.

.

Taiyou no Uta

(A Song to the Sun)

.

.

Disclaimer : The characters inside are belongs to God and themselves.

Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!


Music: Crossing Field – LiSA
Marry U – Super Junior


.

"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."

"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."

"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."

.


"Hey, Kyuhyun-ah! Dari dulu aku sangat ingin mengatakan ini padamu ―"

"Apa maksud hyung?"

Demi Tuhan, Kyuhyun selalu merasa bahwa bertemu dengan Lee Sungmin malam itu merupakan anugerah terbesar yang mampu memutar balik titik takdirnya. Dia sangat mencintai namja menawan ini, sungguh.

"―Suki da yo. Honto ni SUKI DESU CHO KYUHYUN! (Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu, Cho Kyuhyun!)"

.

.

Cho Kyuhyun mengerjap sekarang.

Bingung, sekaligus tak mengerti arti kalimat terakhir yang diteriakan hyung-nya. "Hah? Kau bicara apa? Hyung tahu 'kan aku buta bahasa Jepang?"

"Oh begitu 'kah?" tawa Sungmin riang. Namja manis itu tidak begitu peduli dengan kebingungan Kyuhyun, sepertinya. Terbukti dengan rautnya yang masih memancar ceria tanpa beban. Perlahan, sepasang kaki yang masih terbungkus sepatu keds itu mulai melangkah, kembali berlari cepat ke arah Kyuhyun yang masih statis dengan wajah bingung dibibir pantai.

"Kau benar tidak tahu artinya―"

BYUR

"Hyung!"

Kalimatnya terpotong. Melihat itu, Kyuhyun segera menggerakkan kakinya. Menyonsong Lee Sungmin yang tengah terduduk ―terjatuh. Dapat dilihatnya, mata namja manis itu kosong selama beberapa detik. Raut terkejutnya sempat ditangkap Kyuhyun sekilas, sebelum dengan cepat tergantikan oleh wajah senyum tanpa beban.

"Ne?"

"Gwaenchanha? Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" kejar Kyuhyun saat tangannya sudah mampu menggapai tubuh Sungmin. Yang lebih muda segera menggerakan tubuhnya. Berjongkok diantara ombak bersama sosok hyungnya yang masih statis ditempat.

"Tidak apa-apa. Kakiku hanya.. kram ―mungkin."

"Sungmin-ah―"

Yang dipanggil menggeleng cepat. "Hanya kram biasa, Kyu. Kau tahu 'kan aku tadi langsung berlari kesini? Sebentar lagi juga hilang, kok."

"Kau yakin?" balas Kyuhyun sangsi. Matanya menatap langsung pada sepasang orbs caramel yang balas menatapnya yakin. Lugas, tanpa ada setitik ragu yang terselip. "Uhm. Kyu percaya padaku, 'kan?"

Memutuskan mengalah, Kyuhyun menghela nafas pelan sebelum menanggapi Sungmin dengan anggukan. Namja tampan itu mulai mengulurkan tangannya mencengkeram lembut lengan kirinya dalam genggaman. Perlahan, mulai membantu hyungnya itu berdiri tegak. "Ne, Arrasseo. Apa masih bisa berjalan, hyung?"

"Tentu saja! Aku masih kuat berja ―ughh~"

"Kenapa kau suka sekali berbohong, sih?" decak Kyuhyun kesal. Sebelah tangannya yang sempat menyambar lengan Sungmin sebelum kembali terjatuh mulai berpindah. Melepasnya sejenak guna mengusap lembut helai pirangnya yang separuh basa. "Ini hanya aku, hyung. Hanya ada Kyuhyun-mu, disini. Bukankah sudah berjanji untuk membagi semuanya padaku?"

Dapat dilihatnya Lee Sungmin itu mulai menunduk. Raut menyesalnya mulai tampak, terbukti dengan sepasang bola mata indah yang mulai mengerjap gelisah. "Mianhae. Aku hanya tidak mau merepotkanmu. Jangan marah, kumohon." Cicitnya kemudian.

"Aishh sudahlah." Putus Kyuhyun akhirnya. Namja itu mengusap kasar wajah pucatnya dengan sebelah tangan, sebelum kembali memandang Sungmin yang kekeuh menunduk. Masih menyembunyikan wajahnya dari sang dongsaeng. "Apa masih bisa berjalan?" Tanyanya penuh tekanan ―lagi.

"Kaki kanan-ku… kaku. Rasanya sulit untuk digerakan."

"Lalu kenapa tadi bohong, hyung?" desah Kyuhyun. Sang penyanyi muda itu kembali mengacak lembut kepala pirang hyungnya sebelum berjongkok. Menawarkan punggung lebarnya didepan Sungmin. "Ayo naik."

"Kyu―Kyuhyun-ah, dari sini hingga ke mobil masih lumayan jauh. A-apa tidak apa-apa?"

Kyuhyun menoleh. Mendapati hyungnya yang tengah menatap tidak enak padanya. Heh.. kenapa orang ini suka sekali menganggapnya sebagai orang lain sih? "Bukankah aku sudah bilang 'tidak apa-apa'? cepat naik, hyung. Udara benar-benar dingin sekarang."

