.

.

Taiyou no Uta

(A Song to the Sun)

.

.

Disclaimer : The characters inside are belongs to God and themselves.

Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!


Music: Hoshi no Nai Yoru ni [Starless Night]–DELUHI
What If – Super Junior K.R.Y. ft. Sungmin


.

"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."

"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."

"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."

.


Saezuru kaze mo kaoru komorebi mo
[Angin yang lembut dan sinar matahari yang harum]

Subete wa ano hi kara irozukidashita
[Semua telah mengubah warnanya dari hari itu]

Ikudo to kisetsu kanjirareru yo
[Aku dapat merasakan banyak musim]

Tada sonna anata ga inai
[Hanya saja tanpamu di sisiku]

.

.

Mereka kembali lagi ke sini.

Pada kamar yang sama di mana entah berapa bulan lalu, keduanya pertama bertemu. Kamar ini masih sama, masih menghadap pada matahari terbenam yang dengan tenang melayangkan selendang sewarna lembayung miliknya pada setiap tempat yang masih bisa ditembus. Angin turut berserak, menebar wangi juga sejuk seolah menantang matahari yang telah menyalahi kodrat musim dingin.

Disana, dibalik jendela kaca yang tertutup, Cho Kyuhyun ―sang pemilik kamar, tengah terduduk tenang. Menyamankan diri di atas ranjang yang menghadap tepat pada matahari senja. Namja berkulit pucat itu masih dalam kegiatannya beberapa satuan waktu lalu. Masih menatap intens pada tangan – tangan panjang matahari sore yang jarang keluar di musim dingin. Mata malamnya sesekali beralih pada objek yang lain.

Pada seseorang yang berdiri diam tepat disamping jendela kaca di depannya, pada Lee Sungmin yang tengah menatap tertarik selendang halus matahari. "Indah sekali, ya?" gumamnya pelan.

Kyuhyun hanya diam. Mengamati bagaimana Sungmin yang hanya berjarak beberapa inchi dari bias – bias mentari itu terpekur. Menyandarkan pundak kirinya pada tembok, dengan masing – masing tangan tertaut erat di sekeliling lengan. Seolah benar – benar menahan diri untuk tidak berhasrat menyentuh cahaya berwarna keemasan itu.

"Padahal cahaya ini terlihat indah," dia mulai menggerakkan tangannya kini. Dengan sangat perlahan mulai mendekati bias mentari senja yang menerobos jendela. Ujung jemari putih itu terus bergerak, mampu membuat Kyuhyun yang duduk di ranjang menahan nafas. Nyaris berteriak memperingatkan jika saja― "Tapi kenapa jika aku yang menyentuhnya dia berubah menjadi jahat?"

Namja manis ―yang sekarang telah mengecat rambutnya menjadi hitam legam― itu menghentikan gerak tangannya yang hendak menyentuh lembut cahaya di depan. Hanya entah berapa sapuan nafas dekatnya. "Aku tidak boleh menyentuhnya, benar? Kyuhyun-ah?"

Yang dipanggil namanya menghela nafas singkat sebelum beranjak berdiri. Berjalan perlahan ke belakang sang hyung dan mulai memerangkap tubuh yang lebih pendek itu dalam pelukan. "Kau masih boleh menyentuhnya Sungmin-ah," respon Kyuhyun halus.

Sebelah tangannya mulai menarik tangan Sungmin dalam 'jarak aman' kini. Sementara tangannya yang lain sudah menyamankan diri pada perut rata sang hyung.

"sekarang genggam tanganku dan lihat ini." Intruksi Kyuhyun lagi. Sungmin mengangguk patuh ―walau tak paham apa maksud penyanyi muda ini, dia segera menggenggam tangan Kyuhyun yang berada di perutnya. Saling menautkan jemarinya dalam ikatan kuat, dan menyandar nyaman pada dada pemuda yang lebih tinggi. "Dengarkan aku baik – baik." Sambungnya lagi.

"Rasakan bahwa kau sudah memajukan tanganmu, sekarang. Dengan sangat perlahan, menggerakannya untuk menyentuh sinar mentari yang berwarna keemasan. Rasanya sangat hangat,"

Kyuhyun menggerakan tangannya yang bebas kini. Menyentuh lembut cahaya keemasan yang masih betah berada di balik kaca bening jendelanya. Sangat perlahan, pun penuh kerinduan seolah itu adalah tangan yang tidak pernah bertemu matahari. Dia beralih pandang pada Sungmin sekarang. "Kau bisa merasakannya 'kan hyung? hangat bukan?"

Namja yang tengah menatap intens pada tangan pucat Kyuhyun itu tanpa sadar mengangguk. "Ne.. hangat sekali."

Yang lebih muda tersenyum senang mendengar ini, makin mengeratkan pelukannya pada sang hyung dan kembali focus pada tangannya yang bebas. "Nah, sekarang kau mendiamkan lama tanganmu diantara matahari. Menghangatkan kulitmu dari dingin salju dan merasakan jika jemarimu perlahan menjadi lebih nyaman, lebih hangat dan tidak merasa dingin lagi."

"Nyaman.." Sungmin berujar. Seolah terhipnotis dan tak hentinya mengamati bagaimana tangan sang dongsaeng tengah terdiam kaku di dalam bias mentari. Tangan pucat itu tampak indah dalam balutan cahaya keemasan, membuat sang namja bermarga Lee seolah benar merasakan bahwa itu tangannya yang mampu menyentuh cahaya itu.

Dia tertawa riang kini, mulai menggerakkan sebelah tangannya yang bebas untuk menggenggam lengan Kyuhyun. Sungmin mulai memainkan tangan dongsaengnya itu, menggerakannya kemana pun dia mau dalam bias mentari senja. Bebas, dan tanpa khawatir. Benar – benar merasa bahwa itu adalah tangannya sendiri yang kini tengah bermain dengan matahari.

―dan Kyuhyun menunggu. Dengan sabar, sambil sesekali mengecup sayang puncak kepala sang hyung di depan. Sepasang obsidian gelapnya bersinar haru, antara senang dan kasihan melihat kekasihnya yang seperti ini.

"Bagaimana? Menyenangkan bukan? Kau bisa melakukan selama yang kau mau hyung." ujarnya lagi.

Sungmin mengangguk antusias. Masih betah dengan mainan barunya ―tangan Kyuhyun, yang menyenangkan. Dia terlihat benar – benar seperti anak kecil kini. Bocah polos yang semangat saat mendapat mainan baru yang tidak pernah disentuhnya, dan Kyuhyun selalu suka itu. Dia selalu suka ekspresi Sungmin yang seperti ini. Hyungnya yang bahagia, yang di matanya terpancar sorot riang.

"Jangan sedih lagi, ne? Kita bisa melakukan apapun yang kau inginkan, sekarang."

"Gomawo…"

"Tidak," geleng Kyuhyun. Dia merendahkan wajahnya kini, menyapukan bibir pada pipi chubby sang hyung. "Aku tidak mau sekedar 'terimakasih'. Aku mau yang lebih dari itu."

Sang hyung tertawa, masih dengan pergerakan statisnya sejak tadi. "Lalu yang lebih dari 'terimakasih' itu apa?"

"Kau."

Sungmin menoleh kini. Menatap Kyuhyun dengan matanya yang berbinar bingung. "Kau sudah mendapatkannya sejak dulu, kalau begitu. Aku milikmu, ingat?" dia kembali ―lagi, pada tangan Kyuhyun sekarang. Sedikit mengernyit kecewa saat tahu bias mentari itu mulai pergi tertelan waktu. "Sudah habis." Rengutnya tak suka.

