan 'selamat'. Desah nafas lega seketika terdengar dari mulut Kyuhyun. Tanpa sadar, tangan pucatnya perlahan terangkat menyentuh dada.
"Lee Sungmin..."
Kyuhyun berjengit saat tangannya merasakan pergerakan tidak normal dari jantungnya begitu nama namja itu terucap.
Ini aneh.
Dasarnya, Kyuhyun bukan tipe orang yang suka 'merepotkan diri' dengan membantu orang lain. Careless dan sedikit introvert. Sekalipun dia seorang public figure, bukan berarti kebiasaan jeleknya itu bisa menghilang―walau mungkin telah sedikit berkurang belakangan ini. Terbukti dengan Kyuhyun yang lebih memilih menyewa hotel ketimbang 'memberi tahu' fansnya kalau rumah besar ini merupakan kediaman yang lain dari sang bintang. Nah, menilik sifatnya yang seperti itu, kau mengerti kan kenapa aku tadi bilang 'aneh'?
Jika diingat-ingat, Kyuhyun itu baru mengenal Sungmin dua hari lalu. Namja tampan itu bahkan tidak tahu info diri namja itu selain nama lengkap dan bakat bermusik yang dimilikinya. Lalu bagaimana bisa seorang Cho Kyuhyun mengajak pergi namja yang baru di kenalnya ke Tokyo Dome City kemarin malam? Mengetahui fakta mengejutkan di diri Sungmin, memeluknya di biang lala, hingga membawa namja manis itu ke rumah sakit dan berakhir di kediamannya yang 'privat' ini―hell! Bahkan tunangannya (aku harus terbiasa menyebutnya 'mantan' sekarang) saja tidak pernah menginjakkan kali di tempat ini. Terlihat kan bagaimana spesialnya sikap Kyuhyun pada namja bermarga Lee itu?
Ng... 'Love at the first sight' kah?
.
―oh, konyol sekali.
Penyanyi muda itu mengacak rambutnya frustasi saat kemungkinan terakhir―yang dianggapnya konyol― itu sampai di otak. Jangan lupakan juga detak jantung dan desiran aneh ditubuhnya yang semakin menggila. Membuat Kyuhyun lebih memilih segera berpindah ke belakang kemudi dan bersiap memarkirkan mobilnya di garasi yang sengaja di pisahkan dari rumah.
Begitu mobil kesayangannya sudah mendapat 'tempat istirahat' yang layak, namja itu bergegas memasuki rumah. Yang langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya yang memang ditugaskan untuk mengurus dan membersihkan tempat ini.
"Irasshaimase, Cho-sama(Selamat datang, tuan Cho). Kenapa tidak mengabari dulu sebelum berkunjung? Ma'afkan saya karena belum sempat menyiapkan sesuatu untuk anda."
"Ne, tidak apa-apa Haru ahjumma." Kyuhyun tersenyum sopan. Sembari melanjutkan langkah untuk memasuki rumah besar itu lebih dalam. "Dimana Eeteuk hyung dan Sungmin hyung?"
"Leeteuk-ssi dan temannya sudah ke dalam. Saya disuruh untuk menyambut anda disini. Apakah anda perlu disiapkan sesuatu?"
"Ne, hanya siapkan saja sarapan untuk tiga orang. Dan... Siapkan juga onigiri."
"Arrasseo, tuan muda. Saya permisi."
Setelah wanita itu meninggalkannya dengan memberi satu bungkukan hormat, Kyuhyun segera melanjutkan langkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Jangan salah, meskipun tampak luar rumah ini terlihat seperti rumah tradisional, tetapi bagian dalamnya kental akan kesan minimalis yang elegan. Jadi jangan harap menemukan pintu geser khas Jepang atau lantai kayu berlapis tatami di dalam rumah ini.
"Dimana Sungmin hyung?" tanya Kyuhyun begitu dia menemukan managernya tengah duduk sendiri di ruang TV di depan kamarnya.
"Di dalam kamarmu, sedang mandi. Ma'afkan aku Kyuhyun-ah, aku terpaksa membawa Sungmin-ah ke kamarmu. Karena hanya kamarmu yang menghadap ke barat." jawab Leeteuk dengan raut bersalah.
