Kayaknya, author udah lama gak update, ya? Iya, author kan hiatus…. Dan akhir-akhir ini, author sering disibukkan oleh kegiatan sekolah, jadi gak sempat memikirkan lanjutan ceritanya. Baru ini author akhirnya bisa memikirkan lanjutan ceritanya… *curcol*

Karena author bingung mau ngomong apa lagi, jadi… langsung baca aja, ya?

Pairing: Gray F. & Lucy H.

Genre: Romance, School Life

Disclaimer: Hiro Mashima

Okay, happy reading!

KRIT!

Lucy menghentikan aktivitas memakan cokelatnya. Dia merasa, ada seseorang yang duduk di ayunan sebelahnya. Karena penasaran siapa orang itu, Lucy menengokkan kepalanya ke arah samping kanan. Dia terkejut ketika mengetahui orang yang duduk di ayunan sebelahnya.

"Ka-kamu 'kan… yang menabrakku kemarin?" tanya Lucy sambil menunjuk orang itu.

Orang itu cuma diam. Dia menundukkan kepalanya, sampai wajahnya tidak terlihat. "H-hei, kamu kenapa?" tanya Lucy sekali lagi sambil memakan cokelatnya. Ditepuknya pundak orang yang ternyata lelaki berambut biru dongker yang notabene adalah orang yang menabrak Lucy tadi pagi.

Lelaki itu tidak menjawab, tetap diam. "Kayaknya, dia lagi sedih," gumam Lucy pelan.

TEK!

Lucy memotong sebagian cokelatnya. Lalu, dia memberikan potongan cokelat itu kepada lelaki itu untuk sekedar menghiburnya, karena lelaki itu tampaknya sedang bersedih. Laki-laki yang sedang bersedih itu menengok ke arah Lucy yang sedang menyodorkan potongan cokelat kepadanya. Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu menerima potongan cokelat Lucy dari tangan Lucy. Lalu, dimakannya potongan cokelat pemberian gadis blondie itu.

"Hei, kamu lagi sedih, ya?" tanya Lucy sambil mendekatkan dirinya kepada lelaki itu. "Ada masalah apa, kalau boleh tahu?"

"Nggak ada masalah apa-apa," jawab lelaki itu. "Kamu cewek yang kemarin aku tabrak itu, kan? Namamu siapa? Sekolah dimana?" Sekarang, giliran lelaki itu yang bertanya kepada Lucy.

"Lucy Heartfilia desu. Aku sekolah di Fairy Gakuen," jawab Lucy sambil tersenyum kepada lelaki itu. "Kamu sendiri siapa? Sekolah dimana?" tanya Lucy.

"Gray Fullbuster. Sekolah di Phantom Gakuen," jawab lelaki yang bernama Gray itu sambil mengunyah cokelat pemberian Lucy dengan perlahan.

Seketika, suasana menjadi hening. Dua-duanya merasa canggung, entah kenapa. Padahal, mereka berdua sebelumnya sudah bertemu. "E-etto… kamu ada masalah apa? Kok, kelihatannya kamu sedih banget?" tanya Lucy dengan lembut.

Gray hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Lucy lagi. Dia menatap Lucy. "Kirain kamu orangnya kasar dan cerewet. Ternyata, kamu orangnya baik juga, ya," komentar Gray. Lucy cuma tersenyum tipis. Sejujurnya, dia sebal karena dibilang cerewet dan kasar sama Gray.

Hening lagi. Cokelat yang Lucy makan sudah habis. "Nggak apa-apa kalau aku curhat ke kamu?" tanya Gray dengan lirih. Lucy mengangguk. "Nggak apa-apa," jawab Lucy.

Akhirnya, Gray menceritakan masalahnya kepada gadis yang berada di sebelahnya. Selama Gray menceritakan masalahnya, gadis konglomerat itu mendengarkannya dengan seksama, agar bisa memberikan solusi dari masalah lelaki berambut biru dongker itu.

Ternyata, masalah Gray adalah dia baru diputusin sama pacarnya waktu hendak pulang sekolah tadi. Dia shock ketika mendengar pacarnya minta putus dengannya. Yang membuatnya lebih shock lagi, ternyata, saat mereka berdua (Gray dan pacarnya) masih berpacaran, diam-diam, pacarnya selingkuh dengan lelaki lain. Jadi, ceweknya Gray ini punya pacar dua.

