Behind The Mask
Disclaimer: Naruto, Khisimoto Masashi
Chapter 15 :
Mata hazel itu masih memandang datar berkas dihadapannya dengan pulpen yang dipegangnya.
"NII-CHAAAAN."
Teriakan Sakura yang terdengar kecil menggema ditelinganya, seperti teriakan yang jauh namun masih bisa terdengar oleh Sasori dan dua orang pria licik ini. Tanpa banyak babibu lagi Sasori lari dari tempat itu,ia yakin yang didengarnya tadi adalah suara Sakura. 'Sialan, mereka mempermainkanku.'
"Brengsek." Umpat Orochimaru, ia dan Danzo menyusul mengejar Sasori. Pemuda berambut merah itu sangat cepat sehingga mereka kehilangan jejaknya.
oooo
Sakura mencoba menyeimbangkan tubuhnya di dalam arus air yang sangat deras itu, tubuh mungilnya yang tidak dapat melawan kuatnya arus air hingga akhirnya hanya bisa pasrah dibawa oleh arus. Tepat ketika saat tubuhnya akan terbawa menuju air terjun dibawahnya tangan gadis itu menggenggam akar pohon yang agak besar dan berusaha bertahan disana.
"Hah.. hah.. akhirnya dapat juga, coba saja kau tidak kabur semuanya tidak akan begini nona." Anak buah Orochimaru yang sedari tadi mengejarnya menyeringai. Dua pria itu menarik tubuh Sakura dari dalam air, Sakura tidak bisa melawan ia terlalu lelah dan sakit disekujur tubuhnya membuatnya sesekali meringis menahan sakit, gadis itu juga merasa menggiggil karena dinginnya air sungai tadi.
"Kau merepotkan nona."
"SAKURAA."
Sakura menoleh kesumber suara, matanya terbelalak kaget. Pemuda itu mencarinya ? Kakaknya mencarinya ?
"Nii.. nii-chan." Gumamnya lirih.
Melihat pisau yang diacungkan ke leher Sakura membuat Sasori menghetikan langkahnya, "Lepaskan adikku." Desisnya dengan mata tajam.
"Tidak akan, kecuali kau tanda tangani berkas ini." Ujar seseorang dibelakangnya, seketika semua pandangan teralih padanya. Dengan santai Danzo melangkahkan kakinya maju menghampiri Sasori, "Pilihan ada ditanganmu bocah."
Sasori terdiam, ia sangat geram. Si tua bangka ini benar-benar mempermainkannya, ingin rasanya ia membunuh orang-orang licik ini jika saja ia tidak ingat pisau yang sedang teracung dileher adiknya. Ia merutuki kebodohannya yang terlalu gegabah, seharusnya ia bersikap tenang seperti yang dikatakan Yamato. Dan lagi kemana pria itu ? Kenapa lama sekali ?
Pemuda bermata hazel itu menutup matanya sejenak dan menghela napasnya berat, diambilnya berkas tadi yang ada ditagan Orochimaru. Tangan putihnya bergerak membuat sebuah coretan dengan tinta hitam itu. Ini tidak seperti rencananya diawal. Danzo tersenyum puas, sedangkan Orochimaru tampak menyeringai.
Sakura memandang Sasori yang terlihat dari samping dalam posisinya, gadis itu memandang tak percaya kearah kakak tunggalnya, setetes air mata jatuh membasahi pipi mulusnya, 'Nii-chan memilihku ?'.
Ia tidak mengerti apa yang terjadi, ia sangat tahu bagaimana kerja keras Sasori mengembangkan perusahaan keluarganya, ia ingat bagaimana marahnya Sasori saat ia merusak laptop kakaknya itu, bagaimana sibuknya sang kakak setiap hari.
"Nii-chan." Bisiknya lirih.
Tangan pemuda itu baru saja bergerak untuk menyerahkan kertas yang tadi ditanda tanganinya ketika empat orang tanpa diketahui datang ketempat itu.
BUGH
Sakura terbebas sekarang, gadis itu menolehkan kepalanya kebelakang. Entah bagaimana caranya sudah ada Shikamaru dan Kiba dibelakang dua orang pria yang tadi mengekang pergerakkannya. "Kalian." Dua temannya itu menghajar mereka habis-habisan, pisau yang tadi mengacung dilehernya pun terlepas dan jatuh entah kemana.
