Behind The Mask

Disclaimer: Naruto, Khisimoto Masashi

Chapter 17 :

Dua pemuda berbeda warna rambut itu masih tertidur disisi kanan dan kiri ranjang rawat Sakura dalam posisi duduk mereka tidak tahu jemari mungil itu bergerak lemah, kelopak mata itu juga bergerak seolah terganggu oleh sedikit sinar yang menerobos masuk melalu jendela kamar rawatnya dan menerpa wajahnya.

Perlahan mata itu terbuka dan menampilkan emerald hijau yang sudah lama tertimbun didalamnya. Mata itu memandang sekitarnya, sedikit meringis ketika dirasa perutnya berdenyut. Masih belum kembali sadar seratus persen membuat Sakura terdiam dan berusaha mengingat-ingat kembali apa yang sebenarnya ternjadi padanya sebelum ia berakhir ditempat ini.

Matanya membulat seolah mengingat sesuatu, 'Nii-chan' Batinnya. Matanya semakin membulat ketika pandangannya akhirnya teralih dari langit-langit kamar menuju ranjangnya. Mereka... dua pemuda yang mempunyai arti penting dalam hidupnya ini ada disini ? menemaninya ?

Sakura tersenyum lemah sambil memandang kedua pemuda yang masih tidur itu tanpa niat untuk membangunkan keduanya. Tapi hal itu tidak bertahan lama hingga kedua tangannya terulur mendekati rambut keduanya, dan dengan jailnya gadis itu menjenggut sejumput rambut keduanya sedikit keras hingga membuat keduanya meringis.

Sakura memandang geli keduanya, Sasori mengusap kepalanya sambil meringis sedangkan Sasuke sedikit menggerutu kesal. Keduanya belum sadar jika Sakura sudah bangun hingga gadis itu buka suara "Ohaiyo para pemalas." Serunya lirih dengan suara yang sedikit parau namun masih bisa terdengar oleh keduanya.

Secara besamaan dua kepala berbeda warna(?) itu menolehkan kepala mereka kearah Sakura yang sedang tersenyum lemah dibalik masker oksigennya.

"Sakura." Ujar mereka bersamaan,

"Tadaima."

Sasori menghampiri adiknya lalu mengacak sedikit poni Sakura yang setengahnya tertutup oleh topi, "Aku akan panggil dokter." Sakura hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sakura menghela nafasnya lega, pandangannya beralih pada Sasuke yang masih berdiri ditempat. Perlahan kaki jenjangnya melangkah mendekati gadisnya, pemuda itu mengambil segelas air diatas meja kecil sebelah ranjang rawat Sakura. Perlahan Sasuke melepaskan masker oksigen yang masih dipakai Sakura dan membantu gadisnya untuk minum. Setelah selesai pemuda itu kembali menaruh gelas tadi ditempat semula.

"Kau membuatku menunggu lama Saku."

Sakura bisa merasakan hembusan nafas Sasuke yang kini sedang menempelkan dahinya pada dahi Sakura,"Gommen." Ucapnya parau.

"Hn, okaerinasai."

oooo

Sakura memejamkan matanya, menikmati hembusan angin musim dingin yang memang terasa sangat dingin menerpa kulit wajahnya. Setelah merengek kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Sasori mengizinkan adiknya itu untuk bisa keluar dan melihat salju yang turun didekat kaca besar yang menghubungkan antara taman rumah sakit dengan gedung itu sendiri.

Seperti bola kaca besar saat Sakura melihat butiran berwarna putih itu berjatuhan dengan indahnya diatas rumput yang sudah tertutup salju yang sudah lebh dulu turun dari kemarin.

"Kau menyukainya ?"

"Hm." Sakura hanya menjawab pertanyaan pemuda dibelakangnya ini dengan gumaman. Perlahan kelopak mata itu terbuka lagi ketka merasa orang yang tadi berada dibelakangnya beralih dan kini berlutut didepannya, gadis itu tersenyum melihat pemuda didepannya.

"Kukira aku akan kehilanganmu."

"Sasu.." Sasuke tersenyum tipis, tangannya mengelus pipi cubby milik gadisnya yang terlihat agak pucat namun tidak sepucat saat ia masih berada dialam mimpi.

"Aku sangat merindukanmu."

"Aku juga Sasuke-kun." Tangan gadis iu pun terulur terlihat akan menangkup wajah kekasihnya ini, namun yang terjadi buka itu tapi...

"Aaaakh Hahula hepas."

"Hahaha wajahmu aneh Sasuke-kun, hahaha." Sakura tertawa lepas melihat wajah kekasihnya ini, melihat Sasuke yang kesakitan membuatnya melepaskan cubitannya dipipi kanan dan kiri Sasuke. Pemuda itu hanya meringis sambil mengelus kedua pipinya yang terasa panas dan sedikit memerah itu, matanya sesekali mendelik sebal kearah sang gadis yang masih menertawakannya.

