"Nice Hinata~!"
'Jangan lihat,' gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Menjadi seseorang yang tampak takut akan semua yang ada disana, mata-mata yang menatap kearahnya dengan senyuman yang aneh membuat tubuhnya gemetar dan ia hanya bisa berjongkok dan memeluk tubuhnya sendiri.
Diantara tawa dan juga tatapan yang membuatnya takut itu, ia yang sedang meringkuk bisa merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti punggungnya dan membuatnya membuka mata dan menatap seseorang yang ada di depannya. Tatapan yang berbeda dengan yang lainnya, warna sapphire yang menghiasi iris matanya.
Orang itu menatapnya khawatir sekaligus sedih.
"Siapa—"
…
"Makanya jangan bersikap bodoh seperti itu Hyuuga-san," tatapan itu tampak berubah menjadi tatapan menyebalkan itu, sosok itu tampak semakin jelas menunjukkan Uzumaki Naruto yang menutup sebelah matanya dan menjulurkan lidahnya. Menatapnya dengan tatapan yang menyebalkan itu lagi.
.
Dan saat ia tersentak dengan itu, tubuhnya bangkit dari tempat tidur dan ia baru menyadari kalau itu semua hanyalah sebuah mimpi buruk yang berubah menjadi mimpi yang menyebalkan. Wajahnya yang memerah entah kenapa membuat gadis itu terdiam sejenak karena kesadarannya yang belum pulih.
…
"KENAPA HARUS DIA YANG MUNCUL DI MIMPIKU!"
Dan Neji serta Hanabi yang sedang menikmati sarapan mereka sukses tersedak oleh makanan mereka masing-masing.
Betting Love
Rated : T
Genre : Romance/General (sebenernya satu lagi ga tau karena ini campur aduk)
Pairing : Naruto Uzumaki x RTN!Hinata
AU, Typo, Abal, Gaje, dkk. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari menulis ffic ini. Semua hak cipta pemain dimiliki oleh Masashi Kishimoto.
.
Lain kali Hinata tidak akan begitu saja selalu setuju untuk membantu sahabatnya kalau karena itu ia harus berurusan dengan si kutu buku bermuka dua seperti Uzumaki Naruto.
.
Chapter 2, A boy Who Took Care the Girl
.
'Tiga puluh Sembilan derajat…'
Oke, sekarang ia yakin kalau wajahnya memerah bukan karena mengingat tentang mimpi itu (saja). Namun suhu tubuhnya yang meningkat, mungkin karena pakaiannya saat itu dan juga karena terguyur oleh air saat itu.
"Tidak mungkin aku tidak masuk, toh kalau sampai terlewatkan satu hari saja aku bisa kalah darinya," Hinata tampak berdiri dengan limbung dan melihat sekeliling, menatap dua buah jas sekolah milik Naruto yang terbawa olehnya karena dua peristiwa yang memalukan itu.
'Makanya jangan ceroboh seperti itu!'
Membayangkannya saja sudah membuat ia kesal, dan dengan segera ia mengambil dan menginjak-injak jas sekolah itu dengan kelas. Tidak berlangsung lama, karena ia merasa sangat pusing setelah itu dan membuatnya hampir tumbang.
Melirik kembali kearah jas yang ada disana, terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil kembali dan meletakkannya di atas meja.
'Kukembalikan besok saja…'
"Hinata, kepalamu berasap!"
Oke, tidak benar-benar seperti itu, namun memang keadaan Hinata tidak terlalu sehat dengan demam yang cukup tinggi. Sakura dan Ino yang melihat itu tentu cukup cemas dengan keadaan dari sahabatnya itu. Sakura mencoba untuk menyentuh dahinya dan tentu saja dahinya terasa panas.
"Hinata, apakah kau demam?!"
"Tidak apa-apa, hanya seperti ini Sakura," Jawabnya dengan suara serak dan juga lemah. Tentu saja dia tidak tidak apa-apa, bagaimanapun bahkan sekarang berjalan luruspun ia tidak bisa. Seperti seseorang yang mabuk alkohol, "ayolah aku tidak apa-apa, hanya seperti ini bukan apa-apa."
