Title : Rhythm of Love

Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair

Other Cast : silahkan cari sendiri ._.

Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi

Rating : T

Length : Chaptered

Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).

Author : Sung Rae Yoo

PYONG ! ^^

I am back ! Gimana gimana? Kangen yah? Kangen dong ;) (kayak ada yang kangen aja -_-) ada berita baik nih! Sakit flu ku udah membaik ^^ makasih doanya semua, muah *tebar tebar cium :*

Oh yah, waktu di chapter 4, itu sebenernya waktu Suho enggak pulang-pulang, itu sudah beberapa hari kemudian sejak hari pertama dia sekolah (aku lupa nulis kata2 itu T.T) MAAF ya, soalnya waktu itu kepala pening banget jadi enggak sempat ketulis. Waktu di edit juga entah kenapa aku enggak nyadar ._.

Makasih ya, yang sudah baca dan review. Enggak bisa balas satu2 nih, maaf banget :3.

Nah, buat yang penasaran..

Ini Chapter 5 nya !

*winkwink ;D

.

.

.

[Chapter 5]

"OMO KRIS" pekik Suho sambil memegang kedua lengan Kris. Kris yang berdiri setengah membungkuk itu hanya diam, tak mampu berkata apapun selain menggigil kedinginan. Suho memegang kedua pipi Kris dengan telapak tangan kecilnya. Raut mukanya begitu khawatir.

"Darimana saja?" tanya Suho heran sekaligus khawatir.

Kris tidak bisa menjawab kalau sebenarnya dia habis mencari Suho tadi. Entah kenapa, otaknya serasa membeku saat itu.

Suho bingung. Dia tidak mungkin menyeret Kris ke kamarnya dan langsung membaringkannya di kasur karena tubuh Kris sangat basah. Suho akhirnya menuntun Kris memasuki kamar Kris sendiri yang terletak di samping kamarnya lalu membawa Kris menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Kris heran dengan apa yang dilakukan Suho. Melihatnya dibawa ke kamar mandi, pikiran Kris jadi macam-macam (Jiah, otaknya Kris mulai mesum -_-).

"Suho…" panggilnya lirih. Tapi Suho tidak mendengar. Suho menyandarkan Kris di washtafel lalu dia melepas jaketnya yang basah. Dilemparnya jaket itu ke dalam keranjang cucian kotor lalu dia mulai bingung apa yang harus dilakukannya setelah ini.

"Kris, lebih baik kau mandi!" ucap Suho pelan lalu menghidupkan pemanas air "Mandi pakai air hangat. Yang cepat. Jangan lama-lama, tubuhmu bau air hujan!"

Kris mengangguk saja. Kurasa Suho benar, dia harus mandi untuk membilas tubuhnya. Tapi, dia rupanya terlalu lelah. Dan hanya bersandar saja di washtafel sambil melepas kausnya dan menunggu Suho yang menyalakan pemanas air.

"Ya! Apa yang kau lakukan?" tanya Suho melihat Kris yang kini topless, dia selesai menyalakan pemanas air dan sekarang berdiri di depan Kris dengan gugup. Dalam hati, dia masih sempat mengagumi tubuh Kris.

"Katanya mandi?" Kris kini melemparkan kausnya yang juga basah kedalam keranjang cucian kotor "Bukanya kau yang menyuruhku?"

Suho mengangguk salah tingkah "Tunggu! Aku akan ambilkan baju untukmu!" Suho berlari keluar kamar mandi sebagai bentuk pengalihan rasa malunya.

Kris diam saja. Tidak punya tenaga lagi untuk sekedar menjawab. Berdiri seperti itu saja sudah melelahkan.

Suho kembali dengan baju dan celana panjang di tangannya. Dia lalu menyerahkannya pada Kris "Pakai ini. Aku akan menunggumu di luar. Cepat! Kalau lama-lama nanti sakitmu lebih parah"

Kris diam saja lalu dia melihat Suho membalikkan tubuhnya dan hendak keluar kamar mandi. Tapi sebelum itu, Kris menahan tangan mungil Suho dengan tangan besarnya, membuat langkah Suho terhenti dan dia berbalik badan menghadap Kris lagi.

