Title : Rhythm of Love

Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair

Other Cast : silahkan cari sendiri ._.

Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi

Rating : T

Length : Chaptered

Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).

Author : Sung Rae Yoo

Heellloooo (teriak pake TOA masjid).. I am Back! Karena lagi banyak ide dan enggak ada jadwal ulangan selain UTS IPS .

Sebelumnya ada yang nanya kan, sebenarnya Suho itu siapanya Kris? Jawabannya, Suho bukan siapa-siapanya Kris ._. Itu ayahnya Kris nelpon buat jenguk ibunya, kan ibunya juga ikut terlibat dalam kecelakaan, jadi gara-gara itu keluarganya Kris jadi kenal sama Suho.

Makasih sebanyak-banyaknya buat yang sudah review dan baca #tebar-tebar bakpao

Maaf juga kalau banyak typo dan enggak sesuai harapan T.T soalnya author lagi banyak tugas dan kegiatan sekolah yang enggak bisa ditinggal (sok sibuk)

Oke, daripada keterusan… silahkan dinikmati chapter 3nya ! ^^v

#lempar confetti

#yuhuu (?)

.

.

[Chapter 3]

Suho dan Kris mengikuti langkah Juh Hoo masuk ke dalam kamar. Begitu masuk, ibunda Suho langsung memeluk Suho sambil menatapnya dengan siratan mata bahagia. Suho kini terkejut dan bingung seraya menatap mata ibunya dalam.

"Eomma, ada apa?" tanya Suho tidak mengerti.

Kris yang juga sepertinya tidak tahu, hanya menyandarkan punggungnya di dinding putih kamar tersebut sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya.

"Kamu akan sekolah di Seoul!" pekik Soo Min. Eomma Suho ini langsung mendekap tubuh putranya lebih erat. Membiarkan Suho yang masih belum bisa mencerna perkataan ibunya sendiri. Atas dasar otaknya saja yang lamban atau mungkin perkataan ibunya yang membingungkan di mata Suho.

"Hah? Kenapa tiba-tiba?" tanya Suho sambil melepaskan pelukan ibunya karena dia merasa sesak.

"Nyonya Wu bersedia membiayaimu untuk sekolah di Seoul sebagai bentuk permintaan maafnya! Aaah, terima kasih tuhan.. akhirnya anakku yang tidak seberapa pintar ini bisa sekolah di Seoul" jelas Soo Min sambil tersenyum lebar.

Suho tidak marah saat ibunya secara tidak langsung menyebutnya bodoh (tidak seberapa pintar) dia terlalu sibuk memikirkan apa maksud dengan perkataan ibunya barusan.

Ibu dan ayah Suho memang bukan berasal dari keluarga kaya. Mereka tinggal di luar kota Seoul. Jun Hoo hanyalah seorang pengusaha kecil, yaitu pemilik sebuah restoran ayam dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dan selalu setia membantu Jun Hoo menjalankan restorannya.

Bagi Soo Min. Pendidikan Suho adalah yang terpenting, dia ingin anaknya sekolah sampai tinggi dan mengejar apa yang diinginkannya. Begitu ayah dan ibu Kris mau membiayai sekolah Suho di Seoul (sekolah di Seoul punya mutu pendidikan lebih bagus) Soo Min dan Jun Hoo senang bukan main. Ini berarti, anaknya akan berubah menjadi anak pintar jika Suho disekolahkan di Seoul (setidaknya itu menurut ortunya Suho)

"Aku? Sekolah di Seoul?" tanya Suho sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Kamu, berterimakasihlah pada keluarga Wu karena mau menyekolahkanmu disana. Mereka sungguh baik, iya kan?" balas Jun Hoo sambil menepuk pundak anaknya.

Bukannya senang, air muka Suho kini berubah kesal. Sepertinya ambisi ibu dan ayahnya untuk menjadikan dirinya pintar (pintar menurut ibu dan ayahnya Suho itu jago matematika, fisika dan ikut olimpiade. Segala hal yang sangat bertolak belakang dan jadi kelemahan Suho) masih melekat kuat.

