DISCLAIMER: THE HUNGER GAMES BELONGS TO SUZANNE COLLINS

...the issue I have now begun to see, I am the only, lonely, casualty...

.

.

Madge tercenung menatap kosong pada suasana kafe di depannya. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh suatu tempat bernama Distrik 4. Tempat di mana ayah dan ibunya berada. Beberapa hari yang lalu ayahnya- Wali Kota Undersee- menelepon, setelah berbulan-bulan tidak pernah menghubunginya, hanya untuk mengabari bahwa ibunya terbaring di rumah sakit. Pikiran Madge terusik semenjak itu. Madge tidak bisa kembali ke sana dan melihat ibunya lagi. Dia tidak bisa menghadapi Distrik 4 tanpa teringat akan hal-hal yang menjadi alasannya meninggalkan tempat itu. Kunjungannya yang terakhir ke sana masih bisa dia atasi. Tapi Madge tidak bisa melakukan ini lagi.

"Gale?"

"Hmm?"

"Aku tidak bisa ikut ke Distrik 4."

Laki-laki dengan mata lumpur itu mendongak berusaha menangkap maksud dari gadis berambut pirang yang duduk di seberangnya. Sementara itu si gadis meninggalkan Gale bertanya-tanya dengan latar belakang musik gabungan piano, drum set, dan saksofon. Jenis musik yang akhir-akhir ini getol diperkenalkan di seluruh Panem, namanya musik jazz.

Dengan berakhirnya rejim Snow, pelan-pelan tiap sektor di Panem mulai berbenah: kesehatan, pendidikan, pertahanan, dan bahkan hiburan. Dihapuskannya Hunger Games membuat satu-satunya hiburan bagi Capitol menghilang. Maka musik, film, tari, dan berbagai aspek kesenian lainnya mulai diangkat. Segala keterangan mengenai peninggalan seni pada peradaban sebelumnya mulai diteliti. Dan dipelajarilah, jazz, musik dari daratan Afrika yang konon sudah menyebar ke penjuru daratan lainnya.

Madge menikmati suara yang tercipta dari tiga orang pria yang bermain di panggung kecil di sudut kafe. Dia menoleh mendapati set sederhana dengan tata lampu temaram memberikan impresi intim. Beberapa orang dengan antusias mengisi meja tepat di barisan depan dekat panggung. Mereka memasang wajah terkesima melihat permainan ketiga musisi itu.

Madge sendiri lebih tertarik pada si pianis, dia yang biasanya memainkan musik klasik karya Chopin dan Mozart tidak bisa menahan rasa penasarannya pada pola permainan jazz. Jemari si pianis bagai menari indah, lentur, dan fleksibel di atas tuts hitam-putih. Sesekali dia melirik peniup saksofon untuk menyesuaikan kunci dan permainan mereka. Pemain drum menjadi penjaga ritme dengan tabuhan yang tidak begitu rumit. Mereka tidak mempunyai kertas partitur untuk dilihat sehingga terkesan mereka bermain dalam spontanitas. Yang membuat Madge berpikir jazz terdengar unik adalah penampilan solo masing-masing pemain, saat di mana pemain lain akan berhenti dan membiarkan rekan mereka pamer kebolehan; mengeluarkan segala bentuk suara meliuk-liuk yang mungkin di luar pakem dan yang menggambarkan kebebasan sang pemain sendiri.

Improvisasi, pikir Madge. Mungkin itulah salah satu ciri unik jazz dibanding musik klasik. Gadis itu berjanji pada dirinya sendiri untuk mempelajarinya jika dia punya waktu luang.

"... hey?" Madge tidak sadar kalau Gale menjentikkan jari di depan wajahnya. "Kau tidak memperhatikanku, ya?"

"Oh, maaf, aku terlalu terkesan dengan mereka," Madge mengarahkan kepalanya ke panggung sebelum akhirnya menghadapi Gale. "Apa tadi kau bilang?"

Mendesah, Gale merengut, dia tak pernah menjadi penggemar musik. "Aku perlu tahu alasanmu tidak bisa ikut."

"Tidak bisa saja," Madge menjawab simpel, melipat tangannya di dada dan menunjukkan tampang 'aku-sedang-tidak-ingin-ditanya-tanya-sekarang'.

"Itu bahkan bukan jawaban."

"Ya, itu jawaban. Kau bisa pergi dengan Tongs, Gale. Atau kau bisa pergi sendiri, sejak kau selalu bilang bahwa kau bisa mengatasi semuanya tanpa bantuan orang lain," Madge menyarankan.

