Title : Rhythm of Love
Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, Krisho pair
Other Cast : silahkan cari sendiri ._.
Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi
Rating : T
Length : Chaptered
Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).
Author : Sung Rae Yoo
.
HELLOWW ! *kali ini minjem suaranya baekhyun
Aku balik nih, ff ini bentuk pelampiasanku yang stress habis lihat pengumuman try out pertama di sekolah. Bukannya nilainya jelek, tapi enggak bisa dibilang bagus juga -_- jadinya aku langsung bikin ff ini. Maaf kalau ceritanya malah tambah aneh de el el.. heheheee /bow bareng Abang Yifan ama Suho/
Terima kasih bagi yang sudah rela membaca tulisan seorang anak aneh seperti Sung Rae Yoo ini #nyengir lebar. Apalagi yang review, memfollow dan memfavorite ! Aku merasa dihargai banget padahal masih abal-abal…
Oke, ini chapter 8nya! Maaf kalau enggak memuaskan ya…
Enjoy ! #kissbye ;) muah muah :*
.
.
.
[Chapter 8]
.
Suho menggeliatkan badannya lalu dia duduk menyandarkan punggungnya pada tepian ranjang. Sinar matahari menyelinap masuk melalui sela-sela jendela. Suho tersenyum, dia melihat jamnya dan meyadari bahwa ini masih jam enam pagi. Dia meolehmemandang wajah Kris yang masih tertidur di sampingnya dengan rambut dan piamanya yang kusut. Entah karena apa, perasaan sedikit lega karena dia sudah bisa memberikan jawaban atas perasaan Kai padanya tadi sekitar jam 3 pagi meskipun hanya lewat pesan singkat.
"Suho-ya" Kris terbangun dan membuat Suho terlonjak. Jemari lelaki mungil itu kemudian membelai pipi kekasihnya.
"Selamat pagi" ucapnya dengan senyuman manis. Lebih manis dari biasanya.
Kris mengerjap, dia duduk dengan mata sayu setengah terpejam.
"Kau berantakan Kris. Lebih baik segera mandi" jelas Suho sambil menarik selimut dan merapikannya. Dia juga menata bantal dan sprai.
"Mana ada orang yang bangun tidur langsung rapi?" cibir Kris "Dan juga, kamu tidak usah merapikan ranjangku, aku bisa sendiri. Tidak enak merepotkan kekasihku"
Suho berdiri di depan ranjang Kris, dia menggenggam ujung piamanya sendiri. Suho tidak pernah pacaran sebelumnya, jatuh cinta juga baru pertama kali. Jadi, dia sedikit asing dengan yang namanya hubungan seperti ini. Suho tidak tahu bagaimana memperlakukan Kris sekarang.
"Kris, aku tidak tahu, tugasku sebagai kekasihmu. Apa yang harus aku lakukan dan bagiamana sikapku seharusnya padamu. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya" ungkap Suho jujur dengan suara lirih.
Kris mendekati Suho dia tersenyum lalu membelai puncak kepala Suho "Suho, ini bukan tugas. Sama sekali bukan"
Suho merasakan hangat saat tangan Kris menyentuh lengannya "Bersikaplah padaku seperti dirimu saja, seperti Suho yang biasanya, aku suka kau yang seperti itu" lanjut Kris.
Suho tertegun lalu mengangguk.
Kris kini tersenyum menampakkan gigi putihnya "Tapi, ada satu tugas kekasih yang harus kau penuhi untukku"
Suho mengedipkan matanya "Apa?"
Kris memasang muka jahilnya lalu menyentuh bibir Suho dengan jari telunjuknya "Kau harus memberikan morning kiss untukku setiap hari"
Suho mengernyit "Haruskah?"
Kris mengangguk "Dimulai hari ini"
Suho mengernyit lagi "Jadi aku harus menciummu?"
"Menurutmu?"
Suho mendadak salah tingkah. Dasar tiang telepon licik! Pagi-pagi sudah membuatnya blushing seperti ini. Bisakah kau hentikan dulu otak mesummu itu?
Suho akhirnya menyerah dan berjinjit berusaha mencium Kris saat itu. Tapi, apa daya tubuhnya yang pendek berbanding kontras dengan Kris yang notabene seperti Tiang telepon berjalan itu.
"Aku tidak bisa! Kau terlalu tinggi" keluh Suho.
Kris mendudukkan tubuhnya di ranjang lalu tersenyum "Nah, bagaimana sekarang?"
