.
.
Taiyou no Uta
(A Song to the Sun)
.
.
Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.
Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc,KyuMin!
Music:
MY HEART DRAWS A DREAM by L'arc en Ciel
GoodBye Days by YUI
.
"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."
"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."
"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."
.
"Jadi ini yang kau dapat setelah dua minggu di Jepang? Meminta liburan setelah encore dan kini kembali dengan— apa tadi? 'Black Diamond'? Kau selalu mampu membuatku terkejut Jungsoo."
Park Jungsoo —Leeteuk, hanya tersenyum sopan. Sembari merilekskan punggungnya yang sempat tegang pada sandaran kursi mewah di ruangan atasannya. "Ku anggap itu pujian, Lee-seongsaeng. Jadi... Apa anda setuju dengan title yang kuberikan padanya?"
"Hm... Dia berbakat." komentar Lee Sooman singkat. Matanya kembali fokus ke arah namja yang tengah beraccoustic dalam video. "Tapi tidakkah 'Black Diamond'terlalu berlebihan?"
"Anda hanya belum melihatnya langsung, Seongsaengnim." sanggahnya diplomatis.
"Benarkan pandanganku kalau begitu. Bawa dia kemari."
Senyum lebar tak ayal terlukis pada wajah sang manager. Dia tentu tahu makna apa yang terkandung dibalik barisan kalimat tadi. "Bawa dia kemari" akan berarti besar jika yang mengucapkannya adalah sang penguasa SMent. Bukan berlebihan mengingat bagaimana image SM Entertainment itu sendiri yang terkenal sebagai salah satu management terbesar dengan seleksi masuk ketat.
Sanggup membawa Lee Sungmin kemari dengan hanya bermodal video accoustic yang direkam Leeteuk beberapa hari lalu. Bukankah itu awal yang benar-benar bagus?
"Arrasseo. Kupastikan seongsaengnim tidak akan kecewa padanya."
"Ne. Aku memang tidak bisa tidak percaya pada pilihanmu Jungsoo. Kuharap kali ini juga seperti itu."
"Tapi... Seongsaeng-" Leeteuk menggigit bibirnya ragu sebelum melanjutkan ucapannya. Matanya sedikit gentar saat menangkap ekspresi curiga yang mulai terpancar dari sang atasan. "Dia memiliki- sedikit kekurangan. Tubuhnya... Menderita semacam penyakit yang membuatnya harus menghindari sinar matahari."
Genggaman tangan Leeteuk pada ujung kemejanya menguat. Sedikit takut akan respon macam apa yang diberikan sang tertinggi. Jika Lee Sooman mencabut keputusannya barusan, maka habislah dia. Kesempatan itu hanya satu, kalau sampai lepas bisa saja namja aegyo di seberang sana tidak akan bisa mewujudkan mimpi indahnya.
Tentu saja, sang pemberi harapan —Leeteuk akan sangat merasa bersalah jika itu terjadi.
"Kau ingat apa yang aku ajarkan padamu dulu?" suara berat pemimpin SMent itu akhirnya terdengar setelah beberapa saat. Wajahnya tak terbaca, membuat rasa takut semakin melingkupi namja berambut hazel itu.
"Asal kelebihan yang dimilikinya mampu menutup kekurangan tadi, tidak ada alasan untuk tidak mencoba. Ku tunggu lusa, dan jangan kecewakan aku."
Matanya membulat terkejut. Segera saja, manager tampan itu berdiri dan membungkuk hormat pada sosok yang sangat dihormatinya. "Jeongmal gamshahamnida, Lee seongsaeng. Dia pasti akan membuat anda terkejut. Saya jamin itu."
Hora kaze ga ugoki dashita mada akirametari ha shinai
Taiyou wo kumo no saki ni kanjiru kyakufuu de irou to
[Look! the wind has moved, I won't give up yet
I feel the sun behind the clouds I think you'll be there in an opposite wind]
"Ahh... Sebagus apapun negeri orang, negeri sendiri tetap yang terbaik! Aku rindu Korea."
"Kau terdengar seperti seseorang yang sudah puluhan tahun merantau."
Kyuhyun menoleh. Memandang geli kearah Sungmin yang tampak terganggu dengan keramaian bandara Incheon. Sekalipun ini tengah malam, tempat umum itu tidak akan sepi. Mengingat yang tiba kali ini adalah Sang Bintang Asia, bukan tidak mungkin gerombolan "SparKYU" itu tetap rela menunggu idolanya ditengah angin malam yang menusuk ini.