Kyuhyun mendudukan diri di depan Leeteuk sebelum menjawab abai, "Tidak apa-apa hyung. Tidak kau suruh pun aku akan menyuruh Sungmin hyung istirahat di kamarku kok."
Pernyataan itu sukses membuat sang manager terkejut. "Eh? Yakin tidak apa-apa?"
Whoa... Padahal Leeteuk sudah mengantisipasi kalau-kalau dongsaengnya ini protes atau pun marah karena ada yang memasuki 'personal zone'nya. Namja itu lebih dari tahu sifat possessive macam apa yang melekat pada diri artisnya ini.
Kyuhyun bukan tipe orang yang bersedia berbagi, terkecuali dengan orang-orang tertentu yang mempunyai kedudukan khusus di hidupnya. Peraturan tak tertulis itu yang sudah dihafal sang manager di luar kepala.
"Kau... Apa ada sesuatu antara kau dan Sungmin, Kyu?" tebak Leeteuk langsung. Matanya memicing penuh curiga pada Kyuhyun yang langsung menegakkan tubuhnya begitu kalimat tanya itu terlontar.
"Mwo? Apa maksud hyung?"
"Entah. Yang aku lihat, kau sangat perhatian pada Sungmin-ini tidak buruk sih, hanya saja mengingat sifatmu yang biasanya, mau tak mau aku merasa aneh." jawab Leeteuk sambil lalu. "Aku cukup terkejut saat kau membawanya kesini. Lebih terkejut saat kau mengijinkan 'personal zone'mu itu dimasuki olehnya."
Kyuhyun mengernyit. Tampak sedikit bingung dengan penuturan hyungnya barusan. "Apa aku terlihat seperti itu?"
"Sangat. Aku hyungmu sejak kecil dongsaeng-ah. Bukan hal sulit untuk menyadari perubahan sikapmu itu." tegas sang kakak. Dapat dilihatnya dongsaengnya itu mulai tampak gelisah dalam duduknya. "Apa kau tertarik padanya?"
Kembali, pertanyaan yang membuatnya frustasi oleh rasa bingung itu kembali terlontar. Kali ini langsung oleh seseorang yang sudah mengetahui bagaimana dirinya yang sebenarnya. Kyuhyun bukan tengah berusaha untuk menghindar, tapi dia sendiri juga bingung. Rasanya tidak mungkin dia bisa menyukai seseorang yang baru dikenalnya. Terlebih seseorang itu namja. NAMJA, manusia yang bergender sama dengannya.
"Itu konyol, hyung. Meski Sungmin hyung itu sangat manis, tapi dia tetap namja. Dan kau tahu aku normal, aku belum cukup gila untuk tertarik pada seorang namja."
Leeteuk terkekeh pelan. "Oh... Jadi menurutmu Sungmin-ah itu sangat manis? Yah, kau tidak salah sih. Dia memang sangaa~t aegyo―"
"Ya! Ya! Bukan begitu, hyung. Maksudku-maksudku dia itu... Aissh, pokoknya kau tahu sendirilah."
"Kyuhyun-ah, tidak ada yang konyol saat kau merasa tertarik pada seseorang. Sekalipun dia bergender sama denganmu." Leeteuk berujar menenangkan. Ditatapnya lembut sosok yang tengah menunduk dalam itu. Menyembunyikan sorot matanya yang mudah sekali terbaca oleh sang kakak.
"Saat kau menyukai seseorang, rasa itu datang dari hatimu tanpa kau perintah. Tidak ada yang salah dengan semua itu, karena seseorang tidak bisa memilih pada siapa dia akan jatuh. Konyol atau tidaknya hanya tergantung pada kau mau mengakui dan memperjuangkannya atau memilih mengabaikan dan pasrah pada nasib.
Dari sikapmu, aku merasa kau telah menempatkan Sungmin sebagai seseorang yang spesial. Sorot matamu juga terlihat seperti itu. Aku tidak akan memaksamu untuk mengakui apapun, Kyu. Aku hanya mengatakan apa yang kulihat dua hari ini padamu."
Namja tampan berambut cokelat ikal itu terdiam, sedikit demi sedikit mulai mencerna rentetan panjang perkataan hyungnya. Mulutnya kelu saat otaknya masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan sederhana itu ―oh, belum menemukan keberanian untuk mengakui, mungkin?