"Eomma! Appa, kenapa tidak minta mereka membelikan piano baru untukku? Piano di rumah sudah rusak, tust nya saja sudah copot beberapa! Kenapa malah aku disekolahkan di Seoul?" tanya Suho dengan kesal.

"Hush! Tidak sopan!" Soo Min kini mendadak mengeluarkan pandangan mengerikan pada anaknya dan menjitak kepala Suho.

"EOMMA!" Suho berteriak "Aku tidak mau sekolah disana! Aku tahu aku bodoh, tapi sekolah di sekolahku yang biasanya saja sudah cukup. Huweee… apa kata anak-anak Seoul kalau aku sekolah disana?"

Cengengnya Suho keluar. Semua memandang Suho dengan tatapan heran. Disekolahkan di Seoul dia tidak mau, dan malah meminta sebuah piano.

"Memangnya kenapa? Memang kamu sudah pernah ke Seoul? Belum kan. Disana kamu bisa hidup dengan baik dan jadi anak pintar" nasihat Jun Hoo.

"Kami akan membiayai semua biaya pendidiaknnya kok. Tenang saja. Suho hanya tinggal sekolah saja sampai lulus!" ucap Shi Yeon sambil tersenyum manis.

"Tapi aku lebih ingin piano!" rengek Suho "Appa! Eomma!"

Kali ini Kris melihat adegan di depannya dengan tatapan aneh, dia membatin dalam hati "Kukira perkiraanku salah. Tapi dilihat dari sisi manapun dia memang benar-benar bodoh!"

"Berhentilah merengek! Pokoknya tidak ada tapi-tapian. Kamu harus sekolah disana! Eomma tidak mau anak eomma terus-terusan jadi bodoh! Kamu kira eomma tidak malu saat mengambil rapormu dan kamu selalu dapat urutan terakhir?" balas eomma Suho tajam. Membuat Suho semakin malu karena aibnya dibuka sendiri oleh ibunya.

"Kalau aku sekolah disana! Aku bisa-bisa jadi rangking terakhir dari yang paling akhir! Anak Seoul kan semua pintar!"Suho mencoba membuat alibi.

"Nah kan, makanya jadi anak Seoul supaya pintar!" jawab Soo Min.

Suho bungkam, kemudian dia berfikir keras agar meluluhkan hati ibunya yang sekeras batu itu, kemudian Suho merajuk lagi "Eomma! Kalau aku sekolah di Seoul, aku tinggal dimana? Seoul kan jauh dari rumah? Memangnya eomma mau, aku pergi saat matahari belum terbit dan pulang malam hari? Tega!"

Soo Min kini terdiam meresapi perkataan anaknya "Kamu benar juga"

Suho tertawa menang dalam hati "YES!"

Tapi kemudian, Shi Yeon menjentikkan jarinya "Tenang saja, kamu bisa tinggal di Seoul bersama Kris"

Suho mematung. Pupus sudah harapannya untuk dapat piano baru dan tetap tinggal di sekolah lamanya.

Soo Min terbelak lebar "Benarkah?"

"Iya. Kris juga sekolah di Seoul. Dia kelas 3 SMA, Suho bisa masuk di sekolah yang sama dengan Kris dan mereka bisa tinggal di rumah Kris. Kris memang tinggal sendirian, selama kami terus mengurus bisnis. Aku yakin Kris tidak keberatan. Lagipula, Kris butuh teman" jelas Shi Yeon.

Mendengar ibunya menyebut namanya berulang kali, Kris kini mendelik "EOMMA!" ucap Kris dengan intonasi yang dinaikkan "AKU?"

Shi Yeon mengangguk "Iya kamu, kenapa? Kamu perlu teman. Selama 2 tahun kamu hidup sendirian, kamu harus mau berbagi dengan orang lain"

"Tapi kenapa? Kenapa eomma tidak carikan saja apartemen untuknya? Atau apapun, asal jangan taruh dia dirumahku!" ucap Kris.

Kris merasa hidupnya yang tenang kini terancam bahaya. Si makhluk bodoh di depannya ini pasti akan membuat berantakan hidupnya yang semula sudah tersusuh rapi. Aish, Sial.