Si kecil itu menatap Kris penuh tanda tanya. Setelah itu, dia begitu terkejut saat Kris menariknya sahingga membuat jarak diantara keduanya mengecil.

"K… Kris" Suho berusaha pergi dari kamar mandi ini secepat mungkin. Tapi entah kenapa, sosok Kris yang ada di depannya saat ini membuatnya tidak bergerak.

Lihat saja rambut basahnya dan perutnya yang bidang. Bohong kalau Suho tidak terpesona olenya.

Kris menarik pergelangan tangan Suho lagi hingga kini mereka mendekat lagi. Bohong juga kalau Suho tidak takut. Rasanya dia ingin berteriak atau mendorong Kris hingga masuk bath tub.

"Kau tidak mau ikut?" tanya Kris tepat di telinga Suho membuat mata Suho membulat dan tubuhnya bergetar karena sentuhan nafas Kris yang hangat sampai di telinga dan wajahnya. Itu semua membuat Suho harus berpikir dua kali untuk dapat mengerti arti kata Kris barusan.

Setelah menyadarinya, Suho langsung menyentakkan tangannya dan mendorong dada Kris dengan kedua tangan mungilnya "YA! Dasar mesum! Mandi sendiri sana!" serunya kesal lalu segera berlari meninggalkan Kris. Dia menutup pintu kamar mandi dengan kasar lalu dia diam di kamar Kris sambil memegang kedua tangannya yang tadi digenggam Kris. Saat itu, sensasi panas langsung menyelimutinya sehingga membuatnya merinding.

.

.

"Kris bodoh!" dengusnya kesal. Suho memandang kamar Kris yang agak berantakan. Dengan helaan nafas panjang, dia membersihkan kamar milik Kris itu. Dia mengepel tetesan air di lantai (karena tubuh Kris basah, jadi tadi tetesan air keluar dari bajunya) dia juga ke dapur lalu membuat segelas teh hangat lalu menaruhnya di meja sebelah ranjang Kris, agar jika Kris haus, dia tidak perlu repot-repot ke dapur untuk mengambil minum. Suho membuka lemari 4 pintu milik Kris dan menarik sebuah handuk lebar berwarna putih.

Dia sedang duduk di tepian ranjang Kris saat si Tiang itu keluar kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang masih basah tapi dengan pakaian kering. Kris merasa dirinya lebih segar, tapi itu tidak berlangsung lama. Saat keluar dari kamar mandi, dia merasa segalanya mengabur dan badannya bergetar karena dingin.

Suho menarik tangan Kris lalu membuat pria itu duduk di sampingnya. Suho lalu membuka lebar handuk itu dan meletakkannya di kepala Kris. Dengan hati-hati, pria kecil ini menggosok-gosok handuk lembut itu agar rambut Kris cepat kering sehingga Kris bisa tidur dengan tenang tanpa merasa basah nantinya.

"Kau kemana saja tadi?" tanya Suho disertai helaan nafas panjang saat mereka berdua berhadapan dan Kris menatap mata Suho dalam. Membiarkan Suho mengeringkan rambut dan wajahnya.

"Keluar" jawab Kris singkat.

Kini tangan Suho beralih mengusap handuk ke wajah Kris dengan lembut, saat handuk lembut itu menyentuh permukaan pipinya, Kris memejamkan mata dia merasa nyaman saat Suho melakukan ini semua padanya.

"Kau selalu mengataiku bodoh, tapi nyatanya kau lebih bodoh Kris" ucap Suho kesal, dia bukan kesal karena Kris mengatainya bodoh hampir setiap hari, tapi kesal pada Kris karena telah membuatnya khawatir "Mana ada pria yang keluyuran malam-malam saat cuaca hujan tanpa menggunakan payung atau mobilnya! Kau ini!"

Kris membuka matanya saat Suho kembali mengusap-usap rambutnya yang mulai kering.

"Aku mencarimu!"

