Title : Rhythm of Love

Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair

Other Cast : silahkan cari sendiri ._.

Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi

Rating : T

Length : Chaptered

Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).

Author : Sung Rae Yoo

HEY HEY *teriak pinjam suaranya Chen.

Sung Rae Yoo comeback nih ! Seneng kan? Seneng dong :3 … sebelumnya maaf banget kalau dirasa lama updatenya, soalnya selama seminggu aku lagi fokus try out, jadi susah curi-curi waktu buat nulis ff T.T Sebagai gantinya, aku banyakin part 7nya… jadi bosen-bosen deh baca ini ff ;) anggap saja sebagai bayar hutang ^^v

Buat yang minta ff ini jadi rate M maaf banget, aku enggak bisa bikin rate M apalagi NC T.T maaf yaa… aku takut kalau aku paksain bikin NC, nanti jadi enggak nge feel, jadi maaf banget T.T /bow/

Terima kasih ya, bagi yang sudah rela meninggalkan jejak komentar di ffku ini… aku baca semua kok, dan maaf enggak bisa balas satu-satu, initinya aku terharuuu #nangisbombay #peluk Kris :3

Bagi yang menunggu, ini Chapter 7nya…

JREENGGG ! .

Enjoy ! /deep bow/

.

.

.

[Chapter 7]

.

"Aku mencintaimu"

.

.

Tatapan Suho belum berubah, setelah sekian detik setelah ucapan 'aku mencintaimu' keluar dari mulut Kris, Suho menggembungkan pipinya dan kini dia malah tertawa keras.

"Ahahahaaa"

Suho tertawa tergelak-gelak sampai tergelincir jatuh dari sofa. Bahkan kini Suho masih tertawa, sampai bergulung-gulung di atas karpet. Ya ampun, si tiang tadi bilang kalau dia mencintainya? Kris pasti sekarang sedang tersengat tegangan listrik 10.000 volt oleh Pikachu.

"Apa yang lucu?" tanya Kris merasa tersinggung.

"Kau" ucap Suho masih tertawa dan bergulung-gulung di karpet. Bahkan saat dahinya membentur kaki meja, Suho masih saja tertawa.

"Kau mengejekku? Aku serius!" bentak Kris. Oke, muka lembutnya sekarang berubah garang bagaimana bisa saat dia menyatakan cinta, Suho malah dengan kurang ajar mentertawainya. Tidak sopan. Si pendek tidak berperasaan.

"Kau bohong kan? Akting bohongmu jelek banget tahu! Mana mungkin kamu mau bicara seperti itu padaku padahal kau mengataiku bodoh setiap hari" jelas Suho lalu duduk di karpet sambil memegangi perutnya.

Nah, Suho benar juga. Ini terlalu aneh. Dia dan Suho bertengkar setiap hari dan kemudian Kris langsung menyatakan cinta? Kris, kau butuh pemanasan dulu.

Suho berdiri lalu mengacak-acak rambut Kris "Harusnya kau lihat betapa lucunya mukamu tadi"

Kris menepis tangan Suho, menadadak dia merasa kesal karena pernyataan cintanya dianggap Suho sebagai lelucon. Kris sempat berfikir, apa itu karena otak Suho yang terlalu lambat hingga sulit mencerna kalimatnya. Apa juga ini terlalu tiba-tiba? Mengingat biasanya Kris dan Suho bertengkar dan kini dia malah menyatakan perasaan cintanya pada Suho.

"Kau tidak percaya ucapanku tadi?" tanya Kris.

"Mana bisa aku percaya?" dengus Suho "Mana mungkin si tiang telepon sepertimu menyatakan cinta padaku? Apa kau sedang belajar akting untuk drama? Aktingmu buruk Tuan Wu"

Kris berdecak kesal "Ah, sudah lupakan!"

Suho tertawa lagi memandang Kris yang kini marah. Lihatlah Kris mempoutkan bibirnya dan menggerutu panjang pendek.

"Mana bisa aku melupakan wajahmu seperti itu. Aku ingin memotretmu tadi!" Suho kini tambah tergelak.

"Aish!" Kris kini menatap Suho jengkel dan si pendek itu mencubit pipi Kris lalu mengacak rambutnya lagi.

Suho tertawa lebih keras. Perutnya sakit dan seluruh badanya sekarang lemas karena terlalu lama tertawa. Apa boleh buat, Kris yang bertingkah seperti ini memang lucu sekali.

Rasa kesal Kris memuncak, dengan cekatan, tangan besarnya menarik pergelangan tangan kecil milik Suho lalu membuat tubuh kecil milik Suho terjatuh di atas paha Kris. Suho terkejut karena tiba-tiba dia bisa duduk di atas pangkuan Kris dengan tubuh menghadap Kris. Dia serasa jantungan sekarang.

"A…apa?" tanya Suho gugup.

Nah, kan, dia jadi tergagap sekarang. Suho membenci situasi ini. Saat tubuhnya dan tubuh Kris berdekatan, pasti perasaannya jadi tidak tenang seperti ini.

"Kau menyebalkan!" dengus Kris lalu membenturkan dahinya pada Suho sehingga Suho memekik pelan karena sakit.

"Aduh!"

Kris menaruh kedua telapak tangannya di pinggang ramping Suho lalu dia mendekatkan wajahnya pada Suho dan menghembuskan nafasnya di leher Suho yang putih dan sensitive.

"Ah, Kris hentikan! Geli tahu!" Suho meringis saat nafas hangat Kris membelai leher putihnya. Tangan kecil Suho kini mencengkram bahu Kris. Sungguh dia tidak nyaman dengan ini semua. Dia ingin pergi dari posisinya saat ini.