Suho tertegun lalu menelan ludahnya sendiri merasa gugup. Karena ingin cepat mengakhiri permainan Kris yang menurutnya melelahkan ini, dia mengecup kecil bibir Kris dengan cepat.
"Sudah" ucap Suho.
"Hanya itu?" tanya Kris agak kecewa "Aku tidak merasakan apapun!"
Suho memukul kepala Kris "Kemarin kau menciumku sampai aku hampir kehabisan nafas. Kau kira itu tidak melelahkan?"
Kris terkekeh "Ya sudah, lain kali kau harus melakukan lebih untukku"
Suho menyentil kepala Kris "Kau sungguh menyebalkan Tuan Wu" lalu dengan dengusan kecil dia keluar kamar Kris untuk kembali ke kamarnya, mandi dan bersiap berangkat ke sekolah.
.
.
Suho sudah sampai di kelasnya yang masih cukup sepi karena belum banyak yang datang. Dia meletakkan tas coklatnya di kursi lalu memandang jendela. Dia ingat perkataan Kris waktu sarapan tadi, waktu dia bertanya, haruskah dia menyembunyikan hubungan mereka berdua? Tapi Kris malah menjawab tidak perlu. Katanya, biarkan semuanya tahu dengan sendirinya. Suho juga tak pelu takut karena Kris akan ada disampingnya.
"Suho!"
Muka Suho kini berubah gugup dan rasanya kakinya terpaku di tanah.
"Kai? Ah, annyeong" sapanya berusaha senormal mungkin.
Kai tersenyum lalu mengambil duduk di sebelah Suho "Aku sudah membaca sms mu tadi pagi…"
"Maaf" belum habis Kai bicara Suho langsung menyelanya dengan menundukkan kepalanya dalam.
"Tidak apa-apa, aku tahu aku mungkin memaksakan perasaanku padaku, tapi, aku senang karena kau tidak membenciku dan tidak serius menghindariku"
Suho diam mendengar ucapan Kai. Dia merasa bersalah sekarang.
"Jadi, ayo kita lanjutkan hubungan kita sebagai teman"
Suho mendongak menatap mata si pemuda berkulit tan di depannya ini "Terima kasih" ucapnya lirih lalu tersenyum.
Kai balas tersenyum lalu dia tertawa dan mengelus surai hitam Suho "Kalau boleh aku bertanya…"
Senyuman Suho perlahan pudar, digantikan oleh sinar kekhawatiran. Entah khawatir masalah apa. Dia hanya menatap Kai dengan gugup.
"Siapa kekasihmu?" tanya Kai.
Gotcha!
Kena kau Kim Joon Myun!
"Ah, kekasihku?" Suho malah terlihat salah tingkah sekarang.
"Ayolah siapa, aku penasan… apa dia baik?" tanya Kai penasaran. Sepertinya dia suka menebak-nebak seperti ini.
"Tidak juga. Bahkan kau lebih baik padaku. Setidaknya kau tak pernah mengataiku bodoh" jawab Suho.
"Apa dia tampan?" tanya Kai lagi dengan senyum anehnya.
"Tampan? Kurasa iya, tapi dia lebih cocok dibilang mesum" jawab Suho sambil membayangkan wajah mesum Kris.
"Mesum? Apa pacarmu seburuk itu? Eh, tunggu-tunggu, bisakah kau beri dia ciri-cirinya lagi. Aku suka menebak seperti ini!"
"Hm, dia sekolah disini, tinggi, mesum, menyebalkan, otak pervert, possessive, dingin tapi kalau kalau bermanja-manja dia jadi seperti kucing"
Kai melogo "Jelek sekali! Kenapa dia bisa pacaran denganmu? Apa yang membuatnya pacaran denganmu? Apa yang kau suka darinya?" tanya Kai heran. Bisa-bisanya teman mungilnya itu punya pacar dengan sifat aneh seperti itu.
Suho tersenyum kecil "Yang aku sukai darinya itu…"
Kai mengernyit saat Suho mengelus lembut pipi pemuda di depannya ini. Membuat Kai merinding.
"Sentuhannya"
Kai masih merinding saat tangan Suho sudah menyingkir dari pipinya "Siapa dia?" tanya Kai. Rasa penasarannya memuncak.
"Emm… Yifan" jawab Suho pendek.
…
….
"APA?" Kai hampir terjungkal dari kursinya saat Suho menyebutkan nama seorang pemuda dingin berdarah cina anggota klub basket itu.
Suho sudah tahu Kai akan bereaksi seperti ini, jadi dia diam saja.
