A/N : Chapter ini terinspirasi oleh lagu Hercules-nya Sara Bareilles (go, go check the song out!). Mungkin ini nggak terlalu bagus, for I am nothing but a newbie in ff world, tapi ini effort terbaik saya heee. Maafkan typo dan kegajean fic ini. RnR? :))
DISCLAIMER : Hunger Games belongs to Suzanne Collins.
Companion(s) Part 1
.
.
...and decide, to flight or fight...
.
.
Dia tidak tahu kalau wanita bisa bicara sebegini banyak.
Setidaknya Katniss tidak cerewet dan mantan-mantan sekretarisnya yang lama menganggap dirinya dewa, jadi mereka akan menurut kalau disuruh diam.
Tapi, si pirang di depannya adalah masalah lain. Mulutnya terus bergerak mengucapkan rangkaian huruf dan suku kata menjadi kalimat tak berujung. Gale, hanya mengangguk meresponi dan memilih fokus pada ayam saus krimnya.
"Kau mendengarkan tidak, sih?" Madge Undersee bertanya dengan nada kesal.
"Hmm," Gale menyahut sembari mengunyah santapannya. Kepalanya menunduk sambil memainkan garpu di atas piring.
Madge berdecak menyerah, "Orang dari Capitol menelepon untuk mengkonfirmasi jadwal kunjunganmu ke Distrik 4 akhir pekan ini, aku sudah mencatat jam keberangkatanmu dan hal lainnya yang berkaitan dengan kegiatanmu selama di sana."
"He-ehm."
"Banyak yang harus kau kerjakan di sana, jadi jangan berharap kau bisa berpesta dan mencumbu sembarang gadis."
"Mmhm."
"Aku tidak mau bertoleransi lagi terhadap tingkah tak bermoralmu seperti terakhir kali."
"Mhhm"
"Gale!" Madge melempar serbetnya ke wajah Gale.
"Dammit, Madge!" Gale menangkap serbet itu lalu melemparnya ke sampingnya. Menatap marah gadis dengan mata biru sebrilian langit di depannya. "Apa yang kau lakukan, sih?"
"Kau tidak mendengarkanku!"
"Persetan dengan itu," tukas Gale. Dia selanjutnya melempar garpu dan pisaunya ke atas piring yang menimbulkan bunyi berdenting yang cukup keras.
"Meskipun ini tentang pekerjaan? Kupikir kita sudah setuju dengan peraturan yang jelas, Gale," Madge menjeritkan pikiran depresinya pada laki-laki yang kini memijat pangkal hidungnya perlahan.
"Bisakah kau sedikit lebih pengertian? Jeez, aku sedang makan," Gale memberengut di kursinya. Tampak jelas bahwa selera makannya sudah menguap entah kemana. Dengan satu tatapan marah dia membungkam Madge, membuatnya tercenung untuk beberapa detik yang menyiksa.
"Ingat saat kau menceramahiku karena makan sambil bicara?" Gale bertanya dengan nada serius.
"Ya," Madge mengangguk menatap jemarinya yang tertelungkup di atas meja.
"Bagus. Kau mengerti poinku sekarang, kan?"
Madge mengeluarkan desahan panjang dan penuh penyesalan yang dalam, "Kurasa ya. Maafkan aku atas tindakanku yang, well, menyebalkan kali ini. Aku hanya sed-"
"Kau menyebalkan setiap saat," Gale menyela, melipat tangannya di depan dada lalu bersandar dan menyeringai memandang Madge.
Madge tidak tahan untuk tidak melekukkan bibirnya naik sedikit, "Terima kasih atas koreksinya, bos."
Gale terkekeh- tidak. Tertawa bisa dibilang. Bukan untuk merendahkan Madge atau untuk menyindirnya atau untuk apa pun dengan faktor jelek sebagai basisnya. Tapi karena cara Madge memanggilnya 'bos' yang tergolong agak... komikal.
Gale akhirnya berhenti, mendapati Madge dengan senyum lebar dan alis yang bertaut. "Kau tertawa," kata Madge.
"Yeah, kau tidak melihat mataku berlinang air mata, bukan?"
"Aku tidak tahu kau bisa tertawa," sekarang Madge yang menyeringai dalam ketidakpercayaannya.
"Oh, lucu, Anak Wali Kota," Gale memutar matanya.
