Title : Rhythm of Love

Cast : Wu Yifan, Kim Joon Myeon, KrisHo pair

Other Cast : silahkan cari sendiri ._.

Genre : Romace, Drama, friendship, yaoi

Rating : T

Length : Chaptered

Warning ! : typo bertebaran, amateur writer, alur yang mungkin gak jelas dan segala kesalahan yang ada, disini saya selaku author minta maaf sebesar-besarnya (membungkuk 90 derajat).

Author : Sung Rae Yoo

.

Ayeyeye .

Sebelumnya maaf ya, karena di chapter 8 kemarin banyak typonya T.T soalnya aku lagi males ngedit dan berupa rupa alasan sepele lainnya -.- .. Hehehe… aku usahakan deh, yang chapter ini moga2 gk ada typo :D kalaupun ada ya maaf (lagi) soalnya saya manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari typo.

BIG Thanks bagi yang terus mensupport aku dengan memberi jejak review #winkwink ;D

Aku harap kalian semua tidak kecewa dengan chapter ini \(^.^)/

Enjoy /deep bow/

.

.

.

[Chapter 9]

.

.

Dengan langkah berat, Suho memutar gagang pintu dan masuk ke dalam rumah. Dahinya mengerut begitu dia menyadari tidak ada yang membalas salamnya saat dia ucapkan tadi. Suho juga heran mengapa rumah begitu sepi. Apa Kris keluar?

Suho mendesah lelah, dia menghampiri sofa dan berniat melempar tas abu-abu miliknya ke atas benda empuk itu. Tapi, dia urungkan niatnya saat mata mungilnya melihat sebuah tangan menjuntai di sofa itu. Suho mendekat dan mendapati Kris tertidur diatasnya, dengan tangan dan kaki setengah menjuntai kepalanya ditumpu sebuah bantal (yang Suho duga berasal dari kamar Kris) tanpa selimut sama sekali.

Si kecil itu tersenyum lalu meletakkan piala dan piagamnya di atas meja di samping sofa, setelah itu dia membuka pintu kamarnya sendiri dan meletakkan tasnya di kasurnya lalu dia berganti baju, setelah selesai, tangannya beralih mengambil sebuah bantal dan 2 buah selimut. Dia kembali ke ruang tengah lalu meletakkan bantal di salah satu sofa dan 1 selimut dia gunakan untuk menyelimuti tubuh besar Kris yang tergeletak di sofa. Tangan halus dan kecil itu membelai wajah Kris dengan lembut sehingga Kris tidak terbangun. Dikecupnya dahi Kris kemudian, dia menyusul tidur di salah satu sofa putih yang ada di dekat tempat Kris tidur. Dia menyelimuti dirinya sendiri lalu memejamkan mata. Berusaha tenang dan tidur secepat mungkin.

.

.

Kris menggeliatkan tubuhnya seperti cacing. Dia tersadar, dan merintih karena punggungnya merasa tidak nyaman. Tidur di sofa memang tidak terlalu menyenangkan. Kris melirik sesuatu yang dipakainya.

Selimut.

Perasaan dia tadi tidur tidak pakai selimut?

Bola mata Kris menangkap sesosok mungil yang tertidur di salah satu sofa putih dengan bergelung sebuah selimut berwarna biru muda. Rambutnya hitam kemerahan dan selimutnya menutupi seluruh tubunya kecuali kepala. Kris tersenyum kecil, dia juga melihat sebuah piala dan piagam di meja depannya. Semua itu menjadi jelas, dan Kris dapat menyimpulkan, Suho habis menang lomba piano itu kelelahan dan akhirnya tidur di sofa, Kris juga yakin, yang memberinya selimut juga Suho.

"Gomawo." Kris melipat selimut lalu mencium pipi Suho membuat Suho melenguh dalam tidurnya. Tapi dia tidak sampai terbangun.

