Behind The Mask

Disclaimer: Naruto, Khisimoto Masashi

Chapter 14 :

Normal PoV

Sasori masih memijit pangkal hidungnya setelah Sakura meninggalkannya seorang diri didalam hallroom, pemuda itu mendongakkan kepalanya ketika ia merasakan seseorang datang menghampirinya dan berdiri dihadapannya.

"Tuan." Yamato membungkuk didepan tuan mudanya ini, pria itu bermaksud untuk menemui Sasori sesaat setelah Sakura keluar dari ruangan itu.

"Berhentilah berpura-pura." Sasori memandang wajah Yamato seolah bertanya tak mengerti apa yang pelayannya ini katakan. Pria itu, sangat tahu bagaimana tuannya ini. Bagaimana khawatirnya Sasori ketika Sakura sakit, menyesalnya ia ketika Sakura pergi sambil menangis setiap ia memarahi gadis berambut soft pink itu, betapa paniknya ia ketika gadis itu menghilang tanpa jejak.

Pria itu ingat bagaimana senangnya Sasori kecil saat mengetahui ia akan mempunyai seorang adik, selalu menunggu kelahiran adiknya itu.

"Maaf sebelumnya tuan, saya mengenal anda bukan hanya sehari dua hari, tapi sejak anda lahir. Berhentilah menyakiti diri anda sendiri dan tentunya nona Sakura, hanya anda yang Sakura-sama miliki tuan—"

Sasori mengusap wajahnya kasar, "Bisakah kau tinggalkan aku sendiri ? Aku butuh waktu sendiri." Tanpa membantah perintah tuannya itu, Yamato keluar meninggalkan Sasori yang akhirnya kembali sendiri diruangan itu.

Sasori memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya yang kacau karena ulahnya sendiri.

'Aku, sejak kecil aku kagum padamu, banyak yang menyukaimu, banyak yang menyayangimu, kau lebih bebas dibanding aku yang selalu terkurung didalam rumah, kau punya teman sedagkan aku ? Satu pun aku tidak punya. Aku iri padamu, kau.. kau bisa merasakan bagaimana dipeluk seorang ibu, kau bisa mendengar suaranya, kau bisa mencium pipinya, dirawat olehnya ketika kau sakit, sementara aku ? bertemu saja aku belum pernah.'

"Kaasan."

FLASHBACK ON

Suatu hari dipenghujung musim gugur...

Tangan mungil itu mengelus pelan perut seorang wanita didepannya yang sedang memangkunya, wajahnya tampak berbinar, "Haaaai." Ucapnya pelan, wanita itu hanya terkikik geli melihat tingkah anak lelakinya yang menggemaskan ini.

Dahi bocah tampan itu sedikit berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu, "Haloooo." Ucapnya lagi.

Merasa kesal, tangan mungilnya ia tarik dari perut ibunya itu lalu menyedekapkannya didepan dada seolah memberitahu pada wanita yang memangkunya itu bahwa ia sedang marah dengan menggembungkan pipinya yang sedikit gembul.

"Ada apa sayang ?" Tanya wanita itu lembut sambil mengelus surai berwarna merah milik anaknya ini.

"Dia tidak sopan, tidak membalas sapaanku kaa-chan." Jawabnya polos sambil menunju ke perut ibunya itu, sementara wanita merah jambu itu hanya terkikik geli untuk kesekian kalinya menghadapi tingkah polos putranya yang satu ini. "Adikmu masih sangat kecil sayang tentu saja dia tidak menjawabmu. Tapi kaasan yakin dia juga pasti sudah tidak sabar untuk bisa bermain denganmu."

Mata hazel itu berbinar mendengar ucapan sang ibu, "Benalkah ? Lalu apa yang halus aku lakukan agal dia cepat besal kaa-chan ?" Ibunya tampak berpura-pura berpikir mendengar pertanyaan anaknya tadi. "Emm, kau hanya perlu menunggunya. Tunggu sampai 7 bulan lagi ya ?"

"Uhmm, aku pasti akan menunggunya." Ucapnya sambil mengangguk masih dengan mata berbinarnya.

Suatu hari di penghujung musim dingin...

