Title : Rhythm of Love
Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair
Other Cast : silahkan cari sendiri ._.
Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi
Rating : T
Length : Chaptered
Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).
Author : Sung Rae Yoo
Hey Hey! *lambai lambai tangan ^^
Maaf kalau dirasa lama, soalnya aku lagi sibuk bimbel pagi dan males bawa Laptop ke sekolah. Aku juga lagi sakit dan enggak bisa lama-lama di depan PC. Huwee *nangis gulung-gulung *peluk Kris *nangis lagi, meskipun UTS udah selesai *yey, tapi jadwal bimbel pagi dan try out masih ada banyak *yah… jadi, maaf banget kalau ceritanya jadi aneh, banyak typo, dan gak nge feel…
Oke, ini Chapter 4nya !
Enjoy !
#lempar lempar confetti lagi
#yey
[Chapter 4]
Suho berdiri di depan cermin. Tersenyum sendirian sambil mengagumi seragam yang sekarang tengah dia pakai. Sudah sekitar 1 jam dia berdiri dan tersenyum-senyum sendiri, dia berfikir, bahwa seragam sekolah anak Seoul lebih keren dari seragam sekolahnya dulu. Bahkan, buku-bukunya saja juga keren (meskipun Suho tidak paham isi bukunya, dia menganggapnya keren saja). Setelah puas memandang dirinya sendiri di cermin, Suho menyambar tasnya dan berlari menuju ruang makan. Sesampainya disana, dia melihat Kris berdiri di depan kabin dapur (dapurnya menyatu dengan ruang makan).
"Pagi, Kris!" sapa Suho riang.
"Pagi" sahut Kris pendek tanpa melihat muka Suho. Kris sibuk membuka lemari kabinnya. Sesekali dia menggaruk tengkuk dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
"Apa yang kamu cari?" tanya Suho bingung. Dia berdiri dan menelusuri arah tangan Kris "Apa kamu kehilangan sesuatu?"
Kris menggeleng "Aku mencari sareal. Sepertinya aku menaruhnya disekitar sini, tapi tidak ada" jelas Kris. Dia malah mengaduk-aduk isi lemari kabin membuatnya berantakan.
"Aku akan membantumu!" Suho membuka lemari kabin yang lain. Tapi dia tidak menemukan apapun. Suho kemudian menyerah dan melirik jam dinding yang tergantung di dekat lemari es.
"Kris, aku akan buatkan sarapan untukmu. Kalau kita terus seperti ini, kita bisa terlambat"
Kris tidak peduli dan terus mengobrak-abrik lemari, bahkan dia mencari sampai ke kulkas dan di dalam oven listriknya.
"Kris!" Suho kini menyebutkan nama Kris dengan sedikit berteriak, membuat lelaki tinggi berambut coklat pirang itu berhenti dan kini meletakkan kedua tangannya di samping saku celananya.
"Aku yang buat sarapan" Suho menarik tangan Kris dan menyuruhnya duduk.
Kris hanya diam saja lalu duduk dan memperhatikan Suho "Memang kamu bisa memasak?" tanya Kris setelah dia duduk dan membiarkan Suho membuka kulkas besarnya.
"Err…" Suho menggigit bibir "Sebetulnya tidak"
Kris tersentak "Ya! Kamu mau membakar rumahku nanti? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
Suho mengeluarkan sekotak roti gandum dari kulkas diikuti keju "Habisnya, kalau mencari sereal terus, kita akan terlambat sekolah dan kelaparan"
Kris bangkit dan kini berdiri di sebelah Suho "Sudah, aku saja!" salaknya sambil merebut kantung roti dari tangan Suho.
Suho menolak dan balik merebut roti itu "Tidak. Aku tidak ingin jadi bebanmu Kris, ijinkan aku membantu! Aku menumpang di rumahmu, jadi biarkan aku membantumu!"
Kris berdecak "Kalau kau mau membantu, lebih baik kamu duduk saja! Kalau kamu ikut, dapurku akan berantakan sebentar lagi"
Suho merengut "Aku bukan anak kecil! Jangan jadi manusia egois dong!"
Kris dan Suho mulai merasa suhu ruangan di dapur naik, pagi-pagi sudah bertengkar. Kris berani bertaruh, hidupnya selama ada Suho tidak akan pernah tenang sedetikpun.
