Title : A Prince Who Turns Into a Deer
Main Cast : Sehun, Luhan, Kai
Pair : HunHan, side!Kaisoo Taoris BaekYeol Sulay Chenmin
Genre : Fantasy Romance
Chapter VI
A Prince Who Turns Into a Deer
Chapter 6
"Jika anda berkenan, saya ingin menunjukkan kebanggaan kerajaan kami kepada anda, Ratu Baekhyun" ujar Raja Jongin sambil membungkuk rendah, rendah sekali.
Melihat ini, Ratu Baekhyun meletakkan kedua tangannya di dada dan menatap Raja baru itu dengan haru. Berpikir betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan menantu yang begitu hebat, sopan, dan tampan seperti Raja Jongin. Raja Joonmyeon dan Ratu Yixing tersenyum bangga menyaksikan pemandangan itu.
"Ah, janganlah kau memanggilku seperti itu, Anakku!" ujar Ratu Baekhyun itu dengan riang. Raja Jongin mengangkat alis.
"Tapi…."
"Panggil aku 'Ibu' mulai sekarang!"
"Ibu…?"
"Benar! 'Ibu!'"
Raja Jongin melirik ke arah Pangeran Kyungsoo dan tersenyum kecil. Pangeran bermata lebar itu terkejut dan memalingkan wajahnya, tersipu malu.
"Baiklah, Ibu. Apabila Ibu tidak keberatan, hamba ingin menunjukkan sesuatu kepada Ibu yang sebentar lagi akan menjadi simbol kebanggan kerajaan kami"
"Oooh! Benarkah?!"
"Betul sekali. Eh… Permisi, tangan Ibu…"
Raja Jongin mengulurkan tangannya untuk disambut oleh tangan indah milik Ratu Baekhyun. Dengan senang hati, Ratu itu memberikan tangannya dan membiarkan dirinya dituntun menuju ruang bawah tanah. Raja Chanyeol menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah istrinya itu. Ia berjalan berdampingan dengan Raja Joonmyeon, sementara Ratu Yixing sedang berbicara dengan menantunya yang canggung.
Sehun berjalan paling belakang dalam barisan keluarga kerajaan itu dengan wajah tenang. Matanya masih sembab sisa menangis semalam. Berkali-kali ibunya menanyakan perihal itu dan berkali-kali pula ia berusaha meyakinkan bahwa itu hanyalah kurang tidur. Tetapi itu memang benar terjadi. Ia membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang ke kanan dan ke kiri. Galau. Pikirannya melayang pada langkah kaki kecil yang terus mengiang di telinganya. Ia tidak tenang. Tidurnya resah dan gelisah.
Apakah Luhan berhasil lolos?
Apakah Luhan berhasil sampai di Hutan Utara dengan utuh?
Apakah Luhan baik-baik saja?
Apakah kakinya sudah sembuh?
Apakah, apakah, apakah, dan apakah
Sederet apakah terus menghantui tidurnya semalam. Ia berusaha mengenyahkan firasat-firasat tidak mengenakkan yang mungkin terjadi pada rusa itu. Ia hanya bisa berdoa agar Luhan selamat sampai tujuan.
Hari sudah pagi. Pesta telah berakhir. Tetapi kebahagiaan tak pernah sedikitpun luntur di wajah Raja Jongin. Bagaimana tidak? Ia berhasil meraih mahkota kerajaan dan menyanding Pangeran Kyungsoo di sisinya. Apa yang mungkin bisa membuat suasana hatinya memburuk? Well, sepertinya tidak ada. Kecuali…
Keluarga kerajaan tersebut telah tiba di ruang bawah tanah yang meskipun memang berada di bawah tapi jauh dari kesan gelap. Beberapa obor menerangi setiap dinding membuat ruangan itu menjadi hangat dan nyaman. Raja Jongin, masih menggandeng mertuanya, mengambil sesuatu dari balik jubahnya dan menunjukkan sebuah kunci.
Raja Jongin membuka sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu dan membuka kuncinya. Ia bertingkah seperti gentleman dan mempersilahkan keluarga barunya masuk ke dalam ruangan itu. Tak lupa mencuri pandang pada pasangannya.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mencapai ujung ruangan dimana sebuah terali besi berada. Disana tidak ada siapa-siapa. Pun penjaga. Raja ingin ini menjadikan momen berharga baginya dan keluarga kerajaan saja. Sehun mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Hatinya mengerut sakit. Aroma Luhan masih tersisa.
"Ibu, hamba akan menunjukkan sesuatu yang sangat indah dan menakjubkan. Bersiaplah tercengang" Sang Raja menyeringai di belokan terakhir sebelum ujung ruangan itu berakhir dimana Luhan berada.
"Sambutlah! Rusa tercantik yang pernah ada" Raja berputar dan berbalik tepat di depan kandang itu.
Tanpa memperhatikan isi kandang tersebut, Ia tersenyum bangga dan mengarahkan tangannya pada kandang dimana rusa cantik itu dikurung.
Atau lebih tepatnya pernah dikurung.
Karena Raja Jongin tak pernah mendengar pekikan penuh kagum dari mulut mertuanya yang cantik ataupun kecupan penuh bangga dari pasangannya karena berhasil menangkap rusa cantik yang langka itu.
Melainkan wajah kebingungan dari seluruh anggota keluarganya yang ia dapat. Mereka semua saling bertukar pandang dan menunjuk-nunjuk kandang tersebut. Saling kebingungan satu sama lain. Sehun berusaha agar wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Erm… Putraku…" Raja Joonmyeon berbisik pelan.
Merasa ada yang aneh., Raja Jongin mengernyitkan dahi dan berbalik. Bermaksud mengecek kandang tersebut. Dan demi rusa yang paling cantik di hutan utara… Raja Jongin bersyukur bola matanya tidak melompat entah kemana karena… Luhan sudah tidak ada.
Rusa itu menghilang. Pergi. Tanpa jejak.
.
Raja Jongin mendorong Sehun ke dinding terdekat, membuat adiknya itu meringis kesakitan ketika punggungnya bertabrakan dengan permukaan keras itu. Ia mencengkeram bagian depan baju Sehun dengan erat, seolah ingin mencekiknya.
"Ohok!" Sehun tersedak.
"Katakan…! Dimana kau menyembunyikannya?!" geram Jongin tepat di depan wajah Sehun.
"Apa maksudmu?" tanya Sehun lemah. Ia berusaha menjauhkan wajahnya. Dilihat dari manapun wajah kakaknya sekarang ini memang sangat murka.
"Kau tahu betul apa maksudku. Adikku tersayang"
"Sungguh aku tidak tahu-"
"Kau yang melepas rusa itu,kan?!" sekarang Raja Jongin berteriak.
"A-apa-"
"Katakan!"
Sehun mengangkat tangannya dan berusaha melepaskan tangan kakaknya dari kerah bajunya. Ia mendorong Raja Jongin jauh-jauh dan mengatur nafasnya. Terengah-engah.
"Apa… apa yang membuatmu berpikir bahwa aku yang melepas rusa itu?" tanya Sehun tidak habis pikir.
Raja Jongin memutar bola matanya mendengar ini.
"Lalu siapa lagi?! selama ini aku tidak membiarkan siapapun kecuali penjaga dan anggota kerajaaan memasuki ruang bawah tanah dimana rusa itu aku kurung!"
"Dan kenapa kau mencurigaiku dari semua orang yang bisa kau curigai?!"
