UPDATE FAST!

.

Melihat respon yang cukup baik, saya tak ragu untuk menerbitkan tulisan saya untuk chapter ini.

.

Check it out!

.


Kali ini aku mencuri pandang dari balik rak buku. Terlalu riskan rasanya untuk duduk berada dekat di sekitar tempatnya duduk. Apalagi setelah kejadian beberapa hari yang lalu.

.

Aku masih ingat betul. Kejadian itu terus berulang kali hadir dalam mimpiku. Apalagi mimpiku itu selalu ditambahi dengan kejadian yang aneh-aneh. Kita memang tidak bisa mengontrol isi mimpi kita. Itu membuatku semakin malu untuk menampakkan diriku di hadapannya.

.

Dia masih serius membaca buku yang diambilnya. Aku tidak bisa memperhatikan itu buku tentang apa. Aku agak sedikit terlambat tiba di perpustakaan.

.

Ah, kalau dipikir-pikir aneh juga aku bertingkah seperti ini. Baiklah, aku suka dia. Aku juga sudah mencari tahu tentang dia. Aku terkadang mengikutinya diam-diam ketika pulang sekolah. Aku tahu dia pergi kemana saja sebelum ia pulang ke rumahnya. Aku tahu itu semua. Tapi, aku sama sekali tak berani untuk mendekatinya. Aku bisa saja berpura-pura untuk minta diajari pelajaran tertentu mengingat dia cukup pintar. Aku bisa berpura-pura ikut di klub basket agar bisa selalu dekat dengannya. Tapi yang bisa ku lakukan hanya ini, mengamatinya diam-diam dari kejauhan.

.

Aku tersadar dari lamunanku dan mencoba mengintip ke arah meja tempat duduknya. Dia tidak ada disana. Tunggu dulu. Jam istirahat masih 30 menit lagi. Tidak biasanya dia menghilang dari mejanya.

.

Ah, bisa jadi dia mencari buku lagi.

.

Tunggu.

.

Kalau begitu aku dalam masalah!

.

Aku berada di balik rak buku. Dia pasti menuju ke arah sini!

.

Aku pun pelan-pelan mundur ke belakang.

.

Satu langkah. Dua langkah. Aman.

.

Aku pun segera membalikkan badanku dan bergegas menuju rak buku yang paling belakang.

.

Semuanya nyaris sempurna.

.

Aku nyaris berhasil menyelamatkan diriku agar tidak bertemu langsung dengan dia.

.

Sayangnya aku gagal.

.

Ketika aku membalikkan badanku, aku tak sengaja bertabrakan dengannya.

.

Aku ulangi lagi: Aku tak sengaja bertabrakan dengannya.

.

Pikiranku mendadak kosong. Aku tak bisa berpikir apa-apa. Yang aku sadari hanya satu hal: badanku terasa melayang. Aku nyaris terjatuh ke arah belakang.

.

Aku merasa de javu. Rasanya ini bukan pertama kalinya aku merasa seperti ini.

.

Aku merasa ada sepasang lengan yang kekar dan hangat melingkar di bahuku. Aku lagi-lagi bergidik ngilu ketika aku merasakan hembusan nafas orang lain di leherku.

.

"Kau tidak apa-apa?" suara itu tiba-tiba menyadarkanku.

.

Aku masih merasa linglung. Aku masih memegang buku yang aku pegang. Aku pun kaget melihat sepasang lengan yang melingkar di bahuku. Ini nyata. Ini bukan sekadar khayalanku saja.

.

"Hey, kau tidak apa-apa kan?" ucapnya lagi.

.

Aku pun segera tersadar. Ini suaranya. Lengan yang melingkar di bahuku ini adalah lengannya. Helaan nafas yang sedari tadi membelai leherku adalah nafasnya. Oh Tuhan. Kenapa ini harus terjadi lagi padaku?

.

"Ah... Eh... Itu... Aku..." aku tergagap. Lagi-lagi aku merasa gugup. Bisa kurasakan wajahku yang sudah memerah bak kepiting rebus.

.

"Kau nampaknya sering terjatuh. Ini kali kedua aku menolongmu." ucapnya sambil membantuku berdiri.

.