"Bukan maksudku untuk membuatmu bingung atau melupakan statusmu yang sudah bertunangan―"
"Ishh! Dia sudah bukan tunanganku hyung." balas Kyuhyun sengit. Moodnya kembali down saat mendengar ini. Jangan salah, Kyuhyun bukannya benci berpisah dari yeoja itu. Dia kesal lebih karena 'kekurang ajaran'nya yang mencampakan sang bintang. Heh, baru kali ini seorang Cho Kyuhyun dicampakan oleh yeoja. "Yeoja sialan itu mencampakanku dua hari lalu. Jangan tanya kenapa. Yang penting sekarang aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun. Hyung jangan coba-coba membahas dia lagi."
Leeteuk tampak tidak terkejut mendengar ini. "Jadi karena itu kau uring-uringan belakangan ini? Yah, aku tidak akan terkejut jika hubungan kalian tidak bertahan lama. Sepertinya Cho ahjusshi harus mendengarkan kata-kataku kali ini."
"Maksud hyung?" Kyuhyun hanya menautkan alis bingung saat melihat managernya tengah mengulum senyum penuh arti sekarang.
"Management memberimu waktu istirahat dua bulan kedepan sebelum persiapan comeback pertengahan musim dingin nanti. Kau bisa mengurus pendaftaranmu di Tokyo University. Selain itu, pastikan juga bagaimana perasaanmu saat ini. Jangan sampai menyesal Kyuhyun-ah. Kau tahu sendiri kali ini kesempatan kedua tidak pernah ada."
Jarum jam di dinding telah menunjuk angka 3.45 sore saat Kyuhyun mulai membuka pintu kamarnya perlahan. Namja itu melangkah pelan ke arah sosok lain yang―dikiranya masih tertidur dibawah selimut biru donker miliknya.
Pagi tadi, Sungmin memang mengatakan kalau dia terbiasa tidur dari pukul 9 pagi sampai sore menjelang. Karena itu, keduanya―Kyuhyun dan Leeteuk segera memaksa si namja aegyo tersebut langsung beristirahat setelah sarapan mereka. Agak aneh bagi Kyuhyun saat dia memulai tidurnya tadi pagi. Bukan apa-apa, tapi walau dia semalaman telah menghabiskan waktu dengan hyungnya, tidur dengan waktu-waktu yang 'terbalik' dari kodrat seperti ini juga bukan hal mudah. Seingat Kyuhyun, dia butuh setengah jam lebih sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan dibawah selimut putih yang menutupi tempat tidur di guest room.
Itu pun berakhir tak lama. Tak nyenyak hingga akhirnya namja tampan itu memutuskan untuk mandi dan menemui hyungnya yang berada di kamarnya.
"Sungmin hyung?"
Kyuhyun tak sempat menyembunyikan raut terkejutnya saat matanya mendapati Sungmin yang tengah bergerak gelisah dibawah selimut. Mata foxy-nya masih terpejam, namun tidak menghalangi rembesan kristal bening yang terus meluncur sepanjang pipi putihnya.
Segera, Kyuhyun mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur. Dua tangannya terulur. Satu menggenggam erat tangan Sungmin yang tengah menggapai udara kosong ―seolah mencari pegangan, satu mengusap lelehan air mata di kedua pipi namja aegyo itu. Sembari mencoba mengeluarkan sang pemilik dari alam bawah sadarnya.
"Hyung... Sungmin hyung, ireona. Ppali ireona."
Suaranya turut bergetar. Sama sekali tak tega melihat wajah Sungmin yang menyiratkan betapa tersiksanya dia saat ini. Bibirnya yang sewarna Sakura memang tidak meloloskan rintihan apapun, tapi bulir air mata itu sudah lebih dari cukup untuk bercerita. Entah apa yang sudah terjadi di alam bawah sadarnya. Padahal namja manis ini sudah cukup tersiksa dengan alam sadarnya, kenapa seolah dalam mimpi pun sosok rapuh itu masih juga diteror gelap?
"Uljima hyung. Semua baik-baik saja, kau tidak sendirian disini. Bangunlah sekarang."
