Behind The Mask
Disclaimer: Naruto, Khisimoto Masashi
Chapter 16 :
Suara sepatu yang beradu dengan lantai itu menggema disepanjang lorong rumah sakit yang terlihat lengang, bagaimana tidak ? ini sudah tengah malam. Para pasien pasti sudah beristirahat, jam besuk pun sudah habis beberapa jam yang lalu. Seharusnya ia tiba disini satu jam yang lalu jika saja tidak ada kecelakaan dijalan menuju rumah sakit.
Pemuda bermata onyx ini mempercepat langkahnya, ia hanya ingin mengetahui keadaan Sakuranya. Jantung semakin berdetak cepat tak tentu disetiap langkah yang ia tapaki di lantai rumah sakit. Setelah pemuda itu menanyakan tentang Sakura di meja resepsionis tadi, Sasuke langsung belari begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.
Langkah kakinya melambat ketika tubuhnya sampai dikoridor menuju ruang ICU, dari sana ia bisa melihat seorang pemuda berambut merah yang berdiri menatap kaca ruangan didepannya. Sasuke kenal orang itu, sahabat Itachi yang sering datang kerumah sewaktu mereka SMA, kakak dari kekasihnya yang selalu dibanggakan gadis itu saat Sakura menceritakan tentang pemuda itu padanya.
Perlahan tapi pasti kaki Sasuke yang berjalan lambat semakin dekat dengan tempat Sasori berdiri. Sasori sadar dengan kedatangan Sasuke, bahkan saat pemuda itu baru sampai diujung koridor, namun pandangannya tidak pernah terlepas dari adiknya. Melihat orang yang ada didepannya membuat Sasuke kembali mempercepat langkahnya.
BRUGH
Sasuke menerjang pemuda itu hingga terjengkal dengan Sasuke yang berada diatasnya, pemuda berdarah Uchiha itu memukul orang dibawahnya ini dengan penuh emosi, tempat itu sepi hanya mereka berdua disana jadi jangan tanya kenapa tidak ada yang memisahkan mereka.
Pemuda itu memukul telak perut Sasori dan memukul wajahnya tanpa ampun, Sasuke benar-benar meluapkan kekesalannya. "BRENGSEK, KAKAK MACAM APA KAU ?" Maki Sasuke yang masih memukul Sasori yang bahkan tidak melawannya sama sekali. "DEMI APAPUN AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA TERJADI SESUATU PADANYA."
Sasori tahu ia memang pantas mendapatkan ini, bahkan ia pantas mendapatkan balasan lebih dari ini. Merasa cukup, dengan tenaganya Sasori mendorong tubuh Sasuke dari atas tubunya sehingga pemuda berdarah Uchiha itu jatuh didepannya. Sasuke mengatur nafasnya yang tersenggal karena lelah memukul Sasori dan juga karena emosi.
"Apa salahnya hah ? dia selalu membanggakanmu, dia tidak ingin kakaknya terlihat jelek dimata orang lain, dia menceritakan hal baik tentangmu padaku. Tapi aku tahu kau tidak sebaik itu."
"Aku memang bukan kakak yang baik." Sasuke terdiam, pemuda itu masih berusaha mengatur emosinya. Mata hitam itu memandang tajam pemuda yang terlihat menyedihkan didepannya ini. Merasa tidak ingin mengganggu Sakura dengan keributan yang dibuatnya, Sasuke memilih menahan emosinya dalam-dalam pada Sasori.
"Aku baru bisa bicara dengannya saat kejadian tadi sore."
"..."
"Bahkan aku dari dulu yang menginginan dia mati." Sasori tersenyum miris, Sasuke mengepalkan tangannya erat hingga tangan putih itu semakin memutih dan pucat, pemuda itu menahan mati-matian agar tangannya ini tidak bergerak untuk memukul wajah itu lagi.
"Sakura selalu mengejarku dari dia kecil hingga sebesar ini, dia selalu menangis saat aku pergi aku bahkan tidak mengerti aku selalu kasar padanya tapi dia selalu menempel padaku, dia selalu mencari perhatianku dengan ulahnya entah itu baik atau buruk, tapi aku selalu mengacuhkannya, membuangnya jauh-jauh."
