High XOXO by DobiBaek

.

.

.

WARNING! ; GS, Typo(s), DLDR!

.

.

.

Enjoy the Story~


Preview Chap. 2

"Bersandarlah di bahuku." Tuntun yeoja itu.

Baekhyun yang sudah tidak tahu harus apa lagi, hanya bisa menurut. Dia bahkan sudah merasa sangat beruntung ada orang yang mau repot-repot membantunya.

Baekhyun menoleh sedikit hanya untuk melihat wajah perempuan yang sudah berbaik hati menolongnya. Tapi entah mengapa, bayangan seorang yeoja yang ia kenal, berputar-putar di kepalanya-atau bahkan memenuhi kepalanya- setelah ia melihat wajah yeoja yang menolongnya.

"Chan-hee…" bisik Baekhyun lemah, bahkan sangat pelan.

Tidak lama kemudian, tidak ada lagi ringisan atau lenguhan kesakitan dari Baekhyun. Entah, mungkin ia tertidur atau pingsan.

.

.

.

Chap. 3 is UP!

-HunHan-

Brakk!

"Yak! Pelan-pelan…" ketus Luhan pada Sehun yang berada di belakangnya. Sebenarnya ia tidak mau berbicara ketus dengan Sehun. Hanya saja, ia hanya khawatir kalau pintu kamar asrama mereka tiba-tiba bermasalah akibat ulah Sehun.

"Maaf Lu, kelepasan" ujar Sehun tanpa rasa bersalah dan lebih terkesan tidak perduli.

Hhh~ kalian pasti bingung dengan mereka yang tadi siang akur, sekarang malah seperti ini. Maklum saja sih, mereka berdua sedang sama-sama bad mood karena mendapat banyak tugas dari Seo Sonsaeng.

Bukan 50. Bukan 100. Tetapi 200 soal matematika yang diberikan. Beruntunglah itu tugas untuk dua orang, dan bukan tugas mandiri.

Sehun dan Luhan tepar bersamaan di sofa. Selain karna masalah tugas, mereka juga sangat lelah dengan adanya materi tambahan yang mengharuskan mereka pulang lebih lambat dari biasanya.

Yang biasanya pukul 16.00 mereka sudah berada di asrama, ini mereka baru sampai di asrama pukul 18.00

"Lu, bagaimana dengan Baekhyun?" Tanya Sehun mengawali pembicaraan

"Entahlah, dia sedang bolos tadi siang. Tapi sampai sekarang aku masih belum melihat batang hidungnya…" Jawab Luhan

Hening~

Ah! Bahkan mereka terlalu lelah untuk sekedar berbincang.

"Lu, mandilah duluan. Aku akan mulai mengerjakan tugas dari Seo sonsaeng"

Luhan tidak menjawab. Ia hanya melakukan apa yang Sehun suruh.

Sehun membuka tasnya dan mengeluarkan 10lembar kertas bolak-balik yang isinya hanya deretan soal matematika. Ia memandangnya horror kertas itu. Bagaimana tidak? 200 soal terkutuk ini harus dikumpul besok. Ah~ sepertinya kepalanya akan mengeluarkan asap malam ini.

Dengan langkah yang sangat terpaksa, Sehun berjalan menuju meja belajarnya dan berdoa agar tugas terlaknat itu dapat terselesaikan.

15menit kemudian~

Luhan keluar kamar mandi hanya dengan bathrobe yang panjangnya hanya setengah dari pahanya. Ternyata tadi Luhan lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi.

Ia berlari kecil menaiki tangga menuju lantai atas untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Gak lucu dong kalau ia menggunaka bathrobe sambil ngerjaik tugas. Bisa-bisa si Sehun mimisan… XD

Sehun yang tidak sengaja melirik Luhan, langsung merasakan atmosfer yang berbeda di sekitarnya. Nafasnya menjadi pendek. Dan jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Sehun menggeliatkan badannya tidak nyaman, soal selanjutnya yang mestinya sudah terisi dengan jawaban malah terabaikan begitu saja.

Luhan menuruni tangga-masih dengan bathrobe-nya- dan berjalan kearah Sehun sambil membawa beberapa helai pakaian.

"Kumohon jangan mendekaatt… Ah! Gantilah dulu pakaianmu!" batin Sehun merkecamuk.

Sehun merinding saat Luhan mendekat dari arah samping. Ekor matanya masih dapat menangkap penampilan Luhan dengan bathrobe-nya yang menampakkan paha dan sedikit dada mulus Luhan.

"Kau sudah mengerjakan berapa nomor?" Tanya Luhan tepat di belakang Sehun

Kita lihat reaksi Sehun. Tangannya yang menggenggam pensi sedikit bergetar, tapi ia sembunyikan dengan menggoyang-goyangkan tangannya. Tampaknya ia sangat grogi saat berdekatan dengan Luhan yang saat ini begitu seksi. (mesum =..=)

"Eum… ba-baru tigapuluh nomor." Jawab Sehun gelisah.

