.

.

.

.

.

Sudah dua minggu sejak kejadian itu.

.

Sudah selama itu pula aku mencoba menghindar untuk berada dekat-dekat dengannya. Aku bahkan rela bangun lebih pagi dan mengambil rute kereta yang memutar agar aku tidak bertemu dengannya.

.

Pulang kantor pun begitu. Ketika aku pulang lebih awal, aku akan menaiki kereta ekspress yang lebih cepat, walau ongkosnya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan kereta biasa. Ketika aku pulang lebih lambat, aku akan kelayapan dulu dan baru akan tiba di apartemenku setidaknya saat jam 12 malam.

.

Aku hanya ingin memberi jarak diantara kami. Di kantor kami memang atasan-bawahan. Di luar kantor lain lagi. Aku tak mau dia menginvasi kehidupanku di luar jam kantor.

.

Dalam dua minggu ini pula aku tahu kalau Kris memang dekat dengan Tao, orang marketing itu. Setiap jam makan siang, Tao pasti datang menjemput Kris. Tao pun dengan santainya memeluk, berpegangan tangan, dan melakukan aneka skinship yang lain kepada Kris. Lagi-lagi aku melihat dia tak menolak. Dia menerimanya dengan senang hati.

.

Setiap pulang kantor pun begitu. Mereka pasti berduaan di pojok ruangan di dekat pintu keluar. Itu membuat ada alasan bagiku untuk pulang lebih cepat atau sengaja lembur meski aku sudah capek setengah mati.

.

Aku pun harus meyakinkan hatiku bahwa mereka memang ada hubungan khusus. Hubungan mereka lebih dari sekadar teman biasa.

.

Itu sebenarnya membuat hatiku menjadi semakin sakit. Kalau Kris memang sedang bersama Tao, kenapa dia bisa tega mencium dan mencumbuku? Kenapa dia harus membuatku seolah menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka? Kenapa dia harus membuatku terlihat seperti benalu dalam hubungan mereka? Apakah aku serendah itu?

.

Tak jarang aku sampai stress sendiri kalau ingat bagaimana Kris memperlakukanku seperti itu. Aku ini laki-laki yang baik, terhormat, dan punya malu. Tak pernah terlintas di benakku sekalipun untuk menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Tidak pernah. Mau ditaruh dimana wajahku kalau orang lain sampai menganggapku sebagai perusak hubungan orang lain? Dua belas tahun ini pun aku telah menolak entah berapa ajakan orang yang mencoba pedekate denganku.

.

Aku mungkin memang pernah menyakiti hatinya dengan keputusanku yang mendadak waktu itu. Mungkin memang salahku tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Tapi itu tak akan terjadi kalau dia tak memprovokasiku dengan tawanya itu. Aku hanya butuh konfirmasi apakah dia memang mencintaiku sama seperti aku dulu mencintainya.

.

Hal itu akhirnya mau tak mau membuatku menyimpulkan bahwa memang sedari awal Kris hanya ingin bermain-main denganku. Kalau dulu ia memang mencintaiku, ia hanya perlu menjawab 'iya' atau sekalian 'tidak' sewaktu aku bertanya kepadanya.

.

Sekarang pun pasti masih seperti itu. Ketika ia tahu aku menjadi bawahannya, ia pasti akan mempermainkanku lagi. Sama seperti waktu itu. Ya, dia pasti hanya ingin bermain-main denganku. Lagipula dia sudah bersama dengan orang lain. Aku ini hanya mainannya.

.

.

.


.

.

Saat ini aku harus bertemu dengan salah satu penulis yang novelnya aku sunting. Aku kemudian menyiapkan segala keperluanku dan bersiap-siap pergi.

.

"Hyung mau kemana?" tanya Kyungsoo.

.

"Aku ada meeting dengan penulis di luar kantor. Aku pergi dulu ya!" pamitku kepada rekan-rekan kerjaku.

.

Aku kemudian bergegas menuju lift yang kebetulan saat itu terbuka.

.

Aku baru akan menekan tombol lantai 1 ketika sebuah tangan menyetop pintu yang akan tertutup.

.

Kris Wu.

.

Tidak boleh. Aku tidak boleh dekat-dekat dengannya.

.

"Ah, ada dokumen yang ketinggalan." Aku kemudian segera berlari menuju ke ruang kerja editor tepat di saat pintu akan menutup.