"Kris! Yang sopan dong! Jangan membentak Nyonya dan Tuan Kim! Masih kecil juga sudah berani sama orang tua! Awas Karma (?)" ucap Jae Won sengit pada anaknya "Lagipula yang membangun rumah itu adalah appa, jadi itu rumah milik appa"

"Appa!" Kris mendecak sebal. Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa ayah dan ibunya tidak menuruti permintaannya?

"Turuti apa kata eomma dan appa atau aku akan sita kunci mobilmu!" ancam Shi Yeon membuat Kris bungkam. Mobil hasil tabungannya selama ini, jika disita dia tidak sanggup. Hasilnya menabung dari usia 5 tahun!

"Suho juga, dengar dan ikuti kata eomma dan appa atau eomma akan membakar pianomu!"

Suho kini tersentak "EOMMA JANGAN!" teriaknya

"Iya, iya baiklah, aku mau sekolah di Seoul dan tinggal dengannya! Asal jangan buang pianoku! Huweee… jangan dibakar!" ucapnya dengan memohon kepada ayah dan ibunya.

"Kris?" Jae Won memutar bola matanya dan kini menatap mata anaknya yang tertunduk.

"Serahkan kunci mobilmu kalau tidak mau! dan satu lagi, serahkan semua ATM milikmu pada ibu!" ancam Shi Yeon

"Eomma ini pemaksaan. Tindakan kriminal" elak Kris masih keras kepala.

"Tidak ada tindakan istilah kriminal diantara keluarga Kris, cepat serahkan kalau kamu tidak mau! Atau katakan kamu mau!" desak Shi Yeon.

Oke ibunya kini sudah seperti rampok yang memaksa. Mau tidak mau, Kris harus mengalah dan menuruti perintah kedua orang tuanya ini. Meskipun setengah hati.

"Iya, iya. Aku tahu! Dia bisa tinggal dirumahku" jawabnya sambil memasang wajah kesal. Seribu kali lebih kesal dari sebelumya.

"Bagus! Anak pintar!" Shi Yeon mengacak rambut Kris dan tersenyum penuh kemenangan pada putranya yang tinggi ini.

"Bersihkan kamar yang satu itu di rumahmu, supaya Suho bisa menempatinya dengan nyaman! Oke, eomma percaya padamu" ucap Shi Yeon sambil melempar wink ke arah anaknya.

"Tentang kepindahan anakmu, aku akan mengurusnya. Nanti kami kabari lagi! Tenang saja!" ucap Jae Won.

"Terima kasih, Tuan dan Nyonya Wu" ucap Soo Min dan Jun Hoo bersamaan.

Orang tua Suho dan Kris tersenyum dan tertawa bersama. Sementara Kris dan Suho berpandangan sebentar, lalu keduanya menunduk dan menghela nafas panjang.

Tanpa sadar, kedunya mengucapkan kalimat yang sama dalam hati masing-masing.

"Ya Tuhan, aku mohon tolong selamatkan hidupku"

5 hari kemudian

Ini hari Sabtu, dan Kris baru saja selesai membereskan kamar (yang sebelumnya adalah kamar tamu) yang sekarang akan segera beralih fungsi menjadi kamar Suho. Kata eommanya, Suho akan datang sore hari sekitar jam 3. Eomma Kris juga mengancam anaknya itu agar berperilaku sopan dihadapan orang tua Suho nantinya.

Kris merebahkan diri di kasurnya dan memukul kasur empuk itu berulang kali.

"Kenapa? Kenapa hidupku ini, ya ampun!" teriaknya kesal.

Kris memang tidak suka hidupnya dicampuri orang lain, dan kini, Suho akan tinggal bersamanya dan akan membuatnya bertemu dengan si Pendek itu selama nyaris 24 Jam. Ini mengerikan.

Sifat egois dan menyebalkan memang sudah jadi trademark Kris dan orang-orang disekitarnya sudah tahu sifatnya itu. Kris yang sok cool dan berhati keras.