Kyuhyun sekarang membisikkan sugestinya ke telinga Sungmin. Suaranya yang lembut terus bergumam lirih, mendengungkan kata-kata manis dengan harapan agar namja yang tengah ketakutan itu segera membuka mata. Perlahan, Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya. Tanpa berpikir panjang segera mengecup lembut kening dan pipi Sungmin. Dia tak berfikir apapun, di otaknya sekarang hanya ada dorongan untuk menghapus wajah tersiksa itu. Tanpa sadar, hanya mengikuti perasaannya.
Setelah beberapa kecupan di kening, perlahan dua kelopak mata putih itu bergerak. Sebelum akhirnya terbuka lebar dengan desah nafas memburu dari pemiliknya. Terlihat seperti seseorang yang kembali menemukan udara setelah tenggelam lama di air.
Yang lebih muda segera mengangkat wajahnya sambil tetap menatap hyungnya khawatir. Satu tangannya akhirnya mulai turun untuk mengusap kepala berambut pirang Sungmin. Tak ayal menyadarkan sang pemilik jika ada orang lain di kamar tidurnya sekarang.
"Kyu-kyuhyun-ah..." panggil Sungmin parau. Suaranya benar-benar serak, terlihat betapa seriusnya dia saat menangis tadi. "Sejak kapan kau disini?" lanjut Sungmin sembari mendudukkan diri. Dua tangannya terangkat dan mulai menghapus cepat lelehan air yang membuat pipinya basah. Bermaksud menyembunyikan apapun yang seharusnya tidak dilihat Kyuhyun dengan seraut wajah 'baik-baik saja'.
Sayangnya Kyuhyun sudah melihat semuanya kali ini.
"Kenapa dihapus hyung?"
"Apa maksudmu?"
Penyanyi muda itu menghela nafas sedih. Ditatapnya intens sepasang mata hazel yang lebih jujur dari pada pemiliknya itu. "Menangislah jika kau memang ingin menangis, hyung."
"Kenapa aku harus menangis? Tidak ada yang harus ku tangisi, Kyu." Jawab Sungmin. Suaranya mulai ringan. Kyuhyun merasa, setelah keras kepala sifat Sungmin yang lain adalah terbiasa memendam apa yang menjadi masalahnya seorang diri.
Dia namja yang sulit 'berbagi' ternyata.
"Lalu kenapa kau menangis tadi?"
"Kapan kau melihatku menangis?"
Retoris sekali. "Asal kau tahu hyung. Mataku masih normal untuk bisa melihatmu menangis saat tertidur tadi. Tampaknya matamu lebih jujur, Sungmin hyung." Sungmin memalingkan wajahnya saat mendengar fakta terlontar dari mulut Kyuhyun. Tak ayal meruntuhkan benteng kebohongan yang sejak tadi dibangunnya.
"Aku... Tidak menangis tadi." ujarnya keras kepala. "Hanya mimpi buruk."
"Mimpi buruk?"
"Ne."
"Bersedia bercerita, hyung?"
Penyanyi muda itu mendesah saat Sungmin melayangkan tatapan penuh curiga ke arahnya. "Eeteuk hyung sering berkata padaku. Masalah akan lebih ringan saat kau bersedia membaginya dengan orang lain. Setidaknya, berbagi bersama orang terdekat akan membuat kita lebih ringan, hyung."
"Orang terdekat?" Kyuhyun mengangguk. Kembali melanjutkan apa yang akan diucapkannya. "Ne. Orang terdekat, seseorang yang sanggup menjadi tempatmu bersandar saat kau lelah dan ingin beristirahat sejenak dari semua masalah. Yah... Seperti sahabat karib atau teman―"
"Aku tidak punya yang seperti itu." potong Sungmin cepat. Matanya mulai menatap kosong dinding berwarna putih di sampingnya.
"Eh? Maksud hyung?"
"Aku tidak mempunyai seseorang yang kau katakan tadi Kyuhyun-ah." ulang Sungmin. Suaranya sedikit bergetar meski pembawaannya masih tenang. "Tidak ada sekolah yang buka di malam hari. Di luar sana juga tidak ada orang yang kurang kerjaan membuang waktu istirahatnya saat malam tiba. Aku memang tidak terbiasa bercerita pada orang lain."
Hening menyela saat keduanya terdiam. Sungmin kembali larut dalam pikirannya sendiri saat ini. Begitu pun Kyuhyun.
Saat malam? Ahh... Penyakit sialan itu, eoh?