.

Aku bisa mendengarnya meneriakkan namaku.

.

Ini lebih baik.

.

Ya, lebih baik begini.

.

Teman kerjaku pun bingung melihat kemunculanku di balik pintu.

.

"Loh! Bukannya Hyung tadi pamit mau ada meeting dengan penulis di luar?" tanya Sehun.

.

"Ah, sepertinya aku ketinggalan sesuatu." ujarku berbohong sambil berpura-pura membongkar isi laciku.

.

Aku kemudian mencari-cari apa yang kira-kira bisa ku gunakan sebagai alasan. Aku hanya menemukan tumpukan kertas, polpen, dan 1 pack tissue kecil. Aku kemudian menyambar polpen dan tissue itu.

.

"Ah, ini dia." Aku lalu memasukkannya ke dalam tasku.

.

Lay, Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun menatapku heran.

.

"Sudah ya. Aku berangkat dulu." pamitku untuk yang kedua kalinya.

.

"Hati-hati ya Hyung." balas Sehun.

.

.

.


.

.

Hari itu pun berlalu seperti biasanya. Hanya satu hal yang agak berbeda. Kali ini kami bisa pulang bersama-sama.

.

Pekerjaan kami untuk minggu ini sudah beres. Tidak ada lembur. Hasil suntingan kami pun semua sudah masuk ke bagian printing. Kami hanya tinggal menunggu draft-draft yang masuk dari redaksi minggu depan. Kami pun akan makan malam bersama di restoran yang terletak di samping kantor. Ini untuk pertama kalinya aku makan malam dengan rekan-rekan tim editorku.

.

Saat itu aku, Lay, Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun sudah berada di dalam lift. Pintu baru saja akan tertutup saat orang itu ikut bergabung bersama kami.

.

"Kris Hyung! Hyung pulang juga?" tanya Sehun.

.

"Ne. Kalian pulang bareng?" tanya Kris.

.

Sehun menganggukkan kepalanya.

.

"Kris Hyung mau ikut makan malam bersama kami? Kami mau ke restoran sebelah." ajak Chanyeol.

.

Dia kemudian berpikir sejenak.

.

"Baiklah."

.

"Yay! Hyung traktir kami soju ya!" Kyungsoo nampak begitu antusias.

.

"Gurae." balas Kris santai.

.

Aku hanya bisa merapatkan tubuhku ke Lay. Aku melingkarkan tanganku di lengan kirinya. Lay awalnya agak kaget. Tapi untunglah ia tak menolak. Ia bahkan menggenggam tanganku tak kalah eratnya.

.

Aku harus mempersiapkan diriku. Kondisi seperti ini tidak mungkin bisa aku hindari terus. Aku pun tak mau merusak momen kebersamaan tim editor.

.

Aku menundukkan kepalaku dan menghembuskan nafas pelan-pelan.

.

Bertahanlah Suho. Kau hanya perlu menempel ke Lay atau Kyungsoo atau Sehun. Chanyeol nampaknya bakal nempel ke Kris soalnya.

.

Tanpa Suho sadari, Kris menatapnya dengan pandangan yang sepertinya tidak suka. Kris tidak suka melihat Suho terlalu dekat dengan Lay. Kris tidak suka melihat tangan Suho yang melingkar di lengan Lay. Kris tidak suka melihat tangan Lay yang menggenggam erat tangan Suho. Kris benar-benar tidak suka.

.

.

.


.

.

Malam itu kami makan malam dengan lahap. Kami makan seperti orang yang seminggu tidak makan. Chanyeol dan Sehun bahkan sampai harus menambah pesanan kami 3 kali lebih banyak.

.

Aku sendiri tidak bisa banyak bicara karena aku merasa diperhatikan terus oleh Kris. Rasanya aku malas memulai pembicaraan. Aku hanya mendengarkan rekan-rekanku berbicara.

.

"Huaaah! Rasanya ringan sekali setelah lembur dua minggu berturut-turut." Ujar Kyungsoo sambil menenggak sekaleng soju.

.

Kami pun nampak sedikit santai. Aku duduk di antara Kyungsoo dan Lay, Kris sendiri duduk paling pojok sambil menyesap kaleng sojunya pelan-pelan.

.

