.

.

.

Aku masuk ke dalam apartemenku dengan lesu. Rasanya lelah sekali. Setiap jam 7 pagi sudah harus pergi mengejar kereta menuju kantor. Setelah berdesak-desakan di dalam kereta, di kantor sudah banyak naskah yang harus ku review dan ku pelajari. Aku baru bisa sampai di rumah setidaknya jam 10 malam. Itu pun aku langsung tidur saking lelahnya.

.

Barang-barangku masih belum bisa ku pindahkan semua dari dalam dus. Aku masih belum menemukan dimana aku menyimpan remote TV. Aku juga belum menemukan dimana aku meletakkan peralatan masakku.

.

Apartemen ini pun masih terlihat kosong karena aku belum memindahkan barang-barangku dari dalam dus-dus yang aku gunakan untuk mengepak barangku. Aku sudah terlalu lelah. Aku pun langsung membaringkan tubuhku ke atas kasur tanpa mengganti pakaianku. Aku pun jatuh tertidur.

.

Aku terbangun keesokan harinya saat alarmku berbunyi tepat jam setengah 7. Aku sempat terburu-buru sebelum akhirnya menyadari ini hari minggu.

.

Akhirnya aku bisa melanjutkan tidurku.

.

Inginnya sih begitu. Tapi mataku sudah tak bisa terpejam lagi akibat ritme kerja seminggu belakangan yang membuatku kekurangan waktu istirahat. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun daripada hanya bisa berguling-guling tidak jelas di tempat tidur.

.

Setelah merasa segar sehabis mandi, aku kemudian memutuskan untuk pergi berbelanja di supermarket yang berada tak jauh dari sini. Sekalian mengisi kulkas yang hampir kosong dan membeli cutter untuk membuka semua dus hasil pindahanku. Cepat atau lambat aku harus membereskan dus-dus yang bertumpuk di ruang tamu.

.

Aku benar-benar menikmati waktuku selama berbelaja di supermarket. Mataku rasanya disegarkan oleh hijaunya jejeran sawi dan daun selada yang terletak langsung di tengah supermarket. Aku pun digoda oleh merahnya deretan paprika merah dan tomat yang ranum yang berada tak jauh dari situ. Lagi-lagi aku disilaukan dengan gemerlapnya jejeran apel merah dan strawberry yang bersinar-sinar. Rasanya aku bisa mendengar mereka merengek memintaku untuk membawa mereka pulang untuk mengisi kulkasku.

.

Aku kemudian lanjut berkeliling. Aku sesaat berhenti di dekat rak yang menjual energy drink. Aku kemudian mengambil beberapa sebagai stok. Terbukti satu minggu kemarin aku hanya bisa sarapan energy drink.

.

Setelah itu mataku tertuju pada deretan rak mie instan. Aku kemudian mengambil beberapa buah cup mie instan untuk berjaga-jaga. Walaupun jarang makan mie instan, tapi menyimpan persediaan makanan instan seperti inipun kadang-kadang berguna. Pengalaman sewaktu kuliah pun sudah jadi bukti yang tak terbatahkan.

.

Aku kemudian mengecek barang belajaanku. Cutter sudah, energy drink sudah, mie instan sudah, apalagi yang kurang ya? Aku kemudian mengingat-ingat barang persediaanku di apartemen. Sabun? Pasta gigi? Shampoo? Rasanya aku masih punya persediaan yang cukup.

.

Aku kemudian memutuskan untuk membeli beberapa buah apel. Rasanya aku kurang serat karena beberapa hari ini aku sembelit. Aku kemudian memutar badanku menuju ke arah rak yang menjual apel.

.

Tepat saat itu ada seorang anak kecil yang tak sengaja mendorong kakiku. Aku limbung. Aku sudah tak merasakan sensasi seperti ini selama lebih dari sepuluh tahun. Badanku melayang. Kalian pasti sudah bisa menebak. Ya, aku nyaris terjatuh.

.

Sebelum aku berhasil menyentuh lantai, ada tangan yang menarikku. Lagi-lagi aku merasakan sensasi yang sudah lama tak kurasakan. Badanku didekap oleh sepasang lengan yang kekar.

.

Jantungku pun langsung berdetak kencang. De javu sekali rasanya.

.

