.

.

Taiyou no Uta

(A Song to the Sun)

.

.


Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.

Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!


Music: Hitomi no Jyuunin – L'arc en Ciel


.

"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."

"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."

"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."

.


"Hey, Kyuhyun-ah.. Menurutmu, kenapa seseorang dilahirkan di dunia ini?"

.

.

Namja itu hanya bisa terdiam. Sedikit terhenyak dengan lontaran pertanyaan tak terduga yang berasal dari mulut namja manis disampingnya. Kyuhyun ―Yang tersebut tadi, baru saja menyelesaikan lagunya beberapa saat lalu. Belum ada semenit, saat namja aegyo disampingnya itu tiba-tiba bertanya satu hal yang membuatnya blank sesaat. Bukan pertanyaan sulit sebenarnya.

Tapi juga tak mudah. Lebih pada maknanya yang abstrak dan tak terbaca. Sanggup membuat Cho Kyuhyun yang terkenal jenius itu langsung terdiam setelahnya.

Untuk apa kau dilahirkan? Pernahkah kau bertanya kalimat itu pada dirimu sendiri? Pernahkah kau merenung barang sejenak untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan ―yang terkesan mudah itu? Tidak pernah? Begitu pun Kyuhyun.

Untuk apa seorang Cho Kyuhyun dilahirkan? Tak pernah sekalipun si penyanyi muda itu berpikir hingga taraf sekian. Kyuhyun selalu merasa hidup adalah sesuatu untuk 'dijalani'. Bukan untuk 'menjalani' sesuatu. Dia terbiasa 'tersedia', bukan 'menyediakan'. Hal itu sederhana jika kau melihatnya dari sisi orang yang 'normal'. Tapi entah kenapa, Kyuhyun merasa itu akan sangat berbeda untuk seorang Lee Sungmin.

"Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah seseorang berhak untuk memutuskan 'kenapa' dia lahir di dunia ini, hyung?"

Itu adalah beberapa menit setelahnya saat akhirnya Kyuhyun memutuskan jawaban terbaiknya. Jawaban yang tak kalah abstrak dengan pertanyaan yang terlontar. Jawaban yang ―Kyuhyun sendiri pun tahu, tidak akan sedikit pun menuntaskan tanya dari si empunya pertanyaan.

"Seperti itu kah? Kalau aku.. aku kadang merasa lebih baik tak pernah ada, Kyu."

Apalagi ini? ―"Kenapa begitu?"

Jangan lagi, hyung. Kumohon…

"Sejak dulu.. aku selalu memikirkan hal itu. 'Untuk apa aku dilahirkan? Kenapa aku yang hanya 'beban' ini harus ada dan merepotkan orang lain? Mungkin terdengar klise, tapi aku tidak berbohong saat mengatakan disini―" Lee Sungmin mengangkat tangan guna meremas dadanya. Seolah menunjukkan pusat kehidupannya yang masih berdetak itu tengah terhimpit oleh tali tak kasat mata. "―Disini selalu sakit saat melihat orang lain harus menangis karenaku. Sesak.

Sungguh, Kyuhyun-ah. Menjadi beban yang seperti itu bagi orang yang kusayang ―sering membuatku berpikir jika lebih baik aku tak pernah ada saja."

Sungmin kembali diam. Menggigit bibirnya kuat dengan kedua tangan mengepal. Dapat dilihat Kyuhyun, hyungnya itu kembali menangis 'diam'. Kembali menahan sesaknya sendiri. "Mianhae.. aku kembali menceritakan hal membosankan padamu. Aku hanya―"

Kyuhyun tersenyum miris saat mendengar kalimat Sungmin yang terpotong. Dia tidak bisa melanjutkan lagi, ne? Ego kembali menguasaimu Lee Sungmin? "Hanya apa, hyung? Berhentilah bersikap seolah kau orang yang paling menderita disini. Buka matamu Lee Sungmin, lihat semua orang yang ada disampingmu sekarang. Lihat dari mata mereka yang memandangmu sebagai orang paling berharga."

Yang lebih muda mendecih pelan saat melihat Sungmin yang menutup matanya erat sekarang. Raut tak nyaman terlihat jelas dari wajah aegyo tak bercela itu. "Kau selalu berkata tidak punya seseorang untuk berbagi. Selalu berkata kau sendirian. Tapi tidakkah kau melihatku hyung? aku ada disini sekarang. Tolong lihat aku sebagai seseorang yang ada untukmu. Seseorang yang menganggapmu terlalu berharga untuk disebut 'beban'. Lihat aku, hyung. Kyuhyun-mu selalu disini."

Sungmin membuka mata saat merasakan lima jemari hangat telah tersisip ditangannya. Mengisi tempat kosong dari jemarinya pun menggenggamnya dalam satu tautan kuat. Kyuhyun membawa genggaman tangan mereka ke wajahnya. Mengecupnya sekilas tanpa memutus manic kelamnya dari sepasang hazel milik hyungnya. "Kalau kau memang tidak tahu kenapa kau dilahirkan, anggap saja kau ada untuk melengkapi tautan jariku yang kosong. Kalau kau takut sakit, maka bagi rasa itu padaku. Ayo kita sakit bersama, hyung.

Bukankah dulu aku pernah bilang akan selalu menemanimu? Tidak bisakah kau percaya janjiku saat itu, Lee Sungmin?"


Soba ni ite zutto kimi no egao wo mitsumeteitai
[I want to be your side forever, gazing at your smile]

Utsuriyuku shunkan ha sono hitomi ni sunde itai
[I want to live each changing moment in your eyes]

Itsuno hi ka azayakana kisetsu heto tsuredasetara
[If one day I can take you out to a brilliant season]

Yukiniyouni sorani saku hanano motohe hana no motohe
[To where the flowers are, blooming in the sky like snow…]

Hana no moto he..
[To where the flowers are…]


Kyuhyun dan Sungmin masih diam. Membiarkan hembus angin melanjutkan dan mengisi sela-sela kosong dalam percakapan panjang mereka malam ini. Tangan keduanya masih bertaut. Masih dengan Kyuhyun yang menggenggam tangan yang lebih mungil dari miliknya di depan dada, seolah meyakinkan si empunya bahwa apa yang terjadi ini nyata.