Ucapan Sungmin barusan membuatnya kembali melayang ke berbagai kejadian dua hari lalu. Membuat Kyuhyun kembali mengingat kalau Lee Sungmin yang di depannya ini tak lain adalah sosok namja yang terkurung dalam batasan malam. Si aegyo yang terlihat rapuh tetapi nyatanya sanggup menahan beban seberat itu di pundaknya yang mungil. Sendirian.
Kyuhyun bukan orang bodoh yang tidak tahu bagaimana menyesakkannya rasa kesepian itu. Sekalipun sejak kecil dia dibesarkan oleh keluarga yang lengkap dan mapan, tetapi sikapnya yang anti sosial itu membuatnya sulit beradaptasi. Hingga berakhir pada orang tuanya yang membawa sosok Park Jungsoo hadir ditengah-tengah keluarga mereka.
Leeteuk yang sejak belia sudah sendirian itu hadir sebagai malaikat penyelamat bagi Kyuhyun. Menemaninya, mengajarkan bagaimana asyiknya berteman, semuanya. Mereka dekat, hingga berakhir pada Kyuhyun yang sekarang menjadikan sosok lembut itu sebagai sandaran.
Lihat, bahkan kisah kesepiannya itu pun tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dialami Sungmin.
Kyuhyun tidak berani membayangkan jika dirinya harus menjadi Lee Sungmin yang membawa penyakit mengerikan itu dalam tubuhnya. Merasakan bagaimana menjadi orang yang harus terkurung dan menyembunyikan diri saat semua orang tengah menikmati belahan hangat sinar mentari di luar sana. Sedang disisi lain, saat dia akhirnya terbebas dan diperbolehkan melihat dunia hanya sepi dalam keremangan malam yang ditemui. Tanpa ada teman, karena setiap orang tentu lebih memilih bergelung dibawah selimut hangat ketimbang berkeliaran tak jelas saat matahari bersembunyi.
Kematian atau kesepian. Bukankah itu pilihan yang gila?
"... Kau masih memiliki ku, hyung." gumam Kyuhyun setelah terdiam lama. Namja bermarga Cho itu perlahan menautkan kedua tangan mereka. Menggenggam erat tangan yang lebih kecil dari miliknya itu. "Anggap saja aku ini orang yang bisa kau jadikan sandaran. Tempatmu bercerita. Mulai sekarang, jangan pernah berfikir kau sendirian lagi. Aku janji akan selalu menemanimu mulai saat ini."
Dapat dilihat Kyuhyun, hyungnya itu mengerjap tak percaya saat mendengar ucapannya barusan. Wajar, karena mereka memang baru bertemu kurang dari seminggu. Bisa saja ucapan penyanyi muda itu hanya simpati atau sarana untuk menghibur Sungmin sesaat.
"Jangan berjanji sesuatu yang tidak bisa kau penuhi." ujar Sungmin dingin.
Awalnya, Kyuhyun juga berfikir seperti itu. Tapi tidak, Kyuhyun sepenuhnya sadar ucapannya tadi tidak main-main. Janji itu murni berasal dari hatinya. Entah sejak kapan, yang pasti namja tampan itu sadar betul kalau tekad untuk melindungi Sungmin sudah menjadi janjinya pada dirinya sendiri sekarang.
"Tidak. Aku serius. Percayalah padaku Sungmin hyung."
.
"Cukup percaya saja padaku, Lee Sungmin."
.
"Sekarang, sudah bersedia membagi mimpi burukmu padaku?" namja aegyo itu perlahan menunduk. Tanganya yang digenggam Kyuhyun kembali bergetar hebat. Sementara Kyuhyun masih sabar menunggu tiap kalimat dari mulut Sungmin sambil tetap menautkan tangan mereka.
"Aku tadi bermimpi.. Ani. Aku kembali bermimpi tengah berada di tempat gelap. Sendirian..." ucapan lirih itu akhirnya lolos dari bibir pink cerah si aegyo. Memutuskan bercerita meski suaranya mulai tercekat saat mengingat kembali kejadian buruk di alam bawah sadarnya tadi. "Disana tidak ada apapun. Hanya malam... Gelap. Selalu seperti itu saat aku menutup mataku―"
Yang lebih muda hanya bisa menatap prihatin pada Sungmin yang mulai mengusap lelehan kristal bening di kedua pipinya. Kyuhyun benarkan? Malam, gelap, dan sendiri. Tidak hanya di alam sadarnya, dunia yang harusnya menjadi tempat terindah baginya pun turut tercemar tiga hal diatas.
