Title : Rhythm of Love
Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair
Other Cast : silahkan cari sendiri ._.
Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi
Rating : T
Length : Chaptered
Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).
Author : Sung Rae Yoo
Nyang ! .
Maaf yah, kalau updatenya agak lama, soalnya aku lagi enggak punya ide dan banyak tugas sekolah. Makasih ya, bagi yang sudah rela baca ffku dan memberikan review.. :3 aku terharu ! #nangisbawangbombay
Di chapter 6 ini aku kasih yang manis lagi… soalnya aku lagi pengen nulis hal-hal yang manis. Aku lagi kesal dan sedih, jadi enggak mau nulis yang sedih-sedih. Hehe..
Btw, di dearahku lagi sering banget turun hujan, dan aku suka banget sama hujan (#curhat) jadi harap maklum kalau scene di ffku banyak hujannya :3
Nah, maaf juga kalau ceritanya banyak typo, gk nge feel dan lain lainnya!
Okeh!
Ini chapter 6nya !
Enjoy ^^
/bow/
.
.
.
[Chapter 6]
Suho merasakan angin menerpa bahunya. Matanya masih terpejam dan malas untuk bangun. Dia lalu kembali merasakan dingin membelai leher dan bahunya lagi, membuatnya berjengit. Si kecil itu masih tak mampu membuka matanya karena rasa kantuk dan malas. Dengan cepat, dia mengeratkan pelukannya pada guling yang dia dekap.
Tunggu…
Guling?
Suho akhirnya tersadar dan membuka matanya dan tidak percaya pada posisi tidurnya sekarang. Dia hampir berteriak kalau saja dia tidak bisa menahan diri. Yang dia peluk sekarang bukan guling, melainkan sosok tinggi yang tengah tertidur pulas.
Kris.
Jika dilihat, posisi mereka saat ini tidak jauh berbeda dengan posisi mereka waktu pergi tidur. Suho memeluk Kris dan membenamkan wajah mungilnya pada dada Kris dan mengusaknya pelan. Serta Kris yang tangannya ada di kepala dan pinggang Suho. Mendekapnya dengan erat secara possessif. Suho juga heran, kenapa dia betah tidur dengan posisi seperti ini. Kenapa dia tidak bergerak liar dalam tidurnya, lalu menendang Kris dan membuatnya jatuh (kebiasaan Suho saat tidur adalah bergerak sehingga membuat bantal guling dan benda-benda yang ada di kasur jatuh. Manusia yang tidur dengannya juga bisa dia tendang)
Sekarang. Dia masih berada dalam pelukan Kris sama seperti posisi awal saat dia tudur. Karena malas untuk bangun, Suho kembali menutup matanya. Dia merasa… err… nyaman bisa dibilang. Pelukan Kris sungguh hangat dan membuatnya tenang. Jujur awalnya Suho takut karena tidak pernah melakukan skinship dengan orang lain seintim ini. Dia tidak pernah tidur sambil memeluk orang lain. Ya ampun, Suho merasa malu sekarang. Sebenarnya perasaan apa yang selama ini ada dalam hatinya?
Suho tidak tahu kenapa dia tidak melepaskan pelukannya dan justru makin menyembunyikan tubuhnya di dalam dekapan Kris. Suho ingat bahwa dia tidur dengan Kris karena Kris sakit dan si tiang itu yang memintanya. Suho lalu meletakkan telapak tangannya pada dahi Kris, mengecek apakah dia sudah sembuh atau belum.
Saat tangan Suho selesai mengecek dahi Kris. Suho mendesah panjang setelah merasakan dahi Kris yang masih hangat. Sepertinya dia belum sembuh total. Suho kembali mendekap Kris saat itu juga lebih erat. Dia tidak mau bangun sebelum si tiang itu bangun lebih dulu.
Kris mengerjapkan matanya lalu membuka matanya yang berat. Dia menyadari bahwa dia dipeluk lelaki kurus yang juga dia dekap erat. Itu membuatnya menyeringai lalu menggeliat pelan. Menyebabkan Suho kembali membuka matanya dan kini menghadap Kris.
"Kris, sudah bangun?" tanyanya pelan.