Aku bisa merasakan jemarinya yang hangat ketika dia menyentuh pundakku. Aku bisa merasakan betapa erat pelukannya ketika ia melingkarkan lengannya di bahuku. Aku bisa merasakan nafasnya yang diam-diam menggelitik leherku. Aku bergidik ngeri.

.

"Lain kali kau sebaiknya lebih berhati-hati. Aku mungkin tidak akan selalu berada di sampingmu ketika kau kehilangan keseimbanganmu lagi, Joonmyeon-ah." ujarnya sembari menepuk bahuku pelan.

.

Aku terpana. Aku tersadar. Ini sudah kedua kalinya aku melakukan kontak fisik dengannya. Dan dua kali itu pula aku selalu nyaris terjatuh dan dia yang menolongku dengan pelukannya yang erat agar aku tidak terjatuh.

.

"Ah, ne..." cicitku pelan.

.

Ia meletakkan telunjuknya dibibirku.

.

Lagi-lagi aku dibuainya. Aku pun terdiam tanpa bisa melanjutkan kalimat yang sudah berada di ujung bibirku.

.

"Atau apakah sebaiknya aku harus selalu berada di sampingmu Joonmyeonie?" gumamnya pelan nyaris tak terdengar.

.

Mataku terbelalak. Apa aku tak salah dengar?

.

"Ah, sudah ya. Aku ke rak belakang dulu. Ada buku yang mau ku ambil." lanjutnya sembari segera menuju ke rak belakang.

.

Aku hanya bisa melihatnya dari belakang bergerak menuju rak belakang.

.

Ini benar-benar di luar dugaanku. Tak pernah terbersit di pikiranku kalau hal ini akan terjadi lagi. Bahkan belum genap 1 minggu. Ini benar-benar gawat. Aku semakin malu untuk menampakkan batang hidungku di depannya.

.

KRING! KRING! KRING!

.

Eh, tunggu dulu. Suara apa ini? Aku mendadak terkejut karena tiba-tiba menyadari aku sedang terbaring di tempat tidur. Masih memeluk guling, masih memakai piyama, masih berada di kamarku.

.

Untungnya aku sudah memajukan alarmku satu jam sebelumnya jadi aku tak perlu terburu-buru seperti kemarin.

.

Aku kemudian mengumpulkan tenagaku untuk bangun dari kasur.

.

Aku mengingat-ingat bagaimana hari pertamaku kerja kemarin. Ah, rasanya aku tak jadi ingin memikirkannya.

.

Menyunting 50 naskah yang masing-masing setebal 200-300 halaman benar-benar pertama kalinya aku lakukan dalam hidupku. Bos sialan itu benar-benar niat mengerjaiku. Aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan itu jam 7 malam. Tenagaku benar-benar terkuras.

.

Tapi kalau dipikir-pikir aku termasuk paling cepat pulang dibanding teman satu ruanganku. Mereka masih di depan komputer masing-masing ketika aku berkemas akan pulang.

.

Hari ini aku lagi-lagi mendapat firasat tidak enak. Dua hari berturut-turut mendapat mimpi tentang masa lalu yang sangat ingin ku lupakan benar-benar membuatku merasa tidak enak.

.

Ah, sudahlah. Setidaknya aku sudah melewati hari pertama. Masih terlalu awal untuk resign. Paling tidak aku bisa menambah sedikit pengalaman di perusahaan penerbitan itu.

.

.

.


.

.

Aku melangkahkan kaki ku menuju meja kerjaku dengan gontai. Rasanya aku masih terlalu lelah. Mataku pun rasanya masih tak mau terbuka sempurna.

.

Tapi aku mendadak terbangun saat aku berada di depan ruanganku.

.

Apa-apaan ini?

.

Suasananya jauh lebih cerah dibandingkan kemarin. Tidak. Suasananya berubah total.

.

Aku melihat 4 orang laki-laki tampan yang ceria. Tidak ada tumpukan kertas dimana pun. Ruangan ini luar biasa bersih dan cerah. Apalagi di atas meja depan terdapat vas besar dengan aneka bunga segar yang wanginya bisa ku cium dari jarak 100 meter.

.

"Ah, Suho-ssi! Annyeong!" tegur salah satu laki-laki tampan itu.

.

Aku pun sedikit tersadar dari rasa heranku.

.

"Ha?"

.