Madge terkekeh pelan, "Sepertinya aku sudah merusak makan siangmu."
"Observasi yang bagus," Gale selanjutnya tersenyum sinis melihat makanan di piringnya yang baru dia makan setengahnya. Jujur, dia kehilangan nafsu makan, tapi menyisakan makanan membuatnya merasa bersalah. Dan mengingatkannya bahwa beberapa tahun lalu dia harus mengorbankan nyawa untuk mengisi perut dengan makanan yang tidak sepadan. Dia mulai menyantap ayamnya, merasakan mata Madge yang sedang mengawasinya. Gale bisa saja menyerang gadis itu dengan berbagai hinaan hanya untuk membuat Madge tidak bertanya lebih lanjut tentang tindakannya. Tapi, Madge tidak berkata apa-apa. Dia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa pasanganmu siap untuk memesan?" seorang gadis pelayan dengan rambut dihighlight merah muncul membuat Gale dan Madge mendongak serentak. Dia tersenyum lebar dan badannya menjorok sedikit mendekati Gale, tidak malu menunjukkan sikap menggoda pada tamu di restoran tempat dia bekerja.
"Uhm, maaf?" kata Madge, mencoba membuat si pelayan melihat ke arahnya. Namun, seperti dilem, mata gadis dengan apron berbordirkan nama restoran tempat mereka makan siang kali ini hanya berpusat pada Gale. Madge memutar matanya menahan keinginannya untuk muntah.
"Dia pasanganmu, bukan?" tanya si pelayan pada Gale, masih dengan senyumnya yang berlebihan.
Gale hanya menaikkan satu alisnya lalu menjawab, "Maksudmu gadis ini, Miranda? Bukan. Dia bukan pasanganku."
"Ohh," pelayan yang dipanggil Miranda ini membulatkan mulutnya dengan cara paling aneh yang pernah Gale lihat. "Tapi kalian datang berdua ke sini beberapa kali."
Gale melirik Madge yang memberengut membuang mukanya, nampak jijik melihat Miranda. "Dia sekretarisku kalau kau penasaran."
Miranda tertawa lepas lalu menepuk pundak Gale pelan, seakan dia sudah menahan untuk melakukan itu dari tadi. Gale merasa Madge benar, pelayan ini memang menjijikkan. Dia mungkin punya dada dan bokong yang bagus- yang lebih besar dari dada dan bokong Madge, tapi gadis ini entah berotak atau tidak sehingga dia bahkan tidak tahu cara bersikap. Gale melirik Madge lagi. Tangannya mengetuk meja dengan gerakan berulang yang teratur namun terdengar tak sabaran. Yeah, Gale juga sependapat. Tapi memperhatikan Madge dengan raut kesalnya malah membuat dia terinspirasi untuk balas dendam. Atas sikap si gadis yang sepertinya sedang PMS ini.
"Kau yakin? Kalian terlihat lebih dari atasan dan bawahan di mataku," kata Miranda tanpa sedikitpun mengkhawatirkan diksi yang dia pakai.
"Bisakah kau mencatat pesanan dan buru-buru pergi dari sini?" Madge setengah menjerit dan setengah teriritasi, berusaha keras untuk tidak membalikkan meja dan melemparnya ke wajah penuh make-up Capitol Miranda.
Gale, dengan seringainya, justru terkejut dan berpikir pasti Madge benar-benar sedang PMS. Karena sepengetahuannya, tempramental bukanlah karakter si pirang. Dia cenderung lebih plegmatis dan stoik di luar seberapa teriritasinya dia. Karakter Madge yang kurang lebih -yeah, Gale harus akui- cukup mengimbanginya yang bertendensi untuk gegabah dan kurang mampu mengontrol emosi.
"Yang benar saja," Gale memalsukan senyum pada Miranda. "Dia hanya sekretarisku, dan aku tidak tertarik pada roman affair dengan 'bawahan' ku sendiri."
Miranda mengerling, puas terhadap jawaban yang diberi Gale. Sedangkan Gale, well, dia tidak tahu apa yang merasuki mulutnya, yang jelas dia sendiri tidak tertarik dengan Miranda. Dia mungkin baru lulus sekolah dan juga baru beberapa hari bekerja di restoran ini karena tempat ini sudah menjadi langganan Gale dan Madge dan dia belum pernah melihat Miranda sebelumnya. Namun tetap, Miranda punya lebih banyak nyali dibanding intelejensia untuk mendekati Gale, memperkenalkan namanya alih-alih melakukan tugasnya sebagai pelayan. Dan itu yang membuat Gale tidak menyukai Miranda sama sekali. Meski bisa dibilang Gale banyak menghabiskan waktu intimnya dengan beragam wanita random, Gale punya standar. Riasan tebal yang justru membuat Miranda terlihat 10 tahun lebih tua, jauh di bawah standarnya.
