.

.

Taiyou no Uta

(A Song to the Sun)

.

.

Disclaimer : The characters inside are belong to God and themselves.

Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!


Music: Shonichi – AKB48


.

"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."

"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."

"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."

.


.

.

Mereka masih ada di ruang training khusus dilantai tujuh. Masih dengan Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Ryeowook dan Kim Jongwoon yang kembali menggeleng tak setuju. Matanya ―Jongwoon, tengah menatap penuh penilaian pada Lee Sungmin yang sekarang menatapnya takut. "Err.. Mianhaeyo Hyungnim. Apa nada-ku salah lagi?"

"Masih ada yang terasa 'janggal' di telingaku, Sungmin-ah. Lakukan seperti apa yang kubilang tadi. Pengambilan nada-mu itu masih terlalu rendah."

Lee Sungmin mengangguk cepat. Segera mengulang kembali nyanyiannya yang sempat dikomplain sang trainer. Namja manis itu kembali mengeryit takut saat tak lama, sang trainer yang akrab disapa 'Yesung' kembali 'mencekal' lagunya. "Kau salah lagi."

"Yesung hyung, lebih baik kita istirahat dulu." ―Itu Kyuhyun. Yang lama-lama tidak tega melihat raut takut Sungmin memucat tak nyaman sejak dia mendapat giliran menyanyikan line lagunya. Terlebih dengan berbagai complain yang diajukan leader mereka sejak tadi. Harusnya Kyuhyun ingat kalau jadinya pasti seperti ini. Yesung hyung-nya terlalu perfectionist jika menyangkut 'suara' mereka.

Yang disebut namanya hanya menoleh sambil menghela nafasnya dalam. Dua dongsaengnya yang lain (Kyuhyun dan Ryeowook) tengah menatapnya memperingatkan, saat ini. Seolah mereka yang didepan sana sudah memberi garis batas tak kasat mata untuk 'Berhenti membuat Lee Sungmin tertekan lebih lagi'.

"Ne. Kita istirahat dulu." Putus Yesung akhirnya. Namja itu mulai menggerakan tubuhnya untuk menyandar pada dinding kaca diruang training. Menyamankan punggungnya yang tegang untuk 'rebah' sejenak dari himpitan sesak 'saat' ini. "Kyu, Ryeonggu, bisakah kalian carikan minum untuk kita? Tenggorokanku rasanya kering sekarang."

"Aku tidak―"

"Arrasseo, hyung. Kami akan kembali secepat mungkin." Sanggup Ryeowook sambil tersenyum. Namja mungil itu segera menarik lengan Kyuhyun yang masih memasang raut tak setujunya untuk berdiri dan 'mencarikan' minum untuk mereka. Berbeda dengan Kim Ryeowook yang perasa, Cho Kyuhyun terlalu bebal untuk urusan 'perasaan' dan 'tatapan mata' tampaknya.

"Ya! Berhenti menarikku hyung! Aku ingin menemani―"

"Sstt.. Kau harus mengantarku mencari minum Kyuhyun-ah. Tiga tahun tidak kesini membuatku lupa jalan."

"Apa maksudmu? Kau pasti masih bisa melihat canteen yang terletak dilantai dasar 'kan?"

"Ya!" Ryeowook meninju gemas bahu dongsaengnya itu. Gelengan sebal turut menemani raut lembut yang mulai berubah 'tak ramah' itu. "Kenapa kau tak bisa peka sedikit saja, Cho Kyuhyun? Yesung hyung menyuruh kita 'mencari minum' pasti karena dia ingin berbicara berdua dengan Min hyung."

Kyuhyun masih mengernyit tak mengerti, "Memangnya mau bicara apa?".

"Tidak tahu." Yang lebih tua hanya mengangkat bahu tak acuh dan mulai melangkah maju. "Mungkin.. tentang tiga tahun lalu. Min hyung itu, kau bisa melihat kalau dia sedikit bermasalah dengan 'kepercayaan diri'. Ahh.. sudahlah, itu bukan urusan kita. Ayo cari minum saja."

.

.

.

Sungmin hanya diam, mulai menatap tak nyaman pada lantai kayu dibawahnya.

Ditinggal berdua bersama Yesung yang misterius ini terasa 'menakutkan' baginya. Namja bersuara indah itu memang terlihat ramah dan kalem diluar, tapi namja manis itu juga bisa melihat kalau ada 'aura' lain yang menyelubungi tubuhnya. Aura 'dingin' yang misterius. Membuatnya seolah terintimidasi hanya dengan ditatap datar seperti ini.

"Hey.. kemarilah, duduk disamping hyung." pinta Yesung lembut. Tangannya menepuk tempat kosong disampingnya, mengundang Sungmin untuk beringsut mendekat. "Jangan takut."

Sang dongsaeng segera menuruti 'perintah' itu. Menggeser tubuhnya hingga berakhir pada dinding kaca disamping Yesung. Sungmin duduk dengan melipat kakinya, dua tangan yang ada di pangkuan tengah saling mengait. Menunjukkan bagaimana canggung dan ―takutnya dia sekarang pada namja bermata sipit ini. "Mian.. Mianhae kalau aku tadi melakukan banyak kesalahan hyungnim. Aku.. aku akan berusaha lebih keras nantinya."