Kris merapihkan ruangan tengah itu. Lalu dia berjalan ke dapur dan berniat memasak sesuatu. Dia melihat ke luar dan mendapati mendung dan matahari tidak nampak padahal jam baru menunjukkan pukul 3 sore. Kris membuka kabin lemari dan melihat tumpukan ramyun instan disana. Dia tersenyum lalu mengambil 2 bungkus sekaligus. Si tiang itu belum makan apa-apa dari tadi. Padahal saat Suho lomba tadi, dia sudah belanja ke supermarket tapi dia tidak menemukan banyak makanan yang menyenangkan (?) untuk dimakan. Lagipula dia lelah setelah lebih dari 1 jam berkeliling supermarket itu. Jadinya, pulang darisana Kris langsung terkapar (?) di sofa.

Tiba-tiba, Kris merasakan sepasang lengan kecil melingkari pinggangnya erat. Membuat kemeja putihnya kusut dan dia hampir menjatuhkan sumpitnya. Kris tahu itu Suho dan dia langsung mengusap lengan putih yang kecil itu.

"Chunkkae" ucap Kris.

Suho mengangguk sambil memendam kepalanya di punggung Kris. Menghirup wangi lavender yang selalu membuatnya merindukan Kris "Terima kasih."

"Kau tidak mau melepaskan ini?" tanya Kris. Dia jadi sulit bergerak jika ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

Suho menggeleng "Tidak mau," tolaknya "Aku mau seperti ini dulu."

Kris tertawa "Baiklah, jangan salahkan aku kalau apa yang aku masak sekarang gosong ya!"

Suho merengut lalu melepaskan pelukannya dan berdiri tepat di belakang Kris. Kris mengaduk ramyunnya lalu mematikan kompor. Dia berbalik dan bersandar pada cabinet dapur dan menatap Suho yang rambutnya berantakan.

"Aku lelah Kris…" rengek Suho manja.

Kris menarik lengan kecil itu lalu perlahan dia mencium bibir Suho sebentar.

Suho mengerjapkan matanya dan mengusap bibirnya sendiri, hendak protes "Aku lelah kenapa malah dicium?"

Kris terkekeh "Itu hadiah karena kau menang lomba, selamat ya."

Tangan Suho kini memukul lengan kekasihnya pelan "Selalu saja seenaknya."

"Bilang saja kau suka."

Muka Suho bersemu merah, menjalar hingga telinga.

"Kriss…." Suara Suho kini memanggil Kris dengan manja.

"Hum?"

Suho mendekati Kris. Dia berfikir, haruskah dia memberi tahu Kris masalahnya soal pergi ke Paris? Tapi saat itu juga otaknya melarangnya untuk menceritkan itu. Akhir-akhir ini Suho terlalu banyak berlatih untuk lomba, dia merindukan Kris. Suho ingin, dia bisa bermanja-manja seperti biasa pada kekasihnya.

"Tidak, aku hanya …" Suho menggantung ucapannya. Lalu mencengkram kemeja bagian depan Kris dengan tangannya "Merindukanmu"

Alis Kris terangkat "Memang aku pergi kemana sampai kau merindukanku? Aku tidak kemana-mana beberapa hari terakhir ini"

Suho menggeleng "Bukan kau yang pergi, tapi aku. Aku terlalu banyak berlatih hingga membuatku rindu padamu"

Sebuah tawa kecil kini muncul dari bibir Kris "Sini!"

Tangan lebar Kris kini merengkuh tubuh mungil kekasihnya. Melingkarkan tangannya di pinggang Suho sementara Suho juga melakukan hal yang sama. Matanya terpejam meresapi sentuhan hangat Kris yang entah kenapa semakin hari semakin enak rasanya.

"Sudah ya, aku mau makan ramyun dulu. Kau mau tidak?" tanya Kris sambil melepas pelukannya.

Suho menggeleng "Aku sudah di traktir makan oleh Kyungsoo hyung tadi. Kau makan saja, aku akan menemanimu."

Kris mengangguk dan membawa sepanci kecil ramyun ke meja makan. Dia makan sendirian sementara Suho berjalan menuju kulkas, dan membuka isinya.

"YA! YIFAN!"

Si jangkung itu hampir saja tersedak saat Suho berteriak nyaring mengacaukan acara makannya. Cepat-cepat dia menyambar air putih di meja dan menelan apa yang ada di mulutnya dengan susuah payah.