Kris menghentikan kegiatannya lalu menatap wajah Suho dengan matanya. Si kecil itu merasa risih diperhatikan langsung memukul kepala Kris "Jangan menatapku seperti itu, dasar mesum!"

Kris mengabaikan rasa sakit di kepalanya lalu menarik Suho agar menjadi lebih dekat dengan tubuhnya, setelah dekat, Kris dengan cepat mencium pipi kiri Suho.

Suho terbelak. Lalu dengan satu gerakan cepat dia bangkit dari pangkuan Kris dan mengusap-usap pipinya sendiri dan wajahnya kini mulai dijalari rasa panas.

"Hehehe" Kris hanya memasang tampang bodoh-sok-polos-sok-enggak-punya-dosa miliknya membuat Suho kesal.

"Berani menciumku lagi aku akan memasukkanmu ke tong sampah Kris!"

Suho menjitak kepala Kris kesal lalu duduk di sofa yang berbeda dengan Kris. Dia masih menggosokkan tangannya ke pipi kirinya sendiri. Berusaha agar pipinya tidak terlihat memerah.

"Maaf" Kris menutup mulutnya sendiri. Rasa kesalnya kini mulai berkurang.

"Kau mudah sekali mencium orang? Memang aku ini apa? Seenaknya saja kau cium! Aish!" dengus Suho kesal "Aku akan memplester mulutmu lain kali"

"Aku suka baumu" jawab Kris masih dengan kekehannya "Manis"

Muka Suho tak kunjung membaik, kini malah bertambah merah.

Buk!

Suho meraup bantal kemudian melemparkannya ke muka Kris dengan keras sambil berteriak "Jangan menggodaku, dasar bodoh!"

"Habisnya kau menyebalkan tadi" Kris membela dirinya sendiri lalu menyingkirkan bantal dari hadapannya.

"Kalau aku tadi menyebalkan, nyatanya kau sekarang lebih menyebalkan Kris!"

Kris diam lalu dia menyeringai kecil begitu Suho membenamkan wajahnya pada bantal.

Keduanya diam untuk waktu yang lama, kemudian, suasana hening itu terpecah karena suara dering handphone milik Suho.

Kris memandang Suho yang kini berdiri dan mengangkat teleponnya, Suho kini tengah berbicara dan berjalan keluar rumah karena sinyal sedang buruk.

Si tiang itu sebenarnya pendasar dengan apa dan siapa yang Suho telepon, tapi, Kris tahu alau Suho tidak suka pembicaraannya 'disadap' orang lain (#maksudnya nguping XD)

Suho kembali beberapa saat kemudian dengan wajah cerah.

Dia berlari menuju kamar dan keluar dengan membawa tas selempang dan mantel serta syal, itu semua membuat Kris heran. Apa Suho mau keluar?

"Kau mau kemana?" tanya Kris "YA! SUHO!"

Suho berhenti bergerak lalu dia duduk di sofa sambil memasang kaus kakinya "Aku akan pergi melihat pameran komik dengan Kai di pusat perbelanjaan. Kau jaga rumah, ne?"

Kris membulatkan matanya "Tidak mau! Aku tidak mau sendirian!"

Suho menyentil kepala Kris "Aku bisa kehabisan komik kalau kau merengek padaku seperti ini terus. Masih ada sup di dapur, nasinya juga masih ada, kau bisa hangatkan itu kalau mau!"

"Kau pergi berdua dengan Kai?" tanya Kris.

"Iya. Kai tadi meneleponku, katanya ada pameran komik dan kami sepakat untuk kesana bersama. Aku dan Kai sama-sama suka komik. Jadinya aku mau pergi dengannya. Karena kau masih sakit, kamu jaga rumah saja, jangan keluar-keluar. Jangan mencariku juga!" jelas Suho panjang lebar.

"Aahh…" Kris merajuk "Aku akan kesepian"

"Panggil saja teman-temanmu kesini, suruh mereka menemanimu… kan gampang!" balas Suho enteng sambil memasukkan handphonenya ke dalam tas.

"Aku tidak mau" rengek Kris keras kepala.

"Sudah ah, pokoknya aku mau pergi. Kai sudah menungguku! Jangan lupa minum obatnya ya… setelah makan, kalau sudah selesai minum obat langsung tidur. Oh ya, jangan hujan-hujanan! Aku akan menggorengmu kalau kau sampai sakit lagi, mengerti!"

Kris mempoutkan bibirnya "Menggorengku?"

"Iya! Aku akan mencampurnya dengan ayam. Sudah! Aku mau pergi… bye bye" Suho selesai memaKai sepatunya dan kini dia berlari keluar rumah dan Kris bisa melihat hujan yang sudah reda namun cuaca yang masih dingin.

Setelah punggung Suho menjauh dan menghilang, Kris menutup pintu rumah, dia bergumam pelan "Sebenarnya lebih penting mana antara komik dan aku? Dasar bodoh, tak sadarkah kalau aku menyukaimu?"

.

.

Yang dilakukan Kris selama ditinggal (?) Suho hanyalah membersihkan rumah, nonton tv, bermain rubik, makan, nonton TV, main rubik lagi, tidur, lalu ngemil. Suho baru pergi pukul 11 pagi dan belum pulang sampai sekarang. Dia bahkan ke lantai dua, memainkan piano yang suka dimainkan Suho sambil mengutuki dirinya sendiri kenapa sampai sekarang lagu yang dia bisa hanya twinkle-twinkle little star? Bodoh. Main piano membuatnya lelah sampai akhirnya dia turun lagi ke lantai satu dan sekarang malah mondar-mandir seperti gasing karena memikirkan Suho yang belum pulang.

