Behind The Mask

Disclaimer: Naruto, Khisimoto Masashi

Chapter 6 :

Ruangan itu begitu sunyi, hanya ada suara mesin pendeteksi detak jantung yang terus setia memecah keheningan didalam ruangan bernuansa putih tersebut serta suara dentang jam yang kini menunjukkan pukul 6 pagi.

Dua orang berbeda gender di ruangan itu pun masih setia terlelap dalam tidurnya dengan posisi masing-masing. Seorang gadis yang masih belum sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit serta seorang pemuda yang tertidur dengan posisi duduk dan tangan besarnya yang masih menggenggam tangan mungil sang gadis diatas ranjang tersebut.

'nit.. nit.. nit..'

Jemari gadis itu bergerak lemah diikuti dengan gerakan pada kelopak matanya, dan perlahan mata itupun terbuka memperlihatkan bola mata emerald indah miliknya. Sakura, nama gadis itu mengerjap menyesuaikan matanya yang lama tertutup dengan cahaya lampu didalam ruangan tersebut.

'Dimana aku ? Apa yang terjadi ?' Batinnya.

Mata emeraldnya bergerak-gerak berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Sekelebat ingatan terlintas dikepalanya.

'Aku belum berkenalan denganmu, padahal kita sekelas loh, perkenalkan namaku Karin.'

'Apa yang kau lakukan ?'

'Kun eh ? Sasuke-kun ? berani sekali kau memanggil namanya dengan embel-embel kun jalang, kau pikir kau siapa hah ?'

'Memangnya kau siapa eh ? neneknya ? haha cih.'

'Hn, biar aku yang membawanya.'

"Akh." Kepalanya terasa nyeri ketika berusaha mengingat apa yang terjadi, tangan kirinya baru saja hendak terangkat untuk memegang kepalanya yang berdenyut. Namun, Sakura merasa ada sesuatu yang berat menahan tangan kirinya. Dengan perlahan gadis bermata emerald itu menolehkan kepalanya kearah kiri.

Betapa terkejutnya dia ketika mendapati seorang pemuda berambut biru dongker yang tertidur dengan manisnya disisi ranjang dengan posisi duduk dan tanganrnya menggenggam tangan kiri milik gadis yang baru sadar dari tidurnya itu.

Tanpa sadar Sakura menarik sedikit sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman tipisnya yang manis dibalik masker oksigen yang masih dipakainya. Tangan kirinya bergerak melepaskan genggaman pemuda benama Uchiha Sasuke itu dengan perlahan agar pemuda itu tidak terusik dan bangun dari tidurnya.

Sakura memandang wajah damai Sasuke yang masih tertidur dengan intens, 'Manis.' Batinnya.

Tangan kirinya yang sudah bebas kini bergerak kearah kepala pemuda yang masih terlelap itu lalu mengelus rambut biru dongker itu dengan halus.

'Lembut.'pikirnya.

Sasuke yang merasa terganggu dengan gerakan-gerakan yang dibuat Sakura terbangun dari tidurnya, dia baru saja akan membuka matanya ketika merasa ada tangan yang mengelus rambutnya dengan lembut. Sasuke pun mengurungkan niatnya untuk bangun, masih dengan mata tertutup pemuda itu diam-diam menikmati belaian yang diberikan Sakura padanya. 'Nyaman.' Batinnya.

Sakura yang masih keasyikkan mengelus lembut rambut Sasuke kini berhenti dan menyadari apa yang baru saja dilakukannya. 'Eh ? apa-apaan aku ini ?' pikirnya. Dalam sekejap dia menjauhkan tangannya dari kepala Sasuke yang masih terlelap pikirnya.

'Kenapa berhenti ?' Batin Sasuke.

Sakura bergerak gelisah di ranjangnya, matanya bolak balik menatap langit-langit lalu ke pemuda itu lalu ke langit-langit lagi, begitu seterusnya.

Sasuke dalam posisi 'terlelap'nya masih menunggu belaian lembut dikepalanya lagi seperti tadi, sementara Sakura tangan kirinya dengan ragu mengarah ke kepala pemuda itu lagi. Sasuke yang merasa tidak ada pergerakkan lagi akhirnya membuka matanya dan menegakkan kepalanya lalu menatap Sakura dengan pandangan khas orang bangun tidur.

Sementara Sakura mengerjap kaget dengan pergerakkan pemuda itu karena bangun tiba-tiba, tangan kirinya masih terulur kedepan saat Sasuke bangun dan menatapnya. Dengan refleks Sakura menarik tangannya kembali, lalu berdehem pelan.