"Kau tidak perlu memaksakan diri hanya karena tidak ingin kalah pada Naruto bukan?"
"Pokoknya, aku tidak akan mungkin kalah darinya!" Hinata untuk sepersekian detik sepertinya tampak benar-benar sehat namun setelah itu ia hampir saja ambruk kalau tidak ditahan oleh Sakura dan juga Ino, "aku baru tahu kalau kalian punya kembaran…"
"Serius Hinata, kau harus istirahat sekarang."
"Aku tidak apa-apa…"
"E—eh ada apa Haruno-san, Yamanaka-san?"
Naruto yang sedang berada di ruangannya tampak sedikit terkejut melihat Sakura dan juga Ino yang datang ke ruangannya. Mereka tampak kesal dan seolah ingin menyerangnya kapanpun yang mereka inginkan bahkan sekarang juga.
"Kami ingin kau menyerah dalam taruhanmu dan juga Hinata!"
"Kenapa?"
"Karena Hinata adalah orang yang keras kepala. Kalau sampai ia tidak bisa memenangkan taruhan itu, ia akan merusak tubuhnya sendiri. Lihat saja, sekarang ia sedang demam tinggi tetapi tetap saja ingin masuk sekolah hanya karena taruhan bodoh itu," Naruto tampak mematung sejenak sambil menatap Ino dan Sakura sebelum kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Maaf tetapi tidak bisa…"
"Hei, apakah kau tidak kasihan dengannya?!" Sakura sudah sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Aku yakin kalau Hyuuga-san mengetahui aku tidak jatuh cinta padanya dan hanya menyerah, ia akan lebih kecewa Haruno-san," jawab Naruto menghela nafas, ia sama sekali tidak menatap keduanya lagi, "lagipula, aku sendiri juga tidak biasa untuk kalah dari apapun Haruno-san, Yamanaka-san…"
…
"Kalau sudah tidak ada keperluan, kumohon untuk keluar dari ruangan ini," jawab Naruto dengan suara pelan dan tersenyum gugup. Sakura dan Ino sedikit tersentak sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Naruto sendirian yang menaruh pulpennya di atas meja sembari melepaskan kacamatanya dan menyenderkan punggungnya di kursi.
"Ia sakit…?"
Sementara Sakura dan juga Ino yang sudah keluar tampak menutup pintu. Sakura terlihat kesal dan berdecak mendengar dan mengingat apa yang mereka bicarakan di dalam ruangan itu.
"Apa-apaan dia?! Pantas saja Hinata benar-benar kesal menghadapi pemuda itu walaupun hanya dua hari," jawab Sakura menyilangkan kedua tangannya dan mendengus kesal. Namun saat ia melihat kearah Ino, ia menemukan gadis itu hanya diam saja, "oi, Ino?"
"Apakah kau tidak aneh mendengar nada Naruto yang sedikit berbeda itu?"
Dan mereka berdua hanya bisa terdiam karena itu.
Hinata duduk di kantin dengan makanan yang sama sekali tidak disentuh olehnya. Saat itu adalah saat dimana Sakura dan juga Ino baru saja selesai dari ruangan Naruto, dan itu artinya Hinata sendirian berada disana. Semua orang bahkan seolah bisa merasakan aura panas yang keluar dari tubuh Hinata saat itu.
TUK!
Hinata yang tadi masih setengah sadar segera bergerak saat mendengar seseorang meletakkan sesuatu. Segelas teh hangat yang tampak masih mengepul karena panas. Menoleh melihat siapa yang memberikan itu dan menemukan Naruto yang duduk begitu saja di depannya.
"Mau apa Bakkamaki?"
"Ku—kudengar kau sedang sakit jadi aku membawakanmu teh hangat Hyuuga-san," Naruto tampak menatap khawatir pada Hinata yang mendengus dan tampak mengalihkan pandangannya, "apakah kau tidak seharusnya pulang saja ke rumahmu?"
