.

.

Taiyou no Uta

(A Song to the Sun)

.

.


Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.

Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!


Music:

Angel by Super Junior KRS+DE


.

"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."

"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."

"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."

.


Malam semakin larut.

Di luar sana jutaan bintang kekeuh menunjukkan dirinya sebagai penguasa malam. Semakin menenggelamkan bulan yang hanya memantulkan sinar redup sang mentari. Sesekali angin musim panas yang bersuhu menusuk menyela, menghantar rasa dingin di tiap-tiap bagian bumi yang dilaluinya.

Kyuhyun menghela nafas lelah. Kembali menyamankan tubuhnya pada sandaran dinding disamping jendela. Hampir setengah jam lebih dia sudah menunggu di sini. Dalam lorong sepi yang menghubungkan training room khusus dengan lift di lantai tujuh. Entah untuk yang ke berapa, mata sewarna malam miliknya mengalihkan pandang ke arah pintu cokelat yang membatasi pandangannya dari apa yang terjadi didalam.

"Semoga kau baik-baik saja hyung." Gumamnya lirih.

Kyuhyun khawatir sekarang, tentu saja karena yang ada didalam sana adalah Lee Sungmin yang tengah di 'audisi' langsung oleh sang pemimpin SMEnt. Kyuhyun sangat mengerti, atasannya itu mempunyai lidah yanng cukup ―sangat tajam. Bukan tidak mungkin sang 'bos besar' akan berkomentar 'pahit' dan membuat mental hyungnya down.

Sungmin memang berbakat, tapi―

"Jeongmal gomawo hyungnim."

Suara tenor yang menggema membuat sang namja yang masih memakai pakaian semi formal itu menoleh. Mendapati hyung manisnya yang kini membungkuk pada sang manager.

"Ne. Apa kau bisa pulang sendiri? Aku ―Oh? Kyuhyun-ah? Kau sudah kembali rupanya. Baguslah kalau begitu, kau segara antar Sungmin-ah pulang. Hyung masih ada sedikit urusan di dalam. Kalian baik-baik, ne? Hati-hati di jalan. Annyeong."

Leeteuk langsung menutup pintu tergesa. Membiarkan dua dongsaengnya kembali berhadapan dengan saling menukar tatapan aneh yang terlukis di masing-masing wajah. Kyuhyun berdehem pelan setelahnya. Merasa sedikit 'aneh' saat sepasang mata hazel itu menatapnya datar.

"Ng.. bagaimana hyung? Kau berhasilkan?" bodoh! Kenapa kau terdengar seperti meragukan kemampuannya Kyuhyun? ―rutuknya dalam hati. Namja tampan itu baru berniat kembali mengulang sapaannya saat dirasa satu pelukan erat menyapa tubuhnya sedetik kemudian.

"Hyung―"

"Mereka bilang 'tidak mengecewakan' Kyu. Mereka bahkan bilang bagus!"

Suaranya terdengar lirih, tapi Kyuhyun masih mendengarnya jelas. Dia tersenyum, segera membalas dekapan erat Sungmin dengan satu pelukan hangat yang sama. Kyuhyun tahu hyungnya ini masih larut dalam 'keajaiban kecil'nya. Mungkin terlalu bahagia dengan dengan apa yang terjadi beberapa menit lalu.

Yah.. yang penting Kyuhyun sekarang tahu kalau Sungmin masih baik-baik saja.

"Bukankah sudah kubilang? Hyung pasti berhasil. Kau memang penyanyi yang hebat Minnie hyung." tukasnya lembut. Namja yang sedari tadi menyurukkan wajah di dadanya perlahan mengangkat kepala. Menatap Kyuhyun dengan sepasang foxy eyes yang kini terlapisi bongkahan kaca bening.

Tangis harunya akhirnya muncul ternyata.

Sungmin tersenyum lembut. Perlahan menangkupkan kedua tangannya di raut menawan sang dongsaeng. Ditariknya perlahan tangannya, bermaksud mendaratkan satu kecupan lembut di pipi Kyuhyun. "Terimakasih." Bisiknya.

"Terimakasih telah membantuku sejauh ini. Terimakasih untuk selalu ada di sampingku. Aku.. aku benar tidak tahu harus membalasmu seperti apa Kyuhyun-ah. Rasanya semua yang kupunya tidak akan cukup untuk melunasi 'hutang'ku padamu."