"Maaf, apa aku membangunkanmu ?" Tanyanya lemah dengan suara serak dan sedikit teredam karena bibirnya terhalang masker oksigen yang masih menempel diwajahnya.

"Hn, kau sudah bangun." Ucap Sasuke dengan ekspresi datar yang biasanya dia pajang di wajah tampannya itu tanpa menjawab pertanyaan Sakura tadi, sejujurnya jantungnya itu sedang berdetak kencang tak menentu.

'Sial.' Umpatnya dalam hati.

"Aku akan panggil dokter untuk memeriksamu." Ucap Sasuke yang dijawab dengan anggukan lemah dari Sakura.

ooooo

Selepas kepergian dokter yang memeriksa Sakura, Sasuke kembali duduk di kursi sebelah ranjang Sakura. Sakura memandang heran kearah Sasuke "Apa ?" Tanya Sasuke, "Kukira kau akan kembali ke asrama, memangnya kau tidak akan sekolah ?" Tanya Sakura yang masih menatap Sasuke heran, sementara Sasuke tersenyum meremehkan.

"Kau mengusirku eh ?"

"Bukan, bukan seperti itu tapi..."

"Ini hari minggu baka."

"Eeeh ?"

"Ternyata kau lebih bodoh dari si dobe ya." Mendengar ledekan Sasuke padanya membuat Sakura menggembungkan pipinya, hal itu membuat Sasuke gemas dan buru-buru mengalihkan pandangannya dari Sakura. "Aku kan tidak lihat kalender." Gumam Sakura lemah agar suaranya tidak terdengar oleh pemuda menyebalkan ini.

Setelah percakapan itu keduanya terdiam membuat ruangan bernuansa puih itu menjadi sunyi, dan itu membuat keduanya merasa tidak nyaman berada dalam keheningan yang mereka buat sendiri, namun hal itu tidak membuat mereka buka suara juga.

"Arigatou." "Maaf." Ujar mereka bersamaan, refleks keduanya menolehkan kepala kepada lawan bicara mereka membuat bola mata berbeda warna itu bertemu kembali. Mereka saling menatap dalam diam, keheningan pun terjadi lagi namun yang kali ini keduanya tidak merasakan ketidaknyamanan seperti keheningan yang pertama tadi.

Sasuke yang pertama tersadar dari lamunan bodohnya itu langsung mengalihkan pandangan kearah lain yang mungkin bisa mengalihkan pikirannya dari gadis bermata hijau dihadapannya. Dia merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia hanyut kedalam batu emerald hijau itu.

"Arigatou." Sasuke menolehkan kepalanya kearah Sakura yang mulai membuka suara lagi, "Arigatou sudah menolongku kemarin." Ucap Sakura tulus sambil tersenyum manis kearah Sasuke, sementara Sasuke kembali mengalihkan pandangannya dari Sakura ke objek lain, 'Lagi-lagi perasaan itu datang, menyebalkan.' Batinnya.

"Hn." Sasuke menjawab secukupnya (?), "Lagipula kau begini gara-gara aku." Lanjutnya lagi.

"Eh ? dari mana kau—" Ucapan Sakura terpotong oleh kalimat yang meluncur dari mulut Sasuke selanjutnya. "Tentu saja aku tahu, kau bukan yang pertama. Tapi kau yang terparah."

"Maksudmu Karin sudah pernah mela—"

"Hn, dia sudah pernah melakukannya pada orang lain." Lagi-lagi pemuda itu memotong ucapan Sakura, 'Dasar tidak sopan.' Pikir Sakura.

"Tapi tidak akan lagi." Sakura memandang Sasuke dengan pandangan seakan meminta penjelasan lebih mendengar kalimat ambigu yang terlontar dari mulut pemuda Uchiha itu.

"Aku akan menjagamu dari Karin."

"Eeeh ?" Sakura memandang polos kearah Sasuke dengan pandangan bingung, 'Sebenarnya ada apa sih dengan pemuda ini ?' pikirnya.

"Aku juga tidak tahu ada apa denganku."ucap Sasuke lagi. 'Lalu kenapa kau berkata akan menjagaku ?' Batin Sakura lagi.

"Entahlah, aku merasa harus melindungimu semenjak kejadian kemarin anggap saja sebagai permintaan maafku." Ucap Sasuke panjang lebar.

Itu kalimat terpanjang yang pernah Sakura dengar dari Sasuke. "Eeeeh ?" Sakura menutup mulutnya dan memandang tidak percaya kearah Sasuke.