"Kenapa 7 bulan itu lama sekali kaa-chan ?" Keluh seorang bocah laki-laki bersurai merah itu dengan kepala yang terkulai diatas meja makan, sang ibu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan dengan pelayan yang lainnya menoleh dan tersenyum hangat mendengar ocehan putranya itu. Sementara sang ayah hanya mengalihkan pandangannya sejenak ke arah jagoan kecilnya itu lalu tersenyum geli dan kembali memusatkan pandangannya pada koran yang sedang dibacanya sedari tadi.

"Emm, kau harus bersabar sebentar lagi—" Ucap sang ibu, menghapiri putra kecilnya lalu mengelus lembut rambutnya, kebiasaan sang ibu yang sangat disukai putranya ini. "Kau hanya harus menunggu sebentar lagi, sampai musim semi tiba."

"Musim semi ? adikku akan datang saat musim semi kaa-chan ?"

"Uhmm."

"Sepertinya kau sudah tidak sabar, hm ?" Tanya tousannya sambil melipat koran yang baru selesai dibacanya. "Uhmm, tentu tou-chan." Jawab anaknya dengan anggukannya sekali lagi membuat sang ibu tersenyum. "Berjanjilah pada ibu kau akan menjadi kakak yang baik ne ? kau akan menjaganya dengan baik ?"

"Tentu saja kaa-chan, aku akan sangat sayang padanya."

Suatu hari di pertengahan musim semi...

Bocah lelaki itu tampak tegang menunggu ibunya didepan ruang persalinan ditemani seorang pengawal pribadinya yang sudah sangat dipercaya oleh keluarganya itu, sementara ayahnya menemani sang ibu yang sedang berjuang didalam.

Setelah menunggu ber jam-jam akhirnya seorang suster keluar dan membawa seorang bayi yang mempunyai helaian rambut berwarna sama dengan ibunya, bocah itu tersenyum senang melihatnya.

"Selamat tuan Sasori."

"Uhmm, aku seolang kakak sekalang."

Baru saja kaki kecilnya akan berjalan menyusul suster tadi untuk melihat adik kecilnya yang baru lahir ketika dilihatnya sang ayah keluar dari ruangan tadi dengan wajah yang kacau.

"Tou-chan."

Tanpa aba-aba pria dewasa itu berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan putranya itu lalu memeluknya erat.

Pria itu berusaha memberitahu Sasori bahwa semuanya akan baik-baik saja ketika bocah itu diberitahu bahwa ibunya kehilangan nyawanya saat melahirkan adiknya itu karena pendarahan yang hebat saat melahirkan. Anak sekecil itu tentu saja sulit untuk diberi pengertian, yang ia mengerti adalah bahwa sang ibu pergi meninggalkannya karena melahirkan bayi berambut pink yang dilihatnya tadi.

Setelah berjam-jam bocah itu mengamuk, akhirnya bocah lelaki itu diam karena lelah. Matanya memandang kosong lantai rumah sakit yang berwarna putih. "Dia pembunuh." Desisnya pelan sehingga tidak ada yang tahu satupun apa yang baru saja dikatakannya tadi.

END FLASHBACK

Mata itu kembali terbuka, Sasori tersentak kenapa ia bisa tiba-tiba mengingat masa lalu memuakkan yang berusaha untuk dilupakannya ? Pemuda itu kembali tersentak ketika mendapati dirinya menangis, sudah lama sekali sejak kematian ayahnya yang menyebabkan ia bisa menangis seperti saat sekarang ini. Sasori menghapus air matanya dengan kasar.

Ia ingat janjinya, janji yang dibuat seorang bocah lelaki kepada sang ibu untuk terakhir kalinya. Adiknya, Sakura itu adiknya, ia sadar itu, hatinya menyadari itu namun egonya enggan untuk mengakuinya. Rasa sayang pada adiknya itu sebenarnya lebih besar dari rasa benci yang dipupuknya sedari dulu untuk sang adik. Namun ego seorang Akasuna Sasori lebih besar dibandingkan apapun.

Namun kali ini egonya kalah, ia tidak mau lagi dikendalikan oleh ego seorang bocah kecil yang marah karena kehilangan ibunya. Hanya Sakura yang ia punya sekarang, dan pemuda itu tidak mau kehilangan jejak adiknya untuk yeng kedua kali.

Kakinya baru saja berjalan selangkah ketika merasa menginjak sesuatu dibawah sepatunya, tangan kekarnya mengambil sesuatu yang terinjak olehnya setelah ia mengangkat kaki kanannya.