Kekehan pelan terdengar dari sang hyung, Yesung mengangkat tanganya untuk mengacak lembut rambut pirang cerah Sungmin. "Tidak apa-apa."

"Apa aku hanya akan menjadi beban kalau bergabung bersama kalian?"

Yesung diam. "Siapa yang bilang seperti itu padamu?"

"Tidak ada. Aku hanya―"

"Kalau begitu jawabannya 'Tidak'. Jangan membuatku terlihat seperti orang jahat, Sungmin-ah. Begitu kau masuk kesini, kau juga dongsaeng-ku. Bagaimana bisa kau berfikir dirimu adalah beban bagi kami? Kita disini satu keluarga. Tidak kah kau paham hal itu?"

"Mianhae."

Hela nafas lirih Yesung terdengar. Sungmin semakin menundukkan kepalanya saat melihat hyungnya itu menatapnya sendu. "Sungmin-ah, Apa hyung boleh bercerita sesuatu padamu?"


Yume wa ase no naka ni, sukoshi zutsu saite iku hana
Sono doryoku, kesshite uragiranai

[Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan
Dan usaha keras, itu tak akan mengkhianati]


Saat itu mereka masih sangat muda.

Tiga namja berinsting music tinggi yang sangat berbakat. Bersuara merdu, juga berwajah tampan. Sangat mudah bagi ketiganya untuk menguasai kancah music di South Korea sana. Mereka juga pandai bergaul, pandai membawa diri bersama jutaan fans. Itu juga juga yang membuat ketiganya sangat dicinta. Kyuhyun, Ryeowook dan Yesung. Atau lebih dikenal sebagai Super Junior KRY. Salah satu vocal grup dari SMEnt yang telah berhasil menarik jutaan orang untuk berdiri dibawah 'bendera' mereka.

Hanya saja, saat itu mereka masih remaja.

Seperti yang kusebutkan diawal, masih dalam usia yang muda untuk mengerti apa itu toleransi dan mengalah. Wajar memang, karena pada dasarnya seorang remaja masih dalam emosi yang labil. Tak tertebak, dan bukan sesekali mau menang sendiri.

Si bungsu Kyuhyun yang seringkali membangkang, Yesung yang ―walau kadang dewasa, tapi tidak sedikit pula membuat semua orang tercengang dengan sifat anehnya, bahkan si tengah Ryeowook yang terkenal penyabar pun sulit untuk menyatukan tiga orang dengan pribadi berbeda itu. Bukan satu dua kali mereka adu argument, saling 'senggol' satu sama lain, hingga kadang para petinggi di SMEnt pun melihatnya sebagai satu kesalahan karena mendebutkan ketiganya dalam usia yang belum matang.

Hingga hari itu datang. Hari dimana harusnya mereka berbahagia karena berhasil mendapatkan kesempatan debut di Jepang. Kesempatan untuk menjejakkan kaki lebih tinggi dan mengkokohkan nama sebagi salah satu yang paling disegani di Korea.

Yesung, sang hyung tertua mereka terlalu senang saat mendengar kabar baik itu dari Park Jungsoo ―manager meraka dulu. Layaknya remaja pada umumnya, namja tanggung itu pun ingin merayakan keberhasilan mereka. Turut mengajak dua dongsaengnya untuk berkendara ke Jeju island saat musim dingin tengah dipuncak. Usul yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sang manager.

Walau begitu, mereka tetap melakukannya. Diam-diam mengendap dan merencanakan perjalanan itu tanpa sepengetahuan Leeteuk. Sangat khas remaja. Hasilnya tentu tidak perlu ditanyakan. Kekhawatiran manager mereka tentang bahaya badai saat musim dingin terbukti. Mobil yang dikendarai Yesung kecelakaan. Terbalik di trotoar karena buruknya jarak pandang saat itu. Sangat klise sebenarnya, tapi inilah kenyataan. Akibat yang harus diterima bagi para bocah pembangkang yang sering kali menyepelekan beragam nasihat hyungdeulnya.

Baik Yesung maupun Ryeowook hanya mengalami luka luar. Beberapa kulit yang sobek kerena tergores pecahan kaca mobil, dan sedikit luka bakar dibeberapa bagian. Walau begitu, lain halnya dengan si bungsu Kyuhyun. Magnae mereka yang duduk di jok belakang nampaknya kurang beruntung. Salah satu pecahan kaca mobil sempat menggores tenggorokannya dalam. Menyebabkan suara merdu nan berharga baginya itu menghilang beberapa bulan.

Walau dokter yang menanganinya bilang kalau hal itu tidak berlangsung permanen, tapi tetap saja ini membawa dampak besar bagi grup mereka. Debut di Negeri Sakura yang sudah didepan mata itu kandas. Berantakan, karena insiden yang terjadi malam itu. Sang CEO yang mengetahui itu pun memutuskan 'diam'. Tidak lagi tertarik untuk menuntun 'sang anak asuh' yang dulu sangat dibanggakannya. Membiarkan tiga namja muda di Super Junior KRY itu kelimpungan saat tuntunan mereka 'lepas tangan'. Meninggalkan mereka dalam kebingungan.