"Kau pacaran dengan manusia es batu itu? Dan kau bilang apa tadi, mesum, menyebalkan, otak pervert, possessive, dingin tapi kalau kalau bermanja-manja dia seperti kucing? Kau serius pacaran dengan Wu Yifan yang itu?" tanya kai.
Suho mengangguk kecil.
"Bagaimana bisa seorang yang seperti malaikat sepertimu bisa pacaran dengan ring basket berjalan seperti dia? Bahkan dia dikenal dingin dengan semuanya"
"Entahlah, ceritanya panjang Kai. Aku tidak akan kuat kalau menceritakan semuanya"
Kai mendecak sebal "Serius? Kris? Wu Yifan itu? Aku masih tidak percaya, Junma"
Suho tertawa lagi dan kini lebih keras "Aku akan menceritakan padamu kapan-kapan, jangan penasaran ya… ceritaku tidak seseru yang kau kira"
Kai menyentil bahu Suho "Aish! Menyebalkan!"
Kemudian, Kai seakan teringat sesuatu lalu mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya "Oh ya, tadi pagi Kyungsoo sunbaenim menyuruhku untuk memberikan ini padamu!"
Suho mengambil kertas berupa poster yang diberkan kai. Kyungsoo, seniornya di klub musik sekaligus tutornya bermain piano itu memang Suho mengumpulkan poster yang berhubungan dengan musik sesekali dia menempelkannya di mading sekolah atau di depan ruang musik.
"Dia menyuruhmu agar ikut kompetisi itu. Katanya, nanti kau disuruh menemuinya di ruang musik. Sepertinya dia menyadari bakatmu yang luar biasa itu"
Suho tersenyum "Terima kasih Kai, aku akan menemuinya nanti. Ngomong-ngomong, kenapa Kyungsoo sunbaenim yang memberikannya padamu? Bukan padaku langsung?"
Kai angkat bahu "Sepertinya dia buru-buru. Aku lihat tadi dia berlari menuju ruangan Choi seongsaengnim"
Suho mengangguk-angguk paham "Yasudah, terima kasih ya"
Kai mengangguk dan kini mereka berdua sudah tenggelam dengan obrolan.
.
.
"Kyungsoo sunbae?" Suho mengintip ke dalam ruang musik dan dia melihat seorang namja dengan tinggi seukurannya bermata bulat tengah duduk membenahi partitur lagu.
"Ah yaya, masuk saja, Suho!"
Suho masuk dan duduk di depan kakak kelasnya itu. Dia tahu dari Kris, bahwa Kyungsoo juga satu kelas dengan kekasihnya tersebut.
"Ada apa sunbae?"
"Ah, jangan panggil sunbae deh, panggil hyung saja. Aku kurang nyaman dipanggil sunbae" tolak Kyungsoo sambil tersenyum kecil.
"Ah, hyung ada apa?" tanya Suho.
"Aku ingin kau mengikuti kompetisi main piano, kudengar hadiahnya lumayan besar. Siapa tahu kau bisa menang. Lagipula, aku tahu kau punya bakat" jelas kyungsoo "Tahun lalu aku yang ikut, dan tahun ini aku ingin kau saja yang ikut lomba itu"
Suho berbinar "Tentu saja aku akan ikut. Aku bisa! Terima kasih hyung telah memilihku"
Kyungsoo tersenyum "Oke. Kau bisa berlatih denganku, setiap Selasa, Rabu dan Kamis disini. Dirumah kau juga harus berlatih ya, aku akan menentukan musiknya dan akan menyerahkannya besok"
Suho mengangguk-angguk semangat "Tentu, terima kasih hyung! Aku senang sekali!"
"Oke, kau bisa kembali ke kelasmu sekarang!" ucap Kyungsoo.
Suho berdiri lalu membungkukkan badannya, dan berjalan keluar.
.
.
Sepanjang hari ini, Suho masih tersenyum-senyum sendiri. Dia senang, melebihi senangnya menjadi kekasih Kris #bang Suho jahat bener -_-
Dia sekarang sedang ada di tribun penonton, dan menonton Kris yang sedang latihan basket bermandikan keringat.
Suho menatap langit dan melihat langit sedikit mendung. Lapangan basket outdoor itu terlihat sepi karena memang sudah sore. Entah kenapa, Suho menunggu Kris sekarang. Mungkin Suho pikir, sebagai kekasih yang baik, dia harus menunggu.