"Apa?" tanya Kris.

"Apa yang kau beli di supermarket tadi? kenapa kulkas isinya pocky semua?" tanya Suho kesal. Ada lebih dari 20 kotak pocky (ini mah camilan kesukaan author -_-) berbagai rasa ada di dalam kulkas.

"Ah, itu…" Kris menghentikan makannya "Ada diskon tadi, jadi aku beli saja. Lagipula di rumah tidak ada camilan yang enak"

Suho berdecak "Kau habiskan uangmu untuk beli camilan batang ini? Lebih baik kau beli buah-buahan saja!"

"Aku sudah beli strawberry dan apel. Kalau kau masih kurang, beli saja sendiri. Lagipula pocky lebih murah daripada buah," Kris berucap sambil mengaduk ramyunnya.

Suho mengambil sekotak pocky rasa coklat lalu duduk di bangku tepat di sebelah Kris yang sedang makan. Dibukanya bungkus pocky itu lalu dia memakannya, menimbulkan bunyi sedikit berisik (kalau makan pocky kan kalau digigit ada suara tak-tak gitu kan, :D) Kris menoleh ke arah Suho yang makan pocky lalu mengacak rambut kekasihnya sehingga menjadi lebih berantakan.

"Kau bilang begitu tapi tetap kau makan! Cih!"

Suho cemberut "Diam ah! Habiskan saja ramyun milikmu itu"

"Sudah habis dari tadi" Kris menunjukkan pancinya yang kini hanya tersisa sedikit kuah merah. Dia mengambil minum lalu meletakkan pancinya di washtafel dan mencucinya. Setelah itu dia kembali ke kursi di samping Suho.

"Kau juga suka makan itu kan? Jangan menyalahkanku kalau aku beli banyak" jelas Kris.

Tangan Suho kini memukul kepala kekasihnya pelan "Aku sedang tidak ingin bertengkar!"

"Kau yang membuat gara-gara denganku! Jangan memukulku eoh!"

Suho mencibir "Aku kan sudah bilang, aku lelah…"

Suho melempar bungkus pocky yang sudah kosong ke tempat sampah lalu memandang Kris "Krisss"

"Hm?"

"Jangan jawab begitu saja… kau marah padaku?" rengek Suho.

Kris menggeleng "Tidak kok"

Suho meloncat ke pangkuan Kris dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kris yang tegap, dia melepas lelahnya dan memejamkan matanya "Kriss…"

"Apa yang kau ingin kan? Tidak biasanya manja seperti ini" tanya Kris sambil mengusap pinggang ramping Suho.

"Aku hanya… ingin bersamamu sekarang!" Suho mengusapkan tangan lembutnya ke pipi Kris perlahan. Memunculkan getaran aneh pada tubuh si tiang.

"Kau sudah bersamaku sejak beberapa jam yang lalu," ucapan Kris membuat Suho mendengus.

"YA! Berhentilah bicara, kau tidak membuatku lebih baik." Suho mencibir.

Kris tertawa renyah "Kau mau bermanja-manja denganku? Apa ini? Ya! Apa kau seorang Kim Joon Myun sekarang?" menggoda Suho, Kris malah bicara meremehkan.

"Memangnya bagaimana dengan kau sendiri? Apa kau sekarang benar-benar seorang Kris Wu? Mana Kris yang biasanya? Kris yang suka menggodaku dengan seringaian menyebalkan!" balas Suho kesal.

"Kau benar-benar merindukannya ya?"

"Terserah apa katamu, seribu kali kau bertanya aku akan tetap menjawab iya. Aku merindukannya! Kenapa?" tanya Suho, dia turun dari pangkuan Kris dan berjalan keluar dari dapur menuju sofa ruang tengah.

"Ya! Aku masih ingin bicara denganmu!" teriak Kris.

"Bicara seperti apapun denganmu sekarang membuatku pusing. Kau tahu, aku lelah dan sekarang sangat dingin… biarkan aku tidur lagi!"

Sejenak kemudian, Suho meraskan tubuhnya menjadi ringan dan kakinya tidak menapak di tanah. Membuatnya menggelinjang panik dan berteriak.