"Kau bisa membaca pikiranku ?" Tanya sakura takjub, ternyata dia terkejut bukan karena kalimat panjang Sasuke. Tapi karena Sasuke dengan tepat menjawab apa yang ada dipikiran Sakura.

"Apa maksudmu ?" Tanya sasuke tidak mengerti.

"Kau peramal ?" Tanya Sakura lagi, tidak menghiraukan pertanyaan Sasuke tadi,matanya mengerjap masih memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya.

"Tentu saja bukan baka."Jawab Sasuke ketus, sedikit jengkel dengan pertanyaan konyol Sakura. Sasuke berpikir mungkin dokter tadi harus memeriksa Sakura sekali lagi.

"Kenapa kau selalu mengataiku baka ? aku ini tidak bodoh, kau juga cerewet." Ujar Sakura sambil memajukan birbirnya dan menggembungkan pipinya kesal. Sementara Sasuke tertegun dengan ucapan Sakura. Memikirkan ucapan Sakura yang mengatakan bahwa dia cerewet, ah benar juga dia jadi sedikit cerewet saat berurusan dengan gadis dihadapannya ini.

BRAK.. BRUK.. BRAK.. BRUK..

"Aku dulu."

"Tidak, aku dulu."

"Aku teman sekamarnya."

"Aku teman sekelasnya."

"Pokoknya aku dulu."

"Aku, menyingkir kau."

"Tidak."

BRAK

Pintu kamar rawat Sakura terbuka secara brutal setelah suara ribut yang berasal dari luar, menampilkan dua orang berbeda gender yang tersungkur di ambang pintu dengan tidak elitenya dan beberapa orang lagi dibelakangnya.

"Ohaiyo Mika-chaaaan." Sapa pemuda berambut pirang yang tersungkur itu dengan suara nyaringnya.

'BLETAK'

"Kenapa kau menjitakku Ino ?" Tanya pemuda berambut pirang itu sengit kepada teman disebelahnya yang hobi sekali menjitak kepalanya.

"Kau berisik sekali, kalau kau mau teriak jangan didekatku aku bisa tuli karena suaramu."Balas Ino tak kalah sengitnya, sementara Sakura dan Sasuke hanya menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.

"Kau juga sama berisiknya Ino." Ucap TenTen

"Hoaam, merepotkan."

"Su.. sudahlah kalian, i.. ini rumah sakit." Ujar Hinata kepada sahabat dan kekasihnya yang sama-sama berambut pirang itu.

"Ino-chan, Naruto, kalian hebat kalian bisa merusak pintu." Ucap Sai santai dengan senyum anehnya membuat mata sipitnya semakin tidak terlihat, sementara Ino dan Naruto memandang Sai dengan tatapan tajam.

"Hei, kapan kita masuk ?" Tanya Neji yang kali ini angkat bicara membuat mereka yang masih diam diambang pintu tersadar. Sementara Sakura dan Sasuke saling menatap satu sama lain 'Benar-benar aneh.' Pikir Sakura, 'Hn, Urusai.' Batin Sasuke.

oooo

Kamar rawat Sakura terlihat ramai hari ini, setelah mendengar cerita dari Ino dan Hinata, Naruto dan yang lainnya berniat menjenguk Sakura di rumah sakit.

Dan disinilah mereka sekarang, "Bagaimana keadaanmu sekarang Mika-chan ?" Tanya Hinata lembut sambil mengupas buah apel yang dibawanya untuk Sakura. "Masih terasa sakit, tapi aku merasa jauh lebih baik."

"Aku sangat khawatir saat Shizune-sensei mengatakan bahwa kau masuk rumah sakit dan menceritakan penyebabnya kepadaku dan Hinata saat kami mencarimu." Ucap Ino panjang lebar yang hanya dibalas senyuman manis dari Sakura.

"Cepat sembuh Mika-chan, kami pasti akan merindukan keberadaanmu dikelas." Ujar Naruto dengan suara cempreng serta cengiran khasnya. "Tentu saja, terimakasih Naruto." Balas Sakura tulus.

"Haaaah setan merah itu benar-benar, lihat saja aku akan melakukan perhitangan dengannya." Ujar Ino sengit, dia benar-benar geram dengan kelakuan Karin yang membuat temannya sampai seperti ini.

"Sudahlah Ino, aku tidak apa-apa. Lagipula, dokter yang tadi memeriksaku bilang keadaanku sudah jauh lebih baik dari pada saat aku pertama datang, dan jika keadaanku terus membaik aku bisa kembali ke asrama tiga hari lagi." Jelas Sakura panjang lebar.