Kalung ini, kalung dengan bandul kelopak bunga sakura berwarna merah muda. Ia tahu kalung ini, kalung yang sering dibawa oleh adiknya tetapi sangat jarang dipakainya. Mata hazel itu meperhatikan bandul kalung yang sedikit berbeda dari biasanya menurutnya.

Kalung itu.. retak ?

Pemuda itu teringat apa yang dilakukan Sakura sehingga kalungnya bisa sampai seperti ini.

Drrt.. Drrt..

Sasori membelalakkan matanya ketika membaca sebuah pesan email di smartphonenya, tangannya mengepal kuat.

BRAK

"Yamato, si tua bangka itu membawa adikku."

oooo

Berkali-kali Sasuke menghubungi kekasihnya, tapi gadis itu tidak menjawabnya sama sekali, tak jarang juga pemuda itu mendengar suara operator yang malah menyambutnya.

"Ck, kemana dia." Gumaman kesal keluar dari bibir tipis pemuda tampan ini mengundang sahabat pirangnya itu untuk menggodanya, "Hei teme tenanglah, istrimu baik-baik saja di Kyoto."

"Cih, diam dobe."

Pemuda itu berpikir mungkin kekasihnya itu meninggalkan handphonenya begitu saja di kamar hotel lalu bersenang-senang dengan teman-temannya, itu lebih baik daripada ia berpikir sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi pada gadis merah jambunya. Saat ini pemuda Uchiha itu berusaha untuk mengarang cerita dalam pikirannya agar ia bisa mengeyahkan perasaan tak mengenakkan yang menganggunya. Ia mengalihkan pandangannya kearah jalanan diluar sana melalu kaca jendela bis yang sedang membawanya menuju Kyoto.

oooo

Suara Sasori cukup pelan, namun itu juga cukup terdengar oleh telinga Ino yang jeli. Gadis berambut pirang yang baru saja selesai menceritakan yang sebenarnya tentang Sakura pada teman-temannya membelalakkan matanya setelah mendengar percakapan kecil antara Sasori dan Yamato sebelum mereka meninggalkan tempat itu.

Tangan putihnya menarik lengan sang kekasih untuk menjauh guna memberitahukan sesuatu pada pemuda pucat itu, "Aku tidak tahu ada apa Sakura, tapi aku yakin sesuatu yang tidak baik sedang terjadi padanya. Bisakah kau mengikuti Sasori dari jauh Sai-kun ?"

oooo

Lemas, itulah yang Sakura rasakan. Kepalanya terasa sedikit pusing, matanya mengerjap lemah melihat sekelilingnya. Sakura tersentak, dengan refleks tubuh itu terduduk setelah sadar bahwa dirinya sedang berada di tempat yang tidak dikenalnya sama sekali.

'Dimana ini?' Mata hijau itu menelusuri sekitarnya, kedua tangannya terborgol dibelakang tubuhnya dan kakinya diikat sangat kuat dengan tali tambang yang cukup besar.

"Emmph.. emmph.."

Dua orang pria yang baru saja membuka pintu tempat Sakura berada sekarang menyeringai saat melihat tawanannya sudah bangun.

Srek

"Hah.. hah.. siapa kalian ?" Tanya Sakura kepada mereka ketika salah satu diantaranya membuka lakban hitam yang menutupi mulut Sakura barusan secara kasar.

Sakura bergidik ngeri ketika ada seorang pria lagi yang datang menghampirinya, rambut hitam, tubuh kurus dan tinggi, bukan, bukan itu yang membuatnya bergidik tapi kulit pucat dan mata yang layaknya ular itulah yang membuatya takut.

Pria itu terus berjalan kearahnya dan berjongkok dihadapannya, "Tidak akan ada yang terluka jika semua sesuai dengan keinginanku." Ucapnya, "Dan kau harus menuruti perintahku agar semuanya berakhir baik." Lanjutnya lagi.

"Awasi dia, jangan sampai dia berbuat macam-macam."

"Baik tuan."

'Ini tidak baik, aku harus keluar dari tempat ini.' Batin Sakura.

oooo

From : -

Adik manismu ada bersamaku, datanglah jika ingin bertemu dengannya dan jangan bawa siapapun jika kau masih mau melihat dia membuka mata lagi.