"YA! Turunkan aku!"

Kris terus saja menggendong Suho dan meletakkan tubuh mungil kekasihnya di pundaknya, dia membuka pintu kamar Suho yang paling dekat dengan jangkauannya lalu menghempaskan tubuh Suho sekaligus tubuhnya di atas kasur berpegas itu.

"YA! Apa yang kau lakukan padaku? Aku sedang tidak dalam keadaan ingin bercanda denganmu! Aish!" Suho berseru panik saat Kris mulai bangkit menutup pintu kamar lalu kembali lagi ke ranjangnya.

"Kalau kau mau tidur, tidur saja sana!" Kris duduk bersandar pada sandaran tempat tidur menyaksikan Suho yang kini bergelung di dalam selimut membelakanginya.

"Tidak usah kau beri tahu aku juga sudah mau tidur" desis Suho.

Kris menahan tawanya mendengar jawaban sinis Suho "Kau marah? Iya, iya, kau boleh bermanja padaku.. hum? Maaf deh"

Suho tetap diam seperti batu.

"Ya… Joon Myun-a…"

Suho masih diam saja. Berusaha berakting marah untuk memberikan kekasihnya pelajaran.

"Hentikan aktingmu! Aku akan menggelitikimu kalau kau masih seperti arca hindu" Kris mendekati Suho.

"Arca hidu tidak bisa geli" jawab Suho hampir tidak bisa terdengar.

Kris menggerakkan tangannya dan kini mulai menggelitik tubuh Suho yang sensitif. Membuat tubuh mungil sedikit kurus itu menggeliat tak nyaman seperti cacing diberi garam.

"Hentikan! Gelii…" teriak Suho sambil tertawa "Yifaaan hentikan!"

Kris tidak berhenti "Rasakan ini!" menggoda Suho memang menyenangkan, lihat saja tubuhnya bergerak kesana kemari menghindari tangan Kris yang terus menelusuri tubuhnya, menggelitiknya hingga membuatnya tidak bisa bernafas.

"Hentikaaann… Yifan-aa… jeballl!"

Suho berbalik lalu menahan kedua tangan Kris "Sudah puas kau? Geli…"

Kris tertawa keras "Sebenarnya belum, tapi kasihan melihatmu seperti cacing.."

Dengan gerakan cepat Suho melepaskan cengkramannya pada tangan Kris dan memeluk pria itu. Memejamkan matanya dan merasakan hangat yang menjalari tubuhnya.

"Kau merasa lebih baik?" tanya Kris.

Suho tersenyum "Lebih baik daripada kau menggelitikku."

"Hangat tidak?" tanya Kris, menarik selimut hingga tubuh mereka berdua tertutup selimut sebatas lengan. Menghangatkan diri satu sama lain.

"Lebih hangat daripada kau menggelitikku tadi," cibir Suho.

"Aish, sebegitukah kau merindukanku hingga kau memelukku begitu erat?"

Dengan anggukan kecil Suho menjawab "Sangat."

"Ya… haruskah aku menciummu agar kerinduanmu bisa terbalaskan?" tanya Kris "Bagaimana?"

Suho mengerucutkan bibirnya "Diam! Biarkan aku memelukmu saja, jangan lakukan apapun!"

"Bagaimana kalau aku menggelitikmu lagi?" tanya Kris "Aku bisa saja melakukannya sekarang"

Suho mendongak melihat wajah Kris melemparkan death glare "Aku akan membunuhmu kalau kau berani membuatku menggeliat lagi seperti cacing! Itu memalukan"

"Suho-ya, sebenarnya ada apa denganmu sekarang?" tanya Kris.

"Aku?"

Kris mengangguk lalu mengusap rambut Suho perlahan "Tidak biasanya kau seperti ini padaku. Kenapa? Adakah alasan lain selain kau rindu padaku?" tanya Kris.

Suho mendadak terdiam "Kriss"

"Ada apa? Tanyakan saja padaku"

Suho mengusakkan wajahnya pada dada bidang Kris "Aku dapat kesempatan belajar piano di Paris selama 6 bulan. Karena aku menang kompetisi itu."

"Benarkah?"

