.
.
Taiyou no Uta
(A Song to the Sun)
.
.
Disclaimer : The characters inside are belongs to God and themselves.
Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!
Music: Omoide no Hotondo [Most of My Memories] – Acchan & Takamina [AKB48]
.
"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."
"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."
"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."
.
.
.
Musim gugur sudah mulai menyampaikan kalimat perpisahannya pada bumi. Daun yang asalnya memerah dan berguguran dari tangkai, mulai habis. Menyisakan hanya beberapa yang mampu bertahan untuk tetap terjatuh di hari kemudian. Di Seoul ini, salju pertama baru saja muncul tadi pagi, menyembunyikan sinar terik mentari dalam gulungan awan keperakan yang tertata sepanjang langit.
"Jadi hyung akan menemani kami berlatih hari ini?"
Suara Sungmin terdengar dari arah dapur. Namja itu sedang sibuk memotong pancake di piringnya. Sesekali matanya beralih pada deretan not balok di buku yang terletak di samping kanan. "Apa tidak akan merepotkan?"
"Aniyo ―dan berhentilah melakukan 'hal lain' saat makan Sungmin-ah. Masih ada waktu latihan seharian nanti." Leeteuk menjawab lembut. Memberi penekanan khusus pada kata 'hal lain' dan mendudukan diri disamping Sungmin. "Kita masih harus menyiapkan konsep untuk SMtown nanti. Ada banyak hal yang harus dibicarakan, dan sebagai manager kalian, sudah seharusnya aku ikut hadir, bukan?"
Sungmin menghentikan sejenak kegiatannya saat mendengar ini. "Hyung," matanya mulai menerawang kosong ke depan. Tampak sedikit ragu, sebelum meneruskan ucapannya tadi. "apa menurutmu aku bisa melakukan ini? Bagaimana.. bagaimana kalau nanti aku malah menyusahkan ―dan yang lebih parah malah mempermalukan mereka?"
"Kenapa kau senang sekali menanyakan hal ini, huh? Kau tidak percaya pada kemampuanmu sendiri, eoh?" tanggap Leeteuk. Alisnya mengernyit tak setuju saat ini.
"Bukan.. bukan begitu." Sungmin menggeleng. Mulai melupakan pancake strawberry yang sisa separuh di piringnya. "Aku hanya.. coba hyung pikirkan. Yesung hyung, Ryeowookie dan Kyuhyunnie sudah bertahun-tahun training. Mereka juga sudah sering tampil di konser-konser besar. SMtown pasti sudah bukan masalah sekali pun mereka pernah vakum sekian lama.
Tapi.. lihat aku sekarang. Aku sama sekali tidak punya pengalaman menyanyi didepan umum, tidak pernah training music sekali pun. Dan aku yang seperti ini yang akan bernyanyi bersama mereka dalam satu panggung. Tidak kah menurut hyung hal itu hanya akan mempermalukan mereka nantinya? Maksudku―"
"Hey.. Sungmin-ah, coba jawab pertanyaan hyung sekarang. Menurutmu, bagaimana kemampuan Jongwoon dalam menyanyi?"
"Eung.. Yesung hyung? Tentu saja dia hebat! Teknik menyanyinya bagus sekali, warna suaranya pun sangat indah."
"Kalau Ryeowookie?"
"Kalau Ryeowookie.. mungkin agak lemah dalam nada rendah, tapi dia jago sekali menyanyikan nada-nada tinggi. Selain itu, suaranya yang jernih dan melengking itu merdu sekali."
"Nah.. kalau si magnae Kyuhyunnie?" Leeteuk mulai tersenyum saat ini. Menatap Sungmin yang tengah ber-aegyo alami saat berfikir dengan tatapan tertarik. "Bagaimana dia?"
Sungmin terseyum lembut sekarang. Melipat dua tangannya diatas meja dengan kepala tertunduk. "Aku sangat suka suara Kyuhyunnie. Dia.. walau pun dia yang paling muda diantara kami, tapi menurutku, jika menyangkut 'menyanyi' dia yang paling hebat. Dia bisa melakukan nada tinggi dengan baik, saat nada rendah atau bahkan falsetto pun suaranya tetap stabil. Selain itu, warna suaranya juga sangat lembut. Sangat merdu."
"Hm.. seperti itu kah? Jadi mereka ―terutama Kyuhyunnie." Dia memberikan penekanan khusus pada nama magnae-nya, "sangat hebat, eoh?"