Kris berlebihan? Iya berlebihan. Ini baru jam 3 sore. Apa salahnya kalau Suho jalan-jalan sampai malam? Ini juga bukan urusannya. Tapi, Kris akhirnya bersabar dan memutuskan mandi, memakan obatnya lalu tiduran di sofa sampai akhirnya dia benar-benar tertidur pulas.

.

.

Kris terbangun saat Suho membuka pintu rumah. Kris dengan sigap bangkit berniat menyambut Suho. Tapi, wajah sumingrah Kris tidak diikuti wajah Suho. Si malaikat kecil nan putih ini berwajah murung. Bukan sepenuhnya murung sih, antara bingung dan murung.

Kris mengernyit lalu menutup pintu rumah "Kau kenapa?" tanya Kris "Jam 5 begini baru pulang!"

Suho menggeleng "Tidak apa-apa"

Suho membelokkan langkahnya menuju kamar tidur miliknya lalu menutup pintunya pelan.

Ada yang aneh. Benar. Ada yang aneh dengan Suho sekarang. Mana senyumnya? Mana tawanya? Dan mana lagi kata-kata manisnya? Aneh.

Suho keluar dari kamar setelah 30 menit ada di dalam, dia lalu menuju dapur. Dan Kris mengikutinya dari belakang. Dilihatnya Suho sedang membuka kulkas lalu meminum air putih. Kris duduk di kursi meja makan lalu melihat Suho yang kini pucat.

"Kau sakit? Kau tertular olehku?" tanya Kris.

Suho menggeleng "Sepertinya tidak"

"Lalu?"

Suho membuka lagi lemari es besar milik Kris lalu mengambil sebuah cup berisi es krim, dia duduk di dekat Kris lalu memakan es krimnya dengan diam.

"Tidak seperti biasanya. Apa yang kau lakukan dengan Kai tadi?" tanya Kris.

Suho menghela nafas panjang "Banyak. Kami membeli komik dan jalan-jalan"

Kris mengerutkan kening "Lalu kenapa pulang-pulang wajahmu ditekuk seperti ini? Kau menyeramkan Suho!"

"Oh ya?" Suho berkata hambar "Aku hanya sedang bingung!"

Suho kembali melahap es krimnya tanpa mempedulikan Kris yang kini menatapnya dengan tatapan penasaran dan ingin tahu.

"Jangan suruh aku menceritakannya Kris, aku sedang tidak ingin" ucap Suho seakan tahu isi kepala Kris.

Kris diam lalu menjulurkan tangannya mengelap sudut bibir Suho yang belepotan es krim vanilla dengan ibu jarinya.

Suho diam saja dan merasakan sentuhan Kris yang selalu bisa membuatnya berjengit.

"Dingin-dingin kenapa malah makan es krim? Lebih baik kau minum teh saja" ucap Kris lalu menjilat ibu jarinya yang bekas dia mengelap bibir Suho.

"Aku sedang ingin es krim" jawab Suho pendek.

"Hh… yasudahlah, sepertinya kamu sedang dalam keadaan tidak baik. Aku akan membiarkanmu, tapi kalau kau butuh aku, panggil saja" Kris berdiri lalu mengelus kepala Suho.

Suho mengangguk "Iya"

Kris pergi meninggalkan Suho yang sedang makan es krim di dapur. Dia menuju kamarnya sendiri, berniat mandi lalu mengerjakan tugas sekolahnya.

.

.

Kris melihat jam dan sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kris meregangkan ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk sambil mengerjakan tugas sekolahnya yang menumpuk.

Kris berdiri, membuka lemarinya lalu berganti baju dengan piama motif dombanya. Dia menggosok gigi ke kamar mandi lalu berniat tidur karena dia memang sudah lelah. Sebenarnya dia ingin melihat Suho dulu untuk memastikan apa dia sudah tidur atau belum. Tapi, mengingat mood Suho sedang buruk, dia urungkan niatnya dan berniat langsung tidur saja. Mungin besok Suho sudah kembali lagi seperti semula.

Kris memejamkan matanya lalu bergulung-gulung di kasur. Mencoba mencari posisi tidur yang nyaman. Namun, saat Kris hendak tidur dan jatuh ke alam mimpi, suara ketukan pintu kamar mengintrupsi pendengarannya.

Tok tok

Kris bangun dari posisi tidurnya lalu berdiri dan melangkahkan kaki panjangnya lalu membuka gagang pintu.

Begitu terkejutnya Kris saat dia melihat Suho ada di luar dan langsung memeluknya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Kris.

"A.. ada apa?" tanya Kris bingung "Suho? Kau kenapa eum?" kini Kris berusaha lembut, dia menarik Suho lalu menutup pintu kamarnya sendiri.

"Aku… tidak bisa tidur" bisik Suho kecil.

"Kau ingin aku menemanimu tidur?" tanya Kris dan saat itu juga Suho langsung mengangguk, membuat si namja tiang listrik itu tersenyum.

Kris melihat tubuh kecil Suho yang ada di depannya sekarang, Kris melepaskan pelukannya lalu menggendong Suho yang ringan dan menjatuhkannya dengan lembut di ranjang tidurnya.

"Kanapa kau menggendongku? Aku bisa jalan sendiri Kris" ucap Suho saat dia ada di ranjang Kris. dia tidur di sebelah kiri ranjang sambil memandangi wajah Kris yang ada di depannya.

"Karena aku ingin!" jawab Kris

Suho berdesis sambil berkata "Kau selalu saja seenaknya"

Kris hanya meringis lalu tidur di samping Suho, memandangi wajah munginya yang lucu.

"Jadi, kau tidak bisa tidur?" tanya Kris

"Aku lelah, tapi aku tidak bisa tidur!" jelas Suho sambil mengatur nafas.