Suho menggigit bibir "Kau kira aku bohong?"

"Tidak" jawab Kris "Lalu kenapa?"

Suho mendengus "Tidakkah kau mencegahku untuk jangan pergi? 6 bulan itu waktu yang lama"

Kris tersenyum "Benar juga. Tapi, aku tidak bisa menahanmu"

Suho mengernyit "Kenapa? Kau benar-benar ingin aku pergi kesana? Kau ingin aku pergi dari sisimu?"

"Bukan begitu…" jawab Kris.

"Lalu bagaimana? Kau rela kalau aku pergi ke Paris?" tanya Suho dengan nada kesal "Benar-benar rela?"

Kris melepasakan pelukannya "Bohong kalau aku bilang rela melepasmu kesana"

Suho tertegun, lalu menggigit bibir bawahnya lagi "Jadi, apa aku harus tinggal?"

"Aku tidak tahu" jawab Kris "Kalau memang kau pergi? Aku tidak yakin kau betah disana, bahasa Inggrismu jelek, apalgi bahasa Perancis"

Suho mendelik lalu memukul lengan kekasihnya keras "Aku tahu aku payah dalam pelajaran itu! Aku tahu"

"Kau juga payah dalam matematika!"

"Iya iya iya Tuan Wu, aku tahu nilai matematikamu bagus" dengus Suho.

"Fisikaku juga bagus" ucap Kris memancing.

"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyombongkan nilaimu tahu!" teriak Suho kesal "Tak bisakah kau berikan kepastian padaku apa yang harus aku lakukan? Aku pergi atau tidak? Aku tidak bisa memutuskannya sendirian"

"Kau harus memutuskannya sendiri" jawab Kris pelan.

Suho menatap Kris bingung "Kenapa?"

"Bohong kalau aku bilang aku rela melepasmu, kau tahu kan? Tapi lebih jahat lagi kalau aku menahanmu pergi meraih apa yang kau inginkan dari dulu hanya karena keinginanku dan sifatku. Ini egois"

Suho menggeleng "Aku juga tidak ingin meninggalkanmu sendirian di Korea"

"Aku tahu. Maka dari itu kau harus putuskan sendiri" jawab Kris

"Bagaimana denganmu? Aku ingin terus ada bersamamu Kris! Aku tahu, sebenarnya aku juga menginginkan tawaran itu. Tapi… kau, juga sama pentingnya dengan Paris. Aku tidak bisa memilih"

Sebuah isakan halus mulai terdengar, cengeng Suho keluar.

"Kalau kau ingin pergi, tidak apa-apa. Aku akan menunggumu"

Suho mendengus diantaranya "Kau jadi berkesan mengusirku sekarang!"

Kris tersenyum "Bukan seperti itu. Aku menghormati setiap keputusanmu dan aku percaya kau bisa memilih yang terbaik untuk dirimu sendiri"

"Bagaimana kalau aku tidak pergi?" tanya Suho.

"Kau akan bersamaku disini"

"Kalau aku pergi?" tanya Suho lagi.

"Aku akan menunggu" jawab Kris.

"Bagaimana kalau kau selingkuh dengan orang lain?" tanya Suho cemberut "Kau tampan, kaya juga. Bagaimana bisa kau tahan 6 bulan sendirian menungguku?"

Kris tersenyum "Aku janji akan menunggumu… hanya kau. Tenang saja, aku tidak akan berselingkuh dengan orang lain"

"Bagaimana juga kalau aku jatuh cinta dengan orang Perancis disana?" tanya Suho.

"Kalau itu sampai terjadi, maka aku akan melempar orang yang kau sukai itu ke laut. Dan akan menyeretmu pulang ke Korea" dengus Kris.

"Benarkah?"

"Ah, kalau kau bicara begitu aku jadi semakin tidak ingin kau pergi. Aku ingin sekali mengikatmu di sini agar kau tidak kemana-mana"

"Memangnya aku serius akan pergi?" tanya Suho.

"Maka dari itu cepat putuskan kau pergi atau tidak?" ucap Kris.

Suho tertegun "Kalau aku pergi, berjanjilah denganku kalau kau akan menungguku. Jangan melupakanku, kalau kau selingkuh aku akan membunuhmu."