Jawaban Kris membuat Suho menghentikan aktivitasnya, dia terperanjat saat Kris menatapnya dalam, dia tidak percaya Kris keluar saat hujan seperti itu hanya gara-gara mencarinya "Jangan bohong!" kilah Suho sambil menundukkan wajahnya sebentar sebelum akhirnya dia kembali menatap wajah Kris yang entah sejak kapan menjadi dekat seperti ini. Sangat dekat hingga Kris bisa mendengar suara detak jangtung Suho yang berdetak lebih cepat.

"Aku mengkhawatirkanmu!" ucap Kris pelan "Kau kemana saja?"

Suho kini menyadari bahwa Kris tidak berbohong. Suho mengerjapkan matanya lalu mengusap rambut Kris lagi "Maaf, membuatmu khawatir. Aku pergi belanja dulu sepulang sekolah tadi, karena kulkasmu kosong. Tapi, aku tidak sadar kalau aku mengabiskan banyak waktu. Handphoneku juga mati karena baterainya habis. Kukira kau tidak akan mencariku, jadi aku santai saja" jelasnya menyesal.

"Maaf" Suho mengusap tengkuk Kris yang masih sedikit basah. Kini dia benar-benar merasa bersalah pada Kris hingga membuatnya sakit seperti ini. Lihat saja hidungnya yang merah dan tangannya yang dingin seperti mayat. Suho menjatuhkan handuknya dan dia membenturkan dahinya pelan di dada Kris yang lebar dan keras. Dia hampir saja menangis kalau dia sadar bahwa menangis di hadapan Kris akan membuat dia malu nantinya.

Kris mengangguk samar, kepalanya sudah tidak kuat lagi. Akhirnya dia memilih menyandarkan kepalnya di bahu kecil Suho, dia menghirup aroma manis yang keluar dari lelaki yang kini dia jadikan sandaran. Tangan kirinya melingkar di pinggang Suho membuat si pemilik tersentak. tapi Suho tidak menolak. Dia membiarkan Kris ada di bahunya, dia tahu pemuda itu sedang dalam keadaan tidak baik. Dan dia juga yakin, Kris pasti merasa tidak enak sekarang.

Suho berfikir, merawat Kris saat ini adalah tanggung jawabnya. Sebagai tugasnya dan bentuk balas budinya karena telah ditumpangi rumah oleh Kris. Jadi, dia akan menuruti semua kata Kris saat itu – selama permintaannya normal dan tidak aneh-aneh.

"Apa kau pusing?" tanya Suho sambil menepuk-nepuk punggung Kris sesekali dia juga membelainya lembut.

"Iya" Kris menjawab sehingga nafasnya membelai leher putih Suho. Entah kenapa, tubuhnya berasa sangat nyaman saat pria kecil ini merengkuhnya.

Suho melepaskan pelukannya. Begitu juga Kris. Sebetulnya, Kris tidak ingin. Dia masih betah berlama-lama di dalam pelukan Suho. Tapi dia kasihan juga melihat Suho yang pasti lelah menopang berat tubuhnya. Suho menarik leher Kris lalu menempelkan dahinya dengan dahi Kris pelan. Suho memejamkan matanya sementara mata Kris masih terbuka dan dia kini merasa gugup saat melihat wajah Suho dari dekat seperti ini. Lihatlah wajahnya yang putih, poni yang menutupi dahinya dan bibirnya yang merah dan kecil. Melihat itu Kris ingin mencium Suho. Tapi, dia tepis pikiran bodonya itu karena, dia masih belum yakin dengan perasaannya.

Apakah dia menyukai Suho?

Entah, Kris tidak bisa menjawabnya. Tapi, ketika iris coklat Suho menatapnya, perasaan dalam hatinya makin tajam. Perasaan aneh yang bahkan tidak bisa dia ungkapkan. Apa itu yang namanya jatuh cinta? Kris sudah pernah jatuh cinta sebelumnya. Namun, kali ini rasanya berbeda. Rasanya dia ingin melindungi dan ingin selalu ada di samping pria yang tinggal dengannya ini. Kris memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha mengartikan perasaannya pada Suho. Tapi, dia tersentak saat dua buah tangan kecil menangkup wajahnya lembut. Menciptkann sensasi panas pada wajahnya walau nyatanya tadi dia merasa kedinginan.