"Kamu tahu dari mana kalau pacarmu selingkuh?" tanya Lucy ketika Gray selesai menceritakan masalahnya.

"Pacarku sendiri yang mengatakannya kepadaku waktu dia minta putus," jawab Gray lesu.

"Ya ampun, masalah diputusin doang, sih…. Sampai segitu sedihnya," gumam Lucy sambil menghela nafas. Dia kira, ada masalah yang cukup gawat yang menimpa Gray. Ternyata cuma masalah diputusin sama pacar saja.

PLAAK!

Tiba-tiba, paha Lucy dipukul sama Gray. Akibatnya, paha Lucy yang putih itu menjadi merah gara-gara dipukul Gray. Muka Lucy memerah, menahan malu. Bagaimana tidak malu, kalau pahanya barusan yang adalah titik kelemahannya itu dipukul oleh seorang lelaki!?

"A-A-APA YANG KAU LAKUKAAAAAN?! KENAPA MEMUKUL PAHAKU?! MESUUUUMMM!" jerit Lucy sambil menutupi pahanya yang tadi dipukul dengan menarik rok sekolahnya. "Kenapa harus paha yang dipukul!?" teriak Lucy.

"Kamu nggak tahu rasanya diputusin sama pacar! Soalnya kamu belum punya pacar, sih!" ketus Gray. "Nah, sekarang kamu nggak tahu jalan keluar dari masalahku ini, 'kan? Soalnya kamu belum punya pacar, jadi kamu nggak bisa memberikan jalan keluarnya," lanjutnya sambil melipat kedua tangannya di dadanya.

"A-aku tahu kok, biarpun aku belum punya pacar!" balas Lucy. "Kalau kamu baru diputusin kayak gitu, mendingan kamu cari cewek lain, alias mencari cinta baru!" seru Lucy dengan nada tegas sambil bangkit dari ayunan, berdiri di hadapan Gray sambil berkacak pinggang.

Gray melongo. "Oh gitu…. Oke, aku akan berusaha mencari pacar baru!" seru Gray sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar. Dia terlihat semangat sekali.

Lucy tersenyum melihat Gray tidak bersedih lagi. Tiba-tiba, mata Lucy membelalak kaget. Dia mendongak. Langit sudah gelap, pertanda sudah malam. Tidak terlihat lagi langit sore yang berwarna jingga. Lampu taman dan lampu jalanan sudah dinyalakan. "Ah, sudah malam! Aku harus pulang. Kalau nggak, aku bisa dimarahi mamaku," gumam Lucy sambil melihat jam tangannya yang sekarang menunjukkan pukul setengah tujuh malam. "Aku pulang dulu ya, Gray! Jaa," pamit Lucy seraya menjinjing tas sekolahnya, lalu melangkah pulang ke rumahnya.

"Ah, tunggu dulu, Lucy!" cegah Gray sambil bangkit dari ayunan. Dia juga bersiap-siap pulang.

Lucy menengok. "Ada apa lagi?" tanyanya.

"Kamu sekolah dimana?" tanya Gray.

"Eh? Sekolah di Fairy Gakuen," jawab Lucy. "Kenapa?" tanya Lucy.

"Nggak, nggak kenapa-kenapa. Cuma nanya doang," jawab Gray. "Udah ya, aku mau pulang. Jaa," pamit Gray sambil melambaikan tangannya kepada Lucy.

"Jaa ne," pamit Lucy sambil membalas lambaian tangan Gray. Mereka berdua pun berpisah, pulang ke rumah masing-masing.

~:But, I Love You!:~

Esok harinya…

"Huaaaaaaaaahmmm…," seorang gadis berambut pirang masuk ke lingkungan sekolahnya sambil menguap. Dia terlihat sangat lelah dan masih mengantuk, padahal hari sudah pagi.

"Lucy-oneechan, kalau menguap jangan gede-gede dong, buka mulutnya. Nanti kemasukkan lalat, lho," nasihat gadis kecil berambut biru tua, memperingatkan kakaknya yang sedang menguap dengan mulut dibuka lebar-lebar.

