Kon'nichiwa! Author balik lagi! Maaf ya, tentang sekolah Gray. Di chap sebelumnya, Gray bilang kalo dia sekolah di Lamia Gakuen, padahal dia sekolah di Phantom Gakuen. Sori dori mori, ya. Aslinya, Gray dan Juvia sekolah di Lamia Gakuen, bareng Natsu. Sorry banget yaaa…. Author baru nyadar. Kayaknya readers gak ada yang nyadar juga #dikeroyok
Haik, ga usah basa-basi lagi, ntar malah tambah basi *lho?*. Silakan menikmati kelanjutan cerita author…
Pairing: Gray F. & Lucy H.
Genre: Romance, School Life
Disclaimer: Bukan milik author. Jika milik author, adegan GrayLu, NaLi, dan LyVia dibanyakin! Huehuehue #duagh!
Hope you like it!
.
LUCY POV
Ketika aku siap-siap pulang bareng Natsu, tiba-tiba saja, tanganku dicengkeram oleh seseorang dari belakang. Siapa yang mencengkeram tanganku, nih? Sakit sekali. Entah kenapa, seketika itu juga, pikiranku mengatakan bahwa Gray Fullbuster adalah orang yang mencengkeram tanganku.
Ternyata, apa yang kupikirkan salah. Bukan Gray yang mencengkeram tanganku.
"Lu-chan!" panggil seorang gadis berambut biru muda yang tubuhnya lebih pendek dariku. Levy McGarden.
"Ah, Levy-chan!" sahutku sambil tersenyum girang kepadanya.
"Mau mampir ke rumahku nggak? Ada novel baru, lho. Jadi, kita gak usah pergi ke toko buku. Ke rumahku aja," tawar Levy. "Tentu saja bareng Erza, Lisanna, Gray, dan Natsu juga!" lanjutnya dengan nada lebih ceria.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk. "Un!"
~:But, I Love You!:~
"Ini dia novelnya!" seru Levy sambil meletakkan tumpukan novel miliknya di depanku.
Mataku berbinar-binar melihat tumpukan benda yang selalu kubawa ke mana-mana itu. Yap, novel! "Banyak sekali, Levy-chan!" komentarku. "Kapan kamu beli tumpukan novel ini?!" tanyaku sambil meraih salah satu buku di tumpukan paling atas dan membuka halaman demi halaman buku tersebut.
"Minggu lalu, bareng Erza," jawab Levy.
"Levy, ada komik nggak di sini?" tanya Natsu sambil melihat-lihat rak buku Levy yang penuh dengan novel.
"Tentu saja ada! Selain suka baca novel, aku juga suka baca komik," jawab Levy seraya membuka salah satu rak yang terletak di bagian bawah rak bukunya. "Tuh, banyak kan? Kamu boleh pinjam komikku, kok," kata Levy.
"Tak disangka, kamu punya banyak komik shounen, ya," komentar Lisanna yang ikut-ikutan melihat koleksi komik Levy yang lumayan banyak.
"Hehehe… aku juga punya komik shoujo, tapi nggak terlalu banyak. Aku nggak terlalu suka dengan komik seperti itu," jelas Levy. "Oh iya, aku mau ke dapur dulu, ya. Silakan kalian baca-baca dulu buku punyaku," katanya kemudian seraya berjalan ke luar kamar.
Aku mengambil salah satu novel di antara tumpukan novel Levy-chan di depanku. Erza juga mengambil salah satu novel di rak buku Levy. "Erza, tumben kamu hobi baca novel? Sejak kapan?" tanyaku sambil memandang gadis bersurai scarlet itu.
"Iya. Entah sejak kapan, aku jadi suka baca novel. Yang pasti, ini semua gara-gara Levy," jawab Erza sambil tersenyum.
Kami semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Natsu dan Lisanna membaca komik bersama-sama (Lisanna memang pecinta manga), Erza dan aku membaca novel, dan… ke mana Gray?
Aku tidak melihat Gray dari tadi. Ke mana anak itu? Kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut kamar Levy. Sosok lelaki berambut hitam kebiruan itu (kebalik nggak?) tidak ada di penjuru kamar sahabatku.