Setelah 15 menit kemudian, Kris selesai basket dan menghampiri Suho "Kau menungguku lama? Maaf ya"
Suho menggeleng "Tidak. Aku suka melihatmu latihan basket"
Kris tersenyum lalu mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ada di dalam lokernya.
"Kris, aku dipilih Kyungsoo hyung ikut kompetisi main piano, jadi aku akan pulang agak sore saat Selasa, Rabu dan Kamis"
Kris tersenyum lalu membelai rambut Suho "Baiklah, semangat ya!"
Suho mengangguk lalu memeluk Kris dari belakang, Suho tidak tahu kenapa, saat ini dia sangat ingin memeluk Kris dan menumpahkan kebahagiaannya pada kekasihnya ini.
"Kau senang?"
Suho mengangguk "Sangat"
"Aku lebih senang kalau kau bahagia karenaku bukan karena piano" jelas Kris sambil mengambil kemeja di dalam tasnya.
"Aish! Kau cemburu padaku? Kau cemburu karena piano? Kau kira kekasihmu ini bakal pacaran dengan piano huh?" tanya Suho menggoda Kris.
"Iya. Aku cemburu" jawab Kris.
"Ah, kau ini, untuk apa cemburu? Aku tidak akan pacaran dengan piano! Jangan seperti anak kecil dong!" Suho mencolek-colek pipi Kris dan mengeluarkan gaya imutnya agar Kris tidak marah.
"Kalau begitu, kau harus menuruti apa kataku" pinta Kris.
"Ya! Memangnya aku budakmu? Kriss… sudah ah, ayo pulang saja!" rengek Suho.
Kris menutup resleting tasnya dan masih belum ada niat untuk menuju ke ruang ganti.
"Kau lebih memilihku atau Kyungsoo?" tanya Kris membuat Suho heran.
"Tentu saja kau! Kenapa sih? Pertanyaanmu aneh!"
"Aku atau Kai?"
Suho mengernyit lalu menuding dada Kris "Kau"
"Aku atau piano?" tanya Kris lagi.
Suho berfikir panjang "Aku tidak bisa menentukannya"
Kris mempoutkan bibirnya "Jahat kau!"
Suho tertawa "Kau!" ucapnya lalu tersenyum kecil "Tapi piano juga penting! Kalau boleh dikatakan, kalian setara"
Suho kini merintih pelan saat Kris menyentil dahinya.
"Huh! Jahat ya! Awas, aku akan menyiksamu nanti malam!" dengus Kris.
Tangan mungil Suho menggandeng Kris lalu mengantarnya ke depan ruang ganti "Sana ganti baju dulu! Teman-teman klub basketmu bahkan sudah pulang semua. Kita terlalu lama bicara tadi!"
Kris diam "Aku akan membuatmu menyesal menyetarakanku dengan piano kim joon myun!"
Mata Suho terbelak saat Kris menariknya masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya.
"YA! Kris !" Suho berteriak tapi buru-buru Kris membekap mulut kecil namun berisik milik Suho.
"Diam ah, aku tidak akan melakukan apapun padamu kok. Tenang saja!"
Suho meraskan tubuhnya memanas dan mukanya merah, sentuhan Kris memang bisa membuatnya seperti habis dipanggang.
"Sana ganti baju, cepat!" ucap Suho.
Kris membuka bajunya dan menggantinya dengan kemeja putih. Suho hanya melihatnya dan sekarang dia bergerak maju mengancingkan kemeja besar itu sampai bawah. Membuat Kris hanya tersenyum kecil.
Suho mengancingkan kancing terakhir lalu menatap Kris lama. Dia sadar, wajah Kris sangat tampan bila dilihat dari dekat.
"Kau berniat menggodaku?" tanya Kris pelan.
Suho menggeleng "Tidak juga, lagipula kau pasti menggodaku duluan"
Kris terkekeh lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir mungil Suho dengan lembut sehingga kekasihnya kini menutup matanya. Berusaha sekuat tenaga agar menikmati ciuman ini.
Kris melepas ciumannya dan tertawa dalam hati melihat Suho di depannya kini berwajah merah membara. Suho lalu memeluk Kris sebagai bentuk pengalihan rasa malunya.
"Cih, kalau kau mencintaiku bilang saja, jangan setarakan aku dengan piano!" ucap Kris saat dirasa Suho melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya.
"Aku memang mencintaimu!"
"Bilang saja kau juga suka kucium!" pancing Kris.
"Aku memang suka. Aku suka sentuhanmu!" balas Suho jujur.