Yang lebih muda mempoutkan bibirnya lucu. Dengan pipi putih yang tersemu warna pink lembut, kembali menunduk dan menyahut pelan "Bu-bukan! Maksudku mereka semua sangat hebat ―ahh.. jangan menggodaku Teuki hyung~"
Sang hyung tertawa renyah. "Nah.. itu kau tahu, mereka semua sangat hebat. Apa kau pikir kemampuan mereka tidak akan bisa membawamu lebih baik? Kelebihan itu menular, Ming. Jika kau sering berada diantara orang-orang hebat, kau pasti akan menjadi lebih baik.
Terlebih lagi, kau punya bakat. Dengan berada diantara mereka, kau bisa belajar mengolah bakat itu dari empunya langsung."
"Aku tahu itu, tapi―"
"Belajarlah untuk percaya pada dirimu sendiri. Kalau kau saja masih belum percaya pada kemampuanmu, bagaimana dengan orang lain? Lee Sungmin itu penyanyi yang hebat. Hyung percaya itu, Kyuhyunnie, Jongwoon, dan Ryeowookie pasti juga begitu. Kau pasti bisa, Sungmin-ah." ―dan harus bisa, dia menambahkan dalam hati.
Perlahan, Sungmin akhirnya tersenyum lembut mendengar ini, bola mata beningnya menatap Leeteuk dengan pandangan penuh terimakasih. "Terimakasih hyung. Kau sudah mengajariku banyak hal. Bertemu denganmu dan Kyuhyun adalah keberuntungan besar bagiku." Ujarnya tulus.
"Tidak tidak.. harusnya Kyuhyun yang sangat beruntung karena telah bertemu denganmu."
"Maksud hyung?"
Leeteuk berdehem singkat sebelum menjawab, mengusap serbet putih ke mulutnya ―pertanda bahwa sarapannya telah selesai, dan balas menatap Sungmin jenaka. Ujarnya, "Kau tahu? Anak itu dulu sangat susah diatur. Cho Kyuhyun yang dulu, dan sekarang itu sangat berbeda Sungmin-ah."
Mata bulat Sungmin melebar dalam kejut. Ekspresi wajahnya berubah tertarik, "Benarkah?"
"Ne," tegas Leeteuk mantap. Dia menyandarkan tubuh santai pada sandaran kursi yang empuk. Raut geli dengan setia terpasang di wajahnya saat mengingat bagaimana kelakukan sang magnae dulu. "Dia itu.. sangat kekanakan, dan manja―"
"Kalau itu sih masih sama dengan sekarang, hyungnim." Cibir Sungmin. "Hey.. jangan potong ucapkanku dulu. Ehm.. baiklah, lalu, apa pernah Kyuhyun membentakmu?"
Sungmin menggeleng. Raut mukanya tampak terkejut sekaligus tak percaya. "Kyuhyun orang yang keras dulu. Dia memang masih muda, tapi semangat dan tekadnya sungguh patut diacungi jempol. Kyuhyunnie memang tipe pekerja keras dan pantang menyerah, Sungmin-ah. Tapi dia juga orang yang sombong.
Apalagi pada orang-orang yang tidak dia kenal, yah.. tipe tuan muda yang arogan."
Manager muda itu kembali memberikan jeda pada ucapannya, menunggu raut ekpresif Lee Sungmin berubah seiring ucapannya. "Sangat berbeda dengan Kyuhyun yang sekarang bukan? Dia menjadi lebih sering tersenyum, lebih lembut, dan yang pasti.. menjadi lebih bersyukur. Dia juga jadi lebih menghargai arti hidup, bagiku yang sudah menjadi hyungnya sejak kecil, perubahannya sangat kentara. Aku berterimakasih padamu untuk itu."
"Eh? Kenapa padaku? Aku tidak melakukan apapun, hyung." Sungmin kembali memasang wajah bingungnya.
"Kau terlalu memandang rendah dirimu, Ming." Dia membelai sayang kepala pirang dongsaengnya, saat ini. "Kau sudah mengajarinya banyak hal. Tentang kehidupan, semangat, ketulusan, dan rasa sakit. Kau juga.. orang yang telah membuatnya mau berkorban. Bersedia merendahkan hati dan mendahulukan orang lain. Kau yang seperti itu sudah pasti menjadi keberuntungan bagi Kyuhyunku."
"Apa aku memang sehebat itu? Rasanya―"
"Jangan bilang 'tidak mungkin'," Potong Leeteuk cepat ―mulai tidak sabar dengan kerendahan hati (yang berlebihan) Sungmin. "hanya orang lain yang bisa menilai dirimu. Sekali pun kau bilang kau adalah 'berlian', jika orang lain melihatmu sebagi 'batu' maka kau sebenarnya 'batu'. Begitu juga sebaliknya, bagi kami kau adalah 'berlian' dan akan tetap menjadi 'berlian'. Mungkin kau menganggapnya terlalu tinggi. Kalau begitu aku akan mengatakan kau adalah berlian yang masih kasar. Bukankah itu lebih cocok?