Kyuhyun menanggapi dengan senyum sabar. Mendorong Sungmin untuk bersandar penuh di dinding sekarang. "Kita bisa melakukannya lagi, besok, dan besoknya lagi," Dua tangannya memerangkap Sungmin pada tembok. Dengan raut sayang yang tak henti terpancar pada yang lebih tua. "dan aku selalu senang saat kau mengatakan kau adalah milikku."

Hyungnya sekarang tersenyum, balas mengalungkan lengan pada leher Kyuhyun saat tahu apa yang akan dilakukan sang dongsaeng. Dia mulai menutup mata sebelumnya, "Kau yang telah memberiku hidup yang 'baru', Kyuhyun-ah. Sudah sepantasnya kau boleh mengambil apapun dariku."

"Tentu saja, hyung, dan karena kau milikku, jangan pernah mencoba pergi. Mengerti?" Dan sebelum sanggahan yang lain, Kyuhyun menutup penuh bibir sewarna sakura itu dengan miliknya. Menyentuhnya lembut ―such an innocent. Sepolos keinginan sederhana yang diungkapkan tadi. Dia melanjutkan dengan rambatan yang biasa, meneruskan pada leher putih yang tidak tertutup kaos dan menghirup dalam – dalam ceruk leher yang luar biasa halus itu.

Wangi itu segera terasa. Aroma khas yang tanpa Kyuhyun sadari telah menjadi candu terberat baginya, harum manis menyenangkan yang selalu membuatnya tenang. Wangi yang hanya dimiliki Lee Sungmin, Sungmin miliknya.

"Aku mencintaimu."

Dia mengakhiri invansi bibirnya dengan kalimat itu. Setelah sebelumnya mendaratkan satu ciuman lama pada leher putih Sungmin yang langsung menarik desah nikmat terdengar dari lengkungan sewarna sakura sang hyung. Sungmin membalasnya dengan senyum. Menatap Kyuhyun lama sebelum tertawa kini.

"Sangat berbeda dengan dulu, ne?"

"Hm?"

"Saat pertama kali aku ke kamar ini." terang Sungmin lebih lanjut. Dia masih memerangkap mata dongsaeng dalam tatapannya yang khas. Pandangan manis yang penuh perasaan. Seperti magic, kalau kata Kyuhyun. "Aku benar – benar tidak tahu kalau hidupku akan berubah sejak saat itu."

Sungmin melanjutkan, tahu bahwa Kyuhyun membiarkannya untuk berbicara lebih lagi. "Keajaiban, atau mungkin mukjizat? Kau tahu Kyuhyun-ah, aku selalu menganggap kalau kau itu malaikat yang dikirim Tuhan untukku."

―dongsaengnya tergelak geli dibagian ini.

"Aku serius. Hidupku benar – benar datar dulu. Hanya berputar pada satu titik, tanpa perubahan apapun yang bisa dilakukan. Lalu kau datang, entah dari mana di malam aku biasa menyanyi di jalan. Mengajakku melakukan hal baru, menolongku, bahkan.." Sungmin kini turut tertawa. "mengubah orientasi seksualku. Aku dulu juga pernah jatuh cinta, tahu? Pada seorang yeoja cantik yang selalu lewat di depan rumahku dengan seragam sekolahnya."

"Kau selalu berkata hanya aku yang paling 'berjasa'. Kenapa kau tidak pernah sadar secantik apa kau itu, Lee Sungmin?" Kyuhyun menatap heran pada Sungmin yang diam. Hanya menunduk dengan dua tangan yang terlipat di dada. "Kau itu special, dan harusnya aku yang beruntung karena telah menemukanmu hyung."

Hyungnya mengangkat wajah perlahan. Kembali mempertemukan dua mata berbeda warna itu dalam satu tatapan dalam. "Berbeda bukan berarti special Kyuhyun-ah. Aku mungkin terdengar sangat tidak bersyukur ―tapi jujur, aku selalu merasa kalau hidup yang seperti ini itu tidak berarti. Terkadang.. kematian bahkan lebih baik."

"Kau pengecut sekali, hyung." cela Kyuhyun pelan. Dia menarik Sungmin dalam pelukan kini. Yang segera disambut sang hyung dengan senang hati. "Bosan hidup, atau takut mati, eh?"

Sungmin menyamankan kepala di pundak Kyuhyun sekarang. "Aku memang pengecut." Gumamnya lirih. "dan aku benar – benar tidak menyangka jika si pengecut ini telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan apa itu keajaiban."

Kyuhyun mendesah pelan, mendongak guna melihat langit malam yang tidak terwarnai oleh bintang dari balik kaca jendela. Sebelah tangannya beranjak naik, mulai membelai rambut halus Sungmin sayang. "Keajaiban itu ada bagi mereka yang mau mengejarnya." Jawabnya lembut.

"Seperti kita yang sekarang telah berada di Jepang. Yesung hyung dan Wookie hyung yang juga sudah menunggu di hotel untuk rehersal. Konser yang sudah di depan mata. Bukan hanya kau hyung, bagiku ini pun keajaiban."

Dia melonggarkan pelukannya kini, memberi kesempatan bagi sepasang orbs kelamnya untuk menatap mata sewarna hazel favoritnya. "dan keajaiban terbesar bagiku adalah bertemu denganmu. Mencintaimu, juga memilikimu."

Sungmin kembali membuka matanya. Kini menatap Kyuhyun dengan sepasang hazel yang terlapisi kaca. "Kau baik sekali, Kyuhyun-ah."

"Tidak, aku bukan orang seperti itu." Geleng Kyuhyun tak setuju. Namja jangkung itu mulai menggerakkan kakinya. Membawa tubuh keduanya untuk lebih dekat pada ranjang biru muda di depan sana. "Aku hanya mencintaimu, hyung, dan itu adalah hal pantas ku lakukan untuk orang yang sangat berharga bagiku."

Hyungnya tersenyum manis. Menerima dengan senang hati saat tubuhnya sudah direbahkan penuh pada tempat nyaman ini. Dia menarik wajah Kyuhyun mendekat. Mengecup bibir merahnya sekilas dan berujar mantap. "Kau tahu? Bagian paling menyenangkan di hidupku adalah saat ini. Saat kau nyata ada di depanku."

Jeda sejenak digunakan Sungmin untuk meloloskan desah lirih dari mulutnya. Benar – benar menikmati saat Kyuhyun kembali memainkan bibir di sepanjang lehernya. Namja manis itu terengah sejenak, dan mengulas senyum sayang saat dongsaengnya ini menatapnya. Seolah meminta ijin.

"Lakukan, Kyuhyun ―dan kupastikan bahwa kau adalah seseorang yang akan kucintai hingga akhir."


Ima furetai mou ichido furetai
[Sekarang aku ingin menyentuhmu, sekali lagi ingin menyentuhmu]

Shizuka ni me wo tojita mama no
[Perlahan-lahan kupejamkan mataku]

Tsumetai hoho ga yaseta karada ga
[Pipimu yang dingin dan tubuh mungilmu]

Konna ni mo kanashii hodo utsukushii kara
[Bahkan kesedihan seperti ini sampai terasa indah]


Pagi yang lain kembali datang, masih dengan gulungan abu – abu pucat yang kekeuh membayang di sepanjang langit prefektur Yokohama. Sesekali, butir putih keperakan salju turun dengan anggun, beberapa terbawa angin dan yang lain mendarat lembut pada hamparan tempat datar di bumi. Memberikan hawa dingin sekaligus pemandangan indah bagi setiap orang yang melewatinya.

Kali ini, International Stadium Yokohama ―Nissan Stadium, terlihat ramai. Bukan oleh pemandangan khas para atlit sepak bola yang biasa, tapi ramai oleh sliweran para staff SMent yang tengah mempersiapkan khajatan akbar mereka di Negeri Sakura ini. SMtown yang akan digelar besok malam.

