.

.

.

Dag dig dug.

.

Dag dig dug.

.

Dag dig dug.

.

Aku merasa jantungku berdegup sangat kencang. Tak lama lagi pengumuman hasil penjualan novel bulanan. Bagaimanakah hasil penjualan novel yang ku sunting? Sebenarnya tidak seberapa masalah sih, tapi aku selalu berusaha agar novel hasil suntinganku masuk 10 besar novel best-seller.

.

Aku kemudian melihat papan pengumuman. Mataku tertuju pada kolom yang memuat novel best-seller bulan kemarin.

.

Aku menghembuskan nafasku pelan-pelan sebelum akhirnya memantapkan hatiku untuk membaca daftar novel best-seller tersebut.

.

Urutan pertama : Perselingkuhan di Musim Gugur, penulis Lee Donghae, editor Kim Suho!

.

Assaaa! Aku kemudian mengepalkan tanganku. Itu novel suntinganku yang baru saja terbit bulan kemarin!

.

Urutan kedua : Para Pria Simpanan, penulis Lee Donghae, editor Kim Suho!

.

Seolma? Aku lagi? Itu kan novel suntinganku tiga bulan yang lalu! Donghae Sonsaengnim benar-benar luar biasa. Karyanya masih tetap berjaya di urutan atas walau sudah tiga bulan berlalu.

.

Urutan ketiga : Seperti Air yang Mengalir, penulis Kim Ryeowook, editor Kim Suho!

.

Daebak! Penulis ini memang saingan dengan Lee Donghae. Novel ini pun sebetulnya sudah terbit 5 bulan yang lalu dan masih bisa bertahan di posisi 3? Wow!

.

Urutan keempat : Tarian Terakhir, penulis Lee Hyukjae, editor Kim Suho.

.

Jinjja? Maldo Andwae! Aku tak percaya ini! Novel ini ku sunting bersamaan dengan novel karya Lee Donghae di urutan pertama! Walau penulisnya masih tergolong baru, ini benar-benar pencapaian luar biasa!

.

Urutan kelima hingga urutan kesepuluh sudah diisi nama editor lain.

.

Aku tak percaya.

.

Empat novel yang ku sunting termasuk 10 besar novel best-seller bulan ini! EMPAT!

.

Bukan main bahagianya perasaanku saat ini.

.

Aaaa!

.

Rasanya senang sekali!

.

Aku kemudian menuju meja kerjaku. Pasti disana sudah ada sampel versi cetak novel-novel yang sudah ku sunting!

.

Benar saja. Aku kemudian melihat ada beberapa tumpuk novel di atas meja.

.

Aku tak sabar ingin melihat hasil suntingan-ku.

.

Aku kemudian meraih satu novel yang paling atas.

.

Aku terperangah saat melihat cover novel itu.

.

Apa ini?

.

Aku kemudian membaca judulnya. Pengemis cinta putih abu-abu.

.

Ha?

.

APA INI?

.

Aku lalu membaca judul novel itu lagi baik-baik.

.

Sudah dua puluh kali dan judulnya masih sama.

.

APA-APAAN INI?

.

Aku kemudian mengambil satu novel lagi di bawahnya.

.

Cinta Pertama si Gadis Desa.

.

HA?

.

IGE MWOYA?

.

Teenlit?

.

Aku melihat kedua novel yang ada di bawahnya.

.

4k03 53m4ki3nD cI3nDt444. Ini bacanya bagaimana?

.

Love I Is A Namja Beautiful. Ini maksudnya My Love Is A Beautiful Namja atau apa?

.

Sementara aku masih shock dengan judul novel yang ada di mejaku, aku kembali dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba memanggilku.

.

"Joonmyeonie..."

.

Aku menoleh ke arah suara itu.

.

Kris Wu.

.

Dia menarikku. Dia membawaku kedalam pelukannya yang erat dan hangat. Bibir kami kemudian saling bertaut. Kami saling melumat.

.

Ia lalu merebahkanku di atas ranjang yang empuk. Kami pun bergumul dengan panasnya.

.

STOP!

.

TUNGGU DULU!

.

Ada yang salah dengan ini semua.

.

Aku kemudian menajamkan pendengaranku.

.

Bunyi apa ini?

.

Aku kemudian membuka mataku dan mendapati bahwa aku masih berada di tempat tidur. Aku masih memeluk gulingku dengan erat.