Luhan hanya manggut-manggut dan kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.

"Fiiuuhh~ Baeginikah yang dirasakan Chanyeol hyung?"

Sehun mengacak wig-nya. Terlanjur sudah pikirannya terhambur kemana-mana. Tapi bagaimana bisa ia mengerjakaan soal-soal ini dengan pikirannya yang kacau dan melayang kemana-mana?

Sudahlah~ pasrah saja… Sudah terlanjur mau diapakan lagi…

-ChanBaek-

Baekhyun memasuki kamarnya dengan jalan terseok dan wajah yang pucat. Ia baru pulang pukul 18.30 karena dirinya ketiduran di ruang kesehatan setelah diantar dengan perempuan yang menolongnya tadi.

Saat memasuki kamar, ia tidak mendapati Chanyeol. Kemana Chanyeol? Ah, mungkin saja ia sedang mandi, pikir Baekhyun mendapati suara percikan shower dari dalam kamar mandi.

Baekhyun menaiki satu persatu anak tangga dengan memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Sesampainya di atas, ia langsung menjatuhkan tubuhnya yang lemah di atas ranjang.

Cklek!

Pintu kamar mandi terbuka dan menampakan sesosok yeoja tinggi yang mengenakan celana training dan kaus oblong.

"Baek, kau sudah pulang?" Tanya Chanyeol setelah melihat 'gundukan' dibalik selimut diatas ranjang Baekhyun.

"um."

Chanyeol yang merasa ada yang tidak beres dengan Baekhyun, langsung menghampiri Baekhyun yang meringkuk di ranjangnya.

"Baek, gwenchana? Kau dari mana saja?" Tanya Chanyeol sambil meraba kening Baekhyun.

Baekhyun yang tidak menjawab membuat Chanyeol heran. Pasalnya suhu badannya tidak panas, hanya saja wajah Baekhyun begitu pucat.

"Chanhee. Bisa aku meminta tolong?" Tanya Baekhyun lemah

"Tentu."

"Tolong ambilkan aku obat menghilang nyeri haid di ruang kesehatan. Aku lupa mengambilnya tadi… kau temui saja Jung Sonsaeng."

~hening sesaat ~

Chanyeol tersenyum kikuk saat mendengar permintaan Baekhyun. Ia tidak mengerti masalah 'begituan'. Ia saja tidak pernah mengalami hal itu. Tapi yaahhh~ ia harus mengambilnya demi Baekhyun.

"Tu-tunggu sebentar. Akan aku ambilkan di ruang kesehatan." Ujar Chanyeol.

Baru saja ia akan beranjak, sebuah tangan menahan lengan Chanyeol.

"Gomawo Chanhee…" ujar Baekhyun pelan dengan senyumannya yang terkesan lemah. Chanyeol hanya membalas senyuman. Lalu Baekhyun melepaskan genggamannya di lengan Chanyeol.

-HunHan-

Oh Seli…
Wajah cantikmu membuatku terpana~
Senyumanmu membuatku keluar masuk UGD~
Sosokmu yang begitu anggun membuatku tak dapat berhenti memikirkanmu~
Oh Seli sayangku…
Abang akan selalu menunggu cintamu…

Pertanda, Abang Kai Keren

"Surat cinta? Ia sebut ini surat cinta? Payah~" Sejurus kemudian Luhan tertawa sangat keras setelah membaca surat yang terakhir.-Abang Kai Keren

"Hahaha! Bang Kai… dasar namja itu…" Luhan mengusap sudut matanya yang tergenang airmata akibat ulah surat-surat koplak ini.

"Lu, apa yang kau lakukan?" heran Sehun sekeluarnya ia dari kamar mandi mendapati posisi Luhan yang hampir terjungkal kebelakang dengan mulut mangap.

Luhan yang dari tadi terfokus menertawakan lembaran kertas yang ia genggam, baru menyadari akan kehadiran Sehun. "Ah~ Seli-ah.. Kau sudah selesai mandi? Oh ya, aku membuatkanmu cokelat panas untuk menghilangkan stress"

Sehun mengangguk sekilas. "Apa aku terlihat seperti orang stress?" Sehun duduk di kursi yang berada sangan dekat dengan Luhan. yah, otomatis jarak mereka sangat tipis.

Luhan mengedikkan bahunya. "Entah, sepertinya kau tidak stress… Hanya saja kau gila!" umpat Luhan menjulurkan lidahnya. Sehun tidak kesal, ia malah terkekeh pelan melihat tingkah Luhan yang menurutnya menggemaskan.

"Aaaa~! Appo! Appo! Appo! … Ampuuunnn~" jerit Luhan saat Sehun mencubit hidungnya gemas.