Panggung megah telah didirikan dalam stadion termegah di seantero Asia ini. Di atur sedemikian rupa oleh tangan – tangan professional yang tentu membutuhkan beragam persiapan matang. Disana, diantara orang – orang berkaos hitam dengan signa 'STAFF' di punggung, Park Jungsoo terlihat. Tengah berargumen ―kalau tidak mau disebut berdebat, dengan seseorang yang menjabat art director konser besok malam.

"Kau bisa melakukannya, Jihoon-ssi." ―suara tenor manager muda itu masih terdengar sabar. Sangat berbeda dengan raut tak setuju orang di depannya.

"Ini akan sulit, Jungsoo-ssi. Konser akan digelar besok malam. Sedang kau sekarang meminta perubahan setlist song. Terlebih, grupmu akan tampil special ―membutuhkan banyak persiapan. Kau sendiri yang setuju jika Super Junior akan tampil di urutan ke 13. Mengertilah posisiku sekarang." Dia ―Leeteuk, meringis tak enak. Yah.. salahnya juga yang baru mengingat ide seperti 'ini' semalam. "Ayolah, kita masih bisa merubah sedikit hal ini. Dengan tampil di awal, ini akan memudahkan bagi anda – anda semua untuk mempersiapkan ini itu. Saya jamin ini perubahan yang terakhir."

Jihoon tetep menggeleng tak setuju. Rautnya mengeras marah, jika saja dia dia tidak ingat bahwa sosok pemuda didepannya ini adalah anak didik kesayangan 'bos besar', pasti raung kemarahannya sudah terlontar dari tadi. "Tetap tidak bisa. Kau pikir merubah setlist song itu semudah itu? Setiap grup juga membutuhkan persiapan. Bukan hanya Super Junior yang akan tampil malam ini. Cobalah pikirkan kepentingan yang lain."

"Tapi kami hanya tampil satu lagu." Tandas Leeteuk langsung. Dia menahan seringai menangnya saat melihat orang ini tengah terdiam penuh kejut.

"Satu lagu? Jangan main – main denganku Jungsoo-ssi!"

"Saya serius. Karena itu, kami minta perubahan setlist song. Dari yang asalnya sekitar 30 menit yang diberikan bagi masing – masing performer, kami hanya minta sekitar 10 menit lebih sedikit di awal. Dengan hanya satu lagu." Ujar sang manager tegas. "Saya meminta opening time, Jihoon-ssi."

Art Director berusia paruh baya itu terdiam kalah. Entah apa yang tengah dipirkan pemuda ini? Satu lagu? Apa itu tidak akan membuat sang artis dan penggemarnya kecewa? "Coba pikirkan baik – baik, Jungsoo-ssi. Satu lagu itu sangat singkat, terlebih itu hanya opening time. Tidak ada yang special disana. Bukankah lebih baik kembali pada rencana awal? Apa kau tidak memikirkan perasaan para penggemar nantinya?"

Leeteuk hanya menanggapi dengan senyum diplomatis. Menyerahkan selembar kertas putih penuh dengan coretan pada pria yang kini menatapnya heran. Dia tahu dia telah mendapatkan apa yang diinginkan kini. "Terimakasih atas pendapatnya Jihoon-ssi. Tapi kami punya cara sendiri untuk menyenangkan penggemar. Saya hanya meminta anda untuk perubahan setlist ini. Karena untuk tata panggung, konsep dan segala macam, biar saya sendiri yang mengatasinya."

Lawan bicaranya mau tak mau menganga tak percaya. "Kau yakin bisa menyipakannya sendiri? Dan lagi ―demi Tuhan, Jungsoo-ssi! Waktunya itu besok."

Manager muda itu terkekeh renyah. Dengan wajah yang ―ehm.. sedikit angkuh dan dagu terangkat tinggi, kini berujar dengan yakin. "Tenang saja, Jihoon-ssi. Seongsaengnim sudah percaya pada saya. Anda tentu mengerti artinya bukan? Dan lagi, perubahan ini hanya untuk Super Junior ―Cho Kyuhyun akan tetap pada jadwal solonya yang sebelumnya. Di kertas itu sudah saya tulis rincian rencana kami. Ada beberapa masalah yang tidak bisa saya selesaikan, dan saya menyesal harus meminta bantuan anda untuk itu.

Terimakasih banyak untuk bantuan anda, Jihoon-ssi. Dan ma'af sudah merepotkan sebanyak ini. Saya permisi, Anyeonghaseyo." Dia membungkuk penuh beberapa saat, tersenyum sekilas dan segera berlalu pergi.

Berjalan cepat ke arah Kim Heechul yang kini menatapnya bosan. "Kau bilang menyelesaikan sendiri tapi diakhir tetap menyeretku pada beragam hal merepotkan begini." Sindirnya langsung. "Kenapa tidak membayar orang lain saja?"

"Itu akan menghabiskan banyak biaya, Chullie-yah. Lagi pula, kau yang terbaik diantara mereka. Untuk apa membuang uang jika kau ada dan gratis?" Heechul menggeram kesal. Hanya bisa mengikuti langkah Leeteuk yang masih menyeretnya penuh semangat. "Ya! bukankah aku bilang akan ada hadiah special jika kita berhasil nanti? Jadi berhentilah merengut, bersemangatlah! Kujamin tidurmu yang berkurang beberapa hari ini akan mendapatkan imbalan yang sepadan."

.

.

.

Hari ini akhirnya datang. Hari yang telah sejak dulu dinanti oleh mereka yang selalu menggantungkan asa dan mimpinya tinggi – tinggi. Suatu saat dimana mimpi yang selalu dikejar itu akhirnya menyerah dan dengan senang hati meraup penuh pengejarnya dalam satu pelukan penuh kebanggaan. Seolah berkata bahwa dia ―sang mimpi, itu pantas untuk dimiliki oleh orang – orang yang demikian

Lee Sungmin, bahkan tidak pernah berani untuk bermimpi yang demikian. Bermimpi bahwa hari ini, dia tengah berada dalam backstage panggung megah yang penuh sesak oleh penonton dibagian depan. Bahwa dia, Lee Sungmin yang cacat dan hanya bisa keluar saat malam, akan segera meraup mimpi sebagai penyanyi. Mimpi yang dulu hanya sebatas mimpi. Tanpa ada satu celah pun untuk menjadi kenyataan.

Tapi nyatanya, Tuhan berkata lain bukan? Heh.. kehidupan itu selalu adil. Harusnya kau paham itu, Lee Sungmin.

"Apa kau gugup hyung?" Sungmin menoleh, menatap Kyuhyun yang telah selesai dengan make up –nya. Kekasihnya itu terlihat sangat tampan dengan dandanan sederhana seperti ini. Sapuan warna natural di wajahnya yang pucat, dan jas hitam legam dengan kemeja biru tua di bagian dalam. Ahh.. bukankah dongsaengnya itu memang selalu tampan saat mengenakan apapun?

"Hey? Jangan hanya diam. Jawab aku, Sungmin-ah." Kyuhyun menarik sebelah tangan Sungmin dalam genggaman kini. Turut memandang layar monitor yang memperlihatkan seberapa antusias sapphire blue ocean di luar sana. "Mereka bernama ELF, hyung." jelas Kyuhyun akhirnya.

"ELF?"

"Ne, EverLasting Friend." Angguk Kyuhyun. Matanya memandang rindu pada lightstick biru safir yang teracung semangat di sepanjang venue. "Leeteuk hyung yang mengusulkan nama itu. Katanya, agar mereka yang menjadi fans kami, pendukung Super Junior akan selalu menjadi seorang teman yang tumbuh bersama. Seperti peri – peri baik hati yang akan mengabulkan apapun permintaan kami. Sosok yang setia, karena ELF adalah selamanya."