"Kau demam" lirih Suho. Dia tersenyum tipis saat melihat wajah Kris yang merah, sejujurnya, Suho juga yakin wajahnya kini pasti tampak lebih merah dibanding wajah Kris.

"Tidurlah. Aku akan membuatkanmu sesuatu untuk dimakan. Nanti aku akan membangukanmu kalau makananya sudah jadi" ucap Suho sambil membaringkan tubuh Kris di tempat tidur lalu menyelimutinya.

"Aku tidak mengantuk" balas Kris sambil menggenggam tangan Suho meminta agar Suho tetap tinggal "Jangan ke dapur, aku tidak mau ditinggal sendirian"

Suho terkekeh melihat sifat manja Kris "Jangan manja begitu. Tidak cocok dengan wajahmu tahu"

Kris cemberut, dia menggenggam tangan Suho lebih erat dari sebelumnya "Aku tidak manja"

Suho memandang Kris dengan tatapan mengejek "Kau manja Kris! Ini bukan kau yang biasanya"

Kris kini semakin cemberut, dia ingin sekali duduk dan menjitak kepala Suho, tapi, urung dia lakukan karena kepalanya masih pusing.

"Kalau orang sakit. Pasti ya jadi seperti ini. Salahmu sih, jangan salahkan aku!" ujar Kris lalu dia menggoyang-goyangkan lengan kecil Suho.

Suho melepaskan genggaman tangan Kris lalu berdiri "Aku akan kembali nanti. Tidurlah!"

Kris diam, lalu melihat Suho keluar kamarnya dan menutupnya pelan.

Kris memjamkan mata, berusaha tidur. Tapi setiap dia mejamkan mata, di telinganya selalu terputar instrument piano yang biasa dimainkan Suho waktu sore, selain itu. Wajah Suho yang tersenyum padanya tadi ikut memutari pikirannya membuatnya tidak tenang.

.

.

Suho ke dapur dan memuka kulkas. Dia menghela nafas panjang dan memaklumi sifat Kris tadi. yah, siapapun yang sakit bisa jadi seperti itu kan? Bersifat manja tanpa sadar. Lagipula, sifat Kris yang manja itu lucu juga, hahaha.

Suho bingung sekarang. Dia tidak bisa memasak dan sekarang dia harus memasak. Setelah dia bingung untuk beberapa saat, Suho menemukan sebuah buku resep di laci dapur. Suho tersenyum saat dia menemukan resep bubur yang cukup mudah dan bisa dia buat untuk Kris. Suho sangat tahu kalau Kris suka pilih-pilih makanan, maka dari itu, Suho mencoba membuat makanan yang enak sehingga Kris mau memakannya. Kalau Kris dalam keadaan normal saja suka pilih-pilih makanan, Kris dalam keadaan sakit bisa tambah susah makan. Ini merepotkan.

Suho dengan hati-hati mengikuti step step membuat bubur yang ada di resep itu. Meskipun sehati-hati apapun Suho, tetap saja, yang namanya Suho, pasti selalu ceroboh. Lihat saja di wajahnya terdapat bulir-bulir nasi yang menempel. Tapi, itu semua dia lakukan agar Kris dapat segera makan dan sembuh dari penyakit demamnya.

Kris membuka pintu kamarnya. Dia tidak bisa tidur sedikitpun. Meskipun dia lelah dan pusing, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kris memicingkan matanya dan melihat Suho tengah menghadap kompor. Kris berjalan pelan lalu akhirnya dia sampai di dapur, dan sepertinya Suho tidak menyadari kehadiran Kris saat itu.

Kris berdiri di belakang Suho dan dengan cepat dia melingkarkan lengannya di perut kecil Suho membuat lelaki bermagra Kim itu memekik kaget.

"YA!"

Kris diam. Dia menyeruakkan kepalanya di bahu Suho sambil menghirup bau Suho yang manis, aroma itu membuatnya tak bisa lepas dari Suho. Kris memejamkan matanya. Dia tidak kuat, Kris ingin Suho ada disampingnya setidaknya sampai dia sembuh. Dia ingin, tangan lembut Suho menyentuh kulitnya dan membuatnya hangat dalam sekejap.

