Behind The Mask
Disclaimer: Naruto, Khisimoto Masashi
Chapter 12 :
Pagi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya, pemuda itu berdiri di balkon kamar adik perempuannya yang mengarah ke halaman belakang rumah. Pemuda berambut merah itu menutup matanya menghirup dalam-dalam udara sejuk dipagi hari dan menikmati semilir angin yang membelai halus kulit wajahnya yang terpahat sempurna.
Otaknya berputar mengingat kejadian dua hari yang lalu saat dirinya pergi ke Tokyo dan mengunjungi sahabat lamanya.
FLASHBACK
Mata Itachi membulat ketika mengingat sesuatu, "Sasuke." Sasori memandang penuh tanya kearah Itachi. "Apa maksudmu ?"
"Dia mirip dengan Mika."
"Mika ?" Kening Sasori mengerut mengingat-ingat nama yang disebut Itachi tadi, tapi sepertinya pemuda ini memang tidak pernah mengenal bahkan mendengar nama ini.
"Iya, dia kekasih Sasuke, Sasuke mengenalkannya pada kaasan tadi pagi dan sekitar dua jam yang lalu mereka pamit pergi."
"..."
Itachi terdiam dan memandang foto yang dipegangnya. "Mereka benar-benar mirip, hanya saja rambutnya yang berbeda." Gumam Itachi rendah namun masih bisa terdengar oleh Sasori.
END FLASHBACK
Sasori membuka matanya ketika merasa ada seseorang yang datang dan berdiri di belakangnya.
"Kau sudah mendapatkannya ?"
"Ya, tuan."
Sasori membalikkan badannya menghadap Yamato dan mengambil amplop cokelat yang dibutuhkannya. Bukan, bukan amplopnya tapi isinya yang dia butuhkan. Mata hazel itu memandang datar foto seorang gadis berambut coklat yang sedang tersenyum bersama teman-temannya itu, tentu saja foto itu diambilnya diam-diam. Sasori sangat hafal dengan wajah itu, mata hijau yang bersinar, hidungnya yang kecil dan mancung, bibir tipis itu, dia sangat mengenalnya.
"Hn, awasi dia."
oooo
Danzo memandang beberapa foto yang diberikan Orochimaru barusan, "Kau yakin dia akan berguna ?"
"Tentu saja, gadis itu adik satu-satunya."
"Kudengar hubungan mereka tidak baik."
Orochimari menyunggingkan senyum menyeringainya pada lawan bicaranya ini, "Mana mungkin bocah itu mencarinya tanpa henti jika dia tidak berguna sama sekali untuk kita." Ujarnya sambil menatap foto yang diambilnya dua hari yang lalu itu.
"Kalau begitu, kita harus mengawasi dia."
oooo
Bel sekolah tanda pelajaran hari ini berakhir telah berbunyi lima belas menit yang lalu, Sakura yang seharusnya sudah ada di asrama harus mengerjakan tugas piketnya dulu, Hinata dan Ino menemani Sakura kali ini. Semenjak kejadian dua bulan yang lalu dua sahabatnya ini tidak pernah membiarkan Sakura pulang sendirian kecuali jika gadis itu 'diculik' Sasuke.
Sakura menghela napasnya lega setelah ia menyelesaikan tugasnya, "Kau selalu saja ketinggalan piket." Ujar Ino sesaat setelah Sakura duduk. "Aku selalu ketinggalan mencatat Ino, si pantat ayam itu selalu saja menggodaku." Sakura mengucapkannya sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Hinata terkikik geli melihatnya.
"Kau lucu Sakura-chan."
"Hinata, jangan panggil aku dengan nama itu aku bisa ketahuan."
"Tak apa, lagi pula tidak ada orang lain lagi disini." Timpal Ino, Sakura memang sudah selesai mengerjakan tugasnya tapi mereka belum beranjak dari kelas karena Sasuke meminta Sakura untuk menunggunya karena pemuda itu harus berkumpul dengan club basketnya, Hinata juga sama, sementara Ino dia hanya ikut-ikutan.
Hening, tidak ada membuka pembicaraan lagi setelahnya, merasa penasaran Ino mulai membuka percakapan diantara mereka.
"Sakura."
"Hm ?"