Gale bisa merasakan santap malam yang baru selesai dia masukkan ke dalam perutnya sedang mendorong untuk keluar lagi. Ya, Gale dan Madge makan malam bersama di salah satu kafe dekat apartemen Gale. Bukan. Mereka bukan merencanakan kegiatan ini, bukan juga mereka sedang melakukan sesuatu yang disebut akhir-akhir ini sebagai 'berkencan'. Mereka hanya kebetulan harus menyelesaikan bahan-bahan presentasi dan perjanjian kontrak sebagai pekerjaan nanti di Distrik 4. Lembur tak terelakkan, dan Gale terjebak bersama Madge.

"Tongs? Demi Snow! Anak baru itu itu tidak mengerti apa-apa!" pekik Gale marah.

"Gale," Madge memulai. "Jangan bicara begitu tentangnya."

"Duh, seperti aku peduli. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak bisa ikut? Tidak merindukan ayahmu, huh?"

Madge tetiba menegang, seluruh tubuhnya seperti kaku dan pandangan matanya terkunci pada Gale. Dia mencoba untuk rileks. Tapi tidak bisa. Gale mengungkit ayahnya, dan apalagi setelah ini? Dia akan mengungkit seluruh keluarganya. Madge membenci itu, karena rekam jejak selama ini Gale membencinya dan keluarganya.

Madge memilih diam.

"Kau tidak ingin kembali ke sana, bukan? Hmm? Distrik 4? Yang tidak bisa kumengerti adalah kenapa, Madge? Pada saat kunjungan bulan lalu kau baik-baik saja, tidak seperti sekarang. Beritahu aku sesuatu dan apabila alasanmu logis maka akan kuturuti maumu," Gale membujuk.

Madge menggeleng lantas mendesah lemah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Berbohong bukanlah pilihan, namun menceritakan kejujuran memiliki resiko tersendiri. Bukan berarti Madge dan Gale sudah dekat beberapa bulan ini sehingga relasi mereka berubah menjadi 'teman'. Tidak. Gale sepenuhnya tertutup. Laki-laki itu membenci Madge. Gale makin memandang Madge rendah sejak dia menjadi sekretarisnya.

Mereka nyaris tidak pernah bicara selain soal pekerjaan. Profesionalitas, kata Gale. Peraturan yang dia buat pada hari pertama Madge bekerja.

Si gadis masih tetap diam, pandangannya turun memperhatikan busa di gelas birnya yang mulai menipis.

Gale masih menunggu si gadis untuk menjawab. Dia menggeram frustrasi ketika tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.

Gale tiba-tiba menyesal pernah membuat peraturan itu.

"Kau mabuk, ya?" terka Gale. Berharap kalau Madge memang mabuk betulan dan dia tidak tahu apa yang dikatakannya.

Madge dengan simpel menggeleng. Gale merintih naik darah.

"Dengar," Gale memulai. "Aku bukannya ingin memaksamu ikut. Tapi... Aku tidak mau pergi dengan si Tongs! Dia banyak omong, taruhan dia akan membuat kupingku berdarah bahkan sebelum mencapai Distrik 4."

Madge berpikir sejenak, "Rumit," Madge akhirnya berkata.

"Maksudnya?"

"Ini rumit, Gale. Aku tidak bisa memberitahumu dan... dan seperti kau cukup peduli untuk mau mendengar dan mengerti."

Gale mengernyit, sebagian dirinya nyeri mendengar pemikiran Madge. "O... ke. Aku memang tidak akan mau mendengarkan." Bohong. Dia tidak akan repot-repot membujuk Madge kalau memang iya, dia tidak mau barang sedikit saja mendengar penjelasan Madge. Dia bisa saja langsung menyetujui permintaan si pirang, kau tahu. "Dan aku tidak peduli." Dia peduli. Meski otaknya melakukan perlawanan keras terhadap ini. Entahlah. Gale sendiri tidak mengerti kenapa.

"Kau tidak membutuhkanku di sana," gumam Madge. Itu tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya, dia khawatir Gale akan membuat kesalahan Dia khawatir Gale akan menghabiskan malam dengan mengunjungi pub bersama wanita-wanita tidak jelas. Bahkan membayangkan hal itu menyebabkan perutnya mual.

"Oke, jadi tidak ada yang mau kau

katakan, benar?" tanya Gale.

"Ya, tidak ada yang harus dikatakan lagi."

"Aku mau pulang," Gale bilang sekonyong-konyong. Toh, buat apa berlama-lama di sini?