"Aku dari dulu selalu mencoba mempertahankan perasaanku untuk tetap benci padanya, aku selalu berusaha mengenyahkan perasaan sayangku padanya meyakinkan diriku sendiri bahwa dia iblis kecil yang memang pantas kubenci karena merebut semua yang kumiliki."
"..."
Sasori mengusap kasar wajahnya sejenak lalu kembali menatap lantai dibawahnya, "Aku menyuruhnya enyah tapi aku mencarinya tanpa henti, aku mengacuhkannya tapi aku mengkhawatirkan keadaannya ketika dia tidak dapat kulihat dengan mataku, aku selalu mengabaikannya tapi aku meyuruh orang untuk mengawasinya saat aku berhasil menemukannya."
"..."
"Aku tidak bisa, aku tidak pernah bisa mengabaikannya begitu saja. Dia adikku, dia tanggung jawabku, aku menganggap keberadaannya. Aku menyayanginya, hanya dia satu-satunya yang kupunya. Aku terlalu menjunjung tinggi harga diriku hingga tidak mengakuinya, membohongi perasaanku sendiri dengan melukainya."
"..."
"Dan kini Kami-sama menghukumku, memberitahuku bahwa aku terlalu sombong untuk mengakui yang sebenarnya."
Perlahan kepalan tangan itu mengendur, dirinya melemah dan menatap Sasori dengan ekspresi datar yang biasa ia tunjukkan pada orang lain. Tubuh atletis itu berdiri dan menatap kekasihnya yang tertidur disana dengan segala alat medis yang melekat pada tubuhnya. Pemuda itu tersenyum lemah yang terlihat miris, tangannya menggapai kaca dihadapannya yang membatasi dirinya dengan Sakura, "Hei, aku datang. Aku sudah datang Saku. Aku menepati janjiku untuk langsung menemuimu setelah aku sampai."
"Apa aku boleh menemuinya ?" Tanya Sasuke lirih pada Sasori yang kini telah berdiri disampingnya memandang objek yang sama dengan Sasuke. "Dokter melarang, kondisinya masih belum stabil."
"Wakatta, aku hanya bisa melihatmu darisini Saku." Gumam Sasuke lirih, bukan pada Sasori tentunya. "Terimakasih." Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Sasori yang masih menatap lurus kearah Sakura, "Terimakasih sudah menjaga adikku."
Sasuke kembali mengalihkan pandangannya pada Sakura. "Hn."
Sakura tidak sadarkah kau ? keadaanmu membuat dua pemuda penting dalam hidupmu ini khawatir dan sensitif karena emosi masing-masing.
oooo
Ruangan itu terasa hening, hanya ada seorang pemuda bermata kelam yang menggenggam erat tangan mungil dingin milik kekasihnya disana. Sesekali ia mencium lembut tangan itu dan menempelkannya pada pipinya, memandang wajah manis itu yang terlihat pucat. Sedikit meringis saat ia melihat lagi-lagi alat medis itu melekat ditubuh gadisnya. Ini kali keduanya pemuda itu menemaninya dengan keadaan seperti ini bagaikan de javu.
Perlahan pemuda itu berdiri dan membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah sang gadis yang masih tertidur, bibir tipis itu mencium lembut pipi pucat sang gadis cukup lama, menyalurkan segala perasaannya pada sang gadis segalanya, segala yang dirasakannya saat ini. Memberitahu bahwa ia sangat mencintainya, merindukannya, membutuhkannya, dan takut kehilangannya.
Pemuda itu kembali pada posisi semula, duduk dikursi sebelah ranjang Sakura dengan tangan yang menggenggamnya erat. "Bangunlah pemalas, ini sudah pagi. Kau dengar ? bahkan burung diluar mengejekmu karena belum bangun baka."
Sasuke tahu, sangat tahu bahwa gadisnya takkan merespon apapun yang diucapkannya, tapi ia yakin kekasihnya itu mendengarkannya saat ini. "Bangunlah Sakura." Gumam pemuda itu lirih sambil mengeratkan genggamannya pada tangan mungil itu dan mengecupnya lama.
Sakura, ah ya gadis itu. Adik kandung Akasuna Sasori itu berhasil melewati masa kritisnya semalam, membuat dua pemuda yang kacau balau dengan perasaan takut mereka bisa menghela nafas lega tadi pagi, tapi itu tak bertahan lama setelah Kabuto mengatakan tidak tahu kapan Sakura akan bangun. Kondisi Sakura yang sudah mulai stabil membuatnya dipindahkan dari ruang ICU keruang rawat inap, sehingga Sasuke bisa berada disampingnya, pemuda itu merasa cukup tersiksa semalaman hanya bisa memandang Sakura dari kaca.