Meyakinkan bahwa Cho Kyuhyun ini nyata adanya untuk menggenggam tangan Lee Sungmin yang tengah mendingin karena putusnya harapan.

"Hyung.." panggil Kyuhyun akhirnya. Sungmin tetap statis, hanya menjawab dengan "Hmm.." lirih. "Lihatlah ke atas." Lanjutnya.

Yang lebih tua mengernyit tak mengerti. Meski begitu si namja aegyo langsung mendongakan kepalanya. Menuruti perintah aneh dari dongsaeng di sebelahnya. "Ada ap―"

"Terkejut?" bisik Kyuhyun di telinga saat melihat hyungnya yang tengah membelalak takjub. "Sekarang, perhatikan bagaimana sinar para bintang itu." Tuntunnya lagi.

Sungmin kembali menurut. Mengamati bagaimana jutaan titik titik cahaya itu berpendar lembut berlatarkan kelamnya langit. Pendar cahaya yang dipancarkannya redup, berbeda dengan sang dewi malam yang bersinar penuh percaya diri. "Bintang-bintang itu kalah dengan bulan."

"Benar." Ujar Kyuhyun mantap. Tangannya perlahan menyusup dalam pinggang Sungmin. Mulai menarik ―lagi hyungnya itu dalam pelukan. "Cahaya bintang itu kalah oleh bulan. Tapi apa kau tahu hyung? bulan bersinar karena sokongan matahari. Berbeda dengan para bintang yang bersinar karena cahayanya sendiri.

Sekarang, ibaratkan dirimu sebagai bulan. Kau memang bulan yang tak punya cahaya. Tapi kau mempunyai orang-orang yang berperan sebagai mataharimu. Mereka yang akan menyokongmu dengan jutaan kerlip cahaya agar kau bisa bersinar layaknya sang penguasa malam. Kau mungkin bukan bintang yang mampu bersinar dalam kemandiriannya, tapi kau adalah bulan yang akan mengalahkan sinar redup para bintang. Kau percaya itu hyung?"

Namja penyuka salju itu sukses melingkarkan tangannya sekarang. Menarik Sungmin yang tengah terbius akan ucapan dan kerlip indah langit malam agar semakin mendekat ke dadanya. Melingkupi tubuh yang lebih mungil darinya dengan satu pelukan hangat.

"Apa itu benar? Kau.. kau tidak sedang berusaha menghiburku saja 'kan Kyuhyun-ah?" Suara tenor yang mengalun darinya terdengar lirih. Nyaris kalah oleh gentar ketakutan yang selama ini merantai. Sungmin ―tanpa sadar mencengkeram erat dua tangan Kyuhyun yang melingkari perutnya. Memastikan namja yang memeluknya tetap 'ada' untuk menepati janjinya. Sementara wajahnya masih mendongak, menatap nanar pada purnama yang tengah meraja.

"Tidak. Aku tidak bohong hyung, kau pasti bisa berdiri di panggung yang megah. Satu bulan lagi, ne? berjuanglah hyung, dan jangan pernah merasa takut. Karena saat itu aku akan ada disampingmu untuk bernyanyi sambil menggenggam tanganmu."

"Aku percaya.. sekarang. Terimakasih, Kyu. Terimakasih."

Namja tampan itu hanya menggangguk sambil melesakan wajahnya pada ceruk leher putih di depannya. Menghirup aroma khas nan menenangkan dari hyungnya yang teramat aegyo itu. Kyuhyun tahu, namja manis itu tak terganggu dengan tingkahnya sekarang. Terbukti dengan masih nyamannya dia ―Sungmin, dalam mengamati jutaan bintang di atas sana. Keduanya kembali larut dalam hening yang mengisi. Saling berbagi cerita hanya melalui sentuhan kulit yang melekat.

Bukankah kebersamaan mereka saat ini terlihat sangat manis?

Satu orang yang lebih 'kuat' akan bertindak sebagai sosok yang 'mengulurkan tangan'. Menyebar harapan bagi dia yang terlalu larut dalam hidup tanpa asanya. Kyuhyun tahu, namja di pelukannya ini terlalu takut untuk melukiskan mimpinya. Tidak berani untuk menggapai sulur-sulur harapan yang terulur. Sungmin bukan tidak mau berusaha. Dia hanya takut. Terlalu takut.

Manusiawi sebenarnya, karena keberanian seseorang juga terbatas. Cobalah lihat dari sisi mereka yang tenggelam dalam ketakutan. Ketakutan karena harapan yang dulu terlukis selalu kikis dan tak berbekas. Berulang dalam siklus monoton yang hanya menghasilkan trauma. Tidak mudah untuk mengalahkan takdir. Tapi bukan hal mustahil juga untuk sekedar membelokkan 'garis' itu agar kita dapat melukis kisah hidup seindah pelangi setelah hujan.

Kyuhyun sadar akan hal itu. Dan dia percaya, tangannya lah yang akan mengulurkan sulur harapan yang membawa Sungmin ke puncak. Membawanya terbang dalam mimpi indah yang tak pernah terbayang. Karena dia adalah yang 'kuat' disini, menuntun seorang Lee Sungmin sudah menjadi tanggunng jawabnya sekarang.

"Hyung.. aku mau minta permintaan terakhirku, boleh?"

"Apa?"

"Jadilah―

Jadilah milikku.

Jadilah penyanyi yang hebat, kelak."

.

.

.


"Ne?"