Kyuhyun terkekeh pelan. Ganti menangkup pipi chubby hyungnya dalam satu gerak lembut yang sama. Namja itu merendahkan kepalanya. Memposisikan wajahnya sedekat mungkin untuk mengamati bola mata yang kini tengah mengerjap terkejut.

"Aku tidak melakukan apapun untukmu. Belajarlah untuk menghargai kemampuanmu sendiri hyung. Kau memang berbakat. Aku hanya memberimu kesempatan untuk menyalurkannya. Dan itu sama sekali bukan apa-apa."

"Tapi―"

"Ssstt.. percayalah. Semua ini hasil usahamu sendiri. Dan kalau kau masih bersikeras untuk 'berterimakasih' padaku, cukup kabulkan tiga permintaanku." Kyuhyun menyeringai. Membawa bibirnya untuk mengecup lembut pipi putih Lee Sungmin, sebelum mulai menjauhkan wajahnya kembali.

"Nah, permintaan pertama ―ayo kita rayakan keberhasilan hyung kali ini!"

.

.


Satu hela nafas lelah terdengar dalam ruangan itu.

Leeteuk ―yang tersebut tadi tengah menatap nanar pada sang atasan. Kembali melayangkan tatapan memohon yang dia pun sendiri tahu, kalau itu tidak akan mempan dihadapan sang pemimpin tertinggi SMEnt itu. "Bisa tolong perjelas maksud anda seongsaengnim? Aku.. aku masih belum terlalu paham dengan keputusan anda tadi."

Bohong. Dia paham, Leeteuk sangat paham malah. Hanya nurani lelahnya yang menolak. Berusaha membuat 'usaha mustahil' macam berpura-pura tak paham dihadapan sosok berkacamata di depannya.

"Bagian mana dari 'Lee Sungmin akan memulai debutnya pada SMtown japan bulan depan' yang tidak kau mengerti Jungsoo?"

Jawaban tenang tanpa nada bersalah itu tak urung membuatnya mengepalkan kedua tangan erat. Dihirupnya dalam udara sekitar yang terasa semakin habis itu. Berusaha membuat suaranya tetap tenang saat kembali berujar "Semuanya. Aku tak paham dengan maksud anda untuk mendebutkan seseorang dalam konser sekelas SMtown. Bukankah itu sama saja cari mati? Mendengar ini, aku jadi ragu apa benar anda ingin Sungmin melakukan debut atau sekedar memberinya harapan agar sedikit senang dan berakhir dengan 'jatuh' setelahnya."

Satu kekehan terdengar, nampaknya sang pemimpin sama sekali tidak terusik dengan sindiran bernada sinis dari anak didiknya barusan. "Lalu apa maumu? Mendebutkannya setelah training selama lima atau enam tahun?"

"Tentu saja tidak. Tapi setidaknya―"

"Dia tidak se-istimewa itu untuk bisa mendapat perlakuan seperti itu." Tegas Sooman datar. Satu pandangan tajam dilayangkan pada sang manager yang kini menunduk. Reflex, saat mengetahui sosok CEO ini telah sampai pada batas kesabarannya.

"Tapi tadi anda bilang―"

"Dia memang berbakat. Tapi di dunia ini orang seperti itu juga mudah ditemukan."

Leeteuk menghela nafas―lagi saat ucapannya kembali dipotong. Semakin menyadari adanya fakta yang terlontar dari barisan kalimat barusan. "Anda... benar." Desahnya diakhir.

"Park Jungsoo." Satu panggilan bernada lunak mampu membuat Leeteuk menaikan wajahnya. Memberanikan diri untuk kembali menyapa oniks tajam sang atasan. "Kau anak didikku yang paling berbakat. Aku tahu bagaimana kemampuanmu menilai seseorang. Karenanya aku memberi kesempatan ini pada Lee Sungmin."

Sooman kembali melanjutkan "Aku tadi terkejut bukan karena bakat yang dimilikinya. Kalau hanya 'bakat', hampir semua murid yang menjalani training disini juga memiliki hal yang sama. Aku terkejut karena dia memiliki sesuatu yang 'lain'. Keistimewaan yang―mungkin membuatnya pantas untuk menyandang gelar pemberianmu kelak. Dia memilikinya, karena itu aku menyuruhnya debut saat SMtown nanti. Belajarlah untuk mempercayai kemampuan 'anak asuhmu' Jungsoo."

"Aku mengerti, seongsaeng."