"Adikku, apa kau pikir ayah dan ibu akan iseng mengajak rusa itu jalan-jalan sore dan tidak sengaja kehilangan jejaknya?"
Sehun menelan ludah. Ia memandang sekeliling dimana mereka berada sekarang. Setelah Raja Jongin menyaksikan sendiri kandang kosong tersebut, ia memanggil seluruh pasukannya dan menyuruh mereka menggeledah seisi kerajaan. Setiap sudut, bahkan sampai ke hutan kerajaan mereka. Dan hasilnya nihil. Ia pun menyeret Sehun ke ruangan terdekat dimana ia bisa menginterogasi adiknya itu dengan leluasa karena tidak mungkin ia marah-marah di depan pasangan dan mertuanya.
"Nah, kau tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang?" seringai Raja Jongin.
Sehun berusaha memutar otak untuk keluar dari situasi ini. Melihat Sehun kebingungan, Raja Jongin semakin puas.
"Ayo katakan. Atau kau mau bilang kalau rusa itu kebetulan punya dua tangan dan kaki. Apa seperti itu? kau mau bilang kalau rusa itu bisa kabur sendiri, hah?"
Jantung Sehun mencelos. Matanya membulat Jongin menyeringai lebar menyaksikan ekspresi Sehun.
Tahu… dia tahu kalau rusa itu adalah Luhan.
"Apa yang kau katakan? Yang seperti itu tidak ada!" bantah Sehun panik.
"Aku tahu, Sehun. Aku tahu semuanya. Kau pikir, bagaimana aku bisa menangkap rusa itu dan membawanya ke istana ini dengan mudah?"
"Jongin, kau…!"
"Kau harus pintar, Adikku. Mana bisa kau jadi raja kalau sebodoh ini?"
"Kau sudah menyakiti Luhan!" bisik Sehun geram.
"Katakan padaku, dimana Luhan?!"
"Jongin, hentikan!"
Kedua bersaudara itu sudah akan baku hantam apabila suara lemah Kyungsoo tidak memperingatkan mereka.
"Kyungsoo…" Raja Jongin menurunkan tinjunya dan melirik istrinya yang berwajah panik.
"Tidak apa-apa, Sayangku. Kami sudah biasa seperti ini" Raja Jongin menunjukkan senyum manisnya.
"B-baiklah…"
Raja Jongin tersenyum pada Kyungsoo dan berbalik lagi pada adiknya. Seketika senyumnya lenyap.
"Katakan dimana kau menyembunyikan Luhan" ia berusaha agar suaranya serendah mungkin.
"Sudahlah, Jongin! kau sudah mendapatkan Kyungsoo, kan?!"
Mata Raja Jongin menyipit. Ia menjauh perlahan dan mengangkat alisnya.
"Kalau kau pikir dengan melepaskan Luhan akan membuatmu jadi raja dan menggeserku… kau salah besar, Sehun"
Sehun terdiam.
Kaulah yang salah besar, Jongin. Memang akulah yang melepaskan Luhan, tapi sungguh aku sudah tidak berminat dengan perburuan itu lagi…
"Dengarkan aku, Sehun. Aku akan menemukan Luhan apapun yang terjadi. Camkan itu"
Raja Jongin menggandeng Kyungsoo dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sehun yang mulai kalut.
.
Kerajaan barat dihebohkan dengan secarik kertas yang telah disebarkan oleh pasukan istana. Isi kertas itu adalah pengumuman bahwa Raja Jongin telah membuka sayembara dimana ia akan memberikan emas kepada siapapun yang berhasil menangkap rusa langka tersebut. Para pemuda pemudi tua muda semuanya sangat bersemangat mendengar ini karena hadiah yang dijanjikan tidaklah sedikit. Seisi kerajaan barat sibuk menyiapkan senjata untuk berburu rusa yang dimaksud. Waktu tidak ditentukan. Siapapun bebas mengikuti sayembara ini. Membuat seisi kota sibuk, dan ini tidak disukai Sehun.
Pangeran termuda dari kerajaan barat tersebut berdiri di tepi jendela kamarnya yang terletak di menara istana. Dari sana ia bisa menyaksikan para penduduk yang mulai berduyun-duyun meninggalkan kota beserta alat berburu mereka. Tangan Sehun mengepal. Pikirannya kalut. Belum terjawab pertanyaannya tentang berhasilkah Luhan sampai di hutan utara dengan selamat, sekarang ditambah lagi dengan ratusan orang yang berusaha membunuh rusa itu. Ia tak boleh berdiam diri. Ia harus melakukan sesuatu. Luhan bisa terbunuh dan itu adalah terakhir yang Sehun inginkan.
Sehun mengganti bajunya ke busana yang biasa ia pakai saat berburu dan bergegas turun. Dengan tergesa-gesa ia merapikan jubahnya yang masih berantakan. Ia langsung menuju kandang kuda dan mempersiapkan Windy untuk pergi ke hutan utara ketika Raja Jongin berjalan kearahnya. Beberapa pengawal yang menjaga kandang tersebut langsung menunduk hormat pada sang raja. Sehun hanya memperhatikan kakaknya itu dengan tenang.
"Mau kemana?" Tanya sang kakak. Raja Jongin mengangkat alisnya dengan gaya meremehkan. Ia melirik Windy yang –anehnya- gelisah, seakan takut dengan tatapan sang raja.
Sehun memalingkan wajahnya dan akhirnya menjawab. "Hanya berburu"
"Mau mencari Luhan,ya?" Goda kakaknya, membuat Sehun melotot. Mereka berdua saling beradu pandang dengan tegang. Sehunlah yang pertama mengalihkan pandangannya. Ia menunduk, dan setelah beberapa saat, ia berbisik pelan.
"Hentikan, Kak"
Raja Jongin tercengang.
Apa yang baru saja Sehun katakan?
"Apa?"
"Hentikan permainan ini, Kak! Jangan kejar Luhan lagi! biarkan dia hidup tenang! Aku mohon!" Sehun menatap kakaknya dengan tatapan memelas. Sang kakak hanya bisa ternganga. Seumur hidupnya, baru kali ini Sehun memanggilnya 'Kakak'. Sehun bukannya tidak menghormatinya, tetapi memiliki saudara kandung yang usianya tidak jauh atau bahkan sama denganmu… sulit rasanya untuk mengucapkan kata itu. Apalagi kalau kakakmu semenyebalkan kakak Sehun yang satu ini.
"Ja-Jangan coba merayuku!" Raja Jongin mengambil langkah mundur, menjauhi adiknya.
"Aku mohon, Kakak!" air mata Sehun sudah diujung sudut matanya.
"Lagipula ini bukan permainan! Aku sudah berjanji pada Ratu Baekhyun!"
"Aku tidak peduli!"
"Aku peduli…! Aku seorang raja dan aku tak akan menarik kata-kataku!"
Sehun terdiam dan terisak. Ingusnya menggantung di lubang hidungnya. Windy mendekatkan moncongnya ke pipi majikannya, seakan mencoba menenangkan pangeran malang itu.
"Maaf, Sehun. Tapi… Luhan harus kembali ke istana. Mau atau tidak."
Sehun menghapus air mata dengan punggung tangannya dan menatap Raja yang berdiri di hadapannya itu dengan berani.
"Baiklah! Kau bilang siapapun berhak mengikuti sayembara ini,kan?"
