Chapter 6

- Don't Share Your Smile –

Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Choi Siwon

Kyumin, Simin

Drama, Romance, Angst, Hurt/Comfort

Rating T

Typo(s), YAOI, Boy Boy, MPREG

All casts belong to themselves, I do not own them, but I own this story exactly. Yah, although my fic is not as great as another author's but the story originally come from my mind. So, do not try to say this fanfiction is yours!

Once again, DON'T LIKE DON'T READ!


.

.

.

.

.


"..pas.. lepas Cho Kyuhyun.. LEPAS! AKU BILANG LEPAS! SINGKIRKAN TANGANMU DARI TUBUHKU CHO! AKU BILANG LEPAS!" Sungmin berteriak sejadi-jadinya. Sedangkan Kyuhyun terdiam tak sempat berpikir akan begini reaksi Sungmin terhadap dirinya. Dan Kyuhyun pun hanya bisa meninggalkan Sungmin dalam keadaan seperti itu.

"Baiklah kalau itu maumu, Min. Kau makanlah, sudah kubawakan makan untukmu diatas meja nakas itu. Kalau kau ada perlu, panggil saja." Kyuhyun mencoba menatapnya, namun tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa sedih dan kecewa karena orang yang dicintainya tersebut tidak sedikitpun membalas tatapan matanya yang tulus itu. Ia pun segera keluar dari kamar.

Sungmin pun hanya menghadapkan kepalanya ke arah jendela keluar dari pandangan Kyuhyun untuknya. Ia tak sudi menatap mata itu. Mata yang sudah melihatnya penuh dengan nafsu. Mata yang sudah melihat sesuatu yang dimiliki Sungmin, yang mana hanya untuk orang yang dicintainya kelak. Ya.. Sungmin benci itu semua.

"Hiks.. maafkan aku Siwon-ah, aku tidak bisa menjaganya untukmu. Maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan.. Apa yang harus aku katakan padamu Wonnie-ah, aku tidak sanggup.. urgh.. eomma, bagaimana ini?! Aku bingung. Aku takut. Eomma.. Siwon.. "


.

.

.

.

.


Flashback ON


"Pagi eomma.. " sapa Sungmin kepada eomma-nya di ruang makan. Mrs. Lee pun hanya tersenyum melihat Sungmin dan segera beranjak dari tempat duduknya, mendekati Sungmin.

"Sungmin-ah.. sekarang kau sudah beranjak dewasa, sekarang pun kau sudah memasuki bangku SMA. Jadi sudah saatnya eomma katakan padamu Min-ah." Sungmin hanya melihat eomma-nya dengan tatapan bingung. "Eh? Memangnya apa yang ingin eomma katakan padaku?".

"Begini Min.. kau tau kan kalau eomma bukan orang biasa pada umumnya? Maksud eomma, eomma adalah seorang namja dan eomma bisa hamil," sembari ia gandeng tangan Sungmin untuk duduk di meja makan.

"Ne, memang kenapa kalau eomma bisa hamil? Apa itu melanggar dosa, eomma? Tenang saja eomma.. Sungmin tidak akan pernah malu kepada orang lain," serbu Sungmin kepada eomma-nya.

"Bukan Sungmin-ah.. Eomma tidak menyuruhmu untuk malu mengatakannya pada orang lain, hanya saja eomma ingin menitip pesan kepadamu, Min. Kau harus benar-benar menjaga apa yang kau punya Sungmin-ah. Kau harus menjaganya untuk orang yang benar-benar kau cintai kelak. Entah itu yeoja ataupun namja, Min. Eomma tidak akan pernah menyalahkanmu kalau kau kelak seperti eomma. Kau mau berjanji kan pada eomma, Min? Yakso?" eomma Sungmin pun menjulurkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kelingking Sungmin. Yah, memang terlihat childish. Namun, hal itu sudah biasa untuk keluarga Sungmin.

"N-Ne, eomma. Sungmin janji pada eomma," dikaitkannya kelingkingnya ke kelingking eomma-nya. "Aku tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah Tuhan titipkan padaku eomma," lanjut Sungmin mantap.

"Bagus.. oya, Sungmin-ah. Jangan lupa kau harus berpenampilan seperti yang eomma katakan kemarin malam, ne? Eomma tak ingin kau mengalami hal yang tidak-tidak, Min. Eomma pergi menjemput appa dulu, ne!" teriak eomma Sungmin setelah memberi kecupan pada anaknya tercinta. "Ne, eomma."