"Kris?" Suho kini heran karena Kris tidak meresponnya meskipun dia telah membentak dan memukul kepala Kris dengan ujung sendok yang dia pegang.

"Tolong, hanya semenit" pinta Kris, dia menggesekkan hidungnya pada bahu Suho "Aku tidak bisa tidur dan selimut di kamar tidak bisa membuatku hangat"

Suho mendesah dan pasrah saja saat Kris melakukan ini padanya. Awalnya Suho begitu risih dengan perlakuan Kris ini. Namun lama-lama Suho mulai merasa nyaman. Dia meraba tangan Kris yang masih ada di perutnya dan membelainya pelan "Mulai deh! Apa kau selalu seperti ini jika sakit?"

"Entahlah" jawaban Kris menggantung.

Suho kini merasakan Kris memeluknya lebih erat, dan membuatnya sesak "Kris! Kau mau membunuhku ya? sesak!"

Kris kini melonggarkan pelukannya dan kepalanya masih betah berada di bahu kecil Suho. Dia enggan mengangkatnya karena sudah telanjur nyaman.

Suho merasa buburnya sudah matang, dia mengaduknya sebentar lalu mematikan kompor dan membiarkannya agak dingin di dalam panci.

Suho merasakan tangan Kris lebih dingin dari yang tadi. Nafasnya juga terdengar lebih berat dan lebih panas. Suhu tubuhnya pasti naik. Dengan gerakan cepat, Suho memutar tubuhnya lalu memeluk Kris dengan kedua tangannya, berusaha memberi kehangatan dan kekuatan untuk Kris. Dia pikir, ini akan membuatnya lebih baik. Kris tersenyum tipis saat Suho memeluknya, dalam sekejap dia merasa hangat bahkan saat hujan turun lebih deras diluar sana.

"Kau menyusahkanku, berhentilah bersikap manja dan jadilah Kris yang biasanya!" ucap Suho setengah mencibir.

"Kurasa aku lebih baik sakit setiap hari. Kau jadi lebih lembut kalau aku sakit" balas Kris sambil menyeringai.

"Cih, alasan!" Suho tersenyum tanpa sadar lalu melepaskan pelukannya. Dia mendudukkan Kris di kursi di depan meja makan. Lalu Suho sendiri menuangkan bubur yang tadi dibuatnya ke mangkuk dan dia mengambil tempat di samping Kris.

"Nih, makan!" titah Suho, dia menyodorkan mangkuk dan sendok.

Kris melihat makanan di depannya sambil bergidik "Apa ini makanan? Bentuknya mengerikan!"

Suho mendengus lalu memukul lengan Kris pelan "Tidak sopan! Cicipi dulu baru komentar!"

Kris meraih sendok dengan ragu ragu "Benar ini bisa dimakan?" tanyanya lagi.

"YA! Kau kebanyakan bicara, sudah kubilang makan dulu baru komentar! Aish!" ucap Suho sebal dia mempoutkan bibirnya sambil menatap Kris dengan tatapan jengkel. Baru tadi Kris dia peluk tapi sekarang dia sudah bertingkah kurang ajar. Menyebalkan!

Kris menyodorkan sendoknya pada Suho, bicara dengan pelan "Kau tak mau menyuapiku?"

Suho mendelik "Kau punya tangan! Makan sendiri!"

Akhirnya Kris mendecak sebal, lalu mulai mengaduk bubur yang menurutnya tidak seperti bubur. Bentuknya aneh Kris juga bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.

"Aish! Aku kan sedang sakit" ucapnya pelan.

"Makan saja!"

Kris menyendok dan memasukkan sesendok bubur itu kedalam mulutnya. Dia mengunyahnya pelan sebelum akhirnya dia menatap mata Suho yang sedari tadi memandanginya dengan tatapan penasaran.

"Bagaimana rasanya?" tanya Suho penasaran. Dia menanti jawaban Kris dengan tidak sabar.

Kris tersenyum tipis "Lumayan!"

