Title : A Prince Who Turns Into a Deer
Main Cast : Sehun, Luhan, Kai
Pair : HunHan, side!Kaisoo Taoris BaekYeol Sulay Chenmin
Genre : Fantasy Romance
Chapter V
A Prince Who Turns Into a Deer
Chapter 5
Langkah kaki Jongin semakin dekat. Luhan mengangkat tubuhnya keatas dan berusaha untuk memotong tali yang menjerat kakinya. Tetapi di luar dugaan semua itu sangat sulit dilakukan. Jongin menyeringai menyaksikan semua usaha Luhan yang sia sia. Ia mencabut pedang dari sarung yang terikat di pinggangnya. Mata Luhan melebar.
Apa- apa yang akan Jongin lakukan padanya?!
Kini, Jongin telah menyandang pedangnya. Pedang yang khusus diciptakan oleh Sang Raja untuknya. Beda dengan kembarannya, Jongin lebih tertarik pada pedang daripada bermain dengan busur dan panah, seperti Sehun. Ia berpikir bahwa pedang lebih menjanjikan dalam membunuh targetnya. Menurutnya, panah penuh keraguan dan lebih sering meleset. Ia berbeda dengan Sehun yang selalu banyak berpikir sebelum bertindak. Karena itulah, Jongin yakin ia akan menang. Ia akan menjadi raja.
"Salahmu sendiri, Sehun. Jangan salahkan aku kalau aku menangkap rusa ini duluan" bisiknya kejam.
Luhan masih berkutat dengan tali yang menjerat pergelangan kakinya sementara pangeran Jongin sudah siap mengayunkan pedangnya. Rusa malang itu berpikir cepat dan akhirnya ketika pedang Jongin yang tajam akan mengiris kulitnya, ia terjatuh ke tanah. Luhan segera bangkit dan berlari meninggalkan pangeran itu.
"TIDAK!" raung Jongin.
Jongin menyumpah dan menyaksikan Luhan yang sudah berubah wujud menjadi rusa berlari secepat kilat dan menghilang di antara pohon-pohon. Usaha Luhan untuk meloloskan diri berhasil. Ia merubah dirinya jadi rusa lagi agar pergelangan kakinya menjadi lebih kecil dan ia bisa lepas dari tali yang menggantungnya.
"Keluar! Kalian semua keluar!" teriak Jongin.
Kemudian, beberapa prajurit keluar dari persembunyian. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang. Semua memakai senjata lengkap.
"Berpencar! Cari Rusa itu! cepat!" perintah Jongin pada tentaranya.
Mereka semua mengangguk dan berhamburan ke segala arah mengejar target. Jongin menaiki kudanya dan menyarungkan pedangnya lagi. Wajahnya marah.
"Kau pikir kau bisa lari,eh? Kau belum kenal siapa Pangeran Jongin"
.
Jongin sudah menunggu berjam-jam. Ia mendatangi sarang Luhan yang lama dan mengobrak-abrik kediaman rusa itu. Beberapa hewan berlari ketakutan. Ia juga merusak bunga-bunga yang dirawat Luhan. Ia kesal dan prajuritnya belum melapor padanya sampai sekarang.
Jongin melihat seekor kelinci putih mengintip dari lubangnya. Ia mencabut pedangnya dan hendak menangkap hewan itu ketika suara derap langkah kuda mengejutkannya. Dua orang prajurit turun dari kudanya dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana? Kalian menemukan rusa itu?" tanya Jongin.
Kedua tentaranya mengangguk bersamaan.
"Kami akan membawa pangeran ke tempat itu sekarang"
Jongin mengangguk dan menaiki kudanya. Prajuritnya menuntun mereka ke tepi hutan yang tidak jauh dari sarang rusa itu. Ia melewati ladang bunga matahari yang sangat luas. Akhirnya, prajuritnya berhenti di tengah hutan yang daun-daun pepohonannya sudah rontok semua. Jongin melihat semua prajuritnya mengelilingi sebuah lubang, mereka menunduk melihat isi lubang itu.
"Silahkan, Pangeran"
Jongin berjalan kearah lubang itu dan seketika semua prajuritnya menyingkir. Jongin mengangkat alis, berpikir apa yang ingin ditunjukkan oleh tentaranya. Ia menunduk dan matanya melebar ketika menyaksikan seekor rusa berada di dalam lubang itu. Ia ingat Jongin telah menyuruh prajuritnya untuk menyiapkan beberapa lubang jebakan di sekitar hutan ini. Ia tidak menyangka lubang ini akan berguna.
Pangeran Jongin menyeringai. Rusa itu sudah pasti Luhan. Lubang itu lumayan dalam sehingga membuat Luhan tidak bisa meloncat untuk kabur. Rusa itu meringkuk di salah satu sudut dan tak sadarkan diri. Jongin memperhatikan bahwa salah satu kaki belakangnya mencuat aneh. Rusa itu merintih kesakitan tak berdaya. Jongin tersenyum puas.
"Keluarkan kandang. Aku akan mempersembahkannya pada Raja"
.
Sehun berdecak kesal. Ia telah berkali-kali meleset memanah targetnya. Sejak pagi, ia telah berusaha mengusir semua perasaan gelisah yang menghinggapi hatinya. Entah, ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Tetapi ia punya firasat buruk. Ia kembali menarik busurnya dan kali ini panahnya meleset lagi.
"Sial!" Pangeran Sehun membanting busur dan panahnya.
Ia terduduk di halaman kerajaan. Frustasi. Kesal. Marah. Sedih. Semua bercampur jadi satu. Otaknya tak berhenti memikirkan Luhan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar rusa itu mau mendengarkannya. Apa yang Luhan lakukan sekarang? Bagaimana kondisinya? Apa ia masih menangis? Apakah ia sehat-sehat saja?