Sasori semakin mengeratkan tangannya pada stir mobil yang sedang dikendarainya ini, ingatan pemuda itu kembali melayang pada pesan yang diterimanya tadi, dan kata-kata yang tertulis dalam pesan itu diperkuat dengan pesan gambar berupa sebuah foto yang menampilkan seorang gadis berambut pink yang sedang tertidur dilantai kotor dengan tangan dan kaki yang terlihat diikat.

Sungguh ia sangat khawatir saat ini, baru saja menemukan adiknya lalu sekarang timbul masalah yang jauh lebih besar menyangkut nyawa Sakura.

"Tua bangka sialan, aku akan membunuhmu."

oooo

"Hei, kalian." Dua orang pria yang terlihat sedang mengobrol itu mengabaikan seruan Sakura, "Kaliaaaaaan."

"Apa ?" Bentak salah seorang dari mereka membuat Sakura kaget, "Aku ingin pipis."

"Lalu apa urusan kami ?" Ucap salah seorang lagi, "Kalian bodoh atau apa ? aku ingin pipis tidak bisakah kalian mengantarku ke toilet ?"

"Untuk apa ? itu kan masalahmu."

"Aku ingin pipis, ingin pipis, ingin pipis, ingin pi—"

"Berisik, baiklah tapi jika kau macam-macam kami tak akan segan untuk membunuhmu."

Sakura mengendikkan bahunya cuek, "Siapa juga yang ingin dibunuh." Sungguh aktingnya sangat bagus saat ini, dari luar terlihat tidak peduli tapi tidak ada yang tahu kan bagaimana perasaannya saat ini ?

Matanya memandang sekeliling setelah gadis itu masuk kedalam toilet, tangannya bebas sekarang. Dua penjahat bodoh itu mengalah pada Sakura yang bersikeras meminta mereka untuk membuka borgol ditangannya dan tali tambang yang mengekang kakinya.

Mata hijau itu menangkap sebuah celah, seperti jendela diatas sana namun lebih kecil dari jendela pada umumnya, tapi ia bisa memastikan tubuh mungilnya bisa melewatinya.

'Kami-sama lindungi aku.'

"Lama sekali gadis itu." Ujar salah seorang penjahat tadi, "Cek saja." Timpal rekannya dengan cuek, dengan hati-hati rekannya itu berjalan kerah pintu tolet yang tadi dimasukin Sakura, pintunya masih terkunci dari dalam. Akhirnya kedua pria itu mendobrak toilet itu ketika tidak mendapati jawaban dari Sakura saat mereka memanggilnya. Pintu terbuka dan dugaan mereka benar, gadis itu kabur. Mereka lengah, melihat celah kecil diatas sana membuat mereka tahu bagaimana si nona itu kabur.

oooo

"Moshi-moshi Hinata-hime, aku merindukanmu."

Sasuke mendengus mendengar ucapan sahabat pirangnya ini, sesekali Naruto mencuri pandang ke arah Sasuke untuk sekedar melihat bagaimana ekspresinya saat ini. Sejak tadi pemuda bermata kelam itu selalu gagal menghubungi kekasihnya yang sedang berada ditempat yang sama dengan gadisnya, dan hal itu membuatnya menggoda pemuda Uchiha itu.

Namun senyum jahilnya itu kini pudar tergantikan oleh raut bingung, sesekali pemuda pirang itu melirik sahabatnya yang masih cuek menatap jalanan diluar sana.

"Ini, Ino ingin bicara denganmu." Sasuke mengangkat sebelah alisnya, bukankah tadi si baka ini menelepon kekasihnya ? Lalu sekarang kenapa berubah menjadi Ino ? Dan apa hubungannya dengan dirinya ?

"Cepatlah teme aku pegal." Sedikit menghela napas beratnya akhirnya Sasuke menerima handphone yang disodorkan Naruto.

"Hn."

Raut datarnya berubah menjadi keras saat mendengar apa yang orang disebrang sana sampaikan, "Apa maksudmu Ino ? Jangan bercanda !"

"..."

"Lalu bagaimana ? Aku masih 3 jam lagi sampai."

"..."

"Berikan aku kabar apapun yang kau dapat."

Naruto mengernyitkan alisnya pertanda bahwa ia tidak mengerti apa yang barusan sahabatnya ini bicarakan dengan Ino, "Teme ada apa ?"