"Kau tidak apa-apa?" suara itu kemudian menyadarkanku. Aku mendongakkan kepalaku.

.

Wajah itu. Ya, kalian pasti sudah bisa menebaknya lebih dahulu.

.

Kris Wu.

.

Aku kemudian menyadari bahwa dia masih memelukku dengan erat. Aku memberontak.

.

"Lepaskan aku!"

.

Ia kemudian melonggarkan pelukannya. Aku pun meloloskan diri.

.

"Kenapa kau ada disini?" tanyaku.

.

Dia memasang wajah datarnya.

.

"Kau ini tidak pernah berubah. Tak bisa kah kau mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah menolongmu?" ujarnya.

.

Sial. Entah kenapa aku bisa menjadi sesensitif ini kalau berada dekat-dekat dengan dia.

.

"Kam. Sa. Ham. Ni. Da." ujarku terpaksa.

.

Cengiran yang ada di wajahnya itu benar-benar terlihat menyebalkan.

.

"Begitu baru namanya anak baik." ucapnya sambil mengelus rambutku.

.

Satu kali.

.

Dua kali.

.

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku saat ia melakukannya. Sudah lama rasanya rambutku tak dielus seperti ini.

.

Omo!

.

Sadarlah Suho!

.

SADAR!

.

Ini supermarket! Banyak orang yang melihat!

.

Aku kemudian menepis tangannya dari rambutku.

.

"Permisi, aku masih mau belanja dulu. Sekali lagi terima kasih." ucapku lalu segera pergi menyambar 3 buah apel.

.

.


.

.

.

Ini hanya perasaanku saja atau memang dari tadi aku diikuti olehnya? Aku kemudian menoleh ke belakang. Ia berjalan pelan-pelan kurang lebih sekitar 10 meter di belakangku sambil membawa belanjaannya.

.

Tadi aku melihatnya di kasir sebelah sewaktu aku membayar belanjaanku. Ia pun nampak membayar belanjaannya.

.

Saat sarapan di food court yang ada di depan supermarket itupun ia berada di seberang mejaku. Dia mengikutiku?

.

Aku kemudian bergegas menuju apartemenku. Aku tak mau berurusan dengan dia. Cukup di kantor saja aku melihat wajah orang itu.

.

Secepat apapun melangkah, rasanya itu tak membawa perubahan yang berarti. Satu langkah kakinya yang panjang bisa mencapai dua langkah kakiku. Akupun semakin merasa jengkel saat ia berhasil menyusulku.

.

"Kau mengikutiku?" tanyaku to the point.

.

Tatapan mata sinisnya itu pun rasanya ingin membiusku.

.

"Aku tinggal disini. Kau sendiri buat apa disini?" balasnya.

.

Tidak mungkin.

.

Dia tinggal disini juga?

.

DISINI?

.

Untunglah pintu lift kemudian terbuka. Aku segera masuk ke dalamnya. Ia pun masuk ke dalam lift sambil menekan angka 9 yang berarti bahwa ia tinggal di lantai 9.

.

Tunggu dulu.

.

Lantai 9?

.

Bukankah itu lantai tempat apartemenku berada?

.

Ia kemudian mendekatiku yang berada di sebelah dalam. Tapi aku menyingkir ke arah depan. Berada satu lift dengannya agak sedikit membuatku tidak nyaman. Apalagi setelah tahu dia tinggal disini dan parahnya lagi ada kemungkinan besar ia tinggal satu lantai denganku.

.

Kami pun tiba di lantai 9. Aku kemudian bergegas menuju pintu apartemenku yang terletak di ujung lorong.

.

"Kau tinggal disitu?" ujarnya mengagetkanku.

.

Aku menoleh. Aku semakin kaget ketika ia membuka pintu apartemen yang berada tepat di samping apartemenku.

.

Mustahil.

.

Ini benar-benar MUSTAHIL.

.

JADI DIA ITU TETANGGAKU?

.

"Sebegitu cintanya kah kau padaku sampai kau menempati apartemen di sebelahku? Mengaku saja." ujarnya.

.

Enak saja.

.

"Kau jangan berkata yang tidak-tidak. Aku baru menempati apartemen ini satu minggu. Mana ku tahu kau tinggal di sebelahku." balasku meledak-ledak.

.