Kris terduduk saat mendengar nada panggilan masuk dari ibunya. Dia mengangkat telepon dan benar saja, kedua orang tua Kris dan keluarga Kim telah ada di depan rumahnya. Kris berdiri dan segera merapikan rambutnya lalu bersiap membuka pintu.

Saat pintu dibuka perlahan, menyembul kepala ayahnya yang tinggi, kemudian ibunya, lalu terlihat orang tua Suho. Kris lalu bisa melihat sesosok laki-laki dengan kemeja kotak-kotak dan celana putih berada di belakang sambil menyandang ransel coklat. Wajahnya menunduk, sepertinya dia belum siap untuk tinggal jauh dari rumahnya.

"Ah, silahkan masuk"

Kris berusaha seramah mungkin. Tapi tetap saja jadi fail karena suaranya tidak bisa berbohong. Suara yang berat penuh penekanan itu terlihat jelas bahwa Kris setengah hati melakukannya.

"Suho, kamu bisa meletakkan barang-barangmu di kamar dulu. Kris antar dia!" eomma Kris melempar pandang pada putranya yang kini tengah memasang wajah jengkel.

Suho mengikuti langkah Kris menuju sebuah kamar yang berada di dekat ruang tengah. Suho memasuki kamar tersebut dan saat lampunya dinyalakan , Suho hanya diam ternganga.

"Orang ini punya rumah yang hebat" batinnya dalam hati.

"Kenapa?" tanya Kris sambil memandang Suho yang diam dan tak kunjung meletakkan barangnya.

Melihat Suho tidak menjawab, Kris memandang sekeliling kamar dan melihat apa ada yang aneh atau tidak di kamar itu. Tapi, kamar dengan cat dinding warna biru itu tidak punya sesuatu yang aneh dan memalukan.

"Apa sih?" tanya Kris penasaran.

"Kamu punya kamar yang keren" ucap Suho. Di rumah lamanya, Suho hanya punya kamar kecil dan penuh dengan buku-buku serta partitur musik.

"Hanya karena itu?" tanya Kris heran.

Suho dengan cepat memasuki kamar lalu merebahkan dirinya di tempat tidur, dia memejamkan matanya dan tersenyum kecil.

"Aku tak bisa percaya rumah sekeren ini jadi rumahmu sendirian Kris" gumam Suho "Bahkan ini lebih besar dari rumahku"

Kris memutar bola matanya jengah dengan kelakuan Suho yang menurutnya terlalu kekanakan. Manusia seperti Suho baru kali ini dia temukan dari sepanjang hidupnya. Dan mungkin cuma satu-satunya di dunia.

"Berhentilah tidur disana dan cepat keluar. Kamu tahu, aku hampir gila saat ibuku bilang kamu akan tinggal disini" ucap Kris dengan bentakan.

Suho terduduk, mempoutkan bibirnya sambil menatap Kris tak kalah tajam "Memang kamu saja? Aku juga hampir gila begitu ibuku mengancamku agar tinggal serumah denganmu dan sekolah di Seoul!"

Kris mendekati Suho lalu menarik lengan baju Suho agar lelaki pendek itu segera bangkit dan keluar "Berhenti bertindak bodoh dan cepat selesaikan masalah ini. Kamu tiba-tiba ada di hidupku! Memangnya rumahku tempat singgah hah?"

"Apa sih? Kamu kira aku setuju dengan ini? Kamu kira aku mau serumah denganmu? Kamu kira juga aku sudi disekolahkan di Seoul? Aku tidak mau menjalani ini semua kalau bukan karena perintah ayah dan ibuku!" bentak Suho "Kau kira hanya kamu yang merasa muak dengan ini? Aku juga Kris, aku juga sebenarnya tidak ingin!"

Kris diam. Sepertinya dia ingin menyumpal mulut kecil Suho dengan setangkup roti panggang sisa makan siangnya. Kenapa dengan mulut sekecil itu dia bisa berkata begitu banyak?

"Sudah. Hentikan! Aku lelah, ayo keluar!" Kris kini melepaskan pegangannya dan berjalan kembali ke ruang tamu tempat dimana orang tua mereka berkumpul.

"Kamu duluan yang mulai! Kenapa malah menyuruhku berhenti? Hei! Kris! Kamu dengar aku tidak?"

