.

.

.

.

.

Malam itu aku tak ubahnya seperti seorang raja.

.

Setelah Kris menggendongku ke apartemennya, ia meletakkanku di tempat tidurnya yang luar biasa empuknya. Aku diselimutinya dan ia memberiku bantal yang nyaman.

.

Ia lalu membawakanku semangkuk bubur yang masih mengepul dan segelas air putih. Ia menyuapiku dengan telaten. Ia mengelap setiap sudut bibirku yang agak belepotan sehabis ia menyuapiku satu sendok bubur.

.

Tak sampai disitu saja. Aku kemudian disuruhnya tidur. Ia lalu mengompres dahiku dengan lembut.

.

Aku tahu ini jelas bukan Kris atau Wu Yifan yang aku kenal sebelumnya. Ia benar-benar berubah total.

.

Ia kemudian meninggalkanku sejenak untuk membersihkan dapur sekaligus mengerjakan kegiatannya yang lain.

.

Biar bagaimana jengkelnya atau bencinya aku pada dia, aku jadi merasa tidak enak dengan apa yang ia lakukan padaku.

.

Tapi ada hal lain yang mengganjal hatiku.

.

Bagaimana aku bisa menampakkan diriku pada kekasih Kris kalau Kris selingkuh denganku?

.

"Kau belum tidur?" Kris kemudian mengejutkanku.

.

Ia nampak baru habis mandi. Ia hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.

.

Aku kemudian menggelengkan kepalaku sambil melihat ke arah lain. Aku tak boleh tergoda. Aku tak mau jadi selingkuhan.

.

Ia kemudian meletakkan handuknya di kursi dan berbaring tepat di sampingku.

.

Mati aku.

.

Aku bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas. Aku pun bisa merasakan sentuhan kulitnya di badanku.

.

Bagaimana ini?

.

Ia kemudian membawaku ke pelukannya lalu merapatkan selimut.

.

Aku merasa suhu tubuhku naik.

.

Kris mungkin menyadari ekspresiku. "Sudah, tidur yang tenang. Aku tidak akan melakukan apa-apa." Bisiknya.

.

Ia lalu mengelus-elus kepalaku pelan. Aku pun teringat. Ini kebiasaan yang dulu kami lakukan kalau kami tidur bersama.

.

Oke, sebelum pikiran kalian menjadi liar, yang aku maksud tidur bersama itu ya tidur dalam satu kasur seperti yang kami lakukan saat ini. Tidak lebih.

.

"Kau bisa tertular demamku." Ujarku dengan suara parau.

.

Ia lalu mengecup keningku. "Kalau itu membuatmu sembuh, aku tak apa-apa."

.

Pipiku pun semakin merona.

.

Bagaimana bisa aku tidur kalau saat ini ada orang yang memelukku dengan erat? Sebagai tambahan lagi, orang itu bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek!

.

Mataku tetap terbuka lebar selama satu jam berikutnya. Kris sepertinya tahu.

.

Ia lalu berbisik di telingaku.

.

"Kenapa kau belum tidur?"

.

Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan.

.

"Kau harus tidur Sayang." bisiknya lagi.

.

Aku kemudian mencoba memejamkan mataku tapi tak bisa.

.

"Kenapa kau terlalu tegang? Kau mau ku buat rileks?" bisiknya lagi.

.

DEG!

.

Aku pun sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.

.

Dua belas tahun lalu pun begitu. Ia selalu berhasil membuatku tertidur pulas setelah kami... berhubungan... itu...

.

Tidak boleh!

.

Ini tidak boleh terjadi!

.

"Sssttttt~ Tidak usah tegang begitu Sayang. Aku berjanji tidak akan melakukan itu kecuali kalau kau mengijinkanku." bisiknya lagi seolah tahu apa yang ku pikirkan.

.

Ia kemudian bangun dan mengganti kompresku. Ia lalu memijat kedua tangan dan kakiku pelan-pelan. Ia sepertinya mencari titik akupunktur di badanku. Itu membuat tubuhku benar-benar rileks dan mengantuk. Tanpa sadar aku pun jatuh tertidur dengan begitu pulas.