Sehun ingin menangis tapi ia cepat-cepat menghapus air matanya. Ia tidak mau Jongin melihatnya menangis. Tetapi ia belum melihat saudaranya itu sejak tadi pagi. Kemana dia?
Sehun melihat ayahnya berjalan kearahnya dengan senyum tersungging di wajahnya yang tampan. Sehun bangkit dan membungkuk menghormati ayah sekaligus rajanya itu.
"Sedang berlatih?" tanya ayahnya.
Sehun mengangguk.
"Ayah pikir kau mencari rusa itu"
Sehun menatap ayahnya sedih dan menghela nafas. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan ini pada ayahnya. Ia tidak akan sanggup mengatakan kalau ia sudah tidak menaruh minat pada perebutan tahta kerajaan. Ia sendiri telah membuang kesempatannya menjadi raja ketika ia pertama bertemu Luhan, rusa itu. Ia tahu, seharusnya ia segera menangkap Luhan dan menunjukkannya pada sang raja. Tetapi semua ambisinya itu lenyap tiap kali ia menatap wajah Luhan. Bagaimana mungkin ia membunuh Luhan sementara ia menyimpan perasaan pada rusa hutan utara itu? ia…ia telah jatuh cinta dan kini semuanya hancur. Memang, ia tidak bisa menjadi raja tapi itu tak ada artinya ketika Luhan telah meninggalkannya. Kini ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan? Mengejar Luhan? Sehun tersenyum lemah. Rusa itu bahkan tidak mau melihat wajahnya lagi.
"Ada apa dengan putra ayah satu ini?" tanya ayahnya, ia mencubit pipi Sehun.
Sehun mengernyit. Ia cemberut dan menghela nafas panjang.
"Kau sedang ada masalah? Katakan pada ayah" bujuk sang raja.
"Kelihatan sekali,ya?" tanya Sehun aneh.
"Tentu saja. Kau terus saja menghela nafas dari tadi dan wajahmu murung. Ada apa? sedang patah hati,ya?" goda ayahnya.
Wajahnya memerah.
Sial, kenapa ayahnya bisa tahu? Sehun mengumpat dalam hati.
"Kau harus belajar banyak dari kakakmu" saran ayahnya sambil tertawa.
"Ke-kenapa harus Jongin?" tanya Sehun heran.
"Kakakmu itu jago sekali dalam urusan cinta. Lihat apa yang ia lakukan demi mendapatkan pangeran dari kerajaan timur itu. Ia bahkan menantangnya setelah ditolak berkali-kali"
Sehun mulai tertarik mendengar kisah cinta Jongin.
"Pangeran itu-kalau tidak salah namanya Pangeran Kyungsoo- kesal karena Jongin terus merayu dan mengganggunya. Ayah kasihan dan mengabulkan permintaan kakakmu untuk ikut mengundangnya dalam pesta ulang tahun kalian. Tentu ia tidak bisa menolak kalau itu undangan khusus dari sang raja. Tetapi sepertinya Jongin terlalu agresif dan membuat Pangeran Kyungsoo naik pitam. Ia membuat sebuah perjanjian dengan Jongin. Ia bilang ia mau menikah dengan Jongin kalau kakakmu itu berhasil jadi raja. Tapi kalau ia gagal dan malah adik kembarnya yang jadi raja –dan itu kau, Sehun- ia meminta Jongin bersumpah untuk tidak mendekatinya lagi"
Sehun mengangkat alis. Apa-apaan itu? ada-ada saja.
"Tapi sepertinya Jongin menanggapi semua itu serius dan mulai rajin berburu. Kau lihat,kan? Dia tidak kelihatan dari pagi"
"Yeah. Kemana dia?" tanya Sehun.
"Dia berangkat pagi-pagi sekali dengan membawa beberapa prajurit. Ia juga membawa kandang besar. Ia kelihatan semangat sekali" ayahnya mengangguk-angguk bijak.
Jantung Sehun mencelos. Ia langsung merasakan firasat buruk. Ia bangkit secara tiba-tiba, mengagetkan ayahnya.
"Ayah, kemana Jongin pergi?" tanyanya cemas.
"Oh? Dia bilang ke hutan utara"
Wajah Sehun berubah tegang. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, ia berlari meninggalkan ayahnya menuju kandang kuda.
"Sehun! mau kemana?!" seru ayahnya heran.
Sehun berlari dan menaiki Windy. Ia menendang kedua sisi perut kudanya. Windy mengikik dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Ia berlari membawa tuannya. Setelah melewati padang rumput yang luas, ia mengendalikan kudanya membelok kearah utara. Sehun hanya bisa berdoa semoga ia belum terlambat.
.
Sehun turun dari kudanya dengan langkah gontai. Tidak. Ia sudah terlambat. Ia baru saja sampai di sarang Luhan dan yang ia saksikan membuatnya ngeri. Sarang Luhan berantakan. Semua barang-barangnya hancur. Begitu pula taman bunga yang telah susah payah mereka rawat selama ini. Hancur. Kelopak bunganya berguguran dan hanyut di sungai. Sehun terperangah. Ia berlari kesana kemari mencoba menemukan jejak Luhan. Tapi nihil. Luhan tidak ada dimana-mana.
"Luhan! Luhan! Kau dimana?! Luhan!" Sehun berteriak putus asa.
Ia berteriak memanggil namanya sampai rasanya tenggorokannya serak. Ia kehausan dan memutuskan untuk minum dari sungai jernih itu. Sehun terduduk di tepi sungai. Kelelahan dan menangis. Ia sangat khawatir pada Luhan. Apa yang kira-kira Jongin rencanakan? Apa ia sudah berhasil menangkap Luhan? Bagaimana kalau saudaranya itu sampai melukai Luhan…?