Suho mulai berteriak ketika melihat punggung Kris menjauh dan tidak mengindahkan pernyataannya. Suho akhirnya hanya bisa mendengus dan mengikuti langkah Kris.

1 jam.

1 jam kemudian orang tuanya dan orang tua Suho sudah pulang. Dan itu merupakan satu jam terlama dalam hidup seorang Kris. Setelah di rumahnya hanya tersisa dia dan Suho, Kris membereskan ruang tamunya lalu masuk kedalam kamarnya, tidak keluar sampai jam menunjukkan pukul 6 sore.

Melihat Kris yang tidak keluar, Suho jadi khawatir dan merasa bersalah. Suho lalu mengalah dan mengetuk pintu kamar Kris. Dia tidak berani masuk ke kamar yang bukan miliknya, akhirnya dia memilih untuk menunggu Kris sendiri yang keluar.

"Kris, kamu tidak tidur kan?" tanya Suho dari luar "Maafkan aku"

Suho menunggu beberapa saat dan tidak ada balasan dari dalam.

"Kris! Kamu dengar aku tidak?" tanya Suho "Jangan seperti anak kecil dong! Kalau marah, jangan begini. Aku jadi merasa tidak enak! Kris!"

Oke, kini tidak ada yang menjawab. Suho jadi seperti orang gila karena bicara sendiri pada sebuah pintu.

"Kamu marah karena aku? aku tahu aku mengacaukan hidupmu, jadi maafkan aku!" ucap Suho panik karena tak kunjung ada balasan suara Kris dari dalam kamarnya.

"Kris, aku serius, maafkan aku! tapi, walaupun aku minta maaf, aku tidak bisa pindah dari sini karena ayah dan ibuku! Kris, buka pintunya dong!"

Suho kini tidak tahan lagi, dia hendak membuka pintu kamar Kris. Namun dia batal setelah dia lebih dulu tersentak karena pintu kamar itu terbuka tiba-tiba.

Muncullah sosok Kris dengan mata sedikit berair di ujungnya. Dia menguap lalu menggaruk tengkuknya.

"Kris?" Suho menatap Kris dengan bingung.

"Apa?" tanya Kris, dia menutup mulutnya saat dia menguap cukup lebar.

Suho bengong "Kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi?" tanya Suho dengan tampang bodohnya.

Kris menggeleng "memang apa yang kamu katakan? Dan… YA! Apa yang kamu lakukan di depan kamarku?"

Suho mendengus, jadi perkataan minta maafnya tadi tidak didengar? Suho berasa jadi orang gila tadi.

"Kamu tidur barusan?" tanya Suho tanpa menjawab pertanyaan Kris.

Kris mengangguk "Iya. Memang kenapa? Menyingkir dari hadapanku, aku mau ke dapur" bentak Kris.

Luntur sudah keinginan minta maaf Suho karena Kris. Suho dengan kesal menendang kaki kiri Kris menggunakan kaki kanannya yang kecil dengan kuat.

"Agh! Apa yang kamu lakukan Pendek?" tanya Kris sambil memasang tatapan mengerikan pada Suho, tapi Suho malah berlari meninggalkan Kris yang kesakitan.

"Apa kamu bodoh? Aku baru saja menendangmu! Dasar manusia Tiang!"

Suho masuk kamarnya dan mengabaikan pandangan heran Kris.

Suho membanting tubuhnya keatas kasur empuknya membuat beberapa bantalnya berjatuhan. Dia melempar boneka penguin (yang dia bawa dari rumah) ke tembok dan menyumpahi Kris. Suho sekarang yakin. Tinggal dengan Si Manusia Tiang itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kris yang sama sekali tidak peduli padanya dan bahkan terkesan tidak suka dengannya.

"KRIS! BODOH!" teriaknya sambil sekali lagi melempar boneka pengiunnya yang berukuan sebesar guling.

"Bagaimana bisa aku tadi minta maaf padanya? Apa aku sudah gila? Arghh! Menyebalkan!" runtuknya kesal.