Kris tidak menjawab. Dia terpaku melihat Suho sekarang. Baju piamanya yang kebesaran di tubuh kecil Suho menampakkan bahu putihnya, rambutnya yang berantakan dan matanya yang menyipit karena belum sadar sepenuhnya.
"Kau memelukku" ucap Kris pelan membuat Suho heran. Kemudian, si kecil itu langsung melepaskan pelukannya.
"Apa?" tanya Suho sambil menjauhkan diri. Membuat pelukan Kris terlepas "Aku memelukmu karena aku kedinginan" kilahnya membuat alasan.
"Cih! Bilang saja mau kupeluk lebih erat. Alasanmu murahan!" balas Kris.
Muka Suho memerah dia lalu memukul kepala Kris dengan bantal "Ya! Apa maksudmu? Sudah kubilang aku kedinginan"
Kris berdecak merasakan kebohongan dalam perkataan Suho. Dia lalu beranjak dari tempat tidur dan menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dia melihat hujan masih turun di luar sana. Pantas saja rasanya sangat dingin. Sudah semalaman hujan turun dan menyebabkan segala sesuatu di luar basah.
Suho terduduk di ranjang Kris. Dia masih malas untuk bangun dan melangkahkan kakinya. Dia yakin juga, kalau ubin kamar Kris pasti dingin.
"Hujan masih deras ya?" tanya Suho.
Kris mengangguk "Sepertinya semalaman hujan. Pantas saja kau kedinginan"
Kris kini kembali ke ranjangnya lalu mendorong tubuh kecil Suho membuat si kecil itu terhempas ke kasur dan mendapati Kris ada di atasnya.
"Ya! Kris! pergi dari hadapanku! Badanmu berat!" bentak Suho.
Mendengar teriakan Suho, Kris kini beralih dan tidur di samping tubuh kecil Suho lalu memeluknya lagi "Ayo tidur lagi! Aku malas bangun!"
Suho mendecak sebal "Argh, kenapa sih? Aku mau bangun dan mandi, badanku bau!"
Kris kini merapatkan tidurnya dan mendekatkan wajahnya pada Suho "Aku ingin bersamamu seharian ini! jangan kemana-mana ya?" pintanya.
"Memang aku ini budakmu? Kris! cepatlah sembuh dan jangan jadi seperti ini! kau beribu kali lebih menyebalkan!"
Kris memasang smirknya "Kau harus merawatku dengan baik..."
"Kalau kau terus memintaku melakukan hal-hal aneh, aku tidak segan akan membuangmu ke planet mars! Lepaskan! Aku mau bangun! KRIS!" teriak Suho sambil bergerak-gerak.
"Kau ini jahat sekali. Aku masih sakit, kenapa tega seperti ini?" Kris memanyunkan bibirnya dan membuat Suho berhenti bergerak.
Suho memandang Kris lalu menangkupkan kedua tangannya pada pipi Kris dan bertanya "Kau masih merasa sakit? Apa masih pusing?"
Pintar! Hanya dengan alasan 'sakit' Kris berhasil merebut seluruh perhatian Suho. Hanya dengan berkata seperti itu, Kris sudah bisa merasakan sentuhan Suho. Benar-benar pintar.
Kris mengangguk.
Suho menghela nafas lalu mengusap-usap dahi Kris "Kenapa kau belum sembuh sih? Apa aku salah merawatmu ya?"
Kris angkat bahu. Tapi, perkara Kris yang sakit sekarang, Kris tidak berbohong. Dia masih merasa pusing dan dingin menyelimuti tubuhnya. Tenggorokannya kering dan matanya sayu. Efek dia hujan-hujanan kemarin memang sungguh dasyat.
Suho duduk di ranjang dan menatap Kris yang dalam posisi tidur. Dia lalu membelai tangan Kris lembut dan pelan.
"Apa kau perlu kubawa ke dokter?" tanya Suho yang mulai khawatir jika keadaan Kris bertambah parah.
Kris menggeleng lalu ikut duduk di ranjang dan menggenggam telapak tangan Suho yang kecil dan halus.
"Tapi aku takut kau jadi tambah parah. Apa perlu juga aku telepon eommamu?" tanya Suho lagi.
