Title : Rhythm of Love
Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair
Other Cast : silahkan cari sendiri ._.
Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi
Rating : T
Length : Chaptered
Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).
Author : Sung Rae Yoo
Huwa… Author terharu karena ada yang mau review, aku kira enggak ada yang mau baca ff abal-abalku ini, bener-bener terharuu (lebay ah). Makasih ya, kalau udah sempatin baca ffku yang ini.. #tebar-tebar kisseu ^^v
Oke, ini buat chapter 2 nya !
[Chapter 2]
Kris melihat sesosok lelaki berambut hitam dan berbadan kurus terbaring di ranjang dengan infuse manancap di tangan kirinya. Kepalanya diperban dan tangannya juga. Matanya terpejam dan Kris bisa melihat dengan jelas, di sudut bibir si pasien itu terdapat darah yang mengering.
Kris membuka pintu lebih lebar dan melihat appa dan eommanya duduk di sofa panjang yang ada di kamar rawat VIP tersebut. Kris tidak sabar dan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak.
"Eomma! Appa!" teriaknya sambil menghampiri ibunya yang berambut pirang kecoklatan sedikit gelap seperti warna rambutnya tersebut.
Kris melihat siku tangan ibunya diperban dan pelipis ibunya yang sedikit memar. Dengan hati-hati, Kris mengusap rambut ibunya dan menggengam tangan ibunya.
"Eomma apa yang terjadi?" tanya Kris pelan. Dia menatap wajah ibunya yang pucat dan matanya yang merah.
"Apa Eomma baik-baik saja?" tanya Kris sambil mengelus punggung tangan ibunya, dalam hati sebenarnya dia bingung dengan apa yang terjadi, tapi sebenarnya dia juga kasihan melihat ibunya seperti ini. Ibunya yang sangat cantik ini kini hanya diam dan menangis tanpa suara.
"Untuk beberapa saat tadi, eomma merasa seperti sudah mati, Kris" kini Shi Yeon, ibunda Kris memeluk putranya erat. Ibunya yang hanya memiliki tinggi 167 cm (jangan protes kalau ibunya Kris itu pendek -_-) ini begitu syok dengan apa yang barusaja menimpanya. Jae won (ayah Kris, dan author enggak ngerti siapa ayahnya Kris, jadi suka-suka saya! Hehe maap ._.v) hanya diam sambil melihat istri dan anak bungsunya itu berpelukan.
"Eomma, ada apa? Ceritakan saja padaku. Aku mohon!" Kris memohon pada ibunya setelah dia melepasakan pelukannya. Dengan ujung kaus panjangnya, dia menyeka air mata Shi Yeon yang mengalir membasahi pipi ibunya yang putih.
"Kris-a, lebih baik appa saja yang cerita padamu! Jangan paksa eommamu cerita, dia masih terlalu syok dengan apa yang barusan dia alami!" ucap jae won sambil membelai punggung istrinya yang berbalut sweater biru laut.
Shi Yeon menggeleng, dia menganggat kepalanya yang tadi bersandar pada bahu jae won. Lalu dia mengusap air matanya sendiri dan menatap mata hitam suaminya yang tajam. Mata yang dia turunkan pada anaknya sendiri. Kris.
"Tidak… jae won-a, biar aku saja yang menceritakannya" tolak Shi Yeon, sambil kembali mengusap pipinya yang kini memerah.
"Eomma…" Kris kasihan melihat ibunya sendiri seperti ini. Dia ingin sekali memeluk ibunya sekali lagi.
