NB : klo mau baca ini dan makin dapet feel'nya, silakan sambil dengerin lagu galau yaahh,.?! Hehehee.. :3
.
.
Sakura masih terdiam dikamarnya. Ia menyesali langkahnya tadi siang. Akan lebih baik jika ia tidak kembali ke sekolah tadi, jika akhirnya ia hanya akan melihat pemandangan yang menyakitkan. Yang membenarkan semua kecurigaan yang telah lama ia pendam dan selalu ia sangkal.
"Sakura chan, tolong belanja untuk makan malam nanti" panggil ibunya dari dapur.
"Haii.." Sakura lalu menuju ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali keluar setelah mengenakan jaket dan bersama sepeda ibunya menuju Mini market.
Disekitar tempat tinggal Sakura tidak ada Mini market. Itu karena orangtuanya hanya mampu membeli rumah di pinggiran Konoha sehingga lebih jauh untuk menuju fasilitas umum. Dibandingkan teman-temannya, memang Sakura yang paling sederhana. Apalagi jika dibandingkan dengan keluarga Sasuke dan Hinata.
Sesampainya di minimarket Sakura lalu memarkirkan sepedanya. Ia membawa daftar barang belanja yang tadi dipesan oleh ibunya. Namun saat ia membuka pintu minimarket itu kertas ditangannya kabur terbawa angin masuk ke dalam minimarket. Sakura segera mengejar kertas tersebut yang jatuh didepan showcase minuman. Sakura terpaksa berjongkok untuk mengambilnya.
"ahh..yokattaa.." gumam Sakura lalu memasukkan daftar belanja itu ke sakunya.
"Sakura?" panggil seseorang dari atas.
"Hai?" Sakura lalu mendongak. "Naruto kun?" Ternyata orang yang memanggilnya adalah Naruto. Ia kemudian segera berdiri.
"Kenapa sampai kesini Sakura?" Tanya Naruto.
"Hehe..disekitar rumahku tidak ada minimarket. Jadi aku harus kesini" jawab Sakura sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku juga kesini tiap hendak membeli sesuatu"ujar Naruto.
"Tapi kenapa kita belum pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Sakura bingung.
"Kan aku baru dua minggu tinggal disini" jawab Naruto sambil tersenyum.
"Aah..iya yah, aku lupa" celetuk Sakura.
"Kau hendak membeli apa Sakura?" Tanya Naruto.
"Oh..ini, bahan-bahan untuk makan malam nanti" jawab Sakura lalu mengeluarkan daftar belanja dari sakunya.
"Boleh kubantu?" tawar Naruto.
"Apa tidak merepotkan?"Tanya Sakura.
"Tidak juga. Ayo " Naruto lalu mengambil keranjang belanja. "Pertama, apa yang akan kita akan beli?"
Sakura lalu segera menghampiri Naruto. "Telur 500 gram" jawab Sakura. Mereka lalu berjalan bersamaan sembari sesekali berhenti dan Sakura mengambil sesuatu untuk dimasukkan ke keranjang belanja yang Naruto pegang.
"Naruto kun.." panggil seseorang.
"Obasan, konichiwa.." sapa Naruto.
"Konichiwa, pacarmu sangat manis" ujar obasan lalu menuju kasir meninggalkan Naruto dan Sakura yang melongo disebut pacaran.
"Aa..hehe.. warui, obasan memang begitu. Keluarganya membantuku saat keluargaku pindah kemari. Mereka sangat baik" ujar Naruto merasa tidak enak dengan Sakura.
"Daijobu, mungkin siapapun yang melihat kita seperti ini juga bisa salah sangka" hibur Sakura.
"Apa semua ini sudah cukup Sakura?" Tanya Naruto sembari melihat barang-barang di keranjangnya.
Sakura lalu mengecek daftar belanjanya, menyamakannya dengan isi keranjang di tangan Naruto.
"Sudah. Oiyah Naruto kun, kau tadi mau membeli minuman kan?" Tanya Sakura.
"Iya, tapi aku bingung mau minum apa. Aku bosan minum susu terus" ujar Naruto.