"Kau sudah memberitahu Sasuke yang sebenarnya ?"
Sakura menolehkan kepalanya pada Ino setelah mendengar pertanyaan teman pirangnya ini, wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu entah apa itu. Gadis itu hanya menjawab pertanyaan Ino dengan gelengan lemahnya.
"Kau belum memberitahunya ? Astaga aku tidak percaya ini."
"Aku... aku butuh waktu Ino. Aku takut."
"Tapi dia berhak tahu, demi Kami-sama dia itu kekasihmu Sakura."
Sakura menundukan kepalanya mendengar perkataan Ino barusan, Sasuke memang berhak tahu tapi Sakura merasa belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Gadis itu takut, takut Sasuke pergi meninggalkannya setelah pemuda itu tahu yang sebenarnya. Takut apa yang dijaganya selama ini pergi begitu saja dan semuanya berubah. Egois memang, tapi itulah yang dirasakannya.
"Sakura-chan, kau harus memberitahunya. Lebih baik dia mengetahuinya darimu langsung kan."
"Aku tahu tapi aku—" Ucapan Sakura terpotong oleh ucapan Ino,"Sakura kau—"
"Sakura ?" Merasa ada yang memotong ucapannya, Ino menoleh ke sumber suara. Matanya terbelalak kaget ketika melihat siapa orang yang memotong ucapannya barusan. Sakura mengalihkan pandangannya kearah pandang Ino, dan ekspresinya tak jauh berbeda dengan Ino, gadis itu bahkan lebih kaget lagi jantungnya berdegup kencang, Sakura merasa napasnya tercekat melihat pemuda yang menatapnya dengan wajah bingung.
"Sa... Sasuke-kun ?"
Sasuke menggeleng tak percaya kearah Sakura atas apa yang didengarnya tadi, pemuda itu sudah tiba disana beberapa menit yang lalu, dia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kelas saat mendengar Hinata memanggil kekasihnya dengan nama Sakura, pemuda berdarah Uchiha itu hanya diam mendengarkan percakapan mereka dari luar.
Sakura segera bergegas mengejar Sasuke yang meninggalkannya sesaat setelah pemuda itu menangkap basah dirinya tadi. Dalam lari, pikirannya kalut, benar-benar kalut. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, gadis itu takut memikirkannya. Sakura takut Sasuke akan meninggalkannya, atau lebih parahnya lagi membencinya.
"Sasuke-kun."
Sakura menarik tangan Sasuke yang terus berjalan cepat dan mengabaikan panggilannya, gadis itu merasakan tubuh Sasuke yang berbalik kearahnya. Sakura hanya bisa menundukkan wajahnya ketika dia sudah berhadapan kekasihnya ini, Sakura takut, terlalu takut untuk balik memandang Sasuke yang dia yakini sedang menatapnya dengan tajam.
"Apa lagi ?" Pertanyaan yang terkesan dingin ditelinga Sakura keluar dari mulut Sasuke, "Tatap lawan bicaramu saat dia sedang bicara Sakura !"
Tubuh Sakura bergetar saat Sasuke membentaknya, dengan perlahan gadis mengangkat wajahnya untuk menatap kekasinya yang lebih tinggi dari dirinya.
"Kau anggap aku apa ?" Tanya Sasuke dengan nada yang lebih rendah.
"..."
"JAWAB AKU SAKURA !" Sekali lagi, tubuh mungil gadis itu bergetar mendengar Sasuke yang membentaknya. Gadis itu menundukkan kepalanya lagi seperti tadi.
"A.. a.. aku minta maaf Sasuke-kun." Ucap Sakura yang masih menundukkan kepalanya didepan Sasuke, menyembunyikan ekspresi ketakutannya dari kekasihnya itu.
"Aku seperti orang idiot !" Sakura kembali mendongak ketika merasakan tubuh Sasuke yang berada didepannya itu kembali bergerak menjauhinya lagi setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir barusan.
"Sa.. Sasu dengarkan dulu penjelasanku."
Sakura terus berjalan cepat mengikuti langkah Sasuke yang entah akan membawanya kemana, gadis itu hanya mengikuti kemana kekasihnya itu melangkah seolah tidak ingin kehilangan jejaknya.
"Sasu.. tunggu.. hiks.."
