Kyaaa! Author balik lagi! :DD Nnng… author liat, kok fic author yang lain sepi review, ya? Terutama fic Shugo Chara! sama ARISA. Yaaah, mungkin ini adalah balada menjadi seorang penulis fanfiction… *apa maksudnya?* #nangis-nangis di pojokan# Oh iya, gomen'nasai, kalo susunan ceritanya banyak yang berubah alias gak konsisten gitu. Maaf ya, kalo POV-nya kedikitan. Author emang gak pinter bikin POV... :'( Dan... maaf Natsu-nya OOC...
Karena author gak mau banyak omong lagi, author mulaiin aja ceritanya, ya.
Pairing: Gray F. & Lucy H.
Genre: Romance, School Life
Disclaimer: Hiro Mashima
Hope you like it!
.
.
GRAY POV
Aku menunggu di halaman belakang sekolah dengan gelisah. Bekal makanan kuletakkan di sampingku. Kulirik jam tanganku. Ya ampun, Lucy lama sekali! Aku sudah menunggu selama 10 menit, kenapa dia tidak datang-datang juga? Sebenarnya, dia ke mana?
Pikiran-pikiran buruk mulai berdatangan menghampiriku. Tetapi, semua itu langsung kutepis, kuusir mereka pergi dariku, berharap tidak akan kembali lagi. Namun, perasaan gelisah dan khawatirku masih belum hilang juga, padahal pikiran-pikiran buruk tadi sudah pergi dariku.
"Aduh, dia ke mana, sih? Kok, lama sekali. Tidak mungkin ke toilet, 'kan? Kalaupun sedang buang air besar, tidak mungkin selama ini," gumamku lirih.
Tidak mau rasa khawatir ini tambah besar, aku pun memutuskan untuk pergi mencarinya. Kuangkat pantatku dari bangku panjang yang kududuki, lalu berjalan ke luar dari halaman belakang sekolah sambil membawa kotak bekalku.
~:But, I Love You!:~
Hah…, hah…. Aku capek sekali. Aduuh, Lucy ke mana, sih? Kok, kucari-cari tidak ada? Semua tempat di sekolah ini sudah kujelajahi, dan itu menghabiskan waktu sekitar 5 menit lebih. Karena sudah putus asa mencari gadis pirang itu, akhirnya, aku memutuskan untuk bertanya kepada salah satu sahabat gadis itu.
"Pe-permisi. Boleh nanya, nggak?" sapaku, sehingga menghentikan gadis berambut biru tua yang sedang lewat di hadapanku.
"Ah, iya. Boleh saja. Mau nanya apa?" tanya gadis itu. "Kamu murid baru di sini? Sekelas sama Lucy-oneechan, nggak? Etto… nama senpai siapa, kalau boleh tahu?" tanyanya lagi bertubi-tubi. Tiba-tiba, dia terdiam. "Ah, gomen'nasai! Gomen'nasai! Sa-saya terlalu… cerewet, ya? Sekali lagi, gomen'nasai, Senpai!" ucapnya sambil membungkukkan badannya berkali-kali. Cih, gadis aneh.
"Iya, saya murid baru di sini. Ore wa Gray Fullbuster desu," jawabku. "Nnng… ngomong-ngomong, Lucy-oneechan itu, maksudmu Lucy Heartfilia?" tanyaku.
Gadis kecil itu mengangguk. "Un! Lucy Heartfilia adalah kakakku! Oh iya, watashi Wendy Heartfilia desu. Aku kelas 8-2," jawab gadis yang bernama Wendy itu yang ternyata adalah kouhai-ku. "Anou, tadi Gray-senpai mau nanya apa?" tanyanya, mengubah topik pembicaraan.
Ternyata dia masih ingat dengan pertanyaanku tadi! Aku saja sudah melupakannya. "Mm… kamu tahu nggak, kakakmu di mana? Dari tadi kucariin gak ketemu-ketemu," kataku.
