Sebelumnya saya harus bilang bahwa tulisan ini inspirasinya dari SEKAIICHI HATSUKOI dan JUNJOU ROMANTICA. Kesamaan plot, tema, alur memang bersumber dari kedua anime/manga tersebut, tentunya dengan tambahan disana-sini.
.
Selamat menikmati!
.
.
.
.
Seperti biasa, dia selalu menghabiskan waktu pada saat jam istirahat makan siang di perpustakaan. Dia selalu duduk di dekat jendela perpustakaan, tempat favoritnya. Mejanya dipenuhi tumpukan buku yang berserakan. Kali ini ia membaca buku astronomi. Cukup menarik, mengingat materi astronomi hanya diberikan sekilas lalu pada pelajaran fisika. Mungkin saja dia tertarik lebih jauh dengan materi itu.
.
Aku selalu mengaguminya dari jauh. Wajahnya yang serius ketika sedang membaca buku benar-benar membiusku.
.
Aku tidak berani menyapanya. Bukan apa-apa. Dia adalah seniorku yang dikenal paling dingin dan tak suka diganggu. Tatapan matanya yang buas bisa saja membuatmu seketika membeku.
.
Dia telah menghiasi hari-hariku sejak pertama kali masuk sekolah. Dia berhasil membuatku penasaran setengah mati. Aku pun diam-diam mencari tahu tentang dia.
.
Sejauh ini yang aku tahu dia lahir di China, hanya selisih sekitar 6 bulan dariku. Dia sudah pasti pintar karena dia dua tingkat di atasku, aku baru kelas 1, dia sudah kelas 3. Dia anggota tim inti basket sekolah, sudah pasti banyak yang mengidolakannya.
.
Tinggi, pintar, badan tegap, wajah menarik, dan banyak orang yang mengantri agar bisa dekat dengannya. Apalagi yang kurang. Dia terlalu sempurna.
.
Sudah satu jam berlalu sejak dia mulai membaca buku. Aku masih mengamatinya diam-diam. Pura-pura membaca buku yang aku sendiri tak tahu apa judulnya. Tadi aku mengambilnya secara acak agar aku tak kehilangan jejaknya.
.
Dia membaca dengan sangat serius. Aku bisa melihatnya mencatat beberapa buah notes. Melihatnya yang begitu serius membaca dan terkadang sesekali mencatat, itulah yang menarik dari dirinya.
.
Teng! Teng! Teng!
.
Jam istirahat pun telah usai. Ku lihat dia nampak membereskan buku-buku yang diambilnya dan menuju meja petugas perpustakaan. Seperti biasa, dia pasti akan meminjam buku-buku itu.
.
"Hey, kamu yang di sana! Waktu istirahat sudah habis. Masuklah ke kelasmu." tegur salah seorang petugas perpustakaan kepadaku.
.
Sial. Aku tak sadar aku masih dengan santainya duduk di meja perpustakaan.
.
"Ah, iya. Maaf. Saya bereskan buku-buku ini dulu." ucapku tergesa-gesa sambil merapikan buku-buku yang ku ambil. Aku bergegas menuju meja petugas perpustakaan untuk mengembalikan buku. Aku bergerak terburu-buru hingga tanpa sadar aku terantuk meja dan itu membuatku limbung.
.
Tubuhku serasa melayang. Kepalaku nyaris menabrak siku meja. Hampir saja. Saat itu mendadak aku merasa sepasang lengan yang kekar dan hangat melingkar di bahuku. Aku bergidik ngilu ketika aku merasakan hembusan nafas orang lain di tengkukku.
.
"Kau tidak apa-apa?" suara itu tiba-tiba menyadarkanku.
.
Aku masih merasa linglung. Aku masih memegang buku-buku yang akan ku kembalikan. Aku pun kaget melihat sepasang lengan yang melingkar di bahuku. Ini nyata. Ini bukan sekadar khayalanku saja.
.
"Hey, kau tidak apa-apa kan?" ucapnya lagi.
.