"Wae? Masih takut keramaian?"
"Aku tidak!" Sungmin merengut imut. Membuat Kyuhyun yang kini di sampingnya terkekeh. "Aku hanya... Tidak terlalu suka." cicitnya kemudian.
"Arra... Terserah hyung, deh. Yang penting, jangan jauh-jauh dariku ne? Bahaya." peringat Kyuhyun. Namja tampan itu mengedip lucu, membuat satu raut tak setuju segera terlukis di wajah hyungnya.
"Kau bercanda? Justru kalau aku menempel padamu malah semakin bahaya, Kyu! Kau tidak lihat rasa yeojadeul itu? Suara mereka bahkan terdengar sampai sini."
"Ah... Padahal mulai sekarang kau harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini, lho hyung."
"Maksudmu?"
Yang lebih muda hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Tak berniat memperpanjang bahasan mereka sebelumnya. Seolah teringat sesuatu, Kyuhyun menghentikan langkah. Langsung membuka tas ranselnya dan mengeluarkan masker dan topi hitam.
"Eh? Untuk apa i—ummhf!"
"Menurut saja, hyung. Akan lebih baik kalau mereka tidak melihat wajahmu sekarang. Pakai ini juga."
Meski bingung, namja penyuka pink itu hanya mengangguk patuh. Membenarkan masker dan topi hitam yang menyamarkan wajah manisnya dari tatapan ingin tahu orang-orang di luar sana. Setelahnya, Kyuhyun menyambar tangan hyungnya. Membawa namja disampingnya untuk berjalan cepat melewati yeojadeul yang langsung berteriak riuh saat sang bintang menampakan diri.
Sungmin menunduk dalam. Berbeda dengan Kyuhyun yang terus menebar senyum sopan pada para penggemarnya sambil mengeratkan genggaman pada tangan mungil yang mulai mendingin.
Yah... Bisa dibilang dua minggu ini Kyuhyun memang 'resmi' liburan. Benar-benar libur dalam arti namja muda itu tidak melakukan latihan vokal atau menghadiri beragam acara dadakan. Penyanyi penyuka salju itu menghabiskan harinya dengan Sungmin dan umma-nya. Hampir setiap hari —kalau dia tidak sedang mengurus keperluan pendaftaran mahasiswa baru— pasti dihabiskannya dengan berkunjung ke rumah sang hyung. Berkedok melatih vokal Sungmin, Kyuhyun sukses meraih perhatian umma hyungnya dan menjelma menjadi 'putra bungsu' wanita berparas lembut itu sekarang.
Sepanjang itu juga, Kyuhyun sudah bisa memahami —setidaknya sedikit sisi lain pada diri Lee Sungmin. Salah satunya seperti yang kau lihat sekarang. Namja aegyo itu takut keramaian. Okay, mungkin bukan takut. Tapi tidak suka.
Mungkin saja, terbiasa sendiri-lah yang membuat pribadinya itu menjadi sosok yang anti sosial.
"Itu mobilnya."
Keduanya segera memasuki sedan hitam yang telah menanti. Menghempaskan tubuh lelah mereka ke jok belakang dan langsung meninggalkan bandara dengan iringan beragam teriakan riuh.
"Kau tidak mengantuk, hyung?"
Sungmin sudah melepas masker dan topinya saat pertanyaan itu terlontar. Namja itu hanya mengendik tak acuh sebelum menjawab "Aku tidak terbiasa tidur malam hari, Kyu. Kau tidur saja."
"Ne. Aku lelah sekali."
Tanpa menunggu respon Sungmin Kyuhyun langsung merebahkan kepalanya. Mencari posisi nyaman di pangkuan hyungnya dan menutup mata. "Usap-usap rambutku hyung." tambahnya singkat.
Satu kerjapan kaget, sebelum akhirnya Sungmin tersenyum maklum. Anak ini benar-benar manja ternyata. Tak menunggu lama tangannya langsung terangkat guna membelai lembut rambut ikal kecoklatan dongsaengnya. Hanya butuh beberapa menit, hingga sosok di pangkuannya terlelap. Meninggalkan Sungmin yang kembali mengalihkan pandang pada jalanan tengah malam di ibukota Korea Selatan itu.