Berbicara soal standar, Gale yakin Madge juga punya standar untuk orang-orang yang dia anggap bisa jadi kompaninya. Hell ya, 100% mereka akhirnya punya kesamaan, pikir Gale.
Malah Gale berasumsi kalau Madge membenci tipikal perempuan macam Miranda.
"Baiklah," Miranda memulai dengan senyum tiga jarinya. "Kulihat sekretarismu belum memesan apa-apa jadi kuputuskan untuk kembali ke sini, barangkali dia sudah mau memesan."
"Oh, perhatian sekali," kata Madge sarkastik, memutar bola matanya, jengah dengan kehadiran Miranda. Gale berusaha keras menyembunyikan senyum gelinya. "Aku sedang diet dan tidak akan memesan, jadi kau bisa cepat-cepat pergi."
Miranda, meski sudah jelas mendapat usiran dari Madge, memilih untuk bertahan dan memusatkan matanya pada Gale. Tidak tahu apakah memang dia terlampau bodoh untuk sadar seseorang tidak menginginkan kompaninya.
"Bagaimana denganmu... Gale?" Miranda bertanya.
"Aku baik-baik saja," Gale memastikan dan menambah seulas senyum, hanya untuk faktor kesopanan, sejak Madge sudah membuang faktor itu.
"Kau tidak ingin makanan penutup? Cobalah puding mangga restoran ini, mereka menggunakan mangga kualitas terbaik yang pernah di panen di distrik 11. Atau kau pasti ketagihan, sekali kau mencicipi cheese-bun spesial di sini. Aku juga bisa membuatnya sendiri, kau tahu, dan rasanya tak kalah enak."
"Dia bilang dia baik-baik saja!" Madge menjawab untuk Gale.
Untuk pertama kalinya, Miranda meneleng dan menyadari Madge.
"Oh, baiklah. Kurasa aku akan kembali lagi kalau-kalau kau butuh sesuatu, Gale," dia mengedipkan matanya.
"O... oke." Gale ingin menjatuhkan kepalanya ke meja saat ini juga. Tolong.
"Jangan sungkan memanggilku dan aku akan segera datang," Miranda menambahkan.
"YA! Pastinya," Madge menjerit histeris, sarkastis, mual dengan tindak-tanduk Miranda yang berlebihan.
Miranda mungkin tak menyadari hal itu karena dia masih sempat memberikan senyum terbaknya pada Gale dan Madge. Betapa manisnya. Dia lalu memutar badan dan berbalik, melenggang menjauhi meja mereka berdua diikuti bunyi sepatu hak tingginya yang menghantam lantai dengan keras.
"Tadi itu apa, Gale?" Madge mulai mengkonfrontasi Gale yang masih memandangi punggung Miranda. Well, Madge tahu, pandangan Gale tertuju pada bagian anatomi di bawah punggung si Miranda-sesuatu itu.
"Seharusnya aku yang bertanya tadi itu apa. Kau bertingkah seperti gadis kecil sombong tukang marah-marah."
"Ugh..." Madge menggeram sebal. "Si pelayan itu sudah menghampiri kita- ah tepatnya kau untuk yang ketiga kalinya dengan alasan yang tidak jelas. Dia adalah perempuan paling menyebalkan sedunia, tidakkah dia? Dan kau juga menyadarinya, tapi ada apa dengan perangai manismu? Kau tertarik padanya, huh? Bahkan kau tidak pernah bersikap begitu kepadaku?"
Sungguh, ini mungkin merupakan sisi lain seorang Madge Undersee, terka Gale. Dia tidak tahu Madge bisa semarah ini. Gale berdecak heran menanggapi perubahan sikap si gadis.
"Memangnya apa masalahmu kalau aku tertarik padanya?" Gale bertanya.
Mata Madge membelalak siap untuk keluar dari kelopaknya. Dan secara harafiah badannya akan segera meledak, "APA?! Kau... tidak mungkin... kan?"