Kris kini menggeleng kuat-kuat "Jangan! Itu percuma, kalau aku sakit, eomma tidak akan merawatku, dia terlalu sibuk dengan bisnisnya. Apalagi appa. Pasti dia hanya akan mengatakan 'yifan, segera ke dokter lalu minum obatnya' itu saja. Menengokku juga jarang"
Kris kini memandang wajah Suho yang manis lalu tersenyum kecil "Maka dari itu, aku bersyukur kau ada di sini. Merawatku"
Suho balas tersenyum "Aku senang bisa merawatmu"
Kris kini mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi. Ini masih terlalu pagi untuk memulai hari. Apalagi ini hari minggu.
"Kau suka merawatku? Kalau begitu baiklah! Rawat aku ya!" Kris menjatuhkan dirinya ke ranjang dan menarik selimut berniat untuk tidur lagi.
Suho bengong, lalu dia menarik selimut yang dipakai Kris "Ya! Ayo bangun dan sarapan! Kris!"
Kris meringkuk membuat Suho makin cepat menarik selimutnya sambil terus memanggil-manggil namanya.
Suho kini tersentak kerana Kris malah balik menarik selimutnya membuat badan ringan Suho limbung dan kini dia terjatuh di atas tubuh Kris.
"Kris! ini tidak lucu!" salak Suho galak.
Kris dengan cepat memeluk pinggang kecil Suho lalu memiringkan tubuhnya hingga Suho kini ada di samping kanannya, kini posisi mereka sama saat keduanya bangun tidur tadi.
"Ayo tidur!" pinta Kris manja "1 jam lagi tidak apa-apa"
Suho menyerah karena dia yakin, sekeras apapun dia berusaha melawan dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Kris, itu hanya akan membuang tenaganya, Suho tahu Kris tidak akan mudah menyerah.
Suho berhenti bergerak dan kini menatap Kris yang ada di depannya, telah memeluk pinggangnya erat dengan selimut yang menutupi mereka berdua sebatas pinggang. Kris tersenyum lalu mengeratkan pelukannya hingga membuat kepala Suho kini ada di dadanya yang lebar.
"Aku benar-benar ingin tidur. Kepalaku pusing" ucap Kris pelan.
Tangan Suho yang semula diam, kini mulai bergerak dan balas memeluk Kris, menyalurkan kehangatan pada pemuda tiang itu.
"Peluk aku!" pinta Kris.
Suho berdecak "Aku sudah melakukannya dasar bodoh!" si kecil itu mengeratkan pelukannya lalu tersenyum tipis "Masa kau tidak merasakannya?"
Kris memejamkan mata dan mengangguk lalu mengambil nafas panjang menghirup bahu khas Suho "Iya. Aku merasakannya. Hangat"
Suho tersenyum "Jangan salahkan aku kalau nanti aku telat memasak sarapan, Kris"
Kris tidak menjawab membuat Suho ikut memejamkan matanya. Keduanya tidur lagi, entah kenapa pagi yang dingin menggigil saat ini tidak seperti yang ada di ranjang Kris. Keduanya merasa hangat, karena pelukan yang mereka berdua lalukan tubuh mereka menjadi hangat dan hati mereka menjadi tenang.
.
.
Pukul 8 pagi keduanya bangun bersamaan. Suho menggeliat dan langsung melihat Kris yang ada di depannya. Kris juga bangun dan mengerjapkan matanya.
Suho melepaskan pelukannya lalu turun dari ranjang. Dia membenahi piamanya yang melorot lalu menggulung celananya yang kepanjangan. Suho sedikit memekik karena merasakan dingin yang menyambut telapak kakinya saat dia menginjakkan kakinya ke lantai kamar Kris yang berlapis ubin keramik. Dan ubin itu benar-benar dingin seperti es.
Suho menatap jendela dan melihat ke luar. Hujan sudah tidak begitu deras dan hanya tersisa gerimis halus. Suho kembali ke ranjang lalu merapikan semuanya. Dia merapikan bantal dan guling yang berantakan serta melipat selimut dan merapikan seprai.
"Aku mau mandi dulu. Kau juga mandi, pakai air hangat. Jangan lama-lama!" ucap Suho sambil menghapiri Kris yang ada di pinggir ranjang. Tengah duduk dengan mata sayunya yang setengah tertutup.
Kris tidak menjawab. Hanya diam dan memasang tampang menyedihkan.