Mata Suho melebar lalu memekik "Benarkah? Syukurlah, kau bisa makan itu, lalu tidur! Sudah hampir jam 9 malam, dan sepertinya hujan belum berhenti. Istirahatlah yang banyak agar hari minggu besok kau bisa langsung sehat"

Kris memakan buburnya lambat. Seperti biasa, saat sakit, dia tidak terlalu berselera makan. Apalagi, kepalanya yang pening membuatnya tidak kuat lama-lama untuk duduk atau berdiri.

Tepat jam 9 malam, Kris selesai makan dan Suho masih setia di samping Kris. Setelah selesai, Suho mengambil air minum dan meletakkannya di samping tangan Kris.

"Kau masih demam?" tanya Suho.

Kris angkat bahu. Suho lalu meletakkan telapak tangannya di dahi Kris dan di memejamkan mata.

"Benar. Masih panas, kau sih, malah keluar ke dapur. Seharusnya kamu diam di kamar saja!" sungut Suho sambil membereskan alat makan Kris lalu meletakkannya di tempat cuci piring. Dia mencucinya sebentar lalu membuka kotak obat dan mengambil sebuah tablet.

"Minum ini!"

Kris meminumnya dengan cepat lalu dia meletakkan gelas airnya di depan Suho "Sudah selesai. Terima kasih"

Suho tersenyum senang karena Kris mau menurutinya "Nah, sudah ayo kembali ke kamarmu! Tidur!"

Kris mengangguk karena dia berfikir bahwa dia juga sudah lelah. Suho menarik lengan Kris menuju kamar Kris sendiri.

.

.

Sesampainya disana, Suho membaringkan Kris di kasur empuknya lalu menyelimutinya sebatas dada dengan selimut tebal berwarna biru tua.

"Cepat tidur" Suho merapikan bantal di kasur yang cukup besar itu sambil duduk di pinggirannya.

Kris diam, lalu memandang Suho dengan tatapan manja membuat Suho kini hendak tertawa. Bagaimana bisa seorang Kris yang cool dan cuek itu berubah menjadi seperti ini. Lucu sekali. Lihat saja matanya yang sayu dan berubah kesan dari imagenya yang biasanya dingin menjadi imut.

"Apa?" tanya Suho begitu Kris menahan pergelangan tangannya, dia bisa merasakan tangan Kris yang panas karena suhu tubuhnya naik lagi.

"Jangan pergi…"rengeknya.

Suho terkekeh geli sendiri "Apa sih, aku tidak akan keluar rumah. Aku hanya akan kembali ke kamarku"

Suho tersenyum kecil. Berusaha meyakinkan Kris bahwa dia tidak akan kemana-mana. Suho akan terus ada di rumah. Suho berfikir juga saat itu, bahwa biasanya, dialah yang bersifat manja seperti ini, dia juga keras kepala dan selalu menyusahkan Kris. Tapi kini keadaan berbalik dan Suho harus menghadapi sifat Kris yang sangat berbeda dari biasanya.

"Tidurlah disini" pinta Kris.

Oke oke, Kris kini sudah kelewat manja. Anak SMA mana sih yang masih mau tidur ditemani orang lain, bahkan saat sakit sekalipun. Suho yakin, Kris pasti sudah tidak waras. Suho mematung mendengar permintaan aneh Kris. Tidur dengannya? Pikiran Suho mulai melayang memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika dia tidur dengan Kris malam ini.

"Kris. Jangan aneh-aneh! Aku masih harus mengerjakan PRku"

Suho berkelit.

Alasan sebenarnya sih, dia takut jika tidur dengan si manusia tiang itu. Entah takut karena apa, Suho tidak bisa menjelaskannya.

"Besok Minggu kan? Kau bisa mengerjakannya besok. Aku mohon! Hanya malam ini, aku tidak mau sendirian"

Suho menelan ludah, tangannya memilin-milin ujung kausnya sendiri. Gugup.

"Suho-ya… jeball!"