"N-ne. Terimakasih, ma'af merepotkanmu, Kyu."

Kyuhyun tertawa ringan. Langsung menegakkan tubuhnya begitu Lee Sungmin sudah bertengger nyaman di punggung. Namja itu mulai melangkah. Membawa kakinya berjalan untuk menggapai ujung pantai berpasir putih didepan. "Berhentilah menganggapku orang lain hyung-ah. Apa kau masih tidak bisa menganggapku sebagai―" Kyuhyun menelan ludahnya susah. "―orang terdekat?"

"Kau orang yang paling berharga bagiku." Sanggah Sungmin cepat. "Dan aku tidak mau merepotkan kau yang seperti itu."

Kyuhyun tersenyum ―miris. Dia mulai menggerakkan tangannya. Menyamankan posisi Sungmin dipunggung yang langsung dibalas dengan pelukan di leher oleh si empunya tubuh. "Justru karena aku orang yang seperti 'itu', kau harus lebih terbuka padaku, hyung. Biarkan aku tahu semua sakitmu."

"Aku hanya tidak mau kau khawatir ―atau sedih."

"Aku lebih sedih lagi saat tahu kau memendam semuanya sendiri."

Orang dipunggungnya diam sejenak. Membiarkan hanya angin malam dan deru ombak yang mengisi kata diantara mereka. Sungmin yang melihat Kyuhyun terus melangkah dalam hening mulai mengeratkan pelukannya. Menghirup dalam wangi khas dongsaengnya yang terasa menyenangkan, pun menyandarkan kepalanya penuh pada pundak Kyuhyun. "Mianhae." Lirihnya untuk yang keberapa.

"Kau selalu saja begini." Gumam Kyuhyun. Langkahnya mulai melambat, menghambat waktu agar bisa menikmati kebersaamaan kecil ini lebih lama. "Aku hanya ingin kau membagi semuanya padaku, hyung. Bahagia atau sakit, senang atau sedih… Apa memang sesulit itu?"

"…"

"Apa kau merasa aku terlalu ikut campur?"

Sungmin masih pada diamnya. Membuat Cho Kyuhyun ini semakin mengapalkan erat dua tangan yang menyangga berat tubuh hyungnya. "Kau mau aku berhenti mencampuri urusanmu, Sungmin-ah?"

"Bukan seperti itu! Sungguh bukan, Kyuhyun-ah."

"Lalu?"

"Mengertilah," desah Sungmin. "Aku bukan orang seperti itu. Sulit bagiku yang selalu 'tertutup' untuk membagi semuanya pada orang lain―"

"Jadi kau menganggapku 'orang lain'?"

"Ya! Dengarkan ucapanku dulu!" peringat hyungnya kesal. Sungmin mengambil nafas sejenak sebelum kembali meneruskan kalimatnya. "Kau memang bukan orang lain. Kau itu ―kau berbeda. Kau yang membuatku merasa 'hidup' kembali, Kyu. Berbeda dengan umma, bersamamu aku selalu merasa bahagia. Rasanya, ―aku tidak tahu pasti. Demo, hounto ni suki desu (tapi, aku benar-benar menyukaimu)."

Dapat dirasakan Kyuhyun, namja manis itu mulai menenggelamkan kepala pada ceruk lehernya. Menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna pada pundak hangat yang lebih muda. "Ma'afkan aku. Kau tenang saja ―aku akan berusaha untuk jujur padamu. Jangan marah lagi, ne?"

"Aku hanya tidak ingin hyung selalu merasa sendiri."

"Mianhae~"

Kyuhyun hanya mengangguk. Masih meneruskan langkahnya untuk mencapai Audi hitam yang masih bersembunyi di sudut sana. Namja itu sesekali 'menata' ulang tangannya. Membenahi posisi hyungnya yang masih digendongan. "Aku berat, ya?" tebak Sungmin saat untuk kesekian kalinya, dongsaengnya itu menggerakkan tangannya. "Sampai sini saja, Kyu. Aku kuat kok berjalan ke mobil."

"Ck.. Aniyo, hyung. Tidak apa-apa."

"Jinja?"

"Ne." tanggapnya tegas. Kyuhyun terlihat menimbang sejenak sebelum berujar kali ini. Rautnya sedikit mengernyit takut. "Dari pada itu ―ada yang ingin ku tanyakan padamu, hyung."

Sungmin mengerjap, memiringkan kepalanya sedekat mungkin dengan Kyuhyun. "Mau tanya apa?"

"Aku tadi mencari di Internet tentang XP," mulainya hati-hati. Sungmin terlihat diam sejenak saat mendengar ini. Agaknya, namja manis ini cukup terkejut dengan pertanyaan tak biasa dari orang yang tengah menggendongnya. "Oh.. Lalu?" tanggapnya (mencoba) ringan.

"Disana tertulis, seseorang yang menderita Xeroderma Pigmentosum pada kulitnya akan terdapat banyak bintik cokelat kehitaman. Tapi kenapa ―kenapa kau―"

"Kulitku terlihat seperti orang normal begitu?" bantu Sungmin cepat.

"Ne. Apa.. apa itu berarti XP yang kau derita tidak terlalu parah ―kronis, maksudku?"