.

Aku melihat jam wekerku yang sedari tadi berbunyi nyaring.

.

SIAL! AKU KETIDURAN!

.

Aku kemudian bergegas bersiap-siap menuju kantor. Aku tak boleh terlambat pagi ini karena aku ada rapat dengan pihak marketing dan percetakan untuk membahas novel suntinganku yang akan siap cetak.

.

.

.


.

.

Pagi itu aku nyaris terlambat. Aku sudah mengeluarkan semua tenagaku mengejar kereta. Untungnya berangkat tepat 5 detik saat aku masuk ke dalam gerbong. Lagi-lagi harus berjejalan dengan orang-orang yang juga berangkat kerja. Situasi ini tak ada bedanya dengan ikan sarden dalam kaleng. Penuh sesak. Rasanya badanku remuk.

.

Sesampainya di kantor pun aku langsung disambut dengan makian atasanku. Aku memang seharusnya berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan presentasi dan segala macamnya.

.

Untungnya aku sudah menyiapkan materi dan print out presentasiku hari ini kemarin sore sebelum pulang kerja. Jadi tidak banyak yang harus ku persiapkan.

.

Begitu mengingat genre tulisan yang akan ku presentasikan, aku jadi khawatir. Ini kali pertamanya aku mempresentasikan novel teenlit. Tidak hanya satu, tapi lima buah. Bagaimana ini? Bagaimana kalau proposal ini ditolak mentah-mentah? Bagaimana kalau hasil editanku tidak laku?

.

Melihat kegugupanku, Kris kemudian membelai rambutku pelan. "Jangan terlalu gugup. Aku sudah menyetujui proposalmu. Aku akan ada di belakangmu kalau mereka membantaimu."

.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku pelan-pelan.

.

"Ya sudah. Tenangkan dirimu sebelum masuk ke ruang rapat." ujarnya lagi sambil menepuk pantatku pelan.

.

Aku blank.

.

Aku tahu seharusnya aku menolak diperlakukan seperti itu.

.

Tapi entah mengapa aku membiarkannya.

.

Aku kemudian melihat beberapa pihak dari bagian manajemen, bagian marketing, bagian printing, hingga perwakilan dari dewan direksi masuk ke ruangan.

.

Kris kemudian memperkenalkanku kepada semua orang dan meminta mereka agar sedikit lunak kepadaku karena ini merupakan proyek pertamaku. Mereka pun nampaknya menerimaku dengan cukup baik.

.

.

.


.

.

Saat ini kami membahas setidaknya 20 buah novel yang akan masuk tahap cetak dan kemudian akan terbit minggu depan.

.

Seperti biasa, dari pihak editor, pihak manajemen, pihak marketing, dan pihak printing akan saling beradu argumen seberapa banyak yang harus dicetak.

.

"Sudah ku bilang cukup 100.000 eksemplar saja!" bantah pihak marketing.

.

"Tidak! Minimal 175.000 eksemplar!" balas dari pihak editor.

.

"Kami tak peduli seberapa banyak. Yang penting cepat serahkan datanya kepada kami agar kami bisa bersiap-siap! Apalagi kalau rencana di atas 150.000 eksemplar!" sahut pihak printing.

.

Pihak manajemen lain lagi,

.

"130.000 eksemplar sudah cukup! Ini masih debut penulis! Dia belum punya pasar!"

.

"Tidak bisa! Harus 175.000 eksemplar! Kau tidak lihat bagaimana reaksi para pembaca di website kita ketika merilis preview novel ini?" balas dari pihak editor.

.

Aku hanya bisa menenggelamkan diriku di kursiku. Ini salah satu hal yang tidak ku sukai selama aku menjadi editor.

.

Akan aku coba jelaskan bagaimana proses yang dilalui oleh sebuah draft novel hingga menjadi novel yang bisa dibeli oleh pembaca.

.

Gambarannya seperti ini:

.

1. Draft yang masuk ke editor akan diseleksi. Setidaknya 100 draft akan disunting oleh satu orang editor dalam jangka waktu 2 minggu.

.

2. Setelah di-review atau beberapa halaman akan dibaca secara acak, kemudian mencari tahu track record penulis, baru kemudian akan diputuskan setidaknya 50 draft terbaik yang kemudian akan disunting.

.