Kris tersenyum "Aku sudah berjanji meskipun kau tidak memintaku."

"Aku akan menelepon eommaku dulu nanti, kalau aku sudah tahu pilihanku, aku akan memberitahukanmu nanti. Sekarang biarkan aku tidur."

Keduanya tidur berhadapan, saling mendekat dan merasakan nafas masing-masing.

Kris tersenyum, dia mengusapkan jarinya pada bibir Suho perlahan. Membuat lelaki bermarga Kim itu mengerjapkan mata beningnya.

"Boleh ya?" pinta Kris.

"Bohong jika aku bilang tidak menginginkannya" ucap Suho lirih. Membuat Kris tersenyum kecil lalu mulai mencium bibir Suho perlahan. Kris tahu, jika Suho pergi. Dia akan merindukan rasa manis yang keluar ketika mereka berdua berciuman. Sentuhan tangan Suho di sekujur tubuhnya dan betapa lembut bibir Suho ketika bibirnya menggesek bibir merah itu. Seperti yang dia tadi katakan, semua bohong kalau Kris merelakan Suho sepenuh hati jika malaikat kecilnya itu pergi jauh.

.

.

Suho menggeliat tidak nyaman. Dia menyadari, bahwa dari tadi sore dia tertidur dan sekarang sudah malam. Sekitar jam 7 malam. Suho meregangkan tubuh kakunya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri karena tak mendapati Kris ada di sampingnya. Kemana Kris pergi? Suho melihat jaket Kris tergeletak di sampingnya, membuatnya penasaran Kris ada di mana sekarang.

Langkah kecil Suho menelusuri kamarnya, dia begitu terkejut saat seorang laki-laki berbalut piama mandi keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar yang luas itu. Kontan saja, Suho menutup mulutnya sendiri agar teriakannya tidak keluar.

"Aish, kau mengagetkanku!" seru Suho.

"Sudah bangun eoh? Kau tidur lama sekali" Kris menatap tubuh tegapnya di cermin sambil membelai kepala Suho.

"Barusan mandi?" tanya Suho. Oke, ini sebenarnya pertanyaan bodoh. Sudah tahu Kris keluar kamar mandi hanya dengan piama mandi seperti itu. Ya jelas sekali Kris habis mandi.

"Dengan hanya melihat kau tahu, Suho"

"Kenapa mandi di kamarku?" tanya Suho lagi "Piama mandi milik siapa itu?"

"Ini milikku, aku mandi di kamarmu karena aku mengkhawatirkanmu, aku takut kau mencariku ketika kau bangun dan aku tidak ada di sampingmu" jelas Kris.

"Aku bukan anak kecil!"

"Jangan membohongi diri sendiri, buktinya kau mencariku kan?"

Suho merengut, lalu tangannya menyambar handuk lembut di tangan Kris.

"Sini, aku keringkan rambutmu"

Kris tersenyum senang "Aku baru saja mau memintanya! Terima kasih"

Suho mengangguk kecil dan mengusap-usapkan handuk putih itu pada rambut Kris "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

Kris berfikir sebentar "Mungkin menggodamu menyenangkan"

Tangan lembut itu itu berhenti bergerak dan kini dia malah menarik pipi putih milik Kris "Dasar mesum!"

"Aduh! Hentikan! Aku akan menciummu kalau kau tidak berhenti!" ancam Kris.

"Setidaknya aku harus memberi pelajaran padamu! Berani menggodaku kau akan mati!" Suho balik mengancam dan malah menguatkan tarikannya.

"Ya! Hentikan!" rintih Kris "Kau benar-benar ingin kucium hah?"

Suho hendak menjawab tapi bibirnya langsung dibungkam dengan bibir Kris sendiri. Tapi itu tidak bertahan lama karena Suho terus memukul lengannya membuatnya kesakitan.

"Berhenti menciumku seenaknya!"

Kris mengernyit "Kenapa?"