Kris melepaskan pelukannya "Aku ganti dulu. Kita lanjutkan saja dirumah nanti"
"Apa yang dilanjutkan?" tanya Suho tidak paham.
Ujung jari Kris membelai bibir Suho "Tentu saja ini"
Suho mendengus dan mencubit pipi kris "Aku bakal menyalahkanmu kalau bibirku sampai berdarah. Dan juga aku akan memplester mulutmu selama sebulan"
.
.
Sekitar 2 minggu kemudian.
Kris sedang menonton tv di lantai satu dengan sekaleng keripik kentang di tangannya sebagai camilan, sementara Suho ada di lantai dua tengah bermain piano seperti biasa. Kris tidak mau menganggu, jadi dia hanya menonton tv, jika jeda iklan tiba, dia akan mengerjakan latihan soal fisika miliknya, bukan ingin sok rajin atau apapun, tapi dia memang punya banyak tugas sekolah yang menumpuk. Kris menguap lebar lalu dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kris kini menyadari juga kalau di luar hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar-nyambar dan angin bertiup sangat kencang. Pemuda pirang itu lalu meletakkan buku soalnya dan melangkah untuk mengunci pintu rumah dan jendela. Kris tidak ingin lantai rumahnya basah. Dia lalu mengambil laptopnya dan meletakkannya di meja tepat disebelah kaleng keripik.
Kris menganakan jaketnya, setelah itu dia mengambil syal dan berjalan menaiki tangga menyusul Suho. Dia bisa melihat lelaki putih itu sedang memainkan piano.
"Disini dingin… apa aku perlu membuatkanmu teh?" tanya Kris. Dia mendekati Suho dan memasangkan syal belang-belang itu ke leher Suho dan memeluk kekasihnya yang tengah duduk itu dari belakang.
"Tidak usah Kris, aku akan selesai sebentar lagi. Kamu bisa turun duluan kalau lelah menungguku" jelas Suho sambil tersenyum kecil.
"Jangan lama-lama, sepertinya cuaca sedang buruk diluar, angin sangat kencang dan hujan turun dengan deras"
Suho mengajak Kris duduk di sampingnya. Di kursi piano yang cukup panjang itu lalu dia bertanya pada Kris "Badai?"
Kris mengangguk.
"Aku tidak apa-apa. Akan turun sebentar lagi kok… jangan khawatir"
Kris berdiri lalu mengecup dahi kekasihnya dan berlalu pergi turun ke lantai satu untuk melanjutkan nonton tvnya.
.
.
Kris sedang membuat secangkir coklat panas ketika Suho turun dan menyusulnya ke dapur. Dia sepertinya kedinginan, dilihat dari pipinya yang putih menjadi memerah.
"Mau?" tawar Kris.
Suho mengangguk kecil lalu berdiri di samping Kris dan setelah kekasihnya selesai membuatkannya secangkir coklat panas, dia melingkarkan lengannya manja pada lengan Kris yang besar dan keras. Suho ingin sekali bermanja-manja pada kekasihnya ini. Tidak apa-apa kan? Lagipula sepertinya menyenangkan.
Kris terkekeh. Tidak mengerti bagaimana bisa Suho menjadi seperti ini, dituntunnya Suho menuju sofa di ruang tengah sambil membawa dua cangkir coklat panas. Setelah duduk dan meletakkan cangkir cangkir itu di meja Kris bersandar pada sandaran sofa.
"Kenapa? Mencoba menggodaku hah?" pancing Kris.
Suho mengangguk "Iya. Aku menggodamu, kenapa? Aku kesal karena kau selalu yang menggodaku duluan. Menciumku duluan dan semuanya selalu kau yang duluan"
Kris mengerucutkan bibirnya "Aku juga kesal. Karena kau mengabaikanku hanya gara-gara kompetisi piano itu. Kau tahu, aku seperti digantikan posisi dengan sebuah benda mati"
Suho mencolek pinggang Kris "Ish! Setidaknya aku masih tidur denganmu, memangnya aku tidur dengan piano? Lalu, siapa juga yang aku berikan morning kiss setiap hari? Piano? Siapa juga yang memelukku waktu tidur? Piano juga? Semua itu kau Kris! Hanya seorang Wi Yi Fan!" jelas Suho panjang.
"Aku? benarkah?"
Suho memeluk Kris lebih erat "Jangan merajuk deh, kalau kau cemburu aku jadi bingung sendiri tahu! Mukamu jelek!"