Hela nafas samar lolos dari mulutnya. Saat tangannya 'terpeleset' dan menyentuh pipi pucat Kyuhyun, bayangan akan malam itu kembali menyapanya.
Cho Kyuhyun.
Ne. Dua minggu lalu sosok di pangkuannya ini datang. Mengubahnya yang takut berharap, menjadi sosok yang perlahan berani menengadahkan tangan. Memohon dan menangis di gereja —yang asalnya dikunjungi hanya demi formalitas— dengan kepala tertunduk. Sepenuh hati mengatakan berbagai harapan sederhananya pada Tuhan di atas sana.
Asal kau tahu, Sungmin sudah lelah, Sungguh.
Hidup 20 tahun dalam 'gelap' bukan hal mudah untuk dijalani. Ambang putus asa-nya benar-benar mengundang saat tiba-tiba si namja yang terlelap damai ini muncul. Tanpa diduga bersedia mengulurkan tangan dan mengenalkannya pada impian yang terasa kabur.
Tuhan, kali ini saja. Biarkan dia percaya pada keajaibanMU.
"Semoga besok tidak terjadi apa-apa."
.
.
Apakah ini keajaiban?
Atau mungkin hanya beruntung sedang mimpi indah?
Lee Sungmin nyaris tak percaya. Tapi ini nyata.
Bukan hanya mimpi, saat dua pasang kaki mereka berjalan menapaki kantor mewah SMEnt. Melintasi tiap koridor mewahnya dengan iringan berpasang tatapan tanya, bingung, bahkan iri.
Kedua mempercepat langkah. Menyongsong jalan menuju impian untuk bisa berdiri dan menyanyi bagi yang lain. Semua ini... Serasa mimpi baginya.
Tidak, tidak. Bahkan Lee Sungmin tak pernah berani bermimpi seindah ini.
Si manis yang tengah berjaket pink gelap ini kembali melirik pada tangan mereka yang bertaut. Bagian tubuhnya itu hangat, karena Kyuhyun —yang berjalan satu langkah didepan, masih menggenggamnya erat. Dari sini, punggung tegap dongsaengnya semakin tampak kokoh. Mempertegas kesan 'menemani' yang memang dijanjikannya semakin nyata. Membuatnya yang hanya 'gelap' perlahan terisi titik-titik cahaya.
Tanpa diduga, seulas senyum haru itu muncul, sembari membalas genggaman erat Kyuhyun —seolah memastikan sosok malaikatnya ini nyata— sebait do'a si aegyo turut mengalun.
Hanya do'a sederhana, karena dia terbiasa tak berharap lebih.
'Tuhan, jika ini memang mimpi, ijinkan aku tidak perlu bangun selamanya.'
.
.
.
.
"Itu Leeteuk-hyung!"
Kyuhyun membimbing jalan mereka menuju sang manager yang telah menunggu. Wajahnya otomatis tersenyum minta ma'af saat raut kesal namja berambut hazel itu terarah padanya.
"Kalian lama sekali."
"He he. Mian hyung, kami tadi makan malam dulu."
Yang paling tua hanya memutar mata bosan sebagai jawaban. Hafal akan kebiasaan artisnya yang pandai berkilah. "Ne, ne, arrasseo. Sekarang, aku akan masuk dulu. Kau tunggu disini Sungmin-ah."
Yang dipanggil namanya hanya menangguk patuh sebagai jawaban.
"Oh! Kyuhyun-ah!" Leeteuk kembali berbalik. Menimbulkan kernyit tanya tampak di wajah dua dongsaengnya. "Malam ini staf kita ada yang menikah. Dan beliau meminta kau tampil di acaranya. Segeralah kesana, acaranya dimulai satu jam lagi."
"Mwo? Kau bercanda, hyung! Kenapa mendadak sekali?"
"Serius, Kyu. Bukankah aku sudah mengirimimu e-mail tadi?"
Si penyanyi muda mulai mengacak rambutnya frustasi. Kesal juga dengan tingkah sang manager yang kadang seenaknya ini. "Sama sekali tidak ada e-mail masuk ke ponselku sejak tadi!"
"Benarkah? Oh, salahku kalau begitu." responnya abai. Sambil berkacak pinggang, Leeteuk kembali meneruskan 'titah'nya tadi. "Yang penting kau sudah tahu sekarang, kan? So, jadilah anak baik dan segera berangkat. Aku tidak mau gajiku dipotong karena tingkahmu yang sulit diatur."