"Sakura." Gumamnya, Sasuke mengusap kasar wajah tampannya membuat anak rambutnya tertarik kebelakang, mata kelam itu bergerak liar dibalik kelopaknya. Perasaannya benar, perasaan tak tenangnya selama ini benar, sia-sia sudah usahanya mengarang segala cerita dalam pikirannya sedari tadi. Kenyataan yang terjadi membuatnya jatuh tiba-tiba, jatuh dari tempat yang tertinggi yang pernah ada.

Naruto semakin bingung dengan tingkah Sasuke, Sakura katanya ? Siapa sakura ? Ah ya, jangan lupakan bahwa pemuda hyperactive ini belum tahu yang sebenrnya.

oooo

Sakura masih terus berlari sesekali kepalanya menoleh kebelakang, tidak bisa dibilang berlari juga sih ia haya terlihat berjalan cepat dengan langkah yang pincang. Gadis itu belum jauh dari tempatnya disekap tadi, jika saja ia bisa menjaga keseimbangan saat melompati tembok pada saat ia kabur tadi pasti posisinya sudah jauh dari tempat laknat itu.

Wajahnya meringis menahan sakit, merasa tidak kuat lagi menahan sakit pada kakinya gadis itu pun berhenti dan duduk dibalik pohon yang cukup besar. Lahir di Kyoto bukan berarti gadis itu tahu seluk beluk tempat ini,tempat ini terlihat seperti hutan dan ia merasa sangat asing dengan sekitarnya.

"Mau kemana kalian ?" Tanya seorang pria yang mempunyai mata seperti ular itu pada anak buahnya, sementara yang ditanya tidak menjawab, mereka hanya menundukkan kepala didepan bosnya itu.

"Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk menjaga bocah itu ?" Kembali, anak buahnya itu menunduk dan kali ini semakin dalam menundukkan kepalanya. Mengerti dengan apa yang terjadi melalui ekspresi yang diberika kedua anak buahnya itu membuat Orochimaru merubah mimik wajahnya menjadi murka dalam sekejap.

"Tidak berguna, aku menyuruh kalian menjaga satu orang kalian tidak bisa !"

"Ma.. maafkan kami."

"Cari dia sampai dapat, bawa padaku hidup-hidup atau aku akan menguliti kalian hidup-hidup!"

"Ba.. baik."

Bergidik ngeri dengan ucapan bosnya barusan, kedua anak buah Danzo dan Orochimari itu langsung pergi keluar mencari Sakura yang kabur entah kemana.

Salah seorang dari mereka tampak berpikir kepalanya menoleh kebelakang, jendela itu, jendela yang digunakan Sakura untuk kabur. Wajahnya menyeringai ketika ia tersadar, jendela itu cukup tinggi tidak mungkin gadis seperti Sakura bisa melompatinya tanpa luka sedikitpun yang mungin akan menghambatnya dalam pelarian.

"Aku tahu kemana arah dia pergi, ikuti aku." Ucapnya pada rekan disebelahnya.

oooo

Orochimaru tersenyum menyeringai melihat kedatangan Sasori, "Mana adikku ?" Tanya pemuda berambut merah itu dengan nada dingin dan sorot mata tajamnya. "Tenanglah, kau bisa masuk dulu." Dengan santainya Orochimaru memandu Sasori untuk masuk kedalam rumah sederhana bergaya barat klasik yang terlihat tidak dirawat oleh sang pemilik, dindingnya terbuat dari kayu lantainya pun terbuat dari bahan yang sama sehingga terdengar bunyi suara sepatu beradu saat ada yang manginjaknya.

Orochimaru berjalan didepan Sasori menuju sebuah ruangan, pemuda berambut merah itu tahu bahwa ia bisa menyerang Orochimaru kapan saja ketika melihat punggung pria pecinta ular itu tapi tidak untuk masalah yang satu ini. Pemuda itu tidak bisa berkutik jika hal yang dilakukannya saat ini berhubungan dengan nyawa adiknya.

"Jadi tuan muda Sasori sudah datang eh ?" Sindir seseorang yang ssedari tadi menunggu kedatangan mereka, "Dimana adikku ?"

"Santailah dulu tidak perlu terburu-buru adikmu aman bersama kami." Ujar pria itu sekali lagi, "Apa maumu ? Dimana adikku ?" Sasori memandang tajam pria paruh baya didepannya yang duduk dibelakang meja.