"Tidak, kau belum mengerti." Sang tertinggi kini mengangkat wajahnya angkuh. Menatap penuh penilaian pada sang murid yang sekarang mengernyit tak paham. "Kalau kau benar-benar mengerti, apa pendapatmu jika aku menginginkan Lee Sungmin itu untuk debut bersama Super Junior KRY nanti?"

"Apa maksud anda Seongsaengnim?"

Kali ini bukan Leeteuk yang menyahut, melainkan Yesung, yang sedari tadi hanya diam dan menonton jajak pendapat antar rekan dan atasannya. "Kau sudah terlalu lama istirahat Jongwoon. Sudah saatnya kejayaan KRY bangkit. Lagi pula momentnya sangat tepat. Aku sudah menunggu lama untuk membentuk formasi baru kalian." Jelas sang atasan singkat.

Yesung menggeleng tak percaya sementara Leeteuk sekarang terduduk. Tak kuat menyangga kakinya yang lemas saat mendengar satu titah terakhir tadi. Dia takut. Terlalu takut jika dongsaeng barunya itu harus menyanyi di panggung pertamanya bersama mereka ―KRY, yang dulu disebut-sebut sebagai vocal grup paling sukses di Korea.

Beranggotakan tiga namja muda dengan kualitas suara dan raut wajah diatas rata-rata, mereka ―Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung mampu dengan mudah mengusai pasar music nasional saat itu. Sedikit gambaran tadi, tentu sudah mampu membuat kalian mengerti seberapa 'tinggi' level grup itu bukan? Bukankah mendebutkan seseorang bersama grup sekaliber KRY hanya akan menghaliskan celaan karena 'timpangnya' kualitas antar satu dengan lainnya?

"Anda tidak serius mendebutkan Sungmin seongsaengnim." Pernyataan itu sontak meluncur. Menghakimi sang seongsaeng dengan satu kalimat bernada putus asa.

"Bisa kau berikan alasanmu menyebutku seperti itu?"

"Jangan bercanda! Mendebutkannya hanya dalam tenggang satu bulan saja sudah nyaris mustahil. Apalagi menyuruhnya satu panggung dengan comeback KRY, apa anda bermaksud menjadikannya bahan celaan ELF? Dia itu Lee Sungmin yang sama sekali tidak memiliki pengalaman menyanyi di atas panggung! Anda yang harusnya paling tahu itu seongsaeng."

Leeteuk menggeleng tak percaya. Dia membawa Sungmin kemari bukan untuk pertaruhan main-main tentang 'istimewa' atau 'tidak'. Park Jungsoo membawanya untuk membuat mimpi namja itu semakin dekat. Untuk sedikit membantu namja yang telah lama terkurung dalam gelap itu.

Bukan impian muluk macam 'debut dalam SMtown' yang diharapkan Leeteuk. Cukup bisa debut dalam waktu singkat, dan dia sendiri yang akan membimbingnya untuk menjadi penyanyi sekelas Kyuhyun nantinya. Harapannya sederhana, tapi nampaknya 'sang pemegang keputusan' terlalu tinggi mengabulkannya. Sangat, hingga resiko yang akan ditanggung juga setinggi itu.

"Kau memang belum paham Jungsoo." Putus Sooman setelahnya. "Kau pikir ELF itu kumpulan orang bodoh? Mereka itu penikmat music. Asal dia berkualitas, tidak mungkin berbagai celaan akan diterimanya. Tetapi semua akan berbeda jika ternyata berbagai argument yang kau gunakan untuk mempromosikan Sungmin padaku waktu itu hanya bualan belaka."

"Dan persiapkan dirimu Jongwoon. Aku akan memberimu kesempatan terakhir setelah kegagalan saat itu. Jangan kecewakan aku kali ini. Sedang kau Heechul, panggil anak asuhmu kembali. Dia sudah terlalu lama melepas mimpinya." Lanjut sang atasan. Dua orang yang sejak tadi menjadi pengamat hanya sanggup mengangguk. Masing-masing menggumamkan "Arrasseo.", dan kembali diam.

"Bagaimana.. bagamana kalau dia gagal nanti?" bisik sang manager lirih. Suaranya nyaris tak terdengar, terlalu takut dengan kemungkinan yang mungkin didapatnya dengan menanyakan pertanyaan se-sakral ini.