Sehun terisak dan berteriak putus asa. Ia bangkit dan berteriak kepada langit yang cerah dan tak berdosa.
"Luhaaaaaan!"
"Kau dimana?! Jawab aku! Luhan!"
"Luhan…!" Sehun tersedak. Ia terduduk lemas. Tangannya menumpu tubuhnya yang bergoncang. Air matanya terus menetes. Ia tak memperdulikan terik matahari yang membakar tengkuknya.
"Kau dimana…? Kenapa kau tak mau mendengar penjelasanku? Aku mencintaimu…."
Sehun menangis seorang diri di tengah sarang Luhan yang berantakan. Beberapa binatang mulai bermunculan. Keheranan dengan suara tangis seorang anak manusia. Mereka mengintip dari atas pohon, lubang, dan dimanapun tempat mereka bersembunyi. Mereka mendekati manusia itu dan mengelilingi sosoknya yang menyedihkan. Sehun menoleh dan mendapati beberapa hewan yang pernah dikenalkan Luhan sebagai temannya. Ia melihat seekor kelinci putih yang ia kenal sebagai Min sedang menaiki pahanya. Ia mencicit tidak jelas, seolah ingin menyampaikan sesuatu pada Sehun.
Sehun terperangah. Ia hanya bisa mengernyitkan dahi. Ia memperhatikan Min terus mencicit. Teman-teman hewannya yang lain mulai gelisah. Mereka memekik dalam bahasa yang Sehun tidak pahami.
"Min, aku-"
Min turun dari paha Sehun dan berlari ke tengah hutan. Ia menoleh pada pangeran itu, seolah memintanya untuk mengikuti langkahnya. Sehun tidak mengerti tapi ia memutuskan untuk mengikuti Min. Kelinci itu membawa Sehun ke dalam hutan lagi. Setelah beberapa lama berlari, Min berhenti di sebuah lubang yang lumayan dalam dan besar. Jantung Sehun berdegup kencang. Apakah Luhan ada didalamnya …?
Dengan ragu-ragu, Sehun berjalan ke tepi lubang dan mengintipnya. Ia mengernyit ketika ia tidak menjumpai apapun. Ia memekik ketika Min menggigit kakinya, ia menunduk dan mendapati kelinci itu berputar-putar mengelilingi sesuatu. Sehun kebingungan dan berjongkok untuk memeriksa apa itu.
Darah.
Jantung Sehun mencelos lagi. Ia berbalik dan menemukan noda darah lagi. Tangannya menyentuh darah itu. Darahnya masih segar. Jejaknya memanjang dan berhenti di suatu jejak besar. Seperti sebuah persegi. Tangan Sehun meraba jejak itu, Mengira-ngira benda apakah yang telah menginjak daun-daun yang berguguran ini. Ketika tangannya mencoba membersihkan dedaunan itu, ia menemukan sesuatu. Sehun mengangkatnya dan mengernyit ketika ia merasa mengenali benda itu.
Itu adalah sobekan jubah. Ia bisa melihat bahwa terdapat sebuah lambang yang tercetak di potongan kain itu. Mata Sehun menyipit. Itu adalah lambang tetes air dan kepala unicorn. Lambang kerajaan barat. Kerajaannya. Matanya melebar ngeri.
"Luhan…" isaknya.
Sehun meremas sobekan itu dan membuangnya. Ia berlari ke sarang Luhan dan menaiki kudanya. Ekspresi wajahnya sulit dibaca. Min mencicit sedih melihat wajah sedih Sehun. Ia melihat lelehan air mata di wajah sang pangeran.
.
Sehun menaiki kudanya dengan lemas. Ia telah mencapai gerbang kerajaan dan ia tak lagi memaksa Windy berlari. Ia membiarkan kudanya itu berjalan santai melewati jalan kerajaan. Beberapa penduduk membungkuk hormat padanya. Beberapa gadis memekik girang melihat pangeran kerajaaan melewati mereka.
"Kau sudah dengar? Kabarnya Pangeran Jongin sudah berhasil menangkap rusa itu!"
"Benarkah?"
"Kau tidak melihatnya tadi?! Pangeran Jongin membawa sebuah kandang besar! beberapa prajurit yang ikut bersamanya bilang bahwa itu adalah rusa yang dimaksud sang raja!"
"Itu artinya, Pangeran Jongin yang akan menjadi raja!"
"Sesuai dugaanku! Pangeran Jongin hebat sekali!"
"Lalu bagaiman dengan Pangeran Sehun?"
Sehun mendengar beberapa gadis bicara di tepi jalan. Sehun melewati mereka dalam diam. Ia memacu kudanya mendekati istana. Sesampainya di gerbang istana. Pengawal membukakan pintu gerbang untuknya, dan ia melihat bahwa istana sudah ramai.
Sehun memandang hampa kerumunan itu. Ia menuruni Windy dan membiarkan pengawal membawa kudanya ke kandang. Sehun masuk ke halaman istana yang luas dan melihat kakaknya berbicara pada raja dan ratu. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Beberapa prajurit menyerukan namanya dengan bangga. Semuanya bertepuk tangan.
"Hidup, Pangeran Jongin! Calon raja kita yang baru!"
Jongin tersenyum bangga. Ia memeluk ibunya yang tersenyum hangat. Sehun menaiki tangga dan berjalan menuju sebuah kandang besar yang berdiri di tengah-tengah halaman. Beberapa prajurit terkejut dan memberikan jalan untuknya. Sehun berhenti tepat di depan kandang itu dan ia menahan air matanya agar tidak menetes.
Seekor rusa. Duduk meringkuk di dalam sangkar dengan wajah kuyu. Kaki belakangnya terluka dan berdarah.