"Terserah" Kris menyerah melihat Suho mulai membentaknya. Dia terlalu lelah berdebat dan terlalu pusing memikirkannya. Ini hanya masalah sarapan. Tiba-tiba dia merasa bodoh sendiri karena bertengkar hanya gara-gara masalah ringan.
"Meskipun aku tidak bisa memasak, aku bisa membuat sesuatu yang mudah untuk sarapan" Suho meletakkan 2 lembar roti gandum di atas piring lalu mencari parutan keju.
"Apa?" tanya Kris. Dia kini hanya mengamati Suho dengan berdiri di sampingnya.
"Biasanya, kalau aku buru-buru, eomma akan membuatkanku sandwich keju. Kamu suka keju tidak?" tanya Suho.
Kris mengangguk "Aku suka"
Suho tersenyum. Lalu dia berjalan menjauhi Kris mencari parutan keju "Hei, Kris, kamu simpan dimana parutan kejumu?"
Kris menyandarkan badannya pada kabin dapur "Ada di lemari atas"
Suho berjinjit berusaha menggapai lemari yang tinggi. Bahkan dia sampai melompat-lompat dan meruntuki diri sendiri kenapa dia bisa terlahir sebagai manusia dengan tinggi badan yang pas-pasan.
Kris yang melihat Suho dari belakang tertawa kecil. Menurutnya, Suho yang seperti itu terlihat lucu. Lihatlah bagaimana dia berusaha sekuat tenaga untuk mengambil parutan keju yang ada di lemari atas. Poninya bergoyang-goyang ketika dia melompat dan tangannya berusaha meraih parutan keju.
Kris kasihan melihat Suho terus seperti itu. Dia berjalan lalu berdiri di belakang Suho. Dengan mudah, Kris mengambil parutan keju itu dan membuat Suho berhenti melompat. Suho berbalik badan dan menyebabkan kepalanya membentur dada bidang Kris yang dilapisi pakaian seragam sekolahnya.
"Aduh!" Suho meringis saat merasa dahinya sakit.
"Nih, cepat selesaikan masakanmu!" Kris menyerahkan parutan kejunya pada Suho yang masih memegangi kepalanya.
"Tubuhmu keras sekali! Sakit nih!" Suho menyahut parutan itu lalu mulai memarut keju tepat diatas roti gandum.
"Kenapa menyalahkanku? Salahkan tubuhmu sendiri yang pendek" Kris kembali duduk dan meledek Suho. Membuat si Pendek itu berbalik lalu memukul kepala Kris pelan.
"Auh! Kenapa memukulku hah?" tanya Kris tidak terima sambil memegang kepalanya.
Suho melempar pandangan maut pada pria yang usianya beberapa bulan lebih tua darinya itu.
"Salah sendiri mengataiku pendek! Memang apa bagusnya jadi manusia tiang?" balas Suho, dia meletakkan potongan sosis ke atas rotinya lalu memasukkannya ke dalam oven dan menunggunya beberapa menit.
"Setidaknya aku tidak perlu melompat untuk meraih tempat yang tinggi" jawab Kris membuat Suho kini memukul lengan Kris yang begitu kontras dengan lengan kecilnya.
"Kau menyebalkan! Aku tidak percaya kalau kau adalah anak dari eomma dan appamu, eomma dan appamu sangan lembut tapi kamu begitu menyebalkan! Aku benci padamu Kris!"
Suho masih terus memukul lengan Kris membuat Kris berteriak kesakitan. Siapa sangka dari tangannya yang kecil bisa memukul Kris dan membuat lengan Kris sedikit sakit. Saat Suho masih sibuk memukuli lengan Kris sebagai pelampiasan rasa marah dan malunya karena diremehkan (dan itu memang kenyataan) Kris dengan cepat menahan pergelangan tangan Suho dengan tangannya yang besar. Kini membuat Suho berhenti memukuli Kris dan memandang Kris yang mengeluarkan tatapan horror.
"Jangan pernah bilang kalau kau benci padaku!" ucap Kris sambil mendekatkan wajahnya pada Suho.
Suho diam. Oke, kini dia mulai merasa takut dengan manusia di depannya ini. Dan entah kenapa, tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali saat ini.
"A… apa yang akan kau katakan?"