"Konsekuensi biasa tidak akan ku gunakan Jungsoo. Tenang saja, mungkin hanya training standart, itupun harus menanti 'giliran' tampil dengan para hoobae yang semakin banyak nantinya." Jeda sejenak digunakan Sooman untuk mengamati perubahan ekspresi anak didiknya yang semakin memucat.

"Karenanya, menjadi tugasmu untuk mendidiknya sebulan ini. Abaikan dulu Kyuhyun-mu ―dia senggang kali ini, bukan?― latih dia, dan kalau kau berhasil, Lee Sungmin akan ku berikan padamu. Aku tahu kau sangat ingin menjadi pembimbingnya kelak."

.

.

.

"Hyung.. Leeteuk hyung?"

"Ahh.. ne? kita sampai mana tadi?" Leeteuk mengerjap kaget, berusaha mengusir ingatan tak menyenangkan tentang percakapan dua hari lalu bersama sang atasan. Ditatapnya sayang raut manis Sungmin yang sekarang memandangnya Khawatir.

"Sepertinya hyungnim lelah. Sampai disini dulu saja tidak apa-apa."

"Aniya, Sungmin-ah. Hyung tidak apa-apa. Kita mulai lagi ne? coba kau ulangi line terakhir tadi."

Sungmin mengangguk patuh. Kembali menyanyikan lagunya diiringi permainan piano Leeteuk. Sesekali teguran terdengar dari sang trainer saat 'anak asuh'nya itu mencapai nada yang tidak seharusnya. Lontaran pertanyaan kadang juga lepas dari yang lebih muda saat sandungan hal yang tidak di mengertinya tampak. Keduanya berlatih keras, berusaha menampilkan apa yang terbaik dari diri sang calon bintang.

Sungmin tahu kalau dirinya akan memulai debut bulan depan. Tapi dia hanya tahu sebatas itu, Leeteuk ―tentu tak sampai hati untuk memberikan kemungkinan terburuk padanya. Manager muda itu hanya menyakinkan yang terbaik baginya, menyembunyikan berbagai hal yang tak diinginkan dan berusaha menyimpannya rapat-rapat.

Cukup dia saja yang tahu, Sungmin-nya masih terlalu muda ―lagi rapuh, untuk tahu kejamnya 'persaingan' antar musisi dalam satu management.

"… neo hanamaneul saranghalgeo-ya~"

"Bagus. Sampai sini dulu, besok kita coba beberapa lagu yang lebih sulit. Oh ya, selain gitar, alat music apa yang benar-benar kau kuasai?"

Sungmin sedikit memiringkan kepalanya, "Ng.. selain gitar aku bisa memainkan bass, piano, drum, saxophone.. "

"Hm.. kau menguasai banyak alat music ternyata―"

.

.


Kyuhyun melihat semua itu. Mengamati bagaimana ekspresi hyungnya yang belakangan ini selalu penuh gairah dan terkesan 'hidup' dari balik pembatas kaca satu sisi yang menghubungkan training room dengan koridor luar. Namja itu seolah tak bisa melepaskan pandanganya dari Sungmin. Terjerat oleh paras manis si aegyo yang semakin sering berubah emosi. Dari yang asalnya datar dan 'tersenyum formal' manjadi beragam ekpresi manusiawi lain.

Beberapa hari terakhir ini, tak ayal membuat si penyanyi muda itu sadar akan perubahan hyungnya. Tak sulit untuk mengenali jika kau benar-benar mengenal Lee Sungmin. Namja itu memang terlihat misterius, tapi begitu kau menyelaminya lebih dalam, pribadinya yang manis dan terlalu jujur pasti akan terlihat. Karenanya, menjadi seseorang yang selalu bersama Sungmin belakangan memuat Kyuhyun sadar akan beragam tranformasi dalam diri namja itu.

"Kau memang manis hyung." gumam Kyuhyun pada angin. Hyungnya di dalam sana tengah memasang raut merajuk khasnya. Entah karena apa, yang pasti tampak Leeteuk yang mulai memutar mata bosan dan akhirnya mengangguk. "Kadang aku jadi bingung siapa yang jadi 'kakak' disini." Sambungnya sambil terkekeh.

Tak lama, dilihatnya dua orang di dalam sana mulai berjalan keluar. Menghampiri Kyuhyun yang telah sekian menit menonton diluar. "Kyuhyun-ah? Sejak kapan kau disini?"

Senyum polos segera dibentuk Kyuhyun, "Baru saja hyung. Aku hanya ingin melihat hyung berlatih." Kilahnya lancar pada Sungmin.