"Be-Benar…"
"Kalau begitu, aku, Pangeran Sehun, putra bungsu kerajaan barat, menyatakan secara resmi mendaftarkan diri mengikuti perburuan rusa ini! aku akan menang dan memastikannya selamat! Aku akan membawanya ke istana ini tidak untuk dijadikan sembelihan!"
"Se-Sehun…"
Sehun menaiki Windy yang langsung memekik keras, mengangkat kedua kaki depannya ke udara dengan semangat. Jiwa majikannya yang terbakar seakan telah merasukinya. Raja Jongin menyingkir dengan cepaat sebelum tubuh kuda perkasa itu menabraknya. Ia menyaksikan jubah adiknya berkibar ditiup angin bersamaan Windy membawanya melesat menuju utara.
.
Windy melambatkan langkahnya dengan perlahan. Mereka sudah berlari beribu-ribu kilometer menyusuri hutan utara tanpa henti. Sehun bisa merasakan bahwa kudanya tengah letih. Mereka telah sampai di atas tebing dimana seluruh hutan utara yang hijau nan lebat itu dapat terlihat dari atas sana. Sehun belum pernah menginjakkan kaki disini sebelumnya. Dan ia bertekad akan menggeledah seisi hutan ini sampai di sudut yang belum pernah ia jamah sebelumnya. Ia bersumpah akan menemukan Luhan. Ia telah bersumpah kepada jiwanya sendiri.
Tetapi, meskipun ia telah berikrar seperti itu, Windy tetaplah makhluk hidup yang memiliki batas. Ia membelai-belai surai putihnya dengan lembut, mengetahui bahwa kuda kesayangannya ini tengah kelelahan. Ia menepikan kudanya ke tepi sungai yang bermuara ke air terjun di bawah tebing dan membiarkannya merumput dan minum. Ia memutuskan untuk istirahat.
Hari sudah mulai petang. Sehun menatap bulan yang mulai mengintip dengan malu dari balik awan. Ia mendesah. Sepertinya pencarian untuk hari ini harus diakhiri.
.
Raja Jongin menatap langit gelap berbintang dari menara kamar Sehun. Wajahnya gelisah. Ia tidak menyangka adiknya senekat ini. Dalam soal sifat, ia dan Sehun mungkin sedikit memiliki kemiripan. Sama-sama keras kepala. Apabila mereka sudah menginginkan sesuatu maka ia akan mendapatkannya dengan cara apapun. Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Itulah… yang membuatnya bisa memiliki Kyungsoo. Sedetik kemudian wajahnya muram lagi. Tapi dengan itu juga, Sehun kehilangan Luhan. Ia jadi merasa bersalah.
"Sehun?"
Raja Jongin menoleh dan melihat ayahnya masuk ke kamar adiknya itu.
"Jongin? apa yang kau lakukan disini? Kenapa disini gelap sekali? setidaknya nyalakan lampunya…" mantan penguasa kerajaan barat itu terus mengoceh. "Dimana Sehun?"
Raja Jongin kelihatan berpikir dan menatap keluar melalui jendela lagi. Agaknya, sang ayah merasakan kegalauan putranya. Ia memutuskan untuk mendekat dan mengikuti jejaknya, bersandar di tepi jendela.
"Indah,ya" gumam Raja Joonmyeon.
Raja Jongin melirik ayahnya dan mengangguk dalam diam. Memang benar. pemandangan dari kamar Sehun memang sangat indah. Menakjubkan. Ia bahkan bisa melihat tepi wilayah kerajaan dimana rumah-rumah penduduk yang atapnya terbuat dari jerami berjajar dengan rapi. Bagaikan miniatur. Lampu-lampu dari sudut kota saling berpijar mencoba menyaingi bintang yang seakan dalam jangkauan.
"Sehun pintar memilih kamar" ujar Raja Jongin.
"Rasanya baru kemarin kalian lahir, ah tidak, rasanya baru kemarin aku menikah dan membawa Yixing ke istana ini, dan lihat sekarang kalian sudah sebesar apa"
Raja Jongin terkekeh.
"Ayah kedengaran tua sekali kalau begitu"
Raja Joonmyeon melotot dan memukul bahu putranya pelan.
"Cepat berikan aku cucu, kalau begitu" tuntut sang ayah.
"Ayah tahu itu tidak mungkin,kan? Kyungsoo-"
"Tak ada yang tak mungkin apabila kau memiliki tabib seperti ibumu" Raja Joonmyeon menggerakkan alisnya dengan genit.
"Apa yang sudah Ibu lakukan?" tanya Sang Raja serius.
"Kau tak akan mau tahu apa yang sudah ibumu masukkan ke dalam mangkuk makanan Kyungsoo tiap makan"
Raja Jongin melotot. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.
"Aku hanya berharap ibu tidak salah memasukkan obat" Raja Jongin bergidik.
"Nah, setidaknya sekarang kau bisa berhati-hati" Raja Joonmyeon tertawa keras.
Kini giliran Raja Jongin yang memukul ayahnya.
"Ngomong-ngomong, dimana Sehun?" tanya ayahnya lagi.
Raja Jongin mendesah pelan. Apa yang harus ia katakan pada ayahnya sekarang?
"Pergi berburu, mungkin"
"Ini sudah gelap. Apa dia tidak berencana untuk pulang?"
"Mana kutahu" Raja Jongin hanya bisa mengangkat bahu. Wajahnya resah lagi.
"Apa kau masih memikirkan rusa itu?" selidik ayahnya.
"Bagaimana ayah tahu?"
"Kau sampai membuka sayembara demi rusa itu. Sepenting apa rusa itu untukmu?"
"Itu adalah simbol kemenanganku, Ayah" Sang Raja menegaskan.
"Jangan khawatir. Kau tetaplah raja yang resmi meskipun rusa itu hilang."
"Aku sudah berjanji pada Ibu Kyungsoo untuk menyerahkan tanduk rusa itu padanya!" Raja Jongin menendang-nendang lantai dengan kesal. "Mana bisa aku mengingkarinya."
"Kalau begitu kau harus cepat. Raja Chanyeol dan Ratu Baekhyun akan kembali dalam waktu seminggu."
"Apa?! kembali?!"
"Tentu saja. Mereka masih punya kerajaan timur. Mereka tidak bisa meninggalkan istananya lama-lama,kan?"
Apa yang dikatakan ayahnya semakin membuatnya gusar. Ia harap Sehun terlambat menemukan Luhan…
.
Sudah hampir lima hari Sehun berada di hutan utara dan ia terheran-heran mengapa hutan rimba ini begitu luas!? Rasa-rasanya waktu satu bulan pun tak akan cukup untuknya menjelajahi seluruh hutan ini.
Sehun mengernyitkan dahi menatap pemandangan di sekitarnya. Ia yakin telah melewati tempat ini puluhan kali dalam satu hari ini. Ia melirik Windy yang tengah asyik merumput, tak memahami kekalutan majikannya.
Tersesat…
Sehun yakin ia tersesat. Tapi itu mustahil. Ia sudah berada di hutan ini berhari-hari! Menjadikan hutan rimba ini sebagai alas tidur dan langitnya sebagai atap! Buah-buahan dan satwanya sebagai sarapan, makan siang, dan makan malam! Ini sudah menjadi rumah kedua baginya. Kemampuan berburunya juga sudah semakin terasah. Mana mungkin rute sesederhana ini membuatnya tersesat...
Tiba-tiba, Sehun merasa bulu kuduknya meremang. Ia memegangi tengkuknya. Entah apa yang membuatnya merasa gelisah. Perasaannya mengatakan bahwa ini bukan sesuatu yang baik …
"Mencari sesuatu, Nak?"
