"Oiyah Sakura chan, apa tadi Sasuke menyusulmu di perpustakaan?" Tanya Ino.
"ehh? Tidak. Apa Sasuke mencariku?" Tanya Sakura.
"Iya, ku beritahu dia kalau kau ada di perpustakaan. Aku kira dia segera bergegas menyusulmu kesana" gumam Ino.
"Ayo anak-anak, kita lanjutkan pelajaran hari ini" ujar guru Kakashi yang telah kembali ke kelas dengan buku tebal di tangannya.
"Lalu kemana Sasuke kun..?"
.
._
.
Bel istirahat berbunyi. Para murid pun berhamburan keluar kelas.
"Sakura chan, apa benar-benar sudah merasa baikan?" Tanya Hinata membuka perbincangan empat sekawan itu.
"Iya Hinata chan, aku sekarang jauh merasa lebih baik. Arigatou Hinata chan, selalu mengkhawatirkan aku" ujar Sakura lalu memeluk Hinata.
"aa..itu bukan apa-apa Sakura chan" jawab Hinata.
"ehem..aku kan juga mengkhawatirkanmu Sakura chan" ujar Ino dengan muka cemberut.
"Atashi mo" tambah Tenten.
"Wakatta..kalian memang sahabat baikku" ucap Sakura lalu mereka berempat berpelukan. Hinata memperhatikan Sakura. Sahabatnya ini begitu baik padanya. Ia jadi teringat saat Masa Orientasi Siswa di Konoha Gakuen, Sakura adalah teman pertamanya yang berani melindunginya dari kakak kelas perempuan yang hendak mem-bully Hinata karena takut pacar mereka menyukai Hinata. Masa-masa yang sulit itu berhasil ia atasi bersama Sakura, setelah naik ke kelas II inilah ia baru bertemu dengan Ino dan Tenten yang kemudian berpacaran dengan kakaknya, Neji.
Air matanya perlahan menetes mengingat beberapa waktu ini dia sangat dekat dengan Sasuke saat Sakura tidak masuk sekolah. Namun perasaaannya pada Sasuke masih bercokol dihatinya dan enggan bergeser sedikitpun.
"Hinata chan, kenapa menangis?" Tanya Tenten setelah melepas pelukan mereka.
"Ehh?Nande?" Tanya Ino.
"Nakanaide..(jangan menangis)" Sakura lalu menyeka airmata Hinata.
"Iie..aku sangat bersyukur memiliki Tenten chan, Ino chan, juga Sakura chan.." ujar Hinata. Air matanya mengalir semakin deras. Ia masih belum sanggup untuk jujur.
"Hinata chan.." Tenten dan Ino lalu menepuk perlahan punggung HInata.
"Sudah-sudah, kan aku baru saja masuk sekolah setelah hamper seminggu izin, jadi kita senang-senang saja nee.,?!" ujar Sakura lalu mendorong Ino, Tenten, dan Hinata berjalan menuju kantin.
"Wakatta..wakatta"
.
Sesampainya di Kantin Sakura melihat Sasuke ada diujung kantin bersama Kiba.
"Hey Sakura chan, lihat ada Sasuke disana" bisik Ino.
"Iya..tapi aku sedang lapar Ino chan, ayo kita pesan makanan dulu" ajak Sakura lalu tersenyum.
Ino dan Tenten melongo melihat Sakura yang tidak biasanya bisa mengabaikan Sasuke begitu.
Namun sesampainya didepan meja Ibu kantin, Sasuke bangkit dari kursinya dan menghadang langkah Sakura.
"Sasuke kun.."
"Duduklah denganku" ajak Sasuke.
"Ano..maaf aku hendak berdiskusi dengan teman-teman dulu" tolak Sakura dengan sekilas senyum.
"Hn..baiklah" Sasuke lalu kembali ke kursinya dan meninggalkan uang di meja lalu pergi. Kiba yang melihat Sasuke pergi tanpa pamit hanya bisa melongo.
Sakura lalu bergabung dengan Ino, Hinata dan Tenten.
"Loh..aku kira Sakura chan akan duduk dengan Sasuke" ujar Tenten.