Dibelakang sana, Leeteuk hanya menggeleng bosan. Tidak mungkin senyum polos Kyuhyun mampu menipunya. Namja itu lebih dari tahu namja macam apa dongsaengnya ini. "Kenapa kau tidak bilang saja "Aku sudah menunggu sejak tadi untuk mengajakmu pergi.", Kyu?"

Yang merasa tersindir langsung melotot kesal. Melemparkan raut merajuk ―gagal pada sang manager yang hanya dibalas dengan senyum innocent. "Mwo?"

"Kau makin menyebalkan Teuki hyung."

"Arra.. arra. Terserah kau saja, aku pergi dulu. Kalau memang mau pergi jangan pulang malam-malam, ne?"

Segera setelah mendaratkan satu kecupan sayang di kening masing-masing dongsaengnya, manager berambut hazel itu melangkah pergi. Melenggang cepat tanpa mengacuhkan protes kesal salah satunya. "Aku bukan anak kecil lagi, hyung!"

Sungmin yang disampingnya hanya tersenyum. Merasa geli dengan tingkah childish namja yang ―katanya bukan-anak-kecil-lagi-itu. "Aishh… nae dongsaeng manis sekali saat merajuk." Godanya sambil mengacak lembut rambut kecoklatan Kyuhyun.

Yang lebih muda kembali melotot kesal. Menggumamkan beberapa protesan macam "Kenapa semua orang selalu menganggapku anak kecil?" atau "Aku sudah dewasa. Tidakkah kalian melihat itu?" tak lupa mulai menyeret tangan hyungnya untuk meninggalkan SMEnt building ini.

"Kita mau kemana, Kyu?"

"Hm… tidak kemana-mana hyung. Hanya berjalan-jalan dekat sini."

Sungmin mengangguk setuju. Balas menggengam tangan sang dongsaeng yang terasa hangat di kulitnya. Keduanya mensejajarkan langkah, berjalan cepat melewati koridor di tiap lantai hingga tiba di basement. Ruangan besar berlangit-langit tinggi itu mulai lengang. Tidak mengherankan karena saat ini sudah hampir memasuki pukul 07.00 pm. Hanya beberapa anak asuh SMEnt yang baru menyeselaikan training yang terlihat, tidak sedikit juga dari mereka yang mencuri pandang kearah keduanya. Tidak mengherankan sebenarnya mengingat Sang Bintang Asia-lah yang menjadi objek.

"Abaikan saja. Anggap bukan kau yang tengah mereka lihat." gumam Kyuhyun saat menyadari Sungmin mulai tak nyaman dengan tatapan iri yang tertuju padanya.

Namja itu mengeratkan genggaman tanganya, sambil menuntun si aegyo di sampingnya untuk kembali melangkah ke luar. Keduanya berjalan menyusuri trotoar, bergandengan dibawah pendar rembulan dengan sesekali melempar senyum. Sungmin mengayunkan tangan keduanya sekarang, membuat Kyuhyun menoleh dan menatapnya penuh selidik.

"Sedang senang, ne?"

"Hmm~ senang sekali. Dua hari ini aku jadi tahu rasanya menjadi 'orang normal'. Berlatih dance, menghafal lagu, berlatih vocal~ Ya! aku bahkan sudah punya beberapa teman baru. Ahh.. apa seperti ini rasanya sekolah umum, Kyu?" Namja disampingnya itu bercerita lancar. Rona bahagia tercetak jelas di wajah aegyo itu. Suaranya mengalun riang, benar-benar berbeda dengan Lee Sungmin yang beberapa minggu lalu ditemui Kyuhyun di Negara sebelah.

Sang penyanyi muda itu turut tersenyum, berusaha mengimbangi euphoria dari hyung manisnya ini dengan nada ceria yang sama. "Ne. Kurang lebih seperti itu. Bukankah berteman itu menyenangkan hyung? mulai sekarang jangan suka memendam semuanya sendiri, arra?"

"Gomawoyo, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun mengernyit tak mengerti. "Eh, untuk apa?"

"Semuanya."

Lagi, senyum tulus terulas di bibir yang muda. Namja itu sejenak menghentikan langkah mereka. Menghela nafas ringan saat satu pemahaman mampir di otaknya sebelum berujar lembut. "Kenapa kau selalu mengingat hal itu hyung? aku sudah sering bilang kalau aku tidak pernah melakukan apapun untukmu."

