"Sakura chaaaan….sekarang sudah jam 6 pagi! Kenapa belum bangun juga?"Tanya Ibu Sakura sembari mengetuk pintu kamar anaknya.

"Aku sudah bangun kaachan" jawab Sakura dari dalam kamar.

"Kalau begitu lekas sarapan" Ibunya lalu meninggalkan pintu kamar Sakura.

"Iya kaachan, sebentar lagi" jawab Sakura dari dalam kamar.

Tangannya masih memegangi ponsel yang tadi bordering. Ada pesan dari Sasuke

.

~ Apa hari ini aku bisa menjemputmu? ~

.

Sakura masih terdiam. Ia kemudian mulai mengetik pesan balasannya.

~ Maaf Sasuke kun, hari ini aku ingin sendiri saja ~

.

"Maafkan aku Sasuke kun.."

Pandangan Sakura menerawang. Kemudian matanya menangkap sebuah buku yang tadi malam seolah belum penuh juga dengan coretan yang ia tulis disana. Tapi ini sepertinya berhasil. Ia merasa lebih lega setelah semua kegelisahannya ia tuangkan di buku itu.

"nee, sepertinya aku harus mentraktir Naruto kun untuk ini" gumam Sakura lalu membawa tas'nya keluar dari kamar menuju ruang makan.

"Ohayou…"

.

.

.

.

Sementara itu di ruang makan kediaman Uchiha

.

"Dimana Niisan?" Tanya Sasuke di sela heningnya suasana sarapan pagi di rumahnya. Ia tak melihat kakaknya yang biasanya duduk dihadapannya dengan Istrinya disampingnya.

"Itachi menemani Yugao chan makan di kamar mereka. Dia masih lemas sekali untuk keluar kamar. Padahal dulu saat Okasan mengandung Niisan mu tidak sampai semual itu" gumam Kaa-sama sembari tersenyum.

"Kau sudah berpisah dengannya?" akhirnya Ayah Sasuke turut berbicara.

Sejenak suasana meja makan kembali hening.

"Kenapa Tou-sama mengatakan hal seperti itu disaat seperti ini?" Tanya Sasuke kemudian menatap Ayahnya.

"Dia akan lebih sakit hati lagi saat nanti melihatmu menikahi perempuan lain dibanding berpisah denganmu sekarang. Ambillah keputusan seperti yang Itachi lakukan. Meninggalkan gadisnya untuk bersama Yugao"

"Aku bukan Niisan. Jadi jangan samakan aku dengannya!" ujar Sasuke. Ia meminum seteguk air lalu pergi meninggalkan meja makan.

.

.


.
"Astaga..jadi apa aku tadi berangkat pagi sekali hanya untuk menunggu keterlambatan guru Kakashi selama 1 jam?" gerutu Ino. Semua siswa sudah berkumpul di kelas namun guru Kakashi belum juga terlihat muncul.

"Daijobu Ino chan, kan kita jadi bisa lebih cepat isitirahat" sanggah Tanten.

"Hai hai,"

"Tadi kau sarapan apa Sakura chan?" Tanya Tenten.

"Tamago" jawab Sakura dengan muka malas.

"ehh? Lagi?" ujar Tenten dan Ino

"Un.. kaachan sedang kecapekan sepertinya, jadi hamper seminggu ini aku sarapan tamago dan nasi saja" gerutu Sakura.

"Hinata chan, apa kau sakit?" Tanya Ino yang melihat raut wajah gelisah Hinata.

"Mm.. tidak Ino chan, aku baik-baik saja" jawab Hinata. Namun pandangannya terlihat begitu cemas

"Hinata chan,kau hendak kemana?" Tanya Sakura saat melihat Hinata berdiri dri kursinya.

"Mm..gomen, aku mau ke toilet sebentar" ujar Hinata lalu berlari kecil keluar.

Sesampainya di wastafel, ia kemudian membasuh wajahnya . Kepalanya masih penuh tentang mimpi semalam….

.

.

~ Langit Konoha begitu gelap. Namun hujan sudah berganti dengan gerimis yang menimbulkan bunyi gemericik. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit. Semua terlihat seperti rangkaian foto hitam putih yang bergerak dinamis sehingga terlihat begitu nyata. Rambut indigo'nya terasa basah meski sebuah payung transparan telah melindunginya.

Kakinya seolah hendak menuntunnya ke suatu tempat namun ia masih ragu. Ia tak tahu dimana ia berada meski ia yakin ia masih berada di Konoha. Tapi ia tak pernah merasa mengunjungi tempat ini. Hanya ada kesedihan disini. Yang terlihat dari dedaunan hijau kelabu yang layu.

Ia tak menyukai keadaan ini. Tapi hatinya seolah merasa terwakili oleh keadaan disekitarnya. Seolah gerimis dengan langit yang gelap, daun yang layu dan jalanan yang basah, itulah dirinya.