Jangan tanya kemana Sasori saat ini, pemuda itu ikut keruangan Kabuto untuk membicarakan kondisi Sakura dengan dokter muda itu. Sehingga hanya tersisa Sasuke dan Sakura disini.
"Kau janji akan menungguku, tapi saat aku datang kau malah tidur. Kau bilang akan menghabiskan malam untuk melihat bintang denganku, tapi sampai pagi seperti ini pun kau belum bangun."
"..."
"Kau tahu, semalam salju pertama turun dan pagi ini diluar terlihat putih, apa kau bisa merasakannya ?"
"..."
Sejenak, pemuda itu menundukkan kepalanya membuat wajah tampannya sedikit tertutup oleh helaian rambutnya. Tangan kekar itu semakin erat menggenggam tangan Sakura, "Saku aku.."
"Aku takut, aku takut saat ini apa kau tahu ? Aku takut kehilanganmu, kehilangan senyummu, wajah ceriamu, segalanya dari dirimu aku takut kehilangan itu Saku apa kau bisa merasakannya?"
Sasuke mengarahkan tangan mungil itu untuk menyentuh dada bidangnya, membiarkan gadis yang sedang tertidur dehadapannya ini merasakan detak jantungnya.
"Kau bisa merasakannya hm ? Kau orang pertama yang membuatku seperti ini. Kau tahu Saku, saat jantungku berdetak seperti ini hanya terjadi ketika aku bersamamu. Rasa senang karena aku bisa terus berada disampingmu, tapi kali ini berbeda."
"..."
"Aku.. aku takut. Aku benar-benar takut kau pergi meninggalkanku kapan saja kau mau."
"..."
"Maka dari itu—"
Sasuke melipat empat jari Sakura dan menyisakan jari kelingking mungil itu yang tetap terulur, pemuda itu perlahan menautkan kelingkingnya pada kelingking gadisnya, tangan kirinya pun ikut menggenggamnya.
"—berjanjilah padaku kau akan bertahan, tetaplah hidup dan menjadi Sakuraku seperti biasa."
Sekali lagi untuk kesekian kalinya pemuda itu mencium tangan Sakuranya, kali ini embun yang menghalangi pandangannya sedari tadi melumer jatuh dan ikut membasahi tangan mereka yang masih bertaut.
"Aishiteru Sakura.. zutto, zutto, zutto, zutto." Bisik pemuda itu pada telinga kanan gadisnya, sedetik kemudian bibir tipis itu mengecup lama dahi gadisnya sambil menutup matanya erat seakan memberitahu bahwa disini Sasuke sangat kalut.
Pemuda itu membuka matanya memperlihatkan betapa hitamnya onyx sang Uchiha bungsu, darisana ia bisa melihat Sasori yang sudah berada diambang pintu. Sasuke cukup dewasa untuk mengerti bahwa kakak-beradik ini sepertinya membutuhkan waktu untuk bersama.
"Hn, kakakmu datang Saku, aku keluar dulu sebelum si merah itu mengusirku." Sasuke tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu ditelinga Sakura lalu mengecup singkat pipi gadisnya sekali lagi sebelum berlalu pergi.
"Aku akan kembali."
"..."
oooo
Sudah dua minggu sejak Sakura melewati masa kritisnya tapi mata itu masih tertutup, masih menyembunyikan bola emerald itu didalamnya. Minggu lalu tepatnya dua hari setelah gadis itu dikatakan stabil, Sasori memindahkannya ke Tokyo. Bukan, bukan karena rumah sakit sebelumnya jelek, bahkan rumah sakit yang sekarang ditempati Sakura saat ini juga masih milik Akasuna.
Pemuda itu harus menjalankan proyek besarnya di kota ini, tidak mungkin ia meninggalkan Sakura di Kyoto. Maka dari itu dia juga membawa Sakura ikut serta, ini juga memudahkan teman-temannya untuk menjenguk Sakura, Sasuke juga bisa lebih mudah menjaganya ketika pemuda itu sedang tidak ada. Ah ya pemuda itu, jangan tanya berapa kali sehari pemuda itu datang, Sasuke selalu menemui gadisnya setiap hari setelah pulang sekolah.