"Lalu kenapa kau ingin tidur denganku?" tanya Kris sambil membelai surai hitam Suho yang menutupi dahinya.

"Karena aku ingin saja" jawab Suho "Aku ingin tidur denganmu"

Kris kini menatap Suho dengan mata tajamnya. Dia tersenyum lalu membetulkan letak selimut hingga kini selimut itu menutupi tubuh mereka berdua sebatas perut.

Kris kemudian meraskan bajunya bagian depannya dicengkram kuat. Dan dia menyadari, kalau Suho yang melakukannya, si kecil itu sekarang tengah menangis dan terisak tertahan.

"Suho-ya, kenapa? Jangan menangis"

Kris menepuk punggung Suho dan juga membelai pipi Suho dnegan lembut "Ada apa?"

"Aku… aku… bingung Kris" isaknya kecil sambil terus mencengkram baju bagian Kris dengan erat, sampai sekarang piama itu jadi kusut.

"Sudah, jangan menangis, hidungmu bisa tersumbat kalau kau menangis seperti ini. Ssstt.. ayolah! Aku ada disampingmu, jadi jangan menangis" ucap Kris menenangkan "Apa yang terjadi?"

Suho memandang wajah Kris dengan matanya yang kini memerah.

"Kai…" ucap Suho tertahan "Kai tadi memintaku jadi pacarnya!"

.

.

/FLASHBACK/

Suho dan Kai selesai membeli komik, dan kini mereka berdua berencana untuk beli bubble tea. Suho suka bubble tea sejak teman sekelasnya, Sehun, mengajaknya minum bubble tea saat mereka berdua jalan-jalan di seoul.

Tapi, Suho kini heran, karena Kai malah membelokkan langkahnya ke seoul park. Dan Suho pun mengernyit heran.

"Kita kan mau beli bubble tea Kai!" protes Suho "Apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Suho lagi, tetap cerewet.

Kai berbalik dan kini memandang Suho lalu memegang kedua tangan kecil Suho dan memandang matanya dengan tajam.

"Suho-ya, aku menyukaimu…"

Suho diam, seperti batu karang.

"Aku mohon jadilah pacarku!"

Suho kini serasa kepalanya dijatuhi beban berupa seekor sapi. Berat. Dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan harus dia jawab. Ini membingungkan dan merupakan sesuatu yang tidak biasa pada hidupnya. Tadi pagi Kris yang mengatakan dia menyuakinya (dan hanya dianggap Suho sebagai candaan) sekarang Kai.

Tapi entah kenapa, saat Kai mengucapkannya. Suho serasa bisa mengerti benar kalau Kai menyukainya. Ini membuatnya bimbang.

Ahirnya, dia hanya bisa menjawab dengan tidak pasti "Beri aku waktu Kai…"

Kai diam, mengelus punggung tangan Suho dengan tangannya yang berkulit tan.

Suho menggigit bibirnya lalu menghela nafas panjang "Aku akan memberi jawaban secepat yang aku bisa"

.

/FLASHBACK END/

.

"Jadi karena itu kau tidak bisa tidur?" tanya Kris.

Suho mengangguk kecil, mengusap air matanya sendiri.

"Lalu kenapa menangis?" tanya Kris lagi, merasa heran.

"Karena aku tidak tahu harus membalas apa" jelas Suho. Dia menjauhkan wajahnya dari Kris lalu mengerjapkan matanya pelan.

Kris menggigit bibir "Apa… kau menyukai Kai?" tanya Kris penasaran.

Suho memandang Kris "Suka? Tentu saja aku menyukainya"

Oke.

Jawaban kecil dari mulut Suho itu berhasil membuatnya membulatkan mata terkejut. Dia berfikir, pupus sudah harapannya untuk menjadi kekasih Suho.

"Suka? Benarkah?" tanya Kris masih penasaran dan tidak percaya dengan jawaban Suho.

"Aku dan dia punya banyak kesamaan. Aku dan Kai sama-sama suka komik, kami juga sering jalan-jalan bersama dan dia juga baik. Perhatian juga. Tentu saja aku menyukainya" jelas Suho.

Deg!

Kini sudah rontok benar hati Kris.

"Tapi…"

Ucapan Suho berhasil membuat Kris menoleh lagi pada pria kecil di depannya ini. Yang sedang berbaring dengan gelisah di atas ranjangnya.

"Mungkin bagiku memang lebih baik orang seperti Kai, aku yang bodoh seperti ini, mungkin tidak akan pernah ada lagi orang yang mengatakan suka padaku" ucap Suho lirih "Lagipula, obrolan kami sangat nyambung dan aku merasa senang bersamanya. Dia baik dan kami punya banyak kesukaan yang sama. Tidak ada sama sekali alasan untuk menolaknya"

Kris tertegun lalu dia terkejut saat melihat Suho membenamkan lagi wajah mungilnya pada dadanya dan mengusaknya pelan.

"Tapi, kenapa aku berfikir kalau semua ini tidak benar?" tanya Suho dan air matanya mulai mengalir lagi "Kris, aku bingung"

Kris menghela nafas lalu mengusap kepala Suho dengan lembut "Apa, kau sudah punya orang yang kau sukai? Selain Kai, bukan rasa suka sepertimu pada Kai, tapi cinta"

Suho tampak berfikir.

Dan entah kenapa saat ini dikepalanya tidak ada apapun. Dia tidak bisa berfikir. Tapi, Suho menyadari, rasa yang aneh saat dia bersama Kris, saat Kris menyentuhnya, mencium dan membelai rambutnya, itu membuatnya merasa hangat dan nyaman. Ketika suara berat Kris menyentuh telinganya, entah kenapa Suho tersenyum, menyukainya. Tapi, dia tidak pernah mengakui dirinya sendiri kalau dia menyukai Kris. Dia selalu berfikir, perasaannya pada Kris hanya sebatas seperti dia pada Kai, tapi, hanya Kris, yang mampu membuatnya berdebar-debar seperti sekarang.

"Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri Kris" ucap Suho "Aku lelah"

Kris tersenyum kecil lalu menepuk punggung Suho "Tidurlah. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur"

"Sekarang aku yang bermanja-manja padamu, maaf ya, kalau aku merepotkanmu!" bisik Suho sambil mengusap matanya yang agak basah.

"Tidak masalah. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Sekarang tidurlah, besok kita akan sekolah" Kris kini melingkarkan tangannya pada pinggang Suho dan membuat lelaki kurus itu menempel pada tubuh Kris.

Suho melingkarkan tangan kurusnya ke pinggang Kris dan berusaha tidur. Karena entah kenapa Suho merasa nyaman saat Kris memeluknya dan membuatnya hangat. Membuatnya seakan melupakan semua masalah yang telah membuatnya bimbang hari ini.

.

.

.

Esoknya…

Kris dan Suho pergi sekolah seperti biasa. Dan Kris bisa melihat Suho yang belum sepenuhnya membaik moodnya. Dia malas sekolah dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Kai nantinya. Ini semua membuatnya gila.

Tapi, tidur dengan Kris semalam bisa membuatnya tenang. Semua sentuhan Kris di saat dia bingung bisa membuatnya hangat dan tenang dalam sekejap.

Sekitar pukul 3 sore, Suho pulang ke rumah dan menyadari kalau Kris belum pulang. Dia ingat, Kris ada latihan basket tambahan dan akan pulang sekitar jam 4. Suho pulang dan langsung membanting pintu serta melemparkan tasnya ke sofa. Dia berjalan cepat menuju dapur lalu membuka kulkas dan mengambil sekotak besar es krim.

Dia memakan es krim itu sendiri dengan perasaan campur aduk. Tidak peduli diluar sekarang angin bertiup kencang dan hujan sudah mulai turun gerimis.

Suho bingung dengan dirinya hari ini. Seharian ini, Suho menghindari Kai dan lebih memilih berdiam diri di taman belakang sekolah yang sepia tau di atap sekolah. Dia heran, mungkin malu karena belum menjawab pengakuan Kai. Dia gugup untuk bertemu dengan namja berkulit tan itu. Tapi, ada satu lagi yang mengganggu hatinya.

Orang yang dicintai?

Suho menyukai Kai, hanya suka sebagai teman. Bukan mencintainya. Tapi, Suho sadar, rasa yang aneh dan bisa membuatnya berjengit adalah saat dia bersama Kris. Apa dia suka pada Kris? Bukan, bukan hanya rasa suka, tapi Suho sudah jatuh cinta pada namja tiang listrik bermulut pedas itu.

Tapi, Suho masih menyangkal perasaannya sendiri. Dia tidak percaya kalau dia ternyata menyukai Kris.

Suho tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai dia tidak menyadari kalau Kris sudah datang dan tengah melepas sepatunya.

"Ya ampun, demi Tuhan apa yang kau lakukan disana Suho?" tanya Kris lalu menghambur menuju dapur dan merebut kotak besar es krim di tangan Suho yang sudah habis setengahnya.

"Kau gila ya? Menghabiskan semua ini sendirian? Kalau kau sakit bagaiman?" tanya Kris khawatir lalu menyimpan kembali es krim itu di kulkas.

Suho diam dan menunduk "Kata eommaku, es krim bisa membuat orang bahagia. Aku sedang bingung Kris, jadi aku makan es krim agar bisa bahagia. Meskipun efeknya tidak lama" jelas Suho sambil memainkan sendoknya.

"Bahagia dengan makan es krim? Kau makan sampai kiamat juga kamu pasti belum merasa baik. Yang ada kau tambah sakit!" salak Kris.

"Kris! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Suho "Aku menghindari Kai seharian ini. aku jadi merasa aneh dan tidak nyaman"

"Kai? Ini masalah Kai lagi?" tanya Kris lalu mendekati Suho, dia mengangkat tubuh kecil Suho dan mendudukkannya di meja makan. Sementara Kris sendiri ada di depannya mengeluarkan pandangan kesal.

"Kai bilang mencintaimu dan kamu langusung percaya dengan ucapannya. Tapi kenapa saat aku bilang bahwa aku mencintaimu kau tidak mau percaya padaku?" tanya Kris heran.

"Apa? Kau serius?" tanya Suho heran.

Kris mengangguk "Aku benar-benar mencintaimu, jauh sebelum Kai menyatakan cintanya padamu"

Suho mengernyit "Aku tidak bisa mengerti, kenapa kau mencintaiku? Kau bercanda kan?"

Kris memutar bola matanya jengah "Cinta, perlukah alasan? Aku tidak tahu kenapa aku menyukaimu tahu. Dan juga, aku sama sekali tidak bercanda"

"Kalau begitu aku pasti sedang bermimpi!" gumam Suho tapi gumaman itu masih bisa didengar Kris.

"Dan juga kamu sedang tidak bermimpi!" ucapan Kris kini sedikit meninggi.

Suho diam, sekujur wajahnya sekarang sudah memerah "Tapi, Kris…. kamu…"

Kris memegang pundak Suho dan mendekatkan diri pada tubuh Suho yang sedang terduduk di atas meja "Perlukah buktinya? Kalau aku memang sungguh mencintaimu? Hm?"

Suho kini membeku seperti es saat Kris dengan cepat menarik tengkuknya dan langsung mencium bibirnya lembut dengan bibir Kris sendiri. Suho kini sadar, si tiang ini memang benar-benar menyukainya.