Sasuke masih terus berjalan mengabaikan Sakura yang masih mengikutinya dari tadi, pemuda itu merasa kecewa, dia merasa dibohongi, dan benar-benar merasa seperti orang bodoh. Tapi disatu sisi pemuda itu tidak ingin seperti ini, gadisnya menangis dia tahu itu, ingin sekali dia berhenti untuk menghapus air mata itu dan memeluk gadisnya tapi egonya berkata lain.
"Sasu... Akh.."
Langkah pemuda itu terhenti saat mendengar pekikkan yang keluar dari mulut gadisnya itu, dia membalikkan badannya kebelakang lalu menghela napasnya, sedetik kemudian pemuda itu berjalan menghampiri Sakura yang jatuh terduduk dihadapannya.
Lihat ? Egomu yang sangat tinggi bisa dikalahkan oleh Sakura hanya dalam hitungan detik. Sakura mendongakkan wajahnya ketika merasakan ada seseorang yang berdiri dihadapannya.
"Baka." Ucap Sasuke, sedetik kemudian pemuda itu membungkuk lalu menggendong tubuh Sakura ala bridal style kearah batang kayu besar dan mendudukkan Sakura disana. Pemuda itu berlutut dihadapan gadisnya dan membersihkan luka dilutut Sakura dengan sapu tangan yang biasa dibawanya.
"Sasu... hiks.. go.. gomen ne hiks.."
"..."
"gomen.. gomen.. gomen.. hiks." Sakura memejamkan matanya erat sambil terus meminta maaf.
Sasuke menghentikan kegiatannya dan beralih mendongak menatap Sakura yang masih terisak didepannya, tangannya bergerak kearah pipi Sakura dan mengelusnya lembut. Menghabus jejak air mata yang dibuat Sakura, membuat gadis itu membuka matanya perlahan dan menatap Sasuke yang sedang menghapus air matanya lembut.
"Hiks.. Sasu.."
Sasuke masih menghapus air mata Sakura dalam diam, tidak menanggapi ucapan Sakura.
"Gomenne.. hiks.." Tangan pemuda itu berhenti dan menempatkan tagannya dikanan-kiri tubuh Sakura. Pandangannya menatap lurus kearah wajah Sakura dengan ekspresi datar namun jauh lebih hangat dari yang tadi.
"Sudah kukatakan, egoku tidak pernah bisa menang melawanmu."
"Hiks.. aku.. aku.. hiks.."
"Berhentilah menangis dasar cengeng." Ujar Sasuke, tangan kanannya kembali menghapus air mata Sakura, sementara Sakura memberengut mendengar ledekan Sasuke barusan.
"Jangan tinggalkan aku." Tangan Sasuke terhenti mendengar ucapan Sakura barusan, "Kau seharusnya menceritakannya, kenapa kau tidak memberitahuku ?"
"Aku.. aku takut. Aku takut kau meninggalkanku, aku takut kau membenciku setelahnya, jika aku harus terus menjadi Mika agar kau tetap berada disisiku.. aku.. aku akan melakukannya.. aku takut kehilanganmu aku.. aku.."
"Ssst tenanglah." Sasuke memeluk gadisnya ini yang mulai meracau tidak jelas agar diam dan kembali tenang, setelah merasa Sakura lebih tenang Sasuke pun melepaskan pelukannya dan memandang wajah Sakura yang sedang menatapnya.
"Dengar, aku mencintaimu bukan karena namamu, aku mencintaimu bukan karen siapa kau, tapi aku mencintaimu karena dirimu sendiri, kau yang apa adanya."
"Hiks.. Sasu.."
"Aku tidak marah, aku hanya kecewa aku tahu hal ini bukan darimu."
"Gomen ne.. aku...hmmph."
Ucapan Sakura terpotong oleh bibir Sasuke yang menepel di bibirnya dengan tiba-tiba, mata Sakura yang terbelalak karena kaget seketika melembut ketika menatap wajah Sasuke yang sedang menciumnya lembut dengan mata terpejam.
Perlahan Sakura pun ikut memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman Sasuke, dengan perlahan tangan Sasuke kembali merengkuh tubuh Sakura yang lebih tinggi darinya karena posisi Sakura yang duduk dan dia yang berlutut didepannya. Sakura mengalungkan tangannya di belakang leher Sasuke, sesekali gadis itu meremas rambut mencuat Sasuke.