Kyuhyun menoleh pada Sungmin yang kini termenung. "dan Teuki hyung benar, 'kan? Sekalipun SJ telah vakum selama hampir tiga tahun, mereka masih tetap kembali ke sini. Ke konser SMtwon, karena mendengar kabar bahwa kami," dia mengangkat tangan mereka yang saling bertaut sekarang, "kita, telah kembali."

"Apa.. apa menurutmu aku pantas?"

"Pantas atau tidaknya itu tergantung pada dirimu sendiri, hyung." jawab Kyuhyun tenang. Dia tersenyum lembut kini, menatap Sungmin dengan mata obsidiannya yang teduh. " Tampilkanlah yang terbaik, dan kupastikan kau lebih dari pantas untuk menjadi bagian dari kami."

"Kyuhyun-ah! Sungminnie!" Keduanya menoleh, memutus kontak mata lama, dan sama – sama beralih pada panggilan Leeteuk barusan. Manager muda itu berjalan tergesa dengan headphone yang tergantung di leher. Membuat dua dongsaengnya ini bertanya – tanya tentang hal ajaib apa yang akan dilakukan sang hyung tertua ini. "Konser akan segera dimulai. Bersiaplah, dalam lima menit kedepan kalian akan segera menaiki panggung. Ah ―Jongwoon, Wookie-ya, kemarilah!"

Kelimanya telah berdiri memutar sekarang. Dengan masing – masing tangan yang reflex terjulur ke depan. Saling bertumpu, sekaligus saling memberi tumpuan. Leeteuk memulai dengan tarikan nafas panjang. Mata teduh namja itu mulai bergerak, menatap satu persatu wajah dongsaengnya yang tengah berada dalam beragam ekspresi.

"Dengar, kita sudah mempersiapkan ini matang – matang. Kita sudah berlatih keras sampai siang tadi. Sekarang adalah waktunya bagi kalian untuk menunjukan seberapa bersinar Super Junior itu. Tunjukan kalau kalian adalah orang yang pantas untuk menjadi satu – satunya bintang di panggung malam ini. Tunjukan pada semua orang bahwa hanya dengan satu lagu, kalian sudah berhasil menanamkan satu ingatan paling menyenangkan di hati penonton. Di hati ELF."

Dia memberi jeda sejenak, menatap sedikit lebih lama pada Sungmin yang hanya menunduk. "Kalian bisa melakukannya, Jongwoonnie, Wookie-yah, Kyuhyunnie." Dia beralih penuh pada Sungmin sekarang, menepuk kepala berambut hitam legam itu lembut. "dan aku yakin kau pun bisa melakukannya, Sungminnie."

Leeteuk menarik nafas lagi, kini tersenyum penuh semangat. "Bersama, oke? Hana dul set! URI NEUN SYUPEO JUNI-OYEO"

Mereka semua tertawa ―ahh.. minus Sungmin lebih tepatnya, dan Leeteuk sadar itu. Makanya, saat Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung telah melangkah menuju tempat yang disediakan, Leeteuk menarik Sungmin dalam pelukan.

"Sungminnie, hati – hati. Pasti akan ada bentuk penolakan oleh ELF nanti. Tapi tenang saja," sang manager melepas rengkuhannya kini. "Jangan pernah pikirkan itu dan tetaplah menyanyi. Hyung bisa mempercayaimu, bukan?"

Sungmin menatap Leeteuk lama, terlihat bingung. Tapi perlahan, pancaran mata seorang 'petarung' mulai terlihat di matanya. Menyala terang, pun penuh akan semangat. Sesuatu yang sangat ditunggu oleh Leeteuk. Dia mengangguk mantap akhirnya. "Ne, hyung. Aku akan baik – baik saja."

"Bagus, sekarang pergilah. Hwaiting!"

―dan namja manis bermata hazel itu tertawa. Sedikit berlari kecil untuk menemui bandmates-nya yang sudah standby di tempat.

Kyuhyun segera mengulurkan tangannya saat Sungmin sampai. Begitu juga Yesung dan Ryeowook. Empat tangan itu saling bertaut, saling meremas menguatkan, sebelum melepas dengan hentakan semangat.

"Aku seperti mau melakukan konser untuk pertama kali." Ujar Yesung lirih. Meski begitu, nada semangat yang kentara tidak bisa tidak didengar dalam suaranya. Ryeowook yang disebelahnya turut mengangguk setuju. "Ne, hyung. kita akhirnya kembali setelah sekian lama." Tanggapnya. Wajahnya mendongak semangat, menatap pada lubang panggung yang akan membawa keempatnya keluar. "Aku rindu menyanyi."

"Gwaenchanha?" bisik Kyuhyun pada Sungmin.

"Ne," angguk hyungnya singkat. Namja itu meraih tangan Kyuhyun dalam genggaman. Memberi remasan singkat pada jemari yang tertutup sarung tangan hitam itu, sebelum melepasnya kembali. "Kita akan melakukan konser yang hebat malam ini."

Sang magnae tertawa dan mengangguk. Kini beralih untuk mengangkat topeng yang tergenggam ditangan. "dan dari pada itu hyungdeul, apakah kalian tahu maksud Teuki hyung dengan topeng ini? Jujur, sejak rehersal siang tadi aku benar – benar tidak mengerti."

"Ck.. tinggal lakukan saja apapun yang sudah diinstruksikan Teuki hyung saat rehersal tadi magnae."


"SUPER JUNIOR..! SUPER JUNIOR!"

Gema teriakan itu terus terdengar di venue megah Nissan Stadium ini. Sekalipun beragam warna lightstick terlihat bertabur di setiap penjuru layaknya belasan kuntum bunga yang tengah mekar, Sapphire Blue masih mendominasi.

Masih dengan lightstick sewarna laut yang diangkat penuh semangat, juga dengan panggilan tak kunjung usai pada sang idola yang telah menghilang selama tiga tahun ini. Rasa senang, rindu, juga penasaran tentu melebur bersama dengan hangatnya kebersamaan di konser SMtown malam ini. Padahal, salju masih asyik meluruh di luar sana. Tapi tampaknya, aura dingin sama sekali tidak terasa dari para ELF yang dengan hangat menanti sang pujaan hati untuk menampakan diri.

Setelah VCR yang yang menjadi pre-opening SMtown concert mulai berakhir, ratusan lampu utama venue mulai dipadamkan. Jerit semangat segera menyambut. Mengawali konser ―yang juga menjadi langkah awal kembalinya sang musisi kecintaan South Korea.

―dan tidak. Mereka yang telah menfokuskan pandang pada panggung utama disebelah utara langsung menoleh saat suara besi yang beradu terdengar dari panggung kedua yang berada di tengah – tengah penonton. Bukan dari panggung utama, mereka mengawali dengan panggung kedua yang menjadi titik temu dari keempat panggung panjang untuk menyapa penonton.

Tempat berbentuk lingkaran berdiameter kurang lebih 10 meters itu perlahan meninggi. Menampilkan empat undakan yang dimana keempat penjurunya telah terpasang lilin biru muda berukuran sedang. Benda berbentuk lingkaran panjang itu masih padam. Tanpa adanya nyala api yang akan memakan habis 'tubuh'nya. Dipanggung utama, layar besar yang terpasang mulai menampilkan slide show perjalanan Super Junior KRY dulu. Sekilas dari konser debut, sekilas dari kemenangan – kemenangan yang mereka torehkan dalam ajang penghargaan music nasional.