Satu tatapan yang juga berarti aku-tidak-hanya-mengurusimu-sekarang-Kyuhyun membuatnya bungkam. Mendesah kesal sebelum akhirnya mengangguk tak rela. "Arrasseo, aku akan berangkat sekarang."
"Pintar. Aku masuk dulu kalau begitu."
Melihat hyungnya yang telah melenggang santai memasuki ruangan Sang CEO kembali membuat Kyuhyun menggerutu. "Cih.. Padahal belum ada satu bulan aku liburan. Dasar manager pelit."
"Jangan begitu Kyuhyun-ah. Leeteuk hyung pasti punya alasan sendiri menyuruhmu kesana." Respon suara tenor di sampingnya membuat Kyuhyun tersenyum kecut. "Ne hyung."
'Ne, maksud khususnya hanya agar gajinya tidak kembali dipotong.' lanjutnya kurang ajar.
"Ng... Apa kau gugup?"
Sungmin hanya tersenyum canggung. Semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada tas gitar yang dibawa. "Sedikit."
Kyuhyun mengangguk mengerti. Dengan perlahan meraih sebelah tangan Sungmin yang bebas. Aigo... Tangannya dingin sekali. Ini sih bukan 'sedikit' namanya~
"Tidak usah tegang, hyung. Kau kan sudah sering menyanyi dan main gitar. Bayangkan saja di ruangan itu sedang tidak ada orang. Kau pasti bisa."
"... Aku akan berusaha lebih keras."
Yang lebih muda hanya tersenyum kecil. Wajah gugup namja ini benar-benar membuatnya gemas. Ekspresi saat sepasang foxy eyes itu menatap acak pada sekitar atau saat bibir pinkish sakura-nya yang tergigit pelan itu, duh... Kadang Kyuhyun sampai melupakan fakta Sungmin yang dua tahun lebih tua darinya.
"Dengar, hyung." kembali, suara merdu Kyuhyun kembali mengalun. Sebelah tangannya yang menggenggam tangan Sungmin mulai bergerak menautkan jari mereka. Mencengkeramnya erat, bermaksud menyalurkan emosi positifnya.
"Kau itu penyanyi yang hebat. Yang perlu kau lakukan hanya membuktikan itu pada semua orang. Jangan takut gagal, aku jamin kau akan berhasil kali ini."
Foxy eyes namja bermarga Lee itu mengerjap lembut. Betah saat menatap sepasang onyx gelap Kyuhyun yang memandangnya lembut. Me-radiasikan jutaan emosi 'manis' yang perlahan membuat hatinya menghangat.
Akhirnya, seulas senyum manis yang sangat disukai Kyuhyun itu tampak. Menghiasi wajah manis yang beranjak ceria. "Gomawo. Jeongmal gomawo, Kyuhyun-ah."
"Ani hyung. Tidak sekarang, belum." —saat panggung besar itu kau kuasai, baru kau boleh berterimakasih Lee Sungmin.
Penyanyi muda itu menaikan tangannya sekarang. Menangkup lembut pipi chubby Sungmin dan mendaratkan satu ciuman lembut di kening. Lama, hingga raut wajah terkejut hyungnya benar-benar terabaikan. "Ini jimat agar kau berhasil. Fighting! Aku men—
—Aku... menyayangimu hyung. Sampai jumpa."
Kyuhyun berbalik cepat. Berlalu melewati koridor panjang di lantai tujuh ini tanpa menoleh kebelakang. Hanya sibuk bergumam "Aku tidak bisa mengatakannya" berulang kali dengan dua tangan terkepal.
Hm... Bertanya bagaimana Sungmin?
Okay, mari kita lihat Lee Sungmin yang manis itu. Dia masih disana, tetap dengan ekspresi terkejutnya dan sebelah tangan yang terangkat menuju dada. Merasakan bagaimana sesuatu yang didalam sana berdetak tak karuan saat ciuman sarat kasih sayang itu mampir tadi. "Jantungku... Kenapa?"
Aigo... Mereka berdua sama saja, ternyata.
"Sungmin-ah!"