"Oh, Lucy-oneechan? Dia ada di kantin bersama Natsu-niisan, lagi makan bekal bareng," jawab Wendy sambil tersenyum kepadaku.
Aku langsung terperanjat mendengarnya. Ternyata, dari tadi dia itu sedang makan bersama orang yang Wendy sebut Natsu! Huh, kenapa Lucy tidak bilang kepadaku kalau dia akan makan siang bersama Natsu?
"A-Arigato, Wendy," ucapku seraya berlari ke arah kantin, meskipun aku masih capek.
"Haaaii'… Douitashimashite, Gray-senpaaai!" balas Wendy sambil melambaikan tangannya.
NORMAL POV
"Terus, terus? Gimana lagi, Nat?" tanya Lucy sambil memasukkan tahu yang berbentuk bunga dengan sumpitnya ke dalam mulutnya yang mungil.
"Terus, dia bilang 'Eh, lu jangan belagu, deh! Semua yang lu ceritain ke kita-kita tuh, semuanya bohong!'. Nah, ngeselin nggak, tuh? Karena sudah kesal banget, aku langsung meninju Zeref yang bilang aku belagu tadi. Eh, Zeref malah ngebales ninju. Temen-temen segengnya malah ikut-ikutan mukul aku. Ketauan kan, kalo orang-orang di Lamia Gakuen tuh, bandel-bandel!" cerita Natsu dengan menggebu-gebu. Kemudian, dia menyuapkan sesumpit ramen ke dalam mulutnya.
Lucy mengangguk-angguk. "Pantesan kamu pindah ke sini. Oh iya, aku mau nanya-"
"Mau nanya apa, Lucy?" Sebuah suara tiba-tiba muncul di belakang Lucy. Tangan orang itu menepuk pundak Lucy, lalu menggenggamnya keras.
Lucy hafal suara ini. Perlahan-lahan, dengan gemetaran, ditengokkannya kepalanya ke belakang. Di belakangnya, berdiri seorang pemuda berambut biru dongker yang sedang menatapnya dengan tatapan marah, kesal sekali (eh, sama aja, ya?).
"G-Graay…," gumam Lucy dengan lirih. Dia ketakutan melihat wajah pemuda biru dongker itu. Begitu menyeramkan.
"Eh, lu kan yang dulu sekolah di Lamia Gakuen! Kenapa lu jadi pindah ke sini, Gray?!" tanya Natsu kasar.
"Hah? Mau pindah ke sekolah mana, itu kan suka-suka gue!" jawab Gray yang sekarang beralih ke Natsu.
"Lu ngapain ngikut-ngikut gue pindah ke sini!?" tanya Natsu sewot.
"Siapa juga yang ngikut lu pindah ke sini? Gue pindah ke sini, karena menuruti kata hati sendiri! (A/N: Apa maksudnya, Gray? -_-")" jawab Gray. "Lu sendiri ngapain pindah ke sini?"
"Gue cuma pengen ketemu Lucy aja, kok! Gue kangen sama dia, soalnya dulu, gue tinggal di Kota Clover, sedangkan Lucy tinggal di Kota Magnolia. Kan jauh tuh, jaraknya. Nah, gue kangen sama dia. Jadi… blablablablabla…"
Lucy yang mendengarnya hanya menutup telinga. Karena kesabarannya sepertinya sudah habis, dia langsung berteriak, "DIAAAAAAAMMM!"
Seketika, semua orang yang ada di kantin pun terdiam, memandangi Lucy, termasuk Natsu dan Gray.
LUCY POV
Tiba-tiba, Gray menatapku tajam. "Lucy, kenapa kamu nggak bilang-bilang ke aku kalo kamu mau makan bareng dia?! Kamu sudah duluan janjian mau makan siang bareng dia?" tanya Gray sambil menunjuk Natsu tepat di depan hidungnya.
Melihat tampang Gray yang sekarang seram sekali, aku jadi gugup untuk menjawabnya.
"Jawab!" seru Gray sambil menggebrak meja. Sepertinya dia sangat marah padaku.