Seperti hari ini pemuda itu datang, duduk disamping Sakura dan menggenggam tangan mungil itu, aa bukan hanya Sasuke tapi teman-teman Sakura yang lain pun ada disini.
"Hei, sakura-chan kau tahu ? dikelas ada mayat hidup baru. Pemuda dingin yang auranya suram hahaha." Ujar Naruto dengan suara nyaringnya.
BLETAK
"Ino, kenapa kau memukul kepalaku ?"
"Kau itu berisik."
"Kau juga berisik sayang." Timpal Sai dengan seyum aneh yang terukir diwajahnya membuat Ino memberi tatapan tajam pada kekasihnya itu. Hinata terkikik geli melihat tingkah kekasih dan sahabatnya ini. "Su.. sudahlah ka.. kalian."
Sasuke yang merasakan pergerakkan lemah dari jemari Sakura yang sedang digenggamnya menolehkan kepala kearah gadisnya dan tersenyum tipis, "Hn, mereka memang berisik."
Sejenak teman-teman mereka yang ada disana tertegun melihat Sasuke, bagaimana berbedanya pemuda itu ketika disekolah dan disamping gadisnya. Pemuda itu bahkan terlihat lebih tenang saat berada disamping Sakura. Pemuda itu juga mulai terbiasa dengan respon yang diberikan Sakura lewat gerakan tangannya, awalnya Sasuke kira Sakura akan bangun saat itu tapi ternyata tidak. Kabuto bilang itu hanya respon dari Sakura yang memberitahu mereka bahwa Sakura mendengarkan.
Gadis berambut indigo itu melangkah mendekati Sakura, tangannya menggenggam topi rajut hijau tosca. "A.. aku membuatkanmu i..ini Sakura-chan." Perahan tangan Hinata memakaikannya dengan perlahan.
Sasuke tersenyum tipis kearah gadisnya, pemuda itu sedikit membenarkan posisi topi rajut yang baru saja dipakaikan Hinata dikepala Sakura. "Hn, warnanya hijau tosca dan kau cantik Saku." Ucapnya lirih, seolah memberitahu Sakura bagaimana rupanya saat ini.
Ino tersenyum lemah dan perlahan kakinya berjalan mendekati ranjang Sakura, "Hei, kapan kau bangun eh ? Aku dan Hinata meridukanmu bodoh. Kau ini memang keras kepala ya ? Sekali tidur, kau tertidur terus sampai lupa bangun." Perlahan tapi pasti mata Ino memburam tertutup kristal bening yang bisa meleleh kapan saja melewati pipinya.
"Kau.. apa kau tidak merindukan kami Saku ? kau tega sekali." Ya, kabut yang menghalangi pandangannya itu kini meleleh juga dengan perlahan, Ino tersenyum lemah memandang sahabatnya ini, "Apa kau tidak mau melihat wajah kekasihmu yang seperti zombie didalam kelas eh ? Kau pasti menyesal melewatkan waktu untuk menggoda zombie ini."
Sasuke sedikit menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi sedihnya dibalik anak rambutnya. Tangan kekarnya semakin erat menggenggam tangan Sakura. "I.. Ino-chan." Hinata punggungnya dengan lembut.
Mengerti situasi dengan ekspresi Sasuke saat ini membuat Sai perlahan mendekati kekasihnya dan merangkulnya, "Kurasa kita harus pulang sekarang—" "ta.. tapi—"
"Sakura-chan juga harus istirahat, lagi pula jam besuk hampir habis." Timpal Naruto.
"Ya, baiklah." Dengan lemah Ino menyetujui ajakan kekasihnya untuk pulang, lagi pula mereka disini dari siang saat pulang sekolah dan sekarang sudah jam delapan malam. Beruntung ini akhir pekan jadi mereka bisa pulang kerumah masing-masing malam ini.
"Aku pulang dulu Sakura, besok aku akan membawakan bunga yang baru untukmu." Ucap Ino dengan nada ceria yang terdengar dipaksakan. "Aku juga pulang Sakura-chan, cepatlah bangun ne." Ujar Hinata.
Tepat saat mereka akan keluar dari kamar rawat Sakura, Sasori sudah berdiri didepan pintu. "Kalian mau pulang ?"
"Ya, besok kami kesini lagi untuk mengganggu tidur Sakura-chan lagi."
