Deg! Jantung Hinata serasa hendak meloncat dari tempatnya.
.
Ciuman itu,
Akankah hal itu terulang lagi?
.
Namun kali ini Sasuke 100% dalam keadaan sadar! Hinata lalu memejamkan matanya.
Jantungnya masih berdegup kencang. Bahkan Hinata sekarang takut Sasuke mendengar degup jantungnya yang sungguh tak wajar. Apalagi dengan aroma parfum Sasuke. Hidung Hinata pun merasakan hembusan nafas hangat Sasuke.
"Hn.. kau benar-benar merasa se'mobil dengan seorang pemerkosa ternyata" gumam Sasuke lalu mulai melajukan mobilnya.
Matanya menatap lurus ke depan.
'ternyata tidak'
"Ehh..maaf, bukan begitu Sasuke san"
"Dan berhentilah memanggilku begitu!aku ini seusia denganmu," ujar Sasuke. Mobilnya melaju semakin kencang.
"Dan aku ini pacar teman baikmu. Jadi berhenti memanggilku dengan formal begitu!" ujar Sasuke. Kali ini kecepatan mobil lebih kencang dari sebelumnya.
"Baiklah Sasuke. Tapi bisakah kau lambatkan sedikit laju mobilnya?" pinta Hinata dengan posisi badan sedikit meringkuk.
Sasuke masih tak bergeming.
"Aku takut" Hinata mulai menitikkan air mata. Kali ini matanya terpejam. Ia benar-benar ketakutan.
Sasuke tertegun melihat Hinata menangis.
"Maaf" Ia lalu perlahan mulai memperlambat laju mobilnya. Tak berapa lama kemudian sampailah mereka didepan rumah Sakura. Tampak mobil Neji yang telah lebih dulu tiba disana sudah terparkir.
"Oiyah, tas'mu yang tertinggal kemarin saat mengantar Sakura, masih ada di kursi belakang."
"Hapus air matamu, kita sudah sampai" ujar Sasuke sembari mengelus kepala Hinata. Ia lalu keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Oiyah, tas'mu yang tertinggal kemarin saat mengantar Sakura, masih ada di kursi belakang." tambah Sasuke. Hinata kemudian mengambil tas'nya di kursi belakang mobil lalu mengikuti Sasuke.
.
Baru sekali Sasuke memencet bel rumah sakura, pintu rumah kemudian terbuka.
"Sasuke kun, Hinata chan?"
"iya oba san" ujar Sasuke lalu sedikit membungkuk dihadapan ibu Sakura. Begitu pula Hinata.
"Teman-teman yang lain sudah diatas. Kamu segera kesana saja dengan Hinata chan. Oba san akan keluar sebentar" pamit Ibu Sakura.
"Wakatta obaa san" jawab Sasuke lalu masuk ke dalam diikuti Hinata. Mereka menuju ke kamar Sakura.
Terdengar tawa Ino yang disusul dengan cekikikan Tenten.
'Aah..Ino chan dan Tenten chan memang gadis yang menyenangkan..' batin Hinata.
"Maaf aku terlambat" ujar Sasuke setelah membuka pintu kamar Sakura.
Tampak Sakura sedang duduk di tengah ranjang bersandar dinding dengan Ino dan Tenten di tepian sementara Sai dan Neji duduk di pinggir jendela dan Naruto duduk di kursi belajar Sakura.
Sakura tertegun melihat Sasuke. Demikian juga Sasuke. Baru tiga hari ini ia tak bertemu Sakura tapi tampaknya wajah ceria Sakura telah hilang entah kemana.
Sakura lalu bangun dari ranjangnya dan berjalan perlahan menuju Sasuke yang masih ada di muka pintu.
Semua mata menatap kearah mereka.
"Maafkan aku Sasuke kun.." ujar Sakura lalu membelai lembut pipi Sasuke. Matanya tampak berkaca-kaca. Dengan keadaannya yang sekarang, ditambah dengan air mata itu, Sakura terlihat begitu menyedihkan.
"daijobu" jawab Sasuke lalu memeluk Sakura erat. Ino dan Tenten pun tersenyum bahagia melihatnya.
"Hinata chan?" Sakura melihat Hinata dari balik punggung Sasuke.
"Eh..iya Sakura chan, tadi aku kesini bersama Sasuke" jawab Hinata pelan.
"Kalau begitu masuklah" ajak Sakura lalu menggandeng tangan Hinata sementara lengan kirinya menggamit lengan Sasuke.
.
Mereka lalu mulai berbincang-bincang dengan hangat.
"Hey, kalian tertawa sekencang ini apa tidak ada PR yang diberikan oleh guru Kakashi? Atau Guru Asuma?" Tanya Sakura.
"Hihii..tidak ada. Kau tahu, guru Kakashi kan sedang jatuh cinta dengan guru Yugao. Jadi mungkin karena itu perasaannya sedang berbunga-bunga" ujar Ino mulai menyebar gosip.
"Guru Yugao yang cantik pengajar kelas IIB itu?" Tanya Sai dengan polosnya.