Sungmin menggeleng cepat. Menatap Kyuhyun ―yang lebih tinggi darinya dengan satu tatapan keras kepala. "Tidak bisa begitu. Kau itu… kau sudah seperti malaikat yang membawa banyak keajaiban padaku."

Suaranya terucap lirih, sementara wajahnya langsung tertunduk. Ahh… jangan lupakan juga rona pink sewarna sakura yang turut menyebar di pipinya. Aigoo.. Kyuhyun sampai blank beberapa saat setelah mendengar pujian(?) tak terduga dari si manis ini.

"Malaikat?" si pecinta game ini langsung menutup mulutnya, menahan tawa geli yang tanpa bisa ditahan langsung terlontar dari mulutnya. "Hump haha.. Hyung lucu sekali~"

"Ya! Apanya yang lucu? Kyuhyun-ah! Jangan menertawakanku."

"Arra, arra. Mianhae hyung. Aishh… sudahlah, ayo kita jalan lagi."

Justru kau yang menjadi malaikatku, hyung-ah. Hah… Lee Sungmin, asal kau tahu saja bertemu denganmu malam itu adalah anugerah bagiku.

"Nah.. bagaimana? Aku suka ketempat ini saat ingin melihat bintang."

Kyuhyun berujar semangat saat mereka sampai. Tangannya terentang lebar seolah berusaha memeluk seluruh angin yang menyapa tiap inchi tubuhnya begitu detik berganti. Didepannya, air sungai yang jernih tampak menari cantik. Memantulkan kilau rembulan yang mempertegas kesan magis tempat ini.

Saat kau melihat ke atas, ganti jutaan bintang yang akan menyapamu. Meski beberapa diantaranya terlihat kabur oleh polusi cahaya di kota sebesar Seoul, keindahannya tak perlu diragukan. Titik-titik cahaya itu tetap menawan dalam kesederhanaannya. Menghantar pendar lembut yang tersalur bersama cahaya terang rembulan.

Ne, tepi Sungai Han ini memang menjadi tempat sang penyanyi muda untuk melepas penat.

"Tidak kalah indah dengan yang ada di Tokyo 'kan, hyung?"

"Ne. Indah sekali." Gumam Sungmin lirih. Matanya masih memandang takjub sekeliling dengan binar sama seperti yang sering terlihat saat dia menemukan hal baru. "Aku baru sekali ini datang ke Sungai Han."

"Eh? Memang sebelum ke Jepang hyung tinggal dimana?"

"Ilsan."

Nada riang itu hilang saat kata terakhir tadi terucap. Agaknya namja manis itu mempunyai satu kenangan buruk dengan 'Ilsan'. Kyuhyun ingin bertanya, tapi saat mendapati raut wajahnya yang berangsur murung, niat itu segera ditangguhkan. Ganti menarik tangan hyungnya untuk beranjak kesisi yang lain dari tempat ini. Mungkin menjaga mood namja manis ini agar tetap ceria merupakan pilihan bijak malam ini.

"Err.. Lupakan, ayo kesana hyung."

Kyuhyun membawa mereka ke bangku umum yang terletak paling dekat dengan dengan bibir sungai. Segera menyamankan diri dan menepuk tempat kosong disebelahnya. "Kesini."

Sungmin menurut, segera menyamankan dirinya disamping Kyuhyun. Keduanya sejenak larut dalam hening. Menikmati kehadiran yang lain tanpa perlu utaian kata yang terucap. Sesekali, angin malam menyapa. Membuat sejuk musim yang nyaris gugur semakin terasa.

"Kyuhyun-ah…"

Suara lirih yang lebih tua memecah hening diantara mereka setelah beberapa saat. Kyuhyun menoleh, mendapati Sungmin yang kini mulai memejamkan mata. "Ne, hyung?"

"Aku mengantuk."

"Eh? Apa ingin pulang sekarang?"

Sungmin menggeleng. Membuka matanya yang sempat terpejam dan menatap dongsaengnya sayu. "Aku semakin merasa jadi orang 'normal'. Bukankah harusnya aku tidur saat siang dan berkeliaran saat malam? Aku jadi seperti Kyu dan yang lain, ne? Bukan si aneh yang anti matahari."

Kalimat itu membuat si namja berambut ikal terhenyak. Sedikit merasa nyeri dibagian dada saat kenyataan pahit itu kembali diungkapkan oleh sang empunya. Kyuhyun menggigit bibirnya. Bingung mau menyahut seperti apa.