Sehun melonjak begitu mendengar suara melengking indah berbisik di dekat telinganya. Ia menoleh ke belakang dan semakin merinding ketika ia tidak menemukan siapapun. Ia berbalik ke depan lagi dan kali ini ia berteriak.
"Woah!"
Seorang pria dengan berjubah hitam berdiri di hadapannya. Separuh wajahnya tersembunyi dalam tudungnya yang juga berwarna hitam. Tetapi ia bisa melihat bahwa bibir tipis yang dimiliki pria itu tengah menyeringai.
"Si-siapa kau?!" tanya Sehun panik. Bagaimanapun, orang ini terlihat mencurigakan.
"Aku?" pria itu mengangkat alisnya. "Aku adalah pemilik hutan ini."
Sehun mengernyit. Pemilik hutan ini?
"Setahuku, pemilik hutan ini adalah raja kerajaan utara…" gumam Sehun.
"Begitukah? Percaya atau tidak. Raja kerajaan utara yang termahsyur itu telah memberikan seluruh hutan ini padaku"
"Siapa sebenarnya kau!?"
"Kau anak muda yang terlalu ingin tahu"
Kini giliran suara lain yang berbisik di telinganya. Suara kecil yang menggemaskan. Tawanya menghipnotis. Sehun melirik ke belakang dan menemukan seorang lagi pria berjubah dan bertudung hitam. Bibirnya yang mungil menyeringai. Menampakkan gigi-giginya yang kecil.
"Ah, Minseok" pria sebelumnya menyapa pria yang bernama Minseok itu. Minseok berjalan ke sisi pria misterius yang pertama. Secara bersamaan, mereka menyingkap tudung yang menutupi separuh wajah mereka. Sehun memperhatikannya dengan napas tertahan dan ia bernafas lega ketika wajah yang ada di balik tudung itu tidak semenyeramkan yang ia kira.
Kedua pria terssebut memiliki tinggi yang hampir sepadan. Pria pertama memiliki sepasang mata elang. Tajam nan indah. Rahangnya begitu tegas. Bagaikan terpahat oleh pengukir handal. Bibir tipisnya semakin tipis ketika ia menyeringai.
Pria yang bernama Minseok, lebih, erm, berisi? Matanya lebar dan pipinya gemuk. Bibirnya sangat mungil. Apabila pria pertama tampak dewasa, maka Minseok kebalikannya. Ia tampak seperti bocah.
"Siapa kalian?" Sehun menatap tajam keduanya.
Baiklah. Selama mereka masih berwujud manusia, tampaknya bukan ancama bagi dirinya.
"Aku, Jongdae, dan Minseok," ia mengedikkan kepala ke arah si gendut. "Adalah pemilik sekaligus penjaga hutan utara ini."
"Lalu…" Sehun menatap keduanya dengan tatapan mencurigakan."Ada perlu apa denganku…?"
"Apa orangtuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun? Apabila kau memasuki wilayah orang, akan lebih baik jika kau mengucapkan salam, Nak."
"Ma-maaf. Selama ini aku tidak pernah bertemu penjaga hutan ini… aku bahkan tidak tahu hutan ini memiliki penjaga!"
"Aku sudah memperhatikanmu berhari-hari dan sepertinya kau sedang mencari-cari sesuatu."
"Tidak! aku hanya berburu saja…"
"Sadarkah kau? Kau memasuki wilayah orang tanpa izin dan seenaknya merusak habitat kami."
Sehun menelan ludah.
"Maafkan aku. Aku hanya mencari temanku yang hilang… dan aku pikir dia ada di hutan ini. Tapi aku sudah mencarinya berhari-hari dan aku masih belum menemukannya"
Jongdae melirik Minseok yang juga meliriknya. Mereka mengangguk dan kembali menatap Sehun.
"Baiklah,"Jongdae berkata dengan bijaknya. "Sepertinya kau bukan orang jahat. Seperti apa temanmu itu? mungkin kami bisa membantu menemukannya."
Sehun tak bisa menahan bulu kuduknya untuk tidak meremang lagi. Jongdae menawarkan bantuannya dengan cara yang aneh. Matanya terbuka lebar dengan seram dan ia tidak berkedip. Ia tidak luput memperhatikan bahwa ia berkali-kali melirik Windy disana…
"Jangan malu-malu, anak muda. Kami paling mengenal isi hutan ini dibanding siapapun. Siapa tahu kami bisa membantumu?" kali ini Minseok yang menawarkan dengan suara yang manis.
Setelah beberapa menit menimbang-nimbang, akhirnya Sehun memutuskan untuk mencobanya, ia sudah terlalu lelah dan lapar ingin bertemu Luhan…
"Rusa. Seekor Rusa paling cantik yang tinggal di hutan utara ini. Aku sedang mencarinya"
Baik Jongdae dan Minseok sama-sama membuka mata menyadari apa yang Sehun cari.
"Jadi rusa itu?" Jongdae terkekeh.
"Kau mengenalnya?" tanya Sehun, tercengang.
"Lebih tepatnya… " Jongdae menggantung kalimatnya dan menatap Minseok. "Sudahlah. Ini bukan untuk kau dengar. Yang penting, sepertinya kami bisa membantumu."
"Benarkah? Kau tahu dimana dia berada? Dia ada di hutan ini,kan?!"
"Kami bisa memunculkan dia disini, kalau kau mau, sekarang juga"
Sehun tercengang. Apakan ini tipuan? Tapi… mereka terlihat sangat mengenal Luhan.
"Y-Ya" Sehun terbata-bata. Ia tidak ingin menunda kesempatan untuk reuni lagi dengan Luhan. "Aku mohon…!"
"Tidak perlu terburu-buru, anak muda." Jongdae tertawa melengking.
"Sebelumnya, aku ingin tahu apa yang bisa kau berikan pada kami."
"A-apa?"
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Begitupun di dalam hutan ini"
"Kami akan mengabulkan permintaanmu, dengan syarat…"
"Kau harus memberikan hartamu yang paling berharga kepada kami"
Tiba-tiba Sehun merasa seperti dirampok. Tapi ketika ia menyadari bahwa ia tidak membawa apapun selain yang menempel di tubuhnya, ia jadi kebingungan.
"Kudamu bagus sekali" Sehun yang masih sibuk berpikir, mengangkat wajahnya dan mendapati Jongdae menatap Windy dengan pandangan lapar, tak lupa dengan menjilat bibirnya.
"Jangan! Aku tidak akan menyerahkan Windy kepada siapapun!" Sehun merentangkan tangannya. Memblokir jalan kearah Windy. Wajah Jongdae seketika berubah seram.
"Lalu apa yang kau punya?!" bentak Jongdae.
"Aku bisa memberimu emas apabila kau mengizinkan aku pulang sebentar-"
"Kami tidak suka menunggu!" suara Jongdae melengking lagi. Sehun jadi ketakutan.
"Tenanglah, Jongdae. Dia tidak semiskin yang aku kira, sepertinya. Dia punya mainan bagus di punggungnya" ujar Minseok dengan tenang.
Sehun menyadari apa yang dimaksud Minseok dan membelai tas yang ia bawa di punggungnya. Tabung berisi persediaan anak panah.
"Busur dan anak panah ini yang kau maksud?"
"Ya. Aku sering melihat orang-orang membawa ini saat berburu. Sepertinya menarik."