Kris memejamkan matanya sebentar sebelum terbuka kembali "Saat ini kamu bisa saja bilang membenciku. Tapi, bisa saja besok kau menyukainku kan?"
Lelaki berkulit putih di hadapan Kris kini membulatkan matanya. Entah kenapa, Kris yang ada di depannya saat ini terlihat begitu tampan di matanya.
Suho menutup matanya rapat-rapat saat menyadari wajah Kris semakin mendekati wajahnya dan kini dia bisa merasakan hembusan nafas Kris menerpa wajahnya. Membuatnya serasa lupa bernafas. Kris menahan tawanya melihat reaksi Suho. Detik berikutnya, Kris membenturkan dahinya pada dahi Suho sehingga Suho membuka matanya.
"Aduh!" Suho meringis. Dia membuka mata dan melihat Kris mulai menjauhkan wajahnya dan berusaha menahan tawa.
"K.. kau!" Suho kini melihat Kris yang mulai tertawa sambil menutup mulutnya berusaha mengandalikan tawanya.
"KAU MENYEBALKAN!" teriak Suho. Kini wajahnya tampak memerah dan panas. Bagaimana bisa dia dengan mudah dibohongi oleh seorang Kris? Bagaimana bisa juga dia berfikir bahwa Kris akan menciumnya tadi? Suho sekarang mengakui bahwa dia benar-benar bodoh.
"Kau lucu, Suho! Seharusnya kau lihat wajahmu tadi" ucap Kris disela tawanya. Membuat Suho serasa ingin memasukkan Kris ke penggorengan atau menenggelamkannya ke kolam renang.
"Diam ah, Kris bodoh!" Suho mengelak. Tangannya mengusap-usap dahinya yang sakit akibat berbenturan dengan dahi Kris. Lelaki mungil itu bangkit dari duduknya karena mendengar suara oven. Dia mengambil sandwich keju itu lalu menaruhnya di meja makan. Dengan kesal, dia makan tanpa memandang muka Kris meskipun dia ada di depannya sekarang.
"Kau ini! Kalau makan pelan-pelan, kalau kau seperti ini. Mukamu terlihat lebih lucu dari yang tadi" ucap Kris sambil melahap sarapannya.
"Berhenti bicara. Kalau kita tidak cepat, kita akan ketinggalan bus Kris!" dengus Suho. Dia selesai dengan sarapannya lalu mencuci piringnya. Setelah itu, Suho membuka kulkas dan mengambil susu dan menuangkannya di gelas kaca lalu meminumnya.
Kris dan Suho memang berangkat sekolah menggunakan bus. Malam sebelumnya Kris memang memberitahu Suho segala sesuatu tentang sekolahnya. Termasuk bahwa mereka berdua akan berangkat menggunakan bus. Meskipun Kris memiliki mobil, tapi Kris tidak terlalu suka memakainya untuk ke sekolah (lagipula sekolah tidak mengijinkan) Kris juga menyuruh Suho untuk tidak mengatakan bahwa dia tinggal serumah dengannya. Saat Suho tanya mengapa, Kris hanya menjawab bahwa dia tidak suka nantinya banyak anak yang bertanya sehingga urusan pribadinya diganggu. Suho menurut saja dan merasa bahwa itu bukan masalah besar, lagipula Suho juga merasa tidak ada untungnya juga kalau dia mengatakan pada teman-temannya nanti kalau dia serumah dengan Kris.
Setelah keduanya selesai sarapan, mereka langsung melesat keluar rumah dan berangkat sekolah.
.
.
Suho dan Kris berpisah di gerbang sekolah. Kris yang kelas 12, meninggalkan Suho dan menuju kelasnya sendiri. Suho diam dan bingung harus kemana. Karena dia hanya diberitahu bahwa kelasnya adalah kelas 11.2 jadi Suho mencoba mencari kelas itu.
Setelah ketemu, Suho masuk kelas dan melihat suasana kelas yang ramai karena bel masuk belum berbunyi. Setelah cukup lama termangu di pintu kelas, Suho dengan berani melangkahkan kakinya lalu mencari tempat duduk. Dia akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku nomor dua dari belakang di pojok dekat jendela. Saat dia duduk, seorang anak dengan tubuh tinggi dan berambut coklat tiba-tiba melempar tasnya di bangku di samping Suho membuat Suho menoleh.