"Sasuke kun sedang tergesa-gesa" jawab Sakura. Senyumnya kembali terukir. Hinata menatap Sasuke dari balik jendela, ia berjalan cepat meninggalkan kantin.
.
.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Para siswa satu persatu mulai meninggalkan kelas. Begitu juga dengan Hinata, Sakura, Ino dan Tenten. Mereka berjalan pulang bersama. Namun sesampainya didepan gerbang sekolah Sasuke menghadang mereka.
"Ada apa Sasuke kun?" Tanya Sakura.
"Ayo kita pulang" ajak Sasuke.
"Eh..kalau begitu kami duluan dulu yah Sakura" ujar Ino takut mengganggu Sasuke dan Sakura.
"Daijobu Ino chan, kita kan mau belajar kelompok" cegah Sakura. Ino dan Tenten kaget mendengar ucapan Sakura baru saja.
"Jadi maaf yah Sasuke kun, mungkin lain kali" jawab Sakura dengan senyum.
"Kalian bisa ku antar dengan mobilku" Sasuke masih berusaha.
"Eh..tidak perlu Sasuke kun, kami sambil mau mampir di Mall dulu. Iya kan Hinata?" Tanya Sakura.
"Ehh..ano, I iya Sasuke" jawab Hinata tergagap.
"Baiklah, hati-hati di jalan" Sasuke menyentuh pipi Sakura lalu kembali ke mobilnya dan pergi.
.
.
"Sakura chan, sepertinya kita harus bicara" ujar Ino membuka pembicaraan setelah mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Ino.
"ehh? Bicara apa Ino chan?" ujar Sakura dengan mulut penuh coklat. Tiap kali Sakura berkunjung ke rumah Ino, Ino selalu meyediakan coklat di kulkas milik kakaknya Deidara pada Sakura karena Sakura sangat menyukai coklat.
"Iya Sakura chan! Sejak kapan kita membicarakan hendak belajar kelompok hari ini? Besok kan hari Minggu" Tanya Tenten dengan nada menginterogasi.
"Iya, apalagi dengan mampir di mall juga" tambah Hinata dengan wajah bingung.
"Kau harus menjelaskan itu semua Sakura chan" tegas Ino.
"ehh? Kan sudah agak lama kita tidak main bersama sepulang sekolah ketika aku sakit" jawab Sakura masih dengan mulut penuh coklat.
Namun mendengar penjelasannya, Ino, Hinata dan Tenten masih pada mimic wajahnya yang semula. Penuh kecurigaan.
"Apa harus direncanakan jauh hari dulu?" Tanya Sakura dengan wajah polos ditambah celometan coklat di pipinya.
"aissh..sudah lah, lebih baik kita lupakan saja. Ada yang mau menyiapkan makan siang denganku?" Tanya Ino.
"Ayo ku bantu Ino chan" tawar Hinata. Mereka lalu bersama-sama menuju dapur. Sementara Tenten menonton TV , Sakura terdiam dengan coklat ditangannya.
.
.
.
Malam itu langit sangat cerah. Bintang bintang berkerlap-kerlip memancarkan pesonanya. Seolah alam tengah jatuh cinta. Namun Sasuke justru tengah bingung. Namun ditepisnya beberapa hal yang daritadi memenuhi kepalanya.
Ia segera meraih ponsel yang daritadi diam di meja kamarnya. Mencoba menghubungi seseorang.
Mulai terdengar suara diseberang.
"Sasuke kun, ada apa?"
"Aku akan menjemputmu"
"Maaf Sasuke kun, aku baru saja pulang dari rumah Ino chan, aku lelah" tolak Sakura.
Sasuke masih diam.
"Maaf.."
"Hn..istirahatlah". Klik
Sasuke kemudian keluar dari kamarnya. Namun belum begitu jauh langkahnya, seorang pelayan datang menghampirinya.
"Tuan muda Sasuke, Fuugaku-sama ingin berbicara dengan Tuan Muda Sasuke" ujar Pelayan itu.
"dimana Tou-sama?" Tanya Sasuke.