.

.

.


.

.

Keesokannya aku bangun lebih dulu. Entah mengapa hatiku terasa begitu rileks saat aku melihatnya tertidur dengan begitu pulas.

.

Aku bisa melihat dengan jelas dadanya bergerak naik turun dengan ritme yang pelan menandakan bahwa ia masih dalam keadaan tertidur nyenyak.

.

Wajahnya pun terlihat begitu damai. Wajahnya jelas berubah banyak selama dua belas tahun ini. Guratan di wajahnya begitu tegas. Wajah yang dulu begitu dingin sekarang sudah menjadi sedikit lebih hangat. Tak heran aku bisa pangling dan tak mengenalnya saat aku pertama kali berjumpa dengannya.

.

Dengkuran halusnya itu pun seolah mengingatkanku sewaktu kami masih bersama dulu. Sesaat aku kemudian tersadar bahwa ini mungkin hanya sementara. Aku ini kan hanya dijadikan selingkuhan. Aku tak mungkin bisa memilikinya.

.

Saat itu tanpa ku sadari air mataku mengalir pelan.

.

Saat itu pula Kris terbangun karena merasa ada tetesan air yang mengalir di lengannya.

.

"Ada apa Sayang?" ujarnya dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.

.

Aku tak mau menjawab.

.

Melihatku yang seperti itu, ia lalu mendekapku dengan erat.

.

"Sssstttt~ Uljima..." bisiknya.

.

Aku tahu aku tak seharusnya begini. Air mataku mengalir tanpa bisa ku kendalikan.

.

"Kau kenapa Sayang? Jawab aku." Bisiknya lagi sambil mengecup keningku.

.

Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan membiarkan air mataku itu jatuh dengan sendirinya.

.

Ia lalu mengusap air mataku pelan-pelan.

.

"Uljima~ Uljima~" bisiknya lagi sambil meletakkan kepalaku di dadanya.

.

Hangat.

.

Degup jantung Kris terasa begitu cepat.

.

Aku bingung dengan perasaanku.

.

Seharusnya aku berterima kasih karena dia sudah mau merawatku.

.

Seharusnya aku bisa mengendalikan air mataku.

.

Seharusnya aku tak perlu menangis hanya karena aku menyadari bahwa ia mungkin sedang mencoba selingkuh denganku.

.

Seharusnya...

.

Kris kemudian membungkamku dengan ciuman yang hangat.

.

Bibirku bisa merasakan sentuhan bibirnya yang hangat menempel begitu erat.

.

Seketika itu pula air mata ku berhenti mengalir.

.

Ia kemudian menghentikan ciumannya lalu menatapku lekat-lekat.

.

"Uljima~ Kau tak tahu seberapa sakitnya aku melihat air matamu itu mengalir." bisiknya pelan.

.

Aku pun terdiam.

.

"Kau lapar?" bisiknya lagi.

.

Aku kemudian menyadari perutku berbunyi.

.

"Baiklah. Aku akan membuatkanmu sesuatu." Ia lalu bangkit dari tempat tidur.

.

"Kau masih lemas? Apa perlu ku mandikan?" tanyanya.

.

Aku pun tercekat.

.

"Tidak usah! Aku bisa sendiri." Balasku dengan suara serak. Rupanya tenggorokanku masih belum pulih.

.

"Gunakan kamar mandiku. Kau bisa memakai bajuku. Ambil saja di dalam lemari." ujarnya lagi.

.

Aku pun tak tahu harus menjawab apa.

.

"Baiklah, Aku akan membawakanmu baju ganti dari apartemenmu. Nah, sekarang mandilah dulu." Ia lalu memakai celana training dan jaketnya lalu keluar menuju apartemenku.

.

Aku pun mencoba bangun tapi ternyata kepalaku agak pusing.

.