"Perasaan tadi dia ikut, deh," gumamku.
"Hm? Siapa, Lucy?" tanya Lisanna.
"Gray," jawabku. "Aku mau mencari dia dulu," lanjutku sambil mengambil satu komik shounen dari rak buku Levy dan novel yang tadi kubaca. Mungkin, Gray itu tipe orang yang suka dengan manga, sama seperti Natsu dan Lisanna. Lalu, aku ke luar dari kamar Levy.
.
Aku sudah mencari ke seluruh sudut di halaman rumah Levy yang lumayan luas itu, tapi tetap sosok yang kucari-cari tidak kutemukan.
"Lucy?" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang memanggil namaku.
Spontan, aku menengok ke arah sumber suara, dan saat itulah aku menemukan sesosok lelaki berambut raven berdiri tegak di belakangku. "Kamu mencari siapa?" tanya sosok yang kucari-cari daritadi, Gray Fullbuster.
"Gray!" seruku sambil tersenyum senang karena sosok yang kucari-cari sudah ditemukan.
"Kamu ini dari mana saja, sih? Kok tiba-tiba saja menghilang…. Kenapa nggak masuk aja ke dalam rumah Levy-chan?" tanyaku dengan nada sedikit mengomel.
"A-aku… masih belum terbiasa dengan yang lainnya…," jawab Gray.
Aku tersenyum. "Masuk, yuk! Udah, nggak apa-apa! Ada aku, kok!" kataku sambil menggenggam tangan Gray dan mengajaknya masuk. Tapi, Gray hanya diam di tempat, tidak menapakkan kaki selangkah pun.
"Kenapa?" tanyaku.
"Buku apa itu, Lucy?" Bukannya menjawab, pemuda berambut biru kehitaman itu balas tanya, sambil menunjuk dua buku yang kugenggam.
"Oh, ini? Ini ada komik sama novel," jawabku sambil menunjukkan kepada Gray komik Levy-chan. "Kalau kamu nggak mau masuk ke dalam, gimana kalau kita berdua baca aja di sini?" usulku.
Gray mengangguk, menyetujui usulku. Kami berdua pun berjalan ke pojokan halaman belakang rumah Levy, lalu duduk berdampingan sambil bersandar di pagar rumah Levy. Aku memberikannya buku komik shounen untuk dibacanya. Setelah itu, kubuka sampul novel Levy-chan dan kubuka halaman pertama dari cerita novel tersebut.
NORMAL POV
"He?"
"Ada apa, Levy?" tanggap Lisanna melihat tampang Levy yang terlihat heran, seperti kehilangan sesuatu.
"Mana Lu-chan? Kok nggak ada? Apa dia pulang?" tanya Levy bertubi-tubi sambil meletakkan nampan berisi enam gelas teh, empat kue chiffon rasa vanila, dan sebuah kotak yang berisi dua kue chiffon di lantai kamarnya.
"Barusan dia ke luar. Katanya, mau mencari Gray," jawab Natsu.
Levy mengangguk kecil. Dia pun duduk menghadap nampan yang dibawanya tadi. "Begitu, ya…. Padahal aku sudah buatin chiffon vanila buat dia, lho," gumam Levy dengan sedikit desahan nafas.
"Hei, apa chiffon ini boleh kumakan?" tanya Natsu sambil menunjuk chiffon buatan Levy.
"Oh, iya! Boleh, kok," jawab Levy mengizinkan. Natsu tersenyum lebar. Dia langsung mengambil satu chiffon dan memasukkannya ke dalam mulut setelah mengucapkan itadakimasu.
~:But, I Love You!:~
Angin semilir membelai rambut pirang dan rambut biru kehitaman milik dua orang yang sedang membaca buku di halaman belakang rumah temannya. Tak hanya membelai, angin itu juga memaksa buku yang mereka baca untuk membuka halaman selanjutnya.