"Hahaha.. akh." Sasuke mengernyitkan alisnya saat Sakura yang tengah tertawa itu tiba-tiba berhenti dan meringis kesakitan memegang perutnya yang membuatnya ikut panik.

"Sakura ada apa ?" Sakura tersenyum melihat raut wajah cemas pemuda didepannya ini, perlahan denyutan pada lukanya yang membuatnya meringis itu berangsur menghilang. Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Ck, makanya jangan menggodaku terus. Kau tahu lukamu belum pulih betul." Sakura memberengut sebal, "Aku ini pasien kenapa kau memarahiku ?" Sementara Sasuke tidak menjawab dan beralih kebelakang tubuh Sakura lalu mendorong kursi roda yang dipakai gadis itu, membuat Sakura terkejut.

"Aku belum mau kembali ke kamar Sasuke-kun."

"Pasien kan harus banyak istirahat." Dengan seringainya pemuda itu berhasil membalikkan omongan Sakura hingga membuat wajah gadisnya itu merah menahan marah dan malu, ah sayang sekali si uchiha bungsu ini tidak melihat betapa manisnya Sakura saat ini.

"Ayam menyebalkan." Gumam Sakura rendah namun masih bisa terdengar oleh Sasuke, "Aku dengar itu."

"Kau menyebalkan, aku masih ingin diluar." Ujar Sakura membuat dorongan pada kursi rodanya kembali terhenti, dan Sasuke berlutut didepannya lagi. Pemuda itu menghela nafasnya, betapa manja pacarnya ini ketika sakit.

"Dengarkan aku, keadaanmu masih lemah Sakura kau—"

"Sebentar saja, disini sebentar lagi saja, kumohon." Sekali lagi pemuda itu menghela nafasnya, akhirnya ia mengalah setelah melihat wajah Sakura yang mulai berkaca-kaca. Bahkan gadisnya ini tidak terlihat seperti sedang sakit jika saja wajahnya tidak pucat, Sakura seperti bukan orang yang baru bangun dari komanya.

"Baiklah lima menit oke ?" Ujar Sasuke, tangan pemuda itu mengeratkan mantel yang dipakai Sakura dan membenarkan posisi topi rajut dikepala Sakura dengan serius, membuat Sakura yang tadinya hanya tersenyum kini terkikik geli melihatnya.

"Apa yang kau tertawakan ?"

"Eng, tidak." Kini tangan mungil itu benar-benar menangkup wajah tampan milik Sasuke dan memandang lembut kekasihnya. "Aku mencintaimu." Ucap Sakura disertai senyum manis dan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya.

Sasuke melepaskan kedua tangan Sakura dari pipinya dengan pelahan, pemuda itu malah menatap datar kearah Sakura membuat gadis ini bingung, "Jangan menggodaku—"

"Aku tidak—"

"—karna hukumanmu akan berlipat jika terus menggodaku." Lanjut pemuda itu lagi.

"Hukuman ?" Sakura memandang polos kearah Sasuke, gadis itu semakin bingung sebenarnya apa yang dimaksud kekasihnya ini ?

"Hn."

Cup

Sakura mengerjapkan matanya sesaat setelah Sasuke mengecup singkat bibirnya tadi, tanpa aba-aba dan tanpa ia duga Sasuke menciumnya. "Sa.. sasu—"

"Hn, pertama kau melanggar janjimu untuk menungguku menyusulmu, kedua kau melewatkan malam untuk melihat bintang denganku padahal kau yang mengajakku, ketiga kau membuatku sangat khawatir dan menunggu lama agar kau bangun, lalu yang terakhir kau sudah menggodaku dua kali hari ini."

Sakura melongo mendengar penjelasan kekasihnya itu, sungguh gadis itu merutuki sarapan Sasuke tadi pagi hingga membuat pemuda itu secerewet ini.

"K.. kau—"

"Hn, sekarang kita kembali kekamarmu. Aku akan menghukummu nanti hime."

Sesaat Sakura terdiam dan wajahnya seketika memerah setelah berhasil mencerna kata-kata Sasuke barusan. Gadis itu menundukkan wajahnya yang terasa memanas itu menyembunyikannya agar Sasuke tidak melihatnya, ya walaupun memang Sasuke takkan bisa melihatnya mengingat pemuda itu sedang mendorong kursi roda Sakura dari belakang.

oooo

"Keadaannya sudah semakin membaik, lusa adikmu sudah boleh pulang jika terus memperlihatkan kemajuan seperti ini." Sasori tersenyum puas mendengar penjelasan dokter muda itu, matanya masih menatap pemandang diluar jendela ruangan Kabuto.

Kabuto mengikuti arah pandang Sasori dan ikut tersenyum, "Sakura sudah besar eh ?" Diluar sana tampak Sasuke yang sedang mendorong kursi roda Sakura, mereka terlihat seperti sedang bercanda.