"Kenapa juga aku harus serumah dengannya? Dan, Hei! Aku satu sekolah dengannya? Ya Tuhan Hidupku!" Suho kini bergulung-gulung di kasurnya sambil mengacak-acak rambut hitamnya. Kepalanya mendadak pusing mengingat sekarang hari sabtu dan di hari minggu dia akan menjalani hari pertamanya sebagai siswa baru di sekolah.

Suho perlahan menghentikan perbuatannya (bergulung-gulung diatas kasur) dan perlahan rasa lelah mulai menyelimutinya. Lama kelamaan, dia mulai tertidur.

Pukul 8 malam, Suho bangun. Dia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju dapur. Suho belum makan apa-apa dari tadi siang, sehingga dia mulai merasa lapar.

Saat tiba di dapur, dia melihat Kris tengah ada di depan kulkas dan mengaduk-aduk isinya, mencari sesuatu mungkin.

"Kris!" panggil Suho.

Kris terlihat kaget dan menjatuhkan buah apel yang dia pegang. Membuat apel itu menggelinding dan berhennti tepat di ujung kaki Suho. Suho membungkuk lalu memungut apel merah itu dan menatap Kris dengan pandangan minta dikasihani.

"Kris!" ulangnya.

"Kau mengagetkanku!" ucap Kris sambil menyahut apel dari tangan Suho. Dia langsung mencucinya di washtafel dan mengambil pisau untuk mengupasnya "Ada apa?"

Suho mendekati Kris lalu duduk di kursi meja makan yang ada di samping Kris "Aku lapar"

Kris menjawab tanpa menghentikan kegiatannya "Ya makan"

Merasa tidak diperhatikan, Suho mencibir "Aku makan apa?" tanyanya.

"Makan apa yang bisa dimakan" jawab Kris cuek.

Menyerah dengan Kris, Suho kini meletakkan kepalanya di meja dan melihat Kris yang mengupas apel tanpa berkata apapun.

"Jangan memandangku begitu" ucap Kris risih. Dia tidak suka dipandang lama-lama dan jadi pusat perhatian.

"Aku lapar" ulang Suho.

"Kau menyebalkan ya!" dengus Kris. Diambilnya sepotong apel lalu dimasukkannya ke mulut Suho. Kris lalu membersihkan mejanya yang penuh sampah kulit apel dan mengembalikan pisaunya.

Suho kini terduduk dan terkejut dengan apa yang dilakukan Kris barusan.

"Aku ingin sekali menyumpal mulutmu kau tahu?" Kris melahap sepotong apel lalu beranjak pergi dan mengambil sebuah cangkir.

Lelaki pendek yang tengah duduk sambil menatap Kris yang kini tengah menuangkan air panas pada cangkirnya. Setelah menelan habis apelnya, Suho bertanya pada Kris "Apa yang kamu lakukan?"

Kris berbalik "Haruskah aku menjelaskan apapun yang sedang aku lakukan padamu? Dan haruskah aku menyumpal mulutmu lagi?"

Suho meniup-niup poninya "Kalau kau menyumpalnya dengan apel. Aku mau!" jawabnya polos.

Kris memandang Suho lalu dimasukkannya sepotong apel kedalam mulut Suho. Kris kini berbalik lagi dan menyelesaikan urusannya. Membuat secangkir teh.

"Kris, aku juga mau!" Suho meloncat dari tempat duduknya, dia menelan apelnya yang masih tersisa di mulut lalu mengambil cangkir juga.

"Apanya?" tanya Kris "Kamu mau teh juga? Bikin sendiri!"

Suho cemberut. Dia lalu mengambil air panas dan menuangkannya di cangkirnya lalu memasukkan teh celup dan menambahkan gula.

Belum selesai Suho dengan tehnya, Kris sudah pergi meninggalkannya duluan.

"Hei, kamu mau kemana?" tanya Suho. Dengan cepat, dia membawa cangkirnya dan mengikuti Kris dari belakang. Kris melangkahkan kakinya yang panjang dan mulai meniti tangga menuju ke lantai dua.

"Aku ikut ya!" ucap Suho lagi.