"Sudah kubilang jangan dihapus hyung. Menangislah saat kau sudah tak sanggup."
Dengan lembut, Kyuhyun mulai menarik kedua bahu Sungmin. Perlahan membawa namja yang tengah menangis diam itu kedalam pelukannya. "Mianhae. Aku memang lemah... Aku memang namja yang hanya bisa menangis. Mian."
Tidak satu isakan pun lolos dari mulut hyungnya, meski Kyuhyun dapat merasakan dadanya mulai basah. Namja manis itu terlalu segan untuk menunjukkan kesedihannya; Terlalu keras pada dirinya, hingga untuk menunjukkan bahunya yang tengah bergetar itu pada orang lain pun dia terlalu segan. Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada namja yang tengah menyembunyikan tangisannya itu. Kepalanya turut mendongak, sebagai usaha agar matanya yang memburam itu tidak meluruhkan tetesan airnya.
"Tidak hyung, kau bukan namja yang lemah―"
Kejadian terakhir ini mampu membuatnya tersadar ternyata; dia tidak perlu dua bulan untuk menyimpulkan perasaannya. Saat ini pun Kyuhyun sudah yakin atas jawaban pertanyaan Leeteuk tadi.
"―Kau hanya sedang lelah; Dan setiap manusia wajar mengalaminya."
Kanashimi no mukou kishi ni
Hohoemi ga aru toiu yo
[I'ts said there is a smile
On the opposite side of sadness]
Leeteuk memfokuskan pandangannya pada namja yang tengah memetik gitar sambil bernyanyi merdu di hadapannya. Saat pandangannya bertemu dengan sosok artis asuhannya, hanya seulas seringai kemenangan yang didapatnya. Seolah Kyuhyun tengah berkata benarkan-apa-yang-kukatakan-tadi padanya.
"Tatoeba shiroi yuki no kakera ni nari
Toui sora kara anata o mimamorou
Keshite toketari shinai you ni
Ai no kazu dake furishiku kara kitto...
Kyuhyun tidak bercanda saat dia dan teman barunya itu tiba-tiba menemuinya―dengan mata yang sama-sama sembab― dan dengan semangat meminta pendapat Leeteuk tentang salah satu kontes pencarian bakat di Korea sana. Penyanyi muda itu berniat meyakinkan namja aegyo itu untuk mengikuti kontes tersebut rupanya.
Sayangnya Sungmin sedikit bermasalah dengan 'Kepercayaan diri' hingga mereka berakhir di ruang santai ini dengan Sungmin yang bernyanyi sambil beraccoustic dengan gitarnya. Karena Kyuhyun meyakinkan kalau Leeteuk merupakan orang yang bertangan dingin dalam dunia entertain. Hingga namja tampan itu berniat menggunakan 'dukungan' tambahan dari ahlinya itu setelah managernya itu mendengar Sungmin bermusik.
Hum... Leeteuk baru tahu kalau gitar yang dibawa Sungmin itu bukan sekedar untuk 'mainan'. Namja berambut pirang itu benar-benar menggunakan gitarnya dengan baik. Padahal awalnya, manager yang juga merangkap sebagai orang dalam dibalik perekrutan artis-artis besar SM Entertainment itu sedikit ragu dengan apa yang dibicarakan Kyuhyun sebagai 'bakat bermusik' dan 'suara indah' yang dimiliki namja aegyo itu. Hanya saja―
Tatoeba usu beni iro no hana ni nari
Awai kaori de anata o tsutsumou
Keshite karetari shinai you ni
Ai no hizashi de sake hokoru kara kitto~"
―Sepertinya Kyuhyun benar kali ini. Suara tenor itu benar-benar memukau meski ada beberapa fault di beberapa bagian. Meski begitu mata jeli manager muda itu masih mampu menangkap bakat macam apa yang masih terkubur ditubuhnya. Terlebih keahliannya dalam bermusik dan menciptakan lagu (Leeteuk sedikit tak percaya saat tadi dongsaengnya itu berkata bahwa Sungmin juga pintar menciptakan lagu sebelum melihatnya bernyanyi.) yang dimilikinya serta wajah yang setara―bahkan lebih menarik dengan beberapa artis besar Korea itu. Jika Kyuhyun hanya menyuruh Sungmin untuk mengikuti kontes seperti itu, Leeteuk yakin bukan hal sulit bagi namja itu untuk menyabet posisi pertama.