Aku mencoba mengingat-ingat siapa laki-laki yang menyapaku.

.

"Oh, Suho-ssi sudah datang rupanya. Annyeong!" sapa salah satu laki-laki yang lain tak kalah semangat.

.

Dua laki-laki lainnya pun tak ketinggalan menyapaku dengan senyum yang bisa membuat es kutub utara meleleh seketika.

.

Aku pun makin tidak percaya aku berada satu ruangan dengan mereka kemarin. Rasanya aku salah masuk ruangan.

.

"Ah, maaf rasanya saya salah ruangan. Saya baru saja mulai bekerja kemarin. Permisi saya mau cari ruangan kerja saya dulu." Aku baru saja melangkah mundur satu langkah ketika aku menyadari aku menabrak seseorang. Lagi-lagi aku merasa deja vu.

.

Aku membalikkan badanku dan melihat siapa yang aku tabrak.

.

Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap, dan berwajah tak kalah tampan dengan ke-empat orang yang aku temui di ruangan itu. Aku hanya bisa bengong.

.

"Kau ini semakin mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu ku. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya laki-laki itu.

.

"Eh?" aku semakin bertambah bingung. Aku baru menyadari laki-laki itu ternyata mirip dengan atasanku yang menyebalkan.

.

"Kris-ssi?" tanyaku hati-hati.

.

"Apa? Jangan bilang kau sudah lupa dengan wajahku dan wajah 4 orang yang kemarin satu ruangan denganmu seharian. Ckckck. Duduklah di mejamu. Aku lihat dulu apa yang kira-kira bisa kau kerjakan hari ini." jawabnya sambil berlalu menuju meja kerjanya.

.

Aku hanya bisa bengong. Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang ku lihat dan ku dengar.

.

"Aigooo. Suho-ssi jangan melamun seperti itu. Ayo duduk." laki-laki yang sepertinya bernama Kyungsoo menarikku menuju meja kerjaku. Aku hanya bisa diam dan mengikutinya.

.

"Kita belum berkenalan secara resmi kemarin. Namaku Do Kyungsoo, aku lebih muda dua tahun dibandingkan dengan Suho-ssi." ujarnya sambil memegang kedua tanganku erat.

.

Tiga orang lainnya pun berkumpul di meja kerjaku dan saling bergantian memperkenalkan diri.

.

"Saya Park Chanyeol, saya setahun lebih muda dibanding dengan Suho-ssi." ujar laki-laki yang tak kalah tinggi dibandingkan dengan atasanku.

.

"Saya Zang Yixing tapi lebih dikenal dengan panggilan Lay, saya seumuran dengan Suho-ssi." ujar laki-laki yang punya lesung pipi yang sangat manis.

.

"Saya Oh Sehun, saya lebih muda 3 tahun dibanding dengan Suho-ssi." ujar laki-laki yang punya wajah baby face yang menggemaskan.

.

"Ah, ne. Salam kenal." aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

.

"Selamat bergabung dalam tim editor Blue Diamond! Jangan sungkan-sungkan dengan kami ya. Maaf kemarin situasinya kurang menyenangkan. Lay Hyung bahkan sampai ambruk begitu Suho-ssi datang." ujar Kyungsoo.

.

"Ah, tidak usah terlalu formal begitu." jawabku mencoba mengakrabkan diri.

.

"Baiklah! Mulai sekarang kami akan memanggilmu dengan sebutan Suho-yah! Kau pun boleh memanggil kami dengan sebutan Lay-yah, Chanyeol-ah, Kyungsoo-yah, dan Sehunie-aegi. Aku rasa Kris-Ge juga tak keberatan kau panggil begitu." sahut Lay.

.

"Ya! Kenapa aku harus dipanggil begitu?" protes Sehun.

.

"Aigooo, sudahlah jangan jaim dengan rekan kerja sendiri. Toh kau tetap saja maknae kami." kata Chanyeol sambil mengacak-acak rambut Sehun.

.

"Chanyeolie Hyuuung!" protes Sehun manja.

.

Lay dan Kyungsoo hanya bisa tertawa melihat kelakuan Sehun dan Chanyeol. Aku pun lega. Rasanya kantor ini tidak buruk-buruk amat.

.

Tak lama setelah itu atasanku yang menyebalkan itu masuk ke ruangan kami.