"Haha~ aigoo~ Lucunya Luhan-ku ini~ Lihatlah! Hidungmu merah seperti jambu…" goda Sehun sambil menoel-noel hidung bangir Luhan. Luhan yang kesal langsung menepis tangan Sehun dan memalingkan wajahnya dari Sehun.

"Lulu marah?" tanya Sehun sok imut. "Enggak!" jawab Luhan angkuh. Sehun memutar otaknya agar membuat yeoja cantik ini tidak marah lagi padanya.

Sehun bangkit dari duduknya menuju lemari pakaiannya. Ia mengubek-ubek barang-barang miliknya entah tanpa memikirkan apa yang ia cari. Setelah menemukan barang tersebut, Sehun kembali duduk di tempatnya semula.

"Ini…" Sehun menyodorkan benda tersebut pada Luhan.

"Apa? Menyuruhku balas dendam, eoh?" Sehun mengedikkan bahunya dengan raut wajah yang berkata 'terserah-padamu'.

Senyuman licik mengembang di bibir Luhan. Ia mengambil jepit jemuran dari tangan Sehun, dan menjepitnya ke hidung ramping Sehun. "Tahan itu sampai tugas kita selesai!" perintah Luhan dengan wajah evil-nya.

"Kau ingin membuatku susah bernafas, eoh? Bagaimana kalau aku mati karna kehabisan nafas?" tutur Sehun dengan suaranya yang aneh.

"Kau masih punya mulut untuk bernafas!" balas Luhan santai, tidak memikirkan hidung Sehung yang bisa saja menjadi biru. Atau yang lebih parahnya lagi, hidungnya menjadi seperti hidung nenek sihir.

"Kejam!" cibir Sehun. "Biar saja!" Balas Luhan. Mereka kembali mengerjakan tugas yang baru setengahnya terselesaikan. Sesekali mereka menyeruput cokelat panas yang menjadi hangat dengan susah payah-bagi Sehun-.

Waktu terus berjalan. 20menit sudah mereka kembali mengerjakan tugas. Sedangkan jarum jam tengah menunjukan pukul 8malam. Syukurlah mereka berdua termasuk murid yang cerdas, jadi tidak perlu memakan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan tugas ini. (Hebat -_-b)

"Aku selesai!" pekik Sehun meletakan pensilnya dengan cepat membuat Luhan yang berada di sampingnya sedikit tersentak.

"Lu, jepitan ini kulepas ya~ Kumohon, ini sungguh menyiksa…" pinta Sehun pada Luhan dengan memelas. Bahkan mata Sehun kini mulai berair, mungkin karna kesakitan akan hidungnya yang terjepit lumayan lama. (Atau mungkin akal-akalan Sehun aja -_-?)

Luhan yang kasihan akhirnya luluh juga dengan permohonan Sehun. "Arra! Aku lepaskan.." Luhan melepaskan jepitan jemuran dari hidung Sehun dengan perlahan.

"Ahhh~ Melegakan sekali!" lenguh Sehun lega sambil mengusap-usap hidungnya yang sangan merah, bahkan lekuk dari jepitan tersebut membekas di hidung Sehun.

Hidungnya sakit sekali setelah jepitan itu dilepaskan. Perlukah ia balas dendam lagi? Kurasa iya… itu tidak adil~ Luhan hanya dicubit, sedangkan dirinya dicubit dengan jepit jemuran -_-. Tapi Sehun rasa itu tidak perlu… Ada akal lain yang menghampiri otaknya, Muehehe~ #smirk

"Aakkhhh! Luhan-ah~ hidungku bertambah sakit…!" Jerit Sehun memulai aktingnya dengan memegang hidungnya sambil meringkuk kesakitan.

Luhan panik. Ia tak tahu harus bagaimana. Perasaan bersalah kini membentur keras dirinya. Ya tuhan~ ia tidak mau terjadi apa-apa dengan teman sekamarnya… Apalagi hal itu dirinya-lah penyebab dari semuanya.

"S-Se-Seli… Appo? M-mian, Apa yang bisa kulakukan? Haruskah aku memanggil petugas kesehatan?" tanya Luhan diselimuti perasaan khawatir.

Sehun menggeleng cepat. "Aniyoo.. –Akkhh! Kau harus tanggung jawab!" tuntut Sehun membuat Luhan semakin kacau.

"Bagaimana aku bertanggung jawab?!" tanya Luhan frustasi dan panik.

"Cium hidungku!"

Luhan terdiam. "A-APA?!"

"Cium~ Mungkin hidungku akan baikan jika kau menciumnya…"

Blush!

"Ke-kenapa tidak cium saja sendiri hidungmu?"