"Kau yakin tidak pernah mengikuti training musik apapun sebelum ini Sungmin-ah?"
Sungmin hanya menggeleng tak mengerti. Sementara Kyuhyun yang duduk disampingnya sudah mulai sadar kemana arah pembicaraan hyungnya itu.
"Well, aku cukup terkejut mendengarnya. Menurutku, jika sekedar kontes seperti itu kau pasti bisa dengan mudah memenangkannya Sungmin-ah."
Sungmin membelalakkan matanya lucu. "Mwo? Jangan bercanda hyungnim."
"Lihatkan hyung? Eeteuk hyung juga sependapat denganku." seringai Kyuhyun.
"Kalian berdua jangan mengada-ada! Tidak mungkin aku bisa-"
"Ck. Percaya diri sedikitlah hyung. Kau ingin menjadi penyanyi bukan? Dengarkan aku. Ini bisa menjadi batu loncatan bagimu―"
Tunggu-tunggu. 'ingin menjadi penyanyi' katanya?
Mendadak satu rencana briliant telah tersusun rapi di otak sang manager. Sungmin ingin menjadi penyanyi, eoh? Aissh... Kenapa mereka tidak berkata langsung dari tadi? Leeteuk hanya berfikir jika dua dongsaengnya itu berniat main-main dengan acara kontes tadi.
"Chakkhaman Sungmin-ah. Apa kau memang ingin menjadi penyanyi?"
Yang disebut namanya segera menghentikan debat ―konyol-nya dengan Kyuhyun begitu mendengar suara Leeteuk. Sungmin segera menunduk, menjawab lirih dengan rona pipi yang sedikit bersemu. "Ani. Itu hanya impian, hyungnim. Aku tahu kalau aku tidak mungkin―"
"Tidak mungkin?" potong Leeteuk tak sabar. Oh, sayang sekali Sungmin tak tahu kalau manager dongsaengnya ini sangat membenci orang yang rendah diri. Terlebih jika orang tadi dinilainya memiliki kemampuan yang lebih dari cukup.
"Ne. Aku masih tahu diri hyung. Aku hanya namja penyakit-an."
Sorot mata tegasnya melembut saat mendengar ini. Perlahan Leeteuk mulai bergerak mendekati Sungmin. Mengusir Kyuhyun yang disebelahnya ―yang dibalas dengan dengusan kesal dongsaengnya― dan merangkul lembut pundak namja aegyo itu.
"Itu bukan masalah, Sungmin-ah. Kau punya bakat dan kemampuan; Gunakan semua itu untuk menutupi apa yang kau anggap sebagai kekuranganmu." jeda sejenak diambilnya untuk membelai sayang rambut pirang Sungmin. "Aku tahu kau hanya takut saat ini. Lawan ketakutanmu itu kalau kau ingin move on. Ayolah, kau tidak ingin disebut namja lemah, kan? Kalau kau memang belum bisa percaya pada dirimu, percaya pada hyung saja, ne?"
Di samping Leeteuk Kyuhyun mulai mengulum senyumnya. Hyungnya itu memang hebat. Selain bertangan dingin dalam urusan pekerjaan, Leeteuk pun selalu mampu menjadi motivator terbaik bagi setiap orang. Lihat saja pada Sungmin yang akhirnya mengangguk patuh itu. Good job, hyungnim!
"Ar-arrasseo, hyung."
"Good boy. Tapi Sungmin-ah, sepertinya aku punya rencana yang lebih bagus untukmu." senyum seorang professional mulai terukir di wajah cantik namja berambut hazel itu. Tangannya dengan lembut menyibak poni pirang Sungmin seolah ingin melihat lebih jelas sosok indah di sampingnya.
Heh... Kenapa dia baru sadar jika Lee Sungmin yang sempat membuatnya menangis prihatin semalam itu mempunyai aura bintang seterang ini? Leeteuk merasa gagal sebagai seorang pencari bakat karena baru sadar hal ini.