"Eomma baru saja mengalami kecelakaan. Lebih tepatnya, selamat dari kecelakaan…" jelas Shi Yeon sambil menatap dalam mata Kris dengan sedikit senyum tipis yang dipaksakan di bibir merah mudanya "Saat itu eomma aru saja keluar dari pusat perbelanjaan, eomma menerima telepon dari direktur Jeong, eomma lupa kalau saat itu eomma berdiri di zebra cross. Eomma juga lupa, kalau lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau dan saat itu eomma masih asik menelepon dan berada di tengah jalan. Eomma tak menyadari ada sebuah mobil bak terbuka lewat dan hendak menabrak. Eomma begitu takut saat itu, tapi, seorang lelaki mendorong eomma hingga eomma membentur tepi trotoar dan menyelamatkan eomma dari kematian…"
Kris menyadari air mata ibunya mengalir lagi "Dan sebagai gantinya, anak SMA itu yang tertabrak! Eomma sungguh merasa bersalah! Eomma ceroboh sekali!"
Kris mengusap tengkuk ibunya dan menghapus air mata ibunya lagi, membuat ujung lengan bajunya kini basah labih parah.
"Apa laki-laki ini yang menyelamatkan ibu?" tanya Kris sambil menunjuk seseorang yang tengah terbaring dengan mata terpejam di atas kasur. Ibunya mengangguk. "Kim Joonmyun?" tanya Kris lagi, dan eommanya mengangguk untuk kedua kalinya.
"Eomma sudah menghubungi orang tuanya, nampaknya akan datang sebentar lagi! Apa yang harus eomma lakukan untuk menebus kesalahan eomma ini?" tanya Shi Yeon.
Kris duduk di sofa, dia lalu menatap lelaki yang tertidur dengan damai di kasur rumah sakit. Dalam hati, dia berterima kasih karena telah menyelamatkan ibunya dari kecelakaan yang bisa saja membuat Shi Yeon meninggal.
Saat Kris tengah memandang Joonmyun yang tertidur, tiba-tiba, dia mengernyit dan perlahan membuka matanya yang semula tertutup. Berkali-kali dia mengerjapkan matanya, lalu dia menyipitkannya karena cahaya di kamar rumah sakit ini yang terlalu menyilaukan matanya.
"Ugh!" lenguhnya saat merasakan tangan kanannya sakit, tangan kirinya yang baik-baik saja memegang dahinya dan dia kembali merintih kesakitan.
"Aku? Ada di mana?" tanyanya, lalu laki-laki ini menoleh dan memandang wajah tampan Kris. Membuat matanya melebar dan dia kini telah tersadar sepenuhnya.
"S.. siapa kamu? Apa yang telah kamu lakukan! Auh!" sadar tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, Joonmyun berteriak kecil kesakitan.
Eomma Kris langsung datang dan melihat keadaan Joonmyun. Sementara Kris membuang pandangannya dan kini malah sibuk bermain dengan handphonennya.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa kau sangat kesakitan? Akan aku panggilkan dokter!" ucap Shi Yeon sambil memberi isyarat pada jae won untuk segera memanggil dokter.
Joonmyun memaksakan diri untuk duduk. Dan kini dia melihat wajah panik Shi Yeon.
"Tante yang tadi ya?" tanyanya polos "Apa tante baik-baik saja, maaf telah membuat tante membentur trotoar"
Shi Yeon menggeleng sambil menggenggam tangan Joonmyun "Seharusnya ajumma yang meminta maaf padamu karena telah membuatmu seperti ini. Maaf ya, bagaimana ajumma bisa membalas kebaikanmu?" tanya ibu Kris dengan panik lalu membelai surai hitam Joonmyun. Rambut Joonmyun yang lurus dan awalnya rapi kini tampak sedikit berantakan.
Joonmyun menggeleng "Gwaenchanha, ajumma tidak usah khawatir seperti itu"
"Aku sudah mengubungi orang tuamu, sebentar lagi beliau pasti datang. Apa ada yang kau butuhkan? Apa kamu merasa tidak enak?" tanya jae won yang sudah kembali bersama seoarang dokter muda yang cukup tampan.
"Kamu sudah sadar ya?" tanya dokter itu ramah. Saat Kris melirik name tagnya, dia bisa mengetahui bahwa dokter itu bernama Kang In Hoo.