Aku tersentak ketika Gray menggebrak meja, begitu juga Natsu. Perlahan, sebutir air mata ke luar dari sudut kedua bola mataku. Aku sangat benci dimarahi, apalagi dimarahi seperti ini. Membuatku ingin menangis.
"Eh, lu jangan kasar-kasar gitu sama Lucy, dong! Kasian, tuh! Terus, apa-apaan lu pake nunjuk-nunjuk hidung gue!" kata Natsu sambil berdiri di depanku, seperti melindungiku. "Asal lu tahu aja, dia tuh, paling benci kalo lagi dimarahin kayak gini! Kalo dia lagi dimarahin kayak gini, dia bakalan nangis," lanjut Natsu dengan tegas.
Kuangkat kepalaku, menatap punggung Natsu. Natsu berbalik ke belakang, menatapku. "Tuh, lihat! Dia nangis gara-gara lo marahin dia!" ketus Natsu menyalahkan Gray. "Luce, kamu nggak apa-apa, kan? Udah, jangan nangis," hibur Natsu sambil menghapus air mataku yang sempat menitik.
Kugelengkan kepalaku. "Unn (tidak). Watashi, daijoubu desu," kataku sambil menggeleng. Agar Natsu percaya padaku kalau aku baik-baik saja, kusunggingkan senyuman di bibirku.
Gray menatap kami dengan sinis. Dia hanya mendengus kesal, lalu beranjak pergi dari situ. Aku hanya memandang Gray dengan perasaan merasa bersalah. Sangat bersalah. "Gomen ne, Gray…," bisikku dengan lirih.
"Ngapain kamu minta maaf ke orang kayak dia?" tanya Natsu ketus.
"Ha-habisnya…," aku kebingungan mau menjawab apa.
"Ya sudah. Balik ke kelas, yuk," kata Natsu sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Aku mengangguk. Kubereskan kotak makanku. Setelah membereskan kotak makanku, aku dan Natsu segera berjalan ke kelas, karena 3 menit lagi, bel masuk kelas akan berbunyi. Jadi, kami cepat-cepat masuk kelas.
NORMAL POV
Ketika Lucy dan Natsu sudah sampai di dalam kelas, mereka segera duduk di bangku masing-masing. Lucy yang anaknya rajin langsung menyiapkan buku pelajaran untuk pelajaran selanjutnya. Sedangkan Natsu yang anaknya terkenal malas tidak menyiapkan buku pelajaran seperti Lucy. Dia malah ngobrol sama anak cowok lainnya. Hitung-hitung mencari teman, pikirnya. Masa', temannya hanya Lucy?
Lucy menatap bangku kosong yang ada di depannya. Itu adalah bangku Gray. Ke mana anak itu sekarang? Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, masa' dia masih berkeliaran di luar kelas? batin Lucy. Rasa khawatir muncul sedikit demi sedikit dalam benaknya.
"Ah, lupakan saja anak itu! Kenapa aku begitu peduli sama dia?" gumam Lucy berusaha untuk melupakan keberadaan Gray. Tetapi, tetap tidak bisa.
"Lucy!" panggil Erza seraya berlari ke arah Lucy.
"Apa?" sahut Lucy.
"Si anak baru mana?" tanya Erza.
"Anak baru, siapa? Natsu maksudmu?" Lucy malah balas tanya, bukannya ngejawab pertanyaan Erza.
"Ya elah, bukan itu! Maksudku, anak baru yang baru dateng itu, lho! Siapa sih, namanya… susah banget…," Erza berusaha mengingat-ingat kembali nama anak yang dia cari-cari.
"Ooh, Gray Fullbuster?" kata Lucy.
"Iya, iya itu maksudku! Anak itu mana?" tanya Erza.
"Aku saja nggak tahu dia kemana! Tanya yang lain aja, Za," jawab Lucy sambil mengangkat bahunya. "Emangnya kamu mau ngapain nyari dia?" tanya Lucy.