.

"Chanyeol-ah, kau sebaiknya kembali mengecek ke penulis Byun Baekhyun. Tak lama lagi masa deadline karyanya masuk. Kalau perlu kau bisa pergi bertemu dengannya langsung sekarang. Lay, Kyungsoo-yah kalian berdua lanjutkan saja pekerjaan kalian. Sehunie-aegi, kau sudah menghubungi penulis Luhan? Aku belum melihat laporanmu tentang deal kita." cerocosnya.

.

Chanyeol, Lay dan Kyungsoo langsung bergerak sesuai dengan instruksinya.

.

"Hyuuung~ Jangan panggil aku begitu!" protes Sehun manja. "Aku sudah menghubungi penulis itu. Laporannya akan ku email 30 menit lagi." sambungnya sambil mengerucutkan bibirnya.

.

"Baiklah." jawabnya sembari kembali mengacak-acak rambut Sehun yang sudah berantakan karena perbuatan Chanyeol tadi.

.

"Kau ikutlah denganku. Kita meeting dengan pihak desain grafis untuk membahas proyek baru kita." ujarnya sambil segera berlalu.

.

Aku pun mengikutinya terburu-buru. Aku hanya bisa membawa sebuah notes dan alat tulis.

.

.

.


.

.

Meeting dengan pihak desain berlangsung agak santai. Terus terang ini kali pertamanya aku mendapat pekerjaan seperti ini. Di tempatku sebelumnya, pekerjaanku hanya terbatas pada masalah penyuntingan saja.

.

"Ini kurang bagus. Bisakah kau buat gambarnya menjadi sedikit dramatis? Aku tidak merasakan feel yang bagus ketika melihat gambar seperti ini." kata Kris.

.

"Aku sudah mengganti gambarnya 10 kali dan kau belum juga puas? Coba jelaskan yang mana yang kurang?" tanya orang dari pihak desain.

.

"Kau harus mengambil gambarnya dari sudut tertentu. Kau sudah pernah ciuman kan? Feelnya harus sesuai dengan judul novel Ciuman Pertama si Lelaki Polos." jelas Kris.

.

Orang dari pihak desain itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

"Kalau ciuman sendiri kan mana tahu sudut yang dramatis dan sebagainya. Aku mana bisa memperhatikan diriku sendiri sewaktu aku berciuman." balasnya enteng.

.

Kris terdiam sesaat.

.

"Baiklah. Kau perhatikan baik-baik dari sudut ini."

.

Ia lalu menarik tubuhku mendekat. Ia melingkarkan lengan kirinya di pinggangku sementara tangan kanannya memegang daguku. Ia lalu memejamkan matanya lalu bibir kami pun bertemu.

.

Aku bisa merasakan lumatan halus yang dilakukannya di bibirku.

.

Tunggu dulu!

.

Kris menciumku?

.

DIA MENCIUMKU?!

.

EH?!

.

Aku segera mendorong badannya yang besar menjauh.

.

"KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN?" aku kemudian menggosok-gosok bibirku.

.

Kris hanya terlihat santai.

.

"Nah, aku ingin kau menggambarnya seperti yang barusan. Kau mengerti?" ujarnya.

.

Orang dari pihak desain itu hanya menganggukkan kepalanya. "Baiklah."

.

Aku tak percaya. Aku hanya bisa diam membatu di tempat dudukku.

.

Kris melihatku sejenak lalu menowel pipiku pelan

.

"Kau ini santai saja, Suho-yah. Ini hanya masalah pekerjaan. Kau mengerti?" jelasnya.

.

Aku belum mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya ketika orang dari pihak desain itu menyela.

.

"Kris-ssi, bisa kau ulangi lagi adegan yang tadi. Aku belum terlalu mendapatkan detailnya."

.

Apa?

.

TUNGGU DULU!

.

Terlambat.

.

Kris sudah melumatku terlebih dahulu.

.

.

.


.

.

Meeting aneh itu akhirnya selesai.

.

Aku terduduk lemas di kursi yang berada di luar ruangan meeting.

.

Meeting macam apa itu?

.

Mereka membicarakan paling tidak 30 jenis cover novel. Setiap cover novel yang mereka diskusikan pasti ujung-ujungnya atasan sialan itu menarikku dan memperagakan berbagai macam pose yang dia anggap paling sesuai dengan visinya terhadap judul novel itu.