Sehun menatap rusa itu dengan pandangan hampa. Si Rusa menyadari itu dan mengangkat kepalanya. Matanya yang bulat nan indah melebar melihat sosok pangeran itu. kemudian rusa itu cepat-cepat membuang muka. Wajah Sehun berubah kecewa.
"Luhan…" panggilnya lirih.
"Sehun! Kau sudah datang rupanya!" seru sang raja.
Sehun mendongak dan melihat ayahnya berlari kearahnya. Ia langsung memeluk putra bungsunya erat-erat. Ia membelai punggungnya dengan lembut.
"Maaf, Putraku. Sepertinya kau tidak bisa menjadi raja selanjutnya" ujar ayahnya sedih.
Sehun melepas pelukannya dan menatap wajah ayahnya. Ia mengangguk paham dan tersenyum lemah.
"Tidak apa-apa. Aku kalah. Aku sudah tahu peraturannya, ayah"
"Jangan pernah berpikir bahwa ayah tidak menyayangimu. Kau tetaplah putra Raja Joonmyeon dan Ratu Yixing. Kau adalah putra kami yang hebat"
Sehun mengangguk. Sang ratu memeluknya. Ia melihat Jongin mengangkat alis padanya. Sehun hanya terdiam. Ia berbalik dan menatap kandang itu lagi. Luhan tetap memalingkan muka. Kedua telinganya kuyu. Sehun tersenyum getir. Benar. Sepertinya, Luhan tidak sudi melihat wajahnya lagi.
.
Beberapa hari ini, Sehun mengurung diri di kamar. Istana sibuk menyiapkan upacara pelantikan raja yang baru. Tapi ia memilih untuk tetap di kamarnya saja. Bukannya ia iri atau apa tapi ia tidak bisa bahagia diatas penderitaan Luhan. Hatinya sakit tiap ia mengingat Luhan yang dikurung di kandang.
Sehun terbangun dari ranjangnya ketika ratu memasuki kamarnya. Sehun tersenyum pada ibunya. Ratu membelai-belai rambut putranya dengan sayang.
"Keluarlah. Temui kakakmu. Ia akan berpikir bahwa adiknya membencinya"
Sehun menggeleng. Ia merebahkan diri lagi ke kasur.
"Aku tidak membencinya, Ibu"
"Lalu? Kau harus ikut bahagia kakakmu akan menjadi raja"
"Aku ikut senang. Aku sudah mengucapkan selamat padanya"
Sang Ratu merapatkan bibirnya dengan gemas. Sehun tidur membelakangi ibunya.
"Baiklah. Tapi sekarang kau harus mau ibu ajak untuk mengukur baju untuk pesta nanti"
"Pesta?" Sehun berbalik.
"Ya. kau sudah tahu,kan? Besok adalah upacara pelantikan raja sekaligus pengumuman pernikahan kakakmu"
"Pernikahan?" Sehun mengangkat alis. Ah iya. Akhirnya dengan menjadi raja, Jongin bisa mendapatkan pujaan hatinya.
"Besok, istana akan sangat ramai!" sang ratu bertepuk tangan. "Para undangan dari kerajaan Timur akan datang. Raja dan ratunya juga. Kemarin ayah dan ibu mengantar kakakmu ke kerajaan timur untuk melamar pangeran Kyungsoo! Waah ternyata Jongin memang tidak salah memilih calon istri!"
Sang ratu memekik kegirangan. Kelihatannya ibunya sangat bahagia dengan pernikahan ini. Sehun bangkit dan tersenyum.
"Kau mau kemana?" tanya ibunya heran.
Sehun mengangkat alis. "Ibu bilang akan membuatkan baju untukku"
Wajah ibunya semakin cerah. Ia senang putranya sudah tidak sedih lagi. Ia menggandeng putranya menuju kamarnya.
"Ayo! Aku tidak mau putra ibu kelihatan jelek di pesta nanti!"
.
"Ibu, mau kemana?" tanya Sehun. Ia melihat ibunya membawa beberapa botol ramuan menuju kandang istana.
"Oh, ibu akan memberikan ini pada pengawal yang merawat rusa itu. Belakangan ini rusa itu kelihatan lemas. Ibu tidak mau rusa itu jatuh sakit nanti"
Sehun buru-buru mengejar ibunya.
"Biar aku saja, Ibu!" seru Sehun.
"Eh?"
"Aku hanya perlu memberikan ini pada penjaga kandang,kan?"
"Oh, baiklah kalau kau bersikeras. Ibu juga ada urusan lain. Jangan lupa untuk mencampur ramuan ini ke makanannya!"
Ibunya memberikannya botol ramuan itu dan berlalu. Sehun menghela nafas dan menuju kandang istana yang terletak di belakang. Rusa itu tidak dicampur bersama binatang lain. Hewan itu dibuatkan kandang di bawah tanah agar tidak kabur. Jongin yang memberi ide ini.
Sehun menemui penjaga kandang dan meminta agar dirinya saja yang memberikan makan. Ia pun memberikan kunci kandang dan pergi meninggalkan sang pangeran.
Sehun membuka kandang itu. Sebenarnya ia tak perlu membuka kandangnya hanya untuk memberi makan si rusa. Tapi ia ingin bicara dengan Luhan.
Ia melihat Luhan tertidur di sudut kandang yang gelap. Sehun berjalan kearahnya dan membelai kepalanya. Luhan terbangun dan mengangkat kepalanya. Rusa itu memekik dan berdiri. Ia menjauhi Sehun.
"Luhan, tenanglah. Aku hanya membawakan makanan untukmu" ujar Sehun.
Luhan menunduk dan duduk lagi. Ia membelakangi Sehun. Pangeran menghela nafas. Ia menyingkirkan mangkuk makanan sisa kemarin yang masih utuh dan mengeluarkan makanan yang ia taruh di luar. Ia menata beberapa makanan baru yang biasa ia makan. Ia tidak mau Luhan hanya makan makanan hewan. Terang saja Luhan lemas. Ia tidak akan mau makan.