"Aku masih mau di sini," tukas Madge.

Pandangan Madge lalu beralih pada si pianis lagi. Kali ini dia sedang memainkan bagian solonya. Denting piano terasa begitu familiar di telinga Madge. Madge punya piano di apartemennya. Ayahnya cukup baik untuk membelikan satu untuknya. Meski tidak sebesar dan sebersejarah punyanya di Distrik 12, Madge cukup puas dengan itu. Bermain piano terbukti mampu mengurangi beban perasaan yang dia rasakan ketika sering kali dia merasa lelah menanggungnya sendiri. Ketika tidak ada siapa-siapa untuk berbagi. Ketika dia terjebak rasa sepi.

"Baik. Aku pulang sendiri. Kau mungkin masih menunggu pemain piano itu untuk mengantarkanmu."

Gale memperhatikan pandangan Madge, ternyata. Si pirang hanya tersenyum, sudah terbiasa dengan kalimat kasar yang terlontar dari bosnya.

"Yeah, siapa tahu dia masih lajang. Siapa tahu dia mau mengantarku tidur malam ini. Bagaimana denganmu, bos? Adakah yang mengantarmu tidur? Hmm?"

Gale kebingungan. Apakah Madge serius dengan perkataannya? Atau Madge hanya menggodanya? Gale pikir gadis itu hanya mengejek.

"Terserah," dengus Gale.

Dengan denting piano yang mempercepat ritmenya, Gale berangsur berdiri dan meninggalkan Madge.

Madge membiarkan pikirannya hanya pada suara piano. Musik itu simpel, di luar segala kerumitannya. Cerminan hati anak manusia yang mana mampu ditafsirkan oleh alam semesta. Sederhana, pikir Madge. Dia berharap kenyataan bisa sesederhana bermain musik.

Dia yakin Gale sudah benar-benar keluar dari kafe. Mungkin laki-laki itu sedang menyalakan mesin mobilnya, atau sedang menelepon salah satu teman perempuannya. Atau apa pun, Madge tidak ingin membuat skenario lagi. Madge menyayangkan sesuatu. Seharusnya mereka bisa menjadi, setidaknya, teman kerja. Semacam bertukar selamat pagi dan sampai ketemu besok atau senyuman tulus tiap kali berpapasan. Namun, dia sadar dia tak seharusnya berharap banyak. Madge tidak punya teman dan terlalu malas untuk berteman dengan rekan sejawatnya di kantor. Madge bukan angkuh, dia lebih cenderung suka menyendiri.

Dan terkadang itu menyiksa.

Madge meminum habis birnya, memanggil pelayan dan memesan dua botol lagi. Menenggak birnya berkali-kali tanpa khawatir dia akan mabuk.

Kafe ini makin malam makin ramai, dan Madge membenci itu. Keramaian justru membuatnya makin merasa sendiri. Pasangan mulai berdatangan, bergandengan tangan atau saling merangkul. Menebarkan cinta. Cinta. Kampanye pemulihan Panem. Aktivis dari berbagai distrik menyuarakan hal yang mereka anggap paling Panem butuhkan: Cinta. Panem layak merasakan kecerahan cinta setelah berpuluh tahun di bawah bayang-bayang kegelapan Hunger Games. Panem layak bertumbuh kembali, warga distrik harus saling bersatu, menyatukan visi, berlandaskan cinta.

Omong kosong, pekik Madge.

Satu-satunya yang bisa dia harapkan untuk merasakan cinta adalah likuid hasil proses fermentasi yang mengandung alkohol ini.

Madge tidak sadar si pianis sudah memperlambat tempo permainannya. Saksofon dan drum ikut sahut-menyahut dalam konversasi anggun bernama Jazz. Di sudut lain beberapa pasangan berdansa di bawah lampu oranye yang membuat Madge iri akan keintiman mereka. Madge tahu melodi ini, sebuah lagu tentang perpisahan. Tentang seseorang yang meminta kekasihnya akan tinggal dan menemaninya sepanjang malam. Tanpa dia sadari bahwa dia hanya sendiri, dan dia tak bisa meminta pada siapa-siapa.

Madge tak bisa menahannya lagi. Dia menangkup wajahnya dan butiran air mata terasa hangat mengalir di kedua pipinya.

Entah dia menangis karena ibunya atau karena Distrik 4 atau karena kesepiannya.

Atau karena dia ingin Gale tetap tinggal. Biarlah laki-laki itu tahu seberapa rapuh sang Anak Wali Kota. Biarlah Gale merasa senang mengetahui penderitaan Madge.