"Aku permisi." Aku lalu membanting pintuku dan menguncinya.

.

Lututku rasanya lemas sekali. Aku meletakkan belanjaanku di lantai.

.

Aku kemudian merasa sakit perut. Ya, ini memang reaksiku kalau sedang terlalu tegang atau lagi banyak pikiran.

.

Aku kemudian terduduk di balik pintu.

.

Aku memang belum sempat mengunjungi tetanggaku di lantai ini untuk memperkenalkan diri. Bagaimana bisa kalau jadwalku sepadat itu. Barang pindahanku saja belum sempat ku bereskan.

.

Ini akan menjadi salah satu mimpi terburuk yang pernah aku alami.

.

.


.

.

.

Esoknya pun tidak lebih baik daripada kemarin.

.

Kami berdua berangkat bersama menuju kantor, berdesak-desakan di satu kompartemen kereta, dan tiba di kantor bersama-sama.

.

Aku memang sudah tidak terburu-buru seperti sebelumnya karena aku menyetel alarmku lebih awal. Aku pun tak menduga ia akan berangkat menggunakan kereta karena selama seminggu aku tinggal disini aku tak pernah melihatnya.

.

"Mobilku lagi masuk bengkel." ujarnya dengan enteng saat aku bertanya kepadanya.

.

Hal itu sudah membuat moodku menjadi sedikit tidak enak. Itu kemudian diperparah saat kami berada di dalam di kereta.

.

Berdesak-desakan di dalam kereta saat menjelang jam kerja memang sudah menjadi resiko pengguna transportasi ini. Aku dan dia pun terkecuali. Semua tempat duduk penuh, jadi banyak yang penumpang yang berdiri. Ia berdiri tepat di belakangku.

.

Entah disengaja atau tidak, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang berat di tengkukku. Sialan.

.

Saat kereta di-rem, semua penumpang yang berdiri seolah ikut terdorong. Kami pun begitu. Tapi dia nampak dengan sengaja memeluk pinggangku lalu berkata maaf seolah tak terjadi apa-apa.

.

Aku pun bergegas keluar saat kereta berhenti di dekat area kantor kami. Aku tak mau dekat-dekat dengannya dulu.

.

Tapi seperti yang kalian tahu, dia entah bagaimana caranya bisa menyusulku. Hari ini mood-ku benar-benar tidak baik.

.

Tugas yang aku dapat hari ini pun sama tidak baiknya.

.

Mataku tak mungkin salah baca. Ini sudah kali ke-empat aku membaca draft itu dari awal hingga akhir. Ini ibarat mimpi burukku yang selanjutnya.

.

Teenlit?

.

Aku benar-benar tidak pernah menyentuh genre itu sebelumnya.

.

"Kris-ssi, aku belum pernah menyunting genre ini sebelumnya." ujarku mencoba menolak.

.

"Sudah ku bilang kerjakan. Biasanya memang Sehunie yang mengurus genre ini. Tapi kali ini dia mendapat job yang setingkat lebih sulit karena dia berhasil me-lobby salah satu penulis yang cukup rewel. Hanya kau yang bisa karena yang lain sudah full dengan tugas mereka masing-masing." balasnya dingin.

.

"Tapi..."

.

"Kau itu kenapa sih? Kau serius menjadi editor atau tidak? Jadi editor jangan pilih-pilih. Kalau kau stuck di salah satu genre, karirmu tidak akan panjang." potongnya.

.

Aku pun hanya bisa menunduk.

.

"Periksa hasil editan Sehunie selama 1 tahun terakhir sebagai bahan pembanding. Lakukan pekerjaanmu dengan benar." ujarnya lagi.

.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku pasrah.

.

Ia kemudian menepuk pundakku pelan lalu berbisik di telingaku. "Aku tahu kau bisa melakukannya." Ia lalu pergi kembali menuju ruangannya.

.

Ia menyemangatiku?

.

.


.

.

.

Demi apapun yang ada di dunia atau dimana pun itu. Kepalaku rasanya nyut-nyutan setelah membaca satu draft novel teenlit yang ada di mejaku.

.

Aku tak mengerti gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis. Terlalu banyak bahasa yang tidak baku, slang, plot yang tidak jelas, karakter penokohannya pun lemah.

.