Sehun membawa beberapa potong daging ayam yang masih hangat. Juga semangkuk penuh nasi dan beberapa ekor ikan goreng. Ia menyodorkan makanan itu pada Luhan. Ia memperhatikan telinga rusa yang kuyu itu mulai bangkit. Hidungnya bergerak-gerak. Rusa itu menoleh dan menangkap pemandangan yang menggiurkan itu. Ia sudah sangat lapar dan orang-orang itu hanya memberinya rumput dan air.
"Makanlah" ujar Sehun. Ia tersenyum.
Sehun bangkit dan meninggalkan kandang itu. Ketika langkah kakinya sudah tidak terdengar, Luhan langsung menghampiri makanan itu. Luhan langsung mengubah wujudnya menjadi sesosok manusia dan langsung menyantapnya. Luhan tersenyum lucu ketika ia berhasil menghabiskan dua potong ayam goreng. Ia meminum segelas besar jus jeruk dan bersendawa. Keras sekali. Luhan sampai malu sendiri. Ia mendengar suara tawa dan menoleh.
"Kau suka?" tanya Sehun yang sudah berdiri di luar kandangnya.
Luhan tersedak. Wajahnya merah padam. Sehun buru-buru memberikannya segelas jus tadi. Luhan meminumnya dan memukul-mukul dadanya. Sehun tersenyum geli. Rasanya sangat senang bisa melihat wajah Luhan lagi. Ia sangat merindukan rusa itu.
"Kenyang? Mau kubawakan makanan lagi?" tanya Sehun. Ia bangkit dan menuju ke dapur, tapi Luhan mencegahnya.
"Tidak usah!" cegahnya ketus.
Sehun mengangkat alis. Ia berdiri dengan canggung di tengah-tengah kandang itu. Luhan pun tak mau membuka suara. Sehun ingin sekali bicara dengan Luhan. Maka ia memberanikan diri.
"Aku-"
"Kenapa kau masih disini?" tanya Luhan tanpa mengangkat wajahnya.
"Erm… aku-"
"Terima kasih makanannya. Sekarang pergilah"
Sehun menghela nafas dalam-dalam. Ia mengeluarkan beberapa botol ramuan dari kotak obat yang ia bawa dan berjongkok di sisi Luhan. Rusa itu berjengit ketika Sehun menyentuh kakinya. Ia menyeret badannya jauh-jauh.
"Jangan sentuh aku!" pekik Luhan.
"Luhan, kakimu terluka. Aku hanya ingin mengobatinya" jelas Sehun putus asa.
Luhan melotot. Sehun memegang sebuah botol ramuan yang ia kenal pernah ia berikan pada kakinya saat ia cedera dulu. Luhan mulai tenang dan membiarkan Sehun mengobatinya. Dengan cekatan ia menuangkan ramuan itu ke kaki Luhan yang cedera sampai obat itu meresap dan kakinya mati rasa. Kemudian, ia menjahit luka itu sampai menutup. Sehun selesai mengobati Luhan dan bangkit.
"Bagaimana perasaanmu setelah kalah?" tanya Luhan tiba-tiba.
Sehun berhenti dan menatap Luhan bingung. Apa maksud Luhan?
"Bagaimana rasanya gagal jadi raja?" tanya Luhan lagi. Ia menatap Sehun tanpa berkedip. Sehun menghela nafas dan berbalik menatap rusa yang marah itu.
"Luhan, andai kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan padamu, semuanya tak akan berakhir seperti ini!"
"Oh ya? seperti ini? maksudnya kegagalanmu?"
"Luhan!"
"Aku akui kakakmu hebat sekali. Dia lebih pintar darimu. Aku setuju, dia lebih pantas jadi raja daripada kau!"
Sehun menatap Luhan sedih. Apakah ia begitu menyedihkan sampai Luhan mengucapkan kata-kata sekejam itu? Sehun hanya bisa tersenyum lemah. Ia tidak marah pada Luhan meskipun ia sudah berkata sekasar itu. Ia tahu, Luhan hanya kecewa.
"Andai kau menangkapku lebih awal, Sehun. Aku turut sedih atas kegagalanmu"
Tawa Luhan seperti dibuat-buat. Ia menatap Sehun yang menunduk. Tiba-tiba Luhan merasa belum puas, ia melanjutkan sumpah serapahnya.
"Aku heran" lanjutnya. Sehun mendongak.
"Kenapa kau tidak membawaku ke istana sejak awal. Tahu begitu, kau akan jadi raja, Sehun"
Sehun tersenyum getir.
Itu karena aku mencintaimu, Luhan …
"Kau terlalu banyak berpikir, Sehun. Jebakanmu kurang mantap"
"Siapa bilang aku menjebakmu?" Sehun akhirnya tidak tahan dan memilih untuk membalas semua yang dikatakan Luhan.
"Sudah jelas kau menipuku. Kau pura-pura baik dan menunggu untuk menusukku dari belakang saat aku lengah! Tapi, betapapun sempurna rencananmu, Jongin lebih cepat bertindak daripada kau!"
"Bukan begitu, Luhan!"
"Kenapa kau tidak menangkapku saat aku terluka dulu? Atau saat aku pingsan! Oh ya, kenapa tidak saat itu saja ketika kau menciumku? Hah?"
Kata-kata Luhan semakin tidak terkendali. Ia berteriak pada Sehun sampai suaranya memenuhi lorong bawah tanah itu. Sehun hendak membantah tapi ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Pangeran? Anda tidak apa-apa?" tanya seorang pengawal cemas. Tampaknya pengawal tadi mendengar suara teriakan Luhan dan memutuskan untuk melihat keadaan di kandang. Sehun segera berlari menuju kandang dan menutupi Luhan.