"Hey! Anak baru?" tanyanya.
Suho mengnagguk kecil.
"Aku Kim Jongin, kau?"
"Kim Joonmyun, tapi aku lebih sering dipanggil Suho" jawab Suho seraya tersenyum senang karena ada anak yang menyadari kehadirannya dan mau menyapanya duluan.
"Oh, Suho" Jongin menggumamkan nama Suho lalu berteriak memanggil seorang anak laki-laki dengan ransel putih di punggungnya yang baru masuk kelas.
"Baekhyun!" teriak Jongin.
Lelaki yang dipanggil Baekhyun itu menoleh dan melambai pada Jongin. Lalu dia membawa tasnya dan melatakkannya di bangku di depan Jongin.
"Tumben datang pagi" Baekhyun duduk di bangkunya lalu merapikan kerahnya yang berantakan.
"Hehehe, tidak apa-apa kan? Aku ingin sesekali jadi anak yang rajin! Eh, ada anak baru, namanya Suho" Jongin melirik Suho dan tersenyum.
Baekhyun lalu mengikuti arah pandang Jongin dan menatap Suho yang diam dan masih terlihat canggung "Aku Byun Baekhyun!"
Suho mengangguk "Aku senang bertemu denganmu"
Jongin memutar tempat duduknya dan kini menghadap Suho "Jangan formal begitu. Santai saja!" ucapnya sambil menepuk pundak Suho yang kecil.
"Ah, iya. Aku baru pertama kali ke Seoul dan sekolah disini. Jadi, aku sedikit gugup" jelas Suho malu-malu.
"Bagaimana kalau aku mengantarkanmu keliling sekolah nanti? Baekhyun! Kau ikut?" tawar Jongin sekaligus bertanya pada Baekhyun.
"Maaf aku tidak bisa. Aku punya janji dengan Chanyeol!" jelas baekhyun "Maaf ya Suho! Lain kali aku pasti akan mengajakmu jalan-jalan"
Suho mengangguk "Tidak apa-apa"
.
.
Jongin atau yang lebih sering dipanggil Kai, adalah anak yang pertama kali dekat dengan Suho. Saat istirahat, Kai mengantar Suho ke kantin dan berkeliling sekolah. Saat itu pula, Suho baru tah kalau Kai adalah siswa dari klub dance dan punya cukup banyak fans di sekolah. Suho tidak heran. Selain punya banyak fans, Kai juga pria yang baik. Hari itu juga, Suho mendatarkan diri sebagai anggota baru di klub musik. Setelah mendaftar, Kai mengajak Suho ke lapangan basket dan duduk di salah satu bangku tribunnya. Mereka berdua duduk sambil melihat sekelompok orang tengah bermain basket di lapangan.
"Kau popular sekali ya, kai?" tebak Suho saat sedari tadi dia melihat beberapa mata memandang Kai dengan tatapan kagum dan memicarakan nama Kai berulang-ulang.
"Tidak juga. Orang-orang mengenalku mungkin gara-gara aku juara lomba dance sebulan lalu" jawab Kai "Aku tidak ada apa-apanya daripada orang-orang itu"
Kai menunjuk beberapa anak yang tengah bermain basket "Mereka lebih keren dan lebih populer dariku"
Suho mengangguk-angguk.
"Kau bisa lihat lelaki tinggi disana? Dia Park Chanyeol, pacarnya Baekhyun" tunjuk Jongin pada seorang dengan tubuh tinggi dan rambut coklat gelap tengah memegang bola basket dan mendribblenya.
"Dia keren" gumam Suho.
"Jangan berkata begitu. Baekhyun bisa cemburu kalau dia mendengarnya"
Suho menutup mulut "Maaf. Tapi dia memang terlihat keren"
Kai meluruskan kakinya lalu dia menunjuk seseorang yang tengah melakukan lay-up "Kalau dia, dia lebih popular dari siapapun. Tinggi, keren juga. Bahkan saat dia diam juga terlihat keren"
Suho hampir memuntahkan jus apel dari mulutnya saat Kai menunjuk seseorang di lapangan itu
"Kris?" batinnya dalam hati.
"Namanya Kris" jelas Kai "Aish, bahkan namanya saja keren begitu" dengusnya "Aku benar-benar iri dengannya"
Suho terkekeh pelan melihat tingkah kai.