Dari judulnya saja aku sudah merasa mual. Pengemis cinta putih abu-abu. Apa tidak ada judul yang lebih baik dari itu?

.

Isi ceritanya pun ngawur. Diawali dengan pengenalan karakter utama laki-laki yang kaya raya, luar biasa pintar, luar biasa tampan, idola khas remaja perempuan yang anehnya bersekolah di sebuah SMA yang bermasalah. Lalu pengenalan karakter utama perempuan yang biasa-biasa saja, pemarah, pemalak, pokoknya karakternya tak beda jauh dengan preman. Entah bagaimana dua karakter ini bisa jatuh cinta sampai si tokoh utama laki-laki harus mengemis cinta pada si tokoh utama perempuan. Hubungan keduanya yang ditentang keluarga tokoh utama perempuan karena ternyata dulunya keluarga tokoh utama laki-laki sudah membunuh orang tua si ayah tokoh utama perempuan. Selebihnya dipenuhi kata-kata yang minta ampun gombalnya. Endingnya pun tak kalah ngawur karena ternyata ayah si tokoh utama perempuan salah sangka karena ternyata keluarga tokoh utama laki-laki adalah yang selama ini menolong keluarga mereka. Kematian orang tua ayah si tokoh utama perempuan pun tak dijelaskan karena apa dan bagaimana bisa si ayah tokoh perempuan ini salah sangka juga masih menjadi misteri.

.

Aku tak tahu bagaimana caranya menyunting tulisan ini. Aku pun bingung bagaimana membuat tulisan ini menjadi tulisan yang enak dibaca, apalagi untuk sasaran pasar novel ini yaitu remaja yang berusia belasan tahun.

.

Kepalaku benar-benar pusing. Mencoba menarik benang merah dari sebuah simpul yang luar biasa kusut seperti ini betul-betul menguras tenaga. Aku heran bagaimana Sehun bisa survive dengan menyunting tulisan sejenis ini.

.

Untung saat itu Sehun tiba-tiba datang. Ia baru kembali dari tugas luar bersama Chanyeol untuk mengurus meet and greet salah seorang penulis.

.

"Sehun-ah! Tolong aku." teriakku.

.

Sehun kemudian menghampiriku.

.

"Ada apa Hyung?"

.

Aku kemudian menyerahkan hasil suntingan ala kadarku padanya.

.

"Aku baru kali ini mendapat tugas dengan genre ini. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus ku perbuat." keluhku.

.

Sehun kemudian melihat hasil suntinganku sekilas.

.

"Hmmm, ini sebaiknya begini. Penggunaan bahasa seperti ini sebetulnya sudah biasa untuk genre teenlit. Jadi yang ini tak perlu diubah." ujarnya.

.

Aku kemudian memperhatikan coretan yang dibuat Sehun.

.

"Nah, kalau yang ini dibiarkan juga sebetulnya tak masalah. Hanya perlu sedikit sentuhan supaya tidak terlalu ribet dan bertele-tele. Bagaimana?" Sehun kemudian menanyakan pendapatku.

.

"Memangnya tidak apa-apa hanya seperti ini?" tanyaku.

.

Sehun hanya terkekeh.

.

"Hyung harus banyak bergaul dengan banyak remaja supaya tahu bagaimana pola pikir mereka. Hyung pasti kaget kalau tahu pembaca teenlit kebanyakan adalah anak SD mulai umur 8 tahun sampai anak SMP umur 14 tahun. Sekarang remaja yang 15 tahun ke atas lebih suka membaca cerita yang lebih dewasa."

.

"Jinjja?" aku terus terang kaget karena setahuku teenlit pasarnya untuk remaja belasan tahun. Itu artinya, setidaknya umur pembaca minimal 10 tahun hingga 19 tahun.

.

"Anak jaman sekarang ingin cepat-cepat dikatakan dewasa Hyung. Sudah bukan jamannya lagi anak-anak SD ini membaca cerita seperti Putri Salju dan sejenisnya." jelas Sehun.

.

Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

.

"Maka dari itu, untuk menyunting tulisan sejenis ini hanya butuh satu hal saja Hyung." sambungnya.

.

"Jinjja? Apa itu?" tanyaku.

.