Dan keputusasaan, tentu saja.

.

.

"… Setelah itu semua, KRY semakin 'redup'. Apalagi media semakin gencar memberitakan tentang 'disband' yang berulang-ulang. Leeteuk hyung marah padaku beberapa lama. Marah karena aku telah lalai menjaga dongsaeng kesayangannya. Walau begitu, dia mulai luluh. Hyung kesayangan kami itu kembali membantu KRY bangkit perlahan. Membujuk Sooman seongsaeng yang sangat keras hati agar mau 'mengurus' kami lagi. Tapi beliau menolak. Kekeuh menolak seberapa pun aku dan Leeteuk hyung memohon."

Yesung memberi jeda sejenak. Memandang sayu kearah Sungmin yang dengan setia menjadi pendengarnya. "Setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga seongsaeng menolak. Kyuhyun belum sembuh saat itu. Sementara aku dengan egoisnya meminta untuk melanjutkan debut kami, pergi ke Jepang hanya dengan Ryeowook. Berniat mengabaikan magnae kami yang tengah kesusahan karena kesalahanku. Hyung macam apa aku ini?"

"Yesung hyung―"

"Dan seperti yang kau tahu, KRY akhirnya bubar. Disband, karena salah satu pilarnya tumbang. Kyuhyun kami sangat depresi. Semua orang tahu, menyanyi adalah impian terbesarnya sejak dulu. Bocah itu sangat mencintai music. Sedang Ryeonggu yang tidak tahu harus melakukan apa di Seoul memutuskan untuk kembali ke rumahnya di Incheon. Kembali pada hidupnya yang sederhana dulu. Membuatku menjadi yang paling menyesal. Hanya bisa menyesal. Karena aku hyung tertua mereka yang tidak bisa apapun saat para dongsaengnya kesusahan."

"―Bukankah sekarang sudah tidak apa-apa? Biarkan apa yang sudah berlalu, hyung." potong Sungmin perlahan. Namja manis itu mulai meletakkan tangannya lembut pada tangan kecil Yesung disampingnya. Seperti yang sering dilakukan Kyuhyun padanya, mulai membawa dua tangan mereka dalam satu tautan. Berusaha membagi sedikit 'kekuatan' pada hyung barunya itu.

"Aku tidak bisa seperti Kyuhyun yang langsung bangkit begitu suaranya kembali. Kau tahu? Magnae itu langsung menghubungiku begitu dia dinyatakan sembuh. Berlari dari rumah sakit untuk mengabariku yang masih di SMEnt building. Kyuhyun memintaku untuk kembali pada KRY. Memulai semuanya dari awal dan kembali merajut mimpi kami yang terputus. Tapi aku takut saat itu.

Aku terlalu takut untuk memulai. Berbeda dengannya yang masih berani menatap kedepan tanpa bayang kegagalan dulu. Kyuhyun memulai lagi dari nol. Bersama Leeteuk hyung, mulai meyanyi dari jalanan. Menggelar street concert tiap minggu, rela menjadi figuran ditiap acara yang kadang memandangnya sebelah mata. Dia benar-benar membuktikan ucapannya untuk bisa bangkit. Walau dengan berbagai air mata diawal, Kyuhyun telah berhasil sekarang. Menjadi 'Sang Bintang Asia' yang dielu. Bukan sepertiku yang hanya menyembunyikan diri dengan menjadi trainer disini."

Kalimat panjang itu diakhiri Yesung dengan senyum miris diwajah. Namja bersuara indah itu mulai menggerakan tangannya, membawa puncak tubuh Sungmin untuk bersandar dibahunya. "Kau tahu kenapa aku menceritakan ini padamu?"

"Tidak tahu." Geleng Sungmin.

"Aku sering melihatmu takut mencoba.", Yesung menghela nafasnya, lagi. "Raut wajahmu kadang membuatku seperti bercermin, Sungmin-ah. Aku seperti melihat 'aku' yang seperti itu. Takut melakukan berbagai usaha karena tidak ingin gagal lagi. Disini bukan hanya kau yang takut.

Aku juga takut membuat kalian menangis lagi karena kebodohanku. Bukan hanya kau yang butuh uluran tangan. Lihatlah, aku butuh tanganmu untuk melewati semua ini. Sekarang kau mengerti kan? Kita tidak bisa berdiri sendiri. Karenanya, ayo lewati ini sama-sama."

Sungmin hanya bisa mengerjap kaku mendengar ini. Tenggorokannya tercekat, sesak saat tahu hyungnya yang disini juga mengelami kesulitan yang sama. Entah siapa yang paling menderita, dia yang tak pernah punya kesempatan untuk bermimpi atau Kim Jongwoon yang satu impiannya pernah runtuh?

"Tolong aku, Sungmin-ah. Aku ―hyung benar-benar takut mengecewakan mereka lagi."

Kalimat terakhirnya terucap lirih. Membuat Sungmin yang sejak tadi bersandar kaku di pundaknya perlahan menyamankan diri. Memejamkan mata, juga semakin menelusupkan kepala pada bahu hyungnya sekarang. "Aku sayang hyung." responnya kemudian.