.

.

Diberitakan bahwa terjadi kecelakaan mobil yang terjadi di distrik G dan diperkirakan bahwa tidak ada korban yang selamat atas kejadian ini.


Flashback OFF


.

.

.


Sang mentari telah menampakkan sinarnya hingga tengah hari. Dan sampai siang hari, Sungmin masih tetap terduduk diam diatas ranjang empuk milik Cho Kyuhyun ini. Ia masih tetap termenung menatap ke arah depan, tanpa terlihat pasti sebenarnya apa yang Sungmin tatap. Dan Kyuhyun tadi pagi berpamit untuk pergi ke sekolah, yah.. walaupun Sungmin tidak meresponnya sama sekali.

Setelah beberapa jam terus berdiam diri, akhirnya Sungmin untuk pertama kalinya turun dari tempat tidur. Itu pun hanya untuk ke pergi ke kamar mandi yang masih tetap berada dalam satu kamar dengan kamar tidur. Dengan segera Sungmin melesat pergi ke kamar mandi.

"Haah.. haah.. haah.." terdengar deru napas Sungmin yang menggema di dalam kamar mandi. Sungmin pun merosot jatuh bersandar pada pintu kamar mandi sambil mencengkram erat kemeja, kemeja Kyuhyun, yang telah dipakaikan Kyuhyun untuknya. Deru napas Sungmin menggebu bukan karena ia mempunyai suatu penyakit yang berhubungan dengan jantungnya maupun bukan karena ia telah melesat ke kamar mandi dengan segera. Namun, semua itu karena begitu Sungmin memasuki kamar mandi, ia melihat pakaian seragamnya di sudut yang sudah bisa dibilang tak layak lagi disebut sebagai seragam sekolah. Terdapat robekan yang terlihat seperti paksaan di bagian kerah, kancing seragam yang sudah tidak menggantung lagi di tempatnya. Dan itulah yang membuat Sungmin bagaikan orang yang sedang dikejar sesuatu yang mengerikan.

"Haah.. haah.. tidak.. tidak.. ANDWAE!" teriak Sungmin sambil ia menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan ke kiri. Layaknya putaran film yang di-rewind, sekelebat bayangan Sungmin dan Kyuhyun saat sepulang sekolah berputar begitu saja di kepala Sungmin. "Andwae.. andwae..hiks."

Bagaikan orang yang tengah kesurupan, Sungmin segera melepas semua kain yang melekat di badannya. Ya, walaupun itu hanyalah kemeja –kebesaran- yang Kyuhyun pakaikan dan celana dalam. Dalam hitungan detik, semua kain tersebut telah jatuh ke lantai kamar mandi. Sungmin segera menuju ke bawah shower untuk menghidupkan krannya.

Aliran air mengguyur membasahi tubuh Lee Sungmin. Mulai dari rambut hingga mata kaki. Isakan tangis terdengar menggema di dalam ruangan tersebut. Diam.. Sungmin hanya diam saja membiarkan air mengalir membasahi tubuhnya. Untuk menghilangkan seluruh jejak nafsu yang sudah Kyuhyun tuangkan di tubuhnya. Namun apa daya, bahwa semua jejak tersebut Sungmin sadari tidak akan lepas dari tubuh maupun pikirannya. Dan Sungmin pun langsung saja menggosok-gosokkan tangannya ketempat dimana rasa jijik itu berada. Di leher, tangan, dada, perut bahkan sampai paha dalam. Tetapi tetap saja, semua itu tidak akan menghilang.

"Urrgh.. tidak bisa.. hiks.. tidak bisa, ini semua tidak akan bisa hilang. Kenapa kau melakukan hal ini kepadaku, Kyuhyun. Apa salahku.. urrgh.. sakit.." Sungmin pun membiarkan air mengalir membasahi tubuhnya disertai isakan tangis yang mengalir dari matanya. Ia tidak peduli lagi bila nantinya ia akan sakit ataupun ia akan mati kedinginan. Karena Sungmin sudah tidak tahu apalagi yang perlu ia pertahankan untuk menjalani kehidupannya.


.

.

.


'Haah.. mianhae Min, maafkan aku..'