Pintu bercat cokelat itu terbuka setelah mereka mengetuknya beberapa saat. Disusul dengan seraut wajah lelah Park Jungsoo yang mengintip dari baliknya. "Kalian baru pulang? Darimana saja?" tanyanya penuh selidik.

Sungmin tersenyum singkat, sembari membalas pertanyaan tadi dengan gumam "Hanya jalan-jalan di sekitar Sungai Han, hyungnim."

Mendengar itu, Park Jungsoo―yang akrab disapa Leeteuk, mengangguk mengerti. Segera meyingkirkan tubuhnya untuk memberi jalan bagi dongsaengnya memasuki apartement di lantai 11 itu. "Baiklah, segara masuk dan istirahat arra?"

Sungmin mengangguk, tersenyum ramah pada Kyuhyun yang disampingnya dan langsung memasuki apartemen yang sudah dua minggu menjadi 'rumah'nya di Korea ini. "Malam, Kyu-ah. Hati-hati saat pulang nanti arra?"

Oh, sudahkah aku mengatakan kalau Lee Sungmin ini tinggal bersama Leeteuk, sekarang? Sang manager lah yang mengusulkan hal tersebut. Katanya supaya Sungmin lebih mudah untuk berlatih di SM building, mengingat rumah appa-nya yang di Korea berada disekitar Ilsan. Alasan lainnya, lebih karena manager berwajah cantik itu tidak terlalu suka dengan apartemen yang sepi sebenarnya.

"Kau tidak mau masuk dulu, Kyu?" tawar sang hyung.

"Ani hyung. Masih ada yang perlu ku kerjakan di rumah." Tolaknya sopan. Begitu anggukan mengerti sudah diterimanya, si pecinta game itu segera berlalu. Melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir di SM building. Tidak jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari sini.

"Kyuhyun-ah!"

"Nae, hyung?"

Kyuhyun meoleh heran saat melihat sang manager yang masih mengenakan baju kasual itu ganti berjalan mendekatinya. Mensejajarkan langkah mereka, sambil berujar pelan "Kutemani sampai kau masuk ke mobil. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada anak asuhku."

Alasan klise. Dua dari mereka tahu benar apa yang sebenarnya akan dilakukan manager bernama asli Park Jungsoo itu. Cho Kyuhyun, terlalu mudah dibaca jika sudah berhadapan dengan hyungnya yang satu ini. 'Gomawo, Teuki hyung.'

Sepuluh menit berlalu dalam diam. Setelah melewati koridor, basement dan halaman luas apartemen yang dikhususkan bagi para petinggi SMEnt itu, lahan parkir dalam SM building sudah terlihat. Mereka melalui berjalan singkat tanpa saling bertukar kata. Tidak Leeteuk yang biasanya cerewet 'menginterogasi' dongsaengnya ini, tidak juga Kyuhyun yang sejak tadi sibuk akan pikirannya sendiri. Wajah keduanya datar dan tak tertebak. Walau sebenarnya, salah satunya tengah menahan diamnya yang menyesakkan.

"Masuklah." ―Leeteuk berujar.

Kata pertama setelah beberapa satuan waktu tadi merupakan awal percakapan ―Mungkin, yang akan menjadi panjang malam ini. Yang lebih tua menghela nafas lelah. Segera memasuki Audi hitam legam milik dongsaengnya sembari mengambil tempat didepan kemudi. "Sekarang, menangislah. Jangan sampai besok matamu terlihat sembab dongsaeng-ah." Sambungnya lagi.

Segera, dia yang tersebut itu memulai tangis putus asanya.

Kyuhyun menunduk. Menggigit bibirnya sekuat mungkin demi menahan isakan yang mungkin lolos. Jangan bertanya kenapa namja tampan ini menangis, biarkan saja Cho Kyuhyun melepas 'sesak' yang sejak tadi melilit dadanya. Biarkan beragam emosi yang belakangan ini menyerangnya tergerus habis bersama dengan air mata yang terus mengalir dari sepasang orbs sekelam malam itu. Kyuhyun bukan orang yang kuat, sungguh. Karena itu, biarkan dia jujur di depan sang kakak. Sekali ini saja.

"Jangan dihapus. Hanya hyung yang ada disini Kyuhyun-ah. Kau tidak perlu malu pada hyung." tanggap sang manager lirih. Sebelah tangannya menahan tangan pucat Kyuhyun yang berusaha menghapus kasar jejak embun di kedua pipinya. Leeteuk hanya bisa menatap prihatin pada dongsaeng kesayangannya ini. Lee Sungmin benar-benar 'membawa'nya sejauh ini ternyata.

"Hyung selalu bilang, kalau seorang namja tidak boleh manampakkan tangisnya pada orang lain. Kau ingat itu Kyu?" Kyuhyun mengangguk diam. Masih dengan mata penuh dengan bongkahan embun didalamnya. "Tapi kali ini pengecualian. Kau boleh menangis sepuasmu, asal setelah itu berjanjilah untuk menjadi orang yang lebih kuat dari sekarang. Berjanjilah agar kau tetap menjadi Cho Kyuhyun-ku. Dongsaeng yang kuat dan akan bisa melewati apapun. Walau itu adalah 'hal' yang menyakitimu sangat dalam. Mengerti saengi?"

Satu lagi anggukan diberikan oleh yang lebih muda. Tak lama, punggung yang asalnya bergetar hebat menahan 'sakit' itu kembali tenang. Pipi yang asalnya basah telah kembali kering oleh usapan lembut sang kakak. Kata-kata terakhir tadi agaknya mampu meringankan sesaknya. Meski ungkapan itu akan selalu berulang ―seperti yang Kyuhyun akui tadi, dia namja yang lemah― disetiap Kyuhyun menangis dan 'mengadu' pada hyungnya.

"Sudah siap bercerita? Apa yang dilakukan Lee Sungmin hingga mampu membuatmu seperti ini?"

Kyuhyun tersenyum miris. Hanya mampu memalingkan wajah saat tebakan tepat sasaran itu ditujukan padanya.