"Padahal dulu aku selalu menunggu malam tiba. Menangis saat umma melarang keluar rumah, dan appa yang akan segera mengunci pintu kamarku. Aku akan tidur saat matahari mulai muncul, bangun kembali untuk main begitu malam tiba. Harusnya aku tidak boleh―"

"Hey.. bukannya hyung bilang mengantuk tadi?" Kyuhyun memotong cepat. Sama sekali tak tertarik ―mungkin tak berani lebih tepat― mendengar masa lalu kelam si manis ini. "Nah.. tidur di pundakku saja, ne? bukankah menyenangkan tidur dibawah bintang seperti ini?"

Namja penyuka salju itu menarik lembut pundak yang lebih mungil. Menyandarkan kepala berambut pirang Sungmin kedadanya dan langsung membelainya lembut. "Aku sudah berbaik hati meminjamkan pundakku. Bagaimana kalau hyung sekarang menceritakan latihan tadi siang saja?"

Sungmin tertawa riang. Sama sekali tak terusik dengan usaha dongsaengnya yang terkesan mengalihkan pembicaraan mereka. Si aegyo itu sedikit memberontak hanya untuk menyamankan kepala di sandaran hangatnya sekarang. "Uhmm.. Kyu-ah mau cerita apa? Tadi aku hanya berlatih menyanyi lagu baru."

"Lagu apa?"

"Angel. Kau tahu lagu itu?"

Kyuhyun terkekeh. Mengeratkan pelukan lengannya dan sesekali merapikan poni pirang hyungnya yang berantakan oleh angin. "Tentu saja hyung. Aku pernah menyanyikannya dulu. Kau mau aku menyanyikan lagu itu?"

"Eh? Tentu saja! Nyanyikan lagu itu untukku sunbae-nim." Goda hyungnya.

"Boleh saja. Tapi aku mau minta satu permintaan ku lagi. Mulai sekarang, hyung tidak boleh mengingat 'hal yang tidak menyenangkan', tidak boleh 'mengucapkan terimakasih tanpa alasan' padaku, tidak boleh―"

"Ya! Ya! Itu lebih dari satu." Protes Sungmin. Bibir pinkish sakura-nya mengerucut imut. Membuat sang dongsaeng kembali tak bisa menahan kekehan gelinya. "Mau atau tidak?"

"Ishh… Arrasseo. Apapun untuk Kyuhyun-ah."

Kyuhyun memulai lagunya dengan senyum. Sekilas mengecup puncak kepala hyungnya, dan mulai menyanyikan lagu yang dimaksud. Lagu yang dalam liriknya mengandung 'rasa tulus' yang muda.

Neoneun neomu nuni busyeo, niga isseo nae shimjangi ddwi-uh

[You're so dazzling, My heart is thumping]

Ojik neomani naegen number 1, nuhl saranghae

[You're the only one for me and always be number 1, that I love you]

Jogeumman duh na dagawajwuh, neoui soneul kkok japgosipeo

[Come little bit closer to me, I want to tightly hold your hands]

I noraeneun only for you, Youngwonnhi saranghae

[This song is only for you, I love you forever]

I need your love, love, love~

Suara merdunya langsung mengalun. Melontarkan lirik yang senada dengan suasana hati yang sekarang. Namja itu tersenyum saat Sungmin terlihat begitu menikmati lagunya. Matanya kembali terpejam saat suara bass Kyuhyun menyapa pendengarannya. Ahh… andai namja manis itu tahu kalau Kyuhyun tidak hanya 'bernyanyi' sekarang. Andai hyungnya tahu lirik yang dinyanyikannya bukan sekedar 'lirik', tetapi ungkapan hati yang memang ada dan tak terucap.

Aishh.. Lee Sungmin, Cho Kyuhyun ini benar-benar mencintaimu, lho. Cepatlah sadar akan hal itu, Chagiya~


TBC or End?


oOo

Special Thanks:

.