"Ini, tadi aku nemu kotak makannya di kantin. Kayaknya sih, ketinggalan. Makanya, mau kubalikin. Tapi, pas kucari-cari, gak ada. Karena itu aku nanya kamu, Lucy. Kamu kan udah akrab duluan ama dia," jelas Erza sambil menunjukkan kotak makan Gray yang ketinggalan di kantin.
"Nama lu Erza, kan?" Tiba-tiba, Natsu berdiri di belakang Erza, membuat Erza kaget setengah hidup (?).
"Iya," jawab Erza. "Napa?" tanyanya kemudian sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Natsu.
"Gak, gak apa-apa. Gua cuma nanya doang," kata Natsu sambil ngeloyor pergi.
"Eeeeh, tunggu dulu! Lu ngeliat yang namanya Gray Fullbuster, gak?" tanya Erza sambil menepuk pundak Natsu.
"Hah? Gray? Gak ngeliat, tuh. Tapi, biasanya dia suka menyendiri gitu, di tempat yang sepi," jawab Natsu dengan nada cuek, tidak peduli.
"Tempat sepi tu dimana?!" tanya Erza dengan nada meninggi sambil mengguncang-guncangkan tubuh Natsu, sampai Natsu pusing.
"Ya cari aja tempat yang jarang dikunjungi orang di sekolah ini! Lu kan udah lama sekolah di sini, sedangkan gua masih baru di sini! Gua yakin, sekolah yang segede gini pasti ada tempat yang jarang atau bahkan nggak pernah dikunjungi orang!" jawab Natsu cepat.
Erza diam, tidak mengguncang-guncangkan tubuh Natsu lagi. "Udah, Za. Taruh aja kotak bekal Gray di mejanya. Kalo kamu ntar nyari-nyari Gray, kamu bakalan ketinggalan pelajaran," kata Lucy angkat bicara sambil menunjuk bangku Gray yang tepat berada di depannya.
Erza mengangguk. Diletakkannya kotak bekal Gray di mejanya yang berada di depan Lucy. Tiba-tiba, Aries-sensei, guru pengurus administrasi sekolah, pun masuk. Semua anak kelas langsung grasak-grusuk (?) mencari tempat duduk, termasuk Erza dan Natsu.
"Minna, anou… saya ke sini mau mengabarkan sesuatu. Etto…, guru untuk pelajaran selanjutnya hari ini tidak masuk…. Ta-tapi…, beliau memberi tugas kepada kalian semua untuk…," Aries-sensei mengambil jeda. Dia mengambil kapur papan tulis di meja guru, lalu menuliskan tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak. "… mengerjakan buku paket halaman 60 sampai halaman 70. Semuanya harus dikerjakan. Kalau hanya bacaan, tidak usah dikerjakan, dibaca saja (ya iyalah?). Anou…, semuanya dikerjakan langsung di buku paket," lanjutnya sambil meletakkan kapur ke tempat semula.
"Haaaai, Sensei!" seru murid-murid secara serempak.
"Tolong dikerjakan, ya. Baiklah, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu kalian…," pamit Aries-sensei seraya berjalan ke luar kelas.
"Sensei!" panggil Lisanna sambil mengacungkan tangannya. Aries-sensei berhenti melangkah. Beliau menengokkan kepalanya ke arah Lisanna yang masih mengacungkan tangannya.
"Tugasnya dikumpulkan, nggak?!" tanya Lisanna dengan lantang.
"Iya, dikumpul. Dikumpulnya ke Ketua Kelas saja. Nanti, Ketua Kelas yang akan membawanya ke ruang guru," jawab Aries-sensei dengan suara yang super lembut. "Nah, Ketua Kelas! Nanti, kalau sudah selesai semua, tolong bawa ke ruang guru, ya," kata Aries-sensei.
Jellal selaku ketua kelas mengangguk. "Baiklah, saya permisi dulu," pamit Aries-sensei seraya melanjutkan langkahnya ke luar kelas.