"A-aku tidak apa-apa. Aku sudah selesai memberi makan rusa ini" jawab Sehun gugup.
Pengawal itu mengangguk. Ia menunggu Sehun untuk keluar dari kandang. Sang pangeran melirik Luhan yang ada di belakangnya dan melihatnya telah berubah menjadi rusa lagi. Sehun menghela nafas lega. Ia keluar dari kandang dan membiarkan pengawal mengunci kandang itu lagi.
"Mari saya antar ke atas,Pangeran" ujar pengawal itu ramah.
"I-iya" Sehun menoleh pada rusa itu lagi sebelum ia pergi. Tetapi rusa itu sudah meringkuk di sudut kandang lagi. Sehun menatap punggung Luhan.
"Aku akan membuktikan bahwa aku tidak seperti yang kau pikirkan selama ini,Luhan" bisik Sehun.
Dan dengan itu, Sehun naik menaiki tangga menuju lantai atas. Luhan mendengarkan suara langkah kaki Sehun yang menggema di lorong bawah tanah itu. Ia mengeluarkan suara seperti hewan yang merana ketika langkah kaki itu tidak terdengar lagi.
.
Tibalah hari pelantikan raja baru dan kerajaan barat berpesta pora merayakan lahirnya raja yang baru. Para penduduk sudah berkumpul di halaman kerajaan yang luas. Tak ada yang tertinggal. Semuanya ikut merayakan dinobatkannya Pangeran Jongin menjadi raja yang baru menggantikan ayahandanya.
Pangeran Jongin mengenakan jubah berwarna cokelat gelap yang indah. Jubah itu menghiasi punggungnya sampai ke mata kakinya. Hari ini Jongin terlihat luar biasa tampan daripada biasanya. Sehun mengakui itu. Kakaknya itu memang tampan bila ia tidak menyeringai terus seperti yang biasa ia lakukan. Para prajurit berbaris rapi di sekitar altar penobatan itu. Musik telah dialunkan menandakan dimulainya upacara itu.
Pangeran Jongin dengan gagah melangkah menaiki tangga dan menuju Raja Joonmyeon sekaligus Ayahnya sendiri. Sang raja tersenyum bangga. Ketika Pangeran Jongin telah sampai di altar suci itu, ia melepaskan mahkota yang telah ia kenakan selama bertahta di kerajaan barat ini.
"Dengan ini, aku Raja Joonmyeon menyerahkan tahta kerajaan kepada Pangeran Jongin. Selanjutnya, ia akan memimpin kerajaan barat ini dengan bijak dan adil sebagaimana telah dilakukan oleh Raja-Raja sebelumnya. Apakah kau, Pangeran Jongin, sanggup mengemban tugas itu?"
"Aku, Pangeran Jongin Putra sulung Raja Joonmyeon, menyatakan bersedia untuk menerima tahta kerajaan barat ini. Aku bersumpah sepenuh hati akan mengabdikan jiwa dan ragaku memimpin kerajaan dimana aku telah dilahirkan ini sampai aku mati"
Maka Raja Joonmyeon memasangkan mahkota itu di kepala putranya. Pangeran Jongin menundukkan kepala saat mahkota itu akhirnya disematkan di kepalanya. Raja dan Ratu tersenyum dan bergantian memeluk raja yang baru. Raja Jongin menuruni altar dan melambai pada penduduk yang mengelu-elukan namanya. Ia tersenyum bangga dan terharu atas apa yang ia raih sekarang. Ia berhenti ketika ia melihat sosok adiknya di barisan menteri. Ia tersenyum dan menghampiri adiknya itu. Sehun menundukkan kepalanya dengan hormat pada sang raja baru. Raja Jongin menyentuh bahu adiknya itu dan kemudian memeluknya. Semuanya bertepuk tangan melihat adegan itu. Mereka bersyukur tak ada gesekan antara kedua bersaudara itu setelah pertarungan memperebutkan tahta kerajaan ini.
"Selamat. Kini kau telah menjadi Raja" ujar Sehun dalam pelukan itu.
Raja Jongin tersenyum dan merapatkan pelukannya pada adiknya ketika ia melihat sebuah rombongan mendekat kearah mereka. Raja Jongin terperangah dan melepaskan pelukannya. Rombongan itu makin dekat. Mereka mengenakan jubah yang sangat indah dan bercahaya. Perpaduan antara warna putih dan oranye menyala. Seseorang yang berdiri paling depan dan memimpin rombongan itu memegang sebuah tongkat yang diatasnya terikat sebuah balai-balai yang menyembunyikan wajahnya. Balai-balai itu bergambar perpaduan lambang cahaya dan burung phoenix. Raja Jongin mengenali itu sebagai lambang kerajaan timur.
Perlahan-lahan, orang yang memegang balai-balai itu menurunkan benda yang menutupi wajahnya. Kini, wajahnya terlihat jelas. Raja Jongin terperangah. Begitu juga semua penduduk yang menyaksikan kedatangan rombongan itu.
"Kyungsoo…!" bisiknya bahagia.
Pangeran Kyungsoo dari kerajaan timur mendongak dan menatap pangeran yang telah menjadi raja itu dengan malu-malu. Raja Jongin tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya dan menanti pujaan hatinya untuk memeluknya. Tetapi Pangeran Kyungsoo terlihat ragu-ragu dan masih malu. Rona merah terlihat jelas di pipinya. Ia mengigiti bibir bawahnya, membuat Raja Jongin semakin gemas dan ingin menerkam calon istrinya itu.
Sebuah tangan yang indah menyentuh bahu pangeran Kyungsoo dan membelainya lembut. Pangeran Kyungsoo menoleh dan mendapati wajah ibunya tersenyum padanya.
"Ibu…"
"Ayo, jangan biarkan Raja menunggumu" bujuk ibunya.