"Dia masih adik kecilku." Sasori masih memandang Sakura dari kejauhan ketika merasa pemuda disebelahnya ini merangkulnya santai.

"Oh, ayolah. Temanku ini seharusnya juga punya pacar. Sayang sekali kau dan Itachi malah dilangkahi adik kalian sendiri." Kabuto terkekeh geli saat pemuda Akasuna ini menolehkan kepala kearahnya dan menghadiahinya sebuah tatapan tajam. Kabuto yang notabenenya teman Sasori juga Itachi semasa SMA sudah hafal betul bagaimana watak pemuda disebelahnya ini.

"Oke-oke kita bisa mencari pacar bersama bertiga, ahahaha."

"Urusai."

oooo

"Dia sudah pulang ?"

"Uhm, ini sudah sore Sasuke-kun harus kembali ke asrama." Sasori menyerahkan obat dan air putih yang tadi diambilnya lalu memberikannya pada Sakura, pemuda itu tersenyum tipis kearah Sakura ketika adiknya itu menegak habis obatnya.

"Sekarang waktunya istirahat." Ujar Sasori sambil merebut gelas dari tangan Sakura lalu menaruhnya diatas meja sebelah ranjang. Sakura hanya memperhatikan kakaknya yang sedang membenarkan selimutnya ini, empat hari lalu saat Sakura bangun ada Sasuke dan kakaknya ini disini. Kakaknya itu terus meminta maaf pada Sakura hingga membuat gadis itu malas mendengarnya, setelah beberapa hari mereka semakin dekat kini Sakura mengenal sifat baru dari Sasori.

Kakak berambut merahnya ini ternyata cerewet (jika berhubungan dengan Sakura tentu saja), pemuda itu sangat memperhatikannya hingga memasang alarm di arlojinya untuk waktu minum obat Sakura, dan sedikit sister complex sepertinya. Ah iya ingat saat Sasuke dan dirinya berebut untuk meyuapi Sakura dihari pertama gadis itu bangun, pada akhirnya keduanya kalah karena nona Yamanaka datang tepat waktu dan mengambil alih bubur yang direbutkan dua pemuda itu.

Atau saat...

Flashback On

Suasana kamar terlihat tenang setelah kedatangan Ino dan Sai, gadis berambut blonde itu akhirnya merebut bubur yang tadi diperebutkan Sasuke juga Sasori. Gadis itu menggerutu kesal pada keduanya yang bertingkah seperti anak kecil 'Kapan sahabatku akan makan jika kalian terus memperebutkan makanannya ?' kata-kata itu yang akhirnya membuat keduanya terdiam yang dijadikan kesempatan nona Yamanaka ini untuk mengambil alih.

Ah lihat, mereka berdua kini berdiri didepan ranjang Sakura seperti dua orang murid yang dihukum gurunya untuk berdiri didepan kelas karena lupa mengerjakan tugasnya, sementara Sai hanya terkekeh geli di sofa yang sedang didudukinya.

Suasana memang terlihat tenang sebelum...

BRAK

"Sakura-chaaaaan." Sepasang sejoli ini datang dan membuat keributan, oke baiklah hanya seorang saja yang membuat keributan. Pemuda pirang bersuara cempreng itu untuk kesekian kalinya membuat perempatan siku muncul dikepala Ino.

"Aaaaah akhirnya kau bangun juga." Naruto berjalan kearah Sakura dengan melebarkan tangannya seolah ingin memeluk Sakura dan hal itu membuat Sasori maju dan menghalangi langkahnya.

"Berhenti disitu rubah." Ucapnya ketus, tangannya terulur kedepan seolah memberi tanda 'Stop' tepat diwajah Naruto hingga membuat pemuda itu diam ditempat.

"Aku kan hanya—"

"Hn, langkahi dulu mayatku jika kau mau menyentuh kekasihku." Timpal seseorang berwajah datar dengan nada suara yang tak kalah datar dengan tangan bersedekap didada yang kini sudah berada disebelahnya.

"Hueee Hinata-hime mereka jahat sekaliiiiiii." Rengek Naruto pada kekasihnya yang sekarang sudah duduk di sisi ranjang Sakura sambil menunjuk dua orang 'bodyguard' baru Sakura.

Kelakuan tiga 'alien' itu membuat seisi ruangan sweatdroop kecuali Hinata yang terkikik geli dan merona merah melihat tingkah ketiganya.

End Flashback

Sakura berhenti tersenyum dan mengerjapkan matanya beberapa kali ketika tangan sang kakak yang bertengger didahinya menyadarkan Sakura dari lamunannya.

"Tidak panas,"

"Nii-chaaaan." Seru Sakura sebal, "Kenapa kau senyum-senyum sendiri heh ?" Menyadari maksud kakaknya ini hanya membuat Sakura kembali tersenyum manis.