Slide show berantai itu terus berlanjut. Sekarang berganti dengan gambar acak para membernya. Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung. Sejak dari awal debut, dan hingga saat ini. Saat ketiganya kembali pada panggung besar yang telah menanti dan ―ahh… jangan lupakan jerit penasaran ELF sekarang. Saat seseorang dengan topeng hitam yang menutupi matanya mulai diperlihatkan, seseorang yang juga memiliki rambut lurus sewarna malam, sang member baru yang sempat menjadi kontroversi. Sang member bertopeng itu mulai bergerak seolah bersiap membuka topengnya, namun, sebelum benda itu terlepas dari wajahnya yang pucat, layar kembali berganti.

Kali ini memampang tulisan 'Super Junior' memenuhi layar. Tanpa embel – embel KRY, hanya Super Junior, dan hadirin pun menjerit.

Lilin – lilin kecil yang berada sepanjang panggung yang menjadi jalan menuju panggung kedua mulai dinyalakan oleh para penari latar. Berjajar, dan berputar hingga mengitari panggung kedua guna memberi api kehidupan bagi barisan lilin yang asalnya mati. Hal itu membuat panggung kedua yang berbentuk lingkaran terlihat bagai matahari mungil diantara Sapphire Blue Ocean. Yang seolah mampu menerangi venue gelap ini dengan sinar lembutnya. Setelah para penari latar itu kembali turun dan menyisakan sepetak mungil tempat penuh lilin,

―dan saat yang ditunggu pun tiba. Instrumen mulai terdengar, mengalir lembut, sejalan dengan munculnya sosok berjas hitam dari panggung utama. Bersiap mengangkat microphone, dan akhirnya memulai dengan suara baritone merdu yang mampu membuat ELF menjerit.

Ssahyogeneun shigandeurun
Amado yokshimeul beureuna bwayo
Eojeboda oneul deo
Apajingeol bomyeon .. Oh girl

Dia memakai topeng hitam dengan sedikit corak keemasan. Berjalan anggun menuju panggung kedua, dengan setangkai mawar di tangan yang tidak memegang microphone.

Nareul hyanghan misoedo
Manyang haengbokhal su oebsoejin geon
Teukbyeorhami eobdaneun geol
Ara beorin hubuteoyeojjyo baby

Sosok yang lain kembali muncul, suara bass-nya yang khas melantun lembut. Masih dengan jas hitam, juga topeng ―yang kini berwarna keemasan penuh, menutupi mata. Ditangannya yang bebas pun tergengam setangkai mawar merah.

What if geudega nal saranghal geotman gata

Bagian chorus dinyanyikan bersama.

Jogeum gidarimyeon naege ol geotman gataseo

―Disambung dengan lengkingan suara tenor merdu dari dia yang tengah berjalan menuju panggung kedua. Dengan jas hitam yang sama, mawar yang ditangan, dan topeng yang berwarna biru muda. Namja yang lebih mungil itu segera menempatkan diri di sisi yang lain. Sehingga membentuk lingkaran di sekeliling panggung bundar ini.

Ireon gidaero naneun geudael ddeonal so eobjyo

Mereka kembali berpadu dalam satu lirik,

Geuruhke shigani ssahyeo apeumi dweneun geol
Jal algo isseumyeonso .. Oh girl ..

―dan dia yang paling mungil dalam tiga orang itu kembali mengangkat microphone, menampilkan suara tenornya dalam lirik lembut berikutnya.

Naegeman juneun georago
Midgo shipeojineun misoyeojjiman
Anin geogejjyo geuraedo hokshina
Hamyeonseo...

Akhirnya muncul, sang anggota terakhir dengan jas hitam yang sama, dan topeng merah darah yang sewarna dengan mawar di genggaman. Dia melangkah pasti, menunjukan suara tenor yang tidak kalah dengan dengan tiga anggota lain yang sudah berdiri melingkar diantara celah lilin biru muda yang menyala enggan.

Chorus kembali muncul, dengan perpaduan empat suara merdu yang mampu menuai sorakan kagum dari penonton yang hadir. Venue megah ini seolah menjadi saksi bagi kembalinya mereka, orang – orang yang mencintai music sepenuh hati, pun memiliki limpahan bakat yang sanggup mengundang decak kagum.

Bagian berikutnya adalah Interlude ―yang kali ini terasa lebih lama, dan para penonton ―kembali dibuat terkejut oleh suara besi yang saling bergerak. Semua menoleh keatas. Pada atap kokoh yang kini mulai bergerak perlahan, solah beradu dengan denting piano yang terpilih menjadi solo instrument bagi Super Junior. Beberapa detik, dan langit malam dengan gulungan kelabu lembut itu kini terlihat jelas, membuat salju yang masih turun perlahan mulai memasuki venue. Memberi kesan cantik bagi empat orang yang saling berdiri membelakangi. Masing – masing menghadap pada penonton yang berbeda.

Cahaya lilin yang melingkari membuat mereka tampak bagai malaikat yang luar biasa indah, terlihat paling terang diantara venue yang gelap, dengan butir salju yang dengan lembut menghujani. Perlahan, empat orang itu mulai membuka topeng mereka. Melepas benda yang sejak tadi menutupi separuh wajah itu dan menjatuhkannya ke lantai. Menampilkan pada semua yang hadir malam ini bagaimana sosok dibalik suara – suara indah tadi.

Layar di panggung utama ―yang asalnya mati, mulai menyala. Menampilkan sosok Yesung, Kyuhyun, Ryeowook, juga Sungmin dalam gambar lebarnya. ELF menjerit tak puas. Antara marah, dan penasaran dengan sang anggota baru. Tapi sang penyanyi utama masih diam. Melanjutkan interlude lagu, dan membiarkan semua berjalan sebagaimana nanti.

What if naega geudael
Meonjeo mannasseoddamyeon

Lagu kembali berlanjut, dan mereka mengangkat lagi microphone guna menampilkan suara indahnya.

Ani charari na
Geudaereul mollasseoddamyeon...

Kali ini Kyuhyun. Cho Kyuhyun sang bintang dengan suara bass-nya yang khas,

Ireon saenggakdo naegen
Amu soyongi eobjyo

―Bersama, dan disambung oleh Yesung dengan baritone merdunya yang selalu mampu menyentuh sisi terdalam pendengar.

Gipsukhage bakhin
Geudaeraneun shigan soge
Imi salgo isseuni...

Sungmin mengangkat microphone-nya kini, tidak peduli dengan tatapan aneh audience yang mengarah langsung padanya. Menutup mata sejenak, dan bernyanyi mantap.

Shiganui moogemankeum
Sarangeun deohaegago..

Langsung disambung oleh Kyuhyun dengan penghayatan yang sama,

Apeumi mugeoweodo
Geuraedo eonjengan nal
Saranghal geotman gata

Diakhir, suara keduanya berbaur. Melebur menjadi satu melodi apik yang mengantar pada suara baritone Yesung yang khas dan suara tenor bening milik Ryeowook.

Jogeum gidarimyeon
Naege ol geotman gataseo
Ireon gidaero naneun
Geudael ddeonal su eobjyo
Geureohke shigani
Ssahyeo oneureul mandeun geol
Jal algo issemyeonseo... Oh girl

Keempatnya tersenyum tulus. Penuh terimakasih, juga rasa syukur yang tak henti terpanjat pada sang pencipta. Yesung ―sang Leader, mengangkat michrophone-nya kembali. Melantunkan sebait lirik terakhir yang akan mengakhiri satu lagu milik mereka.

Oh~ lady...

―dan gemuruh teriakan penuh kekaguman langsung menyambut.

"HUWAAAA… SUPER JUNIOR! SUPER JUNIOR!"