Musik memang sederhana. Sesederhana kerumitannya untuk dengan mudah merayap masuk menginfeksi hatimu dengan pesan-pesan di balik melodi musik itu.

Air mata Madge berubah menjadi isakan yang dia tahan agar pengunjung lainnya tidak bisa mendengar. Dadanya sakit, karena dia butuh berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Dia mengutuk dirinya kenapa harus menangis di sini. Kenapa tidak menunggu sampai dia di kamarnya dan dia bisa menangis sepuas hatinya di situ. Kenapa pula harus lagu ini yang dimainkan si pianis sialan itu.

Madge menjatuhkan kepalanya ke atas meja membiarkan rambut pirang panjangnya menyentuh dan menutupi wajahnya. Dia tidak ingin seorang pun melihat dirinya dalam sirkumstansi macam ini. Isakannya justru semakin bertambah keras. Dia menjadi sulit untuk bernapas. Akhirnya dia mendongak dan mendapati seseorang berdiri di depannya, hal berikutnya yang dia tahu, Gale menarik kursi, menimbulkan suara berdecit, dan dia menghenyakkan badannya.

Gale Hawthorne...

Gale menatap Madge datar. Rahang kotaknya mengatup sempurna. Tidak ada ekspresi di sana. Hanya tatapan datar yang malah menyiratkan sejuta arti.

Madge terdiam di kursinya. Terkejut karena Gale kembali. Mata birunya yang tampak mencolok di bawah sinar oranye memandang mata abu-abu Gale dengan intens. Seluruh badannya menggigil, tiba-tiba lupa bagaimana caranya bergerak. Madge takut kalau di antara mereka tak ada yang berinisiatif lebih dulu untuk menyudahi lomba menatap ini, dia bisa terhisap ke dalam mata lumpur itu.

Isakannya berangsur-angsur melemah namun dia tidak repot-repot berhenti. Air matanya sudah tak mengalir lagi tapi dia tidak terganggu untuk mengelap pipinya. Dia masa bodoh kalau Gale, di antara semua orang, tahu kalau Madge menangis tersedu-sedan di sebuah kafe.

Madge berharap Gale akan menyeringai puas melihat sirkumstansi Madge. Madge berharap Gale akan mulai mencibirnya kalau dia terlihat cengeng dan menyedihkan dan bahwa selama ini ternyata Madge hanya memakai topeng yang membuatnya terlihat kuat dan tegar dari luar. Madge berharap Gale akan menertawainya. Madge berharap Gale akan membandingkannya dengan Katniss. Katniss yang tidak suka menangis, Katniss yang berjuang untuk keluarganya, Katniss yang hidupnya lebih berat dari hidup Madge, atau Katniss begini, dan Katniss begitu.

Tapi, Madge tidak berharap Gale akan memanggil namanya.

"Madge," lirih Gale, tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Matanya tertutup dan dia mulai memijit pangkal hidungnya; terlihat tidak yakin dengan apa yang dilakukannya.

"Dengar," ujarnya memulai. Badannya condong ke depan seperti ingin Madge bisa mendengarkan tiap patah katanya dengan jelas. "Aku buruk dalam hal ini... tapi kalau kau butuh tempat untuk bicara..."

Gale membiarkan kalimatnya menggantung. Madge tidak berekspektasi Gale akan mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Dan dari cara Gale yang spontan menarik dirinya, Madge tahu Gale juga tak mengharapkan hal itu yang dia ucapkan.

Lebih dari apa pun Madge ingin menghargai tindakan Gale yang kembali. Tapi dia tak mengerti kenapa.

Alunan lagu hampir mencapai outro dan sebentar lagi mungkin keheningan akan mengkontaminasi udara; jika tidak ada lagu sedih lain yang bisa dimainkan.

Gale kurang begitu menyukai ini; keheningan. Seolah ada yang memaksanya untuk mencari bahan pembicaraan. Seolah keheningan itu bisa mencekiknya sampai mati.

Si pianis selesai memainkan lagu, dan seperti apa yang diperkirakan, tidak ada kata-kata yang bisa meluncur dari mulut keduanya. Madge mengambil waktunya untuk memandang Gale, menerka-nerka apa yang ada di otak Gale sampai dia bisa bertahan untuk tidak mencelanya selama lebih dari lima menit.

"Jadi," kata Gale. "Maukah kau pergi ke Distrik 2 bersamaku?"

Membulatkan tekadnya, Madge tidak langsung menjawab namun, dia yakin, untuk pertama kali, dia bisa mendengar ketulusan.

TBC