"Nii-chan."

"Hm."

"Arigatou."

Sasori menautkan alisnya dan menatap Sakura bingung, "Untuk apa ?" Sakura hanya menggeleng, gadis itu berusaha duduk dari posisinya dan memeluk Sasori. "Untuk semuanya."

Sejenak Sasori hanya diam terpaku dengan tingkah adiknya ini hingga akhirnya tangannya bergerak membalas pelukan Sakura, "Iie, aku seharusnya melakukan ini dari dulu."

"Aku menyayangi nii-chan."

oooo

2 minggu kemudian

Sasuke berjalan menyusuri koridor sekolah dengan tenang dipagi hari seperti biasa, tasnya disampirkan dibahu sebelah kanannya dan tangan kirinya memegang buku yang ukurannya tidak terlalu besar namun lumayan tebal.

Sebelum benar-benar memasuki kelasnya dari jauh pemuda itu melihat siluet seseorang yang dikenalnya berdiri di atas rerumputan yang tertutup salju tentu saja dalam posisi membelakanginya.

Perlahan kaki jenjangnya melangkah mendekati orang itu, sedikit kaget memang setelah tahu siapa dia namun sekejap Sasuke menyunggingkan senyum tipisnya dan semakin mendekatinya lalu memeluknya dari belakang membuat orang itu tersentak.

"Sedang apa kau disini hm ?"

"Ah, Sasu kau mengagetkanku." Sasuke semakin menelusupkan kepalanya diperpotongan leher dan bahu Sakura menyembunyikan wajahnya dibaik rambut pink gadisnya yang tergerai membuat Sakura terkikik geli karna hembusan nafas Sasuke yang terasa menggelitik permukaan kulitnya.

"Apa kau tidak kedinginan disini ?"

Sakura tampak menampilkan ekspresi pura-pura berpikir yang tentu saja tidak dapat terlihat oleh Sasuke, "Um, sekarang tidak." Ucapnya sambil tersenyum dan mengeratkan pelukan Sasuke padanya. Pemuda itu mendongakkan wajahnya dan memandang Sakura dari samping menunjukkan sedikit seringainya, "Kau menikmati pelukanku eh ?"

Rona merah menjalar dipipi Sakura dengan manisnya, membuat pemuda yang masih setia melingkarkan tangannya dipinggang Sakura menahan diri untuk tidak menciumnya. Sudah beruntung gedung sekolah masih sangat sepi karna ini masih pagi jadi pamuda itu bisa dengan leluasa memeluk gadisnya ini.

Sakura mengarahkan pandangannya kearah danau kecil buatan didepan sana, dengan wajah tanpa dosanya gadis itu melepaskan pelukan Sasuke secara sepihak dan meninggalkannya begitu saja membuat pemuda itu mengerutkan alis dan menggerutu kesal.

"Sasuke-kuuun kesini." Sasuke memutar matanya, mendengar panggilan kekasihnya membuat Sasuke yang masih kesal ogah-ogahan mendekati Sakura, 'Tadi meninggalkanku sekarang menyuruhku mendekat.' Batinnya.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya melihat kelakuan aneh gadisnya yang terlihat sedang mengetuk-ngetukkan buku jarinya keatas air danau yang membeku. "Hihi lihat airnya beku."

"Hn, lalu kenapa ?" Tanya Sasuke masih ogah-ogahan, Sakura yang tidak menyadari bagaimana ekspresi Sasuke saat ini menganggapinya biasa, "Tidak—" gadis itu berdiri dari posisi jongkoknya lalu tangan kirinya menggenggam tangan kanan Sasuke membuat pemuda itu semakin bingung, perlahan gadis itu melangkahkan kakinya keatas bongkahan es air danau yang licin, Sakura hampir saja terpeleset jika tidak ada tangan Sasuke yang menahannya. "—lihat aku berdiri diatas air hihi." Lanjut gadis itu.

Pemuda berdarah Uchiha itu hanya melongo dengan tidak elitenya kearah Sakura, kekasihnya ini memang ajaib. Kadang Sasuke bingung dengan sifatnya terkadang dewasa, lalu tiba-tiba manja, atau bertingkah seperti anak kecil dan konyol seperti saat ini. Oh ya dan jangan lupakan bagaimana Sakura dalam mood marahnya yang terkadang membuat Uchiha itu kelimpungan. Tapi justru itu semua yang membuat Sasuke tidak pernah bosan pada gadisnya ini, Sakura itu apa adanya dan Sasuke suka itu.

Lihat, mengingatnya saja membuat Uchiha bungsu ini tersenyum tipis.

"Kapan-kapan aku ingin bermain ice skating disini sebelum musim dingin berakhir."

"Memangnya siapa yang mau menemanimu bermain eh ?"

"Memang siapa juga yang mau mengajakmu ?" Sakura menjulurkan lidahnya kearah Sasuke setelah gadis itu berhasil menghilangkan seringaian diwajah tampan kekasihnya ini.