"Hyung tidak minum?" tanya Sehun kepadaku.

.

"Aku tidak terlalu suka minum Sehunie. Kau mau?" tanyaku sambil menawarkan kaleng soju yang menjadi jatahku.

.

"Jeongmal?" tanya Sehun tidak percaya.

.

"Ya! Anak kecil tidak boleh minum banyak-banyak!" Chanyeol kemudian merampas kaleng sojuku sebelum diambil Sehun.

.

"Hyuuungg! Aku bukan anak-anak lagi!" protes Sehun sambil menggembungkan pipinya.

.

"Cuma anak-anak yang bertingkah seperti ini Baby." ujar Lay sambil mencubit pipi Sehun.

.

"Aaah! Hyung jangan ikut-ikutan mereka dong!" protes Sehun lagi kepada Lay.

.

Kami pun tertawa melihat kelakuan Sehun.

.

"Eh, kalian tahu tidak? Gosipnya si Minseok, editor bagian non-fiksi itu loh, katanya lagi dekat dengan seorang direksi kita." Kyungsoo pun memulai pembicaraan lain.

.

"Jinjja?" tanya Chanyeol.

.

"Kau kemana saja? Itu sudah jadi rahasia umum di kantor loh." balas Lay.

.

"Padahal dia minggu lalu terlihat jalan bersama dengan rekan editornya." sambung Kyungsoo.

.

"Ya gak heran juga sih. Dengan wajah imut seperti itu, dia pasti bisa dengan mudah menggaet orang yang dia suka." ujar Lay menanggapi.

.

"Playboy!" teriak Sehun.

.

"Iya. Eh ngomong-ngomong tentang playboy, aku jadi ingat kapan hari Kris Hyung kan juga sempat digosipkan playboy." ujar Kyungsoo.

.

Kris hanya terkekeh pelan.

.

"Itu kan gosip." balasnya sambil menyesap sojunya lagi.

.

"Eiii~~~" potong Sehun. "Siapa coba yang tidak terpesona dengan Hyung? Tiap acara tahunan saja Hyung pasti selalu dikelilingi banyak orang yang bersedia memberi segalanya untuk Hyung."

.

"Betul itu! Tidak ada asap kalau tidak ada api kan?" sambung Chanyeol.

.

"Kris Hyung playboy! Hahaha..." tawa Kyungsoo sambil meneguk sojunya.

.

Aku hanya menundukkan kepalaku. Dia memang sudah dari dulu populer. Sekarang pun pasti begitu. Wajar kalau banyak orang yang dekat dengannya.

.

"Begini-begini aku ini orangnya setia loh." celetuknya santai. Aku bisa merasakan dia menatapku. "Iya kan Suho?"

.

"Mana ku tahu." Aku lalu menenggak soda yang ku pegang sejak tadi.

.

Keempat rekan kerjaku tertawa lepas. Mungkin mereka sudah dibawah pengaruh alkohol.

.

"Bohong!" rancau Kyungsoo. "Kapan hari aku lihat loh, Hyung. Paling tidak ada 3 penulis yang sedang mati-matian mendekati Hyung. Belum yang di kantor." sambungnya lagi.

.

Aku pun langsung ingat dengan Tao, orang marketing yang kapan hari datang ke apartemen Kris.

.

"Haha. Terserah kalian saja. Yang jelas itu hanya gosip." ujar Kris menutup pembicaraan.

.

Malam itu kami bersenang-senang. Tidak juga sih sebetulnya. Aku mencoba ikut bersenang-senang dengan mereka. Mood yang seperti ini tidak boleh rusak hanya karena masalahku dengan Kris kan?

.

.

.


.

.

Kami pun berpisah di stasiun kereta. Untungnya kami semua masih bisa mengejar kereta terakhir.

.

Sial bagiku karena itu berarti aku tak bisa kemana-mana. Hanya aku dan Kris yang keretanya searah.

.

Aku sebetulnya mau duduk di bangku paling ujung kompartemen ini. Tapi Kris lebih dulu menyambar tanganku. Ia menggenggamnya begitu erat dan membawaku duduk di dekat pintu.

.

Aku tak bisa menolak. Ini terlalu riskan karena kami ada di ruang publik.

.

Wajahnya sedikit kemerahan. Mungkin akibat pengaruh alkohol yang diminumnya tadi.