"Apa kamu merasa pusing atau bagian tubuhmu ada yang tidak bisa digerakkan?" tanya dokter kang.
Joonmyun berusaha menggerakkan tubuhnya dan dia berhasil. Sepertinya dia baik-baik saja sekarang.
"Tidak. Aku merasa baik-baik saja. Hanya bagian pelipis dan pergelangan kaki saja yang sakit!" ucap Joonmyun sambil menunjuk pelipisnya yang di perban "Mungkin karena aku tadi yang membentur aspal dengan cukup keras"
Dokter kang mengangguk lalu mendekati Joonmyun dan melepas infuse yang menancap di tangannya dengan hati-hati. Dokter muda itu lalu memeriksa keadaan tubuh Joonmyun. Dia menyatakan Joonmyun tidak punya trauma karena kecelakaan tadi dan dia sekarang dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja kepala dan kakinya terluka dan tidak ada luka lain yang serius ditubuhnya. Semua hal itu membuat ayah dan ibu jae hyun mendesah lega.
Sebelum dokter kang berniat meninggalkan Joonmyun, seorang sepasang suami istri dengan tergesa-gesa menghampiri kamar no 297 tempat Joonmyun dirawat.
"Eomma!" teriak Joonmyun "Appa!"
Seorang wanita seusia ibu Kris kini masuk ruang kamar diikuti oleh seorang pria dengan kumis serta mempunyai iris berwarna biru gelap.
"YA! Suho-ya, apa kamu buat masalah lagi! Kali ini apa yang kamu lakukan?" tanya eomma Joonmyun sambil mendelik ke arah putranya yang terduduk di kasur.
"Eomma! Aku menyelamatkan orang! Kenapa baru datang langsung memarahiku! Ouh! Sakit!" Joonmyun meringis karena ibunya menjitak kepalanya pelan.
"Eum, maafkan aku, tapi anak anda benar, dia telah menyelamatkanku, aku Wu Shi Yeon, anak anda yang bernama, em, bukanya namanya Joonmyun ya? Aku lihat dia di kartu pelajarnya?! Dia ini telah menyelamatkanku dari kecelakaan" jelas eomma Kris sambil menyalami ibunda Joonmyun.
Air muka ibu Suho mendadak berubah "Benarkah? Aku kira di membuat masalah! Apa anda baik-baik saja? Oh ya, namaku Kim Soo Min. Dan ini suamiku, Kim Jun Ho (sudah enggak usah protes, author enggak tahu nama ortunya Suho ._.). Anakku yang ceroboh ini namanya kim Joonmyun memang, tapi dia punya panggilan Suho" jelas ibunda Suho dengan salah tingkah karena berhadapan dengan Shi Yeon.
"EOMMA!" teriak Suho tidak terima dikatai ceroboh oleh ibunya sendiri.
"Aku berterima kasih dengan sangat karena anak anda telah menyelamatkanku, aku sungguh berhutang banyak!" ucap Shi Yeon, disertai anggukan jae won.
Kris yang sedari tadi hanya diam saja berdiri di balik punggung ayahnya yang kekar ambil memaikan handphonenya, bermain game mungkin.
"Appa, aku lapar, apa appa tidak membawa makanan?" tanya Suho pelan sambil menarik lengan ayahnya.
"Ya! Apa kamu tahu, appa ngebut untuk segera sampai kesini! Mana mungkin appa sempat bawa makanan! Berhentilah bercanda" gertak Jun ho, ayah Suho.
Mendengar percakapan Suho dan ayahnya, ayah Kris segera berkata "Suho-ya, kamu lapar, kalau begitu, Kris akan mengantarkanmu makan di kantin rumah sakit. Kris, ayo temani Suho. Appa dan eomma akan membicarakan sesuatu hal dengan orang tua Suho"
"Kris?" tanya Suho, dahinya berkerut.