"Kau ingin menjadi penyanyi, eoh? Dari pada kontes murahan itu, lebih baik kau ikut hyung saja. Sooman-ssi pasti akan senang sekali jika aku membawa 'black diamond' yang masih kasar ini padanya. Bukan begitu Kyuhyun-ah?"
Seringai lebar benar-benar terbit di wajah Kyuhyun tanpa bisa disembunyikan. Matanya berbinar cerah saat mengetahui maksud perkataan managernya itu. Sama sekali tidak mengacuhkan sosok mungil yang tengah menatapnya ―dan juga Leeteuk-bingung.
"Benar sekali hyung. Tampaknya aku akan segera mendapatkan rival setelah ini―
Kyuhyun ganti menatap hyungnya ―ahh... Mulai saat ini ku harap kalian terbiasa dengan kata 'sosok yang dicintai'nya-sekarang.
―rival yang benar-benar sepadan."
Amagumo ga kireta nara
Nureta michi kagayaku
[If a rain cloud bursts
Then the wet road will sparkle]
Yami dake ga oshiete kureru
Tsuyoi tsuyoi hikari
[That what the darkness tells me
The strong light]
.
Tsuyoku mae he susume
[I'll move forward and be strong]
Only Human by K [Kang Yoonsung]
TBC or END?
Special thanks:
Syubidubidu, Finda ELFsampemati, AIDASUNGJIN, Hyeri (nggak semuanya kok chingu ^^ ), fygaeming, Sarang KyuMin, WhiteViolin (anda jeli sekali T.T #salahemot soal ending kita liat nanti aja ya, kalau penasaran review terus, ne? XD), Chikyumin (ending ntar juga ketahuan kok, review terus ya), kyurin minnie (ming masih baik-baik aja, soal ending ntar juga terungkap kok, ^^ review?), Kyunnie'Minnie (pesanan dicatat #salah ikutin terus aja ya~), Desysaranghaesuju, Kim HyunMin (ch ini apa KyuMIN moments.x masih kurang? O.o), Saeko Hichoru (bagus deh kalau chingu suka, gomawo. Ahh... Saya masih abal2an masalah diksi. Review lagi ya?), Melly, eternal spring, Cho Miku (saya juga merinding pas buat chingu T.T *ngebayanginjadipenderita* review?), Cho Kyuri Mappanyukki (ming baik-baik aja kok chingu, author kan Sungmin biased #gananyawoy! Review?), JaeRinKyu (kapan-kapan deh dibikin Sungmin jadi vampir :D, ming nggak polos kok, cuma rada pemalu n suka memendam masalah, hampir mirip aslinya kan? Review ya~), KyuLoveMin (Nihon-go nya author masih acak-acakan chingu =w=, nunggu lanjutannya sambil review ch ini ya XD), (masih sehat sampai saat ini chingu, review?), Chyukmin (udah ada lanjutannya, kyu pengertian? Itu hanya cover, dalamnya kan dia evil #digantungkyu berniat review ch ini?), Kyumin JOYer, GieoMINNieKyu (gomawoyo chingu, ming emang misterius dari sonox. Udah pernah nonton? Itu emang film yang penuh perjuangan T.T, udah lanjut. Na-do saranghae(?) n review lagi ya?), Kim Sung Ra SparKYU
.
.
Nggak tahu kenapa saya ngerasa kalau ch ini bener-bener ancur T.T gimana pendapat readerdeul semua? Oh ya, saya nggak akan bosen buat nulis kalau saya terINSPIRASI dari film "Taiyou no Uta" ^^
okelah, saya tahu saya terlambat 1 minggu dari janji hiatus saya. Tapi mau bagaimana lagi, saya kan orang Indonesia *b/c jam karet* #bletak!
Mianhamnida~ T.T yang penting ch ini panjang kan?
Ng... Apa lagi ya?
Oh ya, ff 'every moment with you' saya udah kena razia nih #curcolnihceritanya? So, jika ff ini juga kehapus yang ingin baca lanjutannya silahkan temui saya di www -dot- laciel0101 -dot- wordpress -dot- com
Itu aja, makasih yang udah mau RnR di ch kemarin. Kritik, saran dan koreksi buat ch ini selalu saya tunggu, karena saya tahu tulisan ini masih jauh dari kata layak ^^
Thanks for reading and mind to read the next chapter?
V
V
V