Yang lebih tua memilih tertawa sejenak sebelum memutuskan untuk kembali menyenderkan kepala pada bahu Kyuhyun. "Kyuhyun-ah, tidak ada yang seperti itu." Katanya pelan.

"Kulitku memang terlihat normal. Tapi kau bisa melihat ―merasakannya 'kan, kalau kulit ini lebih tipis dibanding kulit orang normal? Itu sudah membuktikan segalanya, penderita XP memang memiliki kulit yang sensitive, tipis. Hingga sangat mudah untuk terserang kanker kulit. Lagi pula, aku tidak pernah memikirkan itu, Kyu. Bagiku―"

Sungmin menarik nafasnya panjang. Menikmati sejuk udara pantai saat malam yang mulai merasuk ke paru-paru. "―Aku diberi kesempatan hidup hingga sekarang saja sudah bersyukur. Apa kau juga tahu kalau penderita XP sebagian besar hanya bisa bertahan hingga usia 20 tahun?"

"…ne."

Tawa ringan Sungmin kembali terdengar bak denting lonceng di telinga Kyuhyun. Sangat lugu, lagi penuh kejujuran. Polos, hingga siapa pun akan dengan mudah menebak betapa kuatnya semangat yang ada pada diri pemiliknya. "Karena itu, aku sudah diberi kesempatan untuk melewati satu tahun 'lebih' ini. Bahkan diberi begitu banyak keberuntungan untuk bisa bertemu denganmu dan merasakan apa itu 'impian'. Bukankah akan sangat tidak tahu diri jika aku berani meminta lebih pada-Nya?"

"Hey, jangan sedih. Aku sudah belajar 'terbuka' seperti katamu. Walau mungkin aku hanya bisa menemanimu sebentar, setidaknya kita masih bersama sekarang 'kan?" Si namja penyuka pink itu mengangkat tangannya, berniat membelai lembut raut tampan sang dongsaeng. Sungmin sedikit terbelalak saat jemari mungilnya sampai dipipi Kyuhyun yang terasa basah dalam jamahan. "Kyuhyun-ah? Kau menangis?! Ya! Jangan menangis! Bukankah ku bilang tidak apa-apa?"

"Siapa bilang aku menangis, eoh? Pipiku masih basah karena ulahmu tadi hyung. Sudahlah, lupakan saja, daripada kau menuduhku yang tidak-tidak, lebih baik kau memberi tahu ku apa maksud ucapanmu tadi. Aku baru ingat kalau masih penasaran karena hal itu."

"Kukira sudah lupa, haha"

"Aku belum pikun sepertimu! Ya! Jangan tertawa, beri tahu aku, Min hyung. Apa maksud kalimat tadi?"

Hyungnya masih tetap tertawa dalam gendongan Kyuhyun. Sungmin memajukan badanya dan mengecup kilat pipi putih namja didepannya, sebelum kembali merebah penuh pada pundak hangat Si penyanyi muda ini. "Ra-ha-sia. Ahh.. aku lelah, biarkan aku tidur, ne Kyuhyun-ah?"

Kyuhyun hanya menanggapi kalimat terakhir tadi dengan kekehan pelan. Senyum miris diwajahnya masih tetap bertahan. Berpadu dengan bulir embun yang tak mau berhenti turun dari sepasang orbs hitam kelam itu. Sakit sekali saat tahu waktunya bersama orang ini hanya digariskan sebentar. "Ne, istirahatlah, hyung. Biar aku yang menjagamu mulai saat ini."

Sekali lagi, tangisnya turun karena ulah Lee Sungmin yang manis ini.


Yume de takaku tonda karada wa
Donna fuan matotte mo furi hara tteiku

[Aku terbang tinggi meraih mimpiku
Aku akan melepas sebesar apa pun kecemasan di dalam tubuhku]

Nemuru chiisa na omoi hirogari dashite
Kizuku yowai watashi kimi ga ireba

[Perasaan kecil yang ingin ku lindungi kini mulai menyebar
Aku menyadari aku lemah, namun aku akan tetap bersamamu]


Mereka tengah menunduk dalam sekarang.

Dengan sesekali ujung mata yang saling melirik, baik Kyuhyun maupun Sungmin tampaknya telah sama-sama sepakat untuk menghindari tatapan 'dasar-anak-nakal' yang dengan setia dilayangkan sang hyung tertua mereka. Ne, duduk diam dalam ruang tamu bergaya minimalis inilah yang tengah mereka lakukan sekarang. Tanpa sempat mengganti baju yang basah dan langsung berhadapan dengan Park Jungsoo yang kadang terlalu overprotective jika menyangkut kesehatan para dongsaengnya. Dua namja tanggung ini sama sekali tidak punya nyali untuk ―sekedar membela diri.

"―jangan hanya bilang mengerti. Kalian harus ingat untuk tidak mengulangi hal itu lagi. Mengertilah, hyung hanya tidak ingin kalian sakit."

"Arrasseo, hyung~" koor keduanya patuh.

"Liburan memang boleh, tapi tidak dengan bermain di pantai saat musim seperti ini. Udara sangat dingin, apalagi SMTown sudah dekat. Bagaimana jika saat konser nanti kalian sakit? Kalian tidak ingin semuanya kacau 'kan?"