Suho heran dan langsung meletakkan tangannya di dahi Kris lalu meraba pipinya lembut "Kau kenapa lagi? Apa yang kau rasakan, hm?"
Kris memegang pergelangan tangan Suho "Entahlah, sepertinya aku belum benar-benar sembuh"
Suho menghela nafas "Kalau itu aku tahu. Sudah, mandi sana! Nanti aku akan kembali lagi setelah aku mandi"
Kris diam. Saat sakit dia memang jadi manusia labil yang plin plan serta manja.
"Kris! Mandilah dulu, kau bisa mandi sendiri kan? Jangan manja begitu ah!" dengus Suho.
"Kalau aku tidak bisa bagaimana?" tanya Kris lirih.
Suho melepaskan pegangan tangan Kris "Kalau kau tidak bisa mandi sendiri, sampai kapanpun aku tidak mau mandi denganmu!"
Kris berdiri "Kau jahat sekali. Tadi kau mau bilang kau senang merawatku dan akan merawatku dengan baik"
Si kecil itu memutar bola mata coklatnya jengah lalu menghela nafas panjang.
Suho mendorong tubuh besar Kris ke kamar mandi. Melihat hal ini, Kris tersenyum senang.
"Kau mau mandi denganku?"
Suho tidak menjawab dan hanya memasang wajah serius. Dia menyandarkan Kris di washtafel lalu menyalakan pemanas air. Setelah selesai, Suho berdiri di depan Kris lalu membuka baju Kris dengan cepat sehingga Kris sekarang hanya mengenakan celana kain panjangnya tanpa baju alias topless.
"Suho?"
Suho tetap diam dan melemparkan kaus itu ke keranjang cucian.
"Aku hanya membantumu sampai ini. Sisanya kau lakukan sendiri ya" Suho sekarang tersenyum kecil lalu kabur dengan cepat sebelum Kris menahan dan memaksanya untuk mandi bersama di kamar mandinya.
"Ya! Suho!" Kris berteriak memanggil nama Suho sampai akhirnya dia melihat Suho sudah keluar dari kamarnya. Kris tersenyum "Dasar!"
.
.
Suho menenggelamkan dirinya sebatas leher di bath tube. Menyenangkan bisa berendam air hangat di saat cuaca seperti ini. Suho berfikir, minum susu setelah mandi sepertinya enak juga. Suho memejamkan matanya saat hangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Rambutnya basah dan uap panas mengepul dari dalam bath tube.
Tiba-tiba matanya terbuka saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamar mandinya.
"Suho, ini aku!" ucap Kris dari luar. Berarti sekarang Kris ada di dalam kamar Suho.
"YA! Apa yang kau lakukan di kamarku?" balas Suho dengan teriakan nyaring "Keluar!"
Kris yang ada di luar tetap bergeming "Cepat selesai. Aku pusing!"
"Kalau pusing kenapa masih keluyuran? Diam saja di kamar!" bentak Suho dari dalam karena jengkel. Acara berendamnya yang tenang kini harus rela diganggu.
"Aku ingin kau menemaniku! Keluar dong! Kau mandi lama sekali" teriak Kris serak.
Suho mengusap wajahnya dengan air lalu tetap asyik berendam di bath tube. Belum puas.
"Kau sudah mandi belum?" tanya Suho dari dalam sambil membasuh leher dan telinganya.
Kris dari luar menjawab dengan suara serak "Sudah!" lalu dia kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi "Keluar dong! Kalau kau tidak keluar, aku akan menyeretmu dari dalam"
Suho mendengus kesal lalu menjawab dengan teriakan nyaring "Iya iya, aku keluar! Tunggu!"
Kris tersenyum kecil lalu dia mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang kecil Suho yang berbalut seprai berwarna hijau. Kris memegang dahinya sendiri. Demamnya tidak terlalu parah dari tadi malam, tapi dia masih merasa dunia berputar.
Pintu kamar mandi dibuka, Suho mengusap-usap rambutnya dengan handuk lalu melihat Kris. lelaki tinggi itu mengeluarkan tetes-tetes air dari ujung rambutnya yang masih agak basah. Bajunya sudah berganti dengan kemeja putih serta celana biru. Suho menghampiri Kris dan meletakkan handuknya diatas kepala Kris lalu menggosoknya.