"Menurutku, kau juga keren Kai" puji Suho sambil ikut meluruskan kakinya.
Kai menoleh dan meletakkan botol minumannya di samping bangkunya yang kosong "Jangan berkata begitu ah" ucapnya malu.
Suho tertawa "Aku memujimu! Kau tidak suka?" tanya Suho.
"Bukan begitu. Jangan memujiku terang-terangan begitu ah!" Kai menyentuh kedua pipinya yang sempat memerah.
Suho tertawa, lalu memandang lapangan basket yang luas dan memperhatikan isinya. Sebenarnya, Suho bukan memperhatikan orang-orang yang ada di lapangan itu. Entah kenapa, matanya terus mengikuti tubuh Kris yang bergerak cepat sambil mendribble bola berwarna oranye tersebut. Dalam hatinya, secara tidak sadar. Dia mengagumi Kris saat itu. Bagaimana tidak, tubuh tinggi, tampan dan bisa bermain basket dengan sangat baik membuat Suho tak bisa melepaskan pandangannya pada Kris.
"Apa yang kau lihat?" tanya Kai begitu melihat Suho memandang Kris dengan serius. Matanya lalu mengikuti arah pandang Suho.
"Ah.. ng tidak" jawab Suho tergagap. Dia lalu berdiri dan mengajak Kai untuk kembali ke kelas "Kai, ayo kita kembali saja. Sepertinya bela akan bunyi sebentar lagi"
Kai ikut berdiri, tidak menaruh curiga pada Suho yang berusaha menutupi kegugupannya.
"Baiklah"
Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju kelas mereka kembali.
.
.
.
Hari ini, hari Sabtu. Dan hujan gerimis menghiasi Seoul. Kris menutup jendela rumah saat merasakan udara dingin mulai membelai permukaan kulitnya yang hanya dilapisi oleh sebuah kaus panjang berwarna abu abu. Hujan sudah mengguyur sejak dua jam yang lalu, tepatnya pukul 4 sore dan sekarang sudah jam 6 petang. Kris bersyukur dia tidak kehujanan saat pulang sekolah tadi. Dia juga bersyukur karena kegiatan klub basketnya hanya sampai jam 3 sore karena Changmin Seongsaengnim (pelatih basket) sedang ada keperluan dengan keluarganya.
Tapi, yang berbeda kala ini adalah suasana rumahnya sang sangat sepi. Biasanya, Suho jam segini sudah ada di lantai dua sambil memainkan piano ditemani dengan segelas teh. Ini karena Suho belum pulang. Jam 4 lalu, Kris mendapat pesan singkat dari Suho yang berisikan bahwa dia akan pulang terlambat. Tapi Suho tidak menyebutkan kenapa dan sampai jam berapa. Dan ini semua membuat Kris khawatir secara tidak sadar.
Kris yang tidak tahan memutuskan untuk menelepon Suho, tapi malah terdengar nada panggilan tidak aktif. Kris memandang jendela dan langit yang mulai gelap, gerimis masih setia turun membasahi halaman. Kris kini mencoba menelepon lagi, tapi tetap saja, tidak ada tanda-tanda jawaban.
"Kau kemana sih?" bentak Kris pada telepon gengamnya saat nada panggilan tidak terjawab itu terdengar lagi untuk yang kesekian kalinya.
Pikiran Kris kini mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Kalau Suho sampai hilang atau diculik atau dia tersesat di Seoul. Dia pasti akan mati ditangan orang tuanya dan orang tua Suho. Dia menggigit bibir dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Bingung.
"Apa dia keluar bersama Kai ya?" pikir Kris.
Kris kini handak menelepon kai. Tapi dia lupa, dia tidak punya nomor handphone kai. Lagipula, dia tidak terlalu akrab dengan juniornya itu. Yang dia tahu, Kai sering bersama Suho karena Kris sering melihat keduanya jalan bersama saat istirahat. Tapi dia ingat, dia punya nomornya Lay, temannya sekaligus senior di klub dance yang juga diikuti Kai. Sebelum menelepon Lay, Kris heran sendiri dengan dirinya. Sejak Suho dekat dengan Kai, Kris jadi ikut menyelidiki Kai, bahkan, sebelumnya saja Kris tidak kenal Kai. Lagipula, Suho sering sekali bercerita pada Kris tentang pemuda berkulit tan tersebut.