"Aku tidak yakin bisa membantu apapun, tapi―"

Sungmin memejamkan matanya. Semakin menelusupkan kepala di sebelah bahu hyungnya yang terasa bergetar. Mencoba membaginya dengan setitik kekuatan semu. "―kalau hyung butuh seseorang untuk berbagi, aku akan selalu ada untuk hyung. Ayo ―ayo kita jaga mereka bersama."

Lagi, telah ada tautan yang lain pada sebelah tangan Lee Sungmin. Tangan yang juga menariknya untuk bersama menjalani dan memaknai apa itu kehidupan. Genggam erat yang akan menariknya dari kekosongan, dari gelap yang selama ini melingkupi. Dia sudah tidak sendiri sekarang. Dia bukan si aneh yang berkeliaran tanpa tujuan saat malam. Dia sudah punya seseorang yang menjadi sandaran. Juga seseorang yang telah menyandarkan diri padanya.

Dia Lee Sungmin yang baru, yang perlahan bangkit dari titik jenuh. Mulai tertatih guna meniti tangga terjal untuk menyonsong impian yang mulai tampak wujudnya.

Karena sekarang bukan sekedar bayang. Impian itu nyata, begitu juga Cho Kyuhyun, Park Jungsoo, Kim Jongwoon, dan Kim Ryeowook yang akan selalu membayang. Menariknya saat dia terjatuh, mengusap keringatnya saat lelah, hingga memberinya separuh nyawa saat semangat dan asa itu kikis oleh gelap. Bersama,mereka akan berlari dan melukis apapun mimpi indah yang ingin diraih.

"Ne, kita akan menjaga mereka bersama."

Lihat! Bukankah Tuhan itu adil, Sungmin-ah?

.

.

"Ya! Kenapa kau menangis, hyung?"

"Aish,, diam kau magnae! Bukankah sudah kubilang letakkan ponselmu dan dengarkan mereka, saja?"

"Bukankah itu namanya menguping?"

"Berisik! Sudah, ayo masuk. Mereka pasti sudah sangat haus sekarang. Bawa minumannya, Kyu."

"Kenapa aku yang ―Ya! Ryeonggu!"


.

"Aku selalu percaya akan datangnya suatu hari dimana matahari tidak lagi terasa menyakitkan. Hari terang dimana aku bisa berjalan dan berlari bebas dibawah bayang-bayang hangat mentari. Hari dimana aku bisa berdiri di pantai sambil menatap berani pada matahari terbenam. Hari dimana gelap itu akhirnya hilang. Aku percaya hari itu akan datang.

Walau tidak tahu kapan."

.


"Hey~ bukankah kau yang bilang ingin melihat pantai di Jepang? Lalu kenapa sekarang kita disini?"

Kyuhyun hanya tersenyum, namja tampan itu mulai menyamankan kepalanya pada sandaran kursi dalam mobil yang ditumpanginya bersama Lee Sungmin. "Nanti pasti tidak akan sempat. Lagi pula, tidakkah kau rindu pada pantai di Negaramu sendiri hyung? Pantai Gwanganli ini juga sangat indah saat malam, anggap saja ini hadiah setelah latihan keras seminggu belakangan."

Sungmin hanya menanggapinya dengan anggukan. Memilih diam, dan mulai mengamati rintik hujan dibalik kaca mobil disampingnya. Ahh.. benar. Hujan di Busan sudah sejak tadi menyambangi bumi, tetesan bening itu mulai menampakkan wujudnya begitu Kyuhyun memarkirkan mobilnya di sisi pantai yang sepi. Membuat keduanya hanya bisa bertahan dalam lindungan Audi hitam kelam ini.

"Kyu~"

"Hm?"

"Kau suka hujan tidak?"

Kyuhyun menoleh, "Ne."

"Aku juga suka hujan." Sambung Sungmin kemudian. Raut senang mulai tergambar diwajahnya, bersamaan dengan seulas senyum yang membayang. "Rasanya, menyenangkan sekali saat melihat matahari itu tertutup mendung."

"Begitukah?"

"Uhm. Kalau kau, kenapa suka hujan?"

Kekehan renyah terdengar dari yang lebih muda. Tanpa mengangkat kepalanya yang bersandar, Kyuhyun menoleh dan menggerakkan tangannya. "Tidak perlu alasan khusus untuk menyukai sesuatu, 'kan?" lima jari itu mulai merangkak lincah. Mengusap lembut pipi putih Sungmin yang berada satu garis lurus dengannya. "Bukankah hujan turun juga tanpa alasan?"

"Aniyo~" Sungmin merengut tak setuju. Namja manis itu langsung menegakan tubuhnya, menghadap penuh pada dongsaengnya yang masih bersandar santai. Dia mulai bersemangat sepertinya, pancaran tertarik saat foxy eyes itu menatap penuh minat benar-benar membuatnya lebih 'hidup'. Sangat indah. Sesaat, Kyuhyun sampai lupa dengan apa yang membuatnya tidak bersemangat hari ini.

"Sesuatu pasti terjadi karena 'ada alasan khusus'. Tidak mungkin 'kan, Tuhan sengaja menurunkan hujan tanpa alasan?"

"Lalu menurut hyung, kenapa hujan turun?" tanyanya tanpa minat.