"Jangan dibaca terlalu serius. Biarkan saja tulisan itu mengalir dan Hyung pasti bisa tahu kalau ada yang kurang setelah Hyung membacanya." balas Sehun sambil memperlihatkan senyumnya yang begitu menggemaskan.

.

Masuk akal juga perkataan Sehun.

.

Sebelumnya aku memang berfokus di genre romansa yang pasarnya adalah orang dewasa dan genre fantasi yang pasarnya untuk semua umur. Jadi secara tidak sengaja, aku membawa kebiasaanku menyunting dua jenis genre itu ke dalam genre teenlit yang memang seharusnya tidak terlalu butuh banyak pemikiran.

.

"Gomawo Sehun-ah. Aku benar-benar bingung karena ini pertama kalinya aku menyunting genre ini." ujarku sambil mengelus rambut Sehun.

.

"Gwaenchana Hyung." ujarnya sambil tersenyum.

.

"Sehunie?" suara Kyungsoo kemudian mengagetkan kami.

.

"Ya! Kau berhasil menggaet penulis ternama itu?" tanya Kyungsoo penasaran.

.

"Ne." Sehun kemudian menganggukkan kepalanya malu-malu.

.

Aku pun teringat perkataan Kris kalau Sehun kali ini mendapat proyek yang lebih berat.

.

"Ayo cerita! Bagaimana kesan-kesanmu dengan penulis itu. Ku dengar-dengar penulis itu memang berwajah rupawan tapi kepribadiannya agak susah ditebak." cerocos Kyungsoo.

.

Sehun hanya bisa tersenyum malu-malu.

.

"Anieyo. Luhan-gege orangnya baik kok. Kalau sudah kenal, sebetulnya dia orang yang humoris." balas Sehun dengan semburat kemerahan di pipinya.

.

Kyungsoo melihat itu. "Kau kenapa? Tak biasanya kau seperti ini. Kapan kau akan bertemu dengan penulis itu lagi?"

.

"Nanti malam kami janjian dinner." ujar Sehun pelan. Ia tak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang merona kemerahan seperti kepiting rebus.

.

"Omo! Jinjja? Aigooo~ Uri Sehunie ternyata sudah dewasa!" teriak Kyungsoo heboh.

.

Sehun hanya bisa tertawa pelan sambil menundukkan kepalanya.

.

Aku hanya bisa menatap kedua orang ini bingung.

.

Kyungsoo kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Sehun. Agak lumayan keras sih sebetulnya. Aku bisa mendengar kata 'pengaman' dan 'pelumas' dengan jelas.

.

Sehun yang mendengarnya pun wajahnya semakin merah tak karuan.

.

"Hyuuuung! Mesum!" teriaknya.

.

Kyungsoo hanya bisa terkekeh. "Aku hanya memberimu saran. Toh itu juga untuk kebaikanmu juga. Awalnya memang terasa aneh, tapi lama-lama kau akan terbiasa."

.

"Hyuuung!" teriak Sehun sambil memukul lengan Kyungsoo.

.

Aku hanya bisa menonton. Mereka berdua lagi membicarakan apa sih?

.

.


.

.

.

Bisa menyelesaikan editan 3 buah naskah teenlit yang ceritanya hampir sama ngawurnya dengan yang pertama ku edit adalah keajaiban besar hari ini.

.

Untung saja ada Sehun yang membantuku memahami bagaimana cara mudah untuk menyunting naskah tanpa harus mengubah cerita secara keseluruhan.

.

Me-review hasil editan Sehun pun banyak membantuku. Aku jadi bisa membandingkan hasil editanku kalau ada naskah yang tema ceritanya mirip.

.

Aku melihat jam. Sudah jam 8. Aku harus bergegas pulang agar bisa mengejar kereta jam 9.

.

Aku kemudian membawa beberapa buah naskah editan Sehun untuk ku pelajari di rumah.

.

Aku lalu bergegas menuju lift.

.

Pintu lift hampir saja tertutup saat sebuah tangan yang kokoh itu menahannya.

.

Lagi-lagi Kris Wu.

.

Aku pun mengatur mood-ku. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Kami menuju stasiun kereta bersama-sama, mengendarai kereta bersama-sama, dan akhirnya pulang menuju apartemen bersama-sama.

.

Benar saja. Setidaknya sudah dua poin yang benar-benar terjadi : kami menuju stasiun kereta bersama-sama dan mengendarai kereta bersama-sama.