Mereka tersenyum puas. Pun Sungmin yang menatap kumpulan Sapphire Blue itu dengan tatap penuh terimakasih. Disekeliling, butir mungil salju masih kekeuh membayang, mempercantik panggung kedua yang kini bagai taman mungil penuh lilin dan setumpuk kecil salju.

"Annyeonghasseo…" Yesung memulai. Menebar senyum penuh gairah miliknya dan berteriak semangat. "Uri neun SYUPEO JUNI-OYEO!" bersama tiga yang lain, reflex merentangkan tangan kanannya kedepan. Dan sungguh tidak disangkanya bahwa―

"URI NEUN ELPHEU-OYEO!"

―sambutan itu masih tetap ada, dan akan selalu ada bagi mereka.

Namja tampan itu terlihat hendak bicara, tersenyum, sebelum akhirnya menurunkan lagi microphone-nya. Mata indahnya terlihat terlapisi kaca. Antara terharu dan menyesal karena telah meninggalkan mereka yang mencintainya begitu lama. Kim Ryeowook yang berada di sebelahnya segera mengerti. Bertindak tangkas dengan mengangkat microphone dan menyapa semangat para penonton disekelilingnya.

"Karena Yesung hyung terlalu terharu, biar aku yang memulai, okay? Hajimemashita minna-san~ Boku wa Ryeowook desu~ Aku merindukan kalian semuaa~!"

Teriakan meriah menyambut, mampu membuat namja paling mungil dalam grup itu tersenyum sangat senang. Dia tidak henti – hentinya melambai semangat dan tersenyum manis pada setiap penjuru.

Yesung ikut tersenyum melihati itu. Dia kembali menaikan microphone-nya kini, menarik nafas panjang beberapa saat dan bersuara semangat "Hajimemashite~! O-genki desu ka?" dia mengarahkan microphone-nya pada penonton kini.

"GENKI DESU..!"

Dia tersenyum manis, "Boku wa Yesung desu.." sang leader kembali mengambil jeda, hanya sejenak sebelum kembali berbicara. "Aku minta ma'af telah membuat kalian menunggu begitu lama. Aku juga.. aku juga sangat berterimakasih pada kalian yang sudah bersedia menunggu. Menanti kami untuk kembali."

Penonton bersorak.

"dan lihat? Sekaranng kami kembali, karena cinta kalian. Kami kembali dengan wujud yang baru. Yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian, juga.." dia kembali menangis kini, dan Ryeowook dengan sigap merangkul erat pundak sang hyung. "Kami berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi. AKU CINTA KALIAN!"

―dan gemuruh penuh haru memenuhi Nissan Stadium yang luas ini. Dengan tangis haru, juga senyum penuh kebahagian. Perkenalan berlanjut, kini Kyuhyun mengangkat microphone-nya. Dengan sorot mata yang tak kalah semangat dari dua hyungnya yang lain.

"Hajimemashite~! Kyuhyun-desu!" dia tersenyum semangat. Masih dengan tangan yang melambai antusias pada penonton disekeliling. Sekalipun dia sudah menggelar solo concert-nya sendiri, euphoria saat berdiri bersama grupnya selalu terasa berbeda. Selalu semenyenangkan dan seantusias ini. Debar bahagia yang selalu dirasakannya tidak pernah berubah. Masih sama seperti saat KRY pertama kali debut di panggung kecil di South Korea sana.

"Aku merindukan kalian~!"

―dan sekarang, saat sang member yang berdiri di sisi paling kiri mengangkat microphone-nya, keheningan yang aneh terasa. Antara aura penolakan, juga tatapan penuh penasaran. Sungmin melihat itu semua, melihat beberapa banner penolakan atas dirinya yang terasa begitu jelas dari tempatnya berdiri kini. Tapi dia tersenyum, Sungmin sudah berjanji pada Leeteuk untuk baik – baik saja, bukan?

"Annyeonghasseyo.." dia memulai ―sengaja menggunakan Korean, karena Sungmin sebenarnya tidak terlalu siap untuk berbicara 'selangsung itu' pada orang – orang dihadapannya sekarang. "Namaku Lee Sungmin.."

Jerit tak senang menyambut. Kyuhyun yang berada sisi kanan Sungmin menoleh, tersenyum seolah menguatkan.

"Aku.." dia terdiam sejenak. Meneguk ludah segan sebelum kembali mengulas senyum hangat. Tidak peduli dengan tanggapan-entah-apa yanga akan dipersiapkan orang – orang ini. "Aku minta ma'af karena telah dengan seenaknya bergabung dengan kalian."

Mata obsidian sang magnae menyipit kini, seolah tak setuju dengan kalimat terakhir sang hyung. Begitu juga Yesung dan Ryeowook. Terlihat penasaran dan khawatir dengan sang member teranyar mereka.

"Aku tahu kalian pasti melihatku sebagai orang asing yang dengan seenaknya menerobos masuk ke Super Junior. Ke dalam keluarga kalian. Tapi aku janji," Sungmin mengambil dua langkah ke depan. Menatap semua yang ada dihadapannya dengan mata beningnya yang sewarna madu. "Aku janji akan membuktikan pada kalian bahwa aku tidak akan membuat mereka malu. Aku janji aku akan berusaha sekeras mungkin agar Super Junior berada di puncak."

Semua yang ada diam, walau gumam tak senang itu masih ada, tapi Sungmin merasa kalau aura positif mulai berpihak padanya. Dia yakin kalau 'peri – peri' baik hati ini juga akan melihat ke arahnya. Seperti yang dikatakan Leeteuk, dia pasti baik – baik saja malam ini.

Layar lebar dibelakang sana mulai menyorot penuh bagaimana senyum manis itu terulas di bibir sewarna sakura sang member baru. Seolah memperlihatkan pada semua audience seberapa 'indah'nya orang yang akan bergabung di Super Junior ini ―dan yah.. tidak sedikit juga audience yang langsung menjerit kagum setelah ini.

Dengan masih mempertahankan senyum tulus diwajah, namja manis itu kembali berujar pelan. Lembut, dan membujuk. Benar – benar memperlihatkan sosoknya yang sabar, "Aku tidak akan meminta kalian untuk mencintaiku. Cintai saja tiga orang dibelakangku ini. Aku hanya meminta satu kesempatan untuk bergabung bersama mereka. Bersama, untuk mempersembahkan suaraku untuk kalian."

―jeritan tak percaya sontak memenuhi venue sekarang, saat Lee Sungmin, sang outsider, dengan penuh rendah hati membungkuk. Memberi satu penghormatan penuh ―yang terlihat seperti orang yang bersujud― khas korea di atas panggung megah SMtown.

Dia berada dalam posisi itu selama lima detik, sebelum kembali berdiri dan berujar "Hanya satu kesempatan, dan jika aku sampai menyakiti mereka sekali saja, kalian boleh membenciku. Aku janji."

Hening beberapa saat terjadi, hingga Sungmin akhirnya mengatupkan tangan ke mulutnya ―terbelalak tidak percaya, saat melihat beberapa orang mulai bertepuk tangan. Mulai merambat, dan lambat laun memenuhi venue megah ini. Bukan hanya ELF, tapi entah fandom apapun itu mulai memberikan applause penuh kebanggaan mereka. Kagum akan kerendahan hati dan kesederhanaan sang pendatang. Pun jika mereka menelisik ke beberapa saat yang lalu, teknik menyanyi dan warna suaranya juga patut dipuji. Tidak kalah mengagumkan dari Kyuhyun, Ryeowokk, juga Yesung.