Suasana pada saat itu memang menenangkan. Membaca buku ditemani dengan angin yang bertiup pelan, membisikkan beberapa kata ke telinga seorang gadis dan seorang pemuda. Ditambah dengan suara air mancur yang mengalir deras di kolam ikan yang terletak di hadapan dua pelajar ini. Suara gemerisik dedaunan pada dua pohon di situ pun terdengar akibat angin, dan akibatnya beberapa daun terlepas dari rantingnya, mengayun-ayun ke bawah dengan perlahan, dan akhirnya jatuh mengambang di kolam ikan.
Suasana yang menenangkan begini membuat Lucy ingin tertidur. Tetapi, gadis berambut pirang ini menahan matanya agar tidak tertutup. Sebagai gantinya, mulut gadis tersebut terbuka lebar. "Huaaaaahhmm…," Lucy menguap sambil meletakkan telapak tangannya di depan mulutnya. Kedua sudut matanya mengeluarkan sebuah butiran air. (kalau menguap, biasanya ada air-air gitu kan di mata?)
Aduh, ngantuk banget, nih! Biasanya, abis pulang sekolah, aku nggak ngantuk, lho. Tapi, kenapa sekarang malah ngantuk banget? batin Lucy sambil tetap menguap.
"Gray, kayaknya kamu serius banget baca komik itu, ya…," komentar Lucy sambil melirik Gray yang sedang membaca komik. "Kamu suka komik begituan? Itu komik genre action, kan?" tanyanya.
"Sebenarnya sih, aku nggak terlalu suka sama komik beginian. Tapi, karena kamu sudah membawakannya untukku, jadi aku baca aja," jawab Gray sambil tersenyum tulus kepada Lucy.
Entah kenapa, Lucy merasa, kalimat Gray barusan membuatnya berpikir, bahwa Gray membaca komik itu demi dirinya. Lucy tahu kalau pemikiran seperti itu pasti tidak benar. Tapi, lagi-lagi dan entah kenapa, Lucy merasa bahwa itu benar.
Angin kembali bertiup pelan, menghipnotis gadis bermata cokelat caramel agar segera tidur. Lucy pun menguap lagi. Kali ini, mulutnya terbuka lebih lebar daripada yang sebelumnya.
"Kayaknya kamu ngantuk banget, ya?" tanya Gray yang melihat Lucy menguap barusan untuk kedua kalinya.
"Iya, nih. Nggak tahu kenapa. Biasanya, abis pulang sekolah, aku nggak sengantuk ini, lho," jawab Lucy sambil mengucek matanya agar tetap terbuka.
"Kalau begitu, ayo kita pulang. Lagipula, sudah mau mal-"
Kalimat Gray langsung terputus ketika dirinya merasakan beberapa helai rambut menyentuh pundaknya dengan perlahan. Pemuda tersebut terkejut melihat gadis bermarga Heartfilia itu tertidur. Kepalanya diletakkannya ke pundak Gray.
"Lu-Lucy?!" seru Gray terkejut dengan wajah sedikit memerah. Tetapi, saat pemuda itu sedikit berteriak, Lucy tetap tidak terbangun. Tampaknya, dia sudah tertidur pulas, terbukti dari suara dengkuran yang terlontar dari bibirnya.
A-aku benar-benar nggak ngerti! Kenapa jadi begini? batin Gray agak panik. Jantungnya berdegup melebihi batasnya, ketika dia melihat wajah gadis di sampingnya yang sedang tertidur. Begitu manis.
Apa kubawa pulang ke rumah saja, ya? Tapi, aku nggak tahu rumahnya di mana.
Setelah berpikir cukup lama, Gray memutuskan untuk menanyakannya langsung kepada Levy. Dengan perlahan, dia meletakkan kepala Lucy di atas rerumputan. Kemudian, Gray masuk ke dalam kamar Levy.
.
"Eh? Alamat rumah Lu-chan?" kata Levy.
"Iya. A-aku mau mengantar dia ke rumahnya. Ba-barusan tadi dia tertidur," sahut Gray.
"Oh, begitu. Tunggu sebentar," pinta Levy sambil bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju meja belajarnya. Dirobeknya kertas dari buku tulisnya, dan tangannya meraih pulpen, menggoreskan sesuatu di kertas tersebut.