Aku pun segera tersadar. Ini suaranya. Lengan yang melingkar di bahuku ini adalah lengannya. Helaan nafas yang sedari tadi membelai tengkukku adalah nafasnya. Degup jantung yang ku rasakan berdetak di belakangku tadi, apakah detak jantungnya juga? Atau aku salah mengira karena saat ini aku merasa detak jantungku pun semakin tak karuan.
.
"Ah... Eh... Itu... Aku..." aku tergagap. Belum pernah aku merasa segugup ini. Bisa kurasakan wajahku yang sudah memerah bak kepiting rebus.
.
"Lain kali hati-hati." ucapnya sambil membantuku berdiri.
.
Aku bisa merasakan jemarinya yang hangat ketika dia menyentuh pundakku. Aku bisa merasakan betapa erat pelukannya ketika ia melingkarkan lengannya di bahuku. Aku bisa merasakan nafasnya yang diam-diam menggelitik tengkukku. Aku terbuai.
.
"Aku duluan ya." ujarnya sembari menepuk bahuku pelan.
.
Aku terpana. Aku tersadar. Ini pertama kalinya aku melakukan kontak fisik dengannya.
.
"Ah, iya. Terima kasih karena menolongku senior..."
.
Ia meletakkan telunjuknya dibibirku.
.
Lagi-lagi aku dibuainya. Aku pun terdiam tanpa bisa melanjutkan kalimat yang sudah berada di ujung bibirku.
.
"Jangan panggil aku senior. Panggil aku dengan nama depanku saja. Kau dengar itu Joonmyeonie?" ucapnya lembut.
.
Mataku terbelalak. Dia tahu namaku?
.
"Sudah ya. Aku ke kelas dulu." lanjutnya.
.
Aku melihat siluetnya bergerak menuju ruang kelasnya. Aku masih termangu. Masih agak sedikit terkejut dengan kontak fisik yang begitu mendadak.
.
Aku nyaris saja membeku kalau saja tak segera disadarkan oleh petugas perpustakaan.
.
"Kau masih disini? Kau mau pinjam buku itu?" ucapnya mengagetkanku.
.
"Ah, iya. Aku..."
.
KRING! KRING! KRING!
.
Eh, tunggu dulu. Suara apa ini? Aku mendadak terkejut karena tiba-tiba menyadari aku sedang terbaring di tempat tidur. Masih memeluk guling, masih memakai piyama, masih berada di kamarku.
.
GAWAT!
.
Aku ketiduran di hari pertamaku pindah di apartemen baruku. Sial. Kalau begini aku pun akan terlambat ke kantor baruku!
.
Aku segera bergegas melempar piyamaku sambil menyambar razor yang terletak di bilik westafel. Aku segera bercukur. Aku kemudian menyikat gigiku lalu membasuh wajahku. Aku tak sempat mandi. Aku segera menyemprotkan body spray ke seluruh tubuhku. Aku kemudian terburu-buru memakai kemeja dan celana panjangku. Aku lalu membuka kulkas dan menyambar sebotol energy drink yang sudah ku siapkan untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti ini. Aku harus bergegas mengejar kereta agar tidak terlambat.
.
Entah mengapa aku mendapat sedikit firasat yang tidak enak. Hari ini dimulai dengan kesialan. Padahal aku baru saja pindah ke apartemen baru, aku pun baru akan memulai pekerjaan baruku hari ini di tempat baru.
.
.
.
.
Aku langsung bergegas menuju ke departemen HR (ket: Human Resource atau Sumber Daya Manusia). Tiba saat menit terakhir sebelum kereta berangkat, menegak energy drink terburu-buru sembari berlari menuju kantor baru, masih pagi aku sudah terengah-engah.
.
Aku menarik nafas dalam-dalam agar nafasku teratur. Aku tak ingin membuat kesan yang tidak baik pada hari pertama aku bekerja disini.
.
Aku baru saja akan mengetok pintu ketika aku mendengar namaku dipanggil.
.
"Suho-ssi?"
.
Aku kemudian menoleh.
.
Rupanya gadis bertubuh ramping dan berambut panjang itu menyapaku.
.