"Mari" pelayan itu lalu mengantarkan Sasuke menuju gazebo di samping kediaman Uchiha. Disana ayahnya sedang duduk bersama Itachi, kakaknya. Dan saat Sasuke hendak kesana, Itachi bangkit dari kursinya dan berjalan melewati Sasuke.
"Jangan buat marah Tou-sama "bisik Itachi dengan senyum misteriusnya kemudian berlalu.
"Ciih.."
Sasuke lalu menghampiri ayahnya.
"Tou-sama ingin bicara denganku?"Tanya Sasuke.
"Duduklah" Sasuke lalu duduk di hadapan ayahnya.
"Apa kau masih berhubungan dengan gadis itu?" Tanya ayahnya.
"Gadis itu Haruno Sakura Tou-sama"
"lebih baik segera dapatkan apa yang kau mau darinya lalu tinggalkan dia" ujar Ayahnya.
Wajah Sasuke memanas mendengar perkataan ayahnya.
"Tou-sama, Sakura itu perempuan baik-baik!" ujar Sasuke setengah berteriak.
Ayahnya berdiri lalu merapikan kemejanya.
"Justru karena itu, kau akan melukainya kalau tidak segera meninggalkannya" ujar Ayahnya lalu pergi meninggalkannya.
"Tapi Tou-sama…!" teriak Sasuke. Namun ayahnya tak menggubris sedikitpun perkataannya.
"Aku mencintai Sakura.."bisik Sasuke dengan wajah tertunduk. Entah ekspresi apa yang ada di wajah itu.
.
.
Sementara itu di kamar Sakura.
.
Sakura meletakkan kembali ponselnya. Dan tak sengaja matanya menangkap sebuah buku.
Buku tak berjudul pemberian Naruto. Sakura belum sempat melihat apa isi buku itu. Ia lalu duduk di kursi belajarnya dan mulai membuka buku itu. Ada banyak bekas sobekan di buku itu. Namun ada sebuah tulisan di halaman kedua.
'Suatu kisah ada untuk dikenang, dipelajari, dan dikisahkan kembali…Maka buatlah kisah yang indah untukmu sendiri dan mereka disekitarmu'
Dan setelah itu hanya ada lembar kosong di halaman selanjutnya.
Sakura kemudian mengambil sebuah pensil dan mulai menulis disana. Kali ini, ia ingin dialah yang menentukan akhir bagi kisahnya sendiri.
Ia akan berusaha sebaik mungkin.
Untuk Keluarganya, sahabatnya, dan Cintanya…
.
.
~~~_ TBC _~~~
Sankyuu udah baca ff'q kali ini…
Dan menanggapi beberapa review dari my lovely readers :3 , Author mau jujur aja deeh,,,
Sebenernya FF ini adalah request dari seseorang. Author buat FF ini setulus hati buat dia trus pembaca disini,,
Tapi karena dia adalah motivasi utama buat FF ini, jdi Author selalu tanya pendapat dia tentang FF ini, dan dia selalu bilang FF ini bagus bangett..itu pun nggak di review bilangnya -_-
Intinya itu doank sihh..
Tanpa dia komen tentang ceritanya, atau chara, atau apapun itu
Makanya Author coba tes dia dengan Kasus ganda Yugao itu tadi, kalau dia bener-bener baca, dia pasti bakal komen itu,
Tapi ternyataaaaaaaaaaaaaaaaa…..
Di chapter selanjutnya pun dia juga Cuma bilang 'bagus bangeettt,, lanjut lagi yaaa'
Hehee…akhirnya author jadi tahu.
Yaaahh..author tapi masih positive thinking juga siih, siapa tau dia Cuma gak nyadar aja..
Semoga ja gituu :3
Kalau reader disini komennya singkat sih nggak pa", karena udah mau baca dan review aja Author dah makasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhh bangett! w/
Tapi buat orang yang minta cerita ini, dan Author buat untuk dia,,
Tapi sepertinya mengabaikannya…
Ya sudahlah nggak pa pa,
Ini jadi pelajaran buat Author juga, biar kalau bikin karya itu dari hati sendiri ^_^