Busur dan anak panah ini adalah pemberian ayahnya ketika ia masih kecil. Hadiah karena ia berhasil menguasai ilmu ramuan. Tetapi apabila dibandingkan dengan Luhan… ia yakin ayahnya bisa membuat ratusan bahkan ribuan busur dan anak panah yang sama persisi. Jadi…
Sehun menelan ludah dan meraba tas tabungnya. Ia melepaskan jalinan tali yang mengikat benda itu ke punggungnya dan meletakkannya di tanah denga hati-hati. Ia menatap benda itu agak lama dan kembali menatap kedua pria misterius itu.
"Sudah kuserahkan. Sekarang katakan dimana temanku?"
"Sebelumnya, kau yakin memberikan benda ini begitu saja kepada kami?"
"Ya. Kenapa tidak?"
"Ini senjatamu satu-satunya,kan? Bagaimana kau bisa bertahan hidup apabila kami merebutnya?"
Well, Sehun sepertinya sama sekali tidak memikirkan hal itu. Tapi benda itu sudah tergeletak di tanah dan tekad Sehun untuk bertemu dengan Luhan sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Aku tidak membutuhkan itu. Aku sudah mengenali hutan ini dengan baik, aku tidak akan tersesat atau bertemu binatang buas. Aku yakin akan bisa keluar dari sini dengan selamat, meskipun tanpa senjata" ujar Sehun mantap.
"Anak yang pemberani." Jongdae bersiul. "Aku suka sekali. Baiklah kalau kau merelakan benda berharagamu itu untuk kami. Kami tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan menimpamu setelah kami mengabulkan keinginanmu. Mengerti?"
Sehun menelan ludah. Ia berharap dua orang aneh ini tidak merencanakan sesuatu.
"Aku mengerti," Sehun mengangguk.
Jongdae dan Minseok menyeringai. "Baiklah. Kami juga sudah tidak sabar untuk mengabulkan keinginanmu."
Jantung Sehun berdegup kencang. Ia akan bertemu Luhan lagi…
"Pejamkan matamu, Nak" Minseok menyanyi.
Sehun melakukan seperti yang diminta dan berdoa. Dalam kegelapan, ia mendengar Minseok berkata.
"Asal kau tahu, bukan hanya dirimu yang meminta kepada kami untuk mendapatkan rusa itu."
"Kami harap kau selamat, tapi seperti yang kami bilang sebelumnya, kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu setelah kau kehilangan senjatamu."
"Ini tidak akan mudah. Selamat berjuang, Anak Muda."
Suara terakhir yang ia dengar adalah Jongdae yang berbisik di dekat telinganya. Ia perlahan membuka kedua matanya dan menyesuaikan diri dengan sinar yang berasal entah dari mana. Jongdae dan Minseok sudah tidak ada. Begitu juga busur dan anak panahnya.
Sehun menatap pemandangan di sekitarnya. Tak ada yang berubah. Tetap rimbunan pohon yang menjulang tinggi. Juga tak ada rusa atau hewan apapun. Tak ada. Ia mengernyitkan dahi dan menggaruk tengkuknya.
Kenapa jadi begini?
Samar-samar, Sehun mendengar suara langkah kaki dan ia pun menoleh ke belakang. Jantungnya mencelos. Ia hafal betul suara ini. Suara langkah kaki ringan yang menggetarkan sudut hatinya. Ia memejamkan mata dan menajamkan telinganya.
Ia yakin, ini Luhan.
Suara langkah kaki itu semakin dekat dan dekat. Derapnya tak beraturan. Seolah berlari. Sehun mengernyitkan dahi ketika ia mendengar suara lain bersamanya. Suara langkah yang lebih tebal dan dalam jumlah banyak.
Kuda?
"HAHAHAHAHA MAU LARI KEMANA KAU, CANTIIIIIIIKKK?!"
Sehun melompat mendengar derap langkah kuda yang melintas tepat di depannya. Ia melempar dirinya ke semak-semak untuk berlindung. Ia melihat beberapa manusia menunggangi kuda. Masing-masing membawa baik panah maupun pedang. Wajah mereka jelek, bengis dan kejam.
Mereka terlihat mengejar sesuatu dan ia melotot ketika menyadari bahwa para pemburu itu membentuk suatu lingkaran mengelilingi objek yang tepat berada di tengahnya. Seekor rusa.
Rusa itu masih memiliki rangkaian bunga di atas kepalanya. Tanduknya diselimuti warna kehijauan. Tapi Sehun tak akan pernah lupa bagaimana wujud rusa kesayangannya itu.
Luhan.
.
Antara lega dan khawatir, Sehun meremas dedaunan yang menutupi sosoknya. Luhan terlihat begitu ketakutan. Ia merunduk dan memasang kuda-kuda. Entah apa yang direncakan rusa itu, tapi ia tidak akan menang melawan manusia-manusia bar-bar ini.
"Sudah bunuh saja binatang ini!" teriak salah seorang pemburu. "Aku sudah lelah main petak umpet!"
"Apa kau bodoh? Raja memerintahkan untuk membawa rusa ini hidup-hidup," jawab temannya.
"Tapi ini sungguh melelahkan… "
"Kau boleh mundur kalau begitu. Toh, itu akan menguntungkan bagi kami. Kami tidak perlu membagi emasnya denganmu"
Mendengar ini, pemburu itu langsung terdiam. Jangan bercanda. Siapa yang akan membiarkan emas melayang dari genggamannya? Rusa ini adalah jaminan mereka akan kaya…
"Rusa ini sungguh menyebalkan. Dia kabur seolah mengetahui siasat kita…"
"Mungkin karena itulah rusa ini dicari-cari."
Seorang pemburu turun dari kudanya dan mendekati rusa itu. Ia memegang sebilah pedang yang berkilat-kilat di tangan kirinya. Seorang pemburu turun lagi dari kudanya dan kini membawa tali.
Si rusa langsung mundur ketakutan. Ia sudah dikepung. Ia tidak bisa maju atau mundur. Kemanapun sama saja, mati. Tapi ia tak akan dibunuh… kalau pendengarannya tidak salah, Raja menginginkannya hidup-hidup.
"Bunuh saja rusa ini. Aku dengar, Raja hanya menginginkan tanduknya yang indah."
"Kau yakin?"
"Ya. Mari kita lakukan," Si pemburu menyeringai. "Aku sudah muak dengan binatang sialan ini."
.
Sehun panik. Ia masih bersembunyi di balik semak-semak tinggi. Mereka benar-benar akan membunuh Luhan! Ini tidak boleh terjadi. Ia meraih ke belakang dan jantungnya mencelos ketika tangannya hanya meraih udara kosong.
Sial …! Ia lupa sudah memberikan busur dan anak panahnya kepada Jongdae dan Minseok! Sehun menggigit bibirnya dan berpikir. Apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk menolong Luhan?!
Ia melihat sekitarnya dan seketika lampu di otaknya langsung menyala. Sehun menatap tajam ke depan lagi. Ke arah targetnya. Tidak ada salahnya dicoba. Inilah saatnya membuktikan keahliannya sebagai petarung jarak jauh paling handal di kerajaan barat.
.
Sang pemburu mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi seolah ingin memenggal kepala si rusa. Hewan malang itu memekik ketakutan. Bersiap merasakan ujung pedang tajam itu menyentuh dagingnya dan tiba-tiba …
DZIGH
Gerakan tangan si pemburu terhenti ketika sebuah benda keras dilemparkan ke kepalanya tanpa ampun. Pemburu lainnya menatap temannya keheranan.