Ratu Baekhyun mengangguk mantap dan tersenyum menenangkan. Pangeran Kyungsoo menoleh ke sisi kanannya. Ia melirik ayahnya yang berdiri gagah. Raja Chanyeol juga melakukan yang sama. Ia bahkan mendorong bahu putranya dengan lembut. Seorang pengawal mengambil alih balai-balai itu dari tangannya. Ia pun melangkah dan menatap wajah calon suaminya. Raja Jongin terlihat sangat tampan. Wajahnya cerah. Mahkota raja menghiasi rambutnya yang berwarna cokelat gelap. Senada dengan jubahnya. Raja Jongin mengulurkan tangannya, berharap pangeran Kyungsoo mau meraihnya. Dengan masih malu-malu pangeran Kyungsoo meraih tangan itu. Seketika tangan itu bersentuhan, Raja Jongin menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
Sehun tertawa dan bertepuk tangan. Begitu pula semua penduduk mereka. Beberapa gadis menangis sedih menyaksikan pengerannya telah bersanding dengan orang yang ia cintai. Raja Joonmyeon dan Ratu Yixing terseyum penuh haru. Mereka mengajak Raja Chanyeol dan Ratu Baekhyun naik ke altar suci menyaksikan pasangan baru yang telah lahir hari itu.
Kedua Raja dari dua kerajaan itu menjadi wakil kedua pasangan dalam pertukaran cincin. Raja Jongin menyematkan cincin pada jari manis Pangeran Kyungsoo dan begitu juga sebaliknya. Rakyat kerajaan barat terharu menyaksikan pangeran yang kini telah menjadi raja berjalan menuju ke masa kedewasaan. Ratu Yixing dan Ratu Baekhyun memekik dalam hati menyaksikan pemandangan itu.
Raja Jongin menunduk menatap wajah pangeran Kyungsoo. Perlahan-lahan, senyum mengambang di wajah calonnya yang manis. Ia merapatkan pelukannya dan menyentuh kedua pipi pangeran Kyungsoo. Kemudian, tanpa aba-aba ia menempelkan bibirnya ke milik pangeran Kyungsoo. Tiba-tiba, kelopak bunga turun dari atas dan menyirami mereka semua. Raja Jongin melepas ciumannya. Ia menatap wajah pangeran Kyungsoo yang sudah merah padam. Ia tertawa pelan dan membersihkan kelopak bunga yang hinggap di rambutnya yang kecokelatan. Pangeran Kyungsoo menutupi bibirnya dan ikut tertawa.
Hari itu, Pangeran Jongin telah resmi menjadi Raja kerajaan barat yang baru. Hari itu juga ia resmi menyunting pujaan hatinya yang berasal dari kerajaan timur, Pangeran Kyungsoo.
.
Malamnya, kerajaan barat kembali menyelenggarakan pesta terbuka bagi rakyatnya. Semua hidangan bertumpah ruah menunggu untuk disantap. Musik tak henti-hentinya mengalun. Semuanya larut dalam kebahagiaan. Para undangan turun ke lantai dansa. Tak lupa pasangan utama malam itu. Raja Jongin dan Pangeran Kyungsoo pun ikut menari. Bahkan Raja Jongin tidak malu untuk menunjukkan kemampuan menarinya pada semua tamu. Ia menari di depan Pangeran Kyungsoo dengan lihai. Membuat sang pangeran tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak mau kalah dengan menunjukkan kemampuannya menyanyi. Akhirnya pasangan itu berakhir di tengah lantai dansa, menari sambil menyanyi. Kadang Raja Jongin menari sementara Pangeran Kyungsoo menyanyi. Raja Joonmyeon dan Ratu Yixing terlihat berbincang dengan akrab di sebuah meja besar bersama tamu kehormatan mereka yang telah datang jauh-jauh dari kerajaan timur.
Raja Joonmyeon terlihat berbincang dengan serius dengan Raja Chanyeol. Raja berambut ikal itu berkali-kali melirik pada istrinya yang malam itu kelihatan sangat cantik. Sementara Ratu Baekhyun malah asyik bergosip dengan Ratu Yixing. Mereka sama-sama mengagumi bakat yang dimiliki masing-masing putra mereka. Ratu Baekhyun mengatakan bahwa dirinya memang hobi menyanyi, mungkin suara indah putranya diturunkan darinya. Ratu Yixing juga mengaku bahwa semasa muda, dirinya juga hobi menari. Kedua putra kembarnya juga pandai sekali menari.
"Ah, itu dia! Sehun, kemarilah!" Ratu Yixing melambai pada putranya yang sedari tadi hanya memperhatikan kakaknya menari di lantai dansa. Sehun menghampiri ibunya dan membungkuk hormat pada tamu mereka.
"Aiiih putramu yang ini juga tampan! tapi kulitnya lebih putih,ya?" Ratu Baekhyun menatap pangeran Sehun dengan antusias. Sehun hanya tersenyum canggung.
"Sehun, duduklah bersama ayah! Kau harus tahu apa saja yang dibicarakan kepala Negara!" perintah ibunya.
Tetapi itu sudah bukan agendanya lagi. Ia tidak akan menjadi raja dan itu tugas Jongin. Sehun tidak bisa menikmati pesta ini, semeriah apapun itu. Tidak dengan Luhan yang menderita di bawah tanah sana.
"Kau tahu, Ratu Baekhyun? Jongin sudah menangkap seekor rusa yang sangat cantik! Ia bilang rusa itu untukku!"
"Benarkah? Secantik apa rusa itu?"
"Dia ada di bawah tanah. Kau harus lihat tanduknya! Indah sekali!"
"Ah, aku dengar, di kerajaan utara, mereka menggunakan tanduk rusa untuk pengobatan. Dan itu sangat manjur!"