Sementara itu diseberang jalan terlihat seseorang tengah berdiri disamping temaramnya lampu jalan. Kepalanya tertunduk dengan syal yang hampir menutup hingga hidungnya. Merasa kesepian di tempat seperti ini sungguh sangat mengerikan. Hinata lalu hendak menghampirinya.

Seseorang itu, terlihat kedinginan. Namun saat kakinya hendak menyeberang untuk menghampiri orang itu, tiba-tiba saja banyak orang berlalu-lalang di jalan itu. Ia masih belum menyerah. Dan saat ia berusaha keras menerobos kerumunan orang-orang itu tubuhnya terhempas begitu saja menghantam jalanan. Ia hanya bisa merintih kesakitan namun kemudian berusaha bangkit lagi. Kali ini dia bisa melihat wajah orang itu.

.

"Sasuke…!"

.

Hinata tercekat dengan apa yang dilihatnya.

Sasuke, dengan air mata yang mengalir di pipinya dengan ekspresi wajah yang sendu.

Ia lalu berusaha semakin keras menerobos orang-orang yang semakin banyak melintas dihadapannya. Namun semakin ia berusaha, tubuhnya semakin keras terjatuh. Air matanya tak dapat lagi ditahan.

Mereka hanya terpisah oleh jalanan dihadapannya. Tapi kenapa begitu sulit untuk bisa ada disampingnya?

"aku hanya ingin menyeka air mata mu Sasuke kun.."

.

.

"Mimpi yang mengerikan.." gumam Hinata. Ia lalu kembali ke kelas.

.

.


.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua siswa bersiap-siap pulang.

"Ayo Hinata chan, kita pulang" ajak Tenten pada calon adik iparnya itu.

"Gomen Tenten chan, Niisan memintaku menemuinya sekarang" tolak Hinata.

"Aah..iya aku lupa, Neji kun sepertinya mau pergi bermain futsal dengan teman-temannya. Kalau begitu kami pergi dulu nee Hinata chan. Mata nee.. " pamit Tenten.

"Jaa ne Hinata chan" pamit Sakura dan Ino.

"Jaa minna.." Hinata lalu bergegas menuju kelas Neji.

"Hari ini melelahkan sekali yah..banyak sekali tugas untuk besok lusa" keluh Ino.

"Kalau begitu besok kita belajar bersama nee. Bagaimana? " tawar Tenten.

"Aku setuju! Nanti biar Hinata chan juga ku beritahu" ujar Sakura.

'biip..biipp…' ponsel Sakura berbunyi. Ada sebuah pesan masuk disana. Dari Sasuke

.

~Kali ini bisa pulang bersamaku?~

.

Sakura lalu menutup ponselnya.

"Siapa Sakura chan?" Tanya Tenten.

"Hehe..pesan promosi. Mengganggu saja" jawab Sakura.

"Aah..iya. Aku beberapa hari ini mendapat pesan yang seperti itu. Bahkan ada beberapa yang penipuan juga. Menyebalkan! " keluh Ino.

Sakura hanya tersenyum simpul.

.

.


.

Sasuke masih terdiam. Ruang kelasnya sudah sepi. Hanya ada dia disana. Matanya yang sedari tadi menatap ponsel kini menatap langit dari celah jendela kelas yang masih terbuka.

.

'Apa yang ada dipikirannya?'

'Apa ada suatu hal yang salah yang kulakukan padanya?'

.

Kepalanya terasa begitu berat.

.

.

"arigatou Hinata. Lebih baik kau segera pulang" ujar Neji setelah menerima baju ganti untuk nanti bermain futsal dengan teman-temannya dari Hinata.

"Iya niisan. Aku pulang dulu" pamit Hinata lalu keluar ruangan kelas Neji. Ia berjalan perlahan menyusuri koridor sekolahnya. Matanya lalu menangkap sosok di dalam ruangan di seberang koridor.

'Sasuke..?'

Kakinya perlahan melangkah kesana sementara matanya masih tak lepas dari sosok itu. Sampai akhirnya ia sampai di depan pintu kelas yang terbuka itu.

"Sasuke.." panggil Hinata.

"Hinata, kenapa masih disini?" Tanya Sasuke masih dengan posisinya semula. Duduk diatas meja menatap celah jendela.

"Mm..tadi aku diminta niisan ke kelasnya dulu" jawab Hinata .

"Boleh aku masuk?" tanyanya.

Sasuke lalu menatap Hinata. Matanya terlihat basah. Sasuke lalu melihat bangku disampingnya.

Hinata lalu perlahan menuju kursi itu dan duduk.

"Sasuke akhir-akhir ini aku jarang sekali melihatmu bersama Sakura chan. Kenapa?" Tanya Hinata sembari memainkan jemarinya.

"Daijobu" jawab Sasuke.

"Mm..apa ada masalah diantara kalian?" Tanya Hinata lagi.

"Menurutmu?" Sasuke menjawab pertanyaan Hinata dengan sebuah pertanyaan.