"Pabo, mana bisa aku mencium hidungku sendiri…"

Sehun memajukan wajahnya ke arah Luhan. "Kajja! Kata eomma-ku, bagian tubuh yang sakit bisa sembuh jika ada yang menciumnya dengan tulus." Ujar Sehun-mengarang-. Yaelah, mana pernah eomma Sehun berkata seperti itu. Sehun saja jika terluka tak pernah memberi tahu eomma-nya…

Luhan meneguk saliva-nya ragu. Bagaimanapun ia belum bernah mencium yeoja lain selain Baekhyun dan mama-nya sendiri. Itupun hanya di pipi, bukan di hidung. Itu membuatnya benar-benar gugup!

Dengan perlahan nan ragu, Luhan mendekatkan wajahnya dengan Sehun yang telah memejamkan matanya terlebih dahulu. Ia bukannya jijik, hanya saja ia agak sedikit ragu harus mencium orang yang baru kemarin ia kenal. Tapi bagaimanapun, ini bentuk dari tanggung jawabnya.

Chup~

Luhan mengecup batang hidung Sehun singkat namun terkesan lembut.

Sehun membuka matanya dan menyematkan senyuman penuh arti di bibir tipisnya. Tak menyangka rencananya akan semulus paha Baekhyun #plak! (Setdah, lagi-lagi paha Baekhyun dibawa-bawa -_-)

"Gomawo, ini lebih baik…" ujar Sehun yang mendapat anggukkan canggung dari Luhan. Dasar licik! Tapi bagaimanapun juga, modusnya berhasil. "Mungkin hari ini hanya di hidung. Lihat saja, tak lama lagi aku akan mendapatkan bibirmu, cantik." Pekik setan yang bersarang di benak Sehun.

Tiba-tiba ada malaikat numpang lewat. "Ingat, sekarang kau masih menjadi yeoja. Jangan hancurkan image-mu didepan Luhan. Mau di kira lesbi, eoh?"

Sejurus kemudian, Sehun langsung tersadar dari ke-khilafan-nya setelah mendapat bisikan dari Suho(?) si malaikat tadi. (penyakit alay Bi kumat x_x)

"Sudah selesai, Lu?" tanya Sehun guna mengusir ke-canggung-an mereka.

"Tinggal dikoreksi." Jawab Luhan masih berkutat dengan kertas yang ada di depannya.

Ekor mata Sehun menagkap lembar-lembar kertas yang Luhan baca saat ia keluar dari kamar mandi. Dan itu membuatnya penasaran. "Kertas apa itu?"

"Tentu saja kertas soal terlaknat dari Seo sonsaeng…"

"Ani, bukan itu. Tapi yang ituu…" Sehun menunjuk beberapa lembar kertas berwarna putih dan soft pink dengan dagunya.

"Oh itu. Kau mendapat surat cinta dari namja sekolah sebelah…" jawab Luhan yang masih serius mengoreksi jawabannya. Ck! Padahal tadi ia semangat sekali membaca surat itu. Bahkan ia tak henti-hentinya ia tertawa bak gegulingan.

Sehun menatap horror surat itu. Menjijikkan! Bahkan untuk sekedar menyentuh saja, ia sudah tak berminat.

"Hati-hati, mungkin beberapa hari lagi kau akan dilabrak oleh 'The Three Queens'."

"The Three Queens?"

"Ya, mereka bertiga paling royal di sekolah ini. tapi sayang, karna kesombongannya membuatku ingin mengecap wajahnya dengan sepatuku…" jawab Luhan menggebugebu sambil menggebrak meja.

"Mereka sangat tidak suka ada orang yang lebih tenar dari mereka. Arrggh! Mereka sangat menyebalkaaaannn! Bahkan aku dan Baekhyun pernah dipermalukan hanya karna kami memenangkan kontes 'the Beauty and the Brain' yang diadakan di sekolah…" Lanjut Luhan. Tanpa sadar pensil yang ada ditangannya sudah patah akibat pelampiasan emosinya.

"Dipermalukan? Seperti apa?"

"Mereka meletakan ember berisi tepung di atas pintu kelas. Dan saat kami berdua masuk, terjadilah hal yang begitu memalukan. Haahh~ tapi setidaknya teman-teman sekelasku tidak mengejek. Mereka malah membantu kami berdua."

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Tapi sebenarnya ia malas juga kalau harus mendengarkan hal-hal berbau perempuan seperti itu. Apa lagi, apa itu namanya? The Three Queens? Tidak bisakah mereka memberi nama genk yang tak se-norak itu?

-ChanBaek-

Pukul 7pagi. Matahari sudah memulai tugasnya menyinari bumi dengan cahaya hangatnya. Dan seorang yeoja kini tengah menggeliat di balik selimutnya sambil merenggangkan badan-badannya yang terasa kaku.

"Hoooaaamm~ Chan, ini jam berapa?" Teriak yeoja itu yang tak lain adalah Baekhyun dari balik selimutnya.

"Tujuh pagi, Baekki-ya… Mandilah, aku membuatkan sarapan untuk kita berdua." Balas suara yang terbilang berat dari teman sekamar Baekhyun.