Mata Ratu Yixing berbinar-binar.
"Aku ingin sekali mencobanya! Aku akan membuat beberapa ramuan dengan tanduk rusa itu!"
"Baiklah, kirim beberapa untukku,ya! Sekarang, kita nikmati saja pesta ini!"
Kedua ratu itu kembali bercerita dengan seru. Sehun mendengar pembicaraan keduanya dan menyelinap ke bawah tanah dimana kandang Luhan berada. Ia tidak melihat adanya pengawal. Ia mengintip kandang itu dan melihat Luhan masih meringkuk dengan lemas.
"Luhan?" panggil Sehun pelan. "Luhan?"
Telinga rusanya bergerak-gerak. Rusa itu bangkit dan menolehkan kepalanya yang anggun. Ia mendapati Sehum berdiri di luar kandangnya. Ia langsung membuang muka lagi.
"Luhan, kau baik-baik saja?" tanya Sehun.
Luhan membisu. Ia bahkan tidak mau mengubah wujudnya menjadi manusia untuk membalas Sehun. Sang pangeran menghela nafas. Ia mengedarkan pandangan dan menemukan sebuah batu. Ia meraih batu itu dan memukulkannya pada lubang kunci kandang itu. Luhan mendengar suara keras batu beradu dengan besi dan menoleh dengan heran. Ia melihat Sehun memukul-mukul gembok kandangnya. Matanya melebar.
"Apa yang kau lakukan?!" Sehun menghentikan usahanya menghancurkan gembok itu dan mendongak. Ia mendapati rusa itu sudah berubah menjadi sosok manusia lagi. Ia mengacuhkan Luhan dan kembali memukuli gembok itu sampai hancur. Setelah itu, ia membuka pintu kandang lebar-lebar. Luhan menatap Sehun dengan bingung.
"Pergilah. Orang-orang sedang sibuk di atas. Tak akan ada yang menyadari kau kabur" ujar Sehun tenang.
Luhan hanya bisa menganga. Ia berkedip berulang-ulang. Apa yang Sehun bicarakan? Kenapa ia menyuruh dirinya pergi?
"Apa maksudmu?" tanya Luhan bingung.
"Larilah! Segera tinggalkan istana ini! ini satu-satunya kesempatan!"
Luhan terperangah. Sehun berdecak gemas. Ia memasuki kandang dan mendorong Luhan keluar dari situ.
"Lewati terowongan ini. Lari terus dan jangan ikuti cahaya. Apabila kau bertemu sebuah lubang, telusuri itu. Lubang itu adalah buatan aku dan Jongin waktu masih kecil. Kami biasa menggunakannya saat kami menyelinap keluar dan bolos dari pelajaran. Jangan khawatir, Ukurannya pas untuk tubuhmu. Lubang ini akan membawamu ke belakang istana. Larilah sampai kau mencapai hutan utara"
Luhan mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Ia menelan ludah.
"Kenapa…"
"Ya?"
"Kenapa kau mengatakan ini?"
Sehun terdiam.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Luhan lagi.
Sang pangeran tersenyum lemah.
"Aku kan sudah bilang padamu, Luhan. Aku tidak pernah menjebakmu. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak seburuk yang kau kira"
Kini giliran Luhan yang terdiam. Ia merasa tidak enak. Ia sudah menghina Sehun sedemikian rupa dan… dan inilah balasan dari Sehun. Ia malah membantunya kabur.
"Ingat kata-kataku tadi,kan? Jangan ikuti cahaya di istana ini. Itu adalah tanda-tanda adanya penjaga. Kau bisa tertangkap"
Luhan hanya bisa mengangguk.
"Bagus" Sehun melirik kaki Luhan yang masih terluka. " Nah, kakimu memang masih terluka. Tapi aku rasa kau masih bisa menggunakannya untuk berlari apabila berubah jadi rusa. Lakukan sekarang"
Tak perlu disuruh dua kali. Beberapa detik kemudian, Sehun sudah menjumpai seekor rusa lagi. Ia berjongkok sehingga kepalanya sejajar dengan Luhan. Ia membelai kepala rusa itu dengan lembut. Ia tersenyum. Sebelum bangkit, ia menyelipkan sebatang cokelat di mulut si rusa.
"Ini kesukaanmu,kan? Aku sudah berjanji akan memberikannya padamu lagi"
Luhan mengetuk-ngetukkan kaki depannya ke lantai. Sehun tersenyum.
"Baiklah…! Sekarang, lari!"
Luhan masih terdiam.
"Ayo! Kau harus mencapai hutan utara lagi!"
Luhan menatap Sehun untuk yang terakhir kali. Sehun melambai dan memaksakan senyum. Luhan memalingkan wajah. Ia berusaha menahan air matanya. Luhan pun berlari dan berlari. Masih mengigit batang cokelat itu. Suara derap langkahnya menggema.
"Selamat jalan, Luhan! Sampaikan salamku pada Min dan yang lain!" seru Sehun.
Ia mendengar derap langkah Luhan di bawah kakinya. Ia sudah menemukan terowongan itu. Sehun menunduk. Air matanya menetes. Hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk Luhan. Ia hanya bisa berdoa agar Luhan sampai tujuan dengan selamat. Ia mengeluarkan sebatang cokelat lagi dan menggigitnya kuat-kuat. Rasa manisnya menjadi asin ketika air matanya masuk ke mulut.
"Sampai jumpa, Luhan. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi"
-to be continued-
Hanya satu yang author rasakan sekarang. mengantuk. Sudah ya. jangan lupa review. oh ya, author boleh minta komentar soal Kaisoo dan Baekyeol yang akhirnya muncul? Oke? Semoga chapter selanjutnya tidak perlu menunggu lama. See ya ^^ hoaahhmm –HZTWYF-