Melihat hal itu Danzo dengan cepat menarik berkas yang telah ditanda tangani Sasori selagi pemuda itu lengah. Namun langkahnya yang baru selangkah itu tertahan oleh seorang pemuda dibelakangnya. "Mau kemana tuan ?" Tanya Sai dengan senyum anehnya dan Kiba yang berada dibelakangnya.
Berkas itu beralih ketangan Orochimaru yang merebutnya dari tangan Danzo, melihat Orochimaru yang berniat akan melarikan diri, kakak kandung Akasuna Sakura itu tidak tinggal diam, ia mengejar Orochimaru yang berusaha lari. Sasori berhasil menjegal kaki Orochimaru hingga pria itu terjatuh dan tersungkur sekitar satu meter dari hadapan Sakura, dengan cepat Sasori kembali merebut berkas itu dari tangan Orochimaru.
Dengan santai pemuda itu merobek berkas tadi di depan wajah Orochimaru dan membuangnya kesungai, kertas yang sudah tidak berharga lagi itu hanyut terbawa arus sungai yang deras. Melihat hal itu membuat Orochimaru geram, usahanya selama ini sia-sia dan gagal begitu saja dengan mudahnya. Emosinya semakin meluap saat melihat seringai Sasori yang seolah mengejeknya, matanya memincing melihat benda yang berada tak jauh darinya.
"Kau bagianku." Ujar Sasori, membuat seringai diwajah Orochimaru kembali tercipta, "Benarkah ?"
Dengan gerakan cepat Orochimaru berdiri, pria itu lalu berlari kearah Sasori dengan sebuah pisau ditangannya berusaha menerjang pemuda berambut merah itu dan.. "MATI KAU TERKUTUK."
Crassh..
"Akh.. hah.." Mata Sasori terbelalak, pria itu terkejut bukan main. Hutan yang tadi ribut oleh suara perkelahian itu seketika hening, semua terpaku ditempat. Pemuda berambut merah itu merasa dunianya terhenti seketika, ia berharap bangun dari mimpi buruknya saat ini juga.
Tring..
Suara pisau yang beradu dengan bebatuan dibawah kakinya terdengar nyaring memecahkan keheningat ditempat itu, tangan putih yang juga berlumuran darah itu dengan bergetar menjatuhkan pisau yang tadi menancap diperutnya.
Tepat saat tubuh Sakura hampir jatuh kedepan Sasori menahannya, tangan kekar itu merengkuh tubuh mungil adiknya yang bersimbah darah, kakinya gemetar, sungguh ia merasa lemas seketika hingga perlahan tubuhnya terduduk diatas tanah hutan yang kotor.
"Sa.. kura."
"hm.. nii.. nii..chan." Seakan waktu berjalan lambat ketika Sasori masih bisa melihat adiknya tersenyum dalam keadaan yang seperti ini. Ia masih bisa tersenyum bahkan disaat terlemahnya.
"BAKA.. APA YANG KAU LAKUKAN GADIS BODOH ?" Sakura tersenyum lemah mendengar bentakan kakaknya, rasanya miris mendengar teriakan kakaknya yang berbeda dari biasanya.
"Aku—"
"HAHAHA... kau hancur bocah kau hancur.. HAHAHA mati semuanya mati MATI !" ucapan Sakura terpotong oleh racauan Orochimaru yang bertingkah layaknya orang tak waras. Dua kakak-beradik itu mengalihkan pandangannya pada pria menyedihkan itu.
Ngiung.. Ngiung..
Suara sirine polisi menggema memecahkan keheningan hutan (lagi). Para penjahat yang tertahan oleh teman-teman Sakura yang menyerangnya itu terlihat panik kecuali Orochimaru yang terlihat sangat senang melihat lawannya kalah menurutnya. Pria itu benar-benar seperti orang gila.
"Tuan.. Sakura-sama." Yamato terpaku melihat pemandangan yang tersuguh didepannya, jika saja ia lebih cepat datang pasti semuanya takkan seperti ini. Tidak menggubris Yamato, Sasori menggendong tubuh Sakura yang berlumuran darah ala bridal style.