"Hn."

"Hahaha kau lucu sekali."

Sedikit mengabaikan Sakura yang masih tertawa, pemuda itu mendongakkan kepalanya keatas saat melihat butiran putih turun dan jatuh diatas topi rajut Sakuranya. "Ayo, saljunya mulai turun lagi." Tangan kanannya masih menggenggam tangan mungil Sakura yang tertutup sarung tangan sementara tangan kirinya bergerak menarik pinggang Sakura dan mendekat kearahnya.

Setelah terlepas dari Sasuke, Sakura membenarkan topinya lalu tersenyum kearah kekasihnya. "Arigatou." Belum sempat Sasuke membalas perkataan Sakura, gadis itu segera mencium pipi putih Sasuke singkat dan berlalu melewati Sasuke yang masih diam ditempat. Tangannya merambat menyentuh pipinya yang baru saja dicium Sakura lalu sedikit terlihat semburat merah disana jika kita teliti melihatnya.

"Hei tampan, wajahmu yang merah akan berubah jadi biru jika terus diam disana." Teriak Sakura disertai tawa renyahnya.

Sasuke mendelik kearah Sakura lalu berlari menyusul gadisnya yang sudah berada didepan sana karna memulai start duluan. "Awas kau ya."

"Kyaaa Sasu, hahaha."

Dari jauh jika ini sebuah adegan tanpa dibaca kita bisa melihat pemuda itu berhasil menggapai tubuh Sakura dan menarik pinggangnya hingga terangkat lalu membawanya kedalam gedung yang masih sepi itu.

oooo

Hari ini hari terakhir Sakura dan teman-temannya melaksanakan ujian, setelahnya mereka bebas. Mereka hanya perlu menunggu hingga pengumuman kelulusan tiba. Tiga minggu bagi Sakura berlalu sangat cepat apalagi hanya dihabiskan dengan belajar lalu ujian lalu belajar dan ujian lagi hingga seterusnya. Penat ? memang, tapi kini ia bebas.

Drrt.. Drrt..

Handphonenya bergetar saat gadis itu sedang merapikan alat tulisnya, sebelah alisnya terangkat saat membaca pesan singkat yang diterimanya ini.

From : Sasuke-kun

Temui aku di taman belakang sekolah jam 4 sore.

"Sakura ayo." Ino yang sudah selesai dengan tugas piket terakhirnya menarik tangan Sakura dan Hinata yang sedari tadi menemaninya untuk segera kembali ke asrama. Hari ini juga malam terakhir Sakura tinggal di asrama karna mulai hari ini peraturan asrama yang mengikat sudah tidak berlaku lagi bagi mereka, dan berhubung kakaknya masih berada di Tokyo jadi Sakura tidak perlu menetap di asrama seperti murid-murid asal luar kota lainnya.

"A.. aku tidak sabar tidur dikamarku la.. lagi." Ucap Hinata yang kini sedang merapikan barang-barangnya. Ya mereka kini sudah ada di kamar, ketiganya sibuk merapikan barang masing-masing agar besok tidak perlu repot. Sesekali mereka akan saling membantu jika salah satunya mengalami kesusahan.

Sakura menghentikan kegiatannya saat merasa handphonenya berbunyi, "Moshi-moshi."

'...'

"Ya nii-chan aku sedang membereskan barang-barangku."

'...'

"Hmm, mungkin jam 9 pagi."

'...'

"Ya baiklah, jaa."

Piip

"Nii-chanmu ?" Tanya Ino sesaat setelah Sakura memutuskan sambungan teleponnya, "Hn."

Ino memutar bola matanya mendengar jawaban singkat Sakura, menjadi kekasih Uchiha Sasuke sepertinya akan membuat Sakura lama kelamaan tertular irit katanya pangeran es itu.

"Kau ini sudah mulai seperti Sasuke." Sakura mendengus geli mendengar ledekan sahabat pirangnya barusan, namun matanya membulat seketika, 'Sasuke ?'

Sakura mengerlingkan pandangannya pada jam tangan yang melingkar diengannya. 'Temui aku di taman belakang sekolah jam 4 sore.'

Tanpa babibu lagi gadis bermata emerald itu berlari keluar kamar meninggalkan kedua sahabatnya yang hanya bisa memandang bingung kepergian Sakura. Tanpa dikomando kaki jenjang itu menapaki koridor sekolah yang kosong dengan cepat, sesampainya di halaman belakang sekolah mata emeraldnya bergerak kesana-kemari mencoba mencari objek yang ingin ditemuinya.

Sakura menghela nafasnya dengan kasar, apa mungkin sasuke sudah kembali ke asramanya ? Ia terlambat tiga puluh menit dan cuaca saat ini begitu dingin walaupun tidak ada salju yang turun, tapi tetap saja dingin. Mana mungkin Sasuke terus diam disini menunggunya, Sasuke cukup pintar untuk tidak membiarkan tubuhnya sakit.