BLETAK
"Pelankan suaramu Naruto."
Naruto hanya mengusap kepalanya yang tadi terkena jitakan Ino untuk yang kedua kalinya hari ini sementara yang lain tersenyum melihat tingkah duo pirang ini.
"Hn, aku akan mengantar mereka sampai depan."
Selepas kepergian mereka tinggal Sasori dan sakura diruangan ini, mata hazel itu melihat tas Sasuke yang masih tergeletak dikursi yang tadi didudukinya. Ah adik Uchiha Itachi itu pasti akan menginap disini seperti minggu lalu. Sasuke hanya bisa menginap diakhir pekan untuk menemani Sakura karena dihari biasa dia pasti tidur diasrama.
oooo
"Kami pulang dulu Sasuke." Sai melambaikan tangannya singkat dan berlalu bersama Ino. Sasuke menolehkan kepalanya kekanan ketika merasakan tepukan pada pundaknya dan memandang si pelaku yang hanya membalasnya dengan cengiran khasnya yang perlahan hilang tergantikan dengan wajah serius yang jarang sekali ditunjukkan sahabatnya yang terkenal konyol ini.
"Kau harus kuat Teme, Sakura-chan membutuhkan seseorang yang lebih kuat dari kondisinya saat ini."
"Hn, aku mengerti."
Sasuke memandang kosong pekarangan luas depan rumah sakit setelah teman-temannya pamit pulang sebelum ia kembali melangkahkan kakinya kembali ke kamar rawat Sakura.
oooo
Sasori sedikit merapikan selimut tebal yang dipakai Sakura lalu mengelus rambut merah muda itu lembut, "Kau sedang berada dimana lagi sekarang hm ? Apa yang sedang kau impikan imotou ? Apa disana jauh lebih indah dari pada disini hingga kau sulit untuk kembali eh ?"
"..."
"Kembalilah Sakura, aku merindukanmu. Jangan terlalu lama berkelana kau selalu membuatku cemas." Ucapnya lirih sebelum mencium puncak kepala adik merah jambunya itu. Sasori melanjutkan ceritanya hari ini pada Sakura tanpa menyadari pemilik mata onyx itu sudah berdiri didepan ruang rawat sakura. Tubuh atletisnya ia sandarkan pada tembok dibelakangnya, perlahan pemuda itu menutup matanya sejenak. Sungguh semakin hari dirinya merasa semakin rapuh, pemuda itu tersenyum miris, "Naruto benar, aku tidak ada bedanya dengan mayat hidup Saku." Gimamnya lirih.
Setengah jam ia menunggu diluar hingga akhirnya memutuskan masuk, Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Sakura, diliriknya Sasori yang sudah tertidur disamping kanan ranjang gadisnya. Pemuda itu semakin mendekat kearah Sakura, perlahan ia membungkukkan wajahnya mendekati wajah Sakura dan mengecup dahi Sakura lama.
Dari jarak sedekat ini membuatnya dapat mendengar suara deru nafas Sakura yang terdengar halus dan teratur yang tertutup masker oksigen, "Ya, tetaplah bernafas Saku. Karna nafasmu adalah nafasku."
Sasuke menempelkan dahinya pada dahi Sakura, "Aku juga merindukanmu Sakura." Bisiknya, dan kristal itu sukses jatuh dari matanya ikut membasahi pipi Sakura yang berada dibawahnya.
oooo
Kelopak mata itu terlihat gelisah, cahaya didepannya memaksa gadis itu untuk membuka matanya dan menunjukkan emerald indah yang disembunyikannya. Terlalu silau rasanya, hingga ia sedikit menyipitkan matanya. Perlahan cahaya itu memudar tak secerah satu titik cahaya terang didepannya tadi, seolah menyebar dan menerangi tempatnya berada sekarang.
"Dimana aku ?" Masih belum mengerti dengan keadaannya sekitarnya, gadis itu hanya diam tak bergerak ia berusaha mengingat-ingat dimana ia berada saat ini. Untuk beberapa menit dia terdiam akhirnya ia tersadar, ah kamar ini ia hafal betul kamar siapa ini.
Kamar luas serba putih, ranjang queen size itu, boneka tedy bear besar, dan piano itu, semuanya berwarna putih. Gadis itu menyunggingkan senyum manisnya, ia sangat merindukan tempat ini. Kamar pribadinya yang sudah ia tinggalkan dua bulan belakangan ini. Sesekali matanya menatap sekeliling, tak ada yang berubah semuanya masih sama.