Sakura lalu ingat bahwa dia ingin mentraktir Naruto untuk buku yang diberikan padanya.
"Mm..baiklah, bagaimana kalau aku yang traktir minuman untukmu kali ini?" tawar Sakura.
"Baiklah.."
Sakura lalu mengambil dua kaleng minuman soda dari showcase minimarket dan kemudian mereka menuju kasir.
Dan kini mereka sudah duduk di rerumputan dekat sungai.
"Sakura, kau suka sekali dengan minuman soda?" Tanya Naruto sambil sesekali meneguk kaleng soda di tangannya.
"Mm..tidak juga. Cuma, aku lama sekali tidak minum soda kaleng seperti ini" jawab Sakura.
Mereka lalu sama-sama terdiam. Tak terasa hari telah menjelang sore. Matahari berwarna kemerahan menebar warna jingga dilangit. Semburatnya memantul di permukaan sungai menciptakan cahaya keemasan yang meneduhkan mata yang melihatnya. Sementara angin berhembus perlahan meniup batang rerumputan bergoyang disela semilir angin.
"Naruto kun.."
Naruto lalu menatap Sakura.
"Untuk buku yang kau berikan padaku, arigatou " ujar Sakura. Matanya masih menatap aliran sungai keemasan dihadapannya.
"Kau merasa lebih baik dengan itu?" Tanya Naruto.
"Iya. Aku jadi mengerti, mungkin sesuatu yang menyakitkan itu karena kita yang memaksakan diri berada dalam suatu keadaan yang tak seharusnya"
"Perasaan manusia itu, lebih luas dari keinginan mereka. Tapi hati mereka lebih rapuh dari yang mereka inginkan." Ujar Naruto.
"Mm..Naruto kun, sepertinya aku harus segera pulang. Kaachan pasti sudah menunggu belanjaan ini" ujar Sakura lalu mulai berdirikemudian membersihkan roknya dari rerumputan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan.." ujar Naruto.
"iya, Jaa ne" pamit Sakura lalu mulai mengayun sepedanya.
"Jaa.."
.
.
"Tadaima…" Sakura lalu berjalan sambil membawa barang-barang belanjanya menuju dapur.
"Okaeri, sudah beli semuanya Sakura chan?" Tanya Ibunya lalu melihat isi dari belanjaan Sakura.
"Hai Kaachan, sini aku bantu" Sakura lalu mencuci tangannya di wastafel.
"Ehh Sakura chan, tadi Sasuke kun datang kemari. Dia mencarimu, kelihatannya sedang tergesa-gesa" ujar Ibu Sakura.
"Benarkah? Kaachan bilang aku sedang dimana atau tidak?" Tanya Sakura.
"Iya, kaachan bilang Sakura chan sedang belanja di minimarket. Tapi entah dia mendengarnya atau tidak, Sasuke kun segera pamit setelah itu" jawab ibu Sakura sembari memotong tahu.
"Mm..kaachan, kalau Minggu depan, aku ingin sekolah di tempat obaasan di Kagoshima, boleh kan? Disana biayanya lebih murah"
"Kenapa sangat tiba-tiba menyetujui tawaran Obaasan untuk tinggal disana Sakura chan?"
"Tidak apa-apa Kaachan, entah kenapa aku hanya ingin kesana"
"Baiklah kalau itu maumu Sakura chan.."
"Arigatou kaachan..!? aah..besok akhirnya libur juga. Ingin tidur seharian dirumah sebelum masuk sekolah lagi" gumam Sakura sembari menguap. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu.
.
.
Senin pagi, di sekolah…
.
Hinata duduk dengan tenang di kursi. Diantara ketiga temannya baru dia yang berangkat sepagi ini. Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan gadis dengan dua cepol di kepalanya berjalan menuju kelas. Tak lama kemudian ada seorang gadis berambut pirang berlari kecil mengejar gadis bercepol dua yang tak lain adalah Tenten itu.
"Hinata chan, kenapa berangkat pagi sekali?" Tanya Ino dengan nafas sedikit memburu.