"Ah, Yuri-ssi. Annyeonghaseyo." balasku sambil membungkukkan badanku sedikit.
.
Gadis itu adalah Kwon Yuri. Dia adalah salah seorang staff bagian rekruitmen yang bertugas melakukan wawancara akhir ketika aku melamar pekerjaan disini.
.
"Ah, ne. Annyeonghaseyo." balasnya sambil membungkukkan badannya sedikit.
.
"Selamat, Suho-ssi telah menjadi bagian dari tim perusahaan kami. Suho-ssi ingin bertemu Manager HR?" sambungnya.
.
"Kamsahamnida Yuri-ssi. Iya, ini hari pertama saya. Kemarin saya diminta bertemu Manager HR dulu 10 menit lagi." balasku sambil melirik arloji di tangan kiriku.
.
"Ah, gurae. Manager HR kami, Cho Kyuhyun-ssi, sedang ada rapat saat ini. Saya diminta langsung oleh beliau untuk mengantar Suho-ssi berkeliling kantor dan mengantarkan anda langsung pada ruang kerja Suho-ssi." jelasnya.
.
"Oh, begitu. Pantas sekilas saya lihat tadi lampu ruangan ini nampak tidak menyala." balasku.
.
"Kita langsung berkeliling saja. Saya rasa manager Suho-ssi pun sudah menunggu kedatangan Suho-ssi di ruangan beliau. Mari." Gadis itu kemudian mengantarku berkeliling kantor.
.
"Sebelah sini adalah departemen HR. Jadi, mulai bagian rekruitmen, payroll, external relation, internal relation, hingga development ada disini." tunjuknya pada salah satu bagian kantor yang paling sibuk.
.
"Jangan heran kalau departemen HR selalu ramai. Jalannya perusahaan ini sebagian besar terletak disitu. Nah, yang di depan tadi saat kita pertama kali masuk kantor adalah bagian Customer Service. Segala hal yang berkaitan dengan pelanggan ada disana. Suho-ssi lihat ruangan yang dipenuhi orang-orang yang agak berantakan di belakang sana?" tunjuknya lagi.
.
"Ah, ne." balasku.
.
"Disitu adalah bagian Creative. Jadi wajar kalau penampilan mereka tak seperti pegawai kantor biasanya. Mereka kadang tidak pulang seminggu kalau sedang deadline seperti saat ini." sambungnya.
.
Aku kemudian mengamati beraneka jenis perilaku kerja yang ada di bagian itu. Wajah brewokan, wajah berminyak, rambut kusam, kantung mata yang menebal, asap rokok yang menyebar, tumpukan gelas kopi dimana-mana, kaki yang dinaikkan di atas meja. Bisa ku bayangkan tekanan yang selalu dihadapi oleh orang-orang dari departemen itu. mereka memang harus bebas agar kreativitas mereka tidak mandeg.
.
"Nah, Suho-ssi, kita sudah sampai di ruangan tempat Suho-ssi akan bekerja. Secara singkat, saya akan jelaskan mengenai pekerjaan Suho-ssi."
.
Aku kemudian mengamati ruangan ini baik-baik.
.
Seketika hawa suram misterius nan ajaib menghampiriku. Ruangan ini dipenuhi aneka warna pastel yang mencolok. Aku melihat beberapa tumpukan kertas yang menggunung di beberapa meja. Aku bisa melihat seberapa tebal kantung mata orang-orang yang bekerja disini.
.
"Ini adalah salah satu bagian yang memberi pemasukan terbesar pada perusahaan. Fiksi adalah kategori favorit bagi pangsa pasar kami. Suho-ssi akan ditempatkan disini sesuai kesepakatan wawancara akhir kita beberapa hari yang lalu." jelasnya.
.
Ia kemudian mengantarkanku pada sebuah meja yang dipenuhi tumpukan kertas yang kuperkirakan setinggi 1 meter lebih.
.
Ia kemudian nampak bergerak menuju belakang meja yang tertutupi tumpukan kertas itu kemudian terdengar suara jitakan yang cukup keras sekaligus suara jeritan seorang laki-laki yang mengagetkanku.