"Rumah sakit."
"Nii-chan." Ucap Sakura lirih.
Sasori sedikit berlari menuju mobil hitamnya yang tadi dikendarai pelayannya ini. Tepat saat ia akan berangkat para polisi menyebar mengepung tepat itu. "Urus mereka semua." Ucap Sasori sebelum dirinya ikut masuk kedalam mobil, ia mendudukan dirinya dibangku belakang, pemuda itu sibuk mengatur duduknya agar adiknya nyaman. Ia tidak peduli lagi pada mobil sportnya yang ia tinggalkan begitu saja ditempat terkutuk itu.
Sasori membuka jaket yang dipakainya lalu diikatkan keperut Sakura yang terluka, berharap bisa sedikit meredam darah yang terus keluar dari sana, "Nii-chan." Sakura sedikit meringis saat pemuda itu mengikatkan jaket pada perutnya, "Kau ini bodoh."
"Nii-chan..."
"Selalu menyusahkanku."
"Nii-chan..."
"menyebalkan."
"Kau masih membenciku ?" Ucap Sakura sedikit mulai terisak, nafasnya mulai terengah karena menahan sakit pada lukanya. Sasori sedikit memudurkan tubuhnya hingga bersender pada pintu mobil dan menarik tubuh Sakura perlahan agar bisa besandar pada tubuhnya.
"Gomen ne." Bisik Sakura lirih, Sasori masih terdiam pemuda itu tidak tahu apa yang harus ia katakan. "Gomen—" Ucap Sakura lagi, gadis itu sedikit menarik nafas panjang, "Gomen, karna aku membentakmu, aku.. hah.. tidak memben..cimu nii-chan. A.. hah.. aku menyayangimu, kau satu-satunya.. hah.. y.. yang kupunya.. aku—"
Ucapan Sakura terpotong ketika Sasori merengkuh lemah tubuhnya, kakaknya itu menyandarkan kepalanya dipuncak kepala Sakura, gadis itu merasa sesuatu membasahi wajah bagian atasnnya dan ia tahu bahwa mungkin Sasori menangis, "Nii-chan." Panggilnya pelan.
"Diamlah jangan banyak bicara, kau ini cerewet sekali."
"Gomen." Sekali lagi kata itu meluncur dengan mudahnya dari bibir tipis milik Sakura, "Gomen." Ulang Sasori, membuat Sakura terdiam. Ia tahu ucapan kakaknya takkan berhenti sampai disitu, Sasori pasti akan melanjutkan perkataannya lagi.
"Gomen, seharusnya aku yang mengucapkan kata itu. Aku, aku bukan kakak yang baik yang seharusnya menjagamu. Aku hanya bisa menyakitimu, membuatmu menangis, meninggalkanmu yang selalu mengejarku, aku kakak yang jahat. Disaat aku menemukanmu aku malah kembali memakimu. Gomen.. gomen.."
"Iie, kau.. kakak terbaik yang.. hah.. kumiliki." Sakura tersenyum lemah, sedikit menitikkan air mata pada sudut matanya, sungguh saat seperti ini yang ia inginkan, ia tahu kakaknya ini menyayanginya ia tahu itu, pelukan hangat ini yang dari dulu Sakura inginkan tapi bukan dalam kondisi seperti ini.
"Kau adikku Sakura kau adikku, aku kakakmu."
"Hm, kau kakakku.."
Sasori mencium puncak kepala Sakura agak lama, sungguh ia tidak ingin kehilangan adiknya lagi. Sudah cukup dua bulan ini, ia benar-benar takut, ia bersumpah apapun akan ia lakukan agar Sakura selamat. Jika saja ia bisa, ia lebih baik menggantikan posisi Sakura daripada harus melihatnya seperti ini.
"Aku menyayangimu Imotou, kau juga satu-satunya yang kumiliki, maka dari itu bertahanlah kumohon."