.

Ia pun kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku dan nampak tertidur.

.

Jantungku berdegup kencang.

.

Bagaimana kalau aku ternyata masih mencintai orang ini?

.

Aku menggelengkan kepalaku pelan-pelan.

.

Tidak boleh Suho. Kau tak boleh jatuh ke lubang yang sama dua kali. Mana mungkin kau bisa jatuh cinta pada orang yang sama dua kali?

.

.

.


.

.

Setibanya kami di stasiun dekat apartemen kami, kami langsung pulang. Lebih tepat kalau aku bilang Kris menyeretku.

.

Aku masih mengumpulkan keberanianku untuk melawan. Kris mungkin masih dibawah pengaruh alkohol. Siapa yang tahu apa yang ia bisa lakukan kalau aku menolak? Lagipula ini masih di tempat umum. Terlalu riskan untuk ditonton banyak orang yang lalu lalang.

.

Tangan Kris begitu erat menggenggam tanganku. Untungnya ia berjalan tak begitu cepat. Ia seperti menyamakan langkah kakinya dengan langkah kakiku.

.

Jalan dari stasiun menuju ke apartemen yang sebetulnya bisa ditempuh dengn berjalan kaki sekitar 20 menit terasa lama sekali. Waktu seolah berjalan lebih lambat.

.

Kami pun akhirnya tiba di apartemen kami. Kris lalu menyeretku ke dalam lift. Tidak ada orang. Bagus. Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan yang terjadi Suho-yah.

.

Sesampainya kami di lantai 9, Kris tidak juga melepaskan tangannya.

.

"Kris, lepas!" protesku.

.

Ia hanya diam. Ia lalu menarikku menuju apartemennya.

.

Jantungku kemudian berdegup kencang. Aku masih ingat betul kejadian dua minggu lalu itu.

.

Kris kemudian mengunci pintu dan menarikku masuk ke dalam apartemennya.

.

Ia lalu mendorongku di dinding ruang tamu.

.

"Kenapa kau menghindariku?" tanya Kris langsung.

.

Aku tak berani menatap matanya.

.

"Itu hanya perasaanmu saja." ujarku berbohong.

.

"Jangan bohong!" teriaknya.

.

Aku menundukkan kepalaku.

.

Tapi Kris lebih dulu mencengkram daguku dan menerkam bibirku.

.

Aku terperanjat.

.

Kenapa jadi begini?

.

Aku tak kuat menahan badannya yang besar saat ia membawaku semakin erat dalam pelukannya.

.

Badannya begitu panas.

.

Setiap sentuhannya di kulitku pun terasa terbakar.

.

Aku semakin tak bisa melawan saat tangannya dengan kuat menarik tangan kiriku agar menyentuh gundukan besar di balik celananya.

.

Ini gawat. Ia sudah terlalu tegang.

.

Aku harus menghentikan ini sebelum semuanya menjadi terlalu jauh.

.

Segera ku kumpulkan tenagaku untuk bisa lepas dari pelukannya. Aku menampar pipi kanannya sekuat yang aku bisa.

.

"BERHENTI WU YIFAN!"

.

Kris pun sepertinya sudah sedikit tersadar.

.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" air mataku pun akhirnya sudah tidak bisa ku tahan.

.

"Aku bukan orang yang serendah itu, kau tahu!" teriakku.

.

Ia nampak terdiam.

.

"Kalau kau ingin balas dendam tidak begini caranya. Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan kekasihmu itu kalau dia sampai tahu ternyata kau begini? Kau membuatku lebih rendah dari seorang pelacur, kau tahu!" teriakku lagi sambil terisak.

.

"Ha? Kekasih? Siapa yang punya kekasih?" ucapnya heran.

.

Aku jadi semakin kesal.

.

"Kau pikir aku tidak tahu? Setiap jam makan siang dan jam pulang kantor kalian selalu bersama. Kau pikir aku buta sampai tidak menyadari hubungan kalian?" balasku.

.

Dia pun nampak semakin bingung.

.

"Siapa yang kau maksud?" tanyanya lagi.

.

"Tak usah berpura-pura Wu Yifan. Kau tak bisa membodohiku." Jawabku.

.

Air mataku pun semakin banyak. Bahuku bergetar begitu hebat.

.