Kris hanya menjawab pendek "Terserah"

Suho tersenyum lalu mengikuti Kris naik tangga "Aku baru tahu kalau rumah ini punya lantai dua!"

Kris diam, sepertinya dia mengabaikan adanya Suho di belakang.

"Lantai dua kamu gunakan untuk apa?" tanya Suho lagi.

"Memangnya kamu tidak takut tinggal sendirian di rumah sebesar ini?"

Kris kini diam dan tidak mengindahkan pertanyaan Suho. Saat mereka sampai di lantai 2 barulah Suho berhenti bertanya.

Kris meletakkan cangkirnya di sebuah meja kecil sementara Suho masih diam seperti patung. Matanya terpaku di satu titik. Tepatnya di sudut tembok. Ada sebuah benda besar berwarna putih mengkilat.

Itu piano.

Ralat.

Tepatnya sebuah grand piano. Bersih dan sangat bagus.

"PIANO!" Suho memekik membuat Kris menutup telinganya.

Suho meletakkan cangkir tehnya dengan buru-buru lalu segera mendekati pojok ruangan lantai dua. Di lantai dua ini memang kosong, hanya terdapat piano dan beberapa gitar di sudut ruangan. Meja billiard, serta semacam ruang keluarga dengan televisi dan beberapa sofa.

"Kris, ijinkan aku memainkannya! Aku mohon! Aku mohon!" pinta Suho sambil menggoyang-goyangkan lengan Kris.

Kris tidak tahan dengan reaksi Suho yang berlebihan. Ya, itu hanya sebuah piano. Hanya piano dan Suho melihatnya seolah bertemu artis idolanya. Selain bodoh kris juga menduga bahwa ternyata anak ini juga abnormal.

"Terserahmu. Asal jangan rusak pianonya" ucap Kris.

Suho mengangguk, dia lalu duduk di kursi di depan piano, membuka tutup piano tersebut dan tersenyum.

"Kamu suka main piano?" tanya Suho sambil jari-jari kecilnya mengusap tust-tust piano yang berjejer dan nampak bersih.

"Tidak. Aku tidak terlalu bisa main piano. Aku lebih bisa gitar" jawab Kris sambil menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelah Suho.

"Benarkah? Lalu kenapa ada piano sebagus ini di rumahmu?" tanya Suho. Jarinya kini memencet tust do dan re bersamaan.

"Aku tidak tahu. Aku lupa kenapa bisa ada piano itu disini" jawab Kris asal.

"Aku boleh main kan? Ini lebih bagus dari yang pernah aku lihat sebelumnya" puji Suho. Jari-jarinya kini menekan tust piano dengan cepat dan tidak lama kemudian, Suho sudah memainkan sebuah lagu.

"Sepertinya kamu suka main piano" tebak Kris. Lelah berdiri, dia duduk di samping Suho. Bangku piano yang cukup panjang itu memang muat untuk dua orang.

"Bukan suka. Aku sudah jatuh cinta pada piano" Suho berhenti bermain lalu tersenyum dan memandang benda di depannya ini dengan tatapan yang sulit diartikan Kris.

"Kamu jatuh cinta pada benda mati? Kamu sakit ya?" tanya Kris bercanda sambil memegang dahi Suho.

Suho menepis tangan Kris "Itu perumpamaan dasar bodoh!" bentaknya kesal.

Kris tertawa kecil "Aku tahu, aku tahu"

Suho meletakkan jari-jarinya lagi di atas tust piano lalu menatap Kris membuat tawa Kris berhenti dan kini dia menatap Suho bingung "Apa?"

"Kalau kamu punya piano, pasti kamu bisa memainkan setidaknya sebuah lagu kan? Aku ingin kamu memainkan piano!" pinta Suho.

"Hah?"

"Ayolah! Aku penasaran, sepertinya kamu bisa main piano!" ucap Suho memaksa.

Kris menggeleng "Aku tidak bisa sedikitpun main piano! Yang aku bisa cuma lagu twinkle twinkle little stars"

Suho kontan tertawa mendengar Kris hanya bisa memainkan lagu anak TK tersebut.

"Jangan tertawa!" bentak Kris, tanpa sadar dia memanyunkan bibirnya pertanda dia kesal.