Tidak tahu kenapa, kali ini Suho mengangguk kecil "Aku akan mengunci pintu dulu dan mematikan lampu. Lalu aku akan kembali"

Suho dengan cepat keluar kamar. Dia mengunci pintu, menutup jendela dan gorden serta mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu kecildi sudut ruangan. Setelah itu, dia kembali ke kamar Kris dan melihat si pemilik kamar masih belum memejamkan matanya.

Suho menutup pintu lalu berdiri di depan ranjang.

"Apa yang kau tunggu?" tanya Kris.

Suho menggigit bibirnya sendiri "Ah, eung… ah iya, aku belum ganti piama. Sebaiknya aku kembali dulu ke kamarku"

Kris mendengus "Itu terlalu lama. Ganti saja dengan bajuku" ucap Kris sambil menunjuk lemari "Ada piama disana"

Si kecil itu tiba-tiba merasakan hawa tidak enak. Tapi, dia tepis perasangka buruknya dan mengangguk saja menyetujui usul Kris. Ya ampun, Suho tak habis pikir. Ganti baju di kamarnya sendiri tidak akan memakan waktu lebih dari 10 menit. Kris benar-benar egois.

Suho membuka lemari dan menarik sepasang piama dengan motif domba berwarna hijau itu. Dia lalu melesat ke kamar mandi dan mengganti bajunya disana. Setelah selesai, Suho memandangi dirinya sendiri dalam cermin. Baju Kris yang besar itu kini melekat di badannya. Celana panjangnya yang menjuntai melebihi mata kaki dan membuat Suho tersandung jika berjalan. Bajunya saja melorot dan menampakkan bahunya yang putih, bahkan ujung piama itu jatuh menjuntai sampai paha dan lengan panjangnya menutupi sampai telapak tangannya.

Suho berdiri di depan ranjang memandangi Kris yang mengerjapkan matanya, sebelum itu dia mematikan lampu kamar Kris dan menggantinya dengan lampu kecil berwarna kuning.

"Kau aneh Kris" desis Suho lalu dia menyibak selimut dan naik ke ranjang yang sama dengan Kris "Dan juga, bajumu sungguh besar"

"Salahkan tubuh kecilmu itu" balas Kris membuat Suho memukul dadanya.

Kris terkekeh pelan lalu dia mendekatkan dirinya pada tubuh kecil Suho. Keduanya berhadapan sehingga mereka berdua bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.

"Kenapa kau ingin tidur denganku?" tanya suho sambil mengerjapkan matanya cepat. Dia ingin menjauh dari posisinya waktu itu. Lihat saja, beberapa senti lagi pasti bibir kris dan suho sudah bertemu. Tapi, entah kenapa suho tidak bisa bergerak. Dia terpaku di tempatnya dan menatap kris dalam.

"Karena aku ingin saja" balas kris sambil tersenyum "Aku tidak mau sendirian malam ini"

"Cepatlah sembuh! Kau merepotkan jika sakit!" decak suho sambil menggoyang-goyangkan badan kris kesal "Juga menyebalkan!"

Kris terkekeh pelan lalu menyentil dahi suho dengan tangan kanannya "Maka dari itu, kau harus merawatku dengan benar"

Suho mengusap dahinya "Aish! Kau ini! Sakit tahu!"

Kris hendak tertawa, namun dia hanya tertawa dalam hati karena takut suho jadi bertambah marah dan ujung-ujungnya dia tidak mau tidur dengannya.

Suho masih mengusap dahinya, dia bersungut-sungut dan mempoutkan bibirnya. Tidak saat sehat ataupun sakit, kris selalu saja bersikap seperti ini. Membuatnya marah-marah setiap hari.

Kris menatap suho yang masih sibuk dengan dahinya dan omelan kecil yang keluar dari mulutnya. Kemudian, kris menarik tangan kiri suho yang mengusap dahi. Kris dengan cepat mengecup dahi suho di tempat tadi dia menyentilnya membuat suho mematung.

"Maaf. Sudah tidak sakit kan?" tanya kris lalu kembali ke posisinya, berhadapan dengan suho dan menatap wajahnya yang kini memerah seperti habis dibakar.

Dia menciumku? Pikir suho dalah hati, dia masih bisa merasakan bekas ciuman kris di dahinya yang masih terasa sampai sekarang Ya Tuhan! Dia mencium dahiku? Sungguh! Dia benar-benar sudah tidak waras.