Sungmin diam sejenak, terlihat seolah memutuskan jawaban terbaik untuk pertanyaan ambigu dari namja disebelahnya ini. "Aku.. juga tidak tahu." Lirihnya akhirnya. "Aku selalu merasa, ada berbagai macam alasan yang harus menjadi rahasia Tuhan. Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh kita, para hambanya ini. Seperti 'Kenapa' takdir berlaku kejam, 'Kenapa' takdir kadang tidak adil. Kita sering merasa tidak puas. Tapi bukankah lebih baik 'menurut'? Karena hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk kita."

"Tidak perlu sepesimis itu." Tanggap Kyuhyun tak setuju. "Kita juga diberi pilihan oleh-Nya. Pilihan untuk membiarkan takdir itu mengalir sesuai arus, atau membelokkannya agar menjadi sesuatu yang lebih baik."

Namja manis disamping Kyuhyun kembali terdiam. Mulai meresapi kalimat sarat arti tadi. Kyuhyun tahu, hyungnya ini terkadang masih takut untuk 'melangkah kedepan'. Statis pada bayang gelap yang sejak dulu menggelayuti. Tidak mudah memang untuk melepaskan diri dari jerat rasa takut dulu, Kyuhyun tahu itu. Tapi tidak mustahil bukan untuk mengkikisnya perlahan?

Hanya perlu setitik kepercayaan, sebenarnya.

"Hey, Lihat hujanmu sekarang, hyung. Perlahan berhenti bukan? Hujan turun karena dia akan berhenti nantinya. Tidak perlu tahu 'kenapa', cukup rasakan saja apa yang dibawanya ini. Rasakan bagaimana hawa sejuk atau aroma khasnya. Lihat pula bagaimana pelangi indah yang akan terbentuk nantinya. Adakalanya, kita harus bergerak melawan takdir untuk mendapat apa yang kita inginkan bukan?"

"Tapi butuh kekuatan lebih untuk itu."

"Tentu saja. Bukankah Tuhan hanya menurunkan cobaan bagi mereka yang kuat? Orang yang lemah tidak akan mendapatkan 'kesempatan' itu, hyung."

"Tapi aku bukan orang kuat." Adu Sungmin lirih. Namja itu menunduk dalam. Menatap kosong dua tangannya yang saling bertaut satu sama lain.

"Kau namja yang kuat hyung." tegas Kyuhyun.

Tentu saja. Lee Sungmin orang yang kuat bukan?

Dia mampu bertahan dalam sepi, gelap, sakit, dan keputusasaan selama hidupnya. Bertahan dengan senyum yang tetap terpatri diwajah tanpa lelehan airmata yang menunjukkan seberapa menderitanya dirinya. Lee Sungmin sudah mengajarkan Kyuhyun banyak hal. Berbagai macam tentang ketulusan, keikhlasan juga ketabahan hati. Dia bukan namja lemah, sungguh. Aku benar, 'kan?

Lagi pula, bukankah 'ujian' itu hanya datang pada orang-orang yang terpilih? Jajaran hambanya yang memiliki kesabaran, ketabahan, dan ketulusan yang lapang dihidupnya. Mereka yang tetap tersenyum saat 'kesakitan', saat 'sesak', bahkan saat nyawa yang melekat ditubuh kikis perlahan. Orang-orang seperti itu bukan orang sembarangan, mereka orang yang terpilih. Mereka orang yang dipercaya Tuhan untuk mengemban ujiannya yang berat. Ujiannya yang dikhususkan sebagai kesempatan 'istimewa'. Special, karena dibalik seluruh air mata dan kesakitan tiap harinya akan ada hadiah manis setelahnya.

Hadiah khusus bagi mereka yang berhasil bertahan dalam keterbatasan.

"Kau orang yang special. Percayalah hyung, kesedihan itu berujung. Suatu saat nanti, kau pasti akan menemukan kebahagian diujung itu. Balasan yang manis untuk seluruh kesakitanmu selama ini. Aku yakin."

dan kupastikan aku yang akan membawamu 'kesana', Lee Sungmin.

.

.

Hujan baru saja berhenti beberapa saat lalu.

Dengan segera, langit kelabu itu berganti warna menjadi layaknya lembayung. Cahaya keemasan mentari yang tadinya tertutup mendung dengan cepat menerobos gumpalan kelabu yang sejak tadi menguasai langit. Seakan tak sabar menghabiskan waktunya yang akan segera berakhir di tangan senja. Aroma khas tanah basah yang ditinggalkan hujan juga tak kalah cepat menunjukkan diri. Berlomba bersama hawa sejuk angin pantai untuk menutup hari kala ini.

Sungmin menatap itu semua dengan tertarik.

Mengamati dari balik kaca mobil berfilm tebal yang membatasi tubuhnya dengan udara diluar sana. Namja penyuka pink itu tersenyum kecil saat mata foxy-nya menangkap bayang bibir pantai yang kembali penuh dengan orang yang berniat menyapa senja. Bermain dengan ombak setelah hujan atau sekedar mengamati langit yang kembali bersih dari mendung. Kembali berwarna biru cerah yang terdistorsi dengan warna topaz. Pasti menyenangkan sekali, ne?