"Kau selalu membuatku tampak memalukan jika seperti itu" desah Suho kesal "Aku bahkan malu melihat mukaku sendiri"

Kris menarik Suho kedalam pangkuannya "Salahmu sendiri yang membuatku terjebak dalam cintamu. Kau juga yang harus tanggung jawab"

Suho menelan ludah "Ganti baju dulu sana!" ucapnya seraya mengalihkan pandangannya.

"Tidak akan sebelum kau menciumku!"

Suho mendelik kesal "Ya!"

"Apa aku yang perlu menciummu? Hum? Ini tidak akan selesai kalau kau terus membantah" Kris mendekatkan wajahnya dan mulai mencium leher Suho yang putih.

"Ah, Kriiiss.. a..aku mohon, sss… hentikan!"

Kris menghentikan ciumannya "Bagaimana?"

Suho menangkupkan kedua tangannya di pipi Kris, dengan satu gerakan cepat dia mencium bibir kekasihnya itu. Melumatnya dengan cepat agar Kris tidak minta macam –macam lagi. Suho meremas rambut Kris saat keadaan berbalik, dia meraskan Kris menjilat bibirnya membuatnya melenguh saat lidah Kris menelusuri rongga mulutnya. Melumat bibir ceri miliknya dengan bibir Kris. Membuat bibir Suho membengkak dan basah oleh saliva.

"Hentikaan… hmph… yifaaann" rengek Suho.

Kris masih menciumnya "Kau serius memintaku menghentikan ini?"

Suho mengangguk "Kau bisa menciumku lagi nanti. Aku mau ganti baju dulu… lagipula, aku tidak bisa bernafas…"

Kris melepaskan tautan bibirnya lalu menyeringai "Senang?"

Suho mengusap bibinya yang basah "Dasar bodoh"

"Aku ganti baju dulu, aku bawa baju ganti. Kau mau disini?" tanya Kris.

Suho duduk di atas ranjang "Ini kamarku. Kau ingin aku keluar?"

"Kalau kau ingin lihat aku ganti baju kurasa tidak masalah kalau kau ada di sini"

Suho menarik selimut lalu menutup seluruh tubuhnya "Aku tidak akan melihatmu, cepat sana!"

Tawa renyah mulai terdengar "Aku tahu, lagipula kau mengintip juga aku tidak keberatan"

Suho mendegus dari dalam "Otakku tidak semesum milikmu Kris wu!"

.

.

.

Suho menatap layar handphonenya, hari ini dia harus menelepon eommanya, dan meminta kepastian, apakah dia boleh pergi ke Paris atau tidak. Dan besok, Suho harus memberi keputusan pada In Soo. Suho menggigit bibirnya. Gugup. Bagaimana jika orang tuanya mengijinkan lalu dia pergi ke Paris dan meninggalkan Kris selama 6 bulan. Ah Suho… 6 bulan itu lama sekali.

Suho berada di kursi teras depan sekarang, dia masih bingung. Tapi kemudian, dengan perlahan, jari mungilnya mulai menyentuh layar handphone di tulisan eomma. Dia memutusakan untuk menelepon eommanya dan berunding dengan orang yang paling mengerti dia itu.

Nada sambung kemudian berhenti, digantikan oleh sebuah salam yang sangat lembut.

"Yeoboseyo"

Suho menghelna nafas panjang.

"Yeoboseyo eomma, ini aku Suho, ada yang ingin Suho bicarakan dengan eomma"

.

.

Sebuah tubuh mungil terduduk di ranjang. Dia menatap surat yang akan membawanya ke Paris dalam waktu dekat ini dengan sendu. Apa yang dia bicarakan dengan eommanya tadi membuat segalanya jelas. Bahwa Suho harus memutuskan ini dengan memikirkan berbagai sudut pandang yang berbeda. Tidak boleh egois dan dia harus menilai semua dari segala aspek yang ada.

Sekarang, waktunya untuk memberi keputusan.

Suho melangkahkan kakinya ke luar kamar. Dengan kemeja putih kebesaran serta celana hitam selutut, dia menuju kamar Kris.

Setelah dibuka, dia melihat Kris ada di ranjang. Tengah duduk menghadap ke arahnya.

Mata Suho perlahan berair. Dia menahan isakannya berusaha untuk tidak terlihat lemah.