"Aku? kenapa aku?" tanya Kris dalam hati.
"Iya, Wu Yifan, tapi panggil saja Kris, adalah anak kami, dia baru kelas 3 SMA. Sepertinya kalian seumuran!" ucap Shi Yeon sambil tersenyum manatap Suho yang masih terbengong.
"Kelas 3?" tanya Suho. Dia hendak berkata yang lain tapi kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokannya.
Jae won mencolek pinggang putranya dan membuat putranya itu berjengit, dia melempar telepati pada anaknya "Cepat-antar-Suho-ke-kantin"
Kris yang memahami bahasa wajah ayahnya hanya melenguh dan dengan langkah terseret dia mendekati Suho yang sudah berdiri di depan ranjang sambil memasang wajah bodoh.
"Ayo!"
Hanya satu kata itu saja yang keluar dari bibir tipis Kris. Suho lalu menyadari ajakan Kris dan mengikuti langkah pria tampan yang tinggi itu.
Saat meninggalkan kamar dan berjalan beriringan, Suho menyadari bahwa dia sangat pendek saat berada disamping Kris. Apalagi, dia kesulitan menyamai langkahnya dengan langkah panjang Kris yang cepat. Jika Kris berjalan selangkah, itu sama dengan dua langkah kaki kecilnya. Tingginya yang hanya 173 cm itu begitu kontras dengan tubuh Kris yang tinggi menjulang seperti tiang listrik dan membuatnya harus mendongak saat melihat wajahnya. Serta keadaan pergelangan kakinya yang terkilir membuatnya susah berjalan.
"Kris!" Suho berhenti dan mengambil nafas panjang. Sepertinya dia kelelahan. Karena tidak bisa menyamai langkah Kris "Tunggu!"
Kris berbalik dan sedikit kaget melihat Suho terengah sambil membungkukkan tubuhnya, Suho memegang kepalanya yang kini terasa pusing.
"Mianhe, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kris.
"Tentu saja tidak!" ucap Suho setengah membentak kesal "Bagaimana bisa kamu berjalan begitu cepat, jangan egois, aku tahu kakimu itu panjang dan aku tidak. Aku lelah!"
Kris tersentak begitu orang di hadapannya ini membentaknya dengan cepat. Selama dia hidup, dia tidak pernah menemui orang seperti Suho. Yang berani membentaknya dan mengucapkan apa yang dia ingin ucapkan dengan begitu jujur.
"Mianhe" ucap Kris mengalah sambil menuntun Suho untuk duduk di bangku yang ada di dekat jangkauan mereka.
"Aku tahu kamu tinggi. Tapi aku ini … pendek !" ucap Suho dengan tidak rela saat dia mengucap kata pendek. Itu secara tidak langsung dia tengah mempermalukan diri sendiri di depan lelaki yang baru dikenalnya ini.
"Maaf!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Kris saat dia mendapat omelan Suho. Suho yang merasa tidak begitu diperhatikan akhirnya hanya diam dan mencibir, dia merengut dan menyumpahi dirinya sendiri dalam hati karena membuang harga diri dengan mengejek diri sendiri.
"Apa kita seumuran?" tanya Kris akhirnya.
"Apa?" Suho yang tengah melamun akhirnya kaget dengan pernyataan spontan Kris. Dia menoleh memandang pria tinggi itu tapi, Kris hanya menatap lurus kedepan.
"Apa kita ini seumuran? Apa kamu juga kelas 3 SMA sepertiku?" tanyanya.
"Tidak. Aku kelas 2" jawab Suho.
Kris akhirnya menatap Suho dengan kerutan di dahinya "Kelas 2?"
Suho mengangguk "Maaf kalau aku tidak sopan denganmu, tapi aku benar-benar tidak terbiasa memanggil orang dengan panggilan sopan. Aku susah sekali mengontrol mulut! Apa aku perlu memanggilmu Sunbae atau Hyung?"