"Eh..daijobu Ino chan, aku hanya ingin berangkat lebih awal saja" jawab Hinata.
"Aah..tinggal Sakura chan yang belum datang. Apa tidak sebaiknya Sasuke mulai menjemputnya? Rumah Sakura chan kan cukup jauh" celetuk Tenten.
"Ohh..ngomong-ngomong tentang Sasuke, apa kalian tidak merasa akhir-akhir ini Sakura jarang sekali terlihat bersama Sasuke?" ujar Ino dengan tatapan mata penuh tanda Tanya.
"Iya juga yah, semenjak Sakura chan mulai berangkat sekolah setelah absen" gumam Tenten menambahi.
"Sudahlah minna, mungkin memang mereka sedang tidak sempat bersama" ujar Hinata mencoba menenangkan dua sahabatnya itu. Meskipun mungkin diantara mereka ialah yang paling terusik tentang ini. Beberapa saat kemudian Sakura muncul dengan berjalan perlahan menuju bangkunya.
"Ohayou minna" sapanya dengan senyum.
"Sakura chan, apa kau begadang lagi?" Tanya Ino setelah melihat mata panda Sakura.
"Hehe..iya Ino chan, kemarin Minggu siang aku tidur sampai sore tapi jadi tidak bisa tidur malam" jawab Sakura. Ia lalu sesaat menatap Hinata dalam diam. Entah kenapa Hinata sedikit takut saat Sakura menatapnya seperti itu. Ia takut Sakura akan melihat semuanya melalui matanya.
"Hinata chan, aku lupa memberitahumu. Nanti kita akan belajar kelompok. Kau ikut kan?" Tanya Sakura kemudian.
"Oh..mm, maaf Sakura chan, aku tidak bisa ikut" jawab Hinata.
"Ehhh? Nande?" Sakura, Tenten dan Ino bersamaan terkejut mendengar jawaban Hinata.
"Nee, kalian kenapa pagi-pagi berteriak begitu?" Tanya Sai yang sudah ada di depan pintu kelas Hinata, Ino, Tenten dan Sakura. Ia lalu menuju ke bangku Ino.
"Sai kun, ada apa tiba-tiba kesini" Tanya Ino heran.
"Nande mo nai. Aitakattayo" jawab Sai dengan senyum andalannya. Kontan saja Ino dibuat blushing karenanya.
"Astaga..pasangan kita yang satu ini pagi-pagi sudah mengumbar kemesraan saja" celetuk Ino.
"Hehe..oiyah, apa yang sedang kalian bicarakan tadi?" Tanya Sai.
"Ini , kami ingin belajar kelompok nanti malam Sai kun, tapi Hinata chan tidak bisa ikut" jawab Ino dengan mimic wajah masam.
"Mm..kalau begitu biar nanti aku ikut bergabung, coba nanti kuajak Naruto juga" ujar Sai.
"Hontou?" Tanya Ino dengan suara melengkingnya.
"Hontou dayo" jawab Sai lalu mencubit pipi Ino.
"Yokatta, kalau begitu nanti kita belajar dimana?" Tanya Sakura.
"Di rumahku saja un?! Tou san dan Kaa san sedang tidak ada dirumah. Niisan juga. Jadi temani aku yahh?! Onegai.." Ino mulai menggunakan jurus puppy eyes'nya.
"Baiklaaah.." jawab Sakura dan Tenten.
"Arigatou.." ujar Ino sambil memegangi kedua pipinya. Sementara itu Sai an Hinata hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ino.
"Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu yah" pamit Sai lalu sedikit mangacak rambut Ino.
"Hai.. jaa Sai kun"
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seperti biasa, semua siswa mulai meninggalkan kelas dalam keadaan sepi. Dan saat Hinata, Sakura, Ino dan Tenten hendak pulang, namun sesampainya di gerbang sekolah Sasuke menghadang mereka.
"Sakura, kita harus bicara" ujar Sasuke lalu menarik tangan Sakura lebih keras dari biasanya.
"Ok teman-teman, sepertinya kali ini kita pulang dulu saja" ujar Tenten membangunkan Ino dan Hinata yang matanya masih mengikuti Sasuke dan Sakura yang kembali masuk ke lingkungan sekolah.
