"Apa yang Sasuke san pikirkan? Bagaimana bisa dia menciumku begitu saja!" batin Hinata gelisah. Ia lalu berlari menuju kamarnya.

"Kau kenapa Hinata?" Tanya Neji yg berpapasan dengannya.

"Daijobu Nii san" jawab Hinata lalu mempercepat langkahnya. Sesampainya di kamar ia lantas menutup pintu kamarnya kemudian memandangi cermin dihadapannya. Tampak oleh Hinata bibirnya yg tadi dikecup oleh Sasuke. Meski Hinata mengerti Sasuke melakukannya saat sedang tak sadar, tetap saja itu membuatnya tercengang. Karena itu adalah,

'Ciuman pertamanya..'

'Di malam dengan rintik hujan..'

'Dengan pacar sahabatnya..'

"Tidak! Ini semua bukan salahku! Juga bukan salah Sasuke san!" batin Hinata masih berkecamuk. Ia lalu memutuskan untuk istirahat. Ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan itu.

Sabtu pagi ini sekolah masih tak terlalu ramai. Karena kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai pukul 9 nanti. Namun setibanya di kelas Hinata tampak terkejut dengan Tenten dan Ino yg berada di bangku Sakura. Mimik wajah mereka yang membuat Hinata terkejut. Tak biasanya Ino sedih sperti itu.

"Ada apa Ino chan, Tenten chan?" Tanya Hinata setelah menghampiri mereka.

"Sakura chan, hari ini dia tak masuk sekolah" jawab Tenten pelan.

"Apa Sakura chan sakit?" Tanya Hinata mulai cemas.

"Bukan, ini karena Ayah Sasuke!" ujar Ino dengan tatapan sedih.

"Ayah Sasuke san?" Tanya Hinata.

"Iya, Sakura chan bilang, kesan pertama ayah Sasuke padanya buruk. Jadi dia memutuskan untuk tidak masuk sekolah, menenangkan diri dulu" terang Ino.

"Astaga Sakura chan.." Hinata semakin sedih mendengarnya. Sakura tengah dilanda kesedihan yang sangat. Tapi apa yang ia lakukan semalam?

"Mm..minna, aku mau ke toilet dulu" pamit Hinata lalu keluar ruangan kelas. Kepalanya benar-benar penuh sesak rasanya. Tiba-tiba di koridor depan, matanya melihat sosok Sasuke. Hinata lalu hendak berbalik namun terlambat! Sasuke sudah melihatnya. Sasuke lalu berjalan cepat mengejar Hinata.

Ia kemudian mencengkeram lengan Hinata dan mengajaknya ke samping kantin Sekolah.

"Maaf untuk semalam" ujar Sasuke masih mencengkeram lengan Hinata.

"I,iya Sasuke san, aku mengerti itu tidak sengaja, tapi Sakura chan.."

"Sst..! Jangan kau beritahukan pada Sakura!" Sasuke menempelkan jari telunjuknya ke bibir Hinata sembari melihat sekelilingnya.

"Doushite Sasuke san?" Hinata agak terkejut dengan reaksi Sasuke.

"Lebih baik jika Sakura tidak tahu akan hal ini. Dia sudah cukup terbebani" jawab Sasuke lalu menunduk.

Hinata dapat melihat bagaimana Sasuke begitu mempedulikan Sakura. Sekilas terbersit keinginan di hatinya untuk mendapatkan perlakuan yang sama dari Sasuke. Tanpa terasa wajahnya merona merah memikirkan hal itu.

"Aku mengerti Sasuke san" jawab Hinata.

"Sankyuu" Sasuke lalu meninggalkan Hinata yang masih terdiam ditempatnya berdiri.

Sakura hanya bisa duduk terdiam di kursi belajarnya. Hanya di hari Minggu ia bisa beristirahat di kamarnya di jam-jam ini.

"Sakura chan, kenapa tak juga sarapan?" Tanya Ibu Sakura dari balik pintu kamar.

"Nanti saja kaachan" jawab Sakura. Ia kembali melihat ke luar jendela kamarnya.

'Biiip…biiip…..' ponsel Sakura berdering. Ada nama Sasuke di layar ponselnya. Meski enggan menerimanya namun akhirnya ia meraih ponselnya.