"Tidak perlu, hanya setahun. Kurasa tidak apa-apa. Aku juga kurang suka dipanggil Hyung!"
Suho mengangguk-angguk mengerti "Bagaimana kalau Sunbae?"
Kris menatap iris coklat Suho "Itu terlalu formal! Aku tidak suka!"
Suho tersenyum "Kalau begitu, apa aku boleh bicara banmal dengamu?"
Kris kembali menghindari wajah Suho yang cerah "Terserah!"
Suho tertawa, dia menutup mulutnya agar tawanya tidak meloncat kemana-mana "Baiklah, Kris"
Kris menghidari wajah Suho. Dia kurang suka ditatap lama-lama oleh orang lain. Dia tidak mau jatuh cinta pada orang lain meskipun itu lelaki ataupun perempuan. Salah satu orang yang pernah dia taksir hanyalah guru sastranya waktu smp dulu, namanya Yoo Yu Ra. Masih muda dan cantik. Namun, cinta sepihaknya itu berakhir menyedihkan karena gurunya itu akhirnya menikah dengan guru olahraga sekolahnya. Dan itu membuatnya berjanji tidak akan menyukai orang lain apalagi yang lebih tua darinya. Setidaknya terhitung sampai saat ini, dia tidak pernah menyukai orang lain.
Kesan pertama saat Kris melihat Suho, dia merasa Suho merupakan orang polos dan sedikit bodoh. Serta ceroboh. Suho tidak pernah bersikap genit kepadanya sampai saat ini. Suho juga tidak pernah merasa canggung dengan orang lain. Suho pribadi yang menyenangkan dan selalu tertawa di depannya. Kebanyakan orang-orang yang selama ini mendekati Kris akan mencoba menggoda Kris dan berusaha memberikan nomor teleponnya pada Kris. Itu membuat Kris tidak suka danmerasa terganggu.
"Hei! Kris, kamu mau sampai kapan bengong disana? Kamu tidak mau menemaniku ke kantin rumah sakit?" tanya Suho yang menyadari Kris melamun. Lelaki pendek itu berdiri di depan Kris yang masih terduduk.
"Ah, iya.. maaf" Kris berdiri lalu mengikuti langkah Suho.
"Kris-a…" Suho hendak saja memperingatkan Kris agar dia tidak berjalan terlalu cepat. Tapi, Kris sudah menyelanya dulu.
"Aku tahu, aku akan mengikuti langkahmu!"
Suho tersenyum lalu mengangguk "Pintar!"
Keduanya berjalan berdampingan hingga sampai di kantin rumah sakit
Suho dan Kris kembali dari kantin rumah sakit sambil membawa sekantung kecil makanan, Suho hendak masuk kembali ke kamar tempatnya tadi dirawat namun saat dia hendak membuka pintu, tangannya dihalangi oleh Kris.
"Kurasa sebaiknya kita jangan masuk dulu" katanya pelan.
"Kenapa?" Suho menarik tangannya lalu memandang Kris penuh tanda tanya.
"Ada pembicaaan yang serius di dalam. Akan tidak sopan kalau kita menganggunya" jawab Kris lalu dia berjalan menjauhi kamar dan duduk di bangku yang ada di depan kamar.
"Oh" Suho melirik kaca di pintu kamar dan melihat orang tuanya dan orang tua Kris sedang berbincang serius. Dia menyadari, akan tidak sopan kalau dia mengganggu. Suho lalu menyusul Kris dan duduk di sampingnya.
Kris tetap diam seperti biasa. Dia bukan tipe orang yang sudi membuka topik pembicaraan. Sedangkan Suho hanya diam sambil menikmati makanannya yang tadi dia beli. Dia terlalu canggung untuk mengajak Kris ngobrol karena sebenarnya Suho juga tahu kalau Kris adalah orang yang tidak suka bicara banyak (dilihat dari kesan pertama). Jadi lebih baik, dia diam dan menikmati makannya sendiri.
