Halo! Gomen ne, author updatenya lama. Soalnya, author lagi hiatus (alias lagi pulkam). Author yakin, pasti Readers yang menunggu kelanjutan cerita ini udah pada lumutan semua! *readers: PD abis…, padahal kita nggak lumutan* Author emang labil, kadang statusnya aktif, kadang statusnya semi-hiatus atau hiatus. *curhat ya, thor?*

Jadi ngomong yang gak penting gini…. Udah deh, daripada ngomongin hal yang tambah nggak penting, mendingan langsung baca aja ya?

Pairing: Gray F. & Lucy H.

Genre: Romance, School Life

Disclaimer: Hiro Mashima

'Met membaca. Semoga kalian suka! :D

.

.

LUCY POV

.

Sepertinya, aku pernah mendengar nama Gray Fullbuster itu. Di mana, ya? Lalu, sepertinya aku juga pernah melihat orang itu. Tapi, aku lupa di mana. Aku merasa, kita pernah bertemu di suatu tempat. Tapi…, ya itu tadi, aku lupa di mananya.

"Kau kenapa, Lu-chan?" bisik Levy yang duduk di sebelahku.

"Ng? Unn, betsu ni," sanggahku sambil menggeleng pelan.

Levy hanya ber-oh-ria. Sementara aku masih mencoba untuk mengingat-ingat orang yang sekarang berada di depan kelasku. Uuugh…, siapa ya? Kedua telapak tanganku menjambak rambutku, berusaha mengingat-ingat murid baru itu. Aku memejamkan mataku, berusaha mengembalikan memori-memori yang sepertinya sempat hilang.

"Lucy?" Seseorang menyapaku, dan sepertinya suara itu berasal dari hadapanku.

Mendengar seseorang memanggilku, buru-buru kedua mata kubuka. Murid baru itu sekarang berdiri tepat di hadapanku. Dia tersenyum ramah kepadaku. "Etto…, kamu Lucy Heartfilia, kan?" tanya murid yang bernama Gray Fullbuster itu dengan nada kurang yakin, takut salah memanggil nama orang.

Aku mengangguk. "Iya, aku Lucy Heartfilia," jawabku meyakinkannya. "Kok kamu tahu? Tahu dari mana?" tanyaku balik.

Gray tertawa pelan. "Tentu saja aku tahu! Kemarin, kita kan sempat ketemu lagi. Kamu ini gimana, sih? Baru kemarin ketemu, masa besoknya udah lupa?" jawab Gray sambil mengacak-acak rambutku. "Hei, aku duduk di depanmu boleh, nggak?" tanya Gray sambil menarik kursi di depanku.

"Bo-boleh saja," jawabku. Pandangan mataku tidak lepas dari sosok Gray Fullbuster itu, entah mengapa.

Gray mengucapkan terima kasih kepadaku, lalu segera duduk di depanku. Kupegang kepalaku. Barusan, dia mengacak-acak rambutku. Aku bisa merasakan, jantungku berdetak tak karuan. Entah mengapa, aku ingin disentuh lagi olehnya. Kutatap lelaki di depanku. Kenapa dia pindah ke sini? Apa dia tidak ingin bertemu mantan pacarnya? Pertanyaan-pertanyaan tidak penting seputar pemuda itu menggelayuti pikiranku.

Lamunanku buyar seketika, karena aku mendengar tawa geli seorang gadis. Oh bukan, sepertinya lebih dari satu orang gadis. Kutengokkan kepalaku, mencari sumber suara tawa itu. Ternyata benar, ada lebih dari satu orang. Yang tertawa itu adalah Levy, Erza, dan Lisanna. Mereka bertiga tertawa cekikikan sambil menunjuk ke arahku.

"Hei, kenapa kalian ketawa? Ada yang aneh dariku?" tanyaku.

"Penampilanmu rapi banget, Lu-chan! Rapiiii banget!" celetuk Levy sambil tertawa, memegangi perutnya yang sakit akibat kebanyakan ketawa. Erza dan Lisanna hanya tertawa sambil menjawab, "Iya!" dengan serempak.

"Ada apa, sih!?" tanyaku. Sekarang, aku benar-benar penasaran.

"Rambutmu! Coba kamu ngaca, deh," jawab Lisanna.

"Di sini mana ada kaca?!" ketusku sambil mengepalkan tangan.

"Oh iya, nggak ada," gumam Lisanna, yang mulai berhenti ketawa. Mungkin, perutnya sudah sangat sakit, akibat kebanyakan ketawa, seperti Levy. "Yah pokoknya, sekarang rambutmu berantakan banget, deh!" lanjut Lisanna.

Aku merapikan lagi rambutku yang Lisanna bilang berantakan. Tiba-tiba, Erza memanggilku. "Eh, eh, Lucy! Nih, aku ada kaca!" serunya sambil memberikan cerminnya kepadaku. Aku menerima cermin itu dari tangan Erza.