"Tidak, aku bukan orang lemah sepertimu," jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari Naruto. Tidak sama sekali menyentuh gelas yang ada di depannya.
"Minimal, kau bisa meminum tehmu dan sedikit beristirahat di UKS?" Hinata melirik kearah Naruto yang tersenyum gugup dan tampak cemas dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Terdiam, entah kenapa Hinata merasa bersalah melihat wajah Naruto walaupun ia masih berfikir kalau pemuda yang memiliki muka dua itu bisa saja berbohong padanya.
…
"Baik-baik, hanya itu bukan?!" Hinata dengan segera mengambil gelas itu dan meminumnya sekali teguk. Beruntung cuaca sedang dingin dan membuat rasa panas tidak terlalu terasa—Naruto sudah cukup tercengang melihat bagaimana gadis itu langsung meminumnya begitu saja.
"Aku akan pergi ke UKS!"
"A—aku ikut…"
"Tidak usah mengikutiku, aku bisa sendiri oke?"
Hinata berjalan menaiki tangga yang ada di lantai satu menuju ke ruangan kesehatan bersama dengan Naruto yang mengikutinya dari belakang. Walaupun sejak awal ia mengatakan untuk ikut mengantarkannya, namun tetap saja Naruto mengikuti Hinata sampai sekarang.
"Tetapi aku mencemaskanmu…"
"Bisakah kau berhenti berbohong padaku? Aku sudah katakan kalau aku tidak mau dianggap lemah!"
"Tetapi kau—" Naruto baru saja akan mengatakan sesuatu saat ia yang sedang mendongak keatas melihat ke samping Hinata dan menyadari kalau seseorang mencoba untuk menjanggal kaki Hinata agar ia jatuh, "HINATA AWAS!"
"Eh—" kaki orang yang mencoba untuk menjatuhkan Hinata sudah menjanggalnya dan membuat ia kehilangan keseimbangan. Dengan segera Naruto yang berada di belakangnya mencoba untuk menangkap tubuh gadis itu sebelum terjatuh begitu saja dari tempatnya. Namun karena saat itu Naruto tidak siap, pemuda itu sendiri malah kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersama dengan Hinata.
BRUK!
"Ada apa?!"
"Hei ada yang jatuh!"
"Kalian berdua tidak apa-apa?!"
Suara-suara itu tidak terlalu jelas terdengar oleh Hinata yang sepertinya sudah terlalu pusing untuk sadarkan diri. Naruto sendiri yang ada di bawah Hinata tampak tidak terlalu parah jatuhnya hanya mengaduh dan memegangi kepalanya.
"H—Hyuuga-san kau tidak apa-apa? Hei!" Hinata menatap Naruto dengan tatapan sayu, dan hanya wajah cemas Naruto yang bahkan tidak sadar kacamatanya terjatuh yang ia lihat sebelum semuanya gelap gulita.
"Hinata!"
Naruto membawa Hinata yang tidak sadarkan diri ke rumahnya dengan segera. Beruntung sebagai ketua OSIS ia tahu semua alamat dari murid-murid KHS dan ia bisa mengantarkannya langsung. Sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, ia turun sambil menggendong Hinata dan segera membunyikan bel yang ada di samping pintu.
…
Sudah berulang kali, namun tidak ada sama sekali jawaban.
"Tidak ada orang…" Hinata yang ada di gendongannya tampaknya sempat sadarkan diri dan memberitahukannya. Hinata adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kakak laki-laki dan adik perempuannya. Neji sendiri sudah bekerja dan sekarang belum pulang, dan Hanabi masih berada di sekolah.
"Tidak ada—kunci bagaimana?"
"Tas…"
Tidak perlu lagi menunggu lama, Naruto segera memeriksa tas milik Hinata dan menemukan kunci cadangan yang memang dimiliki oleh semua anggota rumah itu. Ia membukanya, segera berlari menuju ke lantai atas rumah itu.