Tanamkan ini pada dirimu, Ming, kau adalah berlian kasar yang masih harus ditempa dan dipoles sedemikian rupa agar kilau indah yang tersembunyi dibaliknya mampu terlihat semua orang. Berlian yang kelak, akan membuat orang menoleh dan tidak bisa mengalihkan pandangan setelah sekali dia melihatnya. Itu kau, Sungmin-ah. Percayalah, biar aku ―kami, yang akan merubahmu menjadi berlian yang indah dan dikagumi semua orang."
GRAB
"Terimakasih, hyung. Terimakasih."
Sang hyung tersenyum lembut. Balas memeluk erat sang dongsaeng dalam dekapan, sembari menyakinkannya dengan belaian hangat di punggung. "Tidak perlu 'Terimakasih'. Sudah berulang kali ku bilang 'kan? Kau juga dongsaengku, dan aku akan melakukan apapun untuk kebahagian kalian, percaya pada hyung, ne?"
Percakapan ringan di awal musim, ini berakhir baik bukan?
Sebenarnya, menjadi seorang yang hebat bukan hanya membutuhkan bakat sebagai 'modal' dasar. Menjadi yang seperti itu juga membutuhkan orang lain yang bisa dijadikan sandaran saat lelah. Bermimpi pun sebenarnya juga hal yang sulit, butuh keberanian dan tekad yang tidak sedikit jika ingin menggantung mimpi setinggi langit yang kau lihat.
Disini, Sungmin sudah punya Leeteuk sebagai sebagai tempatnya bersandar, dia juga punya Kyuhyun sebagai tempat tangannya bertaut. Dia, Lee Sungmin yang dulu tak pernah bermimpi itu sudah berani merentangkan tangan sekarang, berusaha meraup apapun mimpi indah yang baru dilukisnya. Bersama salju pertama dimusim dingin, kakinya perlahan tertatih. Menyusuri terowongan gelap, untuk berakhir menyenangkan di lembah penuh bunga matahari.
Semoga.
.
.
Ruang latihan yang asalnya sepi itu kini telah kembali ramai oleh denting piano dan ocehan seru dari para penghuni barunya. Dinding kaca yang melapisi penuh sisi kanan ruangan tampak cantik memantulkan refleksi orang-orang yang tengah menyusuri jalan untuk menggenggam mimpi-mimpi indah ditangan. Yesung, Ryeowook dan Sungmin tampak tengah berbenah dengan tumpukan catatan not balok mereka. Bersiap menunjukan hasil latihan individunya pada sang mentor yang juga menjabat sebagai sang manager.
Leeteuk masih didepan grand piano hitam di sudut. Sesekali memainkan nada-nada ceria yang terlontar apik seiring gerakan luwes jemarinya. "Baiklah, siapa yang mau menjadi yang pertama?" pintanya setelah tiga puluh menit berdiam.
"Aku duluan hyung." Ryeowook bergeser dari posisinya yang semula lesehan di sudut, berdiri disamping sang hyung, dan bersiap memperdengarkan suaranya. "Err.. tapi aku sudah lama tidak menyanyi, jadi aku minta ma'af kalau nanti banyak salah nada."
Mentor mereka tersenyum lembut, "Tidak apa-apa. Itulah guna berlatih, kau memang harus salah dalam latihan bukan? Agar dalam concert yang sebenarnya kau tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Wookie-ya."
Denting piano mulai terdengar. Mengiring suara jernih Kim Ryeowook yang menggema dan memenuhi ruangan luas ini. Yesung dan Sungmin yang masih 'menunggu giliran' disudut sana kembali sibuk dengan line lagunya masing-masing. Keduanya diam; sebelum Kim Jongwoon ―Yesung, memutuskan untuk mengakhiri hening diantara keduanya.
"Sungmin-ah, Kyuhyun kemana? Kenapa tidak ikut latihan?"
Yang ditanya mengangkat wajahnya yang tertunduk. "Kyuhyunnie katanya ada jadwal pagi ini hyung. Dia bilang akan langsung kesini setelah selesai."
"Dasar anak itu," Yesung terkekeh ringan; "dia sudah benar-benar terkenal ya sekarang."
Sungmin mengernyit melihat ini, raut wajah Yesung memang tulus ―senyum kebanggaan seorang hyung pada dongsaengnya, tapi dia tetap mendengar nada pahit yang terselip dalam tawanya. Seolah―
"Hyung.. baik-baik saja?"
"Gwaenchanha, aku hanya.. iri padanya."
―dia tengah menyimpan 'rasa tak senang' pada sang dongsaeng.