"Kau tak perlu sejauh itu kalau kau mau balas dendam padaku." ujarku lagi.

.

"Selamat! Kau berhasil membuatku sakit hati untuk yang kedua kalinya dalam hidupku." Kali ini aku memberanikan diri untuk melihat matanya langsung.

.

"Permisi."

.

Aku kemudian menyambar tasku yang terjatuh dan berlari menuju apartemenku.

.

.

.


.

.

Kris lalu merutuki dirinya. Lagi-lagi ia tak mampu mengendalikan dirinya di depan Suho.

.

Kris tahu tujuan awalnya bukan seperti ini.

.

Awalnya ia memang ingin membalas dendam pada orang yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya saat ia sudah menyerahkan segalanya pada orang itu.

.

Itu niat awalnya.

.

Tapi entah mengapa hatinya tidak bisa bohong.

.

Melihat sisi baru seorang Joonmyeon yang kini bernama Suho benar-benar membuat hatinya seolah terbang melayang.

.

Niat awalnya menggoda Suho dua minggu lalu setelah mendiskusikan draft novel baru di apartemennya pun justru menjadi boomerang bagi Kris.

.

Ia jadi tahu seberapa rindunya ia akan sentuhan tubuh Suho. Ia jadi tahu apa yang hilang selama ini dalam hidupnya. Api asmara itu benar-benar membakar tubuhnya ketika ia bersentuhan dengan Suho. Sensasi itulah yang ia rasakan hilang selama dua belas tahun belakangan ini.

.

Kris tahu selama dua minggu ini Suho menghindar darinya. Ia tak pernah menemui sosok Suho saat di kereta. Ia pun tak pernah melihatnya saat perjalanan pulang. Suho selalu pulang lebih awal. Kalaupun dia tidak pulang lebih awal, ia selalu lembur.

.

Di kantor pun begitu, Suho selalu menghindar kalau ada Kris dekat dengannya. Kejadian di Lift tadi siang pun menjadi bukti yang cukup kuat.

.

Entah bagaimana itu membuat hati Kris benar-benar sakit.

.

Parahnya lagi saat tadi ia melihat Suho melingkarkan tangannya di lengan Lay. Kris benar-benar tidak suka melihat pemandangan itu. Seharusnya lengan yang Suho peluk itu adalah lengannya.

.

Melihat mata Suho yang barusan dibanjiri air mata juga membuat hati Kris perih seperti tersayat.

.

Kris tahu ia melakukan kesalahan. Kesalahan itu sangat fatal sampai Kris tak tahu harus berbuat apa.

.

Melihat Suho menangis dan berlari keluar dari apartemennya pun menambah sesak dada Kris.

.

Kris pelan-pelan mengusap wajahnya.

.

Kris berpikir kenapa ia bisa merasa sesakit ini ketika melihat Suho menjauh darinya, berdekatan dengan orang lain, dan bahkan melihat Suho menangis karena dirinya. Apakah Kris ingin selalu dekat dengan Suho? Apakah Kris cemburu saat Suho dekat dengan orang lain? Apakah Kris ingin menghapus air mata yang mengalir di pipi Suho?

.

Kris pun akhirnya tersadar.

.

Ini tidak salah lagi.

.

Ia sudah jatuh cinta lagi kepada Suho. Baru pertama kali dalam hidupnya ia mengalami yang namanya jatuh cinta untuk kedua kalinya pada orang yang sama.

.

Tapi Kris tidak habis pikir siapa yang Suho maksud sebagai kekasihnya.

.

Ia pun mencoba mengingat-ingat. Setiap jam makan siang dan jam pulang kerja? Tao? Apakah yang Suho maksud sebagai kekasihnya adalah Tao yang merupakan adik sepupunya?

.

.

.


.

.

Keesokan harinya Suho merasa tidak enak badan. Ia pun mengecek suhu tubuhnya dan mendapati angka 39 derajat Celsius di termometernya.

.

Ia pun segera menelpon Kyuhyun sebagai manajer HR untuk melaporkan ketidakhadirannya. Untung saja waktu itu mereka sudah bertukar nomor telpon saat mereka makan malam bersama di hari mereka pertama kali bertemu.

.

"Hyung." ujar Suho dengan suara parau.

.

"Wae Joonmyeonie?" tanya Kyuhyun dari seberang telepon.