Sontak Seluruh ruangan kecuali Sai yang kebingungan, Ino yang ngambek dan Sasuke yang hanya tersenyum simpul tertawa terbahak-bahak karena ulah Sai. Lantas jeweran pun mendarat di telinga Sai.
"Aish..gomen na Ino chan" seru Sai dengan wajah meringis kesakitan.
"Jadi sekarang Ino chan'mu ini kalah cantik dengan Yugao sensei?" Tanya Ino masih dengan pose'nya yang semula.
"Iie, iie,.,. Ino chan'ku yang tercantik" ujar Sai. Ino lalu melepas jeweran di telinga Sai.
"Astaga..bagaimana bisa Sai tiap hari menanggapi kenarsisan Ino itu?!" gumam TEnten yang kemudian mendapat deathglare dari Ino.
"hahaa…kalian ini. Perutku jadi sakit karena ketawa seperti itu" Sakura masih cekikikan tapi kali ini sambil memegangi perutnya.
"Apa kau mau ke kamar mandi Sakura chan?" Tanya Tenten.
"Mm..iya rasanya perutku jadi agak mual" jawab Sakura berusaha berdiri dari ranjangnya.
"Ayo kuantar Sakura chan" tawar Ino.
"Biar aku saja" Sasuke lalu mendekati Sakura dan menggendongnya ala Bridal style.
"Bukannya Sasuke agak berlebihan?" Tanya Sai. 'PLAKK!' kali ini kepala Sai sebagai sasarannya.
"Emangnya Sai kun! Tidak pernah memperlakukanku seperti itu" gumam Ino.
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?" Tanya Naruto yang sedari tadi bingung dengan tingkah teman-teman barunya ini.
"Entahlah," jawab Neji ringan.
Sementara itu mata Hinata sendu menatap Sakura dan Sasuke.
Sasuke telah sampai di kamar mandi.
"Muntahkan saja biar perutmu lega" ujar Sasuke kemudian menepuk-nepuk perlahan punggung Sakura didepan wastafel.
"apa kau butuh minyak kayu putih?" tawar Sasuke. Sakura hanya menggeleng perlahan. Kemudian berusaha memuntahkan isi perutnya. Sasuke kembali menepuk punggung Sakura perlahan.
"Pakailah handuk ini" Sasuke lalu menaruh handuk kecil itu disamping wastafel. Sakura lalu terdiam.
"Maafkan aku Sasuke kun" ujar Sakura lalu memeluk Sasuke. Sementara Sasuke masih terdiam membalas pelukan sama-sama terdiam dalam pelukan itu.
"Tak ada yang perlu dimaafkan" ujar Sasuke lalu meraih dagu Sakura.
"Jangan Sasuke kun, aku baru saja minum obat, pasti pahit…."
Belum sampai Sakura melanjutkan perkataannya Sasuke telah menciumnya terlebih dahulu.
Sementara itu di kamar Sakura…
.
.
"Menurutmu apa yang terjadi dengan mereka disana?" celetuk Ino tiba-tiba.
"Iya sudah dari tadi mereka disana" gumam Tenten.
"Mungkin terjadi sesuatu pada Sakura" gumam Neji.
"Kan ada Sasuke" celetuk Naruto.
"Dia bukan tipe yang akan meminta bantuan saat dia tidak mampu mengatasi sesuatu" jawab Sai.
"Kalau begitu biar aku lihat saja minna" ujar Hinata lalu bangkit dari kursinya dan menuju ke kamar mandi. Saat hendak masuk kedalam betapa terkejutnya ia dengan apa yang dilihatnya.
Di dalam Sasuke sedang mencium Sakura yang bersandar pada wastafel.
"Sasuke kun,,"gumam Sakura saat mereka melepas ciumannya.
"Obat? Sama sekali tidak pahit" ujar Sasuke lalu kembali mencium bibir Sakura lebih dalam. Tanganny memeluk Sakura yang sedang lemah agar tak terjatuh.
Hinata hanya terdiam melihatnya. Namun airmata'nya tiba-tiba meleleh. Ia ingin segera pergi dari tempat itu tapi seolah kakinya terpaku. Ia, tengah melihat orang yang mendapat ciuman pertamanya mencium gadis lain Hatinya merasa sangat sakit.
"Maafkan aku Sakura chan, tapi sepertinya aku juga harus memiliki Sasuke, Sasuke kun" batin Hinata.
Hinata lalu berjalan perlahan kembali menuju kamar Sakura.
Ia tahu setelah ini mungkin ia akan kehilangan dirinya. Tapi, Hinata benar-benar telah jatuh cinta pada Sasuke. Meski dengan kenyataaan pahit dihadapannya. Cinta itu selalu mengalahkan logika bukan?
Dan kini Nona Hyuuga itu telah memantapkan langkahnya.
"Kau juga akan mencintaiku Sasuke kun"
~~ TBC ~~
Hehe.. gomen ne, kali ini atashi masih aja gk bisa posting panjang", Klo ada yg mau saran plot selanjutnya silakan PM un?! ^^
oiyah, jangan lupa Review /
Soalnya klo review'nya dikit jadi kurang semangat buat lanjutinnya u.u *pundung
Jaa, tunggu chapter selanjutnya..
Arigatou ^^
*bow