Si ketua kelas berdiri dari duduknya, membuat perhatian seluruh murid tertuju ke arahnya yang sekarang sedang berdiri sendiri. "Eh, kerjain tugas yang tadi dikasih, ya! Jangan pada ribut! Awas kalo pada ribut semua!" seru ketua kelas dengan lantang.
"Iya, iyaaaa!" sahut semua murid.
Jellal hanya mengangguk. Dia lalu berjalan ke luar kelas. "Eh, eh! Jellal, lu mau ke mana!? Jangan bilang kalo lu mau kabur, males ngerjain tugas!" tanya Erza.
"Kagak lah! Gua gak mau kabur, kok. Masa ketua kelas males ngerjain tugas?" sanggah Jellal. "Gua cuma mau ke toilet, kok. Dari tadi, gua sakit perut," jawab Jellal sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
Erza hany ber-'oh'-ria. Jellal tidak menjawab apa-apa. Dia berjalan ke luar kelas, lalu berlari ke arah toilet karena dia sudah tidak tahan dengan sakit perutnya.
Tapi, bukannya mengerjakan, murid-murid pada asyik mengobrol. Tugas yang diberikan diabaikan begitu saja. Mereka sudah membuka buku paket mereka halaman 60, tapi tidak dikerjakan. Hanya dibuka, soal-soal di situ tidak mereka kerjakan. Paling-paling, yang mengerjakan itu tugas hanya beberapa orang yang niat belajar (?), yaitu Levy, Lucy, Mirajane, Sting (tumben rajin?), dan Meredy. Sisanya tidak mengerjakan.
"Luuucee! Liat nih, aku berhasil membuat Menara Eiffel dari karet!" seru Natsu sambil menunjukkan kepada Lucy Menara Eiffel dari karet yang berhasil dia buat.
"Kamu jangan teriak-teriak gitu, dong. Kita ini sebelahan, jadi gak usah pake teriak-teriak," kata Lucy sambil menghentikan sebentar mengerjakan soalnya. Pandangannya beralih ke arah Natsu. "Waaah, kamu jago banget bikin Menara Eiffel dari karet!" pujinya. "Eh, tapi sejak kapan kamu suka main-mainan karet?" tanyanya kemudian.
"Nggak tahu juga, sih. Mungkin, tiba-tiba aja suka main-mainan karet," jawab Natsu sambil mengedikkan bahunya, pertanda tidak tahu. "Ntar, liat aja nih. Aku bakal bikin apa lagi," kata Natsu sambil membongkar lagi Menara Eiffel-nya.
Lucy hanya tersenyum. "Eh, Luce. Nanti, kamu mau pulang bareng aku, nggak?" tawar Natsu.
"Mau. Tapi, ntar mampir ke toko buku dulu, ya. Kata Levy-chan, ada novel baru di sana. Katanya sih, bagus banget. Makanya, aku pengen beli," kata Lucy.
"Okeee…! Terus, nanti kita istirahat di kafe dekat toko buku situ. Gimana?" usul Natsu dengan semangat.
"Boleh, boleh! Nanti, ya," kata Lucy setuju. Kemudian, dia melanjutkan kembali mengerjakan tugas yang tadi dia hentikan sebentar.
LUCY POV
GREEEEK!
Pintu kelas digeser dengan kencang. Di ambang pintu, berdiri sesosok pria berambut biru kehitaman dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya. Wajahnya terlihat masam.
"Itu Gray!" seru Mirajane. "Gray, kamu ke mana saja, sih?! Tuh, ada tugas dari Aries-sensei. Kerjain, ya," kata Mirajane sambil menunjuk papan tulis.
Gray cuma mengangguk. Dia berjalan ke arah bangkunya. "Gray kelihatannya marah banget, ya?" bisik Levy kepadaku.
"Mukanya emang selalu begitu, kok," bisikku. Tiba-tiba saja, aku bisa merasakan wajahku memerah ketika melihat keadaan Gray sekarang. Murid-murid sekelas tertawa semua sambil menunjuk Gray.