NORMAL POV

.

"Ya ampun! Rambutku berantakan sekali!" jerit Lucy, sehingga dia berhasil mendapatkan lemparan penghapus papan tulis dari Cana-sensei agar menyuruh gadis itu diam dan memerhatikan pelajaran.

Siaaalll! Ini pasti gara-gara Gray, nih! batin Lucy kesal sambil mengepalkan tangannya di kolong meja. Sebelum ditertawakan oleh teman sekelasnya yang lain, dia buru-buru merapikan rambutnya yang sungguh berantakan.

Setelah merapikan rambutnya, Lucy mengembalikan cermin milik Erza. "Nih, Erza. Arigato," ucap Lucy.

"Dōitashimashite, Lucy," balas Erza sambil menerima cerminnya dari tangan Lucy.

Mereka pun akhirnya memerhatikan kembali penjelasan pelajaran dari Cana-sensei.

~:But, I Love You!:~

"Luce, makan bareng, yuk!" ajak Natsu kepada Lucy yang sedang mencatat sesuatu di buku tulisnya.

"Sebentar dulu, Nat! Aku belum selesai nyatet catatan dari Cana-sensei, nih," kata Lucy dengan tangan masih mencatat catatan dari Cana-sensei.

5 menit berlalu. Natsu masih setia menunggu Lucy selesai mencatat. Sembari menunggu, dia memain-mainkan karet gelang yang dia dapatkan entah dari mana.

10 menit pun berlalu. Natsu yang sudah bosan memainkan karet gelang merengut sebal. "Luce, cepetan nyatetnya! Istirahat bentar lagi selesai, nih!" seru Natsu.

"Sabar, sabar. Nih tinggal satu kalimat lagi," sahut Lucy sambil tetap mencatat, tapi cuma kecepatan mencatatnya saja yang berubah menjadi sangat cepat, buru-buru, takut bel masuk kelas berbunyi.

Tak lama kemudian…

"Horeee! Selesaaai!" sorak Lucy sambil mengangkat tangannya. Tangannya pegal sekali, karena terlalu lama menulis. Tangannya sampai memerah.

TENG! TENG! TENG!

Bel masuk kelas langsung berbunyi. Natsu dan Lucy melenguh. "Yaaaah, belnya udah bunyi…," keluh Natsu. "Kamu sih, Luce! Nyatetnya lama banget! Jadinya kita gak jadi makan bareng, kan! Padahal, daritadi aku udah kelaperan…," kata Natsu menyalahkan Lucy.

"Kamu nggak ngeliat kalo catetan dari Cana-sensei tuh banyak?! Tuh, liat di papan tulis! Banyak kan?" Lucy berteriak tidak mau kalah. "Kan masih ada istirahat kedua! Nanti, di istirahat kedua, kita makan sama-sama. Gimana?" lanjutnya.

"Oke, istirahat kedua, ya," kata Natsu setuju. Dia berjalan ke arah bangkunya sambil membawa kotak bekalnya dengan perasaan kesal. Dia menggumam-gumam tidak jelas. Sepertinya, lelaki berambut pink salmon itu sedang merutuki Lucy.

Lucy kembali ke tempat duduknya. Ketika sedang menyiapkan buku pelajaran untuk pelajaran selanjutnya, tiba-tiba saja, Gray menghampiri Lucy.

"Hei, Lucy," sapanya.

"Ah, hai juga, Gray," balas Lucy sambil tersenyum kepada Gray.

"Umm… anou… nanti, waktu istirahat ke dua, kamu mau makan siang bareng aku, nggak? Terus, ada juga yang pengen kuomongin sama kamu, Lucy. Kau mau, kan?" tawar Gray gugup.

Lucy melongo mendengarnya. Dia diam, bingung mau membalas apa. Perlahan, bola matanya digerakkan ke arah Natsu yang duduk tidak jauh darinya. Sebenarnya, gadis ini mau-mau saja makan siang bersama Gray. Tapi, dia sudah terlanjur berjanji kepada Natsu untuk makan siang bersamanya saat istirahat ke dua nanti.

"Kalau aku mengajak temanku, nggak apa-apa, kan? Cuma satu orang aja," tanya Lucy.

"Jangan, Luce. Soalnya, yang pengen kuomongin sama kamu ini rahasia. Nggak boleh ada satu orang pun selain kamu yang tahu," jawab Gray. "Gimana? Kamu mau, kan?" tanyanya.

Sekali lagi, Lucy melirik Natsu yang sekarang sedang sibuk mencoret-coret buku pelajarannya. Lalu, tatapannya beralih ke arah Gray. Dia menatap bola mata hitam milik Gray lekat-lekat. Gadis pirang ini bingung, mau menerima tawaran Gray atau tidak.