Pikiran suho buyar ketika dia merasakan nafas kris yang panas dan berat. Hm, dia menjadi kasihan pada kris yang kini nafasnya tidak teratur.

"Aku sudah ada di sini, jadi cepat tidur" ucap Suho lirih.

Kris tersenyum "Terima kasih sudah disini"

"Iya. Sekarang tidurlah, kalau kau tidak cepat tidur. Kepalamu akan bertambah pusing"

Kris mengerjapkan matanya lalu memeluk pinggang Suho erat. Membuat lelaki bertubuh mungil itu terbawa dalam dekapannya.

"K… Kris! Apa yang kau lakukan?" tanya Suho gugup dan meletakkan kedua tangannya di dada Kris. Berusaha mencegah tubuh mereka lebih dekat lagi. Itu membuat Suho tidak nyaman.

"Tubuhmu enak untuk dipeluk" gumam Kris "Maaf ya, tapi aku benar-benar butuh sesuatu untuk dipeluk"

Suho melenguh "Uh, kau bisa gunakan guling atau bantal. Boneka juga bisa. Kenapa aku?"

Rasa kantuk mulai menyerang Kris dia hanya bisa menjawab lirih "Aku ingin kau saja"

Satu kalimat dari bibir Kris barusan mampu membuat jantung Suho berdetak tidak beraturan dan lebih cepat dari sebelumnya. Wajahnya memanas dan merah. Dia bisa merasakannya meskipun dia tidak bisa melihat dirinya sendiri.

"K… Kris, sampai kapan ini?" tanya Suho lagi.

Kris memejamkan matanya lelah "Diamlah, aku mengantuk. Aku ingin tidur"

Kini, Suho tidak merasakan gerakan tubuh Kris lagi. Dia hanya bisa merasakan hembusan nafasnya yang teratur dan dekapan erat Kris.

Selang berapa lama, Suho mulai merasakan hangat disekujur tubuhnya. Dia tersenyum kecil dan kini mencengkram baju bagian depan Kris dengan kedua tangan kecilnya. Kepalanya dia sandarkan pada dada bidang Kris dan mengusaknya pelan, mencari posisi yang nyaman.

"Dasar!" bisiknya pelan lalu dia memejamkan matanya yang lelah "Selamat tidur, Kris"

Kini keduanya benar-benar tertidur.

Entah apa yang bisa membuat keduanya begitu nyenyak malam ini. Perasaan Suho dan Kris masih berkecamuk dalam hati. Kris bingung sendiri dengan perasaanya pada Suho sementara Suho tidak mengakui bahwa sebenarnya dia sangat menyayangi Kris dan selalu mengkhawatirkannya. Keduanya terlalu gengsi untuk sekedar mengucapkan 'aku menyayangimu' ataupun 'aku merindukanmu' karena pertengkaran diantara mereka berdua tidak pernah berhenti. Tapi, yang jelas, Kris kini telah yakin. Mulai tadi saat Suho merawatnya dengan mata penuh kekhawatiran. Bahwa irama aneh yang memasuki hatinya memang berasal mata coklat Suho. Mata itu yang membuatnya kini benar-benar yakin dan menyadari…

Kalau dia telah jatuh cinta pada sosok mungil yang didekapnya saat ini.

.

.

.

TBC ! ^^

Kyaaaaaaa ! dari awal sampai akhir isinya manis semua #tebar-tebar gula. Aku lagi galau soalnya, habis mengalami hal pahit T.T (apasih?) jadi aku melampiaskannya dengan menulis segala sesuatu di chapter 5 ini dengan berbagai moment yang begitu manis.. aingg! .

Haha, ff memang sering jadi pelampiasan perasaanku. Jadi maaf ya, kalau enggak sesuai harapan… maaf juga kalau masih banyak typo. Soalnya sakit fluku belum sembuh total. Tapi sudah lebih mendingan ^^

Oke oke.. makasih banget bagi yang sudah menyempatkan diri baca dan review…

Saranghae !

Sung Rae Yoo