Tak lama Kris kembali membawa beberapa buah baju ganti sambil membawakanku segelas air putih. Ia mendapatiku yang sedang memijat keningku dalam posisi duduk di tempat tidur.

.

"Kepalamu masih pusing? Sudah, jangan bangun dulu. Aku akan menyiapkan air hangat untuk membasuh wajahmu." ujarnya lalu membaringkanku lagi di tempat tidurnya.

.

Ia kemudian membawa sebaskom air hangat dan selembar handuk kecil.

.

"Sini aku bantu."

.

Ia lalu membasuh wajahku pelan-pelan. Ia lalu mengelapnya dengan handuk hati-hati.

.

"Kau bisa mengganti pakaianmu sendiri?" tanyanya lagi.

.

Aku harus melakukannya sendiri!

.

Aku lalu menganggukkan kepalaku.

.

"Ya sudah. Ganti pakaianmu lalu berbaringlah lagi. Aku akan menyiapkan sarapan."

.

Ia lalu keluar sambil membawa baskom bekasku membasuh wajahku.

.

Aku kemudian mengganti pakaianku dengan pakaian yang diambilkan Kris. Aku kemudian menegak habis air putih yang Kris bawakan tadi.

.

Aku kemudian kembali membaringkan tubuhku di atas tempat tidur Kris. Aroma tempat tidur ini mengingatkanku akan aroma lelaki yang dua belas tahun lalu menghias hari-hariku.

.

Wangi itu masih sama.

.

Aku kemudian menghirup wangi ini sebanyak yang aku bisa. Aku tak tahu kapan aku bisa merasakan wangi ini lagi setelah aku sembuh.

.

Dadaku pun terasa sesak. Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa perasaan ini seperti tersayat? Kenapa?

.

.

.


.

.

Seharian itu pula aku lagi-lagi tak ubahnya seorang raja.

.

Aku hanya bisa teronggok seperti batu di atas tempat tidur Kris.

.

Kris kemudian datang dengan membawa semangkuk bubur panas. Dia lalu menyuapiku pelan-pelan sampai aku menghabiskannya.

.

"Kau benar-benar tak butuh dokter?"

.

Aku pun menganggukkan kepalaku.

.

Aku tak suka bau rumah sakit. Itu sebabnya aku nyaris tak pernah ke dokter kecuali jika kondisiku benar-benar drop.

.

"Ya sudah, ini aku ada obat untuk mengurangi demam dan menghilangkan sakit kepala. Rasanya badanmu masih agak sedikit hangat. Kalau nanti malam demammu tidak turun, kita harus ke dokter."

.

Ia kemudian menyodorkan dua butir pil dan segelas air putih.

.

Aku kemudian menenggak pil itu pelan-pelan.

.

Ia kemudian membaringkan aku lagi di tempat tidurnya setelah itu.

.

"Panggil aku kalau kau membutuhkan sesuatu. Aku akan membersihkan apartemenku dulu. Okey?"

.

Ia kemudian mengecup keningku.

.

"Istirahatlah dulu." bisiknya pelan di telingaku.

.

Aku pun menganggukkan kepalaku pelan.

.

Kris lalu bergegas keluar kamar dan membersihkan apartemennya.

.

Aku lagi-lagi dibuatnya terdiam.

.

Kenapa Kris jadi sebaik ini? Kenapa?

.

Aku takut aku akan jatuh cinta padanya lagi.

.

Aku takut akan menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Tao, orang marketing itu.

.

Aku takut kalau ternyata aku hanya menjadi selingkuhan Kris.

.

Aku takut!

.

Kontrol dirimu Suho! Jangan sampai kau jatuh cinta lagi padanya! Kau tak mau dicap sebagai pengganggu dalam hubungan orang lain bukan?

.

.

.


.

.

Aku terbangun saat hari sudah menjelang sore.

.

Lagi-lagi ia ikut tertidur di sampingku. Ia tertidur sambil memeluk pinggangku.

.