Yamato yang sedang berada dibalik kemudinya tidak bisa menahan perasaannya lagi, ia mengusap kasar matanya yang basah karena menangis sejak tadi. Terlihat lucu mungkin, tapi pria itu sungguh tidak bisa tahan dengan dua kakak-beradik ini. Baru pertama kali mereka seperti ini, demi Kami-sama jangan jadikan ini yang terakhir.
Sakura hanya diam tak menjawab matanya yang terpejam mengeluarkan air mata, ia menikmati pelukan yang baru pertama kali diberikan oleh kakaknya ini. Kenapa disaat seperti ini baru ia bisa merasakannya.
Sasori menatap wajah Sakura yang terpejam dan menepuk pelan pipi putih itu membuat sang empunya membuka lagi matanya, sedikit menghela nafas lega karena pikirannya yang tidak-tidak terenyahkan begitu saja ketika melihat mata emerald itu lagi. "Jangan tidur, jangan pernah berniat untuk tidur sampai kau tiba dirumah sakit."
"Tapi aku.."
"Aku akan kembali membencimu jika kau melakukannya." Jika Sakura tertidur sudah dipastikan gadis itu akan kehilangan kesadarannya, itu akan memperburuk keadaannya, dan itu hal yang dicegah Sasori saat ini.
"Jangan memarahiku nii-chan.. hiks aku sedang sakit." Sasori sedikit tertegun dengan sifat manja Sakura, bisa-bisanya sifat itu keluar disaat seperti ini. "Kau akan baik-baik saja."
"Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja."
Sakura tidak menjawab sama sekali, ia hanya memandang wajah nii-channya. Saat ini gadis itu bahkan bingung mau mengatakan apa, ia sendiri tidak tahu berapa lama lagi tubuhnya ini akan bertahan setelah kehilangan banyak darah.
"Nii-chan, ceritakan aku tentang kaasan." Ucap Sakura yang mengabaikan perintah Sasori padanya tadi, Sasori sedikit terhenyak dengan permitaan adiknya itu. Sedikit sesak singgah didadanya, "Kaasan.. ia sangat mirip denganmu, matanya, rambutnya, senyumannya, ia sangat hangat, menyayangiku, menyanyangimu juga ayah, kau tahu Saku jika kau melihat cermin maka kau akan melihat wajah kaasan. Kau selalu membuatku teringat padanya, itu yang membuatku selalu menjauhimu. Gomen."
Sakura menutup matanya, ia menangis dalam diam, dalam kegelapan ia mencoba membayangkan bagaimana wajah ibunya, "Pasti.. pelukannya hangat kan nii-chan." Gumamnya lirih, membuat Sasori semakin terhenyak, emosinya meluap ia hanya bisa memeluk Sakura sambil menangis, sesekali pemuda itu mencium dahi adiknya dengan sayang.
Sakura membuka kelopak matanyanya, "Aku, ingin.. hah.. melihatmu ter..senyum."
Ah, ini yang tidak pernah dilakukannya. Setiap perilaku nakal Sakura hanya untuk mendapatkan perhatiannya, dan setiap hal baik yang dilakukan Sakura hanya untuk mendapatkan senyumannya, ia ingin Sasori memujinya saat gadis itu sudah lancar membaca, atau saat gadis itu memenangkan lomba design ketika di Jerman.
Sambil menangis pria itu mencoba tersenyum didepan adiknya, senyum yang dipaksakan namun tulus ia lakukan, Sakura hanya memandangnya dan balik tersenyum kearahnya dengan senyuman lemah, "Nii-chanku memang tampan hihi."
Bocah ini, kenapa ia masih bisa bercanda padahal ia tahu sendiri keadaannya sedang tidak baik. "Akh." Sakura meringis, tangannya memegang lukanya yang entah mengapa terasa semakin sakit, gadis itu mencoba menahannya sedari tadi namun kali ini benar-benar sakit, "Sakura ?" Sasori panik, gadis itu tidak bisa menjawab ia hanya menggigit bawah bibirnya untuk meredam erangannya.
Dan disaat seperti ini pula mobil mereka jalan melambat dan tak lama berhenti membuat Sasori kesal 'apa lagi sekarang ?' , "Ada apa Yamato ?"
"Saya tidak tahu tuan, tapi jalanan macet. Sepertinya terjadi kecelakaan."