"Kamar…" Naruto menoleh kekiri dan kekanan mencari kamar milik Hinata, dan beruntung ada sebuah papan yang bertuliskan pemilik kamar. Dari Neji, Hanabi, lalu Hinata—semuanya ada di sebuah papan kayu yang tergantung di masing-masing pintu.
Dengan segera ia membawa Hinata ke kamarnya dan menidurkannya di atas tempat tidur. Menghela nafas, ia melihat sekeliling sebelum turun ke bawah mengambil kompres dan juga obat demam serta kembali untuk memasang kompres itu.
"Hh…" Naruto menghela nafas dan duduk santai saat melihat semua yang bisa ia lakukan sudah ia lakukan. Dan sekarang, hanya tinggal menunggu keluarga Hinata yang datang dan ia bisa menyerahkannya pada mereka.
Menatap kearah Hinata yang tidur, ia mengusap peluh yang membasahi wajah Hinata dan menyibakkan poni Hinata yang menutupi wajahnya.
"Kalau saja aku bisa mengatakan untuk tidak perlu bertaruh, mungkin kau tidak akan mungkin keras kepala seperti itu," Naruto tersenyum dan menghela nafas, mengusap rambut Hinata dengan lembut.
Hinata sadar beberapa jam setelah itu, dimana ia melihat Neji dan juga Hanabi yang menatapnya khawatir. Mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga akhirnya kesadarannya sudah ia dapatkan sepenuhnya.
"Nee-san, kau tidak apa-apa?"
"Bagaimana aku bisa ada disini," Hinata memegangi kepalanya yang masih terasa pusing setelah terlalu banyak tidur dank arena ia baru saja demam. Sepertinya saat ini demamnya sudah turun dan walaupun badannya masih lemas tetapi tidak sakit seperti kemarin.
"Kau sudah tidak sadar selama 3 hari nee-san, demammu tinggi sekali," Hinata membulatkan matanya tidak percaya. Tiga hari dan ia sama sekali tidak sadar kapan dan bagaimana persisnya ia bisa pingsan, "teman kakak yang bernama Naruto yang menjaga kakak sampai aku datang."
"Naruto?"
"Ia juga selalu menghubungi kemari untuk menanyakan keadaanmu. Pemuda yang menyebalkan," Neji tampak kesal dan Hinata hanya sweatdrop melihat kelakuan dari kakak laki-lakinya itu.
"Sebaiknya kalau nee-san sudah sembuh lebih baik nee-san berterima kasih padanya," jawab Hanabi sambil tersenyum dan Hinata hanya terdiam sambil menatap kearah meja belajarnya. Dua buah jas sekolah yang ternyata tidak diambil oleh Naruto itu terlipat dengan rapi disana.
…
Hinata hanya diam, walaupun ia tidak sadar kalau wajahnya memerah, kali ini bukan karena malu tetapi karena hal lainnya.
Naruto sedang berjalan bersama dengan Sasuke sambil membahas tentang laporan-laporan sekolah. Tentu saja beberapa murid yang ada disana tampak mencuri-curi pandang kearah keduanya—atau lebih tepatnya pada Sasuke Uchiha sang idola KHS.
"Ba—Uzumaki!"
Naruto dan Sasuke berhenti saat suara itu memanggil sang ketua OSIS. Hinata tampak berad di depan mereka, tidak menatap langsung keduanya dan hanya memalingkannya saja selama beberapa saat. Berjalan dengan canggung, ia berhenti tepat di depan keduanya.
"Hyuuga-san, sepertinya kau sudah sembuh?"
Naruto tersenyum dan tampak membuat Hinata membulatkan matanya sekali lagi. Sial, bagaimana pemuda culun seperti Naruto bisa membuat Hinata salah tingkah walaupun hanya dalam beberapa hari semenjak mereka mengadakan taruhan?!
"Ini!" Hinata mendorong kedua jas yang ada di tangannya pada Naruto yang langsung mengambilnya, "kukembalikan…"
"Ah, terima kasih Hyuuga-san maaf saat di kamarmu kemarin aku tidak sempat untuk mengambilnya," jawab Naruto tidak perduli dengan tatapan tidak percaya dan terkejut yang ditunjukkan oleh beberapa orang murid disekelilingnya bahkan sahabatnya sendiri Sasuke.