"APPAA!" pekik Baekhyun ala sinetron indo.

"Kenapa kau ditidak membangunkanku, Chanhee~a!"

Baekhyun langsung menyibakkan selimutnya dan dengan gesit Baekhyun mengambil peralatan mandinya sebelum ia melesat menuruni tangga melingkar untuk menuju lantai bawah.

"Kenapa terburu-buru?"

"Kau tidak lihat? Ini sudah pukul tujuh… Aiisshh~ lagi-lagi aku terlambat…" Baekhyun langsung masuk ke kamar mandi dan tak lama, terdengarlah suara percikan air dari dalam.

Selang lima menit, pancake yang Chanyeol buat sudah siap, dan Baekhyun pun sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan rapi memakai seragam. Seragam? Chanyeol menepuk jidatnya. Astaga! Bagaimana ia lupa memberi tahu Baekhyun.

"Kau tidak bersiap-siap?" tanya Baekhyun heran saat Chanyeol masih menggunakan celana training dan t-shirt. Chanyeol menggeleng sambil menyodorkan sepiring pancake ke Baekhyun.

"Hari ini libur." Ujar Chanyeol

Baekhyun mengerutkan dahinya bingung. "Libur? Inikan bukan hari Minggu."

"Mian aku lupa memberi tahu. Tadi pihak sekolah mengumumkan bahwa hari ini sekolah diliburkan karna guru-guru dan komite sedang rapat untuk mempersiapkan konter 'the Beauty and the Brain'." Jelas Chanyeol sambil duduk di sofa sebagai tempat ia sarapan. Yaahh, masa ia mau makan berdiri? Bukankah di asrama tidak ada meja makan.

Baekhyun menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya ia tidak perlu panik untuk terburu-buru lari ke lantai bawah menuju kelasnya. Baekhyun duduk di sofa bersampingan dengan Chanyeol yang asik memakan pancake hasil karyanya sendiri.

"Chanhee" panggil Baekhyun. Chanyeol hanya menoleh kearah Baekhyun dgn mulut yang penuh pancake.

"Apa kita boleh jalan-jalan diluar sekolah?" tanya Baekhyun yang mendapat anggukan dari Chanyeol.

"Kita boleh keluar sekolah tapi hanya sampai pukul 4sore."

Baekhyun mengangguk sambil meyendokkan pancake kemulutnya. Di XOXO-FIHS para siswi tidak diperkenankan keluar sekolah di luar ketentuan sekolah. Mereka hanya diberi kebebasan pada hari Jumat dan Sabtu untuk memilih pulang ke rumah atau tetap di asrama dengan catatan harus tetap masuk sekolah tanpa terlambat. Dan hari Minggunya, mereka sudah harus berada di asrama selambat-lambatnya pukul 6sore. Diluar itu, mereka hanya diijinkan keluar dari area sekolah jika telah mendapat ijin dari guru piket. Contohnya seperti kasus Baekhyun kemarin.

"Chanhee-ya…" panggil Baekhyun lagi. Dan tanggapan yang Chanyeol berikan masih sama seperti yang tadi.

"Kemarin ada yeoja yang membantuku saat aku nyaris pingsan dijalanan." Baekhyun memberi jeda pada kalimatnya.

"Dia sangat cantik dan wajahnya sangat sangat sangaaaattt mirip denganmu." Chanyeol yang tadinya hanya fokus ke makanan kini mulai tertarik dengan cerita Baekhyun.

"Awalnya aku mengira bahwa yeoja itu kau, Chanhee-ya… Tapi tingginya tidak setinggi dirimu. Suaranya juga lebih lembut. Haahh~ lagipula kau tak mungkin berada di luar sekolah. Jelas-jelas kamu sedang istirahat di asrama."

Chanyeol tidak menanggapi cerita Baekhyun. Bukannya ia tidak mendengar. Hanya saja ia sedang berpikir keras untuk mencerna omongan Baekhyun.

"Sudahlah lupakan saja. Mungkin aku hanya kebetulan bertemu dengan orang yang mirip dengan mu…" ujar Baekhyun melanjutkan sarapannya.

-HunHan-

"Seli-ah, siang nanti Baekhyun ngajak kita hang out." Ujar Luhan setelah membaca pesan singkat dari Baekhyun.

Pagi ini mereka sedang sarapan di café terdekat dari sekolah. Alasannya sih, karena Sehun lagi enek di asrama karna melihat tugas-tugas yang semalaman mereka kerjakan, taunya hari ini malah libur…

"Bareng siapa aja?" tanya Sehun sambil menyeruput cappucino-nya.

"Kata Baekhyun sih, kita hanya berempat dengan Chanhee." Jawab Luhan.

"Yasudah kalau begitu. Suntuk juga kalau harus diem di kamar seharian…"

Setelah mendengar persetujuan Sehun, Luhan langsung membalas pesan Baekhyun dan janjian untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Seoul pukul 1.