"Lebih baik aku diam saja" batinnya.
5 menit…
10 menit…
Akhirnya 15 menit berlalu…
"Hei sampai kapan ini akan berakhir?" teriak Suho dalam hatinya karena tidak tahan berdiam diri. Sampai habis makannya dan dia sudah meremas bungkusnya hingga jadi bulatan kecil. Dia ingin sekali mengutuk Kris karena dia telah membuat suasana menjadi sedikit menakutkan. Suho bertaruh, dia lebih betah sendirian daripada ditinggal berdua dengan Kris.
Tapi, suara dering handphone akhirnya memecah kehenngan diantara keduanya. Suara itu mengagetkan Suho, otomatis dia meraba kantung jas seragamnya, tapi dia tidak merasa handphonenya itu berbunyi dan bergetar. Akhirnya, dia sadar, kalau si pemilik handphone adalah orang yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.
"Yeoboseyo?" suara berat Kris mengawali pembicaraannya. Suho hanya bisa menduga siapa kira-kira lawan bicara Kris dalam hatinya "Pasti dari pacarnya" batin Suho.
"Maaf, aku tidak bisa datang, ibuku terkena kecelakaan"
Suho mengangguk-angguk "Benar juga, pasti Kris punya janji kencan"
"Iya. Sudah tidak apa-apa, terima kasih karena telah mengkhawatirkan ibuku. Akan aku sampaikan salammu padanya. Iya, maaf ya aku tidak bisa datang, Kyungsoo"
Dahi Suho berkerut "Kyungsoo? Jadi nama pacarnya Kyungsoo. Benar juga, laki-laki seperti dia pasti sudah punya pacar"
Suho tetap berada dalam pikirannya saat Kris menegurnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kris yang menyadari dahi Suho berkerut seperti memikirkan sesuatu.
Suho tersentak "A… apa?" tanya Suho lalu tersadar dari lamunannya wajahnya yang tampak idiot kini terlihat seperti muka anak anjing tersesat.
"Apa yang kamu pikirkan?" Kris mengulangi pertanyaannya dan memasukkan handphonenya ke dalam saku jaketnya.
"Tidak" jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah" Kris menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu menatap koridor rumah sakit yang dilewati oleh dokter, pasien dan perawat yang datang silih berganti.
Suho sebenarnya tidak mau ikut campur urusan pribadi Kris, tapi dia penasaran dengan siapa yang baru ditelepon Kris kala tadi.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Suho penasaran tanpa memandang wajah Kris.
Kris menoleh melihat Suho "Apa kamu begitu ingin tahu kehidupan pribadiku?" tanyanya.
Suho merasa pipinya memerah seperti terbakar. Betapa bodohnya dia karena menanyakan hal yang aneh seperti tadi. Suho lantas menggeleng dan menyembunyikan wajahnya.
"Kurasa tidak. Maaf aku bertanya hal itu padamu, aku hanya ingin tahu" jawab Suho.
Kris menyunggingkan seringaian menyebalkan miliknya. Dia lalu mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Suho.
"Suho -ya, apa kamu tertarik padaku?" tanya Kris pelan.
Suho tersentak lalu menoleh dan mendorong dada Kris yang keras sambil berteriak "YA! Apa yang kamu katakan barusan?"
Kris menarik diri. Dia terkekeh pelan sambil menutup mulutnya.
"Aku hanya bercanda" tawa Kris "Jangan serius"
"Itu sama sekali tidak lucu" balas Suho. Wajahnya sekarang memerah dan panas. Dia merasa bodoh di depan lelaki tinggi yang baru saja mengerjainya ini.
"Kamu terlihat bodoh" tambah Kris dan kini tawanya lebih keras.