Leeteuk menghela nafas lelah mellihatnya. "Baiklah kalau kau tidak mau bercerita. Kuantar kau pulang saja. Berikan kuncinya."

"Sebentar, hyung."

Suara parau itu segera terdengar setelah kalimat terakhir tadi terucap. Kyuhyun sedikit menyamankan duduknya, merebahkan kepalanya pada sandaran kursi mobil dan mengalihkan pandang keluar. Tanpa menoleh, kembali melontarkan ucapan lirih pada Leeteuk yang masih diam menunggu. "Dia bilang..

―"Kau tidak boleh mencintaiku, Kyuhyun-ah. Hidupmu terlalu berharga jika dihabiskan untuk bersama namja sepertiku."

".. Aku tidak boleh mencintainya."

"Lalu kau akan menurutinya?"

Kyuhyun sedikit mengernyit. Tanggapan tadi mau tak mau membawa sedikit rasa perih di dada. Menurutinya? Mengingkari janji yang telah dibuatnya sendiri itu? "…Tidak tahu."

Bodoh kau Cho Kyuhyun!

"Tinggalkan dia kalau kau memang 'tidak tahu'." Tandas Leeteuk cepat. Namja itu menatap penuh penilaian pada Kyuhyun yang langsung menegakkan badan. Menatap tak percaya jika managernya itu sanggup berujar demikian. "Lee Sungmin seorang namja. Terlebih dia menderita penyakit parah. Hanya namja penyakitan, Kyu. Karirmu tidak akan terganggu jika kau meninggalkannya dan kembali pada tunanganmu itu. Kau akan tetap menjadi Cho Kyuhyun Sang Bintang Asia tanpa perlu khawatir tentang 'gocangan' yang mungkin terjadi jika kau berhubungan dengannya."

"Tidak.. maksudku―"

"Kau tidak tahu, berarti kau masih ragu dengan perasaanmu sendiri. Kau ragu melihatnya yang seorang namja atau kau takut karena dia sebentar lagi mati?"

"Hyung! Aku bukan orang sepengecut itu." Tegas Kyuhyun penuh penekanan. Matanya berkilat marah. Dengan berani membalas tatapan penuh meremehkan milik hyungnya. "Sekali pun aku tidak pernah berpikir ke arah situ. Aku hanya.. aku tidak tahu apa harus kulakukan nanti. Maksudku dia namja, begitu juga aku―"

PLAK

Satu tamparan menghentikan kalimat terakhir yang diucapkan penyanyi muda itu. Kyuhyun membelalakkan matanya tak percaya. Kilat kecewa dengan cepat merambat pada orbs sewarna malam itu. "Kau.. kau tega menamparku demi orang lain, hyung?"

"Orang lain yang kau sebut itu Lee Sungmin, Cho Kyuhyun! Orang yang ―katanya kau cintai. Demi Tuhan, kemana Cho Kyuhyun-ku yang dulu? Sungguh, hyung kecewa padamu Kyuhyun-ah. Kalau yang kau maksud cinta adalah rasa kasihan macam ini, lebih baik kau tidak membawanya kesini sejak awal." Kalimat bernada tinggi itu meluncur cepat. Untaian kata yang mampu membuat Leeteuk terengah penuh emosi. Tak lama, jeda yang singkat itu kembali diisi oleh ungkapan bernada tajam yang lain. "Kau bukan Kyuhyunku. Dongsaengku dulu adalah orang berhati lembut yang tak akan tega memainkan hati orang lain. Kalau hanya kasihan, lebih baik kau tinggalkan dia. Tenang saja, dia dongsaengku sekarang. Aku yang akan menjaganya sampai akhir."

Tanpa menatap dongsaeng disebelahnya, namja berwajah cantik itu bergegas membuka pintu disebelahnya. Bersiap meninggalkan Kyuhyun yang ―kembali menangis. "Kenapa kau tidak mau mendengarkanku dulu Jungsoo hyung? kenapa kau tidak membiarkanku mengatakan kalau tuduhanmu tadi salah? Aku.. aku bukan orang seperti itu, sungguh."

Tangan yang mencengkeram lengannya terasa dingin. Ditambah dengan panggilan formal yang sudah ditujukan padanya, Leeteuk tahu kalau Kyuhyun sudah diambang 'batas' sekarang. Dongsaengnya ini benar-benar serius dengan apapun yang akan dikatakannya.

"Aku mencintai Lee Sungmin. Benar-benar mencintainya sampai rasanya hidupku sekarang penuh dengan apapun tentangnya. Sungguh, kalau hyung bertanya apa aku mencintainya atau hanya merasa kasihan, tanpa ragu pasti kujawab seperti itu. Didalam sini, tidak pernah merasakan perasaan seperti ini hyung. Ini yang pertama." Kyuhyun memberi jeda, masih dengan tangannya sebelah tangan yang kini beralih mencengkeram dadanya sendiri.

"Tadi saat aku berjalan bersama Sungmin, dia bercerita banyak hal padaku. Tentang hidupnya, penyakit dan tentang ketakutannya. Mendengar itu aku hanya ikut takut hyung. Aku ragu.. aku takut jika kelak harus kehilangan Sungmin. Aku tidak mau kehilangan dia, tapi disisi lain, seperti yang hyung katakan tadi, aku juga takut kehilangan kesempatanku bernyanyi.

Aku mencintai Lee Sungmin, tapi bernyanyi juga satu hal yang tidak bisa ku tinggalkan. Aku ingin memiliki keduanya. Ingin bersama orang yang kucintai sambil menggenggam apa yang sudah ku raih saat ini. Aku ingin memiliki dan bernyanyi bersamanya. Salahkah aku jika punya harapan seperti itu hyung?"