Kris terkejut dan mendongak. Dia kaget karena Suho mengusapkan handuknya pada kepalanya yang basah. Terlebih lagi, Suho sekarang hanya mengenakan piama mandi dengan panjang sebatas paha. Kris berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup sekarang.
"Keringkan rambutmu dengan benar! Selalu saja masih basah!" ucap Suho lalu setelah rambut Kris kering, dia melingkarkan handuk itu ke lehernya. Dia berdiri di depan Kris yang duduk di ranjangnya.
"Mana bajumu?" tanya Kris.
"Aku tidak bawa baju ganti waktu mandi tadi. Jadi aku kenakan ini dulu" jawab Suho. Dia mengerutkan dahi "Aku akan ganti baju dulu"
Kris tiba-tiba mencengkram piama Suho bagian depan dan meletakkan kepalanya di dada Suho yang kecil. Dia mengusaknya pelan.
"Kris. Geli ah!" Suho meringis "Apa sih? Aku mau ganti baju dulu!"
Kris diam saja. Dia tidak mau, tidak mau sedetik pun tidak melihat Suho. Malaikat yang telah merawatnya dengan tangan lembutnya ini. Dia tidak bisa, tidak bisa sedetikpun tidak memikirkan Suho. Kris benar-benar sudah gila karena orang bodoh dihadapannya ini.
Kris melepaskan cengkramannya, lalu memandang Suho dengan tatapan memelas.
"Aku akan ganti baju dulu. Kau boleh tiduran di ranjangku kalau ingin" ucap Suho lalu mengambil baju ganti dan melesat ke kamar mandi.
Setelah selesai, Suho kembali dengan memakai kemeja biru muda dengan celana hitam panjang. Kemejanya yang berlengan panjang dia tekuk sampai sikunya. Setelah merapikan rambutnya sendiri, Suho menghampiri Kris yang duduk lalu menyisir rambut pirang pemuda tiang itu. Setelah dia selesai melakukannya, Suho duduk di samping Kris dan memegang bahu Kris yang keras.
"Kau terlihat lebih segar kalau begini. Kau mau apa? Lapar tidak? Ayo ke dapur!"
Suho menarik pergelangan tangan Kris ke dapur dan Kris hanya diam saja sambil tersenyum kecil sambil mengikuti langkah Suho ke dapur.
Kris duduk di kursi meja makan lalu memandang Suho yang ada di sampingnya dan tengah tersenyum kecil.
"Makan ya? Ada roti dan selai nanas di kulkas. Kau harus makan supaya bisa minum obat lagi!" jelas Suho sambil beranjang mengambil roti dan selai.
Kris cemberut "Aku tidak mau makan"
Suho berhenti mengoleskan selai nanasnya ke lembaran putih roti tawar "Aku tidak akan membiarkanmu hidup kalau kau tidak makan!" ancamnya.
Kris menggeleng seperti anak TK disuruh minum jus sayur "Aku tidak mau"
Suho melipat roti itu lalu meletakkannya di piring "Aku akan memasukanmu ke dalam kulkas kalau kau tidak mau makan" ancamnya lagi. Dia mengolesi beberapa lembar roti tawar lagi sampai akhirnya ada 3 buah roti di piring plastik di hadapnnya.
"Makan!" Suho menyodorkan setangkup roti ke mulut Kris "Makan!"
Kris menggeleng, masih menutup mulutnya.
Suho kesal, dia menempelkan roti itu pada bibir Kris yang tertutup "Makan tidak? MAKAN!" bentaknya.
Kris menggeleng lagi. Benar-benar seperti anak kecil.
"Kris, aku bisa dibunuh ibumu kalau sampai kau mati hanya gara-gara hal seperti ini! kalau kau tidak mau roti kau mau makan apa? Aku akan membuatkannya!" ujar Suho berusaha tenang.
Kris menggeleng lagi "Tidak mau"
Suho meletakkan lagi roti yang dia pegang pada piring, dia mendesah putus asa "Kris! Aku mohon. Kau bisa sakit kalau tidak makan, kau mau cepat sembuh tidak sih?"
Kris diam mematung seperti acra hindu.
"Aish! Yasudah, kau mau apa dariku? Apapun, aku akan berusaha menurutinya kalau kau mau makan?" tanya Suho berusaha lembut "Ya?"