"Eh.. Iri?" Sungmin mengerjap bingung, memiringkan kepala tak paham. "Memang kenapa?"
"Tentu saja aku iri padanya Sungmin-ah. Kau tahu, sejak dulu, aku yang menjadi leader sekaligus mentor bagi K.R.Y. dia itu.. selalu dibawahku, dulu. Tapi jika melihatnya yang sekarang, Cho Kyuhyun tak ubahnya bagai Rising Star yang bersinar, jauh dan tak terkejar."
Yesung masih mempertahankan senyum kecutnya. Manic kelamnya kini terangkat, menatap lurus pada sepasang hazel bening milik Lee Sungmin. "Kalau kau.. apa tidak iri padanya, Sungmin-ah?
"Aku? Tidak.. kenapa harus iri?"
Sungmin menggeleng lambat sebelum balik menatap hyungnya dengan senyum tipis di wajah. "Masa kecilku sudah dihabiskan untuk iri dengan yang lain. Jika hanya iri, aku sudah bosan." Ujarnya singkat. Dia terkekeh pelan saat mendapati Yesung yang mengernyit tak paham. "Hyung tahu 'kan kalau aku ini namja penyakitan?" Sungmin meringis saat menyebut kata 'penyakitan' sejenak. "Sejak aku di vonis menderita XP, aku tidak pernah keluar saat siang. Mulai saat itulah aku menjadi bocah yang sering iri pada orang lain. Aku benci dengan semua orang yang bebas berkeliaran saat siang ―rasanya tidak adil jika hanya aku yang seperti itu. Itu pikirku dulu."
Hela nafas pasrah terdengar, menyambung berbagai kalimat panjang yang telah dilontarkannya tadi, "Aku terus iri, hingga akhirnya Appa mengirimku dan Umma ke Jepang untuk berobat. Sampai disana, aku bertemu dengan beberapa penderita XP sepertiku, mereka.. bahkan mereka sampai ada yang wajah dan kulitnya tampak 'berbeda'. Melihat itu, aku jadi sadar, aku merasa bodoh telah menghabiskan hari dengan berulang-ulang iri." Sungmin tertawa ringan sekarang. "Ma'af ya, hyung. Aku jadi bercerita yang tidak-tidak. Tapi sungguh, melihat hyung yang sampai iri pada Kyuhyunnie aku masih tidak mengerti.
Kenapa hyung yang sehebat ini masih iri dengan yang lain? Aku bukan menggurui, tapi.. aku hanya tidak paham dengan kata 'iri' tadi. Kenapa orang masih berfikir untuk merasa iri jika dia sendiri memiliki kemampuan? Masih banyak yang kurang beruntung dibanding kalian bukan?"
"Itu benar, Yesung hyung terlalu hebat untuk iri padaku."
Sungmin mengerjap saat setangkai bunga matahari besar tiba-tiba menutupi pandangannya. Warna kuning cerah yang menyapu penuh helaian petal lebarnya mau tak mau membuat senyumnya mengembang. "Kirei~ (Indah~)"
"Suka?"
"Eung..! Suka sekali ―Eh, Kyu?"
Cho Kyuhyun tertawa ringan saat melihat ekspresi bingung pada raut hyungnya. Namja yang masih menggenakan jaket tebal biru gelap itu langsung mendudukan diri disamping Sungmin. Menyerahkan sepenuhnya setangkai Sunflower cantik yang tadi ditangan. "Untukmu."
"Terimakasih, tapi.. Sunflower diawal musim dingin?"
Yang lebih muda mengangkat bahu tak acuh, sebelah tangannya dengan sigap melingkari pinggang ramping Lee Sungmin. Ujarnya, "Tadi ditempatku menyanyi ada hiasan Sunflower asli. Entah kenapa itu mengingatkanku pada hyung, jadi aku memintanya satu, khusus untukmu. Aku juga tidak tahu darimana mereka mendapatkan bunga musim panas itu di awal musim dingin begini."
Yesung yang sejak tadi diam, hanya mengamati keduanya. Hela nafas panjang sesekali terdengar lirih darinya. Entah apa yang sedang dipikirkan namja beraura misterius ini. "Kau sudah pulang?" ujar Yesung akhirnya.
Magnae-nya yang tengah sibuk dengan tawa Lee Sungmin menoleh. Mengangguk dan tersenyum jahil pada hyungnya itu, "Ne, aku hanya mengisi satu lagu disana. Leeteuk hyung memang sedang baik hati padaku untuk beberapa minggu ini hyung, aku jadi punya banyak waktu untuk latihan bersama kalian." Jawabnya.