"Gimana?" Gray bertanya lagi.

"Etto…, kupikir-pikir dulu, ya. Nanti pas pelajaran, aku beritahu kamu. Oke?" kata Lucy.

Seketika, lelaki berambut biru dongker itu merengut. "Kau sudah ada janji dengan temanmu yang lain?" tanya Gray yang sepertinya sedikit kesal.

"Bu-bukan! Bukan begitu!" sanggah Lucy. "Yaah, pokoknya gitu, deh! Ntar pas pelajaran, aku kirimin kamu surat, oke?" kata Lucy.

"Ya sudah," sahut Gray sambil berlalu, pergi ke tempat duduknya.

Lucy meletakkan kedua tangannya di atas meja, dengan siku tepat menyentuh di atas mejanya. Sekali lagi, dia menjambak rambutnya pelan, frustasi dan bingung. Dia harus memilih yang mana? Makan siang bersama Natsu, atau bersama Gray? Uuuuh, bingung!


"Lucy! Hei, Lucy!" bisik Erza.

Yang dipanggil hanya diam, tidak menanggapi bisikan Erza yang terkutuk (?). Kedua bola mata karamel gadis yang dipanggil menerawang langit-langit kelas, tidak memerhatikan apa yang dijelaskan Bisca-sensei di depan kelas.

"Hei, Lucy! Kau dengar aku, nggak!?" bisik Erza. Kali ini lebih keras.

Yang dipanggil tetap diam, asyik sendiri dengan lamunannya.

"L-U-C-Y!" bisik Erza setengah berteriak.

Yang dipanggil tetap asyik dengan lamunannya. Akhirnya, terpaksa, Lisanna menimpuk Lucy dengan kertas sobekan yang sudah dia remas-remas sebelumnya.

Lucy tersentak. Dia menengok ke belakang, ke arah Erza yang duduk di belakangnya.

"Ada apa, Erza?" tanya Lucy.

"Pinjam pulpen, dong. Pulpenku tintanya abis," pinta Erza.

Lucy mengangguk. Dia membuka kotak pensilnya, mengambil pulpen miliknya, lalu memberikannya kepada Erza. "Arigato," ucapnya sambil tersenyum tulus kepada Lucy.

Gadis pirang itu tidak menjawab. Dia kembali asyik dengan lamunannya. Tiba-tiba, Lucy ditimpuk (lagi) kapur papan tulis oleh Bisca-sensei. Ternyata, Lucy ketahuan melamun, tidak memerhatikan pelajaran. Di saat Lucy ditimpuk itulah, tiba-tiba dia berteriak dengan kencangnya,

"AKU TAHU! AKHIRNYA, AKU MENEMUKAN JAWABANNYA!" teriaknya. Setelah berteriak kencang begitu, gadis itu langsung mendapat omelan dari Bisca-sensei.

Setelah puas mengomeli muridnya, Bisca-sensei melanjutkan kembali menjelaskan pelajaran. "Aku tahu aku harus memilih siapa!" gumam Lucy pelan. Kalau kencang-kencang, nanti ketahuan lagi. Bisa-bisa, nanti dia dikeluarkan dari kelas.

"Aku memilih..."


TO BE CONTINUED

.

.

Author baru nyadar. Ternyata, chapter 2 lebih pendek dari chapter 1! Eh, kayaknya sih ini ga usah dipeduliin. Yang penting, readers menikmati ceritanya ;) Oh iya, semua kesalahan yang ada dalam fanfic atau chapter ini, mohon dimaafkan. :D GaJe? Mohon dimaafkan juga, ya...

Oke, sekarang, waktunya bales review :3

Chiaki Heartfilia: Arigato sudah me-review cerita Nanako! :D Author sendiri juga bingung, Lucy kok bisa lupa sama Gray, padahal baru sehari…. Oke, review lagi, ya, Chi-chan! *maksa*

mako-chan: Ah, masa sih? Murid barunya cuma 2 orang, kok. Wah, kayaknya, mako-chan udah bisa nebak alurnya, ya? Saat ini, author masih belum bisa jawab bener atau salah tebakan mako-chan. Kalo author jawab bener, gak surprise dong? *hah?* Arigato udah nge-review. Review lagi, ya! Kalo mau… #plak!

Atsuko: Thanks udah nge-review dan udah memuji cerita author! :D Triangle love? Hmm… lihat aja nanti! *nyengir gaje* Makasih atas semangatnya! Yoosh, ganbarimasu! *ngangkat tangan tinggi-tinggi ke atas*

pidachan99: Thanks, Pida-chan, udah nge-review! Konfliknya mungkin sebentar lagi akan kelihatan. Tunggu aja, ya. ;)