" iya, ayo.."
.
Sementara itu Sasuke dan Sakura kini ada di tengah lapangan basket.
"Ada apa Sasuke kun?" Tanya Sakura memecah keheningan . Sasuke lalu menatap matanya tajam.
"Kenapa akhir-akhir ini menghindariku?" Tanya Sasuke.
"Aku hanya ingin sendiri dulu Sasuke kun," jawab Sakura.
"Apa bersama dengan Naruto itu yang kau maksud sendiri?" Kali ini wajahnya semakin memerah memendam amarah
"Apa maksudmu Sasuke kun?"
"Aku sering menemukanmu bersama Naruto. Terlihat berlebihan untuk menghindariku karena itu kalau kalian hanya berteman"
"Naruto kun hanya temanku Sasuke kun.."
"Hn..Naruto 'kun'? " ulang Sasuke.
Mereka lalu terdiam.
"Sepertinya aku tidak bisa berbohong" ujar Sakura kemudian.
"Aku memang menyukai Naruto kun. Dia lebih baik dari Sasuke kun" jawab Sakura sembari menunduk.
"Coba lihat mataku. Itu salah kan?" Tanya Sasuke lalu memegang dagu Sakura dan mendongakkan wajahnya. Sakura lalu memalingkan pandangannya dari Sasuke.
"Aku sungguh menyukai Naruto kun" jawab Sakura.
"Sasuke kun, aku senang bisa bersama denganmu, tapi aku juga terluka saat bersamamu"
Sasuke kemudian melepas tangannya dan memasukannya ke saku celananya. Ia kemudian pergi meninggalkan Sakura.
Setelah bayangan Sasuke tak terlihat lagi, kaki Sakura rasanya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia kemudianmenuju ke salah satu bangku penonton.
Disini, dulu pertama kalinya ia merasakan bagaimana bisa bersama dengan lelaki yang ia cintai sejak dulu. Duduk berdua dengannya setelah sekian lama hanya bisa mengaguminya diantara ratusan penonton lainnya. Lapangan yang luas ini serasa hambar tanpa kehadiran Sasuke. Sasuke yang dulu begitu bersinar dimatanya. Tapi yang ia lakukan kini justru menyakiti hatinya. Sakura hanya bisa terdiam. Sampai kini pun, yang ada di hatinya hanya Sasuke. Cintanya masih sama seperti dulu.
"Maafkan aku Sasuke kun.." dan kini hanya isak tangis Sakura yang menggema disana, menyesakinya dengan ribuan penyesalan yang menghujam jantungnya.
.
.
.
Hari telah menjelang malam. Sasuke berdiri menghadap jendela kamarnya yang besar dengan kedua jemari yang bersembunyi di saku celana panjangnya. Hari ini ia sama sekali tak mencoba untuk menghubungi Sakura setelah apa yang dilihatnya kemarin saat ia menyusul Sakura di sebuah mini market. Suasana kamarnya yag sepi agak berbeda dengan suasana ruang tamu juga ruang makan. Para maid tengah menata serapi mungkin tempat itu. Setelah beberapa saat tidak banyak lagi suara yang terdengar dari kamarnya.
'tok..tok..'
"Sasuke kun, apa kau didalam?" Itu suara Ibunya.
"Iya Kaa-sama" jawabnya. Mikoto lalu membuka pintu kamar putranya lalu berjalan perlahan menghampirinya.
"Semuanya sudah siap Sasuke kun.." ujar Mikoto lalu menyelipkan tangan kanannya disela siku kiri putra terakhirnya itu dan menggamitnya. Khas bergandengan tangan a la aristokrat Eropa.
"Baiklah.." Sasuke bersama ibunya lalu keluar kamar dan menuju ke ruang tamu. Akhirnya ia sampai di titik ini juga. Ia dilahirkan dari rahim yang sama dengan kakaknya. Mungkin nasib mereka juga tak jauh berbeda. Apalagi sekarang sudah tak ada lagi seseorang yang menginginkan dia untuk bersamanya. Fugaku sudah duduk tenang menggunakan setelan jas hitam segelap matanya. Mikoto lalu duduk disampingnya dan Sasuke duduk di kursi yang berbeda disamping Ibunya. Tak lama kemudian Itachi dengan Yugao menyusul mereka duduk di kursi seberang Sasuke.