"Tapi kan tetap saja Mi—" Ucapan Ino terpotong saat melihat wajah Sakura yang tersenyum penuh arti kearahnya. "Iya baiklah, aku mengerti." Lanjutnya lagi dengan nada lesu.

'Hn, mereka datang dan aku tersisihkan.' Batin seseorang didalam ruangan itu sambil melirik kesal kearah teman-temannya yang sekarang sedang mengerubungi Sakura. You know who I mean.

oooo

"Ini bukan pertama kalinya kalian melakukan pelanggaran, sebenarnya apa mau kalian hah ? Berkali-kali aku memberi kesempatan, berkali-kali juga kalian melanggar peraturan." Ujar Tsunade dengan nada sedikit membentak tiga orang gadis yang tertunduk dihadapannya. Wanita pemilik nama Tsunade itu benar-benar geram dengan kelakuan ketiga muridnya ini.

"Aku tahu kalian tidak bodoh, kalian juga pasti tahu bahwa ini bukan pelanggaran yang ringan."

"..."

"Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menghukum kalian, aku justru berpikir untuk mengeluarkan kalian saja dari sekolah ini." Ujar Tsunade frustasi.

Sontak ketiga gadis itupun mendongak menatap Tsunade dengan wajah terkejut setelah mendengar pernyataan wanita cantik itu.

"A.. apa ? Kumohon jangan sensei." Ujar Shion yang mulai berkaca-kaca, mau ditaruh dimana mukanya nanti jika dia benar-benar dikeluarkan. "Kumohon, beri kami hukuman apapun tapi tolong jangan keluarkan kami dari sekolah ini." Sambung Tayuya yang diikuti anggukan dari Karin.

"Aku sudah memberi kalian kesempatan berkali-kali seharusnya kalian memanfaatkannya dengan baik."

"Kumohon beri kami kesempatan lagi, kami berjanji akan memperbaiki kelakuan kami. Kami benar-benar menyesal." Ujar Shion lagi yang kini sudah mengeluarkan air matanya.

"Tidak, sudah cukup aku memberi kalian kesempatan. Sudah cukup, ini yang terakhir ." Ujar Tsunade tegas.

"Ta.. tapi sensei—"

"Tidak ada tapi-tapian , sekarang kalian keluar dari ruanganku dan kemasi barang-barang kalian diasrama. Segera keluar darisini karena aku sudah muak dengan kalian." Ujar Tsunade lagi dengan nada memerintah yang membuat ketiga murid, ah tidak mantan muridnya itu mau tak mau keluar dari ruangannya.

oooo

"Ini semua gara-gara kau Karin, jika saja kami tidak mengikuti ide bodohmu kita tidak akan dikeluarkan dari sekolah." Ujar Tayuya sinis kepada Karin yang sedang mengemasi barang-barangnya.

"Aku ? Ini semua karna aku ? Justru kau yang seharusnya aku salahkan, kau yang menghasutku untuk melakukannya." Ucap Karin tak kalah sinis dari Tayuya.

"Kalian berdua sudahlah, ini salah kita jadi kita yang memang harusnya bertanggung jawab." Ujar Shion berusaha menengahi kedua sahabatnya yang sedang adu mulut itu.

oooo

"Aku ingin menginap disini saja ." Ujar Ino lemah sambil memandang temannya yang terbaring diranjang rumah sakit dengan pandangan memelas. "Kau akan dihukum jika kau tidak kembali ke asrama Ino." Ujar Sakura sambil terkikik.

"Kau ini kenapa tertawa ? Sepertinya senang sekali aku akan pulang."

"Bukan begitu, aku senang kalian datang tapi kalian tidak harus selalu ada disinikan, kalian juga sekolah besok. Kau kan bisa datang lagi kesini besok." Ucap Sakura berusaha membujuk Ino.

"Ba.. baiklah Mika-chan , kami pulang dulu. Be.. besok kami kesini lagi untuk melihat keadaanmu. Kau baik-baiklah disini ya, istirahat yang cukup." Jelas Hinata panjang lebar sambil menarik tangan Ino dengan sedikit memaksa.

"Kami pulang dulu Mika-chan." Ujar Naruto diikuti yang lainnya.

"Ya, baiklah jaa. Hati-hati dijalan." Seru Sakura kepada teman-temannya yang bersiap untuk kembali ke asrama.

oooo

"Kenapa kau menarik tanganku Hinata ? aku kan masih ingin disana." Ujar Ino sebal.

"I.. Ino-chan, kita bisa mengunjunginya besok lagi bukan ? Lagipula, Mika-chan juga butuh istirahat." Ucap Hinata, sepertinya pikiran Hinata cukup bijak, sementara Ino hanya menganggukkan kepalanya.