"Kalau piano benda hidup pasti kau sudah menjadikannya kekasihmu! Lagipula, kau terlihat lebih bahagia dengan benda berkaki tiga itu" rengek Kris sambil memutar bola matanya.
Lelaki bertubuh kecil yang berhenti melingkarkan lengannya pada lengan Kris kini mendengus kesal karena sifat keras kepala kekasihnya sendiri. Suho mendorong Kris dan menindihnya di atas sofa.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kris "Berusaha menjadi bad boy huh?"
Suho menggeleng "Menghukummu!"
"Apa? Seharusnya kau yang aku hukum karena telah mengabaikanku" balas Kris "Seenaknya saja"
Suho merundukkan badannya lalu mencium bibir Kris pelan namun lama, membiarkan tubuhnya ada di atas tubuh tegap Kris. Dia kesal, kesal sekali, karena itu, dia menumpahkan semua perasaannya pada ciuman sekarang. Dan Suho rasa Kris tidak akan keberatan, malah si pria mesum ini bakal senang kalau Suho mencium bibirnya kasar. Melumatnya dengan cepat dan tidak sabaran. Suho menghentikan ciumannya secara tiba-tiba saat kilat dan berikutnya terdengar petir menyambar keras.
"Hyaaa!"
Suho sontak memutus ciumannya dan berteriak seraya menyembunyikan wajahnya pada dada Kris. Dia memang takut petir, takut gelap dan takut sendirian. Dia tidak suka kilat apalagi bunyi petir selalu mengagetkannya.
Kris duduk dan merengkuh Suho dalam pelukannya "Kau tidak mau melanjutkan ciumanmu?"
Suho mencengkram jaket Kris "Aku takut!"
"Petir?"
Dengan anggukan imut Suho menjawabnya "Aku takut!" ulangnya.
Kris menepuk punggung kekasihnya yang cengeng ini. Mengusapnya dan menghirup wangi Suho yang manis di lehernya "Aku mau ganti baju dulu. Sebaiknya kau juga ganti piama" jelas Kris.
Keduanya lalu berdiri dan berjalan ke arah yang berlawanan. Suho menuju kamarnya dan Kris melangkah ke kamarnya sendiri belum beberapa langkah, tiba-tipa listrik padam dan membuat Suho menjerit lebih keras dari sebelumnya. Saat dia mendengar petir menyambar keras.
"HUWAAAA!"
Kris berbalik dan tidak bisa melihat apapun "Suho ya?"
Suho diam di tempat, dia takut untuk bergerak "Kriss… kau dimana? Aku takut! Sungguh!"
"Tunggu, aku akan mengambil hanphoneku! Jangan bergerak"
Suho diam dan perlahan mulai terisak karena Kris tak kunjung menyentuhnya. Tak bisa memeberikan kepastian padanya, dia takut kalau Kris membiarkannya saja.
"Kriss… aku takut, cepat dong!"
Perlahan Suho merasa sepasang tangan melingkar di pinggangnya dan memeluknya perlahan dengan erat "Ini aku!"
Isakan Suho mereda tapi masih terdengar "Kriss"
Kris membawa Suho duduk di sofa lagi dengan penerangan handphonenya "Jangan menangis. Mungkin ini tidak akan lama"
"Takuutt… aku takut gelap"
Suho tidak berbohong atau berpura-bura perihal dia takut gelap. Buktinya badannya gemetar hebat dan masih terisak meskipun Kris ada di sampingnya.
"Sstt… aku ada disini!" Kris tersenyum kecil.
"Jangan kemana-mana, tidur denganku ya, aku takut sendirian" rengek Suho "Jeball"
Kris terkikik "Kau takut semuanya ya? Sekarang apa yang akan kita lakukan? kita tidak mungkin nonton tv karena listriknya mati"
Suho mengeratkan lengannya di lengan Kris "Apapun asal kau ada bersamaku. Aku takut ditinggal sendirian saat gelap"
"Bagaimana kalau nonton film horror? Feelnya pasti dapat kalau nonton waktu gelap (ini mah kebiasaanku -_-v)" usul Kris "Baterai laptopku masih banyak"
Suho memukul kepala Kris "Jangan bodoh! Aku tambah tidak bisa tidur!"
"Aduh! Kalau begitu, diam seperti ini saja juga tidak apa-apa"
Suho menyandarkan kepalanya di bahu Kris sementara Kris memeluk pinggangnya erat "Aku mengantuk"
Kris menepuk kepala Suho lembut "Tidurlah"
"Ini di sofa" balas Suho.