"Kau akan melihatnya nanti setelah kau tanda tangani ini." Timpal Orochimaru, tangannya menyodorkan sebuah berkas kehadapan Sasori, pria itu berusaha mengulur waktu agar Sasori tidak menanyakan Sakura terus menerus.

Setelah membaca berkas yang disodorkan Orochimaru barusan Sasori kembali menatap lawannya dengan sengit. Proyek Mata Cakra, proyek besar yang akan dijalankannya. "Pilih adikmu atau proyek ini, itu terserah padamu."

Sasori memandang datar berkas didepannya, tangannya sudah memegang pulpen bertinta hitam.

oooo

Tubuh Sakura menegang, ia tahu bahwa ada orang lain selain dirinya ditempat ini dan bukan hanya seorang. Gadis itu yakin penjahat yang menyekapnya tadi mencarinya sampai kesini. Tidak bisa, ia tisak bisa diam begitu saja. Ia harus bergerak pergi menjauh dari tempat ini sebisa mungkin. Ya, ia harus memaksakan kakinya untuk berlari menghindar dari kejaran orang-orang itu.

Sakura merasa langkah mereka perlahan-lahan semakin mendekati tempat persembunyiannya, 'Kau bisa Sakura.'

Gadis itu berlari setelah jarak antaranya dengan dua orang anak buah Orochimaru hanya tinggal 10 langkah lagi. Sesekali Sakura menoleh kebelakang, mereka sangat dekat jarak mereka hanya sekitar 3meter dan kali ini Sakura benar-benar membawa kakinya untuk berlari. Terlalu fokus melihat kebelakang membuatnya tidak menyadari sesuatu didepannya hingga gadis itu terjatuh.

"Akh."

Bruk.. Byuur..

"NII-CHAAAAN."

.

.

.

to be continue

ehehe aku mau ngewakilin kakak aku buat minta maaf karena dia bikin aku telat update, dia ngerampok laptop aku seharian -_- maaaaa'aaaaaf minna-saaaaan

semoga chap ini pada suka ya

aku jelasin sedikit jadi rasa bencinya Sasori ke Sakura itu karena peratama ibunya meninggal pas ngelahirin dia, kasih sayang ayahnya lebih gede ditunjukin ke Sakura dari pada dia, terus Sakura juga yang jadi penyebab ayahnya meninggal menurutnya. Jadi kayak gini, dia ngarepin adiknya itu tapi pas Sakura lahir semua yang Sasori punya direbut satu-satu sampe semuanya ilang dari genggaman dia.

Ulandari : ini udah dilanjut semoga suka :D

Hitsuka Ikabara : hihi ini udah updaaaate semoga suka

Angelika marlisandhy : hihi iya biar yang penasaran dan nebak-nebak salah prediksi ._.v

Uchiharuno : secara langsung sih bukan dua orang itu yang ngebekap Sakura hihi semoga suka juga chap ini

Tsuki Yuzuriha : ini udah dilanjut :D

Eysha 'CherruBlossom : hehe makasiiiih , yaaah gapapa asal bisa baca hihi

Uchiha Ratih : ini udah dilanjut lagi hihi hem, aku sih pengennya gamau fic ini udahan tapi kalo gak selesai2 jadi sinetron ntar wkwk

Nasyachoco : hii penasaran ya ? XD

Uzunaruseka : ini udah updaaaate :D hihi makasih udah dibilang bagus, seneng banget deh

Hana kumiko : ini udah dilanjut keep reading :D

Titan18 : makasih udah mau baca nyampe nanti tamat , seneng banget banyak yang suka fic ini :D

Nadya sabrina 5 : hihi makasih udah dibilang bagus , semoga suka chap ini ya

Ayam pink : ini udah kilaaaat :D

Merrychibi2 : ma'aaaaaaaf aku jangan dimarahin :" , Sasori aku buat jahat dulu buat terakhir kalinya hiks

Inoueyuuki89 : hem berhubung cowok didunia ini banyak aku yakin ada cowok kayak dia dan semoga aku bisa dapetin yang kayak gitu {} uuuuh sasuuuuu. Iya nih dia sadar dichap ini.

RnR pleaseeeee

Thank you *bighugs*