"Sepertinya kita akan kedatangan tamu yang penting" celetuk Itachi dengan memasang wajah pura-pura tidak tahu itu.
Sasuke hanya melengos mendengar perkataan Sasuke.
"Ayolah Sasuke, kau akan mencintainya nanti saat ia mengandung Uchiha kecil" ujar Itachi lalu mengelus perut Yugao disampingnya. Yugao semakin mempererat genggaman tangannya di jemari kiri Itachi.
.
.
.
"Tou san, siapa nama teman Tou san ini?" Tanya Hinata di dalam mobil sembari menatap ke cermin di tangannya. Rasanya make up'nya kali ini tidak seperti biasanya.
"Nanti kau juga akan tahu" jawab ayahnya. Mobil yang mereka naiki akhirnya melambat dan memasuki gerbang yang sangat megah. Dan di depan sana, ada sebuah rumah yang tak pantas disebut rumah. Istana atau mansion. Setidaknya hanya dua kata itu yang tepat untuk menggambarkannya. Setelah dibukakan pintu oleh sopirnya, Hinata dan Ayahnya lalu turun dari mobil.
"Kenapa tadi kita tidak mengajak Niisan juga Tou san?" Tanya Hinata dengan suara yang sangat pelan.
"Neji tidak ingin ikut. Ayo.." Hiashi lalu menggandeng putrinya menuju pintu besar Mansion itu. Sebelum mereka mengetuk atau pun membunyikan bel, pintu itu terlihat membuka.
"Selamat datang Tuan Hyuuga Hiashi dan nona Hyuuga Hinata. Silakan masuk. Fugaku-sama dan keluarga sudah menunggu di dalam. Mari.."Pelayan yang ber'jas tersebut kemudian mengantar Hinata dan Ayahnya menuju suatu ruangan yang bergaya klasik. Sementara HInata masih sibuk mengamati ruangan, ternyata mereka telah sampai di tempat yang dituju.
"Silakan duduk" Hinata lalu duduk disamping ayahnya. Mata Hinata masih sibuk meniti ruangan itu hingga ketika ia menatap ke depan pada si empunya mansion, matanya terbelalak kaget.
'DEG!'
'Sasuke kun?'
Begitu juga dengan pemuda yang ada di hadapannya itu begitu terkejut melihat Hinata. Apa yang sedang orang tua mereka bicarakan kini seperti mengabur di pendengaran mereka.
'Jadi teman Tou san adalah Ayah Sasuke kun..' batin Hinata.
Setelah beberapa saat kemudian mereka berpindah menuju ruang makan kediaman Uchiha. Dan kini, Hinata duduk tepat di hadapan Sasuke. Dan mereka pun makan malam bersama. Dan setelah semua sudah menghabiskan hidangan pencuci mulut kini Ibu Sasuke yang memulai pembicaraan.
"Nee, mungkin Hinata chan belum mengetahui tentang ini bukankah begitu Hiashi san? Dan bagaimanapun sepertinya wanita lebih ahli dalam hal ini" ujar Mikoto dan seisi ruangan tersenyum mendengarnya kecuali Sasuke dan tentu Hinata yang tidak mengerti apa yang dimaksud Ibu Sasuke.
"Begini Hinata chan, kau sekarang tau kan kalau Ayahmu Hiashi san berteman baik dengan Fuugaku-sama?"
"Hai Mikoto-sama" jawab Hinata.
"Mereka sudah berteman sedari muda dulu. Saat ayahmu, Hiashi san dan Fugaku-sama masih memulai semuanya dari nol. Dan sejak saat Aku mengandung Sasuke kun, dan Ibumu mengandungmu, kami sudah mengikat kalian untuk bersama saat kalian besar nanti" ujar Mikoto. Ruangan menjadi hening. Hinata masih belum mengerti maksud Mikoto.