"Aku akan menggendongmu ke kamarmu kalau kau tertidur nanti" jawab Suho "Tidak masalah. Aku tidak mau membuatmu tersiksa karena kau takut gelap"
Suho menyentuh pipi Kris "Kau tidak mau memberikan ciuman untukku sebelum aku tidur?" tanya Suho manja "Gantian. Aku sudah menciummu tadi!"
Chu
Kris mencium bibir Suho dan melumatnya pelan membuat Suho nyaman, dia melepaskan ciuman itu saat dirasa Suho sudah mulai lelah dan dia memejamkan matanya dan tertidur. Kris mengelus-elus pipi Suho yang halus "Selamat tidur" sebelum akhirnya dia tertidur juga.
.
.
.
Kris berdiri, Suho membelakanginya dan si tiang listrik itu sekarang mulai kesal. Dia sudah mengajak Suho keluar sejak 1 jam yang lalu tapi kekasihnya tidak menghiraukannya.
"Ya! Tak bisakah kau kencan denganku? Aku ingin kencan denganmu!" pinta Kris pada Suho yang sedang mondar-mandir di depan piano sambil membawa partirur musik klasik yang akan dia mainkan di lomba besok.
"YA! Lombanya besok! Aku harus siap! Aku gugup tahu… kalau aku tampil memalukan bagaimana?" dengus Suho kesal "Aku janji akan menuruti katamu saat sudah selesai lomba"
Kris merengut, dirinya benar-benar jadi nomor dua sekarang, kalah dengan sebuah benda mati panjang bernama piano.
"Aku akan main dulu, jadi jangan ganggu aku latihan! Sana! Turun!" Suho mendorong Kris dan Kris terpaksa berjalan menuruni tangga.
"Tsk" Kris berdecak dan turun dengan setengah hati. Kris dengan kesal masuk ke kamarnya lalu tidur, untuk memendam rasa jengkelnya.
.
.
Esoknya …
(ini aku skip sampai udah selesai lomba ^^)
Suho menggigit jarinya, dan Kyungsoo ada di sampingnya, menepuk-nepuk pundaknya lembut dan membisikkkan kata 'fighting' berulang-ulang. Suho baru saja selesai main saat itu dan sekarang adalah pengumumannya, pengumuman itu membuat Suho keluar keringat dingin. Kalau saja Kris yang ada di sampingnya, pasti Suho sudah mengeratkan pegangan tangannya di lengan kekasihnya ini. Sayangnya, di sebelahnya sekarang Kyungsoo, dan dia tidak mungkin memegang tangan orang seenaknya, apalagi tangan Kyungsoo begitu kecil.
Tapi, semua kegelisahan itu Suho akhiri dengan senyuman lebar karena namanya dipanggil sebagai juara pertama. Juara pertama? Ah, Suho bisa gila karena ini. Jangankan jadi juara, ikut lomba ini saja sudah membuatnya senang.
"Suho-ya, selamat…" Kyungsoo memeluk tubuh Suho dengan tubuh mungilnya.
"Terima kasih hyung!"
"Oh ya, tadi direktur Park In Soo mau bertemu denganmu, sepertinya dia akan segera kesini" jelas Kyungsoo.
"Oh, pianis itu, yang jadi juri tadi kan?" tanya Suho sambil mengingat wajah pria berusia 30 tahunan itu.
Kyungsoo mengangguk kecil "Sepertinya dia terkesan dengan permainanmu"
Suho tersenyum makin lebar dan wajahnya memerah "Ah, hyung… jangan begitu"
Perhatian Kyungsoo dan Suho kini teralihkan karena seorang pria dengan jas abu-abu gelap berjalan mendekati keduanya, dan Kyungsoo pun berbisik "Dia yang mau bicara denganmu. Yang sopan ya"
Suho mengangguk kecil.
"Annyeong" sapa pria bernama in soo itu.
"Ah, ne, annyeong"
In soo menjabat tangan Suho dan Kyungsoo bergantian "Kau, yang tadi menang lomba kan? Selamat ya, permainanmu bagus"
"Terima kasih"
In soo kemudian melirik Kyungsoo "Hai, Kyungsoo, lama tidak bertemu. Apa dia adik kelasmu?" tanyanya.
Kyungsoo mengangguk "Ne, bagaimana? Permainannya jauh lebih bagus dariku kan?"
In soo tertawa "Dia mirip denganmu"
Suho hanya bengong kemudian berbisik "Kau kenal dia hyung?"
