DISCLAIMER: THE HUNGER GAMES BELONGS TO SUZANNE COLLINS


Distrik 4 adalah yang terindah di antara distrik-distrik lain. Gale sudah pernah ke seluruh distrik dan yang selalu menjadi favoritnya adalah Distrik 4. Mungkin karena keberadaan laut yang menjadi daya tarik tersendiri. Atau angin yang membawa aroma garam dan ketenangan yang tercipta saat angin pelan-pelan menyapa wajahnya. Mungkin juga karena keseluruhan faktor tersebut yang membuat Gale merasa bebas. Sebuncah kebebasan yang tak bisa ditolak. Sama seperti saat dia di dalam hutan, bersembunyi di balik semak menunggu kelinci dan tupai terjebak perangkapnya, atau saat dia berbaring menatap langit di Padang Rumput. Perasaan itu muncul begitu saja, saat dia mendaratkan pandangannya pada barisan hijau pepohonan dan pada langit biru bertotolkan awan-awan putih.

Di sini sama saja. Laut dan hutan hanya berbeda warna. Mereka sama-sama mampu memberi ketenangan meski dengan cara tersendiri.

Gale mendongak mendapati horizon terbentang di depan matanya. Sinar mentari pagi tidak menggangunya. Dia bisa bilang cuaca hari ini sempurna untuk bersantai, duduk-duduk di pinggir pantai, minum cocktail, dan tidak melakukan apa-apa selain menikmati hidup.

Dia penasaran mengapa gadis pirang yang duduk di sampingnya meninggalkan tempat setengah surga ini. Jika Gale berkesempatan tinggal di Distrik 4, dia akan membangun rumah tepi pantai. Berselancar tiap sore dan melihat matahari terbenam setelahnya. Mungkin dia akan membawa ibu dan adik-adiknya menetap di sini. Memancing lalu makan udang dan ikan bakar tiap malam.

Bukan berarti dia mengabaikan Distrik 12 dan tidak merindukannya sama sekali, tapi terkadang seseorang butuh suasana baru. Upaya untuk menjernihkan jiwa dan memikirkan perencanaan kehidupan masa mendatang. Atau sederhananya hanya menghidupi masa sekarang. Dan merasakan tiap helaan udara penuh kebebasan.

Gale menoleh kepada Madge yang sibuk dengan bacaannya. Kepala pirang gadis itu bersandar rileks pada kursi kayu, kakinya menyilang, matanya bergerak menjelajahi lembaran novel klasik di tangannya.

Madge senang membaca dan dia punya ketertarikan lebih dalam musik, akhir-akhir ini dia sering mengoceh tentang musisi-musisi jazz yang mulai melakukan tur di Panem. Gale mulai familiar dengan beberapa nama, dan parahnya sebagian besar album-album mereka. Koleksi album Madge sama banyaknya dengan bukunya.

Apa gunanya menumpuk buku dan album jazz? Suatu hal yang di luar logis Gale karena dia bukan kutu buku dan bukan pecinta musik.

Kecerdasan naturalis dan kinestetik mungkin menjadi kelebihannya. Dia biasa berburu dan membaur dengan alam.

"Ahh... cuaca yang bagus," gumam Gale seraya menyelondorkan kakinya.

"Ya, apa kau melihat matahari terbit pagi ini? Astaga, itu indah sekali," Madge menyahut setuju tanpa melepaskan perhatian dari bukunya.

"Aku melihatnya dari kamar hotel dan, ya, itu pemandangan tercantik yang pernah kulihat."

"Wah, kalau begitu kau harus bersiap untuk lebih terpesona," kata Madge.

"Lebih terpesona untuk apa?"

"Melihat matahari terbenam, pastinya."

"Well, aku akan berusaha melihatnya nanti."

"Aku tahu tempat terbaik untuk menyaksikan matahari tenggelam, letaknya tidak jauh dari pantai, kita bisa mencapainya dengan naik sepeda atau berjalan kaki."

"Bisakah kita ke sana sore ini?" Gale bertanya namun dia berusaha menahan nada bicaranya agar tak terdengar terlalu bersemangat. "Sebelum besok kembali ke Distrik 2?"

Madge mengangguk lalu menoleh memberi Gale senyum ringan. Dia kembali membaca bukunya. Gale tidak tahu apa dia harus membalas senyum Madge. Kondisi suasana bisa berubah canggung, kau tahu.

"Madge?"

"Ya."

"Kau tidak menyesal kembali ke sini, bukan?"

Madge terkejut mendengar pertanyaan Gale. Dia tampak berpikir pada dirinya sendiri. Apakah dia menyesal? Well, di luar usahanya