-ChanBaek-

01.30 p.m

"Dimana mereka?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang masih setia mengedarkan pandangannya mencari sosok Sehun dan Luhan di lobby mall.

"Entah, padalah kami janjian di sini. Isshh… mana sih mereka?" Desah Baekhyun kecewa sambil menggembungkan pipinya.

"Mungkin mereka ada sedikit kendala." Tutur Chanyeol. Baekhyun membuang nafasnya kasar seraya merogoh isi tas selempangnya guna mencari ponselnya.

Ibu jari Baekhyun menyentuh layar ponselnya tepat di angka 4 sebagai speed dial Luhan.

"Yak! Xi Luhan! Dasar jam karet! Dimana kau sekarang?! Mau membuatku dan Chanyeol lumutan, eoh?" hujam Baekhyun habis-habisan pada Luhan di seberang sana.

"Baekki-ah~ jangan menghakimiku seperti ini… Mian~ saat kami baru akan berangkat, Oppa-nya Seli menghampiri kami dan mengajak kami makan siang di restaurant miliknya… Dan mana mungkin aku menolak jika Seli-nya sendiri menerima ajakan dari oppa-nya…" jelas Luhan dengan nada memelas.

Baekhyun kembali membuang nafasnya kasar demi menetralkan emosinya. "Jadi kau dan Seli tidak bisa ikut?" tanya Baekhyun kecewa.

"Mianhae Baekki-ah~ Tapi kalau sempat aku dan Seli juga akan pergi ke sana. Mungkin ada sesuatu yang ingin Seli beli."

"Ohh… yasudah kalau begitu." dengan nada datar, Baekhyun langsung saja mematikan sambungan teleponnya dengan Luhan. Ngambek kah? Sepertinya PMS membuat Baekhyun lebih temperamental hari ini.

"Jadi mereka tid-" Ucapan Chanyeol terputus begitu saja saat Baekhyun tiba-tiba menarik dirinya.

"Kajja! Kita sudah jadi korban PHP!"

-HunHan-

"Hhhh~" untuk sekian kalinya Luhan menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya iya bosan. Terlihat jelas dari cahaya di wajahnya yang sedikit meredup. Wajar sajasih ia bosan. Disini ia hanya dijadikan obat nyamuk oleh Sehun yang lagi asik-asiknya ngobol dengan Oppa-nya (re: hyung), Suho.

"Luhan-ssi, apa Seli baik-baik saja padamu? Dia tidak melakukan hal yang 'aneh-aneh' kan?" Tanya Suho sambil meliri-lirik adiknya dengan tatapan aneh. Sehun yang berada di sampingnya langsung menyikut pinggangnya sambil memberi beberapa isyarat.

Luhan tersadar dari dunianya. "Nde? Ah, itu.. Seli anak yang baik. Bahkan dalam semalam kami sudah akrab."

Helloooww… Lupakah Luhan pada kejadian semalam? Bukankah itu juga termasuk hal yang 'aneh-aneh'? Ah, sudahlah~ sepertinya Luhan tidak dapat menangkap makna sebenarnya dari pertanyaan Suho.

Suho hanya membulatkan mulutnya sambil menatap Sehun dengan tatapan meremehkan.

Drrttt… drrttt…

"Chogiyo" Luhan sedikit menundukkan kepalanya sebelum ia beranjak dari tempat duduknya menuju tempat yang lebih hening demi menjawab panggilan di ponselnya.

"Aku tidak yakin kau tidak melakukan sesuatu padanya" gumam Suho setelah kepergian Luhan.

Sehun tersenyum penuh arti. "Kau tahu hyung? Tadi malam aku mendapat ciuman darinya di sini" ia menunjuk hidungnya dengan telunjuk.

"Wow, tak kusangka kau secepat itu. Malang sekali Luhan. Dia anak yang baik…" ledek Suho.

"Ingat, anak orang jangan kau apa-apain…" lanjutnya. "Iya-iya aku tahu… Hyung pikir aku orang seperti apa, huh?"

"Haha~ Sulit memang punya adik yang mesum…"

Tanpa aba-aba Sehun memukul lengan Suho sambil mencibir kesal. "Kata siapa aku mesum?" Sehun membela diri. Suho kembali melemparkan senyuman meremehkan miliknya.

"Aku pernah menemukan DVD yadong di tasmu…" bisik Suho pelan tapi menusuk.

Sehun membelalakan matanya. "Itu bukan punyaku, hyung… Itu..-itu milik temanku yang menitipkannya padaku." Renggek Sehun kesal seperti yeoja. Ugh, sepertinya bersekolah yang isinya yeoja semua dapat mempengaruhi perilaku Sehun. Dan kita hanya bisa berdoa agar Sehun tidak menjadi lekong yang menghancurkan ff Bi yang emang udah ancur dari awalnya. *ngelantur

"Iya-iya hyung percaya~ Jangan kaya perempuan gitu dong… Serem tau punya adik ngondek(?)"