.

"Aku demam. Aku minta ijin tidak masuk kerja hari ini." balasku.

.

Kyuhyun pun terdengar panik.

.

"Kau sudah ke dokter? Kenapa bisa sakit? Apa Yifan membuatmu bekerja terlalu keras?"

.

Aku pun terdiam saat Kyuhyun Hyung menyebut nama asli Kris.

.

"Aniya. Pekerjaan kami sudah masuk di bagian printing. Hari ini kami Cuma akan mengarsipkan dokumen-dokumen yang sudah kami sunting." balasku pelan.

.

"Kau sudah minum obat?" tanya Kyuhyun lagi.

.

"Sudah Hyung. Aku hanya butuh istirahat. Aku pasti akan masuk kerja hari Senin nanti." balasku.

.

"Baiklah kalau begitu. Kau istirahatlah dulu. Nanti akan ku usahakan untuk menjengukmu. Okey?" sahut Kyuhyun.

.

"Ne, Hyung. Kamsahamnida."

.

Aku lalu mennyelesaikan teleponku.

.

Rasanya badanku melayang-layang.

.

Aku kemudian teringat rekan-rekan kerjaku. Mereka perlu ku beri tahu. Aku akhirnya mengetik sms untuk memberi tahu mereka kalau aku sedang sakit. Suaraku rasanya serak sekali. Tenggorokanku pun rasanya perih.

.

Aku pun mengirimkan sms itu kepada Lay, Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun.

.

Baru saja aku merapatkan selimutku saat Kyungsoo menelponku.

.

"Hyung kok bisa sakit?" tanyanya khawatir.

.

"Aku tak tahu Kyungsoo-yah." ujarku dengan suara parau.

.

"Ya sudah, Hyung istirahat saja dulu. Oh iya, kalau Hyung masih kuat sebaiknya Hyung matikan handphone Hyung saja setelah ini. Anak-anak pasti akan menelpon Hyung. Kalau aku dengar suara Hyung, rasanya Hyung sebaiknya tidak berbicara dulu untuk sementara waktu. Okey? Nanti akan ku beritahu teman-teman kalau Hyung tidak bisa menjawab telepon." sahut Kyungsoo.

.

"Ne." balasku.

.

"Aigooo~ Hyung sebaiknya istirahat. Jangan lupa matikan handphone Hyung. Okey?"

.

Kami pun mengakhiri percakapan kami.

.

Aku pikir Kyungsoo ada benarnya juga. Aku lalu mematikan handphoneku dan mencabut kabel telepon apartemenku.

.

Yang aku butuhkan saat ini hanya tidur yang lama.

.

.

.


.

.

Aku terbangun saat hari sudah malam. Itupun karena aku merasa haus sekali. Aku kemudian melihat jam. Sudah jam 9 malam. Aku tertidur nyaris dua belas jam. Pantas saja aku haus sekali.

.

Aku meraba keningku dan merasa sudah tidak terlalu panas. Aku lalu mengecek suhu tubuhku dan menemukan angka 37 derajat Celsius.

.

Syukurlah sudah agak mendingan.

.

Aku kemudian menuju dapur dan mengambil sebuah gelas. Aku kemudian langsung menenggak dua gelas air putih.

.

Rasanya segar sekali.

.

Aku lalu mengganti piyamaku karena piyama yang ku pakai agak basah karena keringatku.

.

Aku kemudian mengambil dua buah cup jelly yang ada di kulkas dan memakannya. Walaupun tak begitu lapar, aku belum mengisi perutku hari ini sejak tadi pagi. Aku hanya melahap sepotong roti tawar sebelum meminum obat.

.

Aku baru memakan 1 buah cup jelly sewaktu aku mendengar bel pintu apartemenku berdering. Aku kemudian meletakkan jelly-ku dan menenggak segelas air putih lagi sebelum membuka pintu.

.

Mungkin itu Kyuhyun Hyung karena tadi pagi ia bilang akan menjengukku. Ia pasti tidak bisa menghubungiku karena aku mematikan handphoneku dan mencopot kabel telepon apartemenku.

.

Aku kemudian membuka pintu dan menyadari siapa tamuku yang sebenarnya.

.

Kris Wu.

.

Aku baru saja akan membanting pintuku tapi dia berhasil menahannya. Ia kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

.