Sungmin mengangguk patuh, tanpa mengangkat wajahnya kembali menggumamkan kata ma'af untuk yang kesekian kalinya. Terlihat berbeda dengan ekspresi 'menyesal' Si Magnae yang tak berbeda dengan 'menunduk-sambil-melamun'. Entah apa yang tengah menyita pikirannya sekarang. "Baiklah. Hyung pegang janji kalian tadi. Sekarang cepat ganti baju dan makan. Aku sudah membeli bulgogi untuk makan malam. Kajja!"

Keduanya kembali patuh. Langsung bangkit dan bergerak untuk melaksanakan 'perintah' sang manager. "Sungmin-ah, kakimu kenapa?"

Manager muda itu segera bangkit dari duduknya saat melihat Lee Sungmin yang berjalan terpincang. "Ada yang sakit?" tanyanya lagi.

Dia tersenyum sejenak, sebelum kembali menggeleng. "Aniyo, hanya sedikit kram, hyung. Aku baik-baik saja."

Leeteuk mendecak tak percaya. Segera dituntunya dongsaengnya itu untuk kembali duduk di kursi tadi. Menepuk kepalanya lembut sebelum kembali berujar "Jangan bohong. Kalau kau bilang kram, harusnya tidak akan selama ini, 'kan? Kulihat jalanmu sudah terpincang sejak masuk tadi."

"…"

"Hey, di Korea ini, aku yang menjadi orang tuamu. Umma-mu sudah menitipkan seorang Lee Sungmin padaku. Beliau ingin aku menjaganya, mendidiknya untuk bisa bisa menjadi penyanyi hebat seperti impiannya sejak dulu. Jangan anggap aku orang lain, Min."

Leeteuk menatap dalam sepasang mata foxy dihadapannya sebelum menghela nafas dan memutuskan berdiri. "Baiklah kalau kau tidak mau bercerita, hanya saja jangan selalu merasa sendiri. Kau masih punya aku dan Kyuhyun disini."

"…Aku hanya tidak ingin merepotkan lebih lagi."

"Kau malah lebih merepotkan jika seperti ini. Aku jadi tidak tahu harus bersikap seperti apa padamu, Sungmin-ah. Kadang aku bingung harus memberi porsi latihan untukmu. Aku tidak ingin membuatmu memaksakan diri, tapi aku juga ingin kau tetap berusaha keras sesuai porsimu.

Itu yang kau inginkan, bukan? Hyung selalu berusaha untuk memahamimu, tapi kau yang seperti ini sangat sulit ku 'baca'. Berhentilah bersikap seperti itu. Jika kau memang tidak ingin merepotkan hyung, harusnya kau lebih jujur. Itu akan lebih baik untuk kita." Dia menghela nafas singkat. Sedikit mengatur emosi sebelum mulai berlutut di depan Sungmin. Membawa tanganya untuk mengelus lembut kepala berambut pirangnya yang menunduk dalam. "Hey.. hyung tidak sedang memarahimu, sekarang. Arrasseo?"

Sungmin masih menunduk, tanpa mengangkat wajah mulai menggumam lirih. "Ma'af." Ujarnya. "Tidak apa-apa." Tanggap Leeteuk dengan senyum. "Kita saudara, 'kan? Sekarang, apa aku boleh menebak apa yang terjadi pada kakimu?"

Tanpa sadar, yang lebih muda membulatkan matanya. "Hyung.. tahu?" nafasnya tertahan sesaat. "Menebak, Sungmin-ah. Dan kuharap tebakanku ini salah." Koreksi Leeteuk. Dia menurunkan tangannya dari helai pirang dongsaengnya. Ganti menyentuh kaki kanan yang masih terbalut jeans biru tua yang basah. "Apa… ―apa ini kerusakan syaraf karena XP?"

Sungmin mengerjap sesaat, sebelum mulai tersenyum pasrah. "Benar. Tapi hyung tidak usah khawatir, sungguh. Semua.. akan segera berakhir." Dia memberi jeda sejenak, "Ne.. Teuki hyung. sebentar lagi."

.

.

.

Malam ini entah kenapa hujan turun lebih awal. Belum juga bulan penghujung tahun datang bertamu, tetes air dari langit itu sudah lebih dulu menampakan rupanya. Mungkin terlalu merindukan bumi yang tengah bermesraan dengan musim gugur, atau terlalu perasa untuk mengerti bahwa seseorang tengah membutuhkan'nya' untuk menggantikannya menangis.

Di kamar ini, Kyuhyun dan Sungmin masih terjaga sekarang. Dengan masing-masing pandangan yang terarah lurus pada langit-langit bercat putih bersih di kamar Lee Sungmin, mereka saling berbagi ranjang.