"Hinata chan, kau akan bertunangan dengan Sasuke kun dan menikah saat kalian dewasa nanti" tegas Mikoto namun dengan suara yang lembut.
Tiba-tiba seperti ada hujan es yang menghujam jantungnya. Hinata terkejut mendengarnya karena ayahnya tidak pernah memberitahunya tentang perjodohan. Apalagi dengan Sasuke!
Di sisi lain dia memang mencintai Sasuke, namun perjodohan ini tetap saja begitu mengagetkan Hinata.
Sementara Sasuke yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Ia sudah menerka saat ayahnya tak menyetujuinya dengan Sakura, pasti suatu saat ia akan membawa wanita untuk Sasuke nikahi. Tapi Sasuke pun benar-benar tak menyangka jika wanita itu adalah Hinata hingga ia lihat Hinata duduk di ruang tamunya tadi.
"Mm.. iya aku mengerti Mikoto-sama" jawab Hinata. Hanya kalimat itulah yang meluncur dari mulutnya.
"Baiklah kalau begitu kita bisa mengurus kapan tepatnya tanggal pertunangan mereka. Sekarang kurasa sudah saatnya kami untuk pulang" ujar Ayah Hinata.
"Terima kasih sudah bersedia datang kemari" Fugaku dan Istrinya kemudian disusul Itachi, Yugao dan Sasuke lalu berdiri hendak mengantar Ayah Hinata dan Hinata menuju pintu depan. HInata lalu berjalan mendekati Sasuke.
"Apa kau mengetahui tentang ini sebelumnya Sasuke kun?" Tanya Hinata lirih.
"Tidak.."
"Kalau kau ingin mencari Sakura chan, sekarang ia ada di rumah Ino chan" ujar Hinata sembari menunduk, kemudian menyusul ayahnya yang lebih dulu ada di depan pintu.
Terdengar deru mesin mobil yang menjauh dari kediaman Uchiha.
"Tou-sama, apa Sakura tahu tentang semua ini?" Tanya Sasuke.
Fugaku tak menggubris pertanyaan Sasuke dan berlalu begitu saja.
"Tou-sama jawab aku!" ujar Sasuke dengan nada bicara lebih keras.
"Dia memang harus tahu tentang hal ini. Namun ia bersikeras awalnya. Tapi kau tahu, selalu ada cara untuk menjaga alur dari kehidupan seperti yang kuinginkan" ujar Fugaku lalu meninggalkan Sasuke.
Sasuke terdiam mendengar jawaban ayahnya. Sedetik kemudian ia berlari keluar menuju garasi dimana mobilnya disimpan dan kemudian mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
.
'Jadi apa yang selama ini Sakura lakukan karena hal ini?'
'Tou-sama mengancam ekonomi keluaganya kah seperti kekasih Niisan dulu?'
'Dia memendamnya sendirian'
'Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?'
.
Akhirnya ia sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar dengan kebun bunga yang indah di halamannya. Ada kolam kecil dengan bunga teratai dan lampu-lampu kecil yang menggantung di koridor samping menjelma seperti jalan setapak dengan labirin kecil Sasuke segera turun dari mobil lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar bunyi gagang pintu yang terbuka
"Sasuke?" Ino terkejut melihat Sasuke yang tiba-tiba ada dihadapannya.
"Dimana Sakura?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi.
"Ayo.." Ino lalu mengajak Sasuke masuk rumahnya. Dan di ruang tengah, terlihat Sai yang sedang asyik menggambar dan Tenten yang sibuk menulis sesuatu sementara Sakura, ia lihat tengah mendiskusikan sesuatu dengan Naruto.
"Sakura.." panggil Sasuke.
"Sasuke kun? Kenapa kesini?" Tanya Sakura yang tak percaya melihat Sasuke tiba-tiba ada di hadapannya. Ia lalu berdiri di hadapan Sasuke.
"Ada apa Sas.. " belum sampai Sakura melanjutkan pertanyaannya Sasuke lalu menariknya menuju halaman depan rumah Ino disamping kolam kecil.