"Kau ingin kesana sekarang hyung?"

"Aniyo~" gelangnya sambil tersenyum. "Aku harus bersabar sebentar."

"Kenapa begitu?"

Sungmin menoleh sekarang. Dengan satu senyum jenaka, namja itu mulai kembali mendendangkan jawabannya "Aku akan mati jika kesana sekarang. Asal kau tahu, aku sudah memilih mati sampai waktunya tiba nanti. Bukankah berusaha untuk hidup itu lebih baik?"

Kyuhyun menelan ludahnya susah. Tercekat saat mendengar jawaban mengejutkan bernada ceria itu dari hyungnya. Meski begitu, si penyanyi muda ini masih mempertahakan senyumnya. Mengacak lembut surai pirang Lee Sungmin dan berujar antusias "Kau masih bisa kesana sekarang, hyung. Tidak akan apa-apa, aku jamin itu."

"Aku tidak mau menggunakan baju aneh itu lagi, Kyu." Tolak Sungmin.

"Siapa bilang kau harus menggunakan baju itu? Tertarik untuk mencoba?"


.

"Hujan itu berhenti sekarang. Menyisakan hanya pelangi indah yang terbentuk setelahnya. Aku jadi yakin semua 'sakit' ini juga pasti berujung. Sekali pun itu sekejap dan kematian adalah akhir, setidaknya kebahagian manis itu sudah pernah kukecap.

Aku benar, 'kan Kyuhyun-ah?"

.


"Kyu~ lihat! Aku sudah selesai menggambar wajahmu. Kau pasti akan terkejut saat melihatnya, ini mirip sekali! Ahh~ aku memang hebat!"

"Ya! Apanya mirip hyung? Aishh.. kau jangan merusak wajahku yang tampan dengan lukisan-orang-tak-berbentuk itu, hyung."

"Cih dasar. Kau itu magnae, tapi tingkahmu sangat kurang ajar begini. Sopan sedikitlah pada hyungmu ini Cho Kyuhyun." Protes sang hyung sinis.

Kyuhyun tertawa kecil saat ini. Membayangkan bagaimana raut wajah Lee Sungmin yang tengah merajuk dibelakang itu mampu membuatnya terkekeh rupanya.

"Ya! Apa yang kau tertawakan, eoh?"

"Tidak ada, dan jangan banyak bergerak hyung. Hati-hati dengan mantelmu. Walau sudah hampir gelap, tapi masih ada cahaya matahari sekarang."

Peringat kecil itu ganti membuat Sungmin yang terkekeh. "Ne~ aku juga belum ingin mati, kok."

Bertanya dimana mereka sekarang?

Benar. Dua orang itu sudah berada di Gwanganli beach. Dengan beberapa bias keemasan mentari yang belum sepenuhnya tenggelam dibarat, Kyuhyun dan Sungmin tengah duduk beradu punggung di pinggir pantai. Sungmin menghadap ketimur, dan Kyuhyun yang memblok sinar mentari di barat. Tubuh yang lebih tua tengah terbungkus mantel tebal. Mirip dengan kejadian di Tokyo beberapa waktu lalu. Hanya bedanya, Kyuhyun tidak sedang memeluknya, dongsaengnya tengah melindunginya dari belakang. Membiarkannya menikmati seperti apa pantai disaat senja.

Bukankah itu cara yang menyenangkan untuk menikmati pantai tanpa harus 'bunuh diri'? ucapkan terimaksih pada Cho Kyuhyun yang jenius ini, Lee Sungmin.

"Kyuhyun-ah, apa masih lama?"

"Sebentar lagi."

Kyuhyun menghela nafasnya, menghirup wangi segar pantai yang bercampur dengan aroma khas Lee Sungmin di belakang. Angin yang bertiup sesekali membuatnya memejamkan matanya, melepaskan sejenak pengamatannya pada mentari yang akan segera hilang di ujung cakrawala sana. Jemarinya perlahan memainkan pasir pantai yang merambah ditiap selanya. Merasakan bagaimana butiran halus itu perlahan lolos dan hilang dari jamahannya. Tak ubahnya seperti jam pasir yang tengah menghitung mundur waktu mereka yang tersisa.

"Kyuhyun-ah kenapa lama―"

"Sudah hyung. Ayo hitung bersamaku. Sepuluh.. Sembilan.. delapan.. tujuh.."

"―enam.. lima.. empat.. tiga.. dua.. SATU!"

"Yeah!"

Hyungnya langsung bangkit saat mentari diufuk sana sukses menyembunyikan dirinya. Melempar asal mantel hitam yang membungkusnya dan langsung berlari kelaut yang menanti. Namja itu menggerakkan kaki mungilnya secepat mungkin untuk menyentuh ombak yang menunggu didepan. Lincah, seolah tubuh itu bukan tubuh seseorang yang ringkih didalam. Lee Sungmin tersenyum lebar, tanpa ragu langsung menyerahkan tubuhnya pada pelukan samudra. Membiarkan bagaimana hangat mentari sore yang tersisa dilaut luas ini terserap ketubuh.