.

Aku merinding ngeri. Tidak hanya ciuman bibir, kami berpelukan, dia tak ketinggalan mencium leherku hingga meninggalkan bekas. Semuanya itu karena alasan agar cover novel itu sesuai dengan jalan cerita. Parahnya lagi kami tak hanya melakukan satu peragaan setiap satu cover. Setiap cover paling tidak perlu tiga hingga empat kali peragaan. Aku sampai lemas sendiri.

.

Walaupun ini bukan pertama kalinya aku melakukan skinship yang sangat intim seperti ini, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak akan melakukannya lagi. Apalagi dengan laki-laki. Bahkan lebih tepatnya aku tidak mau jatuh cinta lagi.

.

Ini semua karena cinta pertamaku dulu sewaktu SMA. Ini semua karena orang itu. Orang yang kembali muncul di mimpiku dua hari belakangan ini.

.

Aku pun tersadar ada beberapa bagian tubuhku yang harus aku bersihkan agar tidak terlalu mencolok. Aku harus segera menyamarkan bekas kemerahan yang ada di leherku. Aku pun segera ke toilet.

.

Aku memperhatikan baik-baik wajahku di cermin westafel. Sial. Banyak sekali bekas kemerahan di leherku. Aku segera membasuh wajah dan leherku. Aku menggosoknya kuat-kuat agar bekas kemerahan itu sedikit tersamar.

.

Hampir setengah jam aku menggosok leherku kuat-kuat. Tapi bekas kemerahan itu tak juga tersamar. Ini gawat. Bagaimana kalau orang lain melihatnya?

.

"Rupanya kau ada disini."

.

Aku menoleh dan melihat atasan sialan itu masuk ke toilet.

.

"Kau..." aku kehabisan kata-kata.

.

Dia menarikku agak sedikit kasar. Dia memegang dagu pelan. "Kau bisa masuk angin kalau kau terus membasuh wajahmu begitu. Lehermu bisa putus kalau kau menggosoknya terlalu kuat."

.

Ia lalu meraih tisu yang tergantung di samping westafel dan mengelap wajahku yang masih setengah basah karena dari tadi aku membasuh wajahku dan menggosok leherku.

.

Aku hanya bisa diam.

.

Aku bisa merasakan tangan hangatnya mengelap wajahku setiap senti dengan sangat hati-hati. Aku bisa merasakan helaan nafasnya yang diam-diam berhembus. Aku pun bisa merasakan detak jatungku yang semakin tidak karuan.

.

"Kau semakin mengingatkanku pada seseorang yang aku kenal di masa lalu." ujarnya.

.

Ia lalu mengeluarkan syal yang cukup panjang dari balik kantung celananya. Ia kemudian mengalungkannya di leherku sehingga bekas kemerahan itu tidak kelihatan.

.

"Ayo, kita kembali ke ruangan." ujarnya sambil menggandeng tanganku.

.

Aku hanya bisa mengikutinya. Aku bahkan tidak mencoba melepaskan genggamannya yang erat dari tanganku. Lagi-lagi aku merasakan deja vu. Ini mengingatkanku pada genggaman tangan orang yang ingin aku lupakan.

.

.

.


.

.

Aku kembali berkutat dengan tumpukan naskah. Dia bilang aku lebih baik melihat dan mempelajari hasil suntingan terbaik dan menjadi best-seller selama lima tahun belakangan ini.

.

Tak kurang ada sekitar 200 buah naskah yang bertumpuk di mejaku. Aku hanya bisa menurut dan mempelajari naskah itu sebaik mungkin.

.

"Eh, Suho-yah, kenapa kau memakai syal?" tanya Lay tiba-tiba.

.

Aku mendadak salah tingkah. Bagaimana ini?

.

"Ah... Itu... Itu... Ah, aku merasa sedikit tidak enak badan." aku terpaksa berbohong.

.

"Ah, geurae. Cuaca akhir-akhir ini memang sedikit tidak enak. Kalau tidak hati-hati bisa sakit." sahut Kyungsoo.

.

Sehun tiba-tiba datang dan menempelkan dahinya di dahiku. Ia lalu memejamkan matanya.

.