Sehun memutar bola matanya malas sambil meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ada satu pesan dari Luhan.

From : Luhannie

Seli-ya, maaf aku mengganggu acara kalian. Jeongmal mianhamnida…
Tadi aku mendapat telpon dari Baekhyun. Sepertinya ia marah karna kita datang terlambat…

Ah! Sehun lupa akan janjinya dengan Baekhyun. Dan dengan santainya ia menerima ajakan dari hyungnya yang kebetulan lewat di depan gerbang sekolah.

"Ada apa?" tanya Suho setelah melihat perubahan drastis dari wajah Sehun.

"Aku lupa kalau kami ada janji…" ujar Sehun dan dibarengi dengan kedatangan Luhan yang ternyata dari toilet.

"Baiklah, akan hyung antar."

Luhan menganggkat sebelah alisnya "H-hyung?"

-ChanBaek-

Setelah mereka puas menonton dan Baekhyun mentraktir Chanyeol sesuai janjinya, Duo ChanBaek masih akan menjelajahi setiap toko yang menarik perhatian mereka. Seperti sekarang, Baekhyun sedang sibuk menggandeng lengan Chanyeol yang sekaligus mempermudahnya menarik Chanyeol kemanapun ia mau.

Kalau dilihat dari sisi nyata, Chanyeol lebih mirip seperti namjachingu yang sedang menemani pacarnya shopping ketimbang dua yeoja yang sedang shopping.

"Aaa! Diskon 70%! Kajja kita kesana Chanhee-ya~"

Lagi-lagi Baekhyun seenak jidatnya menarik Chanyeol, akh! Bukan. Baekhyun sedang berusaha menyeret Chanyeol yang enggan memasuki toko yang isinya dipenuhi kaum hawa tersebut.

"Ayolah Baekki~ Kau masih belum puas berbelanja sebanyak ini, eoh?" Chanyeol mengangkat kedua tangannya yang dipenuhi paperbag, dan isinya belanjaan Baekhyun semua. (Tuh kan, Chanyeol lebih mirip namja yang nemenin pacarnya belanja -,-)

"Chanhee-ya! Topi itu bagus sekali… Aku mau~"

Hhh~ Bukannya menjawab pertanyaan Chanyeol, ia malah pergi meninggalkan Chanyeol lari ke toko tersebut. Yeahh.. Dengan terpaksa Chanyeol kembali masuk ke toko yang dipenuhi histeria para yeoja yang mendapat diskon besar-besaran.

Malu? Jelas Chanyeol malu… Malunya sampai ke akar-akar tau gak(?). Tapi bukan Chanyeol namanya kalau tidak bisa mengeluarkan sisi Chanhee-nya. Untung-untung lagi jadi perempuan, kalau kagak? (Matilah dia..*-*)

"Bukankah topi ini cocok denganku?" Bakhyun memandang lekat pantulan dirinya di cermin. Dibelakangnya ternyata sudah terdapat Chanyeol yang setia menunggunya.

"Yeah. Lumayan cocoklah untukmu… Topi pantai berwarna pink dengan motif strawberry mungkin akan menambah koleksi barang-barang strawberry-mu di asrama." Komentar Chanyeol. Setidaknya ia berusaha membuat tanggapan yang bagus agar temannya yang satu ini dapat lebih cepat pergi dari tempat terlaknat ini.

"Benarkah? Yeah… aku juga berpikir begitu~"

O_o -ekspresi Chanyeol. Bukannya cepat-cepat pergi ke kasir, Baekhyun malah tambahnya ber-pose ria di depan cermin. Dari pose cute yang membuat Chanyeol gemas stengah mati, sampai pose seksi yang biki Chanyeol mangap mingkem dan mata yang hampir keluar. Bersyukurlah ia tidak membuat Chanyeol mati muda dengan pose aneh lainnya.

Gak cuma berpose doang, Baekhyun juga meminta Chanyeol mengambil gambarnya dengan gaya L4y. Plis deehh~ padahal dibelakangnya udah banyak tuh cewe-cewe yang ngantri cermin -_- (Baekhyun dinistakan XD)

Setelah puas dengan macam-macam gayanya, Baekhyun masih belum puas menjelajahi toko tersebut. Adegan tarik menarik terjadi lagi diantara mereka berdua hanya untuk pindah ke bagian sepatu-sepatu.

"Ayolah Chan~ kompromi dikitlah… Kau pikir aku tidak lelah menyeret tubuh raksasamu dengan tubuh mungilku?" protes Baekhyun dengan mempotkan bibirnya. Ia melanjutkan setengah perjalanannya menuju bagian sepatu dengan hentakan kakinya.