Kim Jongwoon memutuskan hanya 'anggukan' sebagai jawaban yang paling tepat. Pemilik suara indah itu kemudian menaruh penuh perhatiannya pada sang buku not, bersiap melanjutkan latihan sebelum suara sang dongsaeng kembali mengambil alih perhatiannya. "Yesung hyung itu lebih hebat, dan lebih pandai menyanyi. Aku juga berani jamin hyung lebih 'beruntung' dari pada aku. Karena itu, jangan pernah iri padaku ya hyung.
Percayalah, aku tidak seberuntung kelihatannya. Aku tidak sebahagia itu."
Hanya bola mata yang membulat lebar-lah yang menjadi reaksi sang Art of Voice ini. Dia.. merasa sedikit tertampar dengan perkataan dua dongsaengnya ini. Ucapan polos Lee Sungmin yang membuatnya terlihat tak berbeda dengan seseorang yang tidak tahu bersyukur, atau pujian tulus magnae-nya ―Cho Kyuhyun, yang semakin membuat gurat 'tak enak' itu terukir lebar di hatinya.
Jika ditilik lagi, apa yang di iri-kan olehnya memang tidak masuk akal. Iri hanya karena Kyuhyun sekarang lebih terkenal, huh?
Dia juga harusnya bisa seperti itu ―jika saja dia punya stok keberanian yang sama dengan dongsaengnya, dulu. Tapi ke-tidak bisa-annya juga dia sendiri yang menyebabkan, bukan? Yesung terlalu pengecut, dia terlalu pengecut untuk memulai semuanya dari nol, dia takut kecewa dan gagal (lagi). Sekarang, dia hanya bisa menjadi si pecundang yang iri akan 'buah manis' sang dongsaeng.
Hasil manis yang ditanam Kyuhyun dari air mata dan keringat yang tidak sedikit. Heh.. bodoh sekali aku ini, umpatnya untuk dirinya. "Ma'af, dan.. terimakasih."
"Tidak apa-apa hyung. Bukankah aku memang lebih bijak darimu?" tawa Kyuhyun pongah. Namja tampan itu kembali sibuk mengamati Sungmin yang telah asik dengan mainan barunya ―sang bunga matahari. Tersenyum, dan sesekali merasakan petal lembut bunga itu ke pipi putihnya. Membuat Kyuhyun gemas sendiri akan tingkahnya yang seperti bocah TK itu.
'Hal paling beruntung bagiku adalah memiliki kalian, terimakasih Sungmin-ah, Kyuhyunnie.'
Memang benar 'kan?
Yesung mempunyai Leeteuk, sang guru terbaik. Dia juga punya Ryeowook, dongsaeng imut yang penurut dan selalu siap membantunya. Dia punya Kyuhyun, si magnae usil yang ―dia mau tak mau harus mengakui ini― punya beragam ide dan (kadang) kalimat bijak. Sedang sekarang, Yesung juga memiliki Sungmin, dongsaeng (yang juga) imut dan punya sejuta pelajaran hidup baginya. Memang, kadang iri dan cek cok karena perbedaan pendapat itu ada. Tapi di situlah seninya. Saling mengingatkan, berteman, dan menjalin persaudaraan bersama semua member, adalah salah satu manfaat yang bisa kau temukan dalam sebuah grup.
Bukankah itu menyenangkan?
Omoide no hotondo wa sou issho ni tsukutta ne
Warattari naitara kenka shitari shite
[Hampir seluruh kenangan ini adalah kenangan bersamamu,
kita tersenyum, menangis dan bertengkar..]
Otagai no yume katari atta hibi toki wa sugite
Omoide wa itsunohika utsukushii yuuhi to shite watashi no ashimoto terasu deshou
[Waktu pun berlalu sejak hari itu, di saat kita saling berbicara tentang impian masing-masing,
kenangan kita akan seperti di saat itu, menjadi mentari terbit yang menyinari langkah kaki kita..]
Anata no kao ya koe ga chizu ni naru
doko ni ite mo tomo yo
[Wajah dan suaramu akan menjadi peta bagi kehidupanku,
dimana pun kamu berada, kamu tetap temanku..]
Ruang latihan itu masih terisi orang-orang yang sama, hanya saja, wajah lelah dan bulir keringat yang mengalir turun dari masing-masing pelipis, merupakan satu yang menjadi perbedaan mendasar dibanding tadi pagi. Diluar sana, matahari memang mulai turun kebarat. Menyisakan hanya butir putih salju yang menutupi semua daratan datar Seoul. Langit di atas sana mulai terbebas dari mendung tebal yang sejak tadi menggelayut. Menampilkan rembulan yang masih bersinar redup bersama warna biru yang tersepuh emas mentari sore.
Latihan mereka baru saja selesai, memang.