Kembali, air mata itu mengalir deras. Hanya saja, kali ini isak tangis tidak luput dari sedu sedan dia yang tengah 'terjatuh'. Kyuhyun menangis, benar-benar menangis untuk menunjukkan sejauh apa takutnya dia. Sedalam apa perih yang telah terpatri dalam rapuhnya hati seseorang berumur Sembilan belas tahun. Kyuhyun mengangkat kedua kakinya sekarang, memeluknya erat guna menyembunyikan tangisnya dari takdir yang dulu ditantangnya.

Tidak, Kyuhyun tidak pernah menyalahkan takdir yang dulu mempertemukannya dengan Lee Sungmin. Dia hanya.. sedikit kecewa dengan bagaimana takdir itu sama sekali tak membantu dalam situasi se-menyesakkan ini. Sama dengan yang dikatakan Sungmin selama ini, dia juga lelah menghadapi hidupnya yang melilit.

"Kalau begitu perjuangkan apa yang sudah kau impikan itu Kyuhyun-ah. Walau Sungmin melarangmu untuk mencintainya, hanya kau yang dimilikinya sekarang. Kalian berdua berjuanglah. Tenang saja, saat kalian lelah, aku akan selalu ada dibelakang kalian. Hyung janji."

Kyuhyun tetap tak mengangkat wajahnya, masih dengan posisinya yang memeluk lutu. Leeteuk tahu, Kyuhyun mendengar apa yang diucapkannya barusan. Karenanya, namja itu melanjutkan apa yang dikatakannya dengan usapan lembut dirambut ikal dongsaengnya. Menuntun namja yang tengah 'lelah' itu agar segera pergi kealam mimpinya yang selalu penuh hal-hal menyenangkan.

"Harus ada yang 'kuat' disini Kyuhyun-ah. Karena kau sudah berjuang sejauh ini, istirahatlah sekarang. Biar hyung yang menjaga kalian. Ma'af juga jika tadi aku berkata kasar padamu. Itu perlu, dongsaeng-ah. Karena saat kau melangkah lebih jauh, ragu-ragu adalah sesuatu yang mampu menghancurkanmu."

Leeteuk ―kembali menghela nafasnya. Setelah memastikan dongsaengnya ini tertidur lelap, sang hyung segera menghapus lembut jejak air mata yang tertinggal. Memastikan kesedihannya hanya ada untuk malam ini, dan tidak menjelma menjadi sesuatu yang kemudian merogoh saku depan jaket Kyuhyun guna mengambil kunci mobil dan menjalankannya untuk mengantar namja ini pulang.

Yah.. jika ditilik lagi, doangsaengnya ini belum genap berusia dua puluhan. Masih dalam taraf belasan. Sembilan belas tahun, tidak mengangetkan jika wataknya masih sedikit labil. Walau begitu, Leeteuk yakin jika Cho Kyuhyun mampu menghadapi apa yang dipilihnya dengan dagu terangkat kelak. Mereka akan baik-baik saja. Ne, pasti seperti itu.

"Hahh.. dia pasti juga menangis sekarang. Kita lihat, alasan apa yang akan kau berikan padaku besok tentang matamu yang sembab itu Lee Sungmin."

"A..apa maksudmu aku tidak boleh mencintaimu, hyung? Kau menolakku?"

Bukan―bukan seperti itu.

"Kau selalu berkata konyol tentang hidupmu yang hanya sebentar! Semua manusia juga pasti mati. Aku, juga kau. Lalu apa yang kau takut kan? kenapa kau selalu menggunakan alasan itu untuk menyudutkanku?"

Kyuhyun-ah, mengertilah―

"Kau jahat Lee Sungmin. Kau egois! Kau pikir hanya kau yang menderita disini, huh? Kau tidak pernah memikirkan seperti apa perasaanku. Kau salalu berkata ini demi kebaikanku, tapi apa kau kau tahu seperti hatiku sebenarnya? Jangan berfikir kau tahu semua tentangku!"

Mianhae, mianhae. Aku yang salah, benci saja aku. Tapi kumohon, jangan pernah pergi dariku. Kumohon, sekali ini saja…

.

.

.


"Apa yang sedang kau pikirkan, hyung?"

Sungmin sedikit tersentak. Tangannya yang sibuk membenarkan baju astronot―baju yang biasa digunakan oleh penderita Syndrome XP jika ingin keluar di tengah sinar matahari― berwarna biru cerah, sedikit terpeleset. Membuatnya tampak kesulitan untuk membenarkan lipatan bajunya.

Kyuhyun yang tadi tengah membenarkan lubang udara dibelakang ―punggung, segera beranjak. Mengambil alih apa yang tengah membuat hyungnya kesulitan dan segera membenarkannya cepat. "Kalau kau masih memikirkan soal semalam, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apapun." Lanjutnya singkat.

"Mianhae."

Suara lirih itu terdengar dalam apartemen minimalis milik Park Jungsoo. Dalam satu kamar yang didominasi dengan interior berwarna pink cerah yang gorden tebalnya tengah tertutup rapat ―walau hari telah beranjak siang. Si empunya frasa mulai menunduk dalam. Tidak berani menatap langsung pada orbs kelam milik dongsaengnya.

"Gwaenchanha." Tanggapnya singkat. Namja itu segera berdiri. Mengambil helm khusus milik Sungmin dan mulai melangkah keluar kamar.

"Kyuhyun-ah…"

"Ayo hyung. kau tidak mau terlambat untuk training pertamamu bersama kami 'kan?"

Cho Kyuhyun masih disana. Mengulurkan tangan untuk menunggu sambutan tangan yang lain. Dia masih sama, masih dengan tatapan lembut yang terpancar hanya untuk Lee Sungmin. Tidak ada yang berubah dari penyanyi kesayangnya ini. Kyuhyun tetap memperlakukannya istimewa seolah kejadian semalam itu hanya bagian dari mimpi buruk yang tak pernah ada.