.
Gadis itu kemudian menoleh kepadaku sambil tersenyum.
.
"Maaf Suho-ssi. Ini hari pertamamu bekerja, tapi kau sudah melihat hal yang seperti ini." ujarnya.
.
Aku kemudian melihat sesosok laki-laki tinggi muncul dari balik tumpukan kertas itu sambil memegangi kepalanya yang agak sedikit benjol. Ia nampak meringis kesakitan.
.
"YA! KWON YURI! Kau benar-benar... AWWW!" belum sempat laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya, ia sudah berteriak lagi.
.
Aku melihat gadis itu menginjak kaki laki-laki itu dengan ujung heelsnya yang lumayan runcing.
.
"Kris Wu, Jangan lupa kau ini lebih muda. Sopanlah sedikit." katanya sambil tetap tersenyum. Aku merasa kali ini senyum gadis itu terlihat sedikit menakutkan.
.
"Ah, Suho-ssi. Perkenalkan, ini Kris Wu, atasanmu. Kris, ini Kim Suho, editor baru yang kau butuhkan." sambungnya.
.
Mataku seketika membelalak. Orang semacam ini adalah kepala editor? Yang benar saja. Penampilannya tak ada bedanya dengan orang-orang bagian Creative tadi. Wajah brewokan, wajah berminyak, rambut kusam, bau asap rokok, kantung mata yang tebal, baju yang kusut.
.
Ia kemudian melihatku mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku sampai agak risih diperlakukan seperti itu.
.
"Jadi dia orang baru yang ku minta. Apa kau yakin tak salah orang Yuri-ah?" kata laki-laki itu.
.
Jantungku mendadak terasa mau meledak.
.
Apa-apaan orang itu? Baru pertama kali bertemu sudah meremehkan orang yang tidak dikenalnya?
.
Aku melihat gadis itu kemudian mendaratkan jitakannya lagi di kepala laki-laki itu.
.
"Kalau kau belum lihat kinerjanya jangan asal bicara. Dia ini Kim Suho, tahu? Dia itu editor novelis terlaris Lee Donghae sebelumnya. Kau jangan kurang ajar. Baiklah, aku sudah memperkenalkan kalian. Aku harap kalian bisa saling bekerja sama dengan baik. Aku tinggal dulu. Sebentar lagi aku ada pekerjaan penting. Kau bimbing dia di hari pertamanya, arraseo?" kata gadis itu pada laki-laki itu.
.
Laik-laki itu nampak mendengus.
.
"Suho-ssi, saya tinggal dulu. Selanjutnya silahkan langsung dengan Kris-ssi, ok?" kata gadis itu padaku.
.
"Ah, ne. Kamsahamnida, Yuri-ssi." balasku.
.
Ia kemudian meninggalkan kami berdua yang sedari tadi mematung.
.
Tatapan mataku tak juga lepas dari laki-laki itu. Dia memperhatikanku terus secara terang-terangan. Aku tak tahu bagaimana cara menghadapi orang semacam ini. Orang ini benar-benar menyebalkan.
.
"Neo." katanya memecah kesunyian di antara kami.
.
"Ne?" balasku.
.
Dia lantas tersenyum sinis.
.
"Neo jinjja. Kau tak memperkenalkan dirimu pada atasanmu? Jeongmal. Ckckck." ujarnya lagi sambil menyilangkan kedua tangannya.
.
Orang ini benar-benar menyebalkan. Bersabarlah Suho. Ini baru hari pertamamu disini. Kau bisa resign kapan saja kalau kau tak nyaman disini.
.
"Ne, Annyeonghaseyo. Nama saya Kim Suho. Sebelumnya saya menjadi editor novelis Lee Donghae di perusahaan penerbitan sebelumnya. Mohon bimbingannya." ucapku sambil membungkukkan badan.
.
Dia nampak tertawa kecil. Tatapan matanya yang sinis itu benar-benar kelewatan.
.