Ke-empatnya sekarang tengah menunggu 'penyelesaian' latihan hari ini. Leeteuk yang sejak tadi keluar masih belum kembali, menandakan belum adanya waktu istirahat bagi mereka. Kyuhyun sekarang tengah menyandar nyaman di bahu Sungmin. Mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang serasa remuk. Lelah sekali, jadwal yang dimulai pukul 8 pagi, disambung latihan tengah hari kemudian.
Mereka memang hanya latihan vocal, tapi ketahui-lah, jika bersama Leeteuk, latihan yang HANYA vocal ini pasti berubah lebih. Lebih keras, dan lebih serius. Tidak ada candaan dan tidak ada kecerian, suram. Well, image-nya sebagai killer mentor memang tertutup oleh wajah lembut bak malaikat itu. Tidak percaya?
Lihat saja pada Kim Ryeowook yang sudah merebah penuh di lantai, atau Yesung yang menyamankan diri di sudut ruangan, matanya terpejam. Entah tidur, atau sekedar merilekskan tubuh yang kaku. Mungkin hanya satu orang yang masih tetap memiliki senyum di wajah setelah latihan berat ini. Yep! Benar sekali, Lee Sungmin itu masih mempertahankan senyum manisnya sekarang.
Sebelah tangannya sibuk memainkan sunflower cantik pemberian Kyuhyun tadi, sementara satu tangannya yang lain kini beralih membelai helai ikal si pemberi bunga yang sudah berpindah posisi. Memutuskan jika berbaring dengan berbantalkan paha empuk hyung-nya adalah hal yang paling nyaman bagi tubuhnya.
"Hyung tidak lelah?"
Sungmin menggeleng, masih tetap focus pada benda ditangannya. "Aniyo, aku sama sekali tidak lelah. Ini menyenangkan."
Kyuhyun turut tersenyum, mengamati wajah manis diatasnya yang tengah memandang penuh cinta pada sang bunga ―ahh.. dia jadi sedikit cemburu(?) jika melihat ini. "Hyung suka sekali pada Sunflower , ya?"
"Iya.. Eh? Ku pikir kau sudah tau, makanya kau membawakan ini untukku."
"Bukankah kau tidak pernah menceritakan apa pun padaku, Min-ah?" sang magnae merengut. Melipat dua tangannya di dada, dan menatap hyungnya dengan pandangan menuduh. "Aku bahkan tidak tahu dimana kau tinggal saat di Korea."
"Memang kau pernah bertanya padaku?" hyungnya balik memajukan bibirnya. Merengut, hingga umurnya yang dua tahun diatas Kyuhyun itu sama sekali tak terlihat. "Baiklah, aku akan bertanya sekarang. Kau harus menjawab dengan jujur, arra?"
"Arrachi~"
"Dimana kau lahir?"
"Ilsan. Aku mulai pindah ke Jepang bersama Umma lima tahun lalu."
"Apa kau punya saudara?"
"Ne.. aku punya seorang namdongsaeng."
"Lalu.. sekolahmu?"
"Bukankah aku sudah pernah bilang? Aku tidak pernah sekolah umum. Hanya homeschooling, dan berlanjut sampai ke Jepang."
Kyuhyun jadi sedikit merasa bersalah saat melihat kilat mata bening itu yang mulai meredup. Perlahan, sebelah tangannya mulai terangkat, membelai lembut pipi putih Sungmin. "Jangan sedih lagi, ada aku, ingat?"
"Tidak, aku tidak sedih. Hanya sedikit."
"Baiklah, kalau begitu lupakan saja. Kita lanjutkan yang lain. Hmm.. ahh, kenapa kau suka sekali dengan bunga matahari?"
Kali ini Sungmin tersenyum manis. Kembali teringat dengan sang bunga yang masih segar ditangan. Namja manis itu menatap intens petal kuning emasnya. Helai warna yang serupa dengan kilau indah Sang Mentari. "Bunga ini.. seperti matahari. Aku menyukai 'dia' yang seolah tersenyum ramah pada semua orang."
Yang lebih muda tetap diam, hanya mengamati raut manis hyungnya dan menunggu Sungmin utuk melanjutkan kalimat ―yang pasti akan menjadi panjang. "Tapi selain itu.. apa kau tahu jika Sunflower hanya hidup dalam satu siklus perbungaan?"
Dia menggeleng. "Aku tidak pernah tertarik pada bunga" ujar Kyuhyun jujur. Sungmin hanya tersenyum dan meneruskan kalimatnya, tangannya masih betah memutar-mutar tangkai hijau muda bunga berwarna kuning itu.