Sang penyanyi muda itu memang terjebak di apartemen managernya setelah ―tanpa diduga hujan turun malam ini. Begitu selesai makan malam dengan berbagai ocehan Leeteuk tadi, Sungmin langsung pamit tidur, Kyuhyun yang tidak bisa pulang pun memilih hal yang sama. Mengikuti Sungmin ke kamar yang biasa ditempatinya saat bermalam di apartemen hyungnya ini. Si namja bermarga Lee itu juga tak begitu mempermasalahkan Kyuhyun yang kini berniat berbagi kamar dengannya. Hanya melaksanakan ritual sebelum tidurnya dan mulai ke ranjangnya. Tanpa canggung berbaring di samping Kyuhyun yang sudah lebih dulu menempati sisi kanan ranjang.

Tentu saja, mereka sama-sama namja, bukan?

"Kenapa belum tidur? Bukannya hyung bilang ingin tidur tadi?"

Itu adalah suara pertama yang muncul setelah diam yang lama dikamar ini. Sungmin tertawa kecil, tanpa mengalihkan pandangnya dari langit-langit kamar, dia menjawab "Kau sendiri?"

"Aku tidak bisa tidur saat hujan."

Sungmin menoleh sekarang. Menatap tertarik pada Kyuhyun yang ―ternyata tengah menatapnya juga. "Kenapa? Takut?"

"Bukan. Aku hanya suka hujan. Aku suka mendengarkan suara hujan."

"Apa.. apa kau berniat tidak tidur malam ini?"

Ganti Kyuhyun yang tertawa sekarang. "Tentu. Berceritalah sepuasmu, hyung. Aku akan menemanimu malam ini." ujarnya tulus. Dapat dilihatnya hyungnya itu merengut lucu, "Kau selalu tahu apa yang kuinginkan." Sungmin mengernyit sesaat. "Itu mengerikan. Kau seperti bisa membaca pikiranku."

"Aku memang bisa membaca pikiranmu, hyung." kekeh Kyuhyun. "Pembohong. Mana ada yang seperti itu di dunia ini?" cibir hyungnya.

"Aku mencintaimu."

Sungmin diam. Terlihat tidak siap dengan bahasan random yang terus bergulir tanpa bisa ditebaknya. Namja manis itu menghadap penuh kearah dongsaengnya. Sejenak melupakan langit-langit putih yang sejak beberapa menit lalu menjadi favoritnya , atau deras suara hujan yang terasa bagai denting lagu dikepalanya. Namja tampan disebelahnya ini tengah menjadi fokusnya sekarang. "Aku pun tahu kalau kau juga mencintaiku." Lanjutnya.

"Kita sama-sama namja." Sanggah Sungmin setelah diam yang lama. "Itu alasan yang buruk untuk menolakku." Tanggap Kyuhyun tak setuju.

"Aku tidak pernah menolakmu." Balas Sungmin lagi. "Aku hanya bertindak sebagai sosok yang lebih tua disini."

Kyuhyun tersenyum sinis. "Apa itu artinya kalau aku memanggilmu 'Sungmin-ah' dan bukannya 'hyung', kau tidak akan menolakku?"

"Lucu sekali. Tapi tidak, terimakasih. Aku hanya sedang memperingatkanmu disini, Kyu. Kau seorang public figure, ingat?"

"Apa seorang artis tidak boleh jatuh cinta?" kejar Kyuhyun cepat.

"Boleh. Kau boleh jatuh cinta, asal tidak pada orang yang bergender sama denganmu." Tanggapan tegas itu sesaat membuat keduanya diam. Sama-sama menyakiti dan disakiti dengan berbagai ocehan pengisi hujan malam ini. Sungmin terengah pelan, tidak sadar jika dia sudah terlalu lama menahan nafas saat 'debat' tadi berlangsung. Hey.. berbohong itu juga menguras tenaga, kalau kau paham maksudku. 'Jangan buat aku berbohong lebih lagi Kyuhyun-ah..'

"Hyung.. jangan bohongi perasaanmu." Kyuhyun menyambung cepat kalimatnya begitu Sungmin berniat protes. "Aku tahu aku benar. Atau setidaknya, biarkan aku 'benar' malam ini." tukasnya.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya sekarang. Kembali menatap kosong pada langit-langit putih diatas sana. "Kau selalu saja membuat semuanya sulit." Tuduhnya kemudian. "Tidak bisakah kau bersikap sederhana dan berhenti memikirkan hal yang belum terjadi?"

Si namja yang lebih tua hanya diam. Membiarkan Kyuhyun menumpahkan segala kesal dan marahnya padanya. "Berapa kali aku harus bilang kalau aku hanya ingin disampingmu? Aku hanya ingin kau berbagi denganku. Apa benar-benar tidak bisa, hyung?"

"Apa mencintai sesama jenis itu begitu menjijikannya bagimu? Asal kau tahu, hyung. Jatuh padamu juga bukan sesuatu yang bisa kurencanakan."

"Aku namja. Aku juga seorang yang penyakitan. Sebenarnya apa yang kau lihat dariku?"

Kyuhyun menoleh saat mendengar bisikan lirih itu. Menatap Sungmin lurus dengan sepasang obsidian hitamnya yang rapuh. "Kau satu-satunya orang yang membuatku khawatir. Kau juga orang yang selalu bisa membuatku menangis. Aku akan sakit jika kau sedih, aku juga sering menangis saat kau menyimpan sakitmu sendiri. Dibanding kebahagiaan, kau lebih sering memberiku tangisan."

"Ma'af.."