"Kenapa tidak mungkin?" dia mengangkat bahunya. "Dia cukup cantik dan lagi dia punya dada dan bokong yang bagus."
"Ughh..." Madge menggeram lagi, tangannya dia kepal sehingga buku jarinya memutih. "Aku tidak menyangka kau ternyata sedangkal itu, Gale. Menilai wanita hanya dari penampilan fisik; hanya dari bagian luarnya. Kau tidak sadar seberapa bodoh dan obnoksiusnya dia."
"Haha," Gale tertawa penuh kemenangan. Balas dendamnya jelas terlaksana, berakhir dengan skor telak jika mengacu pada tingkat kekesalan, kemarahan, dan kejengkelan Madge. Ada hal lain yang sebenarnya menggangu Gale sekarang. Kenapa Madge bisa berubah 180 derajat begini dan alasannya membenci Miranda setengah mati. Dan kenapa pula, Madge marah ketika Gale bilang dia tertarik pada seorang pelayan tak berotak.
Oh, benar ada alasan yang Gale tahu kenapa seorang perempuan bertindak seperti itu. Ah, mungkin saja.
"Kenapa, eh, Undersee? Kau cemburu?"
"AP-apa? Apa maksudmu?" alisnya bertaut dan keningnya berkerut; kebingungan.
"Akui saja lah, kau cemburu pada Miranda, kan? Yeah, aku bisa melihat sih beberapa aspek yang memang patut kau cemburui. Kau kurus dan serata triplek, kau bahkan tidak tahu cara berdandan dan merias dirimu, kurasa dulu kau selalu dibantu oleh pelayanmu jadi sekarang kau tidak bisa mengurus dirimu sen-"
"HENTIKAN, GALE!" Madge memekik. "Demi Presiden Snow dan Caesar Flickerman dan Effie Trinket! Aku. Tidak. Cemburu. Mengerti?! Bagaimana bisa kau berpikiran begitu? Dia tidak lebih baik dariku."
"Ya, kau cemburu," Gale menyimpulkan lalu dia bersandar di kursinya menikmati setiap detik momen ini. Merasa puas telah membuat Madge marah sampai ke ubun-ubun. Mungkin setelah ini dia akan menyerah dan mengundurkan diri lalu lari ke distrik 4 dan hilang dari hidup Gale selamanya. Siapa tahu? Dia sudah bersama Madge untuk beberapa bulan, tak terhitung berapa banyak pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun tetap dia masih bisa bertahan dan pergi keluar untuk makan siang bersama si pirang. Seseorang harus memberinya trofi penghargaan.
"Aku tidak," Madge menyanggah
"Kau iya."
"Aku TIDAK, Idiot!"
"KAU. IYA. Dan jangan panggil aku idiot."
"UGH!" Madge bangkit berdiri menghentakkan kakinya sambil menggeram. Lagi. "Fine, terserah kau mau berasumsi apa. Aku TIDAK peduli, kau dangkal idiot!"
Gale terkekeh baru saja hendak meminta maaf karena mungkin dia sudah kelewatan ketika Madge mengambil tasnya lalu melangkah keluar meja dan keluar dari restoran dengan cepat-cepat. Tanpa melirik pada Gale namun masih dengan geramannya. Gale memperhatikn figur Madge yang mulai menjauh. Bokongnya tidak rata-rata amat sih, pikir Gale pada dirinya sendiri. Namun, dia buru-buru mengenyahkan pikiran itu mengutuk dirinya kenapa sampai bisa berpikir macam itu.
Dia mendesah, khawatir akan sikap Madge yang berubah dan khawatir karena bisa jadi Madge belum makan sama sekali. Bahkan Gale perhatikan dia tidak memesan jus stroberi favoritnya seperti biasa. Apa ada hubungannya dengan kunjungan ke distrik 4? Sepertinya tidak. Terakhir kali Madge bertingkah biasa saja. Lalu ada apa?
Sosok rambut merah tertangkap matanya dan Gale langsung mengutuk. Sial. Dia berjalan ke arah Gale. Gale segera mengambil jasnya, menaruh beberapa lembar uang di atas meja dan melenggang pergi. Sudah cukup dengan Madge yang membuatnya pusing, Miranda tidak boleh ikut-ikutan. Lagipula Gale sedang tidak ingin makan puding mangga.
TBC