Bukan.

Bukan hanya sebatas suka saja.

Kris mencintai Suho. Lihatlah bagaimana Kris mencium Suho, tangan kanannya melingkar di pinggang Suho sementara tangan kirinya mendorong tengkuk Suho agar membuat tubuh mereka berdua lebih dekat.

Suho mulai merasakan rasa nikmat saat Kris mencium bibirnya dan tidak melepaskannya dari tadi. Kini Suho juga merasa Kris sekarang tengah melumat bibirnya pelan. Meresapi rasa manis yang keluar saat bibir mereka bergesekan.

"Mmpphh" Suho melenguh pelan dan Kris langsung melepaskan ciumannya saat itu.

"Apa itu cukup?" tanya Kris.

Suho memegang kedua pipinya "Cukup?" tanyanya tidak mengerti.

"Cukup untuk membuktikan bahwa aku memang benar-benar mencintaimu" jawab Kris dia kini mengunci tubuh Suho dan membiarkan Suho ada di depannya tidak bisa bergerak.

"Saranghae" bisik Kris lalu memandang wajah Suho yang kini panas.

Suho menunduk lalu berbisik pelan "Aku, juga"

"Kau juga mencintaiku?" tanya Kris sambil menyibakkan poni Suho yang panjang.

Suho mengangguk "Awalnya aku tidak yakin. Tapi, kau sudah membuatku yakin kalau aku ternyata juga mencintaimu! Saat kau menciumku barusan"

Kris tersenyum lalu mengusap bibir Suho yang kini sedikit bengkak karena dia menciumnya terlalu lama "Jadi… apa kamu mau, jadi kekasihku?"

Suho mengernyit heran merasa pendegarannya salah "A..apa?"

"Mulai sekarang kau adalah kekasihku, ya?"

Suho menunduk lalu kedua telapak tangannya dia gunakan untuk menangkup pipi Kris, dengan samar dia mengangguk "N.. ne"

Kris terkekeh melihat Suho yang kini menunduk malu dan berusaha menutupi rasa gugupnya. Kris yang ada di depannya sekarang benar-benar membuatnya gemetar. Tangan besar Kris kini mulai menarik Suho lagi dan dia memiringkan kepalanya agar bibirnya bisa bersentuhan dengan bibir mungil Suho yang merah.

Suho tersenyum dalam ciumannya dan dia melingkarkan tangannya di leher Kris tanpa sadar. Dia biarkan saja saat tangan Kris melingkar di pinggangnya dan bibir Kris melumat bibirnya lembut. Semua sentuhan Kris saat ini membuatnya nyaman dan merasakan cinta yang sebenarnya. Rasa yang selama ini belum pernah Suho rasakan dan ini sekarang telah membuatnya terasa nyaman dan tenang.

.

.

Canggung.

Hanya perasaan itu yang Suho rasakan ketika Kris melepaskan ciumannya dan memandang matanya lekat-lekat.

"A… apa?" tanya Suho gugup karena Kris tak segera pergi dari hadapannya.

Kris tersenyum "Mulai sekarang…"

Kris menggantung ucapannya lalu mengusap pipi Suho dengan tangannya, sentuhannya beranjak dari pipi menuju tengkuk lalu punggung Suho membuat si kecil itu memjamkan matanya sebentar karena sensasi aneh yang diterima tubuhnya.

"… hanya aku yang boleh menyentuhmu"

Suho diam saja dan merasakan sekujur tubuhnya disengat aliran listrik statis.

Mata Suho kini terbuka lebar saat meraskan Kris membuka kancing jas sekolahnya dan membuat jas itu terlepas.

"Y.. ya!" Suho berusaha menormalkan suaranya tapi itu mustahil. Apa yang dilakukan Kris sekarang membuatnya berpikiran macam-macam.

Namja bermata elang itu kini menarik dasi biru milik Suho sehingga kini si pendek itu hanya mengenakan kemeja sekolah dan celana panjang.

"A.. apa yang akan kau lakukan?" tanya Suho gugup melihat Kris kini membuka 2 kancing atas kemejanya. Pikiran Suho mulai tidak tenang.

"Y.. YA!" Suho berteriak dan menahan kedua tangan Kris lalu memejamkan matanya erat-erat. Meskipun tangan Suho kecil mungil, Suho tetap saja bisa menahan tangan Kris yang notabene berukuran lebih besar dari tangannya.

Suho membuka matanya lalu mengatur nafasnya. Dia memandang Kris di depannya yang menunjukkan tatapan menggoda.

"Jangan menggodaku!" Suho memukul lengan Kris dengan telapak tangannya.

"Bilang saja kau menyukainya" sanggah Kris "Dasar munafik"

Tangan Kris mengunci gerakan Suho dan mulai membuka kancing kemeja putih kebesaran milik Suho itu. Dan Suho kini mulai menahan tangan Kris lagi.

"Dasar mesum! Apa yang kau lakukan? Aish!" teriak Suho membuat Kris memundurkan tubuhnya dan melepaskan kunciannya.

"Menggodamu menyenangkan!" Kris terkekeh pelan "Sudah sore. Mandi sana!"

Si kecil itu diam dan bengong "Hah?"

"Aku hanya membantumu membuka baju" jelas Kris lalu memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku celana.

"Alasan! Sudah ah! Otakmu memang pervert Kris!" dengus Suho.

Kris membantu Suho turun dari atas meja lalu namja mungil itu langsung meraup jas dan dasinya lalu berlari meninggalkan Kris menuju kamarnya untuk mandi dan ganti baju.

Kris yang melihat itu semua hanya tertawa pelan dalam hati.