"Terlambat, Lee Sungmin. Aku sudah jatuh begini dalam, permintaan ma'afmu sudah tak berarti apapun." Dia diam sejenak. Mengamati bagaimana tangis diam hyungnya kembali muncul setelah sekian lama. "Lihat… kau menangis hyung. Kau juga sakit 'kan? Itu artinya kita sama. Kau sakit saat aku 'sakit', aku juga sakit saat kau sedih. Kita sudah sejauh ini. Kenapa kau masih tidak mau berdamai dengan perasaanmu?"

"Kyu.." Sungmin memulai. Menautkan jemarinya dengan milik Kyuhyun, dan langsung membawa tangan keduanya ke pelukan. "Berjanjilah satu hal untukku."

Sang dongsaeng tersenyum. Menghapus lembut lelehan air mata yang mengalir bebas disepanjang pipi putih Sungmin. "Apapun, hyung."

"Setelah ini kau harus bahagia. Kalau sampai.. kalau sampai aku mulai membuatmu sedih kelak, berjanjilah untuk segera pergi dariku. Lupakan semua tentangku, dan carilah kebahagianmu sendiri." Sungmin menatap Kyuhyun mantap. Mengeratkan tangannya yang bertaut di jemari Kyuhyun. Mencoba mencari kekuatan dari tangan besar dan hangat di genggamannya. "Aku bukan orang yang bisa menemanimu lama, ingat? Saat itu terjadi.. kau harus ingat apa yang kukatakan malam ini."

GREP

Itu batasan yang Kyuhyun miliki malam ini. Dan batas itu hancur sekarang, Kyuhyun tidak kuat lagi, namja itu langsung menarik Sungmin dalam pelukan. Merengkuh kuat tubuh mungil hyungnya dalam lingkupan hangat berbalut sedih. Dia ―tidak, mereka saling tergugu, menangis dan membasahi bahu masing-masing dengan air mata yang tak terbendung. Berbagi sakit 'sakit' persis yang Kyuhyun katakan dalam malam kelam bersama hujan.

Jika diluar sana luruhan air dari langit masih mengalir deras, maka berbeda dengan Kyuhyun yang memulai senyum diantara tangisnya sekarang. Namja itu merenggangkan pelukannya sekarang. Menghapus bersih semua kesedihan hyungnya dan menangkup raut Sungmin dalam genggaman. "Aku berjanji. Aku janji semua tidak akan semengerikan bayanganmu. Kita akan bahagia, Sungmin-ah. Percayalah."

Perlahan, Kyuhyun memajukan wajahnya. Mencoba meraih Sungmin dalam satu ciuman lembut. Menggapai bibir pinkish sang hyung untuk memulai ciuman pertama mereka. Satu penyatuan yang manis, dengan deru hujan sebagai pengiring dan tersembunyi dalam balik remang kamar. Yang lebih muda semakin menekan tengkuk sang hyung lembut. Memperdalam dua bibir yang saling berbagi rasa malam ini. Saling memagut, pun memberi satu kepastian akan mereka yang telah terhubung sekarang.

Sungmin masih menangis, walau debar menyenangkan dan desir kebahagian itu mulai merasuk di dada. Seolah semua sedih dan sesak yang bersarang tadi luntur oleh hujan, dia mulai memeluk erat leher jenjang Kyuhyun. Membalas semua yang dicurahkan baginya. Pun membiarkan sang penguasa baru bagi dirinya memonopoli semua yang akan berlanjut malam ini.

"Kita akan bahagia." Ulang Kyuhyun sebelum memulai.

Itu benar, bukan? Tenang saja, dua manusia diciptakan memang untuk saling melengkapi. Layaknya puzzle asimetris yang akan membentuk bangun baru, mereka juga akan menyatu dan menjadi kuat. Bersama, menempuh apapun takdir yang telah tergaris.

Yes. It must be happy ending, right?


Kurai sekai tsuyoku ireta
Nagai yume miru kokoro wa sou eien de

[Meski dunia ini gelap, aku akan tetap kuat..
Hatiku memimpikan impian yang panjang, ya, selamanya..]

I wanna always stay with you
I wanna hold you right now
I swear I'll wipe your tears
I give you everything I have


Ruang utama dalam bangunan megah SMbuilding itu tengah terisi aura serius sekarang. Sang pemimpin yang terduduk dalam kursi mewah dibelakang meja kerjanya tampak tertarik untuk mendengar penjelasan dari salah satu anak didik kesayangannya. Mata tajamnya tak lepas dari grafik menanjak yang tengah berkedip redup dari laptop putih yang dibawa sang murid.

"Seperti yang anda lihat, teaser Lee Sungmin yang kita keluarkan minggu lalu menuai respon yang sangat bagus. Yah.. meski sebagian besar berisi hujatan karena rencana perombakan Super Junior KRY, tapi setidaknya antusiasme para penggemar masih sangat tinggi. Setidaknya hal ini telah mengundang rasa penasaran mereka. Terbukti jika nama 'Kyuhyun' dan 'KRY' tetap mengambil andil besar disini."