Gadis itu mengernyit ketika merasakan pipi kirinya basah, perlahan tangan mungilnya menghapus air yang tadi menempel pada pipinya 'Mana mungkin kamarku bocor.' Pikirnya sambil menatap langit-langit kamarnya lalu menggeleng dan mendengus geli.
Suara piano yang tiba-tiba tertangkap oleh gendang telinganya menyita perhatiannya, siapa yang berani memainkan piano kesayangannya ? Dengan wajah polosnya gadis itu memiringkan kepalanya untuk melihat siapa pelakunya namun tetap tidak terlihat, sehingga kini ia melangkahkan kakinya pelan menuju piano putih yang berada di tengah kamarnya itu.
Sejenak mata emerald itu terpaku menyaksikan seorang wanita yang mempunyai warna rambut sama dengannya sedang memainkan tuts piano dengan tenang. Refleks gadis itu pun menggerakkan tangannya dan menggenggam rambut panjang miliknya, matanya bolak-balik menatap rambut miliknya dan milik wanita itu. Perlahan kakinya melangkah mendekati wanita itu dan duduk disebelah kanannya.
Gadis itu menekan satu tuts piano didepannya sehingga membuat wanita yang sedang asyik memainkan pianonya itu berhenti dan beralih menatapnya. Wanita itu tersenyum lembut kearah gadis disebelahnya yang justru memandangnya penuh tanya.
Tangan putihnya terulur membelai lembut rambut merah jambu sepunggung milik gadis disebelahnya itu, "Kau sudah besar ne, Sakura-chan ?" Sedetik kemudian wanita itu memeluknya, menyesap aroma bunga Sakura yang menguar dari tubuh gadis ini. "Anak kaa-san sudah besar."
Sakura membeku ditempat, matanya terbelalak. Apa yang tadi dikatakannya ? 'kaasan ?' Air mata yang telah terkumpul dipelupuk matanya itu kini mengalir begitu saja. Tangannya bergerak membalas pelukan wanita itu. ah ya, kenapa ia bisa lupa dengan wajah ini ? wajah yang sama seperti pada foto yang ia punya bukan ?
"Kaasan."
Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah putri kecilnya yang kini sudah menjadi seorang gadis sekarang. "Kau sangat cantik." Wanita itu terkikik masih dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
"Aku merindukanmu kaasan.. hiks."
"Kaasan juga merindukanmu sayang." Dipeluknya lagi anak bungsunya ini tapi tidak selama yang tadi, dan kini wajahnya menatap wajah Sakura tangan halus itu mengusap lembut wajah Sakura untuk menghapus air matanya.
"Katakan, kenapa kau begitu nakal eh ?"
"..."
"Kau membuat kakakmu cemas, kau ini nakal sekali."
"Kaasan—"
"Lalu sekarang kau membuatnya khawatir lagi ?."
"Nii-chan tidak akan khawatir padaku."
"Siapa bilang eh –" Tangan itu kembali terulur menangkup wajah Sakura yang menunduk, "—dia sangat menyayangimu Sakura-chan, dia hanya terlalu malu untuk mengakuinya."
"Kalau nii-chan sayang padaku kenapa dia malu ?" Wanita itu terkikik geli melihat ekspresi Sakura saat marah, tidak jauh berbeda dengan Sasori kecil yang menggembungkan pipinya dan memberenggut.
"Karena nii-chanmu itu egois sayang. Kaasan yakin kau sebenarnya mengerti bagaimana sifatnya."
Sakura mengangguk lemah kemudian gadis itu mendongakkan kepalanya cepat sehingga sekarang wajahnya berhadapan langsung dengan sang ibu. "Kaasan apa aku pembunuh ?"
Sedikit tersentak kemudian wanita itu menjawab pertanyaan putrinya dengan tenang, "Tidak sayang kau bukan—"
"Tapi niichan—"
"Dengar, ini semua salah kaasan yang terlalu lemah saat itu. Jika memang sudah waktunya manusia memang tidak bisa menghindar dari kematian dan saat itu memang sudah waktunya untuk kaasan kembali."
"Lalu kenapa aku tidak mati saja ?"
"Karna kau punya tugas dariku." Sakura menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti, "Tugas ?"