Apa yang terjadi?
Si pemburu terduduk di rumput dan memegangi kepalanya yang berdarah. Ia mengaduh-aduh kesakitan.
"Sialan…! siapa yang berani melempar kepalaku dengan batu?!" teriaknya. Ia melotot pada teman-temannya yang saling bertukar pandang bingung. Mereka bangkit dan mencari-cari si pelaku tetapi tak menemukan siapapun di sekitarnya.
"Siapa itu?! Brengsek! Keluar sekarang juga!"
Batu, kini tak hanya sebutir, melayang lagi dan menghujani para pemburu itu. Para pemburu itu panik dan buru-buru melindungi kepalanya.
"LUHAN! LARI! CEPAT!"
Luhan yang masih kebingungan mendengar suara menyuruhnya untuk lekas meninggalkan tempat itu.
"JAGA RUSA ITU!" salah seorang pemburu berteriak. Ia masih berusaha meraih rusa itu ketika ia masih dihujani batu-batu tanpa henti. Sebuah batu yang lumayan besar kini melayang dan tepat mengenai dahinya. Darah membanjiri pelipisnya.
"ARGHHHH!"
Seseorang dibalik semak-semak yang menjadi pelaku keonaran ini, berdecak kesal dan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia melihat hasil karyanya dimana para pemburu itu masih berusaha melindungi kepalanya. Dan ia menemukan seekor rusa yang terlihat kebingungan berada di tengah-tengahnya.
"BODOH! CEPAT LARI, LUHAN!"
Rusa itu membelalak menyaksikan seseorang yang sangat ia rindukan. Berdiri dengan gagah menggenggam butiran batu di kedua tangannya.
Sehun …!
Sehun dan Luhan saling memandang di tengah suara-suara kesakitan itu. Masing-masing terhanyut dalam kenangan. Tanpa sadar, Sehun maju dan mengangkat tangannya. Ia ingin memeluk Luhan. Ingin sekali …
"Kau! Kau akan mati, Bocaaaaah!"
Lengah, seorang pemburu bangkit dan menerjang Sehun hingga terjengkang. Ia mencengkeram bagian depan baju sang pangeran dan memukuli wajahnya yang tampan. Suara tulang beradu dengan tulang bisa terdengar. Memekakkan telinga. Pemburu lain tidak tinggal diam. Mereka ikut mengeroyok Sehun. Jumlahnya sekarang semakin tidak seimbang. Satu banding sepuluh. Sehun babak belur tanpa bisa melawan. Mungkin benar ia memang petarung jarak jauh terhebat, tapi tanpa busur dan anak panahnya, ia tidak bisa apa-apa …
Suara pekikan merana seekor rusa terus terdengar beriringan dengan tulang yang remuk. Luhan menghentak-hentakkan kaki depannya dengan marah.
"Lari…! Ohok! Luhan-"
Sehun masih berusaha meyuruh Luhan kabur yang tidak mungkin rusa itu lakukan. Ia menyaksikan Sehun bersimbah darah, sekarat, ditangan manusia-manusia biadab itu.
Tidak… Ia tidak sanggup menyaksikan ini…
Rusa itu menangis diantara pekikannya. Tangisannya melengking menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Matanya yang berair berubah marah. Kedua matanya yang bulat nan indah berkilat penuh murka. Ia merendahkan kepalanya yang indah dan memasang kuda-kuda. Kemudian ia melesat menuju para pemburu yang sedang bersenang-senang itu. Ia tidak melambatkan lajunya meskipun punggung para pemburu itu ada di hadapannya. Karena memang itulah tujuannya.
Kini giliran para pemburu itu yang menjerit kesakitan ketika tanduk rusa yang tajam itu menggores kulit mereka. Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, layaknya seekor banteng, ia menyeruduk manusia-manusia itu.
"RUSA INI HARUS DIBUNUUUUUUUUUH!"
Tetapi Luhan tidak gentar. Ia terus menerjang mereka, membuatnya terjengkang dan terjerembab. Ketika tanduknya berhasil melukai semua kaki sehingga cukup membuat mereka tidak mampu berlari, ia berlari kearah Sehun yang nyaris tidak sadarkan diri di seberang rumput sana.
Luhan menyaksikan Sehun, pangerannya, bersimbah darah disana-sini. Wajah tampannya sudah tak beraturan. Bibirnya sobek dan dari hidungnya tak henti-hentinya menetes darah. Luhan menduduki dada Sehun dan bahkan menendang-nendangnya dengan dua kaki depannya agar Sehun membuka matanya. Ketika ia hanya dijawab dengan rintihan kesakitan, tangisan Luhan nyaris meledak lagi.
Rusa itu melengking, menyuarakan keputusasaannya kepada langit merah. Ia menatap pangerannya lagi dan menjilat-jilat darah yang menodai wajahnyayang elok. Ia memukul-mukul wajah Sehun dengan moncongnya hingga wajahnya tergolek ke kiri dan kanan.
"Sialan…! aku bersumpah akan mencincang rusa ini nanti…!" seorang pemburu merayap menghampiri mereka. Luhan panik. Seketika, ia mengubah dirinya menjadi manusia dan mengangkat tubuh Sehun yang tergolek lemas dari tanah.
Para pemburu tersebut tercengang menyaksikan sosok Luhan yang tiba-tiba muncul dan menyelamatkan Sehun.
"Apa-apaan itu?!"
"Dia- manusia?!"
"Jangan bengong! Dia bisa kabur!"
Pemburu yang berada paling dekat dengan posisi Luhan, meraih tangannya dan hendak menahan tangannya, tetapi Luhan lebih cepat dan menendang kepala pemburu itu berkali-kali. Luhan menggeram dan menatap mereka dengan marah. Ia mengangkat Sehun dan membawanya di punggungnya yang kecil, tanpa menghiraukan teriakan marah para pemburu itu, ia berlari dan berlari secepat kaki kecilnya mampu membawanya.
.
"Sehun! Bangun! Ayo buka matamu….!" Luhan menampar-nampar pelan wajah Sehun.
Luhan memutuskan untuk berhenti berlari ketika ia merasa jarak antara dirinya dan para pemburu itu sudah agak jauh. Selain kelelahan membawa Sehun di punggungnya, ia mengkhawatirkan keadaan pangeran itu. Sehun masih belum sadarkan diri dan nafasnya tidak beraturan. Ia membaringkan Sehun di pangkuannya. Pangeran itu tetap bergeming meskipun ia sudah memanggil-manggilnya berkali-kali.
"Sehun…" Luhan terisak-isak. "Aku mohon buka matamu…jangan mati…! Jangan mati!"
Air mata Luhan bagaikan air hujan yang berjodoh dengan Sehun sebagai muaranya. Suaranya sampai serak memanggil-manggil namanya. Sehun tak mau juga bangun dan ini mulai membuat Luhan ketakutan …
Luhan menyeka air matanya dan merebahkan kepala Sehun di atas rumput. Ia memegangi pipi Sehun dan mendekatkan bibir mereka. Luhan tidak tahu apa yang ia lakukan. Hanya saja, ia menyadari bahwa Sehun masih bernafas, hanya saja nafasnya lemah.
Luhan membuka mulut Sehun dan menghembuskan nafas ke rongga mulutnya. Ia memompa oksigen ke dalam tubuh Sehun berharap ini sedikit membantu. Dan benar saja, Sehun tersedak kemudian terbatuk-batuk. Luhan mengangkat kepalanya menjauh dan memperhatikan Sehun mulai sadar sedikit demi sedikit.