Lee Sooman mengangguk setuju. Mengamati artikel di official site Super Junior KRY yang telah menampilkan foto acak (puzzle wajah) dari sosok member teranyar mereka. "Itu bagus. Setidaknya kau telah berhasil memancing rasa penasaran mereka. SMtown Japan beberapa saat lagi pasti akan sukses besar."

"Dari pada itu seongsaengnim―"

"Aku tahu Jungsoo," potong Sooman saat Leeteuk dihadapannya ini berniat membantah argumennya. "aku juga bukan orang yang suka ingkar janji. Seperti kataku dulu, jika kau berhasil mendidiknya kali ini, maka aku akan memberikannya kesempatan itu." Sambungnya angkuh.

Park Jungsoo ―Leeteuk, mengangguk mengerti. "Apa jika dia berhasil anda benar-benar akan mengorbitkannya? Tanpa training?"

"Mungkin iya. Karena itu aku memasukkannya kedalam KRY." Jawab sang CEO. Pria paruh baya itu mulai merilekskan duduknya. Menatap sang murid dengan pandangan kelam yang tak tertebak. "Selain Jongwoon merupakan sosok yang mampu membimbingnya, bukankah jika tidak ada Lee Sungmin, pemuda itu juga tidak akan mau keluar dari 'cangkang'nya? Dia terlalu pengecut jika aku tidak memberinya satu 'nyawa' baru untuk umpan. Dan dongsaeng barumu itu sosok yang tepat. Bukankah dengan begini sekali dayung aku bisa meraih dua keuntugan sekaligus?"

Jawaban diplomatis dari sang guru tadi tak ayal membuat Leeteuk tersenyum. "Anda benar." Tanggapnya. "Lalu, seongsaengnim―"

"Ne?"

Dia tampak ragu sejenak. Sebelum kembali memandang sang atasan dengan tatap mantap. "Apa hanya itu rencana anda untuk anak itu?"

Kali ini, Lee Sooman terkekeh. Menggeleng tak percaya pada sang murid yang telah berani 'meminta' sebanyak ini padanya. "Heh..Tidakkah kau berfikir jika yang akan kau minta itu berlebihan? Dia bukan Kyuhyun."

"Tapi―"

"Aku paham maksudmu. Tapi aku juga tidak mau mengambil resiko besar hanya demi bocah macam dia." Tegas Lee Sooman mutlak. Leetuk menunduk sejenak, mengatur nafas dan emosinya sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Arrasseo, Seongsaengnim. Saya permisi dulu kalau begitu."

Namja berambut hazel itu mulai menutup laptopnya sekarang. Membungkuk hormat pada sang atasan dan mulai beranjak pergi. Tepat sebelum tangannya menyentuh handle pintu berwarna emas, Leeteuk kembali menoleh. Mengernyit tak mengerti dengan panggilan seongsaengnim-nya.

"Tapi Jungsoo ― Aku tahu anak itu tidak akan berumur panjang. Jadi, anggap saja aku merasa kasihan padanya."

"Ma'af?"

"Karena itu, kuberi waktu satu tahun. Jika dia bisa bertahan, mungkin satu album solo layak sebagai hadiah terakhir dariku."

Leeteuk mengerjap. Kaget sekaligus tak percaya jika seongsaengnya yang angkuh ini mampu menjanjikan hal seperti itu. Satu album solo, katanya? Apakah itu artinya atasannya ini menerima usulnya untuk mengorbitkan Lee Sungmin sebagai soloist nantinya?

Apapun itu, hanya senyum lebar dan bungkukan terimakasih yang mampu diekspresikannya sekarang. "Arrasseo. Kami akan berusaha lebih keras lagi. Jeongmal gomawo, seongsaengnim."

Ucapan terimakasih itu tulus. Karena Leeteuk tahu, sekalipun kalimat tadi terucap bersama ungkapan kejam dan bernada abai, seongsaengnim-nya ini tetap memberikan kesempatan bagi mereka. Beliau tetap sebaik ini. Sosok yang keras kepala, ambisius, dan sosok yang Leeteuk hormati dalam balutan keangkuhannya. Karena dia tahu, dibalik keangkuhan itu, jiwa seorang 'guru' yang ingin semua anak didiknya mecapai puncak tetap ada di orang ini.

'Kita harus berusaha lebih keras lagi mulai sekarang, Sungmin-ah…'

.

.

Hari mulai beranjak malam kembali. Setelah training yang melelahkan dari pagi hingga matahari kembali tidur, Lee Sungmin kembali memperoleh hari bebasnya.

Disini, ditengah hiruk pikuk Seoul disaat malam, namja itu mulai melangkah. Dengan senyum yang terulas diwajah dan tempat gitar ditangan. Dia mulai menyusuri jalanan ibukota Korea Selatan yang sudah lama ditinggalkannya itu. Memulai hobi 'Street Concert' layaknya di Tokyo dulu, hanya bedanya ―

"Tidak bisakah kau berjalan pelan-pelan hyung? Atau kau memang sengaja meninggalkanku disini?"

―sekarang dia tidak sendiri. Disamping kanannya Cho Kyuhyun ―dengan mantel tebal serta topi hitam yang menutupi wajah, tengah berjalan kesal. Mencoba mengimbangi langkah kaki hyung mungilnya yang kadang terlalu lincah.