Setelah selesai menulis, Levy menyodorkan kertas kecil tersebut kepada Gray. "Ini alamat rumah Lu-chan," katanya. "Kalau kamu mau pulang sekalian, pulang saja. Kalau masih ingin menemani Natsu di sini juga nggak apa-apa," lanjut Levy.
"Baiklah. Sankyuu na," ucap Gray sambil menggenggam erat kertas berisikan alamat rumah Lucy dan berjalan ke luar kamar Levy.
"Ch-chotto matte!" cegah gadis berambut biru muda itu. Gray menengok ke arah gadis tersebut. Gadis bermarga McGarden itu memberikan sekotak yang berisi dua buah chiffon vanila kepadanya.
"I-ini untuk Lu-chan. Dia suka banget sama chiffon buatanku. Di dalamnya, ada dua buah. Satunya lagi untuk kamu," jelas Levy.
"Kenapa cuma punyaku dan Lucy saja yang dimasukkan ke dalam kotak? Kenapa yang lainnya tidak?" tanya Gray setelah melihat kamar Levy yang penuh dengan piring kertas bekas chiffon buatan Levy.
"Karena... kalian berdua itu spesial. Lu-chan adalah sahabat terbaikku. Karena itu, sebagai hadiah untuk persahabatan kami, aku menghadiahkannya chiffon buatanku. Kebetulan dia suka. Kalau kamu Gray…, kamu adalah teman baru kami. Jadi… sebagai ucapan 'selamat datang' aku memberikanmu chiffon juga. Semoga kamu suka, ya," jelas Levy sekali lagi.
Gray mengangguk pelan. "Ah, aku harus mengantarkan Lucy sekarang! Terima kasih sudah memberikanku alamat rumah Lucy dan chiffon-nya ya, Levy. Sampai jumpa besok," pamit Gray sambil berjalan ke luar kamar Levy dengan melambaikan tangan.
Levy membalas lambaian tangan Gray sambil tersenyum tulus.
~:But, I Love You!:~
Blugh!
Gray meletakkan Lucy di tempat tidurnya dengan perlahan agar gadis tersebut tidak terbangun.
"Maaf ya, Gray, sudah merepotkanmu," ucap Layla Heartfilia, ibu Lucy.
"Nggak kok, nggak merepotkan, Tante. Cuma mengantarkan Lucy pulang saja, kok," sanggah Gray dengan nada sopan.
"Laylaaa! Ayo cepat kita pergi! Nanti kita ketinggalan pesawat, lho!" Terdengar suara teriakan suami Layla, Jude Heartfilia, dari lantai satu, di bawah kamar Lucy yang berada di lantai dua.
"Ah, Tante harus pergi. Terima kasih sudah membawa Lucy ke sini ya, Gray," ucap Layla sambil berjalan menuruni tangga terburu-buru.
Gray mengangguk. Namun, entah ada apa, Layla berlari menghampiri Gray kembali, seperti ingin mengatakan sesuatu yang hampir saja terlupakan (Yuzu: Emang iya, Author! Emangnya mau apa lagi?!).
"Maaf, bisakah kamu menjaga Lucy sebentar sampai dia bangun? Kalau baru bangun tidur dan tidak ada orang di rumah, anak itu langsung berteriak-teriak ketakutan," pinta Layla. "Mau, ya? Tapi, kalau kamu nggak mau, ya sudah. Nanti, akan Tante panggil kerabat Lucy, Michelle Lobster," lanjut beliau.
"Iya, saya mau, Tante," jawab Gray sambil mengangguk.
"Tante serahkan padamu," kata Layla sambil tersenyum. Beliau pun menuruni tangga dan berlari ke luar rumah, dimana Jude menunggunya.
"Itekimasu," ucap Layla, lalu menutup pintu rumah.
Sekarang, hanya Gray dan Lucy yang ada di dalam kediaman Heartfilia itu. Gray berjalan ke dalam kamar Lucy.