Sasuke menekan tengkuk Sakura untuk memperdalam ciumannya, Sakura yang merasa mulai kehabisan napasnya mencoba untuk melepaskan rengkuhan Sasuke padanya. Mengerti kondisi kekasihnya, Sasuke segera melepaskan ciumannya dan memandang wajah Sakura yang memerah.
Pemuda itu menyeringai, "Itu hukuman dariku." Ucapnya santai membuat Sakura memberengut sebal.
Tes... tes...
Perlahan hujan turun membasahi halaman belakang sekolah tempat mereka berada sekarang, beruntung mereka berada dibawah pohon maple yang belum sepenuhnya menggugurkan daunnya.
Sasuke mendongakkan kepalanya ketika merasa sesuatu menetes di hidungnya.
"Hn, sepertinya kita harus diam disini dulu." Ucap Sasuke sambil menatap wajah Sakura, "Dan kau bisa menceritakan semua padaku sekarang."
oooo
"Haaaah, satu masalah selesai." Ujar Ino pada Hinata, selepas kepergian Sakura dan Sasuke, dua gadis itu mengikuti mereka dari belakang dan bersembunyi untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"I.. Ino-chan, se.. seharusnya kita ti.. tidak melihat yang barusan." Wajah Hinata merona merah mengingat kejadian dimana Sasuke mencium Sakura untuk menghentikan tangis gadis itu, dia benar-benar malu sudah melihat apa yang seharusnya tak dilihatnya.
"Tidak apa-apa itu bonus Hinata." Ujar Ino dengan riang membuat wajah Hinata semakin merah dibuatnya.
"Kalian ini sedang apasih ?" Tanya seorang pemuda yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang mereka, pemuda berambut pirang itu berjingjit berusaha melihat apa yang dilihat Ino dan Hinata karena dua gadis itu menutupinya.
"Na.. Naruto-kun, se.. sebaiknya kita pergi saja dari sini ya e.. ehehe."
"Tapi aku penasaran dengan yang kalian lihat Hinata-chan."
"Ti.. tidak ada apa-apa, ayo ki.. kita kembali ke asrama." Hinata menarik paksa tangan Naruto agar pemuda itu mengikutinya, sementara Ino masih diam menyaksikan Sasuke dan Sakura yang jauh disana tanpa memedulikan Hinata dan Naruto yang sudah berjalan menjauhinya.
"Aku tidak menyangka kau suka mengintip."
Tubuh Ino membeku mendengar suara itu, suara yang sudah sangat dia kenal, perlahan Ino membalikkan tubuhnya kesumber suara.
"Sa.. Sai-kun."
"Hm ?" Sai menatap kekasihnya yang terlihat kikuk seperti orang yang ketahuan mencuri oleh pemiliknya, pandangannya beralih kembali kearah sepasang kekasih yang sedang berduaan dibawah pohon maple. "Kau tinggal bilang saja padaku kan jika mau seperti mereka." Ucap Sai dengan senyum anehnya yang membuat Ino bergidik.
"Se.. seperti apa mak.. maksudmu ?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti, aku tahu kau pintar." Ujar Sai lagi, kali ini sambil menarik tangan Ino menjauh dari tempat itu.
oooo
"Jadi kekasihku ini berambut merah muda, eh ?" Tanya Sasuke pada Sakura yang ada dipunggungnya, pemuda itu menggendong kekasihnya untuk kembali ke asrama setelah hujan reda. Selama mereka berteduh menunggu hujan berhenti, Sakura menceritakan semuanya pada Sasuke, tak ada lagi yang ditutupinya pada Sasuke kali ini.
Gadis itu mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Sasuke barusan, seingatnya gadis itu tidak menceritakan sama sekali tentang warna rambutnya tadi.
"Darimana kau tahu rambutku merah muda ?" Tanya Sakura polos, sambil memiringkan kepalanya menatap Sasuke dari samping.
"Tentusaja aku tahu, Akasuna Sakura si cengeng yang menyebalkan." Jawab Sasuke dengan senyum meremehkannya.