Rai, MINGswife, niyalaw (apa kyumin moments.x udah banyak sekarang? Saya mah ga bisa bikin angst, liat terus aja ya,, review?), cherrizka980826, sha, Day KyuMin's Fujoshi (boleh senyum2 asal jangan pas lagi dijalan ya unn #plak! Iya nih, si kyu emang suka bikin geregetan~ udah lanjut unn, review lagi yaa?), Ayu Kyumin, nikyunmin, reaRelf, evilbunny, 0203, Hyeri (makasih udah setia ama story abal ini chinguya,, pasti bilang kok, untuk sekarang lagi betah2in ma ffn. Reviewmu selalu ditunggu~ XD), dhianaelf4ever, min1901196, yv3424, Zie-kun 'Kuroba' Michaelis (ahh unnie! Saya penggemar ffMU! #abaikan makasih udah mau mampir, unn~ iya, author fandom itu emang bagus2, saya juga dari sana, tapi versi produk gagalnya =.= haha mau gimana lagi unn, udah belajar ga peduli siders, tapi kadang jenuh juga lah.. ne, nado hwaiting! Ditunggu kritik n saran selanjutnya ya),1412, nurinukie1, winecoup134, JoBel13ve, coffeewie kyumin (ne~ impian ming emang baru di mulai, tapi hidup juga ga semudah itu,,, #auraevil :D review?), WieLoveWolfBunnySelamanyah (saya '95liner, terserah mau manggil apa :D ming sembuh? Ditunggu ch depan aja yaaa,, review lagi okay?), SM (wkwkwk pertama saya jadi pumpkin juga ngiranya ming ntu vampire, masa iya 7tahun SJ ntu muka ga pernah berubah#ngaco terimakasih juga buat feedbackx, review ch ini juga ditunggu lohh :D), Cho Kyuri Mappanyukki, Nakajima Yuki (ini juga udah dibuat beda banget ma filmnya kok chingu, soal ending, ikutin terus aja yaaa, review?), Nebula (ne, ffn rumah pertama yang ga bakal bisa dilupain chingu XD, review ya?), Park Min Rin, WhiteViolin (ini mochie unnie yang di fb bukan? O.o ne, emang udah ada biji2(?) cinta di antara mereka, sipp udah lanjut kok, review?), no name, daraemondut, GaemGyunie, Kyuminshipper22 (bukan minta penghargaan kok chingu, tapi ketahuilah, seorang author minta review itu agar ff kedepannya semakin bagus dan bisa buat reader puas, karna kalo ga ada reader, author juga ga berguna. Makasih sarannya,, XD review lagi ya), Chikyumin, Mulov, kyurin minnie (makasih udah suka ff abal ini chingu~ makasih juga buat dukungan n semangatnya, ini lanjutannya, review lagi otte?), Park HyeWoon, ammyikmubmik, mitade13 (LSM? Lembaga swadaya masyarakat? O.o #dipecatjadiELF ne, itu ming nyampe lonjak2(?) sanking bahagia.x, review lagi ne?), minoru, cho ahrie, Just Min, ImELF, no name, Farchanie01, Han-RJ (perjuangan ming emang masih panjang chingu, pantengin ff ini terus yaaa, review?), Cho Miku (maaf buat updatex yang suka lelet~ #ojigisuru diusahakan yang terbaik buat ming kok, review lagi yaaaa :D), Fariny, ayachi casey, Andhisa Joyers, Sonnim, Yukina Itou Sephiienna Kitami, belindaanehhyun (soal ending ikutin terus aja yaaa, review?), flowerkyu, BABYKYUTEMIN, Saeko Hichoru (ini belum pindah kok chinguya, makasih buat dukungannya, review terus yaaaa~), Melanimin, no name, sin naka, ELLE HANA (buat karirnya ming liat kedepannya aja ya chingu, yang pasti ga bakal mudah jadi artis 'anti' matahari itu, makasih reviewnya, review lagi?) dheeMin lovers, nyonroe.

oOo


Lagi, ff ini terinspirasi sama "Taiyou no Uta", tapi tentunya jalan cerita akan sangat berbeda dengan yang ada di film~

Maaf untuk update yang sangat lama. Maaf juga jika kyumin moment kali ini masih kurang, yah.. saya bakal tambahin lagi jika waktunya tepat.

Uhmm,,oh ya, banyak new readers ya sekarang? Selamat datang di ff ini,,, #bow Saya beneran ga nyangka bakal dapet dukungan sebanyak ini, makasih yang udah setia dukung saya, makasih yang udah ninggalin kritik n saran buat ff ini. Dan harap maklum dengan kualitas ff yang ―selalu jauh dari bagus ini, kritik dan saran readerdeul selalu saya tunggu…

Nah.. adakah yang tergerak untuk meninggalkan kritik dan saran untuk ch ini? Gomawoyo, saranghae yeorobunn~