3. Naskah yang sudah di-review kemudian di-screening, atau dibaca sekilas, untuk mengetahui bagaimana isi novel tersebut secara keseluruhan.

.

4. Setelah melalui proses suntingan pertama, maka editor akan bertemu dengan penulis untuk membicarakan perbaikan yang perlu.

.

5. Setelah penulis menulis ulang draft novelnya seperti yang sudah disepakati saat brain-storming dengan editor, maka naskah akan disunting lagi. Proses suntingan ini tidak hanya mengecek kata per kata, tetapi satu cerita secara keseluruhan. Bagaimana isi cerita, bagaimana alur cerita, bagaimana gaya bahasa, dan beberapa aspek lain harus diperhatikan dengan teliti. Proses suntingan ini akan berlanjut sampai draft tersebut menjadi satu buah tulisan yang enak dibaca. Ini pun harus diskusi lagi dengan penulis sampai kedua belah pihak deal.

.

6. Setelah novel telah melalui proses suntingan, maka perlu diadakan rapat untuk menentukan seberapa banyak novel tersebut dicetak.

.

7. Setelah diskusi yang alot itu berhasil mengeluarkan kesepakatan, maka hasil rapat tersebut akan diberikan langsung ke bagian printing agar mereka mempersiapkan novel tersebut dicetak. Selain itu, pihak manajemen juga harus mempersiapkan segala macam keperluan bagian printing dan mengawasi proses tersebut.

.

8. Setelah novel tersebut terbit, maka tugas bagian marketinglah yang mengatur strategi bagaimana caranya agar novel tersebut laku. Bisa jadi mereka melakukan promo, meet and greet dengan penulis, dan lain sebagainya.

.

9. Setelah proses itulah, novel-novel itu kemudian bisa berada di tangan para pembaca.

.

Cukup ribet bukan?

.

Masih ada yang lebih ribet lagi sebenarnya. Pihak penerbit harus selalu sedia stok novel. Jadi kami kadang menaikkan perkiraan kami karena butuh waktu yang cukup lama untuk sebuah novel dicetak ulang. Masalah besar terjadi kalau novel yang tidak disangka-sangka ternyata menjadi best-seller. Stok habis di pasar sementara pihak penerbit pun kehabisan stok adalah mimpi buruk. Kalian bisa membayangkan bagaimana jika seandainya novel yang ingin kalian beli tapi tidak kalian temukan di toko buku manapun.

.

Sudah 1 jam berlalu tapi kami belum juga beranjak dari pembahasan seberapa banyak setiap novel yang harus dicetak. Rasanya tenagaku terkuras walaupun aku hanya duduk diam saja.

.

.

.


.

.

Kami selesai rapat jam 7 malam.

.

Rasanya sebagian nyawaku sudah melayang entah kemana.

.

Aku pun memutuskan langsung pulang.

.

Aku kemudian bergegas membereskan mejaku dan mengucapkan selamat tinggal pada Kyungsoo dan Sehun yang masih lembur. Lay dan Chanyeol nampaknya sudah pulang duluan karena meja mereka sudah kosong. Aku pun segera turun ke lantai bawah.

.

Aku seketika terdiam ketika melihat Kris dan seorang laki-laki jangkung nampak bersenda gurau di salah satu pojok ruangan di dekat pintu keluar. Aku ingat orang itu dari pihak marketing. Kalau tidak salah orang itu dipanggil Tao.

.

Untuk pertama kalinya aku melihat Kris tertawa lepas selama aku bekerja disini. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak saat melihat mereka berdua. Perih. Serasa ada yang menusuk di hatiku.

.

Aku kemudian memutuskan untuk segera berlari menuju pintu keluar daripada aku berlama-lama melihat pemandangan yang entah mengapa membuatku merasa aneh begini.

.

"Kim Suho!" suaranya yang terasa menggelegar itu kemudian menghentikan langkahku.

.

"Tunggu aku. Kita pulang bareng." sambungnya lagi.

.

Aku terdiam.

.

"Loh? Bukannya Gege sudah janji menemaniku ke acara Xiumin-Ge?" potong laki-laki jangkung itu.

.

"Aku tidak bisa Tao. Besok aku masih harus menyelesaikan banyak tugas. Aku sudah bilang ke Xiumin kalau aku tidak bisa ikut." balas Kris.

.

"Ayolah Ge." ujar laki-laki itu sambil memeluk tangan kiri Kris.