Di dalam kamar Lucy, Gray hanya duduk bersila di samping Lucy yang sedang tertidur lelap. Dia menunggu Lucy bangun. Jika Lucy sudah bangun, dia langsung pamit, karena dia merasa tidak sopan jika berlama-lama di rumah orang.
.
"Mmmh…," Gadis bersurai pirang yang sedang tertidur membuka matanya perlahan dengan sedikit melenguh. Setelah mengerjap-ngerjapkan matanya agar pandangannya jernih kembali, dia bangkit dari tidurnya.
Tetapi, ketika Lucy bangkit dari tidurnya, dia merasa ada yang menggenggam tangannya, seolah tidak mau melepaskan Lucy ke mana pun gadis itu ingin pergi. Genggaman yang terasa lembut itu menyebabkan gadis bermarga Heartfilia menoleh ke sampingnya. Di sampingnya, seorang lelaki dengan baju seragam yang tidak terkancing tertidur sambil menggenggam tangan Lucy.
"G-Gray?!" kata Lucy sedikit berteriak dengan wajah yang agak merona.
Walaupun Lucy sedikit berteriak, kedua mata Gray tidak terbuka samasekali. Dengkuran mulai terlontar dari bibir Gray.
Lucy menatap wajah lelaki itu lekat-lekat. Dia tersenyum melihat wajah teman yang menunggunya di sampingnya. "Kalau sedang tertidur begini, wajahnya manis sekali," gumamnya sambil tertawa kecil.
"Tapi, dia ngapain di sini?" gumamnya lagi sambil menatap Gray yang sedang tidur dengan heran. Seketika, wajahnya memerah.
Be-berarti, dari tadi, dia menungguku bangun, dong?! serunya dengan detak jantung yang tak karuan.
"Luuucyy…."
Tiba-tiba, bibir pemuda bermarga Fullbuster itu melontarkan nama gadis bermata cokelat caramel dengan lirih. Yang dipanggil menengok ke arah lelaki yang memanggil namanya dengan mata masih terkatup rapat.
"Aku…."
Entah kenapa, jantung Lucy berdebar melebihi batasnya. Wajahnya juga lebih memerah daripada yang sebelumnya. Gadis itu benar-benar penasaran dengan lanjutan kalimat Gray.
"Lucy, aku…."
TO BE CONTINUED
Huf, seperti biasa, ficnya pendek... :( Idenya gak dateng-dateng nih, jadinya terpaksa harus hiatus dulu. Setelah ini, author akan hiatus lagi, soalnya mau menghadapi sesuatu yang mengerikan... Ujian Akhir Semester! Doain biar author bisa ngerjain UAS dan dapet nilai bagus, ya. Author janji, abis UAS, author update lagi ficnya, itupun kalo lagi ada ide. #duagh
Ini balasan review:
pidachan99: Haaai, arigato ne, Pida-chan, untuk semangatnya! Hehe, Pida-chan gak bisa baca pikiran author ya? #ditendang, Author sengajain begitu biar greget (?) Mugi-mugi Pida-chan suka chapter ini, yak! X3
natpereira: Un, it's GrayLu! :)
mako-chan: Masa' sih? Padahal cuma chapter itu aja... #desh Arigato udah ngerepiu dan moga-moga Mako-chan suka chapter ini.
Lonelyperson23: Uumh... author usahain, ya, adegan GrayLu dibanyakin. Makasih atas sarannya, dan makasih udah ngereview!
Chiaki Heartfilia: Chi-chan, genki ka? Author kangen sama Chi-chan #plak! Makasih, Chi-chan, udah menyemangati author dari pujian Chi-chan! #GR (?) Semoga Chi-chan suka chapter ini, yak!
Chosaku-Ken: Chosaku-san, makasih udah ngereview! Iya, author sengajain begitu, biar greget *lu anaknya Mad Dog?!* Semoga Chosaku-san suka dengan lanjutannya, ya.
Maaf atas alur ceritanya yang berantakan, ceritanya dan bahasanya yang susah dimengerti, dan sebagainya (?). Author bener-bener kehabisan ide buat ngelanjutin ni fic!
Saigo no kotoba:
Review, onegaishimasu! :3