Yang dipanggil mengerjap kaget. Menatap bingung ke sekitar sebelum akhirnya fokus pada Leeteuk yang melambaikan tangan di depan. Ne, sepertinya debar aneh di jantung turut membuat otaknya eror sesaat.
"Ne-ne, hyung?"
"Kemarilah! Seongsaeng memintamu untuk langsung ke training room." tukasnya tak sabar. Segera disambarnya sebelah tangan Sungmin. Menariknya cepat menuju training room khusus di lantai ini.
Hanya beberapa menit, hingga keduanya sampai di ruang gelap yang mempunyai satu lampu redup sebagi objek penerangannya. Di depan sana, tampak Sang CEO bersama dua orang lain yang turut menduduki meja panjang berwarna cokelat.
Sungmin kembali membulatkan matanya melihat ini, melirik takut ke arah Leeteuk yang hanya membalas dengan remasan kuat ditangannya.
"Anyeonghasseyo, ini Lee Sungmin. Yang kuceritakan tadi." sapanya sopan. Tidak lupa membungkuk 90 derajat yang langsung diikuti Sungmin setelahnya.
"Wajahnya cukup menjual, tapi apakah dia memang seperti yang kau ceritakan?" Kim Heechul, sang stylish kepercayaan SMEnt mulai membuka suara. Wajah namja yang terlihat cantik itu memandang remeh sosok yang tadi 'dipuji'nya dengan sebelah tangan yang menopang dagu.
Leeteuk hanya tersenyum angkuh, kesan 'Sang ahli' tampak jelas di wajah malaikatnya. "Dia seribu kali lebih baik dari pada kau yang dulu, Chullie-ya."
"Cih! Sombong sekali kau Jungsoo."
Sang CEO yang berada di kursi paling kanan hanya menggeleng bosan. Dua anak didiknya ini benar-benar tidak ingat umur. "Diam kalian berdua. Kalian benar-benar menghabiskan waktuku. Segera mulai saja Jongwoon." perintah Sooman pada namja tampan disebelah Heechul.
Kim Jongwoon atau akrab disapa Yesung menghentikan pergerakannya saat suara tenor Leeteuk menginterupsi. "Tidak perlu kau iringi, Yesungie. Dia bisa bermain piano. Tapi malam ini, biar gitar di tangannya itu yang menjadi partner."
Namja yang juga berwajah cantik itu kembali tersenyum manis. Moodnya benar-benar baik malam ini, firasat baiknya juga menyatu dalam euforia kemenangan aneh yang perlahan merasuk. Entah apa itu, tapi Leeteuk yakin dia akan berhasil.
Ne, Lee Sungmin harus berhasil.
"Baiklah Sungmin-ah. Nyanyikan satu lagu yang benar-benar kau pahami 'arti'nya. Menyanyilah seolah kau sedang 'bercerita'; tidak perlu takut, arra?" bisiknya ditelinga.
Sungmin diam sebentar sebelum mengangguk dan tersenyum. "Arrasseo, hyung."
"Fighting dongsaeng-ah!"
Kaki mungilnya perlahan melangkah pasti. Berhenti ditengah ruangan berpenerangan redup itu sejenak, dan langsung membungkuk hormat. "Anyeonghasseyo, Lee Sungmin imnida."
"Ne, kau mau menyanyi lagu apa?" tanya Yesung.
Sungmin mendudukkan diri pada lantai kayu dibawahnya. Menyapukan pandang dari Leeteuk yang telah bergabung dan menduduki kursi kosong disebelah Sang CEO —Lee Sooman, Kim Jongwoon, hingga Kim Heechul. Dan dengan satu tarikan nafas, bibir pinkish-nya kembali berujar.
"Goodbye-days. Lagu milik YUI-ssi."
"Hm... Kau memang dari Jepang, ne? Cepat mulai kalau begitu."
Sungmin menggangguk. Memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya memulai intro lagu berkesan sendu itu.
Dakara ima ai ni yuku sou kimetanda
Poketto no kono kyoku wo kimi ni kikasetai
[So I'm going to go see you right now, that's what I decided
I want to have you listen to this song, that I have in my pocket]
Sotto boryumo wo agete tashikamete mitayo
[Quitly, I turned up the volume, to make sure that was there]
Oh Goodbye days ima kawari kiga suru kinou made ni so long
[Oh Goodbye days, right now I've got the feeling that things are going to change; so long to everything up until yesterday]
Kakkou yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
[An uncool kindness is at my side—]
La la la la la With you~
Petik gitar itu terus mengalun. Mengiring tiap lirik yang menyembunyikan 'gelap' dibalik sisinya. Tiap-tiap melody-nya mengalir, memantul lembut dalam ruang sepi yang makin mempertegas kesan 'pasrah' dalam lagu.