"Uhm, menjaga kakakmu dan bocah Uchiha itu siapa namanya aku lupa."
"Ka.. kaasan." Sakura menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Hahaha, kaasan tahu kau sudah besar sayang."
"..."
"Jika saja kaasan bisa memilih, kaasan ingin hidup seribu tahun lagi untuk menyaksikan anak-anak kaasan tumbuh dengan akur."
"Kaasan."
Wanita itu memandang lembut wajah putrinya ini sekali lagi lalu mengecup dahinya lama dengan mata terpejam,"Kau kuat Saku, putri kaasan mampu bertahan, sekarang kembalilah."
Sakura mendongakkan wajahnya hingga dua mata hijau itu bertemu, "Ta-tapi kaasan—"
"Tidak ada tapi-tapian, jangan buat orang lain khawatir terlalu lama."
"Kaasan."
Dalam hitungan detik tempat itu berubah menjadi gelap, sangat gelap hingga yang terlihat hanya satu warna, ya.. hitam.
.
.
.
to be continue
Entah chap ini feelnya berasa juga atau nggak, gimana menurut kalian setelah nangis-nangis kemarin ? :p
Ah ya ada yang sadar gak chap kemarin scene yang dihutan 4orang teen Sakura dateng itu aku nulis nama Kiba kali ? harusnya salah satu dari mereka ada neji ._. tapi aku salah tulis dan saking fokusnya sama dua kakak-beradik itu pas aku baca ulang pun aku masih gak ngeh juga nyampe akhirnya di publis dan aku baca lagi .-. gomeeeeeeeeen ne
Balasan review :
Titan18 : chap 16 done :p semoga suka, bentar lagi tamat hihi
Haru CherryRaven : ih jangan lap ingus ke baju aku dong :o ini kelanjutannya semoga suka
Hana Kumiko : hihi ._.v ini udah dilanjut ;)
Floral white : makasih senpai udah mau review lagi hihi jangan senpai kakak aku aja mau aku lelang eh hahaha *ditendang* ini udah lanjut lagi hehe :D
Mizuki uchiha 980 : wah makasih ;) baca nyampe tamat yaaa hihi ini udah kilat XD
Febri Feven : ini udah update kilat :D
Merrychibi2 : masih kok masih hihi :p makasiiiih ini udah dilanjutkan :D
White's : ini udah update lagi hihi :D
Sofi asat : iyaaa hiks hiks :" ini udah dilanjut
Uchiharuno : waaaaah nangis di chap berapa aja ? muehehe ini udah update kilat seperti biasa
Uchiha Matsumi : amiiiin hihi, tapi itu lebih baik daripada gak nyadar sama sekali huhu :D
Angelika marlisandhy : wah makasih angelika-san ;) iya bentar lagi tamat
Ulandari : ini udah update :D
Eysha 'CherryBlossom : wah hihi ini udah diupdate lagi ;)
Inoueyuuki89 : wahaha sedikit apanya ? :o amin amin doain Saku ya ;)
Nadya sabrina 5 : makasih udah di fav seneng banget malah ;)
Evacupuu : hihi maaf bikin nyesek ._.v semoga suka chap ini juga ya ;)
Nasyachoco : makasiiiih :D ini udah aku lanjutin lagi hihi
Ongkitang : ini udah dilanjut hihi wah makasih udah nangis *loh
Hanazono yuri : hihi ini udah kilaaaat ;D
AyamPink : hihi udah dilanjut nih senpai semoga suka chap ini juga ;)
Ayam pink : hihi makasih hiks hiks. Ini udah update kilat ;)
Gadiezt lavender : hihi kangen gak yaaa ? :/ ehehe ._.v iya ini udah mau tamat dan ini udah dilanjut ;)
Mega naxxtridaya : hihi maaf yaaaaaa pukpuk ini udah update lagi ;)
Devi trianingsih : ini udah kilat ;) dan aku gak akan discontinue fic ini sebentar lagi mau tamat malah ;)
Uchiha Ratih : wah hihi kakak aku juga gak gitu =)) , 5 februari kali hehe ini udah di update lagi :D
Neechan nadeshiko : makasiiiih hihi ini udah update lagi ;)
Makasih buat yang udah review chap kemarin ternyata banyak banget , aku gak nyangka hihi
RnR please
Thank you *bighugs*