Ino, Sai dan Tenten sangat kaget melihatnya sementara Naruto sedikit terhenyak.
.
"Maafkan aku.." ujar Sasuke.
"Kenapa kau minta maaf Sasuke kun?" Tanya Sakura.
"Karena aku kau harus menanggung semuanya" Sasuke kemudian memeluk Sakura.
Dan kini di punggung Sakura telah menetes sebutir air mata Sasuke.
"Maaf.." hanya permintaan maaf yang bisa meluncur dari mulut Uchiha muda itu.
Sakura lalu melepas pelukan Sasuke dan harus mendongak untuk menatap wajah kekasihnya itu. Ia kemudian menghapus segaris air mata Sasuke. Sementara matanya sendiri kini telah menganak sungai dengan air mata.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku kalau Ayahku mengganggumu?" Tanya Sasuke dengan amarah di wajahnya.
"Itu tidak penting bagiku. Aku yakin bisa menghadapinya saat hanya itu halangan yang ada di depan kita. Tapi Ayahmu juga mengatakan kalau kau ditakdirkan untuk Hinata chan. Dan aku, melihat ada cinta dari Hinata chan untukmu Sasuke kun.." terang Sakura. Perkataannya membuat air matanya semakin deras mengalir. Sementara Sasuke tertegun karenanya.
"aku tahu itu," tambah Sakura.
"Aku selalu takut menjadi egois saat aku menyukai seseorang. Dan kini ada seorang sahabatku yang sangat mencintaimu. Sasuke kun seharusnya sejak awal aku tidak memaksakan kau untuk bersamaku"
Sasuke hanya bisa menunduk, terdiam.
" Aku mencintai Sasuke kun segenap hatiku. Tapi aku lebih ingin Sasuke kun, Hinata chan, Orang tuaku, dan orang tua Sasuke kun bahagia. Kalau semua itu dapat ditukar dengan cintaku pada Sasuke kun, aku akan merelakannya.." ujar Sakura.
"Cinta itu berkorban Sasuke kun, aku akan terus mencintai Sasuke kun meski nanti laki-laki lain yang akan memakan masakanku, dan menjadi ayah anak-anakku. Tapi aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi.." Air mata Sakura semakin deras mengalir.
Sasuke lalu menyentuh pipi Sakura kemudian mencium kening'nya lembut.
"Dengan ini, aku nyatakan aku menyerah. Kejarlah kebahagiaanmu Sakura, aku akan selalu mendoakan wanita yang mengorbankan hatinya untukku. Do'aku akan menyertai setiap langkahmu. Masa depan mungkin masih asing bagiku. Tapi separuh hatiku sudah kutitipkan padamu. Jadi aku akan tahu harus mengingat siapa saat aku jatuh agar aku dapat bangkit lagi.. "
"Terima kasih, pernah menjadi bagian dari hidupku.."
Sasuke lalu pergi meninggalkan Sakura yang masih terisak disana. Taman yang indah, lampu-lampu kecil yang menggantung, kolam yang memantulkan cahaya bulan, tak dapat mengurangi sakitnya luka yang Sakura rasakan. Di ujung jalan setapak ini, disana ada Naruto, Ino, Tenten, dan Sai yang memandang sendu kearahnya. Bahkan Ino dan Tenten juga menitikkan air mata melihat apa yang sahabatnya alami.
Sakura lalu berjalan perlahan menghampiri mereka.
"Ini kisahmu Sakura chan, kau telah menuliskannya dengan indah.." ujar Naruto lalu mengelus kepala Sakura.
"Terima kasih Naruto kun.." Sakura lalu mendekat pada Ino dan Tenten.
"Aku selalu menyayangi kalian. Aku juga akan terus menyayangi Hinata chan seperti aku menyayangi kalian.." ujar Sakura lalu memeluk Ino dan Tenten.
.
.
Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Suara derit koper mengikuti langkahnya. Salju mulai turun dari langit Konoha. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikan langkah sakura hingga ia memasuki bus yang akan membawanya ke Stasiun menuju ke Kagoshima.