"Syukurlah suhu tubuh Hyung tidak terlalu panas." sahutnya ketika selesai mengecek suhu tubuhku.

.

Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku salah tingkah.

.

"Ah, ne." balasku.

.

Tepat setelah itu sesosok laki-laki jangkung memasuki ruangan kami.

.

"Permisi, apa Suho-ssi ada di ruangan?" tanya laki-laki itu.

.

Kami pun menoleh.

.

"Ah, Kyuhyun sajangnim! Ne, Suho-ssi ada disini." balas Kyungsoo sambil menunjuk ke arahku.

.

Saat itu mata kami bertemu. Aku merasa familiar dengan wajah laki-laki itu.

.

"Joonmyeonie? Kau Kim Joonmyeon kan?" tanya laki-laki itu ragu-ragu.

.

Bagaimana dia tahu nama asli ku? Tunggu. Aku pun semakin familiar dengan wajah laki-laki itu.

.

"Gamegyu Hyung?" tanyaku ragu-ragu.

.

Laki-laki itu pun terlihat sumringah.

.

"YA! NEO! Kau benar-benar Joonmyeonie kan?" balasnya memastikan.

.

Aku pun menganggukkan kepalaku.

.

Kami pun saling berpelukan. Tentu saja itu membuat rekan-rekan kerjaku terheran-heran.

.

"Ah, aku dan dia dulu sempat satu kamar asrama sewaktu SMA di Kanada. Tapi dia cuma 1 tahun disana. Waktu kenaikan kelas 2 dia kembali ke Korea." jelas laki-laki itu.

.

Rekan kerjaku hanya bisa maklum.

.

"Aigooo. Jinjja. Aku nyaris tak mengenalimu. Ini pertama kalinya kita bertemu sejak 12 tahun berlalu." sambungnya.

.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

.

"Kenapa kau mengganti namamu? Aku sebetulnya sudah ada feeling sewaktu aku me-review lamaran yang masuk, tapi aku tidak yakin karena namamu berubah. Ah, aku sampai lupa. Aku sebetulnya kesini ingin memperkenalkan diri sebagai manager HR. Omo, kau nampaknya tak bertambah tinggi. Rasanya tinggimu masih sama dibanding dulu." cerocosnya.

.

Aku hanya bisa tertawa pelan. Aku tak tahu harus berkata apa karena ini benar-benar kebetulan yang tidak ku sangka-sangka.

.

"Ah, sial. Aku tak bisa lama-lama. Masih banyak yang harus ku selesaikan karena aku habis cuti untuk menghadiri pernikahan salah satu dewan direksi. Aku masih ingin ngobrol denganmu." sambungnya.

.

"Bagaimana kalau sepulang kerja kita bertemu di restoran di samping kantor? Hyung tak keberatan?" tanyaku.

.

"That's it! Geurae! Aku tak sabar ingin segera mengobrol denganmu." balasnya.

.

"Ada apa ini? Kenapa kau ada disini Kyuhyunie?" atasanku itu tiba-tiba masuk dan memotong pembicaraan kami.

.

"Ya! Wu Yifan! Kenapa kau tak segera bilang kepada ku kalau Joonmyeonie adalah staf barumu? Ah, Joonmyeon-ah, kau masih ingat laki-laki tengik ini? Dia teman sekelasku waktu SMA di Kanada. Kalau tak salah, kalian kan sempat dekat sebelum kau pindah ke Korea." urai Kyuhyun.

.

Aku dan laki-laki itu sama-sama membeku seketika.

.

Aku sudah tercengang ketika Kyuhyun Hyung menyebut nama Wu Yifan. Laki-laki itu Wu Yifan? Jadi Kris Wu itu tidak lain adalah Wu Yifan?

.

"Ah, aku tidak langsung mengenalinya karena yang aku tahu namanya Kim Suho." balas laki-laki itu sambil menatapku tajam.

.

Aku tiba-tiba ingat tatapan mata itu.

.

"Ah! Jam berapa kau selesai kerja? Aku dan Joonmyeonie berencana makan malam bersama sepulang kerja nanti." ujar Kyuhyun lagi.

.

"Sayang sekali aku harus lembur." balas Kris tanpa melepaskan tatapan matanya ke arahku.

.