Sakura membeku ditempat, bukan karena cuaca dingin. Hei ia sudah memakai mantel dan sarung tangannya, gadis itu tahu siapa pelakunya. Siapa orang yang kini tengah memeluknya erat dari belakang saat ini.

"Sasuke-kun ?"

"Hn, kau lama sekali."

Sakura membalikkan tubuhnya dengan melepas paksa pelukan Sasuke dipinggangnya tadi dan memandang kekasihnya yang sedang memandang Sakura dengan datar. "Gommen aku terlambat."

"Hn, tak apa."

Sasuke menarik tangan Sakura, menuntun gadisnya untuk mengikutinya. Pemuda itu membawa Sakura ke dekat danau halaman sekolah yang sudah membeku lalu mendudukan gadisnya di batang pohon besar dibawah pohon maple yang sudah botak setelah membersihkannya dari salju.

"Kau mau apa ?" Tanya Sakura saat tangan Sasuke kini beralih ke kakinya dan perlahan membuka sepatunya, sementara Sasuke hanya diam dan mengabaikan pertanyaan Sakura. Mata Sakura mengerjap ketika Sasuke memakaikannya sepatu khusus ice skating di kakinya begitu juga kaki pemuda itu sendiri.

"Ayo."

Sasuke menarik tangan Sakura dan membawanya berjalan menuju atas danau yang kini berubah menjadi es balok besar. Pemuda itu tersenyum tipis. "Hn, kau ada diatas air sekarang."

"Sasuke-kun." Sakura memandang kekasihnya dengan tatapan tidak percaya tangannya dengan refleks membekap mulutnya sendiri, lihat ? hal sederhana yang dibuatnya selalu bisa merebut hati Sakura.

"Hihi sasu." Sakura terkikik, gadis itu melepaskan pegangan Sasuke padanya lalu mengitari pemuda itu.

"Sakura."

"Hm ?" Sakura berhenti agak jauh dari Sasuke, pandangannya mengarah kebawah, akhirnya setelah sekian lama ia bisa bermain ice skating juga. Merasa tidak ada kelanjutan dari ucapan Sasuke lagi gadis itupun mendongak dan menatap Sasuke yang masih diam dipinggiran danau. "Ada apa Sasuke-kun ?"

Tak ada jawaban lagi, setelah menghela nafas akhirnya Sakura meluncur ketempat Sasuke, "Sasu—" Sakura yang awalnya khawatir karena kekasihnya tak kunjung bergerak dari sana kini tergelak, gadis itu tertawa lepas melihat ekspresi Sasuke saat ini. Dan Sakura cukup pintar untuk mengetahui ada apa dengan kekasihnya ini. "Ahahaha aku tidak menyangka hahaha."

"..."

"Hahaha kau tidak bisa bermain ice skating eh ? hahaha."

"Ck, urusai."

"Hahaha."

"Berhenti tertawa." Sakura malah semakin dibuat terbahak-bahak ketika melihat semburat merah muncul dipipi putih kekasihnya meski tipis. "Hahaha baiklah, ehm kemarikan tanganmu."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya setelah mendapat perintah kekasihnya yang kini sedang mengulurkan tangannya didepan pemuda itu, "Ck, lama." Sasuke membulatkan matanya ketika tangan Sakura yang tadi terulur tiba-tiba menariknya dan membawanya ke tengah.

"Kau hanya perlu mengikuti seniormu Sasu hihi." Seketika wajah datarnnya kembali bertengger disana. 'Kuso.' Ternyata seorang Uchiha juga punya kelemahan eh ?

oooo

"Ya terus seperti itu." Sasuke sudah bisa meluncurkan kakinya diatas es setelah Sakura mengajarinya selama setengah jam, sesekali Sakura tertawa saat melihat kekasihnya hampir jatuh karna tidak menjaga keseimbangan.

"Hahaha, bagaimana mungkin mantan kapten tim basket tidak bisa melakukan ini."

"Ck, sudahlah lagi pula aku sudah bisa."

"Ya,ya setidaknya aku mendapatkan hasil saat kau jatuh." Sasuke yang awalnya tidak mengerti dengan ucapan kekasihnya kini menatap Sakura dengan datar setelah kekasihnya itu menunjukkan handphonenya, sudah pasti Sakura memotretnya.

"Hn, hapus fotonya Saku."

Sakura menggelengkan kepalanya, untuk kesekian kalinya hari ini gadis itu menggoda kekasihnya, "A,a, tangkap aku dulu kalau kau bisa." Setelahnya Sakura meluncur menjauhi Sasuke, sementara pemuda itu masih diam memperhatikan kekasihnya yang masih terus menggodanya.

"Oh ayolah apa kau tidak bisa menangkapku ?"