.

Kereta jam segini tidak terlalu penuh. Kami berhasil mendapat tempat duduk yang bersampingan. Aku tadinya mau berdiri saja, tapi entah mengapa badanku rasanya capek sekali.

.

Aku pun terkantuk-kantuk dan beberapa kali sempat menyandarkan kepalaku di bahu Kris secara tidak sengaja. Ia nampak tak keberatan.

.

Mataku kemudian terpejam semakin dalam. Aku pun tak sadar saat aku menyandarkan kepalaku di bahunya entah untuk yang keberapa kalinya dan akhirnya tertidur pulas.

.

.


.

.

.

Aku membuka mataku. Aku sebenarnya masih ngantuk. Aku mencoba meraih handphone-ku dan melihat jam. Masih jam setengah 6 rupanya. Aku pun ingin melanjutkan tidurku sebentar lagi.

.

Tapi aku kemudian mendadak terbangun ketika menyadari ada sesuatu yang aneh. Ada sebuah lengan yang melingkar di pinggangku.

.

Aku pun menyadari bahwa ini bukan kamarku. Aku kemudian mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Aku pulang kantor dengan Kris, naik kereta lalu sempat tertidur, lalu setelah itu aku tidak ingat.

.

Aku lalu menoleh dan seketika aku sadar 100%.

.

KRIS WU!

.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!" teriakku sambil melepaskan diriku dari pelukannya.

.

Ia yang masih tidur pun nampak menggeliatkan badannya pelan-pelan.

.

Aku baru menyadari bahwa ia hanya mengenakan sebuah celana pendek. Kemeja dan celana jinsku tergantung di atas kursi. Aku hanya mengenakan singlet dan boxerku.

.

Ia mengerjapkan matanya pelan-pelan.

.

"Kau tertidur di kereta. Jadi aku membawamu ke tempatku." ujarnya dengan suara parau.

.

Mataku membelalak tidak percaya. Aku tertidur dengan pulasnya sampai tak menyadari kalau aku dibawa ke apartemen Kris.

.

"Tenang saja. Setidaknya aku tak melakukan hal yang aneh-aneh." balasnya lagi sambil menguap.

.

Wajahku memerah. Rasanya malu sekali.

.

"Kau seharusnya membangunkanku saat masih di dalam kereta. Maaf sudah merepotkanmu. Terima kasih."

.

Aku lalu menyambar pakaianku dan memakainya asal-asalan.

.

"Terserah kau sajalah. Jangan lupa tutup pintu depan kalau kau keluar." ujarnya sambil melanjutkan tidurnya.

.

Aku kemudian bergegas menuju apartemenku yang berada di samping apartemen Kris.

.

Aku pun terduduk lemas dibalik pintu.

.

Bisa-bisanya aku tertidur sepulas itu. Aku kemudian merutuki kecerobohanku.

.

Ini tidak boleh terjadi lain kali.

.

TIDAK BOLEH!

.

.


.

.

.

Akhirnya bisa update juga.

.

Rangkuman untuk review yang masuk:

.

1. Planning berapa chapter. Saya belum berpikir sampai sejauh itu. Manga/Anime sebagai referensi saya ini pun masih belum tamat. Oke lah, Anime season 2-nya sudah selesai. Tapi Manga-nya masih berlanjut. Jadi saya sendiri belum tahu bagaimana endingnya.

.

2. Updatenya yang kemarin memang kehitung 2 walau sudah ada 3 chapter. Soalnya chapter 1 saya gunakan sebagai Teaser.

.

Oh iya, saya mau minta saran pembaca.

.

Tulisan saya ini kan rate T, tapi somehow siapa tahu di chapter selanjutnya akan ada adegan yang 17+, Apa perlu saya naikkan rate-nya? Atau tetap rate T dengan catatan adegan itu tidak terlalu 17+?

.

Masukan para pembaca akan saya pertimbangkan karena saya sudah ada outline untuk beberapa chapter ke depan.

.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca, para pemberi review, pembaca yang sudah membuat tulisan ini menjadi salah satu tulisan favorit mereka, dan yag sudah mengikuti tulisan saya ini.

.

Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan-tulisan saya yang berikutnya!

.

\(^o^)/