Kyuhyun yang melihatnya hanya bisa tersenyum tulus. Menikmati berbagai ekspresi ceria diwajah hyungnya yang tengah bermain air sendiri. Tenggelam dalam kebahagiaan yang sederhana, tapi bermakna begitu besar. Bagaimana 'kebebasan' kecil itu sangat berarti bagi Lee Sungmin seolah memberi satu lagi pelajaran baginya. Dia mengajarkan bagaimana bersyukur. Bagaimana menghargai apapun kebahagian kecil yang sempat menyambangi hidupnya. Sekalipun Kyuhyun yang lebih sering memberikan berbagai kalimat penenang bagi hyungnya itu, Dialah yang sebenarnya belajar paling banyak disini.

Karena Lee Sungmin tidak perlu berbicara apapun untuk mengajarinya. Hanya dari tindakan sederhana yang sering dilakukannya saja, hyungnya itu sudah mengajari apa itu kehidupan bagi penyanyi muda ini.

Perlahan, si penyuka salju itu bangkit. Turut berjalan antusias guna menemani sang tercinta yang tengah bercanda dengan lautan. Kyuhyun memulai dengan memercik air pada raut aegyo hyungnya. seolah mengibarkan 'perang' air antar keduanya. Sungmin segera menyambutnya dengan tawa. Membalas dengan semangat tingkah jahil Kyuhyun dengan antusiasme yang sama. Keduanya langsung larut dalam permainan penuh tawa ini. Sejenak melupakan berbagai letih atau pun sedih yang lalu.

Saat ini biarlah hanya ada Kyuhyun, Sungmin, dan seporsi kecil kebahagian. Ne, cukup mereka saja.

"Ya! Ya! Aku menyerah~ Kyuhyun-ah hentikan. Bajuku sudah basah!"

"Haha~ kau mudah sekali menyerah hyung! lihat aku aku bahkan belum basah sedikit pun." Ejek Kyuhyun.

Sungmin mengerucutkan bibirnya lucu. Kembali menamengi tubuhnya yang nyaris kuyup dari tangan jahil sang dongsaeng yang semakin semangat mengerjainya. "Sudah, sudah~ oke, aku mengaku kalah. Kau yang menang sekarang― Ya! Tidakkah kau tahu apa itu 'gencatan senjata' Cho Kyuhyun!"

"Haha~ Arrasseo, hyung-ah." Putus Kyuhyun setelah tawa kemenangannya terdengar. "Ayo kembali sekarang, Udara sudah semakin dingin." Putusnya kemudian.

Yang lebih muda segera menggerakkan tubuhnya. Menyeret kaki ke bibir pantai dengan sesekali memeluk tubuhnya yang terasa dingin oleh angin. Hah~ kalau sampai sang manager mengetahui apa yang sudah dilakukan dua bocah ini, namja cantik itu pasti akan marah besar. Sudah pasti Park Jungsoo tidak akan membiarkan anak asuhnya terserang penyakit 'kan? Yah.. Bersiaplah kalian berdua.

"Hey, Kyuhyun-ah! Dari dulu aku sangat ingin mengatakan ini padamu ―"

Kyuhyun menoleh. Menatap tidak mengerti pada Lee Sungmin yang masih betah berdiri diantara ombak. "Mungkin aku terdengar seperti orang yang tak bisa menepati ucapannya. Tapi jujur, apa yang ingin kukatakan ini adalah sesuatu yang tidak mampu lagi kupendam sendiri."

"Apa maksudmu hyung?"

Sungmin diam. Memilih untuk perlahan memundurkan tubuh kuyupnya. Si namja mungil itu semakin menjauhi Kyuhyun yang tengah menatapnya heran di bibir pantai. Sepasang mata foxy Lee Sungmin kekeuh memancarkan bias ketulusan. Dengan senyum menawannya, tangan terentang, dan background ombak dibelakang, rasanya tidak berlebihan jika Kyuhyun semakin merasa namja didepannya ini tak berbeda dengan sosok malaikat yang terjatuh.

Demi Tuhan, Kyuhyun selalu merasa bahwa bertemu dengan Lee Sungmin malam itu merupakan anugerah terbesar yang mampu memutar balik titik takdirnya. Dia sangat mencintai namja menawan ini, sungguh.

"―Suki da yo. Honto ni SUKI DESU CHO KYUHYUN!"

.

.

Lihat 'kan? Akhirnya Tuhan juga adil padamu, Kyuhyun-ah.


Yume wa namida no saki nakiyanda hohoemi no hana
Ganbatta tsubomi ga yagate saku

[Impian setelah air mata, bunga senyuman setelah tangis berhenti
Wujudkan terus usaha keras pun akan mekar]

Yume wa namida no saki amekaze ni makezu shinjiteru
Hareta sora ni inori todoku made

[Impian setelah air mata, kupercaya takkan kalah dari angin hujan
Sampai doaku mencapai langit cerah]

-Shonichi - AKB48-


.

TBC or END?

.