"Aku sudah tahu kau siapa. Semua itu sudah ada di CV-mu. Kau sudah tahu namaku bukan? Tadi Yuri-ssi sudah menyebutkan namaku beberapa kali." balasnya.
.
"Ne?" aku betul-betul merasa dibodohi. Orang ini betul-betul menjengkelkan.
.
Ia lalu mencengkram daguku. Ia menarik tubuhku sehingga kami berdekatan. Aku bisa merasakan nafasnya yang berat di telingaku.
.
"Aku tahu kau editor dari seorang novelis yang karyanya best seller. Jangan harap aku akan terkesan dengan itu. Disini kau sama saja dengan editor-editor lain. Jangan harap ada perlakuan istimewa hanya karena kau sebelumnya adalah editor novelis ternama. Arraseo?" bisiknya. Ia lalu melepaskan cengkramannya.
.
Orang ini benar-benar membuatku marah. Aku merasa wajahku sudah sangat merah karena amarah yang sudah berada di pucuk ubun-ubunku.
.
"Kalau kau mau perlakuan istimewa, buktikan padaku kalau benar-benar istimewa." ujarnya sambil bergerak menuju ruangan sebelah yang hanya disekat sebuah lemari.
.
"Kau mau diam saja disitu?" ujarnya sambil melihatku dengan tatapan yang membuatku ingin menjambak rambutnya.
.
Mau tak mau aku pun mengikutinya.
.
Kami berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Ada sekitar 10 buah meja yang disusun saling berhadapan. Di meja itu pula terlihat tumpukan kertas yang tak kalah tinggi dengan tinggi badanku.
.
Orang itu kemudian menepuk tangannya tiga kali. Aku jadi heran. Orang ini buat apa tepuk tangan coba?
.
Rasa heranku semakin menjadi ketika dia kembali menepuk tangannya tiga kali.
.
"Perhatian semua!" teriaknya.
.
Aku kemudian kaget dengan munculnya 4 orang secara mendadak dari balik tumpukan kertas di atas meja itu.
.
Penampilan mereka tak kalah mengejutkan dibandingkan dengan atasan mereka. Wajah brewokan, wajah berminyak, rambut kusam, kantung mata tebal, baju yang kusut.
.
"Ne?" balas mereka dengan tidak semangat.
.
Salah seorang dari mereka nampak akan ambruk. Dia nampak terhuyung-huyung mendekatiku. Aku bisa melihat lututnya sampai gemetar berjalan ke arahku. Aku jadi agak sedikit merinding dengan suasana seperti ini.
.
Ia kemudian memegang bahuku pelan. Aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang begitu panas dari tangannya yang gemetar.
.
"Inikah orang baru itu?" ucapnya pelan terbata-bata. Ia akhirnya benar-benar ambruk di depanku.
.
"EH?!" aku kaget. Aku belum pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini sebelumnya.
.
Orang menyebalkan itu kemudian memapah orang itu. Ia membiarkan orang yang ambruk itu berbaring di sofa yang sepertinya sudah sengaja disiapkan menghadapi situasi seperti ini di pojok ruangan.
.
"Ambruk juga akhirnya. Lay sudah tidak tidur 5 hari kan?" tanya orang menyebalkan itu.
.
"Ne." balas 3 orang lainnya dengan tidak semangat.
.
Aku menganga. Pekerjaan macam apa ini?
.
"Semuanya, ini editor baru kita, Suho-ssi. Yang ambruk barusan itu Lay-ssi, yang di sebelah sana Kyungsoo-ssi, di sebelahnya Sehun-ssi, di sebelahnya lagi Chanyeol-ssi." sambung orang menyebalkan itu.
.
"Annyeonghaseyo." ucap ketiga orang itu tak bersemangat.
.
Aku tergagap.
.
"Ah... Eh...Ne, Annyeonghaseyo." ucapku ragu-ragu.
.
Orang menyebalkan itu kemudian menunjuk sebuah meja.
.
"Gunakan meja itu sebagai meja kerjamu. Hari ini kau cukup menjadi proof-reading dari naskah yang siap cetak. Kalian lanjutkan deadline kalian saja. Biarkan orang baru ini yang mengambil naskah editan kalian." ujarnya.