"Kenapa aku jadi seperti stalker?" batinnya dalam hati saat dia menunggu jawaban Lay di telefon.
Saat nada sambung berhenti, terdengar suara Lay di seberang sana.
"Yeoboseyo"
"Ah, Lay, ini aku Kris. Apa kau tahu dimana kai?" tanya Kris.
"Kai, tidak. Dia sudah pulang dari tadi. Katanya perutnya sakit jadi dia tidak bisa ikut latihan dance hari ini. Kenapa?" tanya Lay heran. Tidak biasanya Kris menanyakan kai.
"Kalau begitu dia sudah pulang dari tadi? Sendirian?" tanya Kris
Kris bisa mendengar nada Lay yang heran di seberang sana "Iya. Aku lihat sendiri kakaknya menjemputnya tadi dengan mobil. Kenapa sih?"
Kris kini yakin, bahwa Kai tidak sedang bersama Suho. Lalu kemana perginya Suho saat ini?
"Tidak. Tidak apa-apa. Maaf aku mengganggumu Lay. Annyeong"
Kris menutup sambungan telepon dan kini rasa kesal sekaligus khawatirnya memuncak. Entah, sepertinya otaknya tidak bekerja dengan baik saat ini. Kris menyambar jaketnya lalu mematikan lampu rumah dan berlari keluar.
Dia mencari Suho meskipun hujan turun. Dia rela saja rambut dan bajunya basah karena tetesan hujan. Bahkan, tidak terlintas di pikiran Kris untuk menggunakan mobil atau dengan mambawa payung. Oke, dia sudah mulai gila hanya gara-gara memikirkan si pendek yang bodoh itu.
Kris memutari kompleks perumahan. Setelah tidak menemukan apapun, dia menelusuri jalanan Seoul. Bahkan, bajunya sudah basah kuyup karena hujan gerimis sudah berubah menjadi hujan deras. Beberapa orang memandangnya heran. Bagaimana bisa ada orang jam segini hujan-hujanan seperti orang gila?
Kris memegang dahinya yang kini terasa pusing. Sudah 1 jam dia mencari. Dan tidak ada tanda-tanda Suho ditemukan. Pandangannya mengabur dan hidungnya mulai memerah. Dia tidak punya kekuatan lagi untuk berlari. Kini, dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Kris berjalan pelan karena tenaganya habis dan tubuhnya yang melemah. Hembusan angin dingin menggetarkannya. Dia berusaha kuat untuk berjalan pulang meskipun kepalanya serasa berputar dan dia ingin jatuh saat itu juga.
Kris memegang kepalanya untuk kesekian kalinya. Lalu, matanya sedikit melebar saat melihat lampu rumahnya dari kejauhan menyala. Saat itu, dia baru sadar, kalau tadi dia tidak mengunci pintu. Rasa takut dan penasaran mulai merambah hati Kris. Dia berfikir hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ada pencuri di rumahnya dan yang kedua, Suho sudah pulang.
Kris membuka pintu gerbang rumahnya. Kini tubuhnya benar-benar basah seperti orang habis dicelupkan ke laut. Dari ujung rambut sampai kaki. Kris berusaha mengumpulkan kekuatannya dan hendak membuka pintu rumahnya tersebut.
Tapi, saat tangan Kris baru saja mau menyentuh gagang pintu, pintu rumahnya sudah terbuka duluan. Kris bisa melihat meskipun padangannya suram. Suho ada di depannya tengah membuka pintu lalu memekik keras.
"OMO KRIS!"
.
.
.
TBC !
Hyaaa! Jangan timpuk author kalau aku cut di sini.. Muehehehe ._.v
Aku berusaha sebaik-baiknya dan melawan rasa pusing waktu nulis ini. Sakit fluku tambah parah gara-gara cuaca yang sama sekali enggak bersahabat T.T
Maaf banget kalau banyak sekali typo dan MAAF kalau enggak sesuai harapan. Chapter depan doakan aku udah sembuh ya :3 niatnya sih, aku mau banyakin Krisho momentnya di chapter 5nya.
Oke makasih banget yang sudah baca ini !
MUAH ! #tebar cium :*
Sung Rae Yoo