Sehun membuka matanya perlahan. Samar-samar, ia melihat wajah seseorang yang sudah lama ia rindukan. Tetapi wajah itu menangis. Matanya marah dan bengkak, wajahnya juga tergores di sana sini.
"Luhan…?" bisik Sehun lemah.
Wajah itu tersenyum. Ini semakin membuat air matanya tak terbendung lagi.
"Syukurlah…" Luhan terisak-isak.
"Apakah Luhan… baik-baik saja…?" tanya Sehun.
"Jangan sok keren begitu! Kau sudah babak belur begitu tapi masih sempat mengkhawatirkan orang lain?!"
"Hah…? Lu-Luhan-"
"Lihat dirimu! Berantakan seperti itu! Apa ini pangeran kerajaan barat yang aku kenal?!"
Sehun mengernyitkan dahi melihat Luhan yang menangis tak terkendali. Suaranya bahkan teredam oleh isakannya. Ia menangis sambil menutupi kedua matanya dengan lengannya kirinya.
"Hei, jangan menangis, Bodoh. Kau kelihatan jelek sekali sekarang," Sehun masih sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini. Luhan melotot dan memukul perut Sehun. Tetapi diluar dugaan, Sehun memekik kesakitan dan memegangi perutnya.
"Ouch…" Sehun merintih.
"Ma-maaf, Sehun…! Kau baik-baik saja?!"
Sehun melepas tangan yang menutupi salah satu sisi perutnya dan mengangkat kepalanya sedikit untuk memeriksa bagian tubuhnya itu. Yang memekik tertahan adalah Luhan. Telapak tangannya penuh dengan darah. Ia teringat salah satu pemburu tadi menusuknya dengan belati saat ia melawan tadi.
"Sehun… tidak mungkin…" Luhan menatapnya nanar.
"Heh, aku pikir apa. Pantas rasanya sakit sekali" Sehun malah tertawa.
"Ini bukan saatnya bercanda, Bodoh…" Luhan kebingungan bagaimana cara menutup luka di perut Sehun itu. Ia nyaris saja merobek jubah Sehun agar darahnya tidak mengalir terus. Tetapi Sehun hanya tersenyum dan menghentikannya.
"Dimana rusaku yang cantik? Aku tidak mau melihatmu menangis dan jadi sejelek ini" Sehun berusaha mencairkan suasana.
"Kenapa kali ini kau menolongku lagi? bukankah aku sudah mengatakan hal yang kejam tentangmu…?"
"Benarkah? Belakangan ini ingatanku memburuk"
"Aku sudah menyebutmu pengecut dan penipu…"
"Oh ya? Yah, mungkin itu memang benar…"
"Bahwa kau telah menipuku?"
"Bukan… aku yang pengecut"
Nafas Sehun mulai lemah lagi. Rasa sakitnya sudah tidak tertahankan lagi. Darah terus mengalir. Matanya pun mulai meredup… Ia menatap Luhan yang masih menangis pelan. Ia tersenyum dan membelai rambut Luhan yang berwarna kecokelatan. Ia memberanikan diri menyentuh pipinya, yang langsung menyemu merah.
"Hei, Luhan" panggilnya.
"Ya…?"
"Aneh,ya. Aku memang gagal jadi raja dan itu seharusnya membuatku kesal, tapi entah mengapa aku merasakan yang sebaliknya," ujar Sehun tiba-tiba.
"Kenapa…?"
"Awalnya aku tidak tahu tapi kemudian aku mengingatmu dan bersyukur bahwa… bahwa aku bisa bertemu denganmu."
Luhan terperangah. Ia menatap Sehun dengan tatapan bingung.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Sehun…?" tanya Luhan.
"Uhuk…! Aku-"
"Jangan bicara lagi! Aku akan membawamu pulang! kau harus segera diberi pertolongan…!"
Sehun keras kepala. Ia malah mengangkat tubuhnya dan duduk di hadapan Luhan.
"Aku bersyukur bisa melihatmu lagi, tapi sepertinya waktuku hanya sampai disini" Sehun tersenyum getir.
"Dasar bodoh! Jangan mengatakan hal yang bodoh lagi! aku tidak akan memaafkankan diriku sendiri apabila terjadi sesuatu padamu…"
"Akulah yang lebih menyesal apabila aku tidak berhasil menyelamatkanmu kali ini."
Luhan sudah tidak mampu mengatasi kekeras hatian pangeran ini. Ia menghela nafas.
"Kenapa kau sampai bertindak sejauh ini demi menolongku…?"
Sehun terdiam. Ia menyadari bahwa ia tak lagi sanggup membuka matanya dengan benar. Kesadaran mulai menjauhi tubuhnya.
"Kau mau tahu?" bisik Sehun.
"Apa kau akan memberitahuku?"
Kalau ajalnya memang cuma sampai disini…ia tidak keberatan menghabiskannya di samping Luhan.
Dengan sangat perlahan, Sehun berusaha menyeret tubuhnya dan mendekati Luhan. Ia menatap kedua bola mata yang indah dan berwarna cokelat terang itu dengan sendu. Ia meraih tengkuk Luhan dan mendekatkan bibir mereka. Luhan tak mampu mengelak ketika Sehun menautkan bibir mereka.
Ciuman ini sama dengan ciuman sebelumnya. Dimana matahari tak mampu mengintip mereka karena bunga matahari yang begitu tinggi. Luhan memejamkan mata dan membiarkan Sehun menciumnya. Tak ada keraguan didalamnya. Luhan mampu merasakan ketulusan seorang pangeran berhati mulia dan pemberani dalam ciuman itu.
Luhan tak kuasa membendung air matanya ketika ia menyadari sesuatu yang mulai meruntuhkan hatinya. Jawaban dari semua keraguan yang ia tujukan pada Sehun selama ini. Ia pun memperdalam ciuman itu dan terisak. Air mata Luhan menetes dan bermuara ke dalam bibir mereka yang saling bertaut. Luhan merasakan bibir Sehun menjauh perlahan. Luhan bisa merasakan hembusan nafas Sehun yang makin melemah menerpa kulit wajahnya. Selama beberapa saat, mereka tetap sedekat itu, sampai …
"Aku… mencintaimu."
Luhan semakin terisak mendengar bisikan lemah Sang pangeran. Kemudian ia merasakan tubuh Sehun lumpuh di dadanya. Tangis Luhan pecah lagi. Ia memeluk erat tubuh Sang pangeran di dadanya. Setelah itu, Sehun tak pernah menyuruh Luhan untuk berhenti menangis lagi.
"Sedang bersenang-senang, ya, Cantik?"
Jantung Luhan mencelos ketika mendengar suara bengis itu lagi. Ia membuka mata dan mendapati pemburu-pemburu sebelumnya telah mengepungnya. Tunggu, ia yang salah atau jumlah mereka semakin bertambah?
Luhan menarik tubuh lemas Sehun semakin erat ke tubuhnya. Ia menatap para pemburu itu dengan tatapan membara. Luhan tidak takut. Tidak akan takut. Ia akan menghadapi manusia biadab yang sudah merampas Sehun darinya. Ia akan minta perhitungan dan itu tidak akan mudah bagi mereka.
"Tidak kusangka, ternyata rusa itu adalah seorang manusia!"
"Tidak heran dia begitu pandai mengelabui kita."