Saat mendengar ini, kau tidak perlu bersekolah tinggi dan menjadi maestro untuk bisa membaca beragam bait-nya. Sungmin 'bercerita' cukup gamblang kali ini. Lugas, karena dalam liriknya tidak berbeda dengan apa yang dilaluinya tiap harinya.
Tapi... Bukankah itu masa lalu? Yang penting, sekarang dia sudah memiliki 'orang itu' untuk berbagi. Saling menguatkan saat lemah, atau sekedar mendengarkan lagu dalam satu earphone. Ne, Sungmin bisa melalui beragam hari sulit bersamanya.
Bersama KyuhyunNya.
Dakireba kanashii omoi nante shitaku nai demo yattekuru deshou, oh
[If possible, I'd like to not have sad feelings, but they'll come to me, won't they?]
Sono toki egao de "Yeah Hello my friend" nante sa ieta nara ii noni
[In those times, it would be good, if only I could say "Yeah Hello my friend" with a smile]
Onaji uta wo kuchizusamu toki, soba ni ite I wish
[When we both are humming the same song, I wish for you to by my side]
Kakkou yokunai yasashisa ni aeta yokatta yo
[I'm glad that we were able to meet each other, with such an uncool kindness]
La la la la Goodbye days…
Satu petikan penutup dan Sungmin menunduk. Menyembunyikan setitik tangisnya dari empat orang diluar sana. Cukup lama hingga akhirnya satu tepukan tangan terdengar. Membuat sang namja aegyo itu mengangkat wajahnya terkejut.
Di depan sana, Yesung tengah berdiri dari kursinya. Menatap takjub dengan tangan yang tak berhenti memberikan applause. "Walau beberapa nadamu ada yang meleset, tapi penjiwaanmu benar-benar menakjubkan. Aku jadi tahu, seberapa 'sakit' yang kau rasa sekarang. Standing applause untukmu, Sungmin-ah."
Sang trainer vokal kembali duduk. Ganti menoleh kearah Heechul yang malah mendengus dan membuang wajah.
—tanpa melontarkan satu celaan pun.
"Inikah yang kau sebut 'Black Diamond' Jungsoo?" suara berat Lee Sooman membuat Leeteuk yang disebelahnya menegang. Gugup setengah mati saat mata jeli Sang CEO itu masih memandang Sungmin datar. "Sebutanmu padanya terlalu berlebihan. Meski begitu, tampaknya kau benar.
—Dia mampu membuatku terkejut."
Nee iki wo awasetara motto takaku toberu hazusa
Soko kara ha mirai ga mieru kana?
Futari de arouto
[right! If we join the sighs, we'll fly higher
I wonder if there you can see the future?
We will walk together]
.
.
MY HEART DRAWS A DREAM by L'arc en Ciel
TBC or END?
.
.
Lagi,, story ini terinspirasi dari film 'Taiyou no Uta'
Readerdeul~
ma'af untuk update-an yang begitu lama, jujur ide saya nge-stuck belakangan ini. Bukannya mau alasan, tapi SIDERS jadi salah satu penyebab.x~
Saya nggak berharap banyak kok dari story abal ini, hanya saja, melihat siders yg nyampe ratusan sanggup bikin gerah juga. Awal.x sih udah mau pindah ke grup ma wp, pw tiap story dan masalah bisa selesai.
Tapi setelah dipikir, saya disini udah punya temen2 yg ngasih dukungan dari awal. Rasa.x nggak adil kalo meninggalkan mereka hanya karena 'yg numpang lewat'.
So, bolehkah saya minta 30review untuk ch ini? Meski ch ini rada hancur, tapi saya mengerjakan ini untuk kalian, tolong bilang kalo masih ada yang ingin story ini lanjut~
Terimakasih buat yang selalu support saya dari awal,ma'af karena nggak ada review replays, ayo, tunjukkan diri kalian! karena tanpa kalian saya bukan apa-apa ^^
Gomawoyo yeorobun, Saranghae!
v
v
v