Dulu wajah itu selalu membuatku berdebar-debar. Sekarang pun rasanya tak jauh berbeda. Perasaanku betul-betul campur aduk.

.

Aku tak bisa memungkiri bahwa hati kecilku ini masih ingin selalu berada di sampingnya. Mungkin aku masih ada rasa terhadapnya. Bahkan bisa jadi aku jatuh cinta pada sosoknya yang sekarang. Ia memang Wu Yifan yang dulu pernah menghiasi hari-harinya, itu tak akan pernah disangkalnya. Tapi sosok yang di hadapannya ini adalah Kris Wu. Sosok yang lebih dewasa da lebih baik dibandingkan Wu Yifan.

.

Tapi...

.

Sisi lain hatiku mengatakan kalau aku perlu berhati-hati. Aku sudah pernah sakit hati karenanya. Walau sekarang alasan kenapa aku sakit hati mungkin terdengar konyol.

.

Tetap saja aku tak ingin merasakan lagi yang namanya sakit hati. Aku tak ingin jatuh ke titik terendah dalam hidupku lagi. Cukup satu kali saja aku mengalaminya.

.

Aku kemudian membalikkan badanku. Itu membuat Kris terbangun.

.

"Jam berapa sekarang? Panasmu sudah turun?" ia lalu meraba keningku.

.

"Sepertinya demammu sudah turun. Kepalamu masih pusing?" tanyanya lagi.

.

Aku menggelengkan kepalaku.

.

"Baguslah kalau begitu." Bisiknya. Ia lalu memelukku dari belakang. Ia kemudian mengecup leherku pelan.

.

Aku bergidik geli.

.

"Tolong Kris. Jangan begini." ucapku pelan dan terbata-bata. Rasanya air mataku mau mengalir lagi karena mengingat bahwa aku akan menjadi orang ketiga dalam kehidupan Kris sekarang.

.

Kris pun nampak menyadari badanku yang sedikit bergetar. Aku berusaha menahan agar air mataku tidak jatuh.

.

"Ssssttttt~ Uljima... Uljima..." bisiknya pelan sambil mengelus rambutku.

.

"Aku jadi ingat. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu." Katanya lagi.

.

Ia lalu membuatku menatap wajahnya.

.

"Aku benar-benar tidak mengerti siapa yang kau maksud kekasihku. Tapi kalau yang kau maksud itu Tao, maka aku harus meluruskannya. Tao itu adik sepupuku." Jelasnya.

.

Aku pun membelalakkan mataku. Tao adalah adik sepupu Kris?

.

"Kau mungkin salah menduga karena kami memang akrab." Sambungnya lagi.

.

Aku pun terdiam.

.

"Tapi aku senang kalau melihatmu seperti itu. Kau cemburu kan melihat kedekatan kami?" godanya.

.

Wajahku kemudian merona.

.

Ia kemudian membenamkan wajahku di dadanya yang bidang.

.

"Aku senang. Itu artinya ada aku di dalam hatimu." Ujarnya.

.

Kami lalu terdiam lama sekali.

.

Aku baru menyadari kebodohanku. Aku menyimpulkan terlalu cepat. Aku bahkan tak pernah terpikir sampai sejauh itu. Aku tak melihat bahwa ada kemungkinan bahwa Tao adalah anggota keluarga Kris.

.

Aku kemudian merasakan ada yang mengganjal di bawah sana.

.

Gawat.

.

Itu berasal dari balik celana Kris!

.

Kris kemudian melepas pelukannya.

.

"Tenanglah. Aku sudah bilang kalau aku tidak akan menyentuhmu, kecuali kau mengijinkanku. Lagipula kau masih sakit. Aku tak akan tega melakukannya dengan orang yang lagi sakit. Aku sebaiknya harus mandi air dingin untuk mendinginkan kepalaku."

.

Ia lalu bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Tak lama aku bisa mendengar tetesan air yang jatuh dari shower dari kamar mandi.

.

Aku mengusap wajahku.

.

Bagaimana ini?

.

Aku bisa saja menyerahkan diriku.