.

Aku tercekat. Aku tidak suka pemandangan itu.

.

Selagi mereka masih begitu, aku kemudian memutuskan untuk pergi dari situ. Sebelum perasaanku menjadi semakin aneh.

.

"Permisi." sahutku pelan lalu berlari sekencang mungkin menuju stasiun kereta.

.

Tak ku perdulikan seberapa keras Kris memanggil namaku.

.

Yang ada dipikiranku hanya satu : aku tidak mau melihat pemandangan itu.

.

.

.


.

.

Sesampainya di rumah aku merebahkan badanku di atas sofa. Aku menghembuskan nafasku pelan-pelan. Apa yang terjadi denganku?

.

Aku ingat betul setiap detik saat Kris dan laki-laki itu bercakap-cakap. Aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin aku merasa sakit hati?

.

Kris bukan siapa-siapa ku lagi. Dua belas tahun ini pun pasti dia sudah berkencan dan tidur dengan orang lain.

.

Aku tahu itu. Tapi mengapa hati ini terasa perih?

.

Sesaat kemudian aku menyadari air mataku menetes di pipiku. Apa ini? Untuk apa aku menangisi seseorang yang bukan milikku lagi?

.

Selagi aku menyeka air mataku, ada bunyi sms dari handphone-ku. Aku kemudian mengeceknya.

.

Ah, ternyata dari salah seorang penulis. Dia bilang telah mengirim email yang berisikan draft novel terbarunya yang seri sebelumnya akan dibuatkan drama televisi. Sebetulnya draft novelnya yang sebelumnya ia kirim sudah cukup bagus. Tapi entah mengapa ia memutuskan untuk menulis ulang draft itu begitu tahu novelnya itu akan dijadikan drama televisi.

.

Aku kemudian menyalakan laptopku dan segera mengecek emailku. Benar saja email itu sudah ada di sana,

.

Aku kemudian melihat jam. Masih jam 9. Ini masih belum terlalu malam. Mungkin akan terkejar kalau aku segera menyuntingnya sekarang. Lagipula mungkin aku bisa membuat novel ini terbit lebih cepat.

.

Satu jam.

.

Dua jam.

.

Tiga jam pun berlalu.

.

Bagaimana ini?

.

Draft novelnya yang ini sama sekali tidak bagus. Terlalu banyak plot yang tidak nyambung. Terlalu banyak kalimat yang ambigu dan tidak efektif. Penokohan karakternya pun terlalu melebar jadi tidak fokus.

.

Aku ingin menanyakannya kepada Lay. Tapi kemudian aku ingat sesuatu hal yang penting. Semua novel yang sudah disunting dan perlu brain-storming, seperti yang saat ini ku alami, harus langsung berhubungan dengan Kris.

.

Masih jam 12 mungkin dia belum tidur. Mungkin sebaiknya aku email saja. Aku kemudian meng-klik tombol send pada layar laptopku. Sekarang aku harus mengirimkan sms kalau aku mengirim sebuah naskah di emailnya.

.

Aku baru saja akan mengetik sebelum handphone-ku itu berdering kencang. Telepon. Telepon dari Kris.

.

Aku ragu-ragu menjawabnya.

.

"Halo..."

.

"Kau dimana?" sahutnya dengan keras.

.

"Di apartemen." cicitku pelan.

.

"Neo! Kau yang ke apartemenku atau aku yang ke apartemenmu?" balasnya lagi.

.

Bagaimana ini?

.

"Ya sudah aku ke apartemenmu 5 detik lagi." sahutnya.

.

ANDWAE!

.

"Baiklah! Aku ke apartemenmu sekarang!" balasku sambil menutup telepon.

.

Tak butuh waktu lama hingga aku berada di depan pintu apartemen Kris.

.

Aku masih diam mematung. Aku harus menyiapkan hatiku sebelum aku masuk ke sarang naga.

.

Aku baru saja akan mengetok pintu saat pintu itu kemudian terbuka lebar-lebar. Pintu itu sukses menghantam wajahku.

.

"Aaaa!" rintihku menahan sakit.

.

Kris kemudian melonggokkan kepalanya keluar. "Kau sedang apa disitu? Ayo cepat masuk." perintahnya.

.

Aku kemudian mengikutinya dari belakang sambil mengelus wajahku yang terasa agak sedikit nyeri.

.