Suho menatap Kris tajam "Itu benar-benar tidak lucu! Menyebalkan!" ucapnya seraya mengerucutkan bibir dan menghentakkan kakinya pelan. Sudah cukup banyak orang yang mengatainya bodoh. Bahkan ibunya sendiri mengatakan dia bodoh dan ceroboh.
Kris kini menghentikan tawanya. Kini dia bingung dengan dirinya sendiri. Dia tidak pernah tertawa seperti ini. Kris adalah orang yang susah tertawa. Tersenyum saja jarang apalagi tertawa lepas. Tapi saat ini, kenapa dia bisa dengan mudah tertawa di depan Suho? Aneh.
"Ada apa denganku?" tanya Kris dalam hatinya. Dengan cepat, dia mengendalikan ekspresinya dan kembali menjadi Kris yang cool dan menyebalkan seperti biasa. Kris memang begitu, suka jaga image.
"Apa eommamu baik-baik saja Kris?" tanya Suho membuyarkan segala pikiran Kris yang melayang-layang.
"Eh, eomma?"
"Iya. Apa eommamu punya luka serius? Apa dia lebih parah daripada aku?" tanya Suho lagi.
"Tidak. Dia baik-baik saja. Terima kasih ya, sudah menolong eomma ku… entah, bagaimana kalau aku sampai kehilangannya" jawab Kris.
Suho tersenyum "Syukurlah"
Kris kini menatap Suho dengan pandangan heran "Kenapa kamu menyelamatkan eommaku?"
"Kenapa?" senyum pudar dari bibirnya digantikan oleh tatapan polos milik Suho. Dia mengulang pertanyaan Kris dan menatap balik wajah pemuda tinggi disampingnya ini.
"Eommaku bisa saja terbunuh, dan kamu dengan nekat menyelamatkan eommaku. Itu bisa membuatmu terbunuh balik" jelas Kris.
Suho kini tersenyum kecil "Aku tidak tahu, apa alasan manusia untuk slaing membunuh dan menyakiti. Tapi, untuk saling menolong, itu tidak diperlukan alasan yang logis kan?"
Sebaris kalimat yang barusan keluar dari bibir Suho membuat Kris kini sediki kagum pada menusia kecil di depannya. Siapa sangka dengan wajah innocent seperti Suho bisa punya quotes bagus seperti itu.
"Kamu benar. Tidak perlu alasan logis saat tolong menolong" Kris mengangguk setuju.
Suho kini memandang jari-jari tangannya yang kecil dan putih "Aku bersyukur karena jari-jari tanganku tidak terluka"
Kris mengernyit heran "Kenapa?"
"Aku tidak bisa hidup tanpa jariku" jawab Suho sambil meletakkan telapak tangannya ke pipinya "Aku tidak bisa menemukan nada tanpa jariku"
Kris kini tidak mengerti apa yang dibicarakan Suho. Dia ingin bertanya lagi namun urung saat dia melihat Suho memandang seseorang. Dengan cepat, Kris mengikuti arah pandang Suho dan Suho pun berkata pelan.
"Appa…"
Jun hoo (ayahnya Suho) tersenyum lalu berkata "Ada yang ingin appa beritahukan padamu. Ayo masuk" jelas appa Suho.
Suho lantas berdiri, mengikuti ayahnya.
"Kris juga. ayo masuk" jun hoo tersenyum pada Kris dan mereka akhirnya masuk kedalam kamar no 297 tempat Suho tadi dirawat.
.
.
TBC !
Maap diputus sampai sini, kkekeee ._.v
Chapter ini panjang ya… aku lagi banyak ide jadi sampai keasyikan nulisnya, habisnya ini pelampiasan setelah UTS biologi, akuntansi sama fisika yang serasa bisa bikin rambut berdiri (loh, curhat?)
Makasih banyak bagi yang sudah baca!
#tebar-tebar duitnya Suho .