Dalam hati tadi, dia masih sempat mengela nafas lega, karena Suho berhasil dia dapatkan. Dia mendapatkan irama cintanya.

.

.

Suho tampak ada di teras rumah. Dia duduk di bangku kayu panjang di depan rumah sambil menghirup bau tanah basah karena hujan yang sampai sekarang masih turun dengan indah. Tidak terlalu deras tapi cukup membuat semua yang ada di luar basah. Jam menunjukkan pukul 4 sore dan Suho sudah mandi dan ganti baju. Dia memaKai celana panjang, baju warna hitam dan sweater putih. Cuaca dingin dan dia tidak mau sakit karena flu.

Pintu rumah dibuka dan Kris menyembul dari sana. Di pria tinggi itu juga telah mandi dan ganti baju dengan celana panjang dan kemeja putih lengan panjang.

Suho tersentak saat dia menyadari Kris duduk tepat di sampingnya dan membuat bahu keduanya bersentuhan.

"Kau sudah mandi?" tanya Suho begitu Kris ada di sampingnya.

"Sudah. Kenapa tidak masuk? Diluar dingin" tawar Kris "Ayo masuk saja"

Suho menggeleng "Aku mau melihat hujan. Lagipula bosan di rumah saja"

"Tidak main piano?" tanya Kris lagi.

"Aku sudah puas main di sekolah dengan kyungsoo sunbaenim di kelas musik" jawab Suho seraya tersenyum kecil "Aku ingin bersantai"

Kris menyandarkan kepalanya di bahu Suho lalu memejamkan mata. Kris yang duduk di sebelah kanan Suho kini mulai merasakan hangat saat dia menempel dengan Suho.

"Mulai deh!" Suho terkekeh melihat sifat manja Kris keluar, dia lalu mengusap kepala Kris dan tertawa kecil "Kau jadi seperti anjing kecil kalau begini. Dasar!"

Tangan Kris kini menggengam tangan kecil Suho dan mengusapnya pelan "Kau suka kan?

Suho mengangguk "Tapi kadang kau merepotkan!"

Kris duduk kembali, dengan cekatan Kris menarik tubuh Suho lalu mencium bibir Suho cepat dengan bibirnya, melumatnya lembut sebelum dia melepaskannya.

"Hah, kau selalu saja begitu Kris!" dengus Suho "Seenaknya saja menciumku!"

"Kau kan kekasihku, jadi apa salahnya?" tanya Kris sambil mengelus puncak kepala Suho.

"Aish, bukan begitu maksudnya.. tapi.. ah, sudah lupakan!" Suho bicara aneh lalu memanyunkan bibirnya.

Kris mengernyitkan dahinya sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu. Dia menyeringai kecil lalu menarik tubuh Suho dan memangkunya dalam posisi miring.

Suho memandang Kris yang tersenyum penuh arti.

"Kalau begitu…"

Kris mendekatkan wajahnya pada wajah Suho dan membenturkan dahinya serta membuat ujung hidung mereka berdua bersentuhan.

"Apa?" tanya Suho heran dan gugup. Oh tidak Suho, posisi seperti ini lagi! Runtuknya dalam hati.

"Kau boleh menciumku duluan" lanjut Kris.

Suho diam dan mukanya memerah lagi parah. Menciumnya? Oh tuhan, Kris tahu benar apa yang ada dalam pikirannya.

Suho mencoba mengelak "Ta.. tapi, ini ada di luar! Kalau ada yang melihat bagaimana?"

"Lalu kenapa?" tanya Kris "Kau boleh melakukannya padaku sekarang!"

Suho menelan ludahnya gugup. Dia melingkarkan tangannya pada leher Kris lalu mengirup nafas panjang. Mencoba memiringkan kepalanya untuk meraih bibir tipis kekasihnya ini.

Chu

Suho berhasil mencium Kris dan itu membuat wajahnya sekarang seperti cabai. Benar-benar merah merata. Kris melingkarkan tangannya pada pinggang rampingnya membuat ciuman Suho lebih dalam. Dan si tiang itu tampak menikmati ciuman kekasihnya ini.

Suho melumat bibir Kris dan membuat Kris membalasnya. Sungguh, ini pertama kalinya Suho melakukan ini. Ciuman ini membuatnya terasa nyaman dan dia sangat menikmatinya. Apalagi, yang dia cium adalah orang yang sangat dia cintai. Satu-satunya orang yang bisa menyentuhnya.

"Mmphh" Suho melenguh pelan karena kehabisan nafas. Dia melepaskan ciumannya lalu menunduk dan mengambil nafas. Tidak berani menatap Kris meskipun dia ada di atas pangkuan namja tinggi ini.

"Sudah kan? Kau bisa menciumku kapan saja" jelas Kris lalu mengangkat kepala Suho menatap manik mata Suho yang kecoklatan.

Suho kini mulai terbiasa dengan sentuhan Kris dan suara Kris yang menurutkan seksi itu. Bagaimana tatapan Kris dan semua tentang Kris dia sudah bisa menikmati dan menerimanya.

Jemari mungil Suho yang sering dia gunakan main piano itu merambat menelusuri wajah Kris dan berhenti pada bibir pemuda itu.

"Bibirmu juga manis, Kris" ucapnya pelan "Aku menyukainya"

Kris tersenyum "Apa kau sekarang yang menggodaku?"

Suho menggigit bibirnya pelan sebentar lalu mengusap jarinya pada bibir Kris "Kau yang lebih sering melakukannya padaku!"

Kris terkekeh lalu menngendong tubuh Suho masuk ke dalam rumah.

"Aku tidak terlalu suka kalau banyak orang yang melihat" bisik Kris saat dia menggendong Suho masuk rumah dan menutup pintunya.