Di kamar? Jas yang tertinggal?!
"Jangan mengatakan hal yang membuat orang lain menjadi salah paham!" Naruto hanya menunduk dan tampak panik saat melihat gadis itu marah kembali karena perkataannya. Namun ia segera tertawa gugup dan menggaruk kepalanya.
"A—ahaha, kalau begitu aku akan kembali dengan pekerjaanku."
"Tu—tunggu!" Naruto yang akan menyusul Sasuke tampak kembali menoleh saat mendengar Hinata menghentikannya, "a—aku ingin… berter—"
"Te."
"Te…"
"Te?"
"Te—"
DING! DONG!
Suara pengumuman sekolah tampak mengehentikan pembicaraan mereka dan membuat Naruto serta Hinata dan beberapa orang lainnya mendongak keatas secara reflex.
"Kepada ketua OSIS Uzumaki Naruto, diharap untuk pergi ke ruangan Kepala Sekolah sekarang juga. Diulangi—"
"Ah, aku harus pergi ke ruang kepala sekolah," Naruto menatap ragu Hinata yang tampak membatu sejenak dan ia memberikan laporan yang ada di tangannya pada Sasuke, "aku akan pergi kearah sini. Jadi kau bisa meletakkannya di ruanganku bukan Sasuke?"
"Hn."
"Sa—sampai jumpa Hyuuga-san…"
Dan semuanya kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing kecuali Hinata yang masih mematung dan meruntuk pada dirinya sendiri kenapa ia tidak bisa berbicara dengan lancar di depan pemuda itu sementara sebelumnya ia adalah orang yang cuek.
'Kenapa aku tidak bisa mengucapkan terima kasih saja sih?! Pokoknya di kelas aku akan mengirimkan surat saja untuk memberitahukannya!'
"Uzumaki Naruto pulang terlebih dahulu dari sekolah, karena urusan penting."
Itulah yang dikatakan oleh Hatake Kakashi saat jam makan siang selesai dan pelajarannya dimulai. Dan sekali lagi Hinata tampak menganga sebelum membenturkan kepalanya di atas meja. Apakah memang sesusah itu untuk bertemu dan mengatakan dua kata itu?
'Sial, aku benar-benar akan memberi pelajaran pada Uzumaki itu!'
"Aku tidak pernah sekesal ini pada seseorang."
Hinata tampaknya dalam keadaan mood yang tidak baik, dan berjalan akan pulang bersama dengan Sakura dan Ino yang hanya tersenyum kasihan padanya. Mereka berdua tahu kalau Hinata ingin bertemu dengan Naruto, namun ternyata pemuda itu sudah pulang terlebih dahulu.
Tiba-tiba suara gaduh anak-anak di sekolah itu mengalihkan perhatian mereka, dan saat itu mereka semua melihat kearah sebuah mobil yang cukup mewah terparkir di depan sekolah beberapa detik yang lalu. Bukan mobil sedan hitam itu yang menarik perhatian semuanya, namun dua orang yang keluar dari tempat itu yang membuat mereka tercengang.
Uzumaki Naruto dan juga seorang perempuan berambut merah dewasa dan tinggi serta memiliki tubuh yang seksi. Sangat terlihat jelas kalau perempuan itu lebih tua daripada Naruto, namun mereka berdua terlihat sangat akrab satu sama lainnya.
"Bukankah Naruto izin pergi terlebih dahulu? Kenapa ia kembali ke sekolah?"
"Hei, kau lihat—wanita yang bersamanya benar-benar seksi. Rambutnya juga sangat indah…"
"Menurutmu apa hubungan si kutu buku itu dengan gadis seseksi itu?"
"Tidak mungkin kekasihnya bukan?"
Hinata tidak menggubris apa yang dikatakan oleh para murid dan hanya menatap keduanya yang sedang berbincang singkat, dan gadis itu memeluk serta mengecup pipi Naruto yang semakin membuat semuanya yang ada disana tampak semakin terkejut.