"Heeeh ? Kemana si Temen ?" Pekik Naruto sedikt histeris, berlebihan memang. Dan mereka pun baru tersadar bahwa pemuda Uchiha itu tidak ikut pulang bersama mereka saat mendengar pekikkan Naruto. Namun diantara wajah bingung mereka, Shikamaru diam-diam tersenyum penuh arti. Dasar orang aneh.

oooo

"Kenapa kau tidak pulang ?" Tanya Sakura pada pemuda yang berdiri di depan ranjangnya dengan tangan yang bersedekap didada.

"Hn, aku akan pulang."

"Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan ?"

"Aku menunggu mereka pulang."

"Kenapa tidak pulang bersama mereka saja ?" Tanya sakura lagi dengan wajah polosnya.

"Hn, dasar cerewet."

"Huh, aku kan hanya bertanya." Gumam Sakura pelan sambil menggembungkan pipinya. Sasuke berjalan kearah Sakura dan kini berdiri di sisi ranjang yang ditempati gadis itu. Pandangannya lurus kearah Sakura membuat gadis bermata emerald itu gugup dan sedikit salah tingkah. Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura lalu berbisik ditelinganya, jarak yang terlalu dekat itu membuat wajah Sakura sedikit merona.

"Hn, aku pulang dulu." Bisik Sasuke ditelingan kiri Sakura, lalu pemuda itu beralih menatap wajah Sakura. "Istirahatlah." Lanjutnya lagi, sementara Sakura hanya bisa mengangguk kaku. Pemuda itu lalu memundurkan tubuhnya kebelakang menjauh dari Sakura dan berjalan kearah pintu.

"Hn, wajahmu merah. Kau demam eh ?" Ejek Sasuke sebelum dia menutup pintu dan meninggalkan Sakura yang masih mencerna kata-kata Sasuke barusan.

"A.. a.. apa.. apa-apaan dia ?" Gumam Sakura gugup dengan wajah yang masih merona karena ulah Sasuke barusan. Diluar, Sasuke berjalan sambil tersenyum penuh arti. 'Hn, 1-1.' Batinnya.

'Aku belum pernah merasakan ini,

Perasaan asing yang tanpa izin menyusup kedalam hatiku.'

.

.

.

to be continue

Maaf banget aku baru update hari ini, kemarin gak sempet update. Chap 6 ini semoga pada suka ya hihi :D

Balasan review :

ravenpink : ini sudah lanjut, hihi kayaknya sih gitu =)) hm, masih agak jauh sih buat ketemunya :( , semoga suka chap ini :D

Yera30ciemutt : sudah update semoga suka :)

parinza .ananda .9 : sudah lanjut nih :)

ichiro kenichi : hihi iya nih, semoga suka chap ini ya :)

BronzeQueen18290 : ini sudah dilanjut semoga suka :)

Haru CherryRaven : wah iya ? :o baru masuk berarti reviewnya hihi, ini sudah lanjut ya :)

Floral White : Huaaa makasih senpai udah mau review :D ini sudah lanjut semoga suka ya :)

white's : Sudah XD

Guest : sudah dilanjut, terimakasih :)

mizumidina : terimakasih udah suka :) , itu karena kondisi sakura emang lagi gak baik hihi biar cepet sembuh buat take selanjutnya *plak hihi iya ini udah dipanjangin dikit ehehe

sofi asat : hihi iya nih, sama-sama kangen mungkin ya :)

Eysa 'CherryBlossom : wah terimakasih ini sudah dilanjut, semoga semakin suka ya :)

hanazono yuri : ini sudah update semoga suka :) hm, itu masih agak lama deh kayaknya :(

zeedezly. claucindtha : terimakasih :) doain mereka ya hihi :D

peyek chidori : wah gapapa yang penting udah dibaca hihi, wah makasih semoga chap ini suka juga ya :)

Nuria23agazta : ini sudah dilanjut :D

Febri Feven : ini sudah update semoga suka yaaa :D

p.w : semoga suka kelanjutannya :)

bella : hihi makasiiiiih :D, incest ya ? gak akan ada incest disini bella-san aku rada geli juga kalo nulis incest maaf ya :( terimakasih semangatnya :D

satoshi. nobuyuki : wah makasih udah suka :D ini sudah update semoga suka :)

ayam pink : wah haha ini sudah update semoga suka :)

terimakasih buat review chap kemarin, itu adalah review terbanyak sepanjang sejarah pengupdatetan :') *loh

at least

RnR please

Thank you *bighugs*