FLASHBACK
Disebuah hallroom yang besar terlihat seorang bocah laki-laki berambut biru dongker duduk dibangku tamu sambil menekuk mukanya. Dia benar-benar bosan dengan acara ini, tahu begini dia lebih baik diam dirumah melanjutkan membaca komiknya yang baru dibaca setengah.
Jika saja ibunya tidak menjanjikan untuk membuatkan makanan serba tomat selama seminggu untuknya, pemuda cilik itu tidak akan mengiyakan begitu saja ajakan ibunya itu.
Datang keacara ulang tahun perusahaan kolega ayahnya yang berada di Kyoto jauh dari rumahnya di Tokyo,sesekali bocah itu mendecih memandang sekitarnya. Tidak ada anak seumuran dengannya disini, benar-benar menyebalkan, bahkan Itachi hilang entah kemana.
"Kenapa banyak sekali orang menyebalkan berwajah seperti dia disini." Sasuke, nama bocah kecil itu mengalihkan pandangannya kearah suara yang diyakininya sedang menyindirnya tadi.
"Hei, apa maksudmu nona ?" Sasuke berdiri dari kursi yang ditempatinya tadi dan memandang garang gadis berambut merah muda yang tampak tidak menghiraukannya, gadis merah muda itu dengan cueknya berjalan santai sambil tangannya mengambil makanan yang tersaji di meja dan menaruhnya diatas piring yang dibawanya itu.
"Hei, kau dengar aku ?"
"Kau bicara padaku ?" Tanya gadis kecil itu sambil membalikkan tubuhnya menghadap kearah Sasuke, "Kau pikir siapa lagi yang ada disini ?" Jawab Sasuke dengan pertanyaannya.
Gadis itu menolehkan pandangannya ke kanan dan ke kiri lalu kembali lagi menatap Sasuke dan menggeleng, "Tidak ada." Ucapnya dengan wajah polos, membuat Sasuke kecil sedikit merona dibuatnya sampai-sampai bocah itu mengalihkan pandangannya dari gadis didepannya ini.
"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya." Ucap Sasuke ketus, wajahnya masih dipalingkan kearah kanan.
"Hei tatap lawan bicaramu jika sedang bicara, kau ini tidak sopan sekali." Gadis kecil itu kesal dengan tingkah bocah yang sama sekali tidak dikenalnya ini.
"Kau juga tidak sopan, menyindir orang yang tak kau kenal."
"Hei apa maksudmu ?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti."
"Aku memang tidak mengerti."
"Dasar cerewet."
"Kau juga cerewet."
"Hei, kau menyebalkan." Ucap Sasuke tidak terima.
"Memang kau pikir kau tidak menyebalkan ?"
"Kau pikir kau siapa berani mengataiku ?"
"Ich stelle Akasuna Sakura, wenn sie mich fagen, mein name."
Sasuke mengernyitkan keningnya bingung, yang dia mengerti dari kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu hanya Akasuna Sakura, selebihnya dia tidak tahu. Merasa lawan bicaranya itu tidak mengerti dengan ucapannya, gadis itu menyeringai. Dia bisa memakai kesempatan ini untuk mengolok-olok bocah menyebalkan itu.
"Sie nicht meine sprache verstehen ?"
"Apa yang kau—"
"Grund Fremden saugt, glauben sie, wer sie sid ? Nur weil du nett bist, kannst du mich schelten ya ! Ich habe absolut kein interesse an ihrer grund mann !"
Setelah puas membalas perkataan Sasuke, gadis itu pergi berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Sasuke yang melongo ditempat.
"A.. apa-apaan alien menyebalkan itu."
END FLASHBACK
"Ahahaha Sasu hahahaha."
"Berhenti tertawa Sakura ."
"Hahaha aku tidak menyangka jika bocah itu kau hahaha."
"Sial, tahu begini aku tidak akan mengatakannya."
"Hahaha, ehm maaf."
"..."
"Hei aku sudah berhenti tertawa Sasuke-kun."
"Hn."
"Jadi... kau sudah bisa bahasa Jerman sekarang ?" Tanya Sakura penasaran, "Belum, kau yang akan mengajarkannya padaku." Jawab Sasuke enteng. "Kalau aku tidak mau bagaimana ?" Goda Sakura.
"Kau tahu apa hukumanmu jika kau tidak mau Saku."