"Ya! Lembur apanya? Kau cuma cuti saat hari Siwon Hyung menikah, aku yang cuti sampai seminggu saja tidak begitu." kata Kyuhyun.

.

Aku masih terdiam. Aku tak bisa berkutik.

.

Tatapan mata Kris masih seperti dulu. Tatapan matanya membuatku membatu.

.

"Ah, sudahlah, yang jelas kapan-kapan kita bertiga harus makan malam bersama. Sudah ya, aku harus kembali ke ruanganku." ujar Kyuhyun sambil menepuk bahuku pelan.

.

"Jangan lupa nanti sehabis jam kerja selesai kita langsung bertemu di restoran sebelah kantor ya Joonmyeon-ah!" sambungnya sambil berlalu.

.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.

.

Aku bisa merasakan Kris masih menatapku lekat-lekat.

.

"Aku ke toilet dulu." potong Lay.

.

"Aku ikut Hyuuung!" balas Sehun sambil merangkul lengan Lay.

.

"Aku mau beli kopi dulu." sambung Kyungsoo.

.

Ruangan ini pun kosong. Chanyeol sepertinya belum kembali dari tugas luarnya.

.

Sekarang hanya ada aku dan Kris.

.

Kami sama-sama tak mengeluarkan suara. Sepertinya kami saling menunggu satu sama lain.

.

5 menit berlalu hingga akhirnya Kris mengunci pintu dan menutup tirai jendela hingga tidak ada yang bisa melihat kami dari luar.

.

Ia lalu mendekatiku. Semakin dekat hingga aku bisa merasakan nafasnya tepat di depan wajahku.

.

"Ternyata aku benar. Kita memang saling mengenal. Apa kau sudah melupakanku sampai kau tidak mengenaliku lagi?" tanyanya dengan nada rendah.

.

Aku hanya bisa diam dan menundukkan kepalaku.

.

Ia lalu mencengkram daguku dan membuatku mendongakkan kepalaku. Mata kami kembali bertemu.

.

"Aku sudah mencarimu kemana-mana selama 12 tahun terakhir. Kau yang sudah mempermainkan hatiku selama hampir setahun, 12 tahun lalu. Kau masih berani menampakkan wajahmu kembali kepadaku?" tanya Kris.

.

Apa?

.

Aku melepaskan cengkraman tangannya.

.

"Apa kau bilang? Aku mempermainkanmu? Yang benar saja? Justru kau yang sudah mempermainkanku sampai aku harus kembali ke Korea karena malu." jawabku lantang.

.

"Ha?" dia terlihat heran. "Kau yang menghilang tiba-tiba sesaat setelah aku ujian akhir. Kau bilang aku yang mempermainkanmu?"

.

"Aku kembali ke Korea karena aku malu. Kau sudah mempermainkan perasaanku!" balasku sengit.

.

Dia tertawa pelan.

.

"Kau ini bercanda. Sudah jelas kau yang tiba-tiba menghilang dari Kanada hari itu. Aku mencarimu kemana-mana tapi aku tak menemukanmu. Memangnya kau pikir aku ini apa?" balasnya.

.

"Aku pergi karena kau sudah mempermainkanku! Waktu itu aku bertanya bagaimana perasaanmu kepadaku, tapi kau malah menertawaiku dengan sinis!" balasku.

.

"Ha? Memangnya aku pernah begitu?" balasnya lagi.

.

"Lagipula Itu tidak berarti apa-apa. Waktu itu aku sedang nakal-nakalnya anak remaja pada umumnya. Kalaupun aku tertawa, itu mungkin untuk menyembunyikan rasa maluku." ujarnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

.

"Jadi selama ini kau pikir aku mempermainkanmu dan akhirnya kau meninggalkanku begitu saja? Lagipula, kalau kau sampai mengingat sampai pada hal kecil seperti itu, apa kau sebegitu dendamnya padaku selama 12 tahun ini?" sambungnya.

.

Aku kehilangan kata-kata. Yang dia bilang 100% benar.

.

"Kau ini bodoh atau apa?" sambungnya lagi.

.

Apa?

.

"Yang bodoh itu kau!" balasku.

.

"Jadi misteri selama 12 tahun ini akhirnya terpecahkan. Itu artinya aku bisa mendekatimu lagi kan?" potongnya.

.