"Hn, kau akan menyesal."

Sakura membulatkan matanya ketika ia melihat Sasuke melaju kearahnya, segera saja ia menghindar. Sesekali kepalanya menoleh kebelakang, gadis itu cukup terkejut dengan kecepatan Sasuke. Pasalnya kekasihnya itu baru bisa mengendalikan dirinya diatas es kini mengejarnya dengan cepat ? dia bercanda.

"Huaaa" Sakura hampir saja terjatuh karna tak memperhatikan jalannya, ya hampir. Jika saja tidak ada tangan kekar yang menahan pinggangnya saat ini.

"Hn, kau kena."

BRUK

Akhirnya karna tak bisa menjaga keseimbangan mereka berdua jatuh bersama dipinggiran danau.

"Baka, kau yang menolongku kau juga yang membuatku jatuh." Omel sakura.

"Hn, kau tahu siapa seniornya disini." Timpal Sasuke santai membuat Sakura merona karna malu, gadis itu mengalihkan pandangannya, tangannya menepuk mentelnya yang kotor karna salju. Kegiatannya terhenti saat merasa ada tangan lain yang membantunya. Sasuke menepuk pelan puncak kepala Sakura yang tertutup topi rajut membersihkan salju yang menempel disana.

"Apa ada yang sakit ?"

"Ti.. tidak."

"Hn, kau kedinginan atau kepanasan ? wajahmu merah."

Sakura memberengut sebal mendengar ejekan Sasuke barusan. Seketika tempat yang tadi ria dengan gelak tawa Sakura kini hening. Keduanya terdiam, Sakura yang masih menundukkan kepalanya karena malu dan Sasuke yang terlihat gugup didepannya. Dan jangan lupakan mereka masih dalam posisi duduk setelah terjatuh tadi.

"Sakura."

Merasa namanya dipanggil, gadis itu lalu mendongakkan kepalanya dan langsung menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya saat ini. Gadis itu sedikit mengerutkan alisnya melihat ekspresi Sasuke saat ini.

"Aku.. kau.. dan.. ya.. aku.." Sasuke merutuki dirinya sendiri, kenapa ia jadi tiba-tiba gugup begini ? dan lagi kenapa kata-katanya jadi hancur begitu ? Padahal tadi ia masih mengingat kata-kata yang dihafalnya dari semalam.

Setelah diam dan menghela nafas beratnya Sasuke kembali menatap Sakura yang terlihat kebingungan didepannya. "Ehm, aku memang tidak bisa bersikap romantis didepanmu. Saat menyatakan perasaanku pun bisa dibilang aku memerintah bukan meminta. Tapi kali ini aku minta, dan dengarkan aku baik-baik. Sakura maukah kau menjadi tunanganku ?"

"Sa.. sasu—" Sakura membeku ditempat.

"Jadi apa jawabanmu ?"

Tanpa dikomando lagi Sakura menubruk Sasuke, gadis itu memeluk kekasihnya dan menganggukkan kepalanya didada bidang Sasuke sebagai jawabannya.

Sakura hanya mengangguk sebagai jawaban karna mulutnya tak bisa berkata-kata, ia terlalu terkejut dengan apa yang Sasuke lakukan hari ini. Perlahan Sasuke melepaskan pelukan Sakura padanya tadi dan memandang gadisnya dengan lembut.

"Hn."

Sasuke merogoh sesuatu dari dalam saku celananya, tangannya membuka kotak berwarna merah dan mengeluarkn isinya, lalu memakaikannya dijari manis Sakura setelah ia membuka sarung tangan gadis itu. Hal itu membuat tangis Sakura semakin menjadi-jadi, dan setelahnya Sakura memeluk tubuh Sasuke untuk yang kedua kalinya.

"Hiks Sasuke-kun no baka hihi.. hiks." Sasuke mendengus geli, gadisnya ini sedang menangis sambil terkikik dan memarahinya ? Pemuda itu melepaskan pelukannya lagi lalu memandang sakura, tangannya bergerak mengusap lembut wajah Sakura yang sedikit memerah karna menangis.

"Hiks.. kau memang tidak romantis sama sekali."

"..."

"Tapi kau selalu bisa merebut hatiku, dasar jahat."

"Setidaknya aku menjaga hati yang telah kurebut." Ucap Sasuke santai, sementara Sakura ? wajahnya sudah memerah bak tomat kesukaan Sasuke. Setelah terdiam agak lama Sasuke mendongakkan kepalanya ketika merasa sesuatu jatuh dari atas, "Kita kembali ke asrama, saljunya sudah mulai turun lagi." Sakura masih duduk disana saat Sasuke sudah mulai berdiri.

"Ayo."

"Aku masih mau disini."

"Saljunya sudah turun, lagipula mulai gelap."

"Aku tidak mau."