"Sepertinya ada" ujar Hinata lalu menunduk.

"Gelap" ujar Sasuke.

"Ehh?" Hinata tak mengerti dengan apa yang dimaksud Sasuke. Ia terlihat menutup matanya dengan telapak tangan kanannya. Sementara tangan kirinya seolah menopang tubuhnya yang duduk diatas meja.

"Semuanya tak terlihat sama dari pantulan mataku" gumam Sasuke pelan. Hinata masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Sasuke.

"Sasuke kau kenapa?" Tanya Hinata lalu menatap Sasuke dalam. Dari matanya terlihat kekhawatiran akan pemuda dihadapannya ini.

"Salahkah saat kau benar-benar menyukai seseorang..?" Air matanya mengalir dari matanya yang masih tertutup telapak tangannya. Mengalir dengan cepat dipipinya. Membasahi sisi kiri rambut raven'nya.

Hinata tercengang dengan pemandangan dihadapannya.

.

Sasuke menangis.

.

Kepala Hinata tertunduk. Ia juga merasakan kepedihan yang Sasuke rasakan meski dengan objek yang berbeda. Ia berdiri lalu meraih pundak Sasuke dan memeluknya.

"Kau tidak sendirian Sasuke. Dan kau yang seperti ini, aku pernah melihat sebelumnya" gumam Hinata. Sementara Sasuke masih terdiam di pelukan Hinata. Matanya menatap jauh langit dicelah jendela kelasnya.

"Kau tidak mengerti" lirih Sasuke.

"aku mengerti Sasuke. Karena, aku mencintaimu!" jawab Hinata dengan suara yang lebih keras. Pelukannya semakin erat. Sementara Sasuke tercekat mendengar jawaban Hinata . Ia lalu melepas pelukan Hinata lalu memegang kedua pundak Hinata.

"Katakan itu bohong" ujar Sasuke.

"Aku mencintaimu Sasuke, kun.." ujar Hinata. Air matanya kini mengalir di pipinya.

"Bilang saja itu bohong!" Sasuke lalu mengguncang pelan pundak Hinata.

"aku mencintaimu Sasuke kun.." Yang bisa Hinata katakan hanyalah hal yang sama. Sasuke lalu melepas genggamannya di pundak Hinata.

"Kau lelah. Segeralah pulang" ujar Sasuke kemudian menghapus air mata di pipi Hinata. Ia tersenyum dengan matanya yang sendu. Di ambil tas'nya, kemudian melangkah keluar menuju pintu kelas.

"Sasuke kun" panggil Hinata. Sasuke kemudian menghentikan langkahnya.

"Sasuke kun, kamulah ciuman pertamaku. Dan kalaupun aku lelah, kenapa aku harus lelah setelah bertahan selama ini?! Aku tidak pernah ingin mengganggumu dengan Sakura chan karena Sakura chan juga sangat berarti untukku. Tapi melihatnya menjauhimu akhir-akhir ini, itu juga membuatku sakit" ujar Hinata masih berdiri mematung di tempatnya.

Sasuke lalu membalikkan badannya.

"Wakatta.." kemudian iapun pergi. Sementara Hinata masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Entah darimana keberanian itu datang.

.

.

.

"Tadaima.."

"Okaeri Hinata-sama" sapa seorang maid yang kemudian menghampiri Hinata dan mengambil tas'nya.

"Hinata-sama, Hiashi-sama meminta anda untuk menemuinya di ruang tengah"

"Mm..baiklah" Hinata lalu berjalan menuju ruang tengah. Disana Ayahnya tengah duduk dihadapan teko Ocha dan dua cangkir keramik.

"Ada apa Tou san ingin berbicara denganku seperti ini?" Tanya Hinata setelah duduk di sofa di depan ayahnya.

"Minumlah dulu" ujar ayahnya. Hinata lalu minum seteguk ocha dari cangkir itu.

"Besok lusa malam, bersiaplah. Kita akan berkunjung ke kediaman seorang teman Tou san" ujar Ayahnya lalu minum seteguk ocha.

"Mm..baiklah Tou san" jawab Hinata. Entah siapa teman dari ayahnya ini. Karena sebelumnya sangat jarang ayahnya mengajaknya berkunjung ke tempat rekannya.

.

.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ T B C ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

.

.

Yaapp..segini dulu chapter kali ini, dan setelah ini besok adalah chapter terakhir dari Smile Within Scar.. w/

Sebenernya gak tega menjatuhkan martabat Bang Sasuke kya giini,. Kekekee…. :3

Tapi biar sekali" readers juga berimajinasi, gimana sih, klo Sasuke nangis karena cewek :3

Thanks for read and review :3

.

Beneran di review loh yahh…

.

.

Udah di review belooom..?

.

.

Udah di review kan? Heheheheeee *Author maksa

.

Jaa ne, Sampai jumpa di chapter berikutnya \(w)/