Kris tampak berfikir menggunakan otak mesumnya "Kau serius?"
Suho mengangguk "Aku akan coba. Selama permintaanmu masuk akal!"
Kris tersenyum penuh misteri "Mudah saja. Tapi aku tidak yakin kau mau menurutinya"
Suho mengernyit "Memang kau mau apa? Salju dari gunung Alpen? Kalau itu aku tidak bisa! Ah Kris, yang mudah dong!"
Kris mendekatkan diri pada pria kecil di sampingnya "Aku sudah bilang ini mudah. Tapi aku tidak bisa menyakini kalau kau sanggup melakukannya untukku"
Suho mulai penasaran "Apa?"
Kris meletakkan jarinya yang panjang di bibir mungil Suho yang merah.
"Apa sih?" tanya Suho lagi masih dengan tangan Kris di atas bibirnya sendiri. Entahlah, memang Suho sudah ditakdirkan untuk tidak mudah mengerti dengan perkataan orang lain.
"Cium aku" Kris berkata lirih.
Suho membatu. Kini dia seperti mendengar sesuatu yang belum pernah dia dengar sebelumnya sehingga otaknya yang lambat itu menjadi lebih lambat karena sulit mencerna ucapan Kris tadi.
"Hah?"
"Kalau kau menciumku, aku mau makan" ulang Kris sambil memasang wajah imutnya "Mau tidak?"
Suho berfikir, dia tidak pernah ciuman sebelumnya. Dia masih ingin menyimpan ciuman pertamanya ini untuk orang yang dia cintai nantinya.
"Tidak bisa yang lain?" tawar Suho "Aku akan memijatmu kalau kau mau makan, bagaimana?"
Kris lagi-lagi menggeleng "Tidak mau"
Suho menghela nafas. Manusia di depannya ini benar-benar membuatnya kesal. Dia ingin membuang Kris ke pulau terpencil sekarang juga. Permintaannya benar-benar sudah tidak masuk akal. Tapi, Suho juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa, saat ini tangannya ada di kemeja bagian depan Kris dan dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir pria tiang ini singkat dengan bibir kecilnya.
Kris tidak percaya dengan apa yang barusan dilakukan Suho karena dia heran, Suho bisa melakukannya dengan begitu mudah.
Suho menjauhi wajah Kris lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kris terkekeh dia mengambil sepotong roti lalu memakannya "Aku makan!"
Suho membuka telapak tangannya sendiri lalu melihat Kris memakan rotinya dengan cepat. Dalam hati, berdesir rasa lega karena Kris akhirnya mau makan.
Kris menjilat bibirnya sendiri setelah dia selesai makan dan masih memandang Suho yang ada di sampingnya diam saja dengan wajah memerah.
"Kenapa?"
Suho menggeleng, berusaha menutupi wajahnya lagi. Tapi tangan Kris menahannya. Wajah Kris dengan cepat dia dekatkan pada Suho lalu dia mencium bibir merah lelaki pendek itu. Dia bisa merasakan rasa manis pada bibir Suho ketika mereka berdua berciuman.
Suho membulatkan matanya lalu dia membeku lagi. Dia seperti mati rasa karena sentuhan Kris yang tiba-tiba.
Setelah Kris menjauhkan diri dari wajah Suho. Suho tidak kunjung berubah normal. Tangannya dingin dan dia diam seperti patung.
"Terima kasih sarapannya! Aku suka!" ucap Kris seraya terkekeh pelan.
Suho yang menyadari arti kata Kris barusan langsung bersemu merah semerah cabai. Dia yakin yang Kris maksud dengan 'sarapan' bukan hanya roti selai nanas itu saja. Ciuman mereka berdua juga merupakan sarapan bagi Kris.
"YA! KRIS!" Suho berteriak nyaring sambil memukul lengan Kris keras yang hanya dibalas dengan tawa oleh pria berambut pirang itu
.
.
"Suho…" Kris ada di sofa, dia bersandar pada salah satu lengan sofa sebelah kiri sambil memandang Suho yang ada di ujung kanan sofa yang sama dengannya.
"Apa?" tanya Suho pendek.
"Kau marah padaku ya?" tanya Kris langsung pada Suho "Kau marah kan?"
Suho diam, tampak berfikir "…"
Kris mencolek bahu Suho "Kau masih marah? Jawab dong!"