"H—hei, dia mengecupnya! Apakah benar kalau perempuan itu kekasih Naruto?!" Ino dan Sakura sepertinya ikut bergosip dan menatap kearah Hinata. Maunya menanyakan perihal kejadian di depan mata mereka, tetapi melihat aura gelap yang ada disekeliling Hinata dan tatapan kesalnya, mereka berdua mengurungkan niatnya.
"H—Hinata?"
"Ayo kita pulang," jawab Hinata langsung dan berjalan cepat menuju kearah Naruto yang masih berbicara dan akan berpamitan dengan gadis itu dan menoleh saat meliat Hinata disana.
"Ah selamat sore Hyuuga—" Hinata melewatinya begitu saja seolah tidak melihat Naruto disana, "—san?"
Ino dan juga Sakura membungkukkan tubuhnya kearah Naruto dan juga gadis itu sebelum berlari menyusul Hinata yang terlihat mempercepat langkahnya.
"Hinata, kau benar-benar tidak apa-apa?" Ino menatap Hinata yang tidak menjawab dan hanya berdecak kesal.
'Kenapa aku jadi kesal melihatnya bersama dengan gadis itu?!'
"Jadi itu Hinata yang kau ceritakan?" Gadis berambut merah itu tampak menatap kearah Naruto yang menghela nafas dan membenahi posisi kacamatanya sambil mengangguk, "sepertinya ia tidak begitu suka melihatmu? Begitu juga dengan yang lainnya."
"Itu karena kau seenaknya menciumku," Naruto berdecak kesal dan bersikap seolah ia tidak menggunakan kacamatanya, "disini tidak ada salam dengan kecupan seperti itu."
"Benarkah? Di Amerika kami sering melakukan itu setiap bertemu."
"Jangan samakan budaya Amerika dengan disini—Kyuu-nee-chan!"
To be Continue
HUWEEE! Maaf mengingkari janji soalnya saya sibuk sama Natalan + ga ada quota buat publish Dx bahkan untuk bukan FBpun tak mampu, makanya baru bisa beli habis natalan dan itu ya sekarang. Sebenarnya dari kemarin, tapi ffn tiba-tiba error ga mau login :|
Ingat perkataan Naruto tentang kakak perempuannya yang jauh lebih cantik dan seksi? XD itulah Female!Kyuubi yang jadi nee-sannya Naruto XD
Buka sesi Tanya jawab lagi ya :)
Q : KENAPA TELAT?!
A : Ma—maaf saya sibuk natalan dang a ada quote…
Q : Siapa siluet itu?
A : Hm~ Masih rahasia dong XD
Q : Sampe chap berapa?
A : ga banyak-banyak, saya takut webe kaya Tsundere-Hime IYKWIM
Q : Authornya suka PHPin ya?
A : Authornya cuma suka lupa lihat sisa quota internet :'|
Q : Naruto duluan yang suka? Tuh main cium.
A : Main cium belum tentu tanda suka XD
Q : Hinatanya sengaja disiram?
A : Yep~
Q : sama siapa?
A : Rahasia~
Q : Sifat Hinata kaya trauma gitu.
A : Ya, dia trauma akan sesuatu XD yang berkaitan dengan itu.
Q : Naruto punya sifat mesum?
A : Naru : tuh Author, bikin gw kaya sennin mesum aja! | Author : Ga maksud Nar D: || Jawabannya, ga ()
Q : HINATA GA PAKE PAKAIAN DALAM?!
A : selow Bro, maksudnya biasanya pakai *maaf*BeHa dan pake pakaian dalam kan apalagi kalau baju ketat gitu. Nah yang ini dia Cuma pake yang BeHa doang…
Q : Sifat Naruto di Rumah?
A : Hm~ Nanti juga ketahuan gimana :D
Q : Shion tahu tentang sifat asli Naruto?
A : Akan dibahas di chap2 selanjutnya.
Q : Yang suka duluan Naruto/Hinata?
A : Hm, bisakah menebaknya dari chap ini? ;)
Q : Deadlast Naruto pembunuh?