"Terimakasih, terimakasih… domo arigato gozaimashita, minna-san~"

Tiga lainnya yang sejak tadi berdiam dibelakang mulai melangkah maju. Membawa tubuh mungil Sungmin dalam pelukan erat dan tertawa. Benar – benar tertawa penuh kelegaan di panggung megah yang masih diselimuti salju ini. Seolah butir putih mungil, juga cahaya lilin menjadi saksi bagi lahirnya mereka yang baru. Lahirnya Super Junior yang akan kembali merajai music Korea.

Mereka bereempat bergandengan erat kini ―setelah sebelumnya melempar semangat setangkai mawar tanda cinta bagi para ELF yang telah setia menunggu. Yesung, Ryeowook, Sungmin dan Kyuhyun. Menghadap penuh pada ELF yang juga menangis haru, tertawa penuh kebanggaan juga kebahagiaan. Yesung mulai mengangkat microphone-nya lagi, "Seperti yang sudah kalian dengar, mulai mala mini, Lee Sungmin adalah bagian dari kita. Terimalah dia seperti kalian menerima kami. Bukankah dia dongsaeng yang sangat manis?" tawanya riang.

Kini jerit senang yang menyahut―

"Mulai malam ini, kami adalah Super Junior. Kami kembali dan kami akan membuktikan bahwa Super Junior tidak pernah mati. URI NEUN SYUPEO JUNI-OYEO!"

―sekali lagi, gempita penuh semangatlah yang menyambut.


Leeteuk menyeka setitik air mata yang lolos dari matanya. Menatap layar monitor dihadapan dengan dua tangan yang terlipat di dada. Raut bangga terpatri jelas di wajahnya. Dadanya benar – benar menghangat kini. Tidak hanya Sungmin, semua dongsaengnya melakukannya dengan sangat baik. Sangat membanggakan dan jauh di atas perkiraannya. Mereka benar – benar sudah dewasa―batinnya bangga. Ahh.. kira – kira hadiah apa yang pantas dia berikan untuk dongsaengdeulnya yang sudah bekerja keras sejauh ini.

"Terkejut melihat hasilnya?"

Manager muda itu menoleh, dan segera membungkuk hormat pada sosok Lee Sooman yang telah berdiri tegap di belakang. Menatap puas pada layar monitor yang menunjukan bagaimana ekspresi ceria para member Super Junior saat tengah meninggalkan panggung. Dengan tawa riang dan lambaian semangat yang terarah pada penonton.

"Seongsaengnim.. anda menyempatkan kemari, ternyata."

"Hanya melihat calon sumber uangku, Jungsoo."

"Dan anda tidak dikecewakan."

Sooman menoleh penuh pada Leeteuk kini. "Aku tidak pernah merasa akan dikecewakan. Harusnya kau yang minta ma'af pada bocah itu karena sudah meremehkan kemampuannya."

"Ahh.. anda benar, saya memang harus minta ma'af padanya untuk itu." Senyum Leeteuk akhirnya. Dia mempersilahkan sang 'petinggi' itu untuk beranjak ke waiting room kemudian. Menyerahkan headphone yang digunakannya untuk memantau konser, dan akhirnya duduk nyaman di ruang khusus. Dengan sang seongsaengnim yang juga menyamankan diri.

"Bagaimana menurut anda, seongsaengnim?"

"Aku lebih tertarik pada pendapatmu, Jungsoo." Jawab sang guru. Raut puas tidak kunjung hilang dari wajahnya yang berkerut. "dan melihat apa yang telah terjadi malam ini, kurasa kau akan semakin kerap menagihku untuk 'solo carier' anak itu."

Leeteuk tersenyum kini, menyeruput singkat teh panas yang baru saja diantarkan seorang kru dan berujar. "Ahh.. silahkan tehnya, seongsaengnim. Dan.. entah kenapa saya merasa tidak yakin dengan itu sekarang."

"Maksudmu?"

"Saya ingin membiarkannnya berteman," Responnya pelan. Wajahnya menyendu saat teringat bagaimana dongsaengnya yang satu itu. "dia anak yang kesepian. Saya jadi merasa jika membiarkannya dalam satu grup akan membuatnya merasakan apa itu persahabatan."

Lee Sooman terkekeh kini. Meminum teh di cangkirnya dengan nikmat sebelum balas menyahut, "Kau membuka matamu juga sekarang, Jungsoo."

"Anda.. tahu?"

"Aku gurumu, Jungsoo. Membaca watak seseorang sudah bukan hal sulit bagiku. Lee Sungmin itu.. seperti yang kukatakan dulu, mempunyanyi sisi special yang jarang dimiliki orang lain. Bukan masalah bakat menyanyinya, tapi ketulusan yang tersembunyi dibalik matanya yang kesepian. Hal itulah yang terlihat oleh ELF tadi, dan mampu diterima oleh mereka. Bocah itu orang baik yang penuh ketulusan, Jungsoo." Beliau memberi jeda sejenak. Menatap bagaimana anak didiknya ini termenung. Seolah menelaah setiap ucapan sang guru.

"Karena itu, menjadi soloist bukan impiannya, tapi bernyanyi. Juga berteman."

"Anda.. tidak memberi tahu saya."

"Aku gurumu, Jungsoo. Bukan pengasuhmu yang harus memberi tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Tugasku mengingatkan."

Sang manager muda itu akhirnya tersenyum. Lembut, seolah mendapat semangat baru setelah jatuh. Uluran tangan dari sang guru setelah terjebak dalam satu kesalahan. "Terimakasih seongsaengnim. Saya benar – benar harus lebih banyak belajar." Responnya antusias. Dia tampak terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali berujar "Tapi suatu saat saya akan membuatnya menjadi soloist. Saya tetap akan membuatnya berdiri sendiri dalam panggung megah yang diimpikannya."

"Keras kepala," tawa Lee Sooman pelan.

"Ajaran anda, seongsaengnim. Ajaran anda."

.

.

.

Dia kini berada di backstage. Dengan sebotol air mineral ditangan dan mata bening yang tak lepas dari monitor yang sedang menunjukan sosok Cho Kyuhyun sebagai soloist. Tengah menyanyikan penuh penghayatan sebuah lagu yang sering dinanyikan Kyuhyun padanya. Hope is a dream that doesn't sleep.

Sungmin tersenyum saat melihat namja yang lebih muda dua tahun darinya itu membungkuk hormat di akhir lagu. Langsung disambut dengan gemuruh penuh semangat para audience.

"Dia hebat, 'kan?"

"Teuki hyung.."

Leeteuk tersenyum. Kini mengangkat dua tangannya untuk menyambut Sungmin dalam pelukan. "Sama seperti kau, Sungmin-ah. Kau juga sangat hebat malam ini, kemarilah."

Dia tertawa, sebelum meraup penuh sang hyung dalam pelukan. Mencurahkan seberapa besar rasa terimakasihnya pada namja ini. "Terimakasih hyung. terimakasih~"

"Tidak, sayang. Kau tidak perlu berterimakasih. Aku tidak melakukan apapun untukmu." Leeteuk tetap menggeleng. Memotong apapun ucapan Sungmin yang akan terlontar, matanya beralih pada Kyuhyun yang mulai memasuki backstage sekarang. Raut magnae itu sangat kelelahan, tapi binar semangat dan bahagia masih terpancar terang darinya.

"Kyuhyunnie!" Kyuhyun menoleh. Langsung tersenyum saat matanya menangkap bayang dua orang terdekat. Dia menarik Leeteuk sekilas dalam pelukan, dibalas oleh acakan sayang dirambutnya dan beralih pada Sungmin. "Aku belum sempat mengatakan ini tadi," dia menarik Sungmin dalam pelukan penuhnya. "Kau sangat hebat, tadi."