Kyuhyun melajukan mobilnya menuju ke sekolah. Sekolah pun masih sepi dari murid-murid lainnya. Jika bukan karena Sungmin yang menolaknya di apartemen miliknya, ia tidak akan berangkat sepagi ini. Apa gunanya, sebagai seorang Cho, anak dari pengusaha ternama, berangkat pagi hanya untuk menempuh pelajaran yang bahkan sudah dikuasainya.

Setelah memasuki area parkir, Kyuhyun segera memakirkan mobil hitamnya. Dari awal berangkat sampai sekarang, dipikiran Kyuhyun hanya ada perasaan bersalahnya kepada Sungmin. Dia sama sekali tidak memikirkan apapun, bahkan dirinya sendiri. Tidak heran bahwa ia tadi hampir menyerempet mobil lain karena ketidakfokusannya tersebut.

Kyuhyun terus mengacak-acak rambutnya. Yah, walaupun hal tersebut tidak akan megurangi ketampanan dan auranya sebagai seorang Cho Kyuhyun. Kyuhyun bingung apakah ia harus meminta maaf pada Sungmin atau tidak. Karena Kyuhyun mempunyai harga diri yang tinggi, maka dari itu ia tidak terbiasa untuk meminta maaf pada siapapun. Lagipula kenapa ia meminta maaf? Toh, Sungmin nantinya akan menjadi miliknya.

Berjalan. Terus berjalan, dan akhirnya begitu keluar dari area parkir, ia berhenti di tikungan parkiran sekolah. Terlihat sebuah mobil silver menuju parkiran sekolah. Tetapi Kyuhyun terus berjalan tanpa peduli apapun yang melewatinya. Namun, setelah ia dapat dengan jelas melihat siapa yang ada didalamnya, Kyuhyun pun menyeringai.


.

.

.


Sedangkan di dalam mobil, Siwon terlihat bingung memikirkan sesuatu yang sejak kemarin mengganggunya. Sungmin. Ya, Lee Sungmin.

'Aneh.. kenapa daritadi Sungmin tidak menjawab teleponku. Sejak kemarin dia tidak mengabariku. Tadi juga ia tidak ada di apartemennya. Apa dia berangkat dulu, tanpa memberitahuku? Ya! Awas saja kau Lee Sungmin, akan aku sidang kau nanti di sekolah.'

"Eh? Bukankah itu Kyuhyun. Apa lebih baik aku tanya dia saja? Mungkin Kyuhyun tahu dimana Sungmin. Ah, tapi sudahlah. Kupikirkan nanti saja," monolog Siwon di dalam mobilnya, ketika melihat Kyuhyun. Ia tidak menyadari akan apa yang ada dipikiran Kyuhyun.


.

.

.


'Siwon.. Choi Siwon. Bisa kulihat raut wajahmu, haha. Apa kau mencari Minnie-mu—ah ani, Minnie-ku lebih tepatnya. Jangan harap kau bisa berdekatan dengannya lagi.'

"Hheh.. dan mianhae Minnie-ku sayang. Sepertinya aku tidak akan pernah menyesal telah membuatmu menjadi milikku. Tidak. Tidak akan. Ya, dan kau tidak akan pernah menjadi miliknya Min, kau hanya milikku seorang. Dan tinggal beberapa langkah lagi kau akan benar-benar menjadi milikku seutuhnya," desis Kyuhyun sambil mengeluarkan smartphone dari sakunya dan mengetikkan sesuatu. Kyuhyun tersenyum puas layaknya seorang pemburu yang berhasil menangkap mangsanya.

To. Minnie

Kau milikku, Min. Dan janganlah berharap bahwa pangeranmu akan datang merebutmu dariku.


.

.

.


Kyuhyun memasuki kelas dan pelajaran pun dimulai. Seperti biasa, Kyuhyun tidaklah terlalu memikirkan apa yang diterangkan oleh seonsaengnim di depan kelas. Yah, karena ia sudahlah cukup pintar untuk mengikuti itu semua.

Yang dipikirannya saat ini hanya ada Sungmin seorang. Ia masih bingung apakah lebih baik Kyuhyun meminta maaf atau tidak. Kyuhyun ingin sekali meminta maaf setelah melihat kondisi Sungmin yang telah ia perkosa tersebut. Namun, karena harga dirinya sebagai seorang Cho Kyuhyun, maka ia urungkan niat baiknya tersebut.


.

.

.


Setelah dirasanya sia-sia usahanya untuk menghilangkan jejak yang ditinggalkan Kyuhyun ditubuhnya, Sungmin pun akhirnya diam pasrah melihat bercak merah keunguan menjijikkan yang melekat ditubuhnya. Ia tidak peduli lagi dengan guyuran air yang terus mengalir membasahi tubuhnya. Ia juga tak peduli kalau nanti ia akan jatuh sakit.

Bayangan eomma-nya terpampang nyata dipikirannya. Bayangan eomma-nya yang mengingatkan dirinya untuk berhati-hati dan menjaga 'sesuatu' yang dimilikinya. Sungmin tahu semua. Tahu bahwa dirinya juga sama dengan eomma-nya. Tahu bahwa dirinya adalah salah satu dari sedikit namja spesial seperti eomma-nya. Ya, Sungmin tahu bahwa dirinya memiliki rahim dan bisa hamil. Karena eomma-nya lah yang telah memberitahunya sejak Sungmin lulus Junior High School.

Memang awalnya Sungmin juga kaget dengan apa yang diberitahukan eomma-nya kepadanya. Ia tidak mau menerima itu semua. Tapi setelah Mrs. Lee menjelaskan itu semua ke Sungmin, akhirnya Sungmin merelakan dan mengikhlaskan itu semua. Bahkan ia bersyukur bisa memiliki rahim. Namun, itu semua dirusak seketika dengan datangnya Kyuhyun dan apa yang telah Kyuhyun lakukan padanya.

Sungmin terdiam di kamar mandi. Menangis tanpa suara. Sungmin takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena sudah berakhirlah pertahanan Sungmin untuk menjaga 'sesuatu' dengan baik-baik. Sungmin takut kalau-kalau ia nanti akhirnya mengandung anak dari Cho Kyuhyun.

"Ani.. aniyo. Aku tidak akan mengandung anaknya. Tidak. Tidak akan."

Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia tidak bisa menerima bahwa dirinya akan mengandung anak dari Kyuhyun.

Sungmin tertawa miris mendengar ucapannya sendiri. Karena ia yakin, bahwa takdir Tuhan tidak akan bisa dirubahnya. Tampaklah aliran airmata Sungmin yang terus turun ke bawah melewati pipi mulus Sungmin.


.

.

.


Bel berbunyi menandakan bahwa kelas telah usai. Kyuhyun hendak pulang menuju parkiran sekolahnya. Namun, belum ia keluar dari kelas, salah satu namja di kelas memanggil Kyuhyun bahwa ada seseorang ingin bertemu dengannya. Kyuhyun pun dengan santainya keluar kelas untuk bertemu orang tersebut. Dan.. GOTCHA!

There's a smirk on your face, guy..

"Oh, Siwon-ssi. Ada apa kau menemuiku?" Kyuhyun bertanya dengan tampang kaget, entah itu benar, atau.. yah, kalian tau sendiri.

"Emm, Kyuhyun-ssi, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Siwon ragu, entah ini tepat atau tidak untuk bertanya kepada Kyuhyun. Karena dari awal masuk tadi, dipikirannya hanya ingin cepat-cepat bertanya kepada Kyuhyun.

"Apa kau tau, kenapa Sungmin tidak masuk hari ini? Karena kulihat tadi saat istirahat siang, ia tidak ada. Dari kemarin sore setelah pulang sekolah pun, aku tidak bisa menghubunginya. Apa kau tau dimana dia?" tanya Siwon khawatir.

'Heeh.. jelas saja kau tidak bisa idiot! Karena Minnie telah menikmati malam yang indah bersamaku' Kyuhyun menyeringai.

"Kyuhyun-ssi?"

"Eh, mian. Emm.. mollayo Siwon-ssi. Mengapa kau bertanya padaku? Lagipula bukankah kau namjachingu-nya? Bagaimana kau ini, cih."

"Ah, aku merasa mungkin saja kau tahu, karena kau sekelas dengannya. Dan kulihat kau juga cukup dekat dengannya," kata Siwon. Entah ada apa, tapi Siwon sebenarnya cukup ragu mengatakan bahwa Kyuhyun dekat dengan Sungmin. Karena Sungmin sendiri pernah berkata kalau ia tidak dekat dengan Kyuhyun. Namun, entah kenapa Siwon merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka berdua.

Siwon lalu juga mengingat-ingat saat ia menghampiri Sungmin dikelas, dan ia mendapati Sungmin sedang bersama dengan Kyuhyun. Itulah yang membuat Siwon berpikir kalau Kyuhyun ada hubungannya dengan Sungmin.

"Oh, kalau begitu, kalau nanti aku bertemu dengan Sungmin-ssi, akun akan memberitahumu," kata Kyuhyun sok polos.

"Oke, gomawo Kyuhyun-ssi," kata Siwon sambil menganggukkan kepalanya tanda ia pamit kepada Kyuhyun. Dan Kyuhyun pun hanya membalasnya dengan tersenyum –berusaha- tulus. Setelah Siwon menghilang dari hadapannya, senyuman 'tulus' Kyuhyun pun berubah 180o berbeda dengan yang tadi. Ya, smirk-nya lah yang datang menghiasi wajah tampannya.


.

.

.


Sungmin berniat pergi dari sini –apartemen Kyuhyun- secepatnya. Segera setelah keluar dari kamar mandi, Sungmin segera memakai pakaian yang entah kenapa sudah tersedia di atas meja. Mungkin karena sebelumnya telah Kyuhyun siapkan untuknya. Sungmin langsung mengambil tasnya disamping tempat tidur, tepatnya di atas meja nakas. Ia sama sekali tidak menggubris sarapan di atas meja nakas yang telah disiapkan Kyuhyun untuknya.

"Aarkh.. aash.." Sungmin sedikit meringis merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Tapi ia tetap berjalan perlahan keluar dari apartemen Kyuhyun. Ia pergi tanpa meninggalkan note atau pesan pada Kyuhyun sedikit pun. Yang dipikirannya saat ini hanyalah cepat-cepat pergi dari tempat itu.


.

.

.


Kyuhyun memarkirkan mobil hitamnya dan segera memasuki apartemennya. Ia tidak sabar melihat bagaimana kondisi Sungmin baik-baik saja atau tidak. Dilepasnya sepatu dan ditaruhnya tasnya asal-asalan diatas sofa ruang tamu. Kyuhyun langsung menuju kearah kamar tidurnya untuk menemui Sungmin.

"Min.. Minnie-ah. Apa kau baik-baik saja?" Kyuhyun mengernyit heran. Mengapa tidak ada jawaban apapun dari Sungmin.

"Ah, benar. Mana mungkin ia mau menjawab pertanyaanku. Bahkan ia tidak mau menatapku. Apa ia sedang tidur? Tapi mengapa aku merasa didalam seperti tidak ada orang. Jangan-jangan Sungmin.." belum sempat Kyuhyun melanjutkan kata-katanya, Kyuhyun pun membuka knot pintu dan… seperti dugaannya. Sungmin tidak ada di dalam kamarnya.

"Min! Sungmin!"

Kyuhyun mencari Sungmin di dalam kamar mandi tetapi tidak ada. Ia keluar kamar untuk mencari ke dapur, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Sungmin disana. Terima saja Cho Kyuhyun, Sungmin memang benar-benar pergi dari tempatmu sekarang.


.

.

.


Sungmin tengah duduk di tepi tempat tidur di apartemen kecilnya. Dia sesekali tersenyum pahit mengingat mirisnya jalan kehidupan yang telah dialaminya. Apalagi ditambah dengan sebaris kalimat yang tengah dikirimkan Kyuhyun kepadanya.

Sesampainya di apartemennya, Sungmin segera menghidupkan ponsel miliknya. Dan segera setelah ponsel miliknya hidup, keluarlah peringatan terdapat pesan masuk di ponselnya. Dan itu semua dari Siwon, kekasihnya.

Sungmin tersenyum miris memikirkan apakah ia masih pantas menyebut dirinya kekasih Siwon. Setelah apa yang dialaminya kemarin bersama Kyuhyun. Bagaimana ia nanti akan menjelaskan pada Siwon tentang ini semua. Sungmin bingung sekaligus takut.

Sungmin pun membuka semua pesan singkat itu dengan perlahan. Pada awalnya Sungmin seperti mendapat secercah harapan untuk melewati kehidupannya ini setelah melihat isi pesan singkat dari Siwon untuknya. Sungmin tersenyum membaca salah satu pesan Siwon untuknya.

Kau dimana, Min? Aku merindukanmu. Padahal baru kemarin kita tidak bertemu, tapi aku sangat merindukanmu, Min. Cepatlah angkat teleponku, Min. Apa kau marah aku tidak mengantarmu pulang kemarin? Baiklah kalau begitu, aku minta maaf. Jeongmal saranghae, Min.

Baru Sungmin hendak membalas pesan singkat itu, tiba-tiba ponsel Sungmin bergetar menandakan ada pesan masuk lagi. Ia mengira pesan tersebut dari Siwon, namun ternyata Sungmin salah mengira. Pesan tersebut bukanlah dari Siwon melainkan dari… Kyuhyun? Bagaimana bisa ia mempunyai nomornya. Atau jangan-jangan Kyuhyun sendiri yang menyimpan nomornya di ponsel Sungmin. Mungkin.

Tangan Sungmin bergetar hendak membuka pesan singkat itu. Dan setelah ia membuka pesan itu, secercah harapan yang datang tadi lenyap begitu saja.

To. Minnie

Kau milikku, Min. Dan janganlah berharap bahwa pangeranmu akan datang merebutmu dariku.

Dan air mata Sungmin pun turun membasahi pipi putih miliknya lagi.


.

.

.


Terdengar suara bel menggema di ruangan apartemen kecil Sungmin. Sungmin terus saja menunduk diam. Air matanya yang tadi deras mengalir, sekarang sudah tidak terlihat lagi. Isakannya pun samar-samar terdengar. Namun, tak dapat dipungkiri bila masih terlihat bekas-bekas ia menangis. Hey, jangan lupakan matamu yang sembab itu, Min.

Sungmin terus menunduk diam, dan pikirannya hanya fokus pada dirinya dan 'sesuatu' dalam dirinya. Sampai-sampai Sungmin tidak menyadari bahwa dirinya menuju ke depan pintu untuk membukanya. Ia tidak peduli suara bel yang terus-terusan menggema dan suara seseorang yang memanggil namanya dari luar. Sungmin tidak tahu itu siapa. Dirinya tidak fokus. Ya, itulah penyebab Sungmin bersikap seperti itu sekarang.

Diputarnya knot pintu depan dan tampaklah seorang namja yang tidak bisa dijelaskan bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Sedangkan Sungmin yang awalnya hanya menunduk, langsung terbangun dari ketidakfokusannya. Yah, itu semua karena suara itu. Suara seorang namja yang sangat ia kenal betul. Sungmin tidak menyangka ia akan datang ke tempatnya. Sekarang.

"Sungmin!"

.

.

.

.

.

TBC


A/N

Jerenjeengjeeng! saya dataaang ahaha. Sebulan lebih ya? okee itu waktu yg lama XDD

Ni aku bawain chapter selanjutnyaa, terserah masih pada inget apa nggak, masih pada nunggu apa nggak, yg pasti kalo baca harus review haha pemaksaan #emang

Emm.. ceritanya yg begini adanya yuhuu. Jadi tolong hargai karya abal saya ini *bow*

Oya, typo? salahkan mata ane sama tangan ane yee haha. Udah deh, yg pada nyari balesan ada di PM kalian. Makasih bgt udah nyempetin review, sini xoxo satu-satu :)))

Oh iya, buat reviewer ku tersayang : FAKTA

Sepertinya saya harus bilang, kalo anda tidaklah cukup pintar untuk menebak mengapa saya memakai Siwon sebagai orang ketiga. Buat nyari review? ahaha alasan yg basi. Lagipula Siwon jauh lebih baik daripada anda yg menjadi orang ketiga saya, ups buahaha. Oya, dan gk usah pake acara nendang Sungmin segala, karena butt nya Sungmin terlalu bagus buat and tendang, arraseo? sip.

Last but not least, thanks to you all who have given me your review :*

HyunChan2509, minoru, hideyatsutinielf, deviyanti137, Joyer Cloudsomnia, sitapumpkinelf, Maximumelf, Zahra Amelia, Guest, maria8, winecouple, manize83, sissy, KyuWie, Princess Pumkins ELF, Park Young Min-chan, riesty137, Mirukia, xoxo tou you all XDDD

sign, Ssam.