.
"Ne." balas 3 orang itu sebelum akhirnya kembali menghilang di balik tumpukan kertas.
.
Aku terkesima. Ini pertama kalinya aku melihat pekerjaan seperti ini. Bahkan editor di tempatku bekerja dulu tak seperti ini.
.
"Kau masih berdiri disitu?" tanya orang itu lagi.
.
"Ne?" aku benar-benar merasa blank.
.
"Kau bisa lihat tumpukan kertas yang ada tanda spidol merah di meja kan? Yang bertanda 2 garis harus selesai hari ini. Yang bertanda 1 garis bisa kau selesaikan besok. Segera edit sesuai dengan judul dan file di komputer itu. Kalau sudah selesai langsung email ke emailku." balasnya.
.
Dia pun segera berlalu meninggalkan ruangan ini menuju ruangannya di balik lemari.
.
Aku termangu.
.
Apa-apaan ini?
.
Benarkah aku akan bekerja disini?
.
Aku kemudian meletakkan tasku di laci meja. Aku kemudian berkeliling mengambil tumpukan kertas yang ada tanda spidol merahnya dari semua meja.
.
Aku bisa melihat 3 orang yang akan menjadi rekan kerjaku ini bekerja begitu serius berkutat dengan tumpukan naskah. Mereka bahkan seolah tak menyadari kehadiranku yang mengambil tumpukan naskah hasil editan mereka. Padahal tumpukan naskah itu tepat berada di sebelah kanan mereka dan aku harus berdiri di samping kursi mereka untuk mengambilnya.
.
Sabarlah Suho. Kau pasti bisa melewati hari ini dengan baik.
.
Tanpa sadar mejaku pun telah penuh dengan tumpukan naskah. Aku kemudian memilah prioritas yang bertanda 2 garis merah seperti instruksi orang menyebalkan itu tadi.
.
Tunggu dulu. Dari tadi aku hanya melihat tanda 2 garis merah. Jangan bilang kalau ini semua harus ku edit hari ini.
.
Aku membolak-balik naskah-naskah itu dan benar saja. Semuanya memiliki tanda 2 garis merah.
.
Bagaimana ini? 50 buah naskah. Masing-masing sekitar 200-300 halaman.
.
Orang itu bercanda.
.
Aku hanya mampu terhenyak. Perlahan aku duduk di depan komputer dan membuka file yang harus ku edit. Aku menghela nafasku perlahan.
.
Oke. Baiklah. Aku bisa melakukan ini semua. Bertahanlah Suho-yah. Paling tidak bertahanlah 1 bulan agar kau tetap mendapatkan penghasilan bulanan. Kau bisa bekerja disini sambil melamar di perusahaan lain.
.
Aigooo. Hari ini benar-benar buruk. Sudah terlambat bangun saat pertama kali menempati apartemen baru, tidak mandi, nyaris terlambat kereta untuk berangkat ke kantor, bertemu atasan yang menyebalkan, bertemu rekan kerja yang lebih mirip zombie, mendapat pekerjaan setumpuk besar naskah siap cetak untuk diperiksa. Kurang sial apa aku hari ini.
.
.
.
.
CUT!
.
Akhirnya chapter 1 bisa terbit juga. ~~(-_-)~~
.
Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada pembaca yang sudah membaca, me-review, mengikuti dan yang menjadikan tulisan ini sebagai salah satu tulisan favorit pembaca.
.
Penulis benar-benar terkesima dengan respon yang bisa saya lihat di traffic graph.
.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, tulisan ini saya buat berdasarkan dua anime/manga favorit saya, Sekaiichi Hatsukoi dan Junjou Romantica. Ini perlu saya perjelas di awal agar pembaca tahu bahwa ini tidak betul-betul murni hasl pemikiran saya. Saya hanya menceritakan ulang menurut versi saya. Tentu saja dengan tambahan disana-sini dan Krisho beserta kawan-kawan menjadi cast utama.
.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan saya yang berikutnya!
.
\(^o^)/