"Apa?" Suho kini bingung. Tapi sejenak kemudian dia mengerti maksud Kris.

"Aku lebih suka menikmati bibirmu di dalam rumah saja. Di kamarku sepertinya juga menyenangkan!" lanjut Kris.

Suho memukul kepala Kris lalu berteriak "YA! Jangan macam-macam denganku, manusia mesum!"

Kris tertawa tapi dia tetap membawa Suho ke kamarnya.

Oke, jangan berpikiran yang berlebihan.

Mereka tidak melakukan apapun melebihi ciuman.

.

.

.

Suho bangun dari tidurnya, masih jam 3 pagi, lalu dia duduk dan menyandarkan punggungnya pada dipan. Dia mengingat kejadian kemarin. Saat sekolah, dia menghindari Kai seharian. Lalu pulangnya, dia menjadi kekasih dari si namja bermarga wu yang selama ini dia tinggal bersama, dia ingat bagaimana Kris menciumnya dan bagaimana wajah Kris saat mengatakan bahwa dia dapat mencium Kris duluan. Dia ingat saat dia dibawa ke kamar dan Kris terus menciumnya hingga dia sendiri lelah dan merasa bibirnya sudah bengkak. Suho ingat juga setelah itu mereka makan malam, melihat TV dan tidur berdua di kamar Kris dengan berpelukan seperti malam sebelumnya. Mengingat semua itu, Suho jadi tersenyum malu sendiri.

Suho memandang wajah Kris yang tertidur di sampingnya yang terlihat seperti anak kecil. Lucu sekali. Rambut pirang coklatnya yang berantakan serta nafasnya teratur. Suho mengusap pelan pipi pemuda jangkung itu sebelum dia akhirnya mengambil handphone miliknya yang tergeletak di meja yang ada disamping tempat tidur.

Suho sudah memikirnya lama-lama. Balasan perasaannya untuk Kai.

Tapi karena Suho terlalu takut untuk bicara, akhirnya dia memilih untuk mengiriminya pesan saat itu juga.

Setelah mengetik pesan cukup lama, dia agak ragu saat menyentuh icon send. Tapi, akhirnya dia tetap mengirim pesan itu dan langsung mengembalikan handphonennya ke meja dan langsung menyelinap kembali ke selimut dan mencoba tidur kembali. Tangan Kris yang kembali melingkar di pinggangnya membantunya untuk cepat tidur.

.

.

Kai bangun dari tidurnya saat alarm handphoennya berbunyi tepat pukul setengah 7 pagi. Dengan malas, dia duduk dan mematikan alrm handphonenya yang yang sedari tadi berbunyi.

Kai mengucek matanya kemudian dia sadar ada sebuah pesan masuk untuknya. Kai membuka pesan itu dan melihat bahwa Suho yang mengiriminya.

Dengan rasa penasaran, Kai membaca setiap kalimat dalam pesan singkat itu.

Untuk Kai

Maaf kalau jawabanku lama, dan aku sempat menghindarimu kemarin. Itu karena aku malu. Aku tidak bisa memberikan kepastian jawaban padamu.

Sebenarnya aku ingin mengatakannya langsung, tapi keberanianku tidak bisa keluar saat aku melihat wajahmu. Jadi, aku membalasnya lewat SMS saja.

Kai, aku terus memikirkannya selama 2 hari ini.

Dan ternyata, aku memang tidak bisa menjadi kekasihmu.

Entah kenapa, aku merasa bersalah dan berbuat jahat jika terus bermanja-manja dan bergantung padamu di sekolah.

Karena itu maaf…

Mungkin kamu menganggapku kurang ajar dan seenaknya sendiri, tapi, aku senang karena Kai menyatakan rasa suka padaku.

Ini pertama kalinya, ada orang yang mau menyatakan perasaan sukanya pada orang bodoh sepertiku. Dan membuatku merasa bahagia karena aku merasa dihargai.

Aku menghargai perasaanmu, dan aku berterima kasih padamu karena telah menyukaiku meskipun aku tidak bisa membalas perasaanmu.

Jadi, kalau bisa, aku ingin melanjutkan hubungan kita sebagai teman.

Kai tersenyum kecil melihat pesan dari Suho. Dia berfikir, tidak apa-apa dia sudah ditolak, yang penting dia masih bisa berhubungan dengan namja manis itu walaupun hanya sebatas teman.

Kai mengusap layar handphonenya dan melihat lanjutan pesan singkat dari Suho.

Matanya sedikit melebar saat dia melihat dua baris terakhir kalimat pesan singkat Suho.

Lagipula, ada satu alasan penting kenapa aku tidak bisa menjadi kekasih kai…

Karena aku sudah punya kekasih.

.

.

.

TBC!

.

.

HUWEE… T.T

Author sedih banget karena Try Out dan ulangan harian serta PR yang menumpuk /tidaaaak/

Maaaaafff banget kalau sudah mulai bosen, enggak nge feel, geje, berbelit-belit dan kesalahan lainnya! /deep bow/

Aku belakangan ini sibuk banget sampai enggak punya waktu luang dan jadinya capek, bingung juga ngurusin masalah sekolah yang enggak kelar-kelar…

Hiks ~ T.T #nangis

Oh yah… Terima kasih bagi yang setia menunggu dan meninggalkan jejak komentarnya . Meskipun aku enggak bisa balas semua, tapi reviews kalian bikin aku semangat dan merasa dihargai #nangislagi

Nah, sekali lagi terima kasih ya… /bow bareng Krisho/

Saranghae :* #bagi-bagi cium

.

.

\(^o^)/ Yeay !

Sung Rae Yoo ^^