"Mianhaeyo." Badan Kris terasa bergetar.

.

Aku tak bisa melawan. Badanku masih terlalu lemah.

.

"Maafkan aku Joonmyeonie." bisiknya lagi,

.

Aku tercekat saat Kris memanggil nama asliku.

.

"Maafkan aku My Love." Ia lalu mendekapku dengan erat sampai aku kesulitan bernafas. Ia barusan memanggilku dengan sebutan 'My Love'?

.

"Ku akui aku memang berniat membalas dendam. Tapi itu hanya membuatku paham betapa aku merindukanmu, Cintaku."

.

Aku hanya bisa membiarkannya. Badanku masih terlalu lemah untuk melepaskan pelukan Kris.

.

"Dua belas tahun Joonmyeonie. Dua belas tahun. Kau tak pernah hilang sedikit pun dari ingatanku."

.

Aku pun terdiam.

.

"Aku tahu ada yang salah pada diriku sewaktu kau menghindariku dua minggu ini. Aku tahu ada yang salah pada diriku sewaktu aku melihatmu menggandeng lengan Lay sewaktu kita di lift bersama yang lain kemarin. Aku tahu ada yang salah dengan diriku saat aku melihat air mata yang menetes di pipimu kemarin malam."

.

Lagi-lagi aku tak bisa berkata-kata. Yang jelas suara Kris terdengar bergetar.

.

"Aku tahu aku terlihat bodoh kalau aku mengatakan ini. Tapi kau berhasil membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya Kim Joonmyeon. Aku mencintaimu."

.

Mataku terbelalak seketika.

.

"Aku tak peduli dianggap sebagai seorang idiot selama itu menyangkut tentangmu Joonmyeonie. Aku tak perduli. Asal bisa denganmu, aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di atas muka bumi ini."

.

Tanpa ku sadari mataku pun sudah berkaca-kaca mendengar pengakuan Kris.

.

"Aku tahu kau butuh waktu. Tapi akan ku pastikan satu hal. Aku tak akan pernah menyerah sebelum berhasil membuatmu menjadi milikku sepenuhnya. Akan ku buat kau jatuh cinta lagi kepadaku." Kris kemudian mengecup keningku.

.

Kali ini sensasinya beda.

.

Kecupannya membuat tubuhku menjadi tenang. Aku seolah dilindungi oleh sebuah pilar yang kokoh.

.

"Kau pasti belum makan. Ayo ke apartemenku. Aku akan membuatkanmu sesuatu." Ia lalu menggendongku ala bridal style.

.

Aku tidak sempat protes. Badanku yang lemas mendadak menjadi semakin lemas ketika mendengar pengakuan Kris.

.

Hari ini aku memang sakit. Tapi sepertinya sakit itu membawa sesuatu. Aku belum memastikan apakah itu sebuah berkat atau malah sebuah musibah.

.

Walau aku bisa melihat kesungguhan hati Kris, aku belum bisa mempercayainya sepenuhnya. Aku tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya. Ya, aku sebaiknya tidak terlalu berharap banyak.

.

.

.


.

.

Akhirnya bisa update. Sebenarnya kemarin sudah mau saya update tapi laptop tiba-tiba eror. #sigh

.

Sebelumnya saya minta maaf ke pembaca ATT. Saya belum sempat update. Saya sementara sudah menulis sampai di chapter terakhir, cuma masih belum sempat saya sunting dan review ulang. Mudah-mudahan dalam minggu ini saya ada waktu lebih untuk menyunting dan me-review chapter tersebut sebelum saya update.

.

Berita lainnya, saya sedang dalam tahap menulis spin off pertama seri "Cintaku Nomor 1!" yang fokusnya ke salah satu anggota tim editor Blue Diamond! Kalau pembaca mau tahu siapa, di chapter sebelumnya saya sudah sempat kelepasan menyebut secara eksplisit loh. Meski begitu, spin off ini kemungkinan akan jarang-jarang saya update karena fokus utama saya tetap ke duo leader kita ini.

.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca, para pemberi review, pembaca yang sudah membuat tulisan ini menjadi salah satu tulisan favorit mereka, dan yang sudah mengikuti tulisan saya ini.

.

Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan-tulisan saya yang berikutnya!

.

\(^o^)/