Pemuda berdarah Uchiha itu menghela nafasnya dan mulai bergerak, Sakura yang merasa ucapannya tidak digubris memberengut kesal. Sepertinya Sasuke sudah berjalan menjauhinya.

"Bukannya membujukku malah meninggalkanku, dia itu kenapa sih tadi bersikap manis sekarang dingin lagi, ayam." Gerutunya rendah, "Kyaaa." Jerit Sakura saat merasa tubuhnya terangkat.

"Hn, dasar cerewet."

"Sasuke-kuuuun turunkan aku."

"Tidak akan."

"Hentaaaai."

"Hn, baka."

'Dan untuk pertama kalinya aku merasa senang dan ringan disaat bersamaan

Semua yang kulalui, semua yang kulewati,

Kami-sama punya maksuda tersendiri dengan mengatur skenario alam bukan ?

Dan skenario yang kujalani bukan hanya akting belaka.

Didalamnya ada aku dan juga orang-orang yang kusayang.'

.

.

.

End

Huaaaa, lama banget gak update. Harusnya sekarang aku udah publish fic baru lagi, tapi kayaknya bakalan diundur. Maaf banget karna baru bisa update lagi, aku baru pulang dari rumah sakit karna typus -.- Ini chap terakhirnya, udah telat update dateng-dateng langsung ngasih end aja .-. maaf kalo mengecewakan kalian semua yang udah nunggu, semoga suka chap terakhir yang aku buat lumayan panjang. Gak tau deh ini feelnya kerasa atau nggak karna udah kelamaan gak update-update.

Aku juga gak akan marah kalo nanti reviewnya ada yang ngomel-ngomel karna ini emang salah aku muehehe ._.V sebagai ganti fic ini nanti aku bakalan keluarin fic yang judulunya 'Trap' tapi belum tau kapan dipublish ehehe

Balasan review :

Nadya sabrina 5 : ini Sakuranya sadar hehe maaf ya lama updatenya

Merrychibi 2 : hahaha aku juga pengen deh kalo gitu XD ini udah update muehehe ._.v

Febri Feven : ini udah dilanjut

Hanazono yuri : ini udah diupdate

Haru CherryRaven : hihi iya nih jebret langsung end ._.

Birupink-chan : ini udah dilanjut

Mizuki uchiha 980 : ini udah diupdate lagi maaf ya kalau mengecewakan tapi aku berharap suka sama chap terakhir ini

Ongkitang : ini udah lanjuut

Ayam pink : hihi maaf updatenya gak kilat, tapi semoga suka chap terakirnya ya

Floral white : iya Sakura udah bangun disini,jadi ngerebut yang dimilikinya maksudnya tuh kasih sayang ibunya pergi pas sakura lahir, kasih sayang ayahnya lebih gede ke Sakura, terus ayahnya juga meninggal karna Sakura menurut dia senpai gitu hihi.

White's : ini udah dilanjut, maaf bikin nunggu lama ya maaf banget

Mega naxxtridaya : ini udh panjaaaang hihi

Angelika marlisandhy : makasiiih maaf lama updatenya

Ulandari : ini udah diupdate

Neechan nadeshiko : kiba emang udah ad dari chap 3 cuman aku salah nulis kibanya ada dua disitu harusnya satu lagi neji hehe maaf ya updatenya lama semoga suka

Nasyachoco : ini udah dilanjut maaf nunggu lama

Uchiharuno : hihi makasiiih ini udah update lagi semoga dpet lagi ya feelnya setelah sekian lama u,u

Uchiha Ratih : ini udah sadar kooo hehe

Reika chan : ini udh sadar Sakuranya, maaf ya updatenya kali ini gak kilat hiks hiks

Sofia chamira : err kayaknya endingnya gak romantis ya ._.

Hana Kumiko : hihi ini udah dilanjut

Eysha 'CherryBlossom : hihi tapi aku ketinggalan update u,u maaffff

Mitchiru1312jo : ini udah update

SasuSakuNaruHina : ini udah dilanjut hehe

Sakura Zouldyeck : hehe maaf ya ini updatenya gak kilat

Aqicha mizuaqicha : makasiiiih

Kiyomizu chieko : ini udah dilanjut maaf lama

Anisa ryuzaki : hai salam kenal juga, makasih udah suka fic ini . ini udah dilanjut maaf bikin nunggu lama dan maaf juga kalau endingnya kurang memuaskan

Uchiha Hazuna no Hazu-chan : iya hehe disini Sakuranya udah sadar kok maaf nunggu lama

Hikaru sora : Aku jugaketinggalan update hiks, maaf ya

Haruchan : ini udah dilanjut lagi dan ini udah chap terakhir

Aku gatau mau ngomong apalagi tapi makasih banyak buat yang udah baca, review, nunggu, dan ngedukung fic ini. Yaaaaa sampai jumpa di fic selanjutnyaaaaaa hihi :D

Thank you

*bighugs*