"Ck, sial." Sasori kembali memandang wajah adiknya yang semakin merisngis tertahan dalam pelukannya. Lalu matanya melihat sekeliling diluar sana dari balik kaca jendela, ia sudah ada dipusat kota Kyoto. 'Tidak ada jalan lain.'
Pemuda itu membuka pintu mobil dan mengeratkan pegangannya pada Sakura, "Anda mau apa tuan ?"
"Adikku tidak bisa menunggu."
Sasori lalu keluar sambil menggendong tubuh adiknya itu yang semakin melemah, pemuda itu sedikit berlari, sementara Sakura semakin meringis karena guncangan yang dibuat Sasori saat berlari membuat lukanya berdenyut sakit.
"Tahan sebentar kita akan segera sampai dirumah sakit." Gumam sasori, ia tidak mempedulikan padangan horror orang-orang padanya, seorang pemuda yanga mambawa seorang gadis dalam gendongannya dengan tubuh berlumuran darah.
Sasori semakin mempercepat langkahnya ketika kakinya tiba di pekarangan rumah sakit milik keluarganya setelah 10 menit berlari. Rumah sakit bertaraf internasional yang begitu besar milik keluarga Akasuna.
Para suster serta semua orang yang ada di lobi rumah sakit memandang ngeri kearah Sasori yang terlihat panik, bukan pada Sasori melainkan pada orang yang dibawanya.
"Apa yang kalian lihat ? Tolong adikku atau kalian semua ku pecat !" Teriak Sasori geram, membuat para perawat menghampirinya buru-buru dan memindahkan Sakura keatas ranjang dorong menuju ruang operasi.
"Nii-chan.. aku sudah boleh tidur ?" Tanya Sakura lirih sebelum seorang suster memasang masker oksigen padanya, Sasori hanya memandang Sakura dan terus berlari disamping ranjangnya dengan para perawat, ia tidak menjawab pertanyaan Sakura, adiknya itu menuruti perintahnya agar tetap terjaga sampai tiba dirumah sakit.
"Sebaiknya anda tunggu diluar tuan."
"Aku ingin Kabuto yang menanganinya." Ucap Sasori sesaat sebelum pintu ruang operasi ditutup, Kabuto adalah dokter kepercayaan keluarganya, pemuda yang masih sangat muda untuk menjadi seorang dokter itu memang bisa diandalkan, dan Sasori percaya padanya.
oooo
'Bagaimana ? Sakura sudah ditemukan ?' Tanya seseorang disebrang sana melalui telepon genggam yang dipegang gadis berambut pirang itu, orang yang sama yang menghubunginya setiap 15menit sekali untuk menanyakan keadaan sahabatnya.
Gadis itu hanya menangis, "Dia sudah ditemukan.. tapi.. hiks.. dia.. hiks.. dia.."
'Bicara yang benar Yamanaka jangan membuatku bingung !' Bentak orang itu membuat Ino semakin tegang, sadar keadaan kekasihnya yang tidak mungkin menjawab pertanyaan Sasuke disana, Sai pun merebut handphone Ino dari tangan gadis itu dan menggantikan Ino untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Sasuke ini aku, aku akan memberitahumu tapi kuharap kau tenang."
'Cepat katakan Sai apa yang terjadi ?'
Menghela nafasnya sejenak Sai pun kembali buka suara, "Sakura berhasil kami temukan , tapi dia terluka saat kejadian itu. Kami belum tahu bagaimana keadaannya sekarang karena Sasori langsung membawa Sakura ke rumah sakit."
'Te.. terluka bagaimana ?'
"Sakura tertusuk dibagian perut, Sasuke." Sai tidak menceritakan jika Sakura terluka karena menjadi tameng bagi kakaknya yang saat itu diserang, ia tidak tahu bagaimana jadinya jika Sasuke tahu yang sebenarnya.
oooo
"Kau, bercanda." Seketika pandangan pemuda bermata kelam itu terlihat kosong, dunianya terasa hancur seketika. Sakuranya sekarat dan ia tidak ada disampingnya. Sasuke merasa tubuhnya lemas, tanpa sadar pemuda itu menjatuhkan ponselnya membuat Naruto mengernyit.