Perlahan, Sungmin melangkahkan kakinya. Mengangkat tangan yang terbalut oleh sarung tangan putih itu untuk menyambut tangan lain yang menunggu. Segera setelah tangan mereka bertaut, yang lebih muda segera menggengamnya erat. Menjerat tangan hyungnya dalam ikatan yang sulit untuk dilepas. Seolah jika dia lengah, namja indah disampingnya ini akan hilang tertiup kasarnya angin.

"Ne, ayo kita berangkat."

Keduanya mulai melangkah dalam diam. Mengabaikan tatapan heran yang sering kali didapat saat melihat pakaian 'aneh' yang dikenakan Sungmin. Setelah memasuki lift yang akan membawa mereka ke basement, Kyuhyun segera memakaikan helm khusus itu pada hyungnya. Helm berbentuk seperti kerudung bertopi dengan lapisan bening yang menutupi wajah itu sudah terpasang sempurna sekarang. Melindungi si namja aegyo yang sebentar lagi akan bertegur sapa dengan musuh abadinya.

"Apa kau tidak kepanasan memakai pakaian seperti ini hyung?"

"Aniya." Tawa Sungmin. Mood selalu bisa kembali dengan cepat jika sedang bersama dongsaengnya ini. "Aku sudah biasa memakai pakaian ini sejak dulu. Hanya saja ―kadang merasa risih saat banyak orang yang memandang heran ke arahku."

Kyuhyun mengangguk paham. Segara mengganti dengan pertanyaannya yang lain. "Lalu, kenapa kau sekarang memilih menggunakan baju ini ke SM building? Kita masih bisa memakai mobil seperti biasanya."

"Tidak apa-apa. Hanya ingin ―Uhmm.. nostalgia, mungkin? Sudah lama sekali sejak aku memakai baju ini saat siang, Kyu. Terakhir yang ku ingat, aku memakai ini saat pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo dan merengek untuk melihat pantai karena ingin melihat matahari terbenam."

"Hyung suka pantai?"

"Ne. Kau mau mengantarku untuk melihat pantai?"

TING

Jawaban Kyuhyun tertunda saat mendengar bunyi yang menandakan kalau mereka sudah sampai ke lantai dasar itu. Yang lebih muda segera menarik hyungnya. Berjalan cepat melewati basement yang tampak lengang dan mulai menapakkan kaki keluar. Berjalan melewati terangnya mentari yang menyambut datangnya hari.

Sungmin terdiam sejenak. Masih dengan tangan terbungkus sarung tangan putihnya yang menahan Kyuhyun untuk bergegas melewati tempat terang itu. Si namja penyuka pink itu mendongak. Menatap bagaimana berkas-berkas cahaya mentari kini menerpa langsung wajahnya yang tertutup helm bening. Sungmin menatap diam bagaimana angkuhnya bintang orange itu dimata. Bagaimana, sedikit saja sinar yang disebarkannya akan merusak jaringan kulit yang melekat ditubuh. Perlahan, hembus nafas mantap itu terdengar setelah beberapa detik berlalu. Bersamaan dengan sepasang foxy eyes yang ganti memancar penuh semangat.

"Hyung, kenapa?"

"Aniya. Ayo jalan lagi."

Namja bermarga Cho itu sedikit mengernyit mendengar ini, walau begitu Kyuhyun tetap diam. Hanya melanjutkan langkah mereka yang tertunda sambil mengenggam tangan hyungnya erat. "Tadi hyung ingin ke pantai 'kan? Karena aku sudah bosan ke pantai di sekitar sini, bagaimana kalau kita ke Jepang nanti, hyung saja yang mengantarku ke pantai?"

"Eh? Kenapa harus pantai di Jepang? Tidak bisakah disini saja?"

"Nanti kuberi tahu."

.

.

Kembali, ruang besar berdinding kaca itu menjadi saksi mati bagi ribuan orang yang tengah menjalani training keras demi meraih mimpi. Ruang yang bagi setiap artis SMEnt merupakan 'tempat transit' yang wajib mereka singgahi itu sekarang terasa sepi, lengang. Karena dasarnya training room ini berbeda dengan puluhan training room lain yang tersebar di SM building. Ruang training khusus, yang memang diistimewa-kan bagi mereka yang tergolong 'bersinar'.

"Jadi.. ini kah Lee Sungmin? Dia yang akan bergabung bersama kita?"

Suara tenor bernada antusias itu mengalun, bersamaan dengan tibanya dua sosok berbeda usia dari pintu cokelat di ujung sana. Kyuhyun membelalakan matanya saat melihat sosok mungil yang memandangnya ―memandang Sungmin sebenarnya, dengan mata berbinar. "Ryeonggu? Kau sudah datang?"

"Ahh~ jadi dia hobaee-ku? Manisnyaaa~ ayo peluk hyung, Minne-yaa~"

Tanpa mengacuhkan Kyuhyun dan sapaannya barusan, yang tersebut tadi segera berdiri dari lesehannya. Berlari cepat menuju Lee Sungmin ―yang kekeuh memasang tampang bodoh-namun-aegyo khasnya. "Wew, tidak kusangka aku mendapat dongsaeng baru. Berbeda dengan Kyuhyun, kau pasti akan menjadi dongsaeng yang manis kan?"

"Yaa! Diamlah hyung! dan apa kau bilang tadi? 'dongsaeng'? dia bahkan lebih tua darimu Kim Ryeowook. Sopanlah sedikit." Potong Kyuhyun. Suaranya terdengar kesal, satu karena diacuhkan dan satunya kerena ―ehem.. cemburu.

"Eh? Memang berapa usiamu?"

Sungmin yang diam langsung tersadar dari blank sesaatnya. Namja manis itu segera membungkuk, memberi salam hormat pada 'sunbae' mungil di depannya ini. "Lee Sungmin imnida. Umurku 21 tahun, salam kenal Sunbae."