Lucy mengangguk. Dia menutup mulutnya, berhenti menguap. "Habiiis…, aku masih ngantuk banget nih…. Banyak tugas yang harus diselesaikan, jadinya begadang dan cuma tidur 5 jam deh…," kata Lucy sambil mengucek matanya.

"Ohayo, Wendy!" seru seorang anak lelaki berambut hitam sambil menepuk pundak Wendy.

"Ah, Romeo-san. Ohayo," balas Wendy sambil tersenyum.

"Mau ke kelas bareng, nggak?" tawar lelaki yang bernama Romeo Conbolt itu.

"Mau, mau!" Wendy setuju dengan tawaran Romeo. "Lucy-oneechan, aku dan Romeo mau ke kelas duluan, ya," kata Wendy seraya berlari ke kelasnya dengan semangat bersama Romeo.

"Iya, iya," kata Lucy mengizinkan. Dia memandang Romeo dan Wendy yang sedang berlari bersama ke kelas mereka. Anak itu pacar Wendy, ya? Kalau iya, hebat dong, si Wendy. Aku yang segede gini aja belum punya pacar, batin Lucy sedikit iri.

Sesampainya di kelas…

"Ohayo, Lucy," sapa seorang gadis berambut silver bernama Mirajane dengan ramah.

"Ohayo, Mira-san!" balas Lucy dengan nada yang ramah juga.

"Lucy, kelas kita kedatangan murid baru lagi, lho," kata Mirajane.

"Hah? Kedatangan murid baru lagi? Murid barunya itu cewek atau cowok? Ciri-cirinya kayak gimana?" tanya Lucy sambil berjalan ke bangkunya, diikuti Mirajane dari belakang.

"Umm… katanya sih, cowok. Kalau ciri-cirinya, yang aku inget, dia berambut raven. Banyak cewek-cewek yang bilang, kalau dia itu keren banget," jelas Mirajane sambil menerawang, mengingat-ingat ciri-ciri yang dibilang perempuan-perempuan di kelasnya.

Lucy hanya ber-oh-ria mendengar penjelasan Mirajane. Tiba-tiba, Cana-sensei, guru wali kelas 11-3, masuk sambil membawa buku absen dan buku-buku pelajaran. "Minna, duduk!" seru beliau menyuruh anak-anak duduk di bangkunya masing-masing.

Semua murid kelas 11-3 pun duduk di bangku mereka masing-masing. Setelah semuanya duduk, Cana-sensei berjalan ke depan kelas, bersama murid baru yang dibicarakan Mirajane dan Lucy tadi. "Minna, kelas kita kedatangan murid baru lagi. Silakan perkenalkan dirimu," kata Cana-sensei dengan tegas.

"Hai, Sensei," kata murid baru itu menurut. "Hajimemashite, ore no namae wa Gray Fullbuster desu, yoroshiku," ucap murid baru yang bernama Gray Fullbuster itu dengan lantang.

"Hooo… jadi namanya Gray Fullbuster, ya…?" gumam Lucy sambil manggut-manggut. Tiba-tiba, dia membelalak, seperti teringat sesuatu. "Tu-tunggu dulu! G-Gray Fullbuster? Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu, dan pernah bertemu orang itu di suatu tempat…," gumam Lucy. Dia lupa, bahwa dia pernah bertemu dengan orang yang bernama Gray Fullbuster itu.

TO BE CONTINUED

Hwaaaaa! Ceritanya gaje, ya?! Banyak kalimat yang gak dimengerti, ya? Aduuuh, udah hiatus-nya lama, ceritanya gaje, banyak kalimat yang gak dimengerti pula. Alurnya kecepetan? Gomen, gomeeeeennn! #nangis Narasinya terlalu sedikit dan dialognya kebanyakan? Gomennasai… #bungkuk

Untuk mako-chan: kali ini, tebakan mako-chan gak meleset! Hehehe… *senyum-senyum gaje*

Oke, jangan lupa untuk review! Silakan flame saya! Mau pake bahasa kasar kek, mau pake bahasa sopan kek, flame tetap diterima!