A : Di Canon kan Sasuke sering manggil dia Dobe atau kadang-kadang Usuratonkachi yang artinya deadlast XD maksudnya yang peringkat bawah mulu XD
Q : Hinata kepribadian ganda juga?
A : Ga, Cuma trauma :D
Q : Kenapa harus update jam 9 malam?
A : Karena saya baru selesai kuliah jam segitu :|
Q : Hinata pas lari ganti rok ga? Dimana gantinya?
A : kalau ga salah denger, kalau di sekolah jepang selalu ada loker sekolah dan biasanya bisa dipakai buat bawa baju ganti. Nah, Hinata kebetulan ada rok ganti disana :D
Q : Alasan Low Profile Naruto karena penyiraman itu?
A : Maksudnya? O_o
Q : Hinata orang kaya atau biasa?
A : Bi-a-sa~ Neji sudah kerja tapi dia juga yatim piatu.
Q : Yang ngeguyur Shion?
A : Shion : *glare* | Author : *glup* y—yah lihat nanti~
Q : Kapan Hinata baik hati lagi?
A : Hinata baik kok, cuma sifatnya memang agak kasar :)
Q : Naruto Cuma mainin Hinata?
A : yang ini ga mungkin atau saya bakal dicincang reviewer :|
Q : RTN = Road to Ninja?
A : Ya! XD Disana Hinatanya kan tanda-tanda Tsundere XD tomboy, sedikit emosional dan egois XD
Q : Fic Satsukinya kapan di update?
A : Secepatnya. *kapan?*
Q : Jangan dipotong kata-katanya dan di skip.
A : Itu dibuat… untuk menggantungkan cerita yang akan dijelaskan nanti :| maunya seperti itu… maaf kalau tidak suka. :)
Q : Typonya banyak ya?
A : Penyakit saya yang ga bisa dihilangin =_=
Q : Hati-hati dengan challenge anda author~
A : Ya, saya tahu ini beresiko dan sekarang sudah terbukti terhambat TT maka saya akan mengurangi intensitas challenge menjadi paling cepat 2 hari sekali.
Q : Hinata pake rok atau celana?
A : Sebenarnya celana, olah raga.
Q : Deskripsi jelek.
A : Uh… saya bingung harus memperbaiki yang mana karena inilah style penulisan saya :|a dan maaf saya bukan author yang suka tulis panjang-panjang selain oneshoot.
Q : Jelasin kakak Naru yang cantik dan seksi?
A : Itu dia XD Fem!Kyuubi~
Q : Maksud bahu terekspos?
A : jadi, kalau kancing tiga dari atas dibuka terus dilebarin ke samping kan bahunya kelihatan :3
Q : Apa tujuan Naruto nyamar di KHS?
A : Naruto ga nyamar di KHS, cuma memang dari kelas satu dia sekolah di KHS dan ga mau ada yang tahu kalau dia orang kaya.
Q : Wajah merah Hinata malu atau emosi?
A : untuk chap 1-2 masih karena Emosi dan Malu yang bukan rasa suka tapi malu karena dikerjain Naruto XD
Q : Sasuke manggil naruto… apa tadi? Dan artinya apa?
A : Usuratonkachi? Artinya deadlast atau peringkat terakhir.
Q : Tatapan khawatirnya acting?
A : Gimana ya~ mungkin?
Q : bisa dipanjangin ga per chapnya?
A : sayangnya tidak. Saya bukan orang yang suka chap panjang-panjang :)
Challenge
Oke, karena saya mau memperlambat pempublishan dikarenakan ada reader yang mau supaya saya ga cepet-cepet publishnya, saya kurangi challangenya ya :)
Lebih dari 20 review = Lima hari lagi update (31/12/2013 – 21 . 00)
Lebih dari 30 review = Empat hari lagi update (30/12/2013 – 21 . 00)
Lebih dari 40 review = Dua hari lagi update (28/12/2013 – 21.00)
Maaf yang kecewa saya ga publish cepet-cepet :D