Si namja mungil nan cerewet tadi mumbulatkan matanya lucu. Dua puluh satu tahun katanya? Lebih tua setahun darinya dong? Ya ampunn.. kenapa orang di depannya ini terlihat seperti remaja belasan tahun begini? Selesai dengan batinan terkejut tadi, Ryeowook segera berdiri tegak. Balas membungkuk hormat pada 'hyung' yang tadi disebutnya 'dongsaeng'. "Mi.. mianhae, Sungmin hyung. A..aku tidak tahu kalau ternyata kau lebih tua dariku. Err.. hyungnim tidak usah memanggilku seformal itu juga, oh ne~ Kim Ryeowook imnida. Senang bertemu denganmu hyung."

Sungmin tersenyum ramah, ujarnya "Tidak apa-apa. Aku juga senang bertemu denganmu, err… Ryeowook-ah."

Keduanya sama-sama tersenyum manis, seolah tidak mengacuhkan aura kesal yang menguar dari diri magnae mereka. "Sudah 'kan mengobrolnya? Kita latihan saja sekarang." Sungutnya pelan. Sebelah tangannya segera menarik Sungmin untuk berjalan kesudut. Bergabung duduk dengan namja tampan yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Yesung hyung." Kyuhyun menyentuh pelan pundak namja tampan itu. Menyadarkannya dari lamunan entah apa yang sejak tadi terlintas. "Semua sudah kumpul."

Kim Jongwoon ―Yesung, mengerjap sejenak. Mata sipitnya mengamati Sungmin yang telah terduduk diam disamping Kyuhyun. Menatapnya dengan pandangan sulit terbaca, sebelum mengakhiri aura canggung itu dengan senyum ramahnya. "Oh, hai Sungminnie, Aku Kim Jongwoon. Biasa dipanggil Yesung, kau masih ingat aku 'kan? Aku dulu yang melihat penampilan pertamamu bersama Sooman songsaengnim."

Yang disapa segera mengangguk, sedikit mengendikkan kepala sembari menjawab ramah. "Tentu saja. Pujian hyungnim dulu yang membuatku bersemangat sampai sekarang."

Yesung terkekeh pelan. Mengamati bagaimana team barunya telah duduk melingkar dengan focus yang tertuju penuh padanya. Seolah siap melakukan apapun yang akan dia perintahkan nanti. Tipe pandangan seorang tentara yang siap mematuhi komandannya. Ne, nasib mereka sekarang ada di tanganmu, Kim Jongwoon. Jangan sampai tangis kegagalan itu kembali lahir dari mata penuh harap mereka. "Baiklah, Sungmin-ah. Kau tentu tahu, kita akan debut bersama dalam SMtown Japan bulan depan. Sebelum itu, aku akan sedikit mengenalkanmu pada team kita ―yah.. walau kau mungkin sudah tahu, tapi tidak apa untuk mengulangi 'kan?"

Sungmin mengangguk patuh. Begitu juga dua orang lain. "Nah.. namja mungil ini Kim Ryeowook. Tipe suaranya tenor, sama sepertimu. Dia biasa mengambil nada-nada tinggi ―agak lemah dalam pengambilan nada rendah. Tipe Clasical Voice―"

Ryeowook mengangguk, kembali tersenyum pada Sungmin sebelum berujar antusias. "Dan aku sangat senang saat Heechul hyung bilang aku bisa menyanyi lagi. Aku rindu berdiri di atas panggung."

"Memang apa yang kau lakukan selama ini hyung?" ―Kyuhyun, sang magnae terlalu penasaran dengan hyungnya yang satu ini, ternyata. Karena berbeda dengan Yesung yang beralih menjadi trainer vocal di SMEnt, Kim Ryeowook memilih untuk kembali ke Incheon saat kelompok mereka vakum tiga tahun lalu.

"Aku tidak seberuntung kau, yang bisa 'menguasai' Asia seorang diri, Kyu." Jawanya lirih, matanya berkilat kecewa. Meski begitu, senyuman tetap melekat mengiring ucapnya ini "Aku kembali pulang ke Incheon dan membantu umma di toko. Yah.. sedikit mengumpulkan uang untuk kuliah juga―"

"Sedang yang ini Kyuhyun. Bertipe suara Bass, spesialis nada rendah. Dan tipe suaraku baritone, karena 'tenor'mu sedikit berbeda dengan milik Ryeonggu, kita akan melakukan sedikit penyesuaian. Kau siap 'kan?"

Suara serak bernada dingin itu memotong ucapan Ryeowook yang terkahir. Seolah tidak melihat beragam tatapan tak mengerti dari tiga dongsaengnya, sang hyung tertua hanya memasang wajah datarnya. Menyembunyikan beragam emosi dalam mata kelam yang kini menyipit tak terbaca. Sungmin sedikit tersentak mendengar perubahan emosi yang drastic dari hyung barunya ini. meski begitu namja manis itu segera mengangguk cepat. Menampilkan tatapan penuh tekat yang setara dengan mata 'mengancam' Kim Jongwoon.

Ne, tinggal sedikit lagi untuk meraih mimpi kabur itu. "Mengerti hyung. Aku siap melakukan semua perintahmu. Mohon bantuannya, semua."

"Bagus. Sebelum kita mulai latihan, ayo highfive bersama. Karena sekarang, sudah ada Sungmin, nama team kita adalah Super Junior K.R.Y.S" Yesung memulai. Mengajukan tangannya untuk disatukan bersama tiga anggota team lainnya. Bersama, mereka akan menjalani apapun di depan sana tanpa pernah menoleh untuk melihat mimpi buruk kemarin. Ne, Bersama.

"Hana.. Dul.. Set.. K.R.Y.S, FIGHTING!"

Ya, hanya selangkah lagi untuk mencapai langitmu Lee Sungmin. Bertahanlah!


.

TBC or End?

.