Kyungsoo mengangguk lagi "Aku pernah jadi muridnya dulu"
"Ooh" Suho mengerucutkan mulutnya.
"Ah, ya Kim Joon Myun, aku punya tawaran untukmu" ucap in soo sambil mengeluarkan kertas beramplop coklat dan menyerahkan pada Suho.
"Tawaran?" Suho menerima kertas itu dengan bingung.
"Aku suka dengan permainanmu, kalau kau mau, aku bisa mengajarimu bermain piano secara lebih mendalam di Paris, Prancis… selama 6 bulan kau akan sekolah dan bekajar piano bersamaku dan anak-anak terpilih lainnya"
Suho membulatkan matanya "Paris?" sontak bayangan otaknya langsung memutar sebuah menara megah bernama Eiffel di kota Mode itu.
Kyungsoo tersenyum "Tahun lalu aku menang lomba dan juga ikut. Jadi apa salahnya kau ikut juga? Direktur In Soo sangat baik, jangan khawatir"
"Tapi, kenapa Paris? Kenapa tidak di korea saja?" tanya Suho.
"Kenapa? Apa orang tuamu tidak mengijinkanmu?" tanya in soo "Kau akan baik-baik saja disana, hanya belajar dan selama 6 bulan"
Suho menggeleng "Kalau orang tua pasti akan mengijinkanku apalagi ini gratis dan aku merasa terhormat bisa ikut pelatihan ini. Tapi…."
"Kenapa?"
"Ada seorang yang tidak bisa aku tinggalkan sendirian disini" ucap Suho lirih "Aku tidak bisa hidup tanpanya"
"Bicarakan saja dengannya, akan aku beri waktu 3 hari untuk berfikir. Kalau setuju, tanda tangani surat itu dan berikan padaku di kantorku, ini kartu namaku"
Suho mengangguk mengambil kartu nama yang disodorkan padanya.
"Oke, aku tunggu jawabanmu!"
Setelah lelaki tegap itu pergi, Suho kini gelisah antara mengambil kesempatan ini atau tidak.
"Suhoo" panggil Kyungsoo pelan "Kau ikut?"
Suho diam "Hyung… aku tidak tahu"
"Pikirkan dulu. Kesempatan ini tidak akan ada dua kali" ucap Kyungsoo seraya menepuk punggung adik kelasnya itu.
Suho menelan ludanya "Hyung, aku harus pulang"
Kyungsoo tersenyum "Rundingkan itu. Aku akan mengantarmu sampai halte"
Lelaki mungil berambut hitam kemerahan ini mengangguk kecil sambil memegangi amplop coklat itu. Rasanya aneh, saat kau dihadapkan oleh dua pilihan, pergi atau tidak pergi.
Suho melamun saat ada di dalam bis.
Pergi?
Tidak pergi?
Dia mengacak rambutnya "Siapa yang harus aku pilih?" erangnya tertahan.
Mata beningnya memandang jendela yang berembun. Pikirannya melayang pada Paris dan menara Eiffel yang selama ini hanya dia lihat di televisi dan gambar saja, pikirannya menelusup ke rumah klasik di Paris dan segala macam rupa-rupa Prancis lainnya, namun, ujung pikiran Suho bukan Paris, yang dia pikirkan terakhir kali sebelum dia tersadar dari lamunan panjangnya hanya satu.
Kris.
Dan saat itu, Suho ingin sekali segera pulang ke rumah dan menemui kekasihnya, memeluknya lembut dan menghirup wangi aroma lavender yang selalu keluar saat hidungnya membau kekasihnya itu.
Perlahan, kepala Suho berputar lagi. Dia bingung akan keputusannya.
Pergi atau tidaknya dia…
Dan itu semua akan dia tentukan dengan batas waktu tiga hari.
Suho mendesah pelan bimbangm, matanya terus memandang jendela dan matanya menyiratkan keraguan dan kegelisahan.
Pergi?
Atau tinggal?
.
.
.
TBC .
.
.
Huweh, maaf ya, maunya sih update cepet…
Tapi aku sibuk latihan dance jadi susah curi-curi waktu. Lagipula, jadwal padat dan pr menumpuk. Huufftt… maaf ya chingu kalau jadinya malah tidak memuaskan.. hiks hiks T.T /nangis di pojokan kamar/
Mianhe …. T.T /deep bow/
Terima kasih bagi yang sudah membaca ya... /tebar-tebar kacang (?)/
THANKS !
.
Saranghae .
.
Sung Rae Yoo ^^