Special Thanks:

Hyuknie (death or gag ikutin aja yaa), sha, kerorokeyen, kyuminsaranghaeeeee, Ayu Kyumin (sekarang udah gag ditolak lagi tuh unn, kyu.x~ xD), cheririzka980826 (jleb banget nihh == jangan diprotes soal updatekaret yaa #dor! Nggak chingu,, disini pure KyuMin), wenyjung (terimakasih udah suka~ pendapatmu beneran bikin aku semangat lagi~ review terus yaa), ms. KMS, SM (perasaan ditiap chapter udah aku tulis deh == ini terinspirasi dari Taiyou no Uta~), Vie Joyers3424, ELLE HANA, Hyeri, WieLoveWolfBunnySelamanyah, bunny chu (aku emang lebih suka pake bahasa baku chingu~ xD), yukiLOVESUNGMIN, MINGswife, kyurin Minnie, vnovgyu, elfwidya, 1307 kms, thiafumings, athena137, Han-RJ (nggak usah mikirin 'pelangi'nya banyak2 chingu~ :D soal kalimat yg rancu itu aku udah cek lagi dan voila,, di doc aku udah bener, tapi biasanya ffn emang gitu, kadang ada yg kalimat yg gag sesuai ama upload-an kita, makasih koreksinya~ xD), nikyunmin, Satry Fadia, sarangHAEMINNIE (iyaa,, tapi tidakkah SIDERS pernah mikir kalo mereka juga butuh author buat dibaca ff.x chingu? T^T ), Keyra Kyuunie, HeeYeon, NeKyo, AngELFishyKyuMin (wew reviewnya marathon O.O hehe makasih udah suka,, kalo moment mereka berdua, ini udah ada kek gitu dipantai, nanti bakal ada lagi kokk~ xD), niyalaw, Yukka ChoLee, DheeMin Lovers (penggunaan garis panjang itu aku gunain buat pembatas 'ganti waktu', chagi~ malah ngganggu ya? Miannn~ ._.v ), Andhisa Joyers, yunjae aegya, AIDASUNGJIN, Saeko Hichoru (panggil aja 'Cla' kakak~ ehh, tapi keknya difb kita udah temenan kan? Masa iya gag tau aku? Si kakak ja'at ihh #plak!), reaRelf, JOYeerrElpeu, Cho Kyuri Mappanyukki, Tika (umur author genap 17 beberapa hari lagi, kak~ ==), Lilium Gyumn (ini juga marathon reviewnyaa ahhh senengnyaa / makasih udah suka ff ini yaaa), a, Rilianda Abelira (sebutan si tua ama si muda sebenarnya fave aku lhoo~ karna dengan gitu keliatan jelas, posisi mereka masing2 xD ma'af kalo mengganggu yaa), Zahra Amelia (ini juga marathon lagi~ T^T #terharu makasih udah sukaa~ iyaa,, ini emang terinspirasi ama film jepang itu chingu~), Jaylyn Rui, Runa Evangel (konfliknya datar ya? Hmm saya emang lebih milih masukin konflik batin mereka ketimbang konflik yg asli~ karna jujur, lebih enak mainin mental para tokoh~ :D #buagh review lagi yaaa xD), Rachael137 (soal penggunaan kosa kata korea disini emang aku sengaja,, coz kebanyakan readernya kan kpopers~ :D biar feel korea-nya makin 'berasa' gitu~ heee? Pengalaman pribadi? Aku nggak seberuntung mingy g bisa ngalamin kisah hidup seindah(?) ini chingu~), Kiigecha93, guest (Basi? Hmm~ ma'af deh kalo ff ini "Basi". Kemampuan aku buat ff emang Cuma segini~ Eh tapi kenapa anda gag nyantumin nama? Lebih baik anda terang2an kan ketimbang berani bicara tapi 'anonymous' gini~ itu tindakan pengecut lho kawan~ :D)

.

.

FF ini terinspirasi dari "Taiyou no Uta"~

Hahay semua~ #senyumpolos
oke2 saya ngaku salah, nggak usah liat kek gitu. Ini emang upadate.x lelet kok~ ==
mianhaeee! #bow

Saya bener2 sibuk belakangan ini. Persiapan ujian buat kelas XII beneran nyita waktu. Ma'af lagi jika chapter ini kurang memuaskan, gaje, basi ato apapun itu. Mohon dimaklumi karna kemampuan saya Cuma segitu~ #bow-again

Sedikit tambahan, "Taiyou no Uta" arti harfiahnya emang "Song of the Sun", tapi saya ngambil terjemahan dari film.x, karena "A Song to the Sun" maknanya lebih luas n sesuai ama FF ini. Sekian, mohon beri saya semangat buat bisa namatin FF ini sebelum semester depan ya,, karna yaah~ mungkin ni FF bakal discountinued kalo nggak bisa tamat sebelum itu ==

Oh yaa,, yang udah ngefave sesekali muncul dong~ tunjukin diri kalian dan beri saya masukan biar FF yang kalian "suka" ini bisa makin baik. Jujur, saya nggak suka ama "Fave n Run", itu buat saya sedih~ :(

Udah dehh~ saya tunggu pendapatnya yaaa, Saranghaeee~

PS: dengan sangat menyesal saya katakan "Taiyou no Uta" gag bakal end di ch 10, karna ternyata, plot yang saya siapin masi rada panjang, kemungkinan bisa molor ampe 12-13 ch~ jangan bosen yaaaa T^T

V

V

V