Aku terhenyak. Aku berusaha mencerna kata-katanya dengan baik. Dia mau mendekatiku lagi?

.

Dia membalikkan badannya.

.

"Aku tak bisa melupakanmu sedikitpun. Semakin keras aku berusaha, semakin aku tak bisa untuk melupakanmu." ucapnya pelan.

.

Jantungku berdegup kencang.

.

Ia menuju pintu depan dan membukanya. Ia lalu menoleh padaku.

.

"Aku bersumpah akan membuatmu mengatakan kalau kau mencintaiku lagi." ujarnya sambil berlalu menuju ruangannya.

.

Aku kemudian tersadar.

.

"TIDAK AKAN!" teriakku sambil berusaha mengejarnya.

.

Saat itu dikagetkan dengan 3 rekan kerjaku yang tiba-tiba muncul dari balik lorong.

.

"Ada apa Suho-yah?" tanya Lay.

.

Sial. Aku jadi tak bisa mengejar orang itu.

.

"Ah, tidak apa-apa." balasku.

.

"Eh, kenapa tirai jendela tertutup?" tanya Sehun.

.

Mati aku. Aku tak berkutik. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kalau aku jawab jujur, pasti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain.

.

"Ah, sudahlah. Toh, jam kerja kurang 1 jam lagi. Ayo lanjutkan pekerjaan kita." jawab Kyungsoo.

.

Syukurlah mereka semua kembali ke meja kerja masing-masing tanpa bertanya-tanya lagi.

.

Aku kemudian menatap ruangan orang itu. Ruangan itu nampak terkunci rapat.

.

Aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana kalau semua yang dia katakan benar? Bagaimana kalau dia memang benar-benar mencintaiku? Dia bilang dia tidak bisa melupakanku selama 12 tahun belakangan ini. Bagaimana kalau semua kesalahpahaman ini terjadi karena kepolosanku?

.

Kepalaku dipenuhi berbagai pertanyaan. Aku merasa sedikit mual. Aku lalu memegang perutku dan menundukkan kepalaku.

.

Tunggu. Kalau benar demikian, bukankah masalah diantara kami sudah selesai? Kalau benar dia memang mencintaiku, bukankah kami bisa memulainya lagi dari awal?

.

Tidak!

.

Itu tidak benar.

.

Ya, dialah yang salah. Dia sendiri yang membuatku berpikir seperti ini. Kesalahpahaman ini semua salahnya.

.

Aku pastikan aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Apalagi dengan orang yang sama. Dialah yang sudah membuatku takut jatuh cinta dan mencintai.

.

Ya. Seharusnya begitu. Aku bersumpah tidak akan jatuh pada perangkapnya. TIDAK AKAN PERNAH!

.

.

.


.

.

Bisa dibilang tulisan ini merupakan tulisan terpanjang saya untuk satu chapter. Membuat tulisan sebanyak ini benar-benar tantangan baru buat saya sebagai penulis pemula.

.

Selanjutnya saya akan merangkum review yang masuk.

.

1. Kris dan Suho tidak mengenal satu sama lain! Saya rasa chapter ini cukup bisa menjelaskan kenapa dua orang ini tidak langsung saling mengenal. Selain itu, coba deh kalian bayangkan, katakanlah kalian sudah lama tidak ketemu seseorang terus pas ketemu pangling. Kurang lebih penjelasannya seperti itu. Lagipula di tulisan saya ini mereka tidak ketemu dua belas tahun loh!

.

2. Untuk spin off, saya belum memulai menulis karena masih fokus sama ini dan ATT dulu. Mengenai couple-nya saya masih belum fix. Silahkan ditunggu saja sampai saya mendapatkan wangsit. Hehe.

.

3. FF mirip. Saya sendiri di awal sudah bilang kalau cerita ini saya buat terinspirasi dari dua anime/manga Sekaiichi Hatsukoi dan Junjou Romantica, walau tidak plek saya kopi. Kalau ada FF yang mirip, saya pribadi tidak tahu-menahu karena saya tidak membaca semua FF satu per satu.

.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca, para pemberi review, pembaca yang sudah membuat tulisan ini menjadi salah satu tulisan favorit mereka, dan yag sudah mengikuti tulisan saya ini.

.

Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan-tulisan saya yang berikutnya!

.

\(^o^)/