Special Thanks:

Day KyuMin's Fujoshi (Soal update yang kelamaan anggep aja ciri khas unn, kagak bisa ditawar lagi == #plak bakal diusahain deh,, review lagi yaa xD), Sha, MINGswife (Liat ch depan ya chingu, untuk sembuh ato gak, tungguin terus ff ini yaa), reaRelf, nurinukie1 (tenang, authornya ming biased, kagak bakal buat nae chagi menderita dehh ^^,, cla orang jawa tulen chingu~ soal 'kekeuh' Cuma kebiasaan aja,, kalo pensaran RnR terus yaa ), Vie Joyers3424, nikyunmin, Rima KyuMin Elf, min190196, WieLoveWolfBunnySelamanyah (Ahh ini nuna abdetnya lama yak? Maaf deh, udah kebiasaan == #kagakbisaditawar soal happy end ato gak, tunggu terus ya chagi.. RnR?), Ayu Kyumin, 0203, Hyeri (aku juga sedih kalo ngebayangin aku yg kena penyakit itu #ngeriii T.T bagaimana ch ini? apa masih sedih? Review, ne?), Cho Kyuri Mappanyukki, Kanaya (XP nggak mempengaruhi tubuh kok, pantangannya ya Cuma sinar matahari ―asal penyakitnya belum kronis, yaa~ review?), cherrizka980826 (ming udah sadar kok, alasannya ya kek di ch ini, review yaa), fygaeming, HeeYeon (yewook? Nggak ada pair lain di planning saya buat ff ini chingu, mianhae~ tapi aku gag terlalu suka buat ff dg banyak pairing ―coz, pasti konfliknya bakal nyabang kemana2, RnR?), qqmingkyutes137, kimjulia220799, sin naka (inginnya sih gitu chinguya~ ingin juga pd bahwa ff ini cukup bagus n layak baca, hanya saja, melihat SIDERS yang seperti itu, aku sadar kalo kemampuanku hanya sebatas ini,, makasih buat sarannya ya~ ^^ ditunggu saran yg lain), Han-RJ (ahh,, saya ngerasa tersindir nihh #bukanyaemangiya? Ff ini lama ditunggu karena takdir~ ^^v,, saya emang mau ngedepanin hub HTS.x kyumin chingu, kerasa lebih real aja kalo yg kek gitu kkk~ review lagi yahh), Gaeming137, Cho Miku (kesalahan yesung tunggu ch depan yaa,, ikutin terus oke?), DheeMin Lovers (makasih buat dukungannya chagi, perjuangannya ming emang baru dimulai~ review terus yaah), clouds1489 (tuan ceo ntu gag sadis kok chingu, Cuma rada nyebelin -,-~ kalo ch ini gimana? Masih bikin haru kah?), kyuminsaranghaeeeee, kyurin Minnie (jawabannya ada disini kan? Kalo ending, perkiraan saya bakal di ch 10, chingu,, bisa lebih tapi gag bisa kurang :P jangan bosen yaa), Melanimin (sooman ahjusshi tau kok kalo ming anti matahari, coba baca ulang ch 5 deh~ review ditunggu~ xD), Runa Evangel (Ahh kangen deh ama panggilan 'aki-chan' itu~ #keingetfandomsebelah kk~ soal alur itu emang sengaja dicepetin, karena ch awal ming centric, jadi bener2 di ceritain detail.x lha berhubung mulai sekarang udah masuk konflik, alur rada dicepetin, kalo tetep pake yg 'someone centric', bakal kagak selese2 Runa-chan~ #ngikutsksd,, ming udah 21th, soal ending, ikutin terus aja yaa~), Andhisa Joyers (suju kry emang jadi 'awal'x kyu, chingu. Cerita lengkapnya ch depan yaa~ RnR?), vinvin, Yukka ChoLee, niyalaw (apa ini udah termasuk angst chagi? Iyaa, emang adanya KRY, kan Eeteuk ma Heenim udah jadi karyawan #DOR! SM ==v,, RnR yaa), hyuknie, Saeko Hichoru (Jalan mereka bersama biar waktu aja yg ngejawab~ xD,, ahh,, chingu pikirannya sama kek aku, akunya gag bakal masukin orang ketiga di hub mereka kok~ aku gag suka bikin ff yg pake cinta 'bersegi' xD, review yaa), yukiLOVESUNGMIN (hmm,, bisa FS bisa aja nggak, chingu,, tergantung kita liatny dari sudut pandang siapa~ alasannya? Puannnjaaangg~ jangan bicara disini dehh,, takut kepanjangan~ dif b ato wp aja.. RnR?), vetrisia oktaviani, WhiteViolin, Tika, JOYeerrElpeu, Cho Rai Sa (lebih bagus dari aslinya? O.O ini mah masii jauuhh jika disbanding film itu chinguu~), PumpkinSparKyumin, Keyra Kyuunie.

.

.

Lagi,, ff ini terinspirasi dari Taiyou no Uta~ soal jalan cerita, maupun ending dipastikan bakal berbeda~ yang Tanya ini happy end atau sad end, tunggu sampai akhir aja yaaa~ ^^

Ahh,, apa saya update terlalu lama? #kagaktaudirilu! ==
Mianhae~ yg penting ch ini panjang kan? Terimakasih buat semua yang ngedukunng saya sampai sini, tanpa kalian, saya gag mungkin bisa lanjut sampai sini~ #bowbow

Yang Tanya fb, uname saya Claire D'automne, tapi yg niat add, tolong pm n cantumin uname yg kalian gunain buat review yaa,, biar saya tau kalo kalian ini bukan shipper dari pairing sebelah yg nyasar~ -,-

Selain itu,, hmm~ ff ini bakal end di ch 10―maybe saya bukan orang yg hobi maen .an, karena itu, mohon kritik n sarannya ya udah baca sampe sini, biar ch terakhir nanti gag perlu saya pindah di wp pake pw~ :P

Udah deh,, Ch depan bakal abdet cepet kalo readersx pada baik, ne yeorobuun~ Saranghae~

V

V

V