"Bunga matahari hanya bisa hidup jika ada matahari. Seperti namanya, begitu tumbuh dan berhasil menguncupkan bakal bunga, dia akan semakin besar dengan mengikuti arah matahari. Semakin banyak matahari yang diterimanya, dia semakin 'tersenyum'; dan pada akhirnya saat Sunflower ini berada di titik terindah, dia perlahan layu kemudian. Satu persatu mahkota bunganya akan gugur ―dan akhirnya mati.
Dia mati setelah menunjukkan bunga terindah pada semua orang. Hanya dengan satu kali kesempatan berbunga, tapi bunga ini tidak akan mati sia-sia. Dia juga meninggalkan ribuan biji baru yang akan tumbuh mengikuti jejaknya nanti, membuatnya agar terus dikenang dan tidak hilang dari dunia."
Sungmin menggigit bibirnya pelan, ganti menatap sang bunga dengan pandangan sendu. Manic hazelnya menggelap, seolah teringat dengan satu hal lain yang membuatnya terluka. "Aku.. aku juga ingin seperti itu. Aku ingin mati setelah berhasil menjadi penyanyi. Aku belum ingin mati sekarang.. aku―"
GRAB
"Hiks.. Kyuhyun-ah, aku takut."
"Sshh.. kau akan baik-baik saja, arra? Ada aku hyung. Kau tidak sendirian sekarang, tidak perlu takut." Kyuhyun berbisik lirih ditelinga hyungnya. Sepenuhnya menyembunyikan wajah Lee Sungmin didada. Pun mendekapnya erat dalam lingkupan hangat tangannya. "Kau tidak akan mati sekarang, aku akan menjagamu. Bukankah dulu aku pernah berjanji kalau kita akan bahagia, eoh?"
"Sungmin itu.. memiliki emosi yang labil, Kyuhyun-ah. Dia sudah 'terisolasi' sejak kecil, hal itu juga lah yang menjadikannya seseorang yang anti social ―orang yang kadang mempunyai temperamen tak menentu. Aku harap, kau tidak akan direpotkan nantinya."
Jadi hal ini yang dimaksud Lee ahjumma? Kyuhyun membatin sedih, menatap Sungmin yang masih menangis di dadanya. Diusapnya lembut helai pirangnya yang terasa halus ditangan ―dan wangi. Dia suka wangi khas hyungnya, seperti wangi bedak bayi.
Yah.. tapi hal ini termasuk kemajuan baginya. Setidaknya ehemkekasihnyaehem ini sudah mau menunjukan apa yang dirasakannya bukan? Walau Kyuhyun tidak suka melihat Sungmin yang menangis, tapi dia lebih 'sakit' saat melihat namja manisnya ini memendam 'sakit'nya sendiri. Bukankah ini artinya Lee Sungmin itu mulai bersedia membagi berbagai kisahnya dengan Kyuhyun?
Berbagi sakit, senang, duka, dan tak lupa rasa.
Cinta tulus yang menyatukan mereka dalam satu ikatan suci, saling mengikat guna menguatkan salah satu yang tengah lemah. Rasa indah yang melunturkan nafsu, dan hanya berdasar akan kebutuhan keberadaan yang lain. "Sudah ya, tidak perlu takut lagi, ne?" Kyuhyun membujuk lembut, dengan sesekali menempelkan bibirnya pada puncak kepala Sungmin. Menyalurkan kecupan-kecupan ringan agar sang hyung kembali tenang.
Kyuhyun tersenyum saat anggukan kecil terasa di dadanya. Hal itu membuatnya kembali mengeratkan pelukan mereka. Tetap menjaga jarak tubuh keduanya seminim mungkin. "Semua akan baik-baik saja, hyung. Tenang saja―"
PLETAK
"YA! Jangan sembarangan pacaran di tempat latihan!"
Kyuhyun menggeram kesal saat suara keras itu mengusik keduanya. Pelukan mereka terlepas, reflex, karena Sungmin yang langsung mendorong tubuhnya dan buru-buru mengusap air matanya kasar. "Apaan kau hah? Datang-datang langsung memukulku?"
Orang yang tengah memegang botol air mineral ditangan ―terindikasi sebagi benda yang telah menyapa 'ramah' puncak kepala Kyuhyun, semakin melotot kesal saat sambutan kurang ajar itu mampir ditelinganya. "Jangan kurang ajar magnae! Aku ini lebih tua darimu! Jungsoo, apa kau tidak pernah mengajari dongsaengmu ini sopan santun, hah?"
"Heechul hyung yang kurang ajar! Atas dasar apa kau seenaknya memukulku, hah?"