Hinata, Ino, Tenten, Sai, Neji dan Naruto masih berdiri disana saat Sakura sudah duduk di bus.
"Sakura chan, kami akan merindukanmu.." teriak Naruto dengan pipi yang memerah. Sakura hanya tersenyum memandang Naruto lalu melambaikan tangan pada semuanya. Hingga kemudian bus itu mulai melaju meninggalkan halte.
"Kenapa Sasuke kun tidak kesini juga..?" gumam Hinata gelisah.
Dan tak beberapa lama kemudian mobil Sasuke berhenti didepan mereka.
"Dia sudah pergi?" Tanya Sasuke masih di dalam mobil sport'nya.
"Iya Sasuke kun, untuk sekali ini, kejarlah Sakura chan.. Setelah itu, datanglah padaku.." ujar Hinata tersenyum tulus kemudian meninggalkan halte.
Sasuke hanya tertegun mendengarnya.
"Hey, apa yang kau lakukan Sasuke? Cepat kejar dia..!?" teriak Naruto.
Sasuke lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya dipenuhi dengan rasa cemas. Hingga akhirnya bus itu terlihat juga. Sakura terlihat duduk di kursi belakang disamping jendela kaca bus.
"Sakuraa…!" teriak Sasuke. Sembari berusaha mengimbangi kecepatan bus itu. Sakura menoleh ke samping dan mendapati Sasuke disana.
"Sakura, aku akan bahagia bersama Hinata! Kau sebaiknya juga jangan lama-lama disana. Kau tahu, Naruto pasti sangat merindukanmu!" teriak Sasuke. Suaranya terdengar bergetar.
"Aku tahu.. Jaa ne Sasuke kun.." pamit Sakura dengan senyuman meski air mata mengalir di pipinya. Sasuke lalu tak lagi berusaha mengejar bus itu. Dan kini mobilnya tertinggal jauh dibelakang. Meninggalkan cinta pertamanya disana.
Dan kini Sasuke memutar balik mobilnya. Ia akan membuka lagi lembaran barunya bersama Hinata. Meski tak sepenuhnya ia menutup lembarannya bersama Sakura. Namun seperti yang ia katakan, ia akan bahagia bersama Hinata dan belajar untuk mencintainya.
Cinta itu, akan tetap ada…
Dan sepertinya, kebahagiaan telah menunggu mereka di ujung garis langit..
.
.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ THE END ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
.
Yaah..begitulah akhirnya, Cerita yang maksud'nya galau ini, mohon maap kalo nggak sesuai harapan, typo, gaje, lebaeyy dll. Juga mungkin untuk ending yang gak sesuai harapan,.
Yaah karna nggak semua yang kita harapkan bisa menjadi kenyataan kan?! :3
Dan dengan cerita ini, juga Author sndiri belajar, gimana untuk merelakan seseorang yang masa depan, atau hatinya bukan untuk kita. Karena terkadang akan lebih baik untuk memutuskan cerita yang hanya akan melukai dan memulai cerita yang baru.
.
Arigatou buat para reviewers,
Bitty bluepineepell
Kirei neko
Hirano lawliet
Date kaito
Keiko buu89
Sasuhina fanatic
Hiru
Guest
Mieyyya chan
Yafa mut
Amanda Waa chan
Katsumi
Indigohime
Himena23
SHL
Shika
Yukori Kazaqi
Resty violet
Febri Feven
Wuzun Kirara neechan :3
Gianiayuu
Hakeriouss
Kihara
Fondan Chocola
Uzumakimahendra4
Nainachan
Zery nomi
Eysha cherry blossom
Aindri 961
Haniuda-hime
Shusiechi Hiyoniraga
Manusia
Thanks minna saaaaaaaaaannnn *nangis terharu guling" ajeb" disko xD
Juga buat para silent reader, sankyuuuuu,., :3
Apalagi buat yang kasih saran juga,. Arigatou gozaimasu…! *bow
Kalo sempet, Author buat epilog'nya deehh,., hehee :3
Dan akhirnya, Ai Tachi dan semua pemeran, *terutama Itachi :v ) undur diri..
JAA MINNA….!