'Halo.. Sasuke kau mendengarku ?'
Pemuda bermata biru itu mengambil ponsel sahabatnya ini lalu menempelkannya pada telinga sehingga ia sekarang bisa mendengar suara Sai dan meminta penjelasan padanya. Seketika matanya terbelalak tak percaya, Naruto memandang Sasuke disebelahnya yang tampak mematung dengan pandangan kosong.
"Apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Sasuke lirih sesaat setelah Naruto memutuskan sambungan telepon, pemuda itu memandang prihatin pada Sasuke, baru kali ini ia melihat sahabatnya seperti ini.
"Apa yang harus kulakukan ?"
"Teme—"
"Aku bahkan tidak ada disampingnya saat ini."
"Teme—"
"Aku tidak ada saat Sakura membutuhkanku."
"..."
"Apa yang harus kulakukan sekarang ?"
Naruto memandang miris sahabatnya ini, Sasuke menangis. Pemuda itu menangis, padahal saat ayahnya meninggalpun pemuda bermata onyx ini tidak mengeuaran air matanya sedikitpun, Naruto tahu itu.
"Teme—"
"Jika saja aku tidak ikut pertandingan sial ini aku pasti ada disana, disampingnya dan menjaganya, ini semua tidak akan terjadi."
"Teme dengarkan aku dulu." Bentak Naruto membuat Sasuke berhenti mercau dan membuat murid lain yang tadii ikut pertandingan yang juga akan ke Kyoto bersama mereka memandang dua orang itu penuh tanya. Setelah minta maaf pada penumpang yang lain, Naruto kembali beralih pada Sasuke.
"Dengar ini semua bukan maumu Sasuke, bukan mau siapa-siapa. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi bukan ? Tidak ada yang menginginkan semua ini terjadi. Mi.. ah Sakura-chan juga temanku, aku juga khawatir tapi kita harus tenang, kau harus tenang. Kau malah akan memperburuk keadaan jika tidak berpikir dingin."
"..."
"Tenangkan pikiranmu Sasuke, jangan berpikiran yang negatif."
Sasuke terdiam mendengar ucapan Naruto, ia mencoba tenang namun jauh didalam hatinya ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin. Jika dia super hero mungkin pemuda itu akan turun dari bis dan berlari menuju Sakuranya.
Tapi tidak, Sasuke hanya manusia biasa. Dan ia hanya bisa bersabar menunggu bis yang dinaikinya tiba di Kyoto, pemuda itu akan langsung menuju rumah sakit sesampainya disana. Sungguh ia sangat takut kehilangan Sakura.
"Tunggu aku Sakura." Gumamnya lirih.
oooo
Sasori terduduk dilantai rumah sakit yang dingin, pandangannya kosong. 'Jangan ambil adikku Kami-sama kumohon jangan ambil dia, jangan ambil Sakura.' Batinnya.
Pemuda itu mengusap kasar permukaan wajahnya, matanya yang melihat kebawah memandang bajunya yang merah karena darah Sakura. Ia baru sadar jika adiknya itu berdarah segini banyaknya, pikiran negatif kembali menghampiri otaknya, bagaimana jika ia tidak selamat ? bagaimana jika Sakura tidak bisa bertahan ? bagaimana jika akhirnya ia kehilangan Sakura ?
"Tidak, tidak. Adikku kuat," Gumamnya, kepalanya menggeleng mengenyahkan pikiran yang tadi hinggap diotak cerdasnya.
"Tuan."
Sasori mendongakkan kepalanya, Yamato sudah ada didepannya setelah satu jam ia menunggu sendirian, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada adiknya jika ia terus diam didalam mobil tadi.
"Sebaiknya ganti pakaian anda dulu." Ucap Yamato, tangannya terulur membawakan baju ganti untuk tuannya ini. Yamato menunggu dengan sabar Sasori yang hanya memandang kosong kearah bajunya.
"Kau tunggu disini." Ucap Sasori setelah ia menerima pakaiannya dan berdiri, pemuda itu lalu berjalan menjauhi Yamato yang masih berdiri memandang punggung Sasori yang semakin menjauh.