"Tentu saja karena kau dengan kurang ajarnya telah berani menggunakan tempat latihan ini sebagai lahan pacaran ―eh? Apa kau habis menangis, nak? Apa yang telah dilakukan bocah evil ini, padamu? Ayo katakan, biar aku yang menghajarnya nanti."
Kim Heechul langsung berjongkok begitu matanya menemukan sepasang mata hazel Sungmin yang terlapisi kaca bening. Namja yang terlihat cantik ini dengan kasar menggeser Kyuhyun agar lebih menjauh dari objek yang baru saja menarik perhatiannya. Sebelah jemarinya yang lentik langsung bertengger pada pipi putih Sungmin, "Ahh.. kenapa kau menangis? Sayang sekali wajah cute ini dibuat menangis. Sinar wajahmu jadi berkurang, nak~"
"YA! Jangan seenaknya menyentuh Sungmin-KU!"
"Hentikan kalian berdua. Ayolah, jangan kekanakan dan kita segera menyelesaikan latihan kali ini. Aku sudah lelah."
Suara tenor Leeteuk yang tengah membangunkan Yesung dan Ryeowook ―mereka berdua benar-benar tidur, ternyata ―segera mengisi adu death glare yang tengah berlangsung antara Duo evil yang sudah sangat terkenal di SMEnt ini. Tak berselang lama, keenam namja diruangan itu sudah duduk melingkar. Masing-masing dengan kaki terlipat dan raut lelah tingkat maksimum.
"Baiklah, aku membawa Heechullie kesini karena ingin membicarakan tentang konsep comeback concert kalian. Karena kita mempunyai anggota baru, jadi 'menara tiga kaki' yang biasa tidak bisa lagi dipakai. Ada usulan?"
"Tidak bisakah kita membahas ini besok dan pulang lebih dulu, hyung? Aku lelah sekali, jadwalku sudah mulai dari pagi―"
"Bukan hanya kau yang lelah, Kyuhyun. Kau pikir pekerjaan ku sebagi stylish tidak melelahkan hah?"
"Diam kalian berdua." Leeteuk mulai menggeram kesal. Menatap tajam pada rekan dan dongsaengnya yang tak pernah akur. "Kalian membuat ini semakin lama." Lanjutnya dengan nada penuh peringatan.
"Bagaimana jika kita pakai konsep sederhana saja, hyung? Empat lampu sorot, dan beberapa bangku. Jika kita diam, aku rasa itu akan berdampak baik pada suara masing-masing member."
"Tidak boleh." Sang manager berujar tegas. Menggeleng pada Kim Jongwoon yang mengernyit tak paham. "Memang kenapa?"
"Sungmin-ah tidak boleh terkena cahaya yang terlalu terang. Lampu sorot tidak baik untuk kulitnya."
Ruangan kembali hening, menyisakan tatapan tidak mengerti dari Yesung, Ryeowook, dan Heechul. Tak lupa tatap sendu Kyuhyun, dan tundukan bersalah Sungmin. "Ma'af kalau aku merepotkan," bisik namja itu pelan.
Kyuhyun menggeleng, tanpa canggung kembali melingkarkan lengannya dibelakang punggung Sungmin dan mengusapnya lembut. "Tidak. Kau tidak pernah merepotkan, jangan berfikir seperti itu, hyung."
"Kyuhyunnie benar, maksudku bukan begitu Sungmin-ah, kau sama sekali tidak merepotkan. Kita hanya sedang mencari konsep yang lebih bagus, tapi tidak perlu merugikan siapa pun. Lalu, apa kau punya ide?" sang manager menjawab sabar, tampak bijak saat menghadapi temperamen labil dongsaeng barunya ini.
"Eung.. dikepalaku, hanya ada.. Lilin."
.
.
TBC or END?
Saya datang membawa 10th Song, dari Taiyou no Uta ―dan sayangnya tidak menjadi last song, ma'af yaaa yeorobun~ #bow
Ini upadete cepet 'kan?
Yah.. saya mengucapkan terimasih banyak buat yg udah dukung sampe sini, teimakasih~ tanpa kalian, cerita ini tidak akan jadi, dan saya juga mau minta ma'af, untuk kali ini tidak ada balasan review ―lagi, saya masih harus melanjutkan suatu urusan di duta. Ma'af~ #bow
Jadi.. hanya mau minta pendapat readerdeul semua tentang ch ini, deh. Karena sepertinya untuk ch depan saya bakal update lama lagi (entah bisa update ato nggak malah ga tau -,-), coz saya mau ujian (Kelas XII red),, jadi.. yahh, ingat kan saya saja jika tidak update lama, okeh?
Last, mohon kritik n sarannya yaaa~ saya suka baca review yang panjaaaaaangg~ haha.. xD
Arigato gozaimasu, minna-saann~ #bow