"Sakura.."

"Ada apa Sasuke kun?"

"aku tidak melihatmu disekolah?"

"Maaf, aku tidak berangkat"

"Kau sakit?"

"Tidak Sasuke kun, aku baik-baik saja"

"Apa karena orang tuaku?"

"Tidak Sasuke kun,"

"uso"

"aku tidak berbohong Sasuke kun"

"Kalau begitu kita bertemu"

"maaf, tidak hari ini"

'Klik'

Sakura mematikan ponselnya. Ia kembali merenung. Ia memang sangat menyukai Sasuke. Namun bayangan ayah Sasuke benar-benar membuatnya takut untuk melanjutkan perasaannya. Takut berharap lebih banyak pada Sasuke.

Takut akhirnya nanti cintanya yang semakin besar pada Sasuke kandas begitu saja.

Seakan perasaan yang ia miliki sekian lama untuk Sasuke berganti dengan rasa takut akan perlakuan dingin ayah Sasuke. Akhirnya ia kembali merebahkan dirinya ke ranjang.

Tiba-tiba ponselnya kembali bordering. Kali ini panggilan dari nomer yang tak dikenal.

"Moshi-moshi"

"Nona Haruno Sakura?"

"Iya, saya , anda siapa?"

"Bisakah anda datang kemari? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan"

Sakura lalu mendengarkannya dengan cermat.

"Baiklah saya akan kesana"

"Terima kasih"

'klik'

"Sudah tiga hari ini Sakura chan tidak masuk sekolah" gumam Ino sembari bertopang dagu.

"Iya, bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita menjenguknya?" usul Tenten.

"Itu bagus,! Bagaimana Hinata chan?"Tanya Ino pada Hinata. Namun Hinata masih kukuh dengan posisinya yang tengah melamun.

"Hinata chan," panggil Tenten.

"Ya Tenten chan," jawab Hinata setelah terbangun dari lamunannya.

"Apa kau sedang sakit?" Tanya Ino.

"Mm..tidak Ino chan. Maaf, apa aku tadi melewatkan sesuatu?" Tanya Hinata.

"Bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita menjenguk Sakura chan? " Tanya Hinata.

"Kalau memang bisa aku jg ingin menjenguk Sakura chan" jawab Hinata.

"Mm..mungkin akan lebih baik kalau Tenten chan mengajak Onii san juga" tawar Hinata.

"Iya yah, aku nanti juga akan mengajak Sai , pasti sudah tau kan?"Tanya Ino.

"Mm..mungkin. Nanti coba ku hubungi Neji kun" jawab Tenten.

"Tapi bagaimana kalau Sasuke kun kuberi tahu saja supaya kita bisa berangkat bersama sekalian?" tawar Ino.

"Mm..Ino chan, bisakah aku saja yang memberitahu Sasuke san?"Hinata kemudian menawarkan diri.

Ino dan Tenten sedikit terkejut.

"Oh, baiklah kalau begitu"jawab Ino kemudian.

"Mm..kalau begitu ku beritahu Sasuke san dulu" pamit Hinata lalu pergi.

"Apa ada yang salah dengan Hinata chan?" Tanya Ino heran.

"entahlah, tapi memang kelihatannya ada sesuatu"

Hinata berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah. Sesampainya didepan kelas Sasuke, perlahan ia menuju meja Sasuke. Disana Sasuke sedang duduk diam menghadap jendela disamping ruang murid laki-laki lain dibuat terkesima dengan kedatangan Hinata.

"Hey, Hime chan, kau mau menemuiku?" goda Kiba kemudian mendekati Hinata.

"Gomen Kiba kun, aku ingin bertemu Sasuke san" jawab Hinata lalu menghampiri Sasuke. Kiba mendengus kesal mendapati hal itu.

"Sasuke san"

"Hinata? Ada apa?"

"Nanti Ino chan, Tenten chan, Onii san, jg Sai san akan menjenguk Sakura chan sepulang sekolah"

"Lalu?"

"Apa Sasuke san mau ikut jg bersama kami?"

"Sakura bilang sedang tak ingin bertemu denganku"

"Tidak mungkin Sakura chan.."

"Dia sendiri yang mengatakannya" potong Sasuke.