"Kenapa sih, semuanya pada ketawa?" tanya Gray padaku. "Lho? Kamu kenapa, Lucy?" tanyanya lagi, melihat wajahku yang memerah.
"G-Graaay… ba-bajumu…," jawabku sambil menunjuk tubuh Gray yang sekarang tidak dibalut seragam lagi.
Gray melihat ke bawah. "Gyaaaaaaa! Baju gueeee! Baju gue ilaaaang!" jerit Gray terkejut. Semua pada sweatdrop melihat Gray kelabakan mencari bajunya yang hilang. Malah dia yang paling kaget.
Natsu cuma ketawa terbahak-bahak. Kutatap Natsu dengan tatapan heran. "Natsu, bajunya Gray kok bisa ilang, sih? Padahal, tadinya kan dia lagi pake baju," tanyaku.
"Gray emang gitu, kok! Dia tuh, stripper. Dia punya hobi aneh, yaitu suka melepas bajunya. Tapi, pas ngelepas bajunya, dia nggak nyadar. Tuh stripper emang gak tahu malu, sih. Dia asal ngelepas bajunya, nggak kenal tempat," jelas Natsu sambil tertawa.
Akhirnya, tak lama kemudian, Gray menemukan bajunya. Dipakainya lagi itu baju. Setelah memakai bajunya, dia duduk di bangkunya, lalu mengerjakan tugas yang diberikan. "Gray, kamu ke mana aja, sih?" tanyaku.
"Rahasia," jawab Gray sok rahasia.
Aku langsung cemberut. Lalu, kukerjakan tugasku lagi.
.
.
"Luceeee! Ayo pulaaang!" ajak Natsu sambil melambaikan tangannya.
"Iya, sebentar," kataku kepada Natsu yang sudah berdiri di ambang pintu kelas. "Nah, ayo," kataku sambil berjalan ke arah Natsu.
Tiba-tiba…
TO BE CONTINUED
Ya ampun, gara-gara mau makan siang bareng Lucy aja sampe bertengkar kayak gitu... _ _"
Maaf ya, akhir-akhirnya jadi jelek. Nah, jadi udah ketauan kan, Lucy pilih siapa? :3 Bagi yang penasaran, rasa penasaran kalian akhirnya terjawab…. ;) Oh iya, ini chapter lebih panjang dari chapter yang lain. Soalnya, selama ini, chapter lainnya kok kayaknya pendek-pendek amat, makanya Nanako mau bikin yang panjang. :3
Okay, mari kita balas review…:
pida-chan: Arigato sudah me-review lagi! Makasih sudah mau menunggu kelanjutannya! :D
nabillaputri86: Sekarang, rasa penasaran nabillaputri86 (boleh kupanggil gitu?) sudah terjawab! Makasih udah nge-review. :D
Chiaki Heartfilia: Chi-chaaan! #PLAAK! Milih siapa? Itu udah dijawab di chapter ini. Lucy bisa lupa sama Gray, karena… mungkin dia kena penyakit amnesia…. #digamparlucy# Makasih ya, dah nge-review. Review lagi, doong… *maksa* #plaaak!
karinalu: Halllow juga, Karin-san (boleh kan kupanggil gitu?)! Tentu saja boleh manggil aku Nanako-chan! Itu kan terserah Karin-san! :D Karin-san mau nalu kan? Oke, permintaan Karin-san sudah kukabulkan! *hah?* Nggak tau Nanako kena penyakit apa, karena biasanya (?), kalo lagi pilih-pilihan kayak gini, Lucy kupilihin sama Gray. Tapi, ini malah Nanako pilihin sama Natsu. (Maaf kalo nggak ngerti maksudnya. Nanako memang agak susah merangkai kata-kata). Arigato sudah me-review! Review lagi, ya! *maksa lagi* #plaak!
Penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Tunggu aja chapter selanjutnya, ya. ;D
Biar chapter selanjutnya update-nya cepet, makanya… REVIEW! ^^