'Samoga semuanya baik-baik saja.'
oooo
Sasori berdiri ketika lampu ruang operasi yang tandinya menyala kini mati, Kabuto dokter yang manangani operasi Sakura keluar dengan wajah lelahnya, seakan mengerti maksud Sasori dokter muda itu tersenyum tipis, "Operasinya berhasil." Pemuda berambut merah itu menghela nafas leganya, penantiannya selama 3 jam berbuah manis. Saat menunggu tadi, dirinya menyuruh Yamato untuk meninggalkannya sendiri, ia menyuruh pelayannya itu untuk mengurus Orochimaru dan Danzo yang tentunya sudah ada dikantor polisi.
"Tapi, keadaannya masih lemah. Sakura masih harus ditempatkan diruang ICU karena kondisinya belum stabil—" Kabuto memandang serius wajah Sasori, "Jika dia bisa melewati malam ini, berarti dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi aku tidak bisa menjamin kapan Sakura akan bangun."
Entah apa yang harus ia katakan, perasaan leganya tadi tiba-tiba berubah menjadi ketakutan sekali lagi, takut kehilangan adiknya. "Apa aku boleh melihatnya ?" Kabuto tampak berpikir sejenak, "Kau bisa melihatnya dibalik kaca ruang ICU—" Tangannya menepuk pelan pundak Sasori, "Kuharap kau mengerti."
Dengan berat, kepala bersurai merah itu mengangguk, Kabuto mengantar Sasori sampai depan ruang ICU. Setelah pamit, Kabuto berlalu dari hadapan Sasori yang memandang seseorang dibalik kaca sana dengan pandangan yang sulit diartikan.
Adiknya, yang didalam itu adiknya. "Jangan pergi lagi Saku."
'Aku bahkan merasa nyaman seperti ini,
Ketika aku tidak merasakan sakit seperti tadi.'
.
.
.
.
to be continue
yeeeay gak telat update lagi hihi :D ini dia chapter 15 maaf kalo chap kemarin itu ngegantung karna sambungannya ada disini ehehe. Gimana menurut kalian chap ini ? feelnya dapetkah ? terlalu berlebihan atau malah gak dapet feelnya sama sekali ?
dan ada yang udah baca mangan naruto chap 662 ? itu bikin aku lemes hari ini :\
Balasan review :
Mysaki : haloo maaf review yang kemarin gak aku bales, soalnya pas kamu review aku juga update hehe. Ini udah dilanjut semoga suka :D
Titan18: chap 15 done ;) ini udah dilanjut baca terus yaaaa :D gimana menurut senpai chap ini ?
Ulandari : yeeeeay ini udah dilanjut dan update kilat hihi :D
Febri Feven : ini udah update kilat loh :D
Ayam pink : ini udah update kilat ;) hehe iya karna sambungannya ada disini jadi emang sengaja dibikin gantung maaf ya hihi :D wah masa sih ? :o padahal chap kemarin paling panjang dari chap sebelum2nya loh hihi
White's : ini udah update cepet kayak biasanya hihi :D
AyamPink : aaa ini udah dilanjut kok hihi gimana menurut senpai chap ini ? :3
Merrychibi2 : iya aduduh , dichap ini kejawab oke ? ;) gimana menurut kamu chap ini ?
Nasyachoco : ehehe ._.v ini udah update kilat tanpa telat :p chap ini gimana menurut kamu ?
Hana Kumiko : ini udah update lagi hihi :D
Uchiha Ratih : hihi nah itu dia XP ini udah dilanjut emang fic ini harusnya aku update tiap hari tapi kemarin telat update ehehe
Hitsuka ikabara : makasiiiiih hihi :D ini udah update dan makasih udah mau nunggu ;)
Candra uchiha : ini udah update hihi semoga suka chap ini ya ;)
Nadya sabrina 5 : ehehe ini lanjutannya chap kemarin
Sofia chamira : gatau berapa chapter lagi tapi kurang dari 20 bakal tamat ;) review lagi ya hihi
Uchiharuno : ini udah update kilat seperti biasa hihi keep reading juga yaaa XD
Hanazono yuri : ini udah kilat :D
RnR pleaseee
Thank you *bighugs*