"Aku kan sudah bilang kau dirumah saja. Bukankah seharian ini kau sibuk menyanyi? Lebih baik istirahat dan tidak perlu ikut."

"Dan membiarkanmu berkeliaran sendiri di pusat Seoul begitu? Hell no!"

"Hey.. aku namja berusia 21 tahun, kalau kau lupa."

Kali ini Kyuhyun mendecak kesal. Menarik Sungmin lebih dekat ke pinggir trotoar, takut identitasnya terbongkar. "Ck.. bukan begitu hyung. Ini Seoul, bukan Tokyo. Kau sudah lama berada di Jepang, bagaimana kalau tiba-tiba kau lupa jalan atau semacamnya?"

"Lucu sekali~"

"Aku serius disini." Tegas Kyuhyun. Matanya menatap tajam pada Sungmin yang sekarang terkekeh. "Baiklah, baiklah.. ini tidak akan selesai kalau aku tetap meladenimu. Ayo pergi." Putus Sungmin akhirnya.

"Begitu lebih baik."

Sungmin kembali terkekeh pelan. Meneruskan langkah untuk mencari tempat yang dirasanya tepat untuk menyanyi. Setelah beberapa menit, langkah kakinya menemukan satu tempat lapang di samping taman kota. Tempat yang ditemboknya terdapat layar lebar bergambar bunga matahari besar. Ne, bunga kesukaannya. "Disini saja. Kau pergilah, Kyu."

"Mwo? Kenapa aku harus pergi?"

"Karena aku tidak ingin orang melihatku karena ada kau." Katanya. Dia mulai mendudukkan dirinya di trotoar. Membuka tempat gitarnya dan kembali mendongak ke arah Kyuhyun yang kekeuh berdiri disisi kanan. "Pulanglah, dulu. Aku tidak akan lama."

"Tidak ada yang mengenaliku disini hyung." rayu Kyuhyun. Rautnya mulai mengalah saat Sungmin mulai menunjukkan wajah memelasnya. Namja itu sekarang berjongkok, menyamakan tingginya dengan Sungmin dan mengecup dahi namja manis itu kilat. "Arrasseo, aku akan melihatmu dari bangku di ujung sana kalau begitu."

Kyuhyun tersenyum lebar. Mencoba menahan seringai puasnya saat wajah terkejut dengan rona merah yang menjalar itu masih terpeta pada Lee Sungmin. "Fighting, Min hyung!"

Dia berjalan pelan, mendudukkan diri dibangku taman yang terletak tak jauh dari tmpat Sungmin menyanyi. Kyuhyun bisa melihat bagaimana Sungmin ekspresi Sungmin yang berubah serius. Menghayati tiap lirik dan petik gitar yang sedang dimainkannya. Beberapa orang yang lewat sesekali menoleh, tapi kebayanyakan hanya memandang abai dan tidak berniat 'mampir'.

Kyuhyun mulai khawatir sebenarnya.

Dia nyaris saja beranjak dan berniat membantu sang hyung untuk 'mengumpulkan' penonton jika beberapa orang yang lewat akhirnya berhenti dan singgah. Mengamati dengan tatap kagum dan wajah mengangguk puas dengan permainan gitar dan suara merdu yang ditampilkan si penyanyi jalanan. Dapat dilihat Kyuhyun, Sungmin hanya tersenyum ramah, seolah terbiasa dengan perhatian para penggunan trotoar yang mulai tertuju padanya. Semakin banyak, dan ramai.

Sepertinya lain kali penyanyi muda ini harus lebih mempercayai kemampuan sang hyung (atau kekasih, mungkin?). Ahh.. tapi sepertinya dia akan lebih tertarik dengan lirik yang dipilih Lee Sungmin kali ini. Aku benar, kan, Kyuhyun-ah?

Geudaereul saranghandaneun malpyeongsaeng maeil haejigo shipeo
[Saying I love you is what I want to do the most everyday in my life]

Would you marry me? Neol saranghago akkimyeo saragaro shipeo
[Would you marry me? I want to love you, treasure you, and live with you]

Geudaga jami deul ddaemada nae pare haewojugo shipeo
[I want you to lean on my shoulders each time you sleep]

Would you marry me? Ireon naui maeum heorakhaejurae?
[Would you marry me? With this heart of mine, will you accept me?]

.

.


TBC or End?


Ahh.. akhirnya bisa update, saya yakin kali ini tidak lebih lama dari pada kemarin bukan? #nyengir innoncent *ditimpukkursi

Ma'af jika masih lama, yaaa~
Saya nggak bisa lebih cepat dari ini. Oh iya, soal kosakata asing yg harusnya italic, saya udah tahu kok, cuman, berhubung dari ch satu udah gitu, mau saya terusin aja ampe ch terakhir. Biar nggak keliatan beda gitu~ makasih sarannya buat Mochie unnie~
Ma'af juga nggak ada balesan review, buat yg laen. Di sini udah tengah malem. Plus saya juga udah ngantuk. Do'akan saya bisa update lagi yaaa.

Pendapat, kritik, n saran buat ch ini masih ditunggu~~

Arigato gozaimasu, minna-san~ #bow