"Kenapa tidak coba Sasuke san bertemu dulu dengan Sakura chan. Mungkin dengan begitu semuanya akan jadi lebih baik."

"Baiklah"

"Mm..jaa ne" Hinata lalu meninggalkan ruang kelas Sasuke.

Kiba kemudian menghampiri Sasuke.

"Ada apa Sasuke? Bukankah kau pacaran dengan temannya Hime chan?" Tanya Kiba curiga.

"Sakura lah yang kami bicarakan" jawab Sasuke sembari melihat Hinata yang semakin menjauh dari kelasnya.

"Yaa..minna, apa aku terlambat?"Tanya Sai dengan senyum terlihat datang bersama seorang murid berambut orange menyala.

"Sai kun, kenapa baru datang? Kami sudah berkumpul disini daritadi" ujar Ino lalu menggamit lengan Sai mesra.

"Maaf Ino chan, aku mengajak teman baruku."jawab Sai.

"Aku Uzumaki Naruto, salam kenal semuanya. Aku teman baru Sai" si anak baru berambut 'wow' itu lalu sedikit membungkukkan badannya.

"Ayo kita berangkat" ajak Neji. Semuanya berduyun-duyun menuju mobil Neji.

Tenten lalu duduk disamping Neji yg mengendarai mobil itu. Kemudian Ino dan Sai juga Naruto duduk dibelakang mobil sport Neji. Sementara Sasuke dan Hinata terdiam karena tempat telah penuh sesak.

"Maaf Sasuke, tapi kurasa mobil ini tidak cukup untuk bertujuh. Hinata, kau ikut Sasuke saja yah" ujar neji.

"Aku juga ingin naik mobilku sendiri saja. Ayo hinata" ajak Sasuke.

"Ehh..baik Sasuke san"Hinata lalu mengikuti Sasuke yang berjalan menghampiri mobilnya ang parkir tak jauh dari tempat Neji memarkirkan mobilnya.

Setelah Sasuke masuk ke mobilnya Hinata kemudian ikut masuk dan duduk di kursi belakang.

"Kenapa kau duduk disana?"tegur Sasuke sembari menengok ke belakang.

"eh, maaf" Hinata lalu pindah duduk disamping Sasuke.

"Disini lebih baik" ujar Sasuke.

"Iya maaf," Hinata masih lagi-lagi hanya berdua dengan Sasuke di mobilnya. Inner'nya mengira-ngira apakah akan ada suatu hal yang terjadi lagi? Tanpa ia sadari seakan ia meminta hal itu. Wajahnya pun merona merah. Ternyata Sasuke dari tadi memperhatikannya! Hinata pun semakin malu dibuatnya. Hinata mencoba memalingkan pandangannya kearah lain sembari melirik. Namun ternyata Sasuke masih saja melihatnya.

"Cih, kau ini" gumam Sasuke lalu tiba-tiba tangannya mengarah ke Hinata.

"Apa yang akan kau…"

Ternyata Sasuke hendak menarik sabuk pengaman di kursi Hinata kemudian memasangkannya. Wajah mereka pun sangat dekat sampai Hinata dapat mencium parfum Sasuke.
"Bagaimana kau bisa lupa hal ini" ujar Sasuke. Namun Hinata masih terdiam. Sasuke lalu memandang Hinata masih dengan posisi yang sama.

"Kenapa?"

"Ehh..tidak apa-apa Sasuke san" jawab Hinata kemudian berusaha memalingkan wajahnya. Namun secepat kilat Sasuke justru meraih dagu Hinata dan mendekatkannya ke wajahnya.

"Apa kau masih mengingat ciuman itu Hinata?"Tanya Sasuke.

Nafas Hinata terasa terlalu sesak untuk menjawabnya.

Sasuke semakin menarik dagu Hinata mendekat pada wajahnya, hingga nafas Hinata yang mulai tak beraturan itu terasa di wajahnya.

"Apa untuk melupakannya kau butuh satu ciuman lagi?"

~TBC~

Hehe,.,. gomen ne, buat chapter ketiga ini lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget!

Hehe… harap maklum, masih Business woman xD *plak! Digampar Deidara.

Masih banyak typo juga aneh, acakadut, de el el deehh,.

Yang ca'em" jgn lupa review yaaah xD