"Lagu itu juga tidak apa-apa" Suho berkata ditengah tawanya.

"Tidak ah" tolak Kris.

"Aku mohon Kris. Aku ingin melihatmu bermain!"

Kris menghela nafas lalu mulai meletakkan jari-jarinya yang panjang diatas tust-tust piano. Entah kenapa, dia sudi saja bermain alat musik yang sudah lama tidak dia mainkan itu. Dan parahnya lagi, dari kecil hingga sebesar sekarang. Lagu yang Kris hafal adalah twinkle-twinkle little star yang biasanya dimainkan anak TK. Payah!

Setelah lagu pendek itu selesai, Kris menatap Suho dengan tatapan kesal "Puas?"

Suho mengangguk menahan sensasi sakit yang da di perutnya. Akibat dia tertawa terlalu lama.

"Berhenti tertawa atau aku akan menendangmu keluar" ancam Kris.

"Mian, mian! Habisnya, kau lucu!"

Suho berusaha mengontrol tawanya. Kini Kris ganti meminta Suho "Sekarang giliranmu!"

Suho menoleh "Apa?"

"Mainkan lagu untukku!"

Suho tersenyum "Terserah padaku ya?"

Kris mengangguk. Dia tidak menentukan lagu apa yang harus dimainkan Suho. Dia hanya ingin melihat si pendek ini bermain. Sejak pertama kali jari Suho menyentuh tust piano, entah kenapa Kris seperti ingin mendengar nada-nada yang dimainkan Suho lagi.

Perlahan jemari Suho mulai menari diatas piano. Lagu yang dimainkan Suho adalah lagu milik Bruno Mars – When I was your man (soalnya waktu nulis ini, aku dengerin lagunya Bruno mars :3) Kris diam. Dia menatap Suho di sampingnya kini penuh tanda tanya. Sejak saat ini, sejak Suho menggerakkan jarinya diatas piano, entah kenapa, selain nada yang Suho mainkan, ada irama ganjil yang masuk melewati sela hatinya. Kris tidak bisa bicara. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dirinya terlalu sibuk memperhatikan lelaki disampingnya sampai sampai dia sendiri tidak sadar kalau Suho sudah selesai dan kini tersenyum kearahnya.

"Bagaimana? Bagus tidak?" tanyanya lagi dengan senyum lebar di wajahnya.

Kris diam.

"Tidak Suho, jangan tersenyum seperti itu" batin Kris sambil berusaha mengendalikan detak jantungnya yang sedari tadi berubah cepat.

"Kris?" tak pudar senyum dari bibirnya, Suho masih memandang Kris dengan tenang.

Kris menggeleng cepat lalu mengalihkan pandangannya, dia memegang dahinya sendiri, lalu dia berkata dalam hati sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Kris bagkit dari duduknya, dia berjalan menjauhi Suho "Terima kasih sudah bermain. Permainanmu keren"

Suho bengong, melihat kelakuan Kris yang kini sangat aneh dimatanya "Kris? Kau sakit?"

Kris menggeleng "Aku lelah. Aku turun dulu"

Kris turun dan meninggalkan Suho sendirian.

Bukan, Kris bukannya sakit atau apapun.

Kris hanya tidak mau ditatap lama-lama oleh Suho. Dia tidak mau mendengarkan irama ganjil yang masuk ke dalam hatinya setiap dia melihat mata coklat Suho terus menerus.

Dia tidak mau, tidak mau mengakui bahwa sepertinya hatinya sudah mulai terbuka untuk Suho.

.

.

.

TBC !

Kyakakaa… Aneh ya? Iya aneh! *sembunyi di balik Kris. Aku sebenarnya lagi flu dan kepala suka pusing sendiri kalau ada di depan PC T.T Maafff kalau chapter ini aneh dan banyak banget kekurangan lainnya! Ini semua gara-gara efek UTS yang masih melekat pada otak.

Maaf juga yang enggak mudeng dengan cerita yang mbulet ini! -_- Maaf banget !

Makasih buat yang sudah baca #lempar koin emas…

Sung Rae Yoo