.

Tapi...

.

Aku takut.

.

Jujur aku masih takut.

.

Aku takut kalau ini hanya perasaan sementara.

.

Aku takut kalau ini mungkin hanya sekadar pelampiasan semata.

.

Aku takut kalau ini terjadi hanya karena kami terbawa emosi sesaat.

.

.

.


.

.

Malam itu Kris memesan Samgyetang untuk memulihkan kondisi badanku.

.

Pesanan delivery itu datang tepat setelah aku selesai mandi. Kris kemudian menyuruhku segera berpakaian supaya Samgyetang-nya tidak keburu dingin.

.

Lagi-lagi ia menyuapiku dengan telaten.

.

Ia bahkan memberi ginseng yang menjadi bagiannya untukku.

.

Ia bilang akulah yang paling membutuhkan banyak nutrisi sekarang.

.

Setelah selesai makan malam, ia menuntunku ke ruang tengah. Ia membantuku duduk di sofa.

.

"Kau bisa menonton TV dulu. Ini remote-nya. Aku harus mengganti sprei dan selimut dulu." Ia lalu meninggalkanku.

.

Aku bisa mendengar ia sedang membersihkan kamarnya dari suara vacum cleaner. Ia kemudian mengganti sprei dan sarung bantal. Ia lalu meletakkan selimut yang baru di atas tempat tidur.

.

Tak lama setelah itu aku mendengar bunyi suara mesin cuci. Ia nampaknya segera mencuci sprei, sarung bantal, dan selimut yang kemarin kami pakai.

.

Aku sendiri tak tahu harus melakukan apa sendirian di ruang tengah.

.

Aku sudah lama tidak menonton TV. Selama aku pindah ke sini pun, TV di apartemenku tak pernah aku sentuh.

.

Aku kemudian melihat sekelilingku.

.

Rak buku besar berjejeran menutupi dinding ruang tengah. Terdapat beraneka macam buku disana. Ada biografi, ada novel, ada komik, ada majalah, dan berbagai macam buku yang lain.

.

Itu membuatku berpikir bahwa Kris mungkin masih seperti dengan Wu Yifan yang dulu aku kenal.

.

Tanpa ku sadari mataku terasa begitu berat. Aku kemudian menyandarkan kepalaku dan jatuh tertidur.

.

.

.


.

.

Setelah menjemur sprei, sarung batal, dan selimut yang baru dicucinya, Kris kemudian menuju ke ruang tengah untuk melihat keadaan Suho.

.

Ia mendapati Suho telah jatuh tertidur begitu pulas.

.

Memandang wajah Suho yang sedang tertidur membuat hati Kris begitu tenang. Kulitnya yang putih seperti pualam begitu menyejukkan hatinya.

.

Kris pun segera menggendong Suho dan membawanya menuju kamar.

.

Sudah tiga kali ini Kris menggendong tubuh Suho. Kris merasakan sedikit nyeri di dadanya ketika tahu Suho begitu kurus. Badan Suho begitu ringan. Sedikit berbeda ketika dulu mereka SMA.

.

Dulu Suho agak sedikit gempal tapi tidak terlalu gemuk. Badannya cukup berisi. Kris selalu suka menowel pipi Suho. Walau tentu saja meremas bokong Suho adalah hal yang paling Kris sukai.

.

Sekarang entah kemana perginya Joonmyeon yang seksi dan montok. Ia sudah berubah menjadi Suho yang ceking dan kurus. Makanya Kris tidak bisa mengenali langsung kalau Joonmyeon-nya dan Suho adalah orang yang sama.

.

Kris kemudian membaringkan tubuh Suho hati-hati.

.

Suho nampak menggeliatkan badannya saat tubuhnya menyentuh kasur.

.

"Yifan..." panggil Suho dalam keadaan tidur nyenyak . Ternyata ia masih sering berbicara ketika tertidur.

.

Kris mendengar Suho menyebut nama aslinya.

.