Sakura terdiam mencerna perkataan Sasuke barusan, wajahnya seketika merona setelah mengerti apa maksud ucapan Sasuke barusan.
"He.. hentai." Sasuke hanya tersenyum tipis saat mendengar gumaman gadisnya itu."Sakura." Panggil Sasuke setelah sekian lama mereka terdiam.
"Hm ?"
"Besok aku tidak akan ikut ke Kyoto."
"Eh ?" Sakura memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Sasuke setelah mendengar pernyataan kekasihnya barusan. Sekolah mereka mengadakan study tour terakhir untuk tahun ajaran mereka, sebelum mereka melaksanakan ujian dua bulan lagi.
"Kau tahu tadi aku perkumpulan basket ?" Sakura mengangguk menanggapi ucapan Sasuke, ia tahu tanpa diminta kekasihnya ini akan melanjutkan ucapannya, "Aku akan ikut pertandingan terakhir dengan Naruto dan yang lainnya. Kami akan berangkat besok pagi. Mungkin aku dan yang lain baru bisa tiba di Kyoto malamnya."
Sasuke yang menyadari perubahan raut wajah Sakura tersenyum tipis, "Aku akan menemuimu sebelum bisnya berangkat."
Tanpa menjawab lagi perkataan kekasihnya itu, Sakura memeluk leher Sasuke dan menyembunyikan kepalanya di ditengkuk pemuda itu. Baru saja masalahnya selesai, baru saja ia tersenyum kembali, dan sekarang gadis itu merasa dadanya kembali sesak.
Entah apa yang membuat gadis itu tiba-tiba seperti ini, perasaan egoisnya muncul lagi, perasaan egois yang menginginkan Sasuke tetap berada disisinya.
'Kenapa selalu begini ?'
.
.
.
.
to be continue
Halooo aku kembali dengan fic abal ini, maaf banget kemarin seharusnya update malah gak update karena ada sesuatu hihi. Ini kelanjutan ceritanya, aku cuman bisa bilang 'semoga suka' seperti biasa XD
Balasan review :
Sofi asat : ini udah dianjut lagi :D
Merrychibi2 : yah terlanjuuuuur oke ini udah lanjut semoga suka yaaaa
White's : makasih hihi, ini udah dilanjut koook :D
Haru CherryRaven : hehehe kita liat aja nanti dia mau apa :p
Sofia chamrina : nggak kok hihi
Nasyachoco : hihi hem aku gatau berapa chap lagi tapi karna udah belasan jadi bentaran lagi kok
Clariza risanti 3 : hihi ini udah update semoga suka yaa
Hanazono yuri : ini udah lanjuuut
Eysha 'CherryBlossom : makasih hehe hem dia tau karena ngamatin ya semacam itu lah orang yang punya musuh pasti nyari-nyari kelemahan musuhnya kan jadi dia nelusurin tentang Sasori, aku gak jelasin dicerita sih ehehe
Hitsuka ikabara : sabar yaaa tunggu chap depaaaan hehe
Febri feven : ini udah dilanjuuuut
Uchiharuno : hhi makasiiih :D ini udah lanjut
Hana Kumiko : hem mau diapain ya .-. ini udah dilanjuuut
AyamPink : ini udah update lagi, makasiiih hihi maaf buat typonya diusahain buat diilangin :D
Ravenpink : iya nih hehe, makasiiih
Angelika marlisandhy : iya kan aku udah bilang dia munculnya sedikit-sedikit dulu XD
Ulandari : semoga makin penasaran, ini udah lanjuuut :D
Mizumidina : jangan lama-lama dong kan kasian hihi, hem aku belum tau ini nyampe chap berapa tapi karena udah belasan jadi ya bentar lagi deh gak nyampe 20an
Uchiha Ratih : makasiiiih :D , aku gatau nyampe chap berapa tapi kurang dari 20
Uzumaki shizuna : makasiiih, gapapa kok makasih udah review
Hikaru sora : jangan panggil senpai aku pasih pemula XD , ini udah lanjut
Inoueyuuki89 : amin doain mereka biar gak jahat yaaa
Anka-chan : ini udah updateeee :D
Mega naxxtridaya : ini udah update , wah makasih udah mau fav fic ini :D
RnR please
Thank you *bighugs*