Suho menatap Kris lalu mendekatinya dan langsung mengacak rambut Kris dengan kesal dan menggeram keras "YA! Aku marah padamu Kris! Menyebalkan! Aku begitu membencimu!"
Kris meringis kesakitan sambil berusaha menahan tangan kecil Suho "Aduh, sakit! Suho! Lepaskan! Maaf dong!"
Suho masih mengacak-acak rambut Kris dengan hebat "Kenpa juga ada manusia sepertimu! Aish! Aku benci padamu wu yi fan!"
Kris menahan pergelangan Suho dan kini mendorong si kecil itu menjauhinya. Rambut Kris kini terlihat berantakan karena diacak-acak Suho.
"Kau marah karena aku menciummu tadi?" tanya Kris enteng.
"Iya. Aku marah! Kalau tahu aku akan marah, kenapa menciumku! Dasar bodoh!"
Kris tersenyum licik setengah mencibir "Bukannya tadi kau yang menciumku duluan"
Blush ~
Suho bersemu, dia dengan cepat mengendalikan perasaan dan tingkahnya "Karena kau yang memintanya"
"Kalau tidak mau melakukannya kenapa kau lakukan?"
Suho memukul lengan Kris "Karena kau tadi tidak mau makan!"
Kris tertawa dalam hati lalu dia mengendalikan gelgatnya agar tidak terlihat mencurigakan "Kini apa yang kau mau? hm?"
Suho mempoutkan bibirnya "Lupakan!"
Kris mendekati Suho, menempelkan lengannya pada lengan Suho "Kau ingin aku mengembalikan ciumanmu? Aku bisa melakukannya"
"Kembalikan? Tidak, simpan saja yang tadi. Anggap saja aku tidak pernah melakukannya untukmu!" tolak Suho mentah-mentah.
Kris merapatkan duduknya menghimpit Suho yang terlihat malas "Aku sebal padamu Kris. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku? Kenapa kau selalu seenaknya? Kenapa kau begitu menjengkelkan?"
Kris diam "Kenapa? Aku juga tidak tahu kenapa, maaf deh kalau aku begini! Sudah dari dulu aku menyebalkan"
"Tapi…" Suho menggantung ucapannya lalu menatap Kris "Aku suka sikap manjamu padaku selama kau sakit dari kemarin!"
Kris tertegun lalu melihat Suho yang tertawa kecil sambil menghadap kearahnya. Lihatlah itu, wajahnya yang manis dan polos serta sifatnya yang sangat lembut. Kris tidak dapat menahan perasaannya sendiri. Ingin sekali dia membuang rasa gengsinya itu.
"Suho-ya" panggil Kris pelan.
Suho berhenti tertawa "Apa, Kris?" tanyanya seraya tersenyum.
Kris langsung memegang kedua pundak Suho dan menatap iris kecoklatan itu dengan tajam menggunakan mata elangnya.
Kris mengambil nafas dalam sambil tertunduk lalu melihat Suho lagi yang kini bingung di hadapannya. Dia berusaha bicara normal tapi akhirnya dia malah sedikit tergagap. Sedangkan suho masih menatapnya menanti ucapan kris.
Kris berusaha mengatakannya, mengatakan suatu kalimat yang sangat ingin dia ucapkan untuk Suho..
"Suho-ya…"
"A.. aku…"
"Aku…"
"Aku mencintaimu!"
.
.
.
.
TBC !
.
JREENGG! Maaf Bersambung di sini! Fufufu :3
Mian kalau dirasa lama. Aku lagi enggak punya banyak ide dan lagi banyak jadwal ulangan dan try out ada di depan mata, lagipula, kesehatanku sedang labil. Maklum, di daerahku lagi sering hujan, tapi siangnya panas.. -_- kalau pulang sekolah jadi sering kehujanan dan jadinya flu (lagi)! (oke, ini curhat, maaf ._.v)
Maaf juga kalau chapter ini mengecewakan anda semua ! #nangis bareng Kris
Makasiihh… bagi yang sudah membaca dan review maupun yang sudah memfollow dan memfavorite ^^ #bagi-bagi pisang goreng (?)
SARANGAE \(^o^)/
.
.
MUAH #lempar cium :*
Sung Rae Yoo