"Kemarilah sayang… kekasihmu sudah mati,ya?!"
Luhan mendesis marah. Ia membaringkan tubuh Sehun dengan sangat hati-hati di rerumputan, tak lupa setelah mengecup puncak kepalanya, dan bangkit dengan gagah berani. Ia melangkah ke depan, meninggalkan Sehun di belakang dengan aman.
"Kalian bukan manusia…!" desisnya marah.
"Kata seseorang yang bahkan tidak jelas apakah dia manusia atau seekor rusa" ejek salah seorang pemburu.
Luhan merapatkan bibirnya. Wajahnya memerah mendengar cemoohan itu. Komplotan pemburu itu tertawa terbahak-bahak. Luhan menghentakkan kakinya keras-keras hingga membuat mereka berhenti tertawa.
Luhan tak pernah semarah ini dan ketika ia marah, kau akan sangat menyesal sebelum menyadarinya.
"Aku memang bukan manusia ataupun hewan. Tapi setidaknya aku masih punya hati nurani!"
Luhan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepalanya ke udara secara tiba-tiba. Ia memejamkan kedua matanya. Wajahnya begitu tenang. Para pemburu itu saling melempar pandang heran akan tingkah rusa itu.
"Oi! Kau mau apa? mau menunjukkan pertunjukkan sirkus,ya?"
Para pemburu itu tertawa terbahak-bahak lagi. Tetapi Luhan tidak menggubris mereka dan terus memusatkan pikirannya. Ia sudah lama tidak melakukan ini, karena itu ia harus konsentrasi.
Luhan menggerakkan jemarinya sekilas dan batupun melayang. Benda itu mengenai salah satu kepala pemburu, membuatnya terkejut.
"Siapa yang melemparku?!" teriaknya marah.
Luhan membuka mata dan menyeringai.
Berhasil…
Kali ini, Luhan menatap bongkahan batu yang lumayan besar kemudian mengayunkan tangan kirinya ke arah para pemburu. Ajaibnya, batu itu langsung bergerak dan melesat menuju mereka dengan deras. Mereka pun panik dan langsung berlarian menghindar. Tetapi Luhan belum selesai. Ia menatap bongkahan batu terbesar dan mengayunkan kedua tangannya sekaligus ke arah para pemburu itu. Suara benturan benda keras disusul jeritan kesakitan meramaikan hutan utara sore itu. Luhan benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk memusatkan konsentrasi pada benda-benda di sekitarnya. Beberapa pemburu yang belum tumbang mencoba mencegah Luhan. Tetapi ia bersiaga dan kali ini melempar pandangannya ke arah sebuah pohon yang batangnya cukup besar. Ia mengarahkan kedua tangannya pada pohon itu dan meremas telapak tangannya. Luhan mengerahkan tenaga terakhirnya untuk mencabut pohon itu dari tanah. Ketika ia menyadari bahwa pemburu itu semakin dekat, ia berteriak dan dalam satu hentakan kakinya, ia berhasil mengangkat pohon itu. Ia membuat gerakan melempar dan pohon itupun melesat menuju mereka. Menabrak tubuh mereka tanpa ampun. Suara berdebam terdengar, membuat burung-burung meninggalkan tempat hinggapnya. Luhan terengah-engah, ia pun roboh bertumpukan kedua kaki dan tangannya.
Lelah. Hanya itu yang Luhan rasakan. Ia hanya pernah mecoba kekuatannya ini sekali saja dan itu sudah cukup membuatnya jera. Tetapi kali ini, ia bersyukur masih memiliki satu-satunya kekuatan yang bisa ia andalkan. Ia memperhatikan sekelilingnya. Para pemburu itu tumbang tak sadarkan diri. Luhan bernafas lega. Kemudian, ia menyeret tubuhnya yang letih ke tempat dimana Sehun tergeletak. Wajahnya berubah sedih lagi.
"Sehun…" panggilnya.
Luhan hampir meraih tangan Sehun yang sudah dingin ketika ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Kulit tubuhnya mulai ditumbuhi bulu-bulu cokelat lebat. Kaki dan tangannya mulai berubah menyerupai rusa. Berbeda dari biasanya, kali ini transfromasinya terasa sungguh menyakitkan.
"Ada apa ini?!" Luhan panik.
Luhan berubah menjadi seekor rusa lagi dan kebingungan disana. Sekarang ia merasa seluruh tubuhnya seperti dibakar. Bulu-bulu cokelat yang tumbuh dengan cepat itu kini mulai hilang dengan kecepatan yang sama. Ia berubah kembali menjadi manusia. Yang membuatnya aneh, ia tak lagi mengenakan pakaian yang biasanya langsung muncul ketika ia berubah kembali jadi manusia.
Luhan berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka seutuhnya. Ia mulai panik dan kebingungan mencari sandang untuk ia pakai sementara. Belum selesai ia berpikir, kini sakit kepala hebat menyerang kepalanya. Ia merasa kedua tanduknya seakan dicabut dengan paksa. Rasanya kepalanya mau lepas!
Luhan menggeram kesakitan dan memegangi kepalanya dan tangan itu hanya menemukan rambutnya. Luhan membelalak.
Kemana perginya dua tanduk di kepalanya?!
Ia meraba telinganya dan ia menyadari bahwa telinganya merupakan telinga manusia! Bukan telinga lebar yang berbulu seperti yang biasa ia miliki …
Belum habis keheranan yang ia rasakan, suara teriakan manusia terdengar lagi. Luhan tercengang dan berusaha kabur. Ia tidak mengenakan sehelaipun benang! Ia menutupi tubuhnya dan berlari ke semak-semak yang tinggi ketika ia menyadari bahwa ia telah meninggalkan tubuh Sehun …
Luhan menimbang-nimbang akan menyeret Sehun dari sana atau mempertontonkan tubuhnya kepada manusia yang akan datang sebentar lagi … Luhan tidak sempat menyelesaikan perang di hatinya ketika derap langkah kuda kembali membahana. Luhan menyaksikan beberapa pasukan berpakaian perang dengan senjata lengkap, turun dari kudanya.
"Woah…! Tempat ini berantakan sekali!"
"Sepertinya baru saja ada peperangan disini…"
"Mereka bukan pemburu dari kerajaan kita,kan?"
"Apa mereka sudah mati?"
"Entahlah…"
"Tunggu!"
"A-ada apa?"
"Bu-bukankah ini… pangeran Sehun?!"
"Kau yakin?!"
"Cepat kemari!"
Mereka mengerumuni sesosok tubuh yang terluka parah itu dan memekik tertahan.
"Bagaimana bisa pangeran Sehun ada disini?!"
"Dia sekarat!"
"Apa dia sudah mati?"
"Hanya ratu Yixing yang bisa memastikannya"
Para Pasukan dari kerajaan barat itu mengangguk bersamaan dan mengangkat tubuh pangeran kerajaan mereka itu ke atas kuda. Dengan disangga dua pasukan, mereka membawanya pulang menuju istana.
Luhan menatap pasukan itu menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan di balik rimbunnya pepohonan.
"Sehun… semoga kau selamat…" bisik Luhan lirih.
-to be continued-
Silahkan hujat author karena kelamaan update. bener kok nggak apa-apa…maaf dan terima kasih kepada readers yang masih (syukur-syukur) mau review chapter ini setelah lama hiatus. Oke. Chapter depan adalah chapter terakhir! hohohohoo terima kasih atas dukungannya selama ini! see ya my lovely readers :* :*:*