Aku kemudian melihat betapa rapi dan teraturnya apartemen ini. Ada rak buku besar yang berjejer di lorong menuju ruang tengah. Ia kemudian menyuruhku duduk.

.

Aku pun duduk di seberang meja. Posisi kami saling berhadapan.

.

Ia lalu fokus dengan laptopnya. Bisa ku tebak, ia masih membaca naskah asli dan hasil suntinganku.

.

Aku pun terdiam. Apa yang harus ku lakukan selama ia memeriksa hasil suntinganku? Menjadi pajangan? Tentu tidak.

.

Aku mengamatinya sembunyi-sembunyi. Well, tidak sembunyi-sembunyi juga sih sebetulnya karena ia tepat berada di depanku. Aku hanya bisa mencuri pandang sesekali saat ia membaca hasil suntinganku.

.

Tak butuh waktu lama hingga ia selesai membaca draft tersebut. "Tidak bagus." ucapnya.

.

Aku pun menganggukkan kepalaku. "Mungkin penulis ini ada pressure karena novel ini akan dibuatkan drama televisi seperti novelnya sebelumnya." ucapku pelan.

.

"Bilang saja ke penulisnya kita lebih memilih draft sebelumnya. Draft itu jauh lebih baik daripada yang ini." ujarnya.

.

Aku pun menganggukkan kepalaku pelan. "Baik."

.

Ada jeda yang cukup panjang setelah aku berbicara. Kami berdua rasanya tidak tahu mau bilang apa.

.

Ia kemudian meraih daguku. Ia membuatku menatap matanya langsung.

.

"Kenapa tadi kau tak menungguku?"

.

Aku tercekat. Kris seperti berubah menjadi orang lain. Dia seperti Kris yang ku kenal dua belas tahun lalu. Dingin dan posesif.

.

"Kau kan sedang bersama orang marketing itu. Kalian nampak begitu senang berduaan. Aku tak mau mengganggu." balasku pelan.

.

Tatapan mata itu. Ya, tatapan mata yang bisa membuatmu menjadi beku.

.

"Aku sudah memintamu untuk menungguku. Aku dan Tao hanya bercengkrama sebentar. Kenapa kau tak menungguku?" dia begitu mengintimidasi.

.

Aku kemudian tersadar. Aku lalu menepis tangannya dari daguku.

.

"Selama jam kantor dan menyangkut masalah pekerjaan, kau memang atasanku. Bukan berarti aku harus mematuhi segala perintahmu setiap waktu. Aku bukan siapa-siapamu." balasku tak kalah dingin.

.

Ia nampak kaget dengan ucapanku.

.

Aku tak mau ambil pusing.

.

"Kita sudah selesai. Saya tunggu email anda. Permisi."

.

Aku kemudian segera bangkit dan ingin meninggalkan apartemen ini secepat-cepatnya.

.

Tapi ia lebih cepat. Ia menghempaskan tubuhku ke lantai. Ia lalu dengan ganasnya melumat bibirku dalam-dalam.

.

Aku berusaha menahan badannya agar tidak terlalu dekat denganku. Tapi sia-sia. Badannya yang jauh lebih besar dibanding badanku tidak bisa ku tahan.

.

Lumatannya pun beranjak ke leherku.

.

"Kris! Berhenti..." Aku memohon.

.

Dia tak juga berhenti. Ia malah semakin liar menggerayangi badanku.

.

Ini tidak boleh terjadi! Aku kemudian mengumpulkan tenagaku. Satu tamparan yang cukup keras pun berhasil aku layangkan ke pipinya.

.

Dia pun berhenti dan nampaknya tersadar dengan apa yang sudah ia perbuat terhadapku.

.

Aku lalu melepaskan diriku. "WU YIFAN! Tolong jangan permainkan aku! Kau sudah bersama orang lain! Aku bukan mainanmu!" teriakku.

.

Ia nampak bingung. "Ha?"

.

Aku kemudian mengumpulkan nyawaku yang tadi serasa melayang-layang.

.

"Permisi."

.

Aku lalu berlari menuju pintu depan.

.

Saat aku membuka pintu, ada seseorang yang baru tiba di depan apartemen Kris.

.

Orang itu. Orang marketing itu.

.

Aku seketika membeku.

.

"Kau siapa? Ngapain di apartemen Gege tengah malam begini?" tanya orang itu.

.