"Kalian berdua sama – sama hebat!" tanggap Leeteuk dengan senyum. Dia mengusap sayang surai hitam kelam Sungmin sekarang. "Sekarang istirahat saja, ini penampilan terakhirmu, 'kan Kyuhyunnie? Pergilah ke restroom. Jongwoonnie dan Wookie-yah sudah disana."

Tanpa disuruh dua kali, Kyuhyun segera menarik Sungmin pergi. Menggenggam tangan hyungnya yang terasa dingin erat. Mungkin ini efek salju tadi, ―pikir Kyuhyun dalam hati.

"Kita mau kemana, Kyu?" tanya Sungmin heran saat kakinya melangkah menjauhi tempat-yang-harusnya-dituju. "Bukannya restroom kita ada disebelah kanan?"

Kyuhyun hanya tersenyum miring. Tetap membawa sang hyung untuk diseret mendekati sebuah ruang dengan pintu berwarna cokelat terang. Sungmin tidak tahu ruang apa yang akan mereka datangi, tapi saat Kyuhyun membuka pintu dihadapannya, dia hanya bisa menganga terkejut.

"Ini…"

"Ne~" kekeh Kyuhyun senang. Ruangan ini ―mungkin sebuah ruang yang digunakan oleh pengamat atau apapun itu, dia tidak terlalu peduli sebenarnya. "Kau masih bisa melihat mereka dari sini hyung."

Magnae itu menarik Sungmin mendekat. Pada jendela kaca besar yang mampu memperlihatkan riuhnya konser dibawah sana. Dari atas sini, kumpulan sapphire blue ocean terlihat jelas. Cantik, dengan selang seling warna fandom lain.

Sungmin tersenyum kagum, langsung melepaskan diri dari Kyuhyun dan menatap sayang lautan biru safir itu. "Indah sekali." Gumamnya. "dan aku masih merasa kalau ini semua adalah bagian dari mimpiku."

Sang dongsaeng berdecak. Menarik pipi Sungmin menghadapnya dan mendaratkan satu ciuman sayang di bibir sewarna sakuta miliknya. "Ini semua nyata, hyung. Kebahagiaan ini murni milikmu." Tangannya dengan sigap memeluk Sungmin dari belakang kini. "dan jangan bilang terimakasih lagi."

Hyungnya tertawa. Hanya menyibukan diri utuk mengamati euphoria penonton di bawah sana. "Aku penasaran kenapa mereka bersedia menerimaku tadi,"

"Itu karena kau berbakat." Sambung Kyuhyun sambil memutar bola matanya bosan, "dari pada itu, aku lebih memikirkan bagaimana Teuki hyung berhasil membuat atap stadium ini terbuka. Terlebih ditengah salju, apa dia tidak takut jika ada tumpahan salju bervolume besar mengenai kita?"

Sungmin tertawa, mau tidak mau melirik pada besi kokoh yang diatas sana yang kembali tertutup. "Aku juga bingung. Tapi dia selalu bisa melakukan apapun. Seperti malaikat tanpa sayap." Senyumnya lagi.

"Angel without wings yang pelit." Sambung Kyuhyun. Dia melepaskan pelukannya kini. Ganti mendudukan diri pada sofa hitam disudut. "Aku lelah sekali."

"Kyu…" panggil Sungmin. Dia tidak melihat kea rah Kyuhyun kini. Hanya menyandarkan tubuh pada kaca tebal didepan dan menatap penuh konser dibawah sana. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

Magnaenya menarik nafas panjang terlebih dahulu, "Aku akan focus pada kuliah dulu hyung." jawab Kyuhyun perlahan. "Seongsaengnim sudah setuju, dan dia memberiku waktu satu tahun untuk break sementara. Aku akan tetap disini ―di Jepang, untuk kuliah di Tokyo University."

"Satu tahun yaa.."

"Ne, kalian berjuanglah. Aku akan berusaha menjadi dokter yang hebat, sebelum kembali nanti."

"Aku akan di Korea kalau begitu, jangan hubungi aku, ne?" Kyuhyun segera membuka matanya yang tadi tertutup.

"Apa maksudmu? Kau mau meninggalkanku, Lee Sungmin?"

"Kenapa kau selalu berasumsi aku akan pergi?" tawa Sungmin lagi. Dia menatap penuh pada kekasihnya kini. "Aku akan berjuang di Korea, dan kau belajar baik – baiklah, disini. Nanti, saat kau kembali dan menggelar konser pertamamu di panggung megah Tokyo Dome, aku akan berusaha untuk melihatmu. Mungkin ini hadiah yang paling cocok untuk kuberikan padamu."

Magnae itu mengerjap. Mulai bangkit dari posisinya. "Hyung.. janji akan melihatku di Tokyo Dome.. untuk pertama kali?"

Sungmin mengulas senyum manisnya, "Bukan berjanji datang Kyuhyun-ah. Tapi aku akan berusaha, hanya itu yang bisa ku janjikan."

"Aku senang sekali―"

"Kyuhyun-ah, aku mencintaimu…"

Dan kebahagian Kyuhyun seolah lenyap detik itu juga saat melihat tubuh mungil itu limbung. Jatuh dengan bunyi debam lembut saat menyentuh lantai. Dia terdiam sesaat. Dua detik, sebelum Kyuhyun sadar bahwa itu bukan lelucon dan mengangkat tubuh Sungmin dalam pangkuan. Kulit putih susu itu.. entah kenapa terasa dingin ditangannya ―serupa dengan tangan yang digenggamnya tadi. Kenapa kau tidak sadar dari tadi, Cho Kyuhyun?! Air matanya reflex meluruh turun kini. Takut, dia sangat takut.

"Hyung jangan menakutiku, bangunlah.. Sungmin hyung… LEE SUNGMIN BANGUN SEKARANG?!"

Anata to no omoi de sukoshi koko ni oiteiku kara
[Aku akan meletakkan sebagian kenangan denganmu di sini]

Wasurenai you ni
[ supaya aku tidak lupa]

I'll always love you, I'll always love you
[Aku akan selalu mencintaimu, Aku akan selalu mencintaimu]

Ikiru to iu koto wa ushinau to iu koto
[Yang disebut hidup adalah yang disebut kehilangan]

Anata mo boku mo
[Kau dan aku]

Ikiru to iu koto wa ushinau to iu koto
[Yang disebut hidup adalah yang disebut kehilangan]

Dakara saigo ni tsutaetai
[Karenanya di saat terakhir ingin kukatakan]

Anata to tomo ni ikirete yokatta
[Aku bahagia pernah hidup di sampingmu]


TBC or… must END, now?


6k+ words..

Wow.. cukup panjang untuk update yang sangat lama bukan? #senyummanis #dilemparpanci -_-v

Ma'af – ma'af, saya tidak akan beralasan apapun. Hanya ingin mengucapkan terimakasih buat yang udah dukung ampe sekarang. Ma'af juga ga bisa bales review, seriusan deh.. tengah malem di jateng ini, oh yaa terimakasih yg udah do'ain buat UAN, doain juga biar nilainya bagus yaakk~ XDD

Nah.. ch depan terakhir nanti nihh.. menurut kalian, lebih baik saya taruh di WP ato disini? Coz kalo di WP bisa saya kasih backsoundx last song gitu. Biar lebih nge-jleb~ haha.. XDDD Teruss,, minta pendapatnya dong buat ch ini,, scene concert.x gimana? Mampu kebayang gag? Saya harap iyaaa,, coz udah dibuat detail banget supaya kalian bisa ikut ngebayangin first concert Sungminnie disiniii~

Berhubung setelah ini end, nunggu ampe genepin angka 500 deh kotak review.x,, nunggu yang belom ngasi suara buat muncul, haha :D #dilemparkejurang -_-v

Arigato gozaimasu minna-san~ Daisuki yooo~~~ #pelukhangatsatusatu