"Kriss" ucapnya serak.

Kris yang dipanggil hanya diam. Memasang senyuman kecil yang menguatkan Suho.

Suho mengelap air mata dengan punggung tangannya.

Sebelum akhirnya bibir kecilnya berucap dengan susah payah.

"Aku…"

"Aku…"

"Aku akan pergi"

Kris diam, lalu berusaha keras menahan rasa sedihnya, tubuhnya sudah dipersiapkan untuk situasi seperti ini dan dia sudah siap dengan ini. Maka dari itu, Kris hanya tersenyum lalu mengangguk. Meski tersenyum, Suho bisa melihat jelas, guratan tidak rela tersirat di mata elang Kris.

"Aku tahu…" jawab Kris.

Suho semakin terisak.

"Aku akan menunggu"

Badan mungil itu bergetar hebat. Tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri, dengan gerakan cepat, Suho berlari menabrak Kris membuat tubuh mereka berdua terjatuh di atas kasur dengan posisi Suho menindih Kris.

"Jangan menangis. Sebentar lagi kekasihku akan meraih mimpinya sendiri di Perancis" Kris mengusap rambut Suho dan mengecup puncak kepalanya sekali.

"Maafkan aku"

Kris menggeleng "Tidak apa-apa. Aku akan menunggu"

"Terima kasih sudah mau menungguku, aku janji aku akan menghubungimu dengan video call setiap hari. Aku janji."

Kris tertawa dengan terpaksa "Aku akan pegang janjimu padaku!"

Suho merasakan air mata masih membanjiri pipinya. Membuat sesak dadanya karena menangis.

Kris mengusap air mata Suho dengan ujung lengan jaket yang dia kenakan.

"Jangan menangis.. aku jadi tidak rela kau pergi kalau seperti ini"

Suho kini meredakan tangisannya, hanya senggal nafas saja yang tersisa.

Tangan mungil Suho menangkup kedua pipi Kris, tangan dingin itu membuat Kris memejamkan mata, lelaki jangkung itu kembali membuka matanya saat Suho mengecup bibirnya sekali.

"Aku pasti akan merindukan ciumanmu saat aku ada di Paris nanti" lirih Suho.

Kris tersenyum, lalu memutar tubunya dan kini dia menindih Suho.

"Aku juga pasti akan merindukannya"

Suho memejamkan mata saat nafas hangat Kris membelai lehernya dan bibir tipis itu mulai menyentuh permukaan bibirnya sendiri. Menciumnya lembut dengan penuh perasaan seolah tak ingin melepaskan ini.

Kris melepaskan ciumannya saat dia mulai melihat Suho gelisah di bawahnya.

Kini dia merasakan hawa dingin tangan Suho mulai membelai pipinya lagi.

"Saranghae" bisik Suho pelan.

Kris mengangguk "Aku juga"

Keduanya berpelukan. Seolah tak rela melepas Suho pergi, Kris memeluk Suho lebih erat dari biasanya. Hatinya berusaha meyakinkan bahwa 6 bulan tanpa malaikat kecilnya itu bisa dia lalui dengan mudah. Berusaha kuat meskipun dia tahu bahwa sekarang kondisinya sedang rapuh. Menguat-nguatkan diri sendiri, dengan meyakini semua akan kembali normal saat Suho kembali 6 bulan kemudian.

Suho juga, sekuat tenaga meyakinkan perasaannya bahwa ini semua akan baik-baik saja.

Meskipun dia akan pergi ke Perancis. Dia akan meninggalkan hatinya di Korea.

Meninggalkan perasaan cintanya untuk seorang Kris Wu.

.

.

.

TBC!

.

.

Hohoho!

Ya Tuhan, maafkanlah hambamu yang nista ini

Semua ini terjadi berkat jadwal try out author yang maju 1 minggu. Jadinya, harus telat update padahal niatnya update cepet! Huweee…

Makasih ya reviewnya, mungkin chapter depan ini ff udah tamat (mungkin) (doakan saja lancar :3)

Oke, sekali lagi terima kasih :* #lempar cium

.

SARANGAE .

.

Sung Rae Yoo \(o)/