Aku pun kehilangan kata-kata.

.

"Tao? Ngapain kau kesini?" perkataan Kris kemudian menyadarkanku.

.

"Aku tadi kan sudah bilang akan kesini setelah acara Xiumin-Ge selesai." balasnya.

.

Aku tak bisa melihat pemandangan ini lagi.

.

"Aku permisi." ucapku pelan sambil membuka pintu.

.

Aku kemudian meninggalkan dua orang itu dan menuju apartemenku secepat mungkin.

.

Di balik pintu apartemenku, aku memegang badanku yang tadi disentuh Kris. Rasanya panas. Aku seperti terbakar.

.

Aku menundukkan kepalaku. Kenapa rasanya sakit sekali? Air mataku pun menetes pelan.

.

Sentuhan bibirnya di bibir dan leherku pun terasa membara.

.

Kenapa dia melakukan itu?

.

Kami sudah jelas-jelas tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Dia pun nampaknya sudah bersama dengan Tao, orang marketing itu. Tapi kenapa dia melakukan itu?

.

Aku pun merebahkan diriku di kursi.

.

Ini tidak boleh terjadi lagi. Aku harus meningkatkan kewaspadaanku saat bersama orang itu.

.

Aku kemudian memutuskan untuk mandi. Aku harus membersihkan diriku. Aku harus menghapus setiap sentuhan Kris yang ada di badanku.

.

Selesai mandi aku lalu melihat handphoneku yang dipenuhi panggilan dan sms dari Kris.

.

Aku kemudian mencopot baterai handphoneku dan menyimpannya di dalam laci.

.

Malam ini aku tak mau diganggu olehnya.

.

Aku lalu melihat jam. Sudah jam 2 pagi.

.

Aku harus tidur. Jam 8 nanti aku masih harus melanjutkan rapat sebelumnya.

.

Ya. Aku harus tidur.

.

Aku pun merebahkan diriku di atas tempat tidurku. Aku mencoba menutup mataku walau aku akhirnya tidak bisa tidur sampai pagi.

.

Sentuhan Kris masih terasa panas. Terlalu panas sampai aku seperti terbakar.

.

Aku tahu. Mungkin Kris hanya ingin membalas dendam. Ia pasti hanya ingin mempermainkanku lagi. Ya, dia pasti ingin mempermainkanku sama seperti waktu itu.

.

.

.


.

.

Berdasarkan masukan pembaca dan pengalaman saya menulis ATT, mungkin saya tidak jadi menaikkan rate. Mungkin akan ada adegan menjurus tapi saya tidak bisa menulis terlalu frontal dan detail. Mungkin jatuhnya bakal sama dengan adegan di ATT, atau lebih samar-samar lagi. Misal kayak mereka ciuman setelah itu dilewati dan tahu-tahu mereka sudah selesai dan diganti adegan lain.

.

Terus ada yang nanya kenapa tiba-tiba Krisho tetanggaan. Di chapter awal saya ceritakan Suho pindah ke apartemen baru. tapi karena kesibukan kerjanya dia, dia jadi tidak bisa sosialisasi ke tetangga-tetangganya. Terus selama dia di apartemen itu pun, dia tidak pernah ketemu Kris karena Kris selalu pakai mobil pribadi sementara Suho harus naik kereta. Mereka pun ketemunya secara tidak sengaja di supermarket dan dari situ Suho baru tahu kalau mereka ternyata bertetangga. Apa saya kurang detail sampai ada yang terlewat oleh pembaca?

.

Spin off-nya sudah ada yang saya mulai, tapi saya belum tahu kapan akan saya publish karena saya masih harus menyelesaikan ATT dulu baru bisa menulis yang lain. Spin off ini sendiri nantinya akan saya jadikan tulisan baru tapi judulnya tetap menggunakan judul yang sama dengan tulisan ini, hanya bakal ditambah versi siapa. Misalnya kayak "Cintaku Nomor 1! Versi Sehun" dan sebagainya. Saya juga mungkin tidak akan memberi teaser tapi langsung ke cerita karena saya anggap tulisan itu sudah jadi satu bagian dengan tulisan ini.

.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca, para pemberi review, pembaca yang sudah membuat tulisan ini menjadi salah satu tulisan favorit mereka, dan yang sudah mengikuti tulisan saya ini.

.

Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan-tulisan saya yang berikutnya!

.

\(^o^)/