Mendengar hal itu membuat hati Kris lagi-lagi agak sedikit perih.

.

Ia mengganti namanya bukan tanpa sebab.

.

Kini ia bukanlah Yifan yang dingin.

.

Ia bukanlah Yifan yang nakal dan kekanak-kanakan.

.

Ia bukanlah Yifan yang selalu berlagak cool.

.

Ia sudah menjadi Kris yang sedikit lebih hangat dibanding Yifan.

.

Ia sudah menjadi Kris yang lebih dewasa dan serius dibanding Yifan.

.

Ia sudah menjadi Kris yang tampil apa adanya.

.

Kris kemudian mematikan lampu utama dan berbaring di samping Suho.

.

Kris berharap orang yang ada di hati Suho adalah Kris yang sekarang. Ia tak ingin Suho menganggapnya masih sebagai Yifan.

.

Itu pun berlaku baginya. Ia merasa cintanya kepada Suho jauh lebih besar dibanding dengan dulu saat ia mencintai Joonmyeon. Suho yang sekarang membuat jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dibanding saat ia masih Kris kenal sebagai Joonmyeon.

.

Kris ingin memulainya lagi dari awal. Ia ingin dirinya dan orang yang dicintainya ini memulai lembar kehidupan barunya sebagai Kris dan Suho. Kehidupan mereka dulu sebagai Yifan dan Joonmyeon biarlah berada di masa lalu.

.

Kris lalu membawa Suho ke dalam pelukannya. Entah mengapa keberadaan Suho dalam pelukannya bisa membuat kualitas tidurnya meningkat. Insomnia yang selama ini dideritanya mendadak hilang saat Suho ada dalam pelukannya.

.

Kris lalu mengecup kening Suho sembari membisikkan kata selamat malam pada telinga Suho.

.

Kris pun menyusul Suho ke dalam alam mimpi dalam hitungan detik.

.

Malam itu bulan bersinar terang menembus jendela kamar Kris.

.

Kris dan Suho kini tertidur dalam posisi berpelukan. Mereka berdua nampak begitu nyenyak. Semoga saja itu menjadi awal yang baik untuk hubungan mereka.

.

.

.


.

.

Seperti yang sudah saya tulis di kolom terakhir ATT chapter Pertemuan 2 Insan, tulisan-tulisan saya akan mengalami keterlambatan dan tidak bisa reguler seperti biasanya.

.

Untuk CN1 chapter mendatang akan jeda agak sedikit lebih lama dibandingkan yang sekarang karena akan saya selingi dengan versi Sehun. Walaupun ceritanya berbeda, tapi ada kelanjutan dari chapter My Neighbour dari versi Sehun yang akan mengantar kita ke CN1 chapter berikutnya. Saya sudah jelaskan di awal kalau saya akan menulis spin off dari beberapa sudut pandang rekan-rekan editor Suho dan kebetulan waktunya pas untuk saya selipkan agar cerita CN1 semakin berwarna.

.

Tapi seperti yang saya tulis di chapter sebelumnya, spin off ini akan jarang-jarang saya update karena fokus utama saya tetap ke duo leader kita ini. Saya akan update kalau memang perlu dan sesuai dengan jalan cerita yang sudah saya tulis.

.

Mengenai ending, terus terang mungkin cerita ini bisa jadi tanpa ending karena saya rasa akan selalu ada cerita baru di seputar kehidupan Krisho di cerita ini. Agak sayang rasanya kalau cerita saya akhiri terus tiba-tiba suatu saat saya dapat ide untuk menulis satu atau beberapa chapter lagi. Dibanding kalau harus memuat chapter itu menjadi satu cerita baru, mending saya jadikan satu saja walaupun bisa banyak chapter nantinya.

.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca, para pemberi review yag sudah memberikan semangat buat saya, pembaca yang sudah membuat tulisan ini menjadi salah satu tulisan favorit mereka, dan yang sudah mengikuti tulisan saya ini.

.

Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan-tulisan saya yang berikutnya!

.

\(^o^)/