Ngambaek, Baekhyun mengambil jarak dan menjauh dari Chanyeol. Ia kesal! Bagaimana bisa ada perempuan seperti Chanhee yang sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya shopping. Tidak seru!

"Hey, Baekki? Kau marah?"

Baekhyun tak menghiraukan pertanyaan Chanyeol. Ia berjalan menjauhi Chanyeol seraya memilah-milih sepatu yang akan ia beli.

"Baekki~ mianhae… a-aku tidak bermaksud. M-maksudku, aku hanya terlalu banyak memikirkan Sehun dan Luhan. Tidakkah kau ingin menemuinya?" wajah Chanyeol begitu memelas demi meluluhkan hati Baekhyun.

"Tidak. Aku sedang tidak mood bertemu mereka!" jawab Baekhyun sinis. Ia mengangkat sebuah flat shoe putih tanpa pasangan untuk melihat lebih detail bagaimana bentuknya.

"Lucu~" gumam Baekhyun sumringah sambil memakaikan sepatu itu di kakinya. Senyum Baekhyun semakin lebar ketika flat shoe putih dengan pita merah di depannya itu pas terpakai di kaki mungilnya.

Chanyeol yang mengamati Baekhyun dari samping juga ikut mengembangkan senyumnya. Ekspresi Baekhyun yang awalnya kesal, menjadi cerah seketika setelah menemuka sepatu yang ia suka.

Baekhyun memanggil seorang pramuniaga untuk mengambilkan pasangan sepatu tersebut. Setelah selesai urusan sepatu, Baekhyun kembali menarik Chanyeol dengan semangat menuju kasir. Ia melupakan bahwa tadi ia sedang ngambek pada Chanyeol.

Chanyeol hanya menurut. Lebih baik daripada Baekhyun marah lagi padanya. Tiba-tiba Baekhyun menghentikan langkahnya membuat Chanyeol otomatis juga terhenti. Chanyeol memandang Baekhyun dengan wajah bertanya 'ada apa?'. Baekhyun terfokus pada seorang perempuan yang sedang memilah tas. Hanya sekilas ia melihat wajahnya. Dan itu membuat Baekhyun penasaran.

"Kenapa? Ada yang ingin dibeli lagi?" tanya Chanyeol heran melihat Baekhyun tidak bergeming sama sekali. Baekhyun menggeleng lalu menyikut pelan perut Chanyeol.

"Lihat perempuan itu. Sepertinya dia yang menolongku kemarin. Wajahnya sangat mirip denganmu." Kata Baekhyun sambil menunjuk perempuan yang memakai dress lengan panjang berwarna biru langit yang hanya sebatas lutut.

Chanyeol masih sibuk mencari keberadaan yeoja yang Baekhyun tunjuk. "Mana?" tanya Chanyeol tak kunjung menemukan, disini terlalu banyak perempuan.

Baekhyun membawa Chanyeol mendekat ke yeoja tersebut. Sejujurnya Baekhyun masih ragu karna yeoja itu membelakanginya. Tapi dari wajah yang sekilas terlihat dan tingginya yang sama membuat Baekhyun sedikit yakin.

Ia melepaskan gandengannya dari Chanyeol dan berjalan menghampiri yeoja tersebut. Meninggalkan Chanyeol yang hanya melihat dari kejauhan.

"Chogiyo…" panggil Baekhyun di belakangnya.

Akhirnya yeoja itu berbalik dan menampakkan wajah cantiknya yang tak asing lagi bagi Baekhyun. Baekhyun tersenyum pada yeoja itu, ternyata ia tidak salah orang.

Dan Chanyeol…

Ia tertegun setelah melihat wajah yeoja itu.

Sial!

Wajahnya begitu mirip dengan Chanyeol.

"Noona…"

.

.

.

_TBC_


Huuuaaa... Ni epep makin ancur aja TOT

Bi pusing banget sumpah ngeberesin chapter ini.

Modem ilang lah, Internet lola, Laptop lemot, Flashdisk juga ilang x_x

Tapi yang ilangan udah ketemu koookkk... Memang susah kalo barang-barang sama Bi. Sering lupa naro XD

Trus ada beberapa typo yang berasal dari kesalahan teknis. Yeah, walau bukan kesalahan teknis juga ya tetep banyak typo-nya...

Cukup curcolnya -.- Bi minta maaf banget Chap ini lelet banget update-nya...

Trus kemungkinan epep ini bakal terlantarkan sampai 3minggu kedepan. Maaf beud...,

Oh ya, sekali lagi mengecewakan. Bi gak bisa bales review Chap. 2 gegara mata udah sakit banget melototin layar laptop, ini aja perjuangan ngedit jadi yaahhh... maklumin ajadeh kalo masih banyak typo u,u

Terima kasih banyak untuk yang udah baca n' review, Sorry kalau chapter ini mengecewakan atau garing pake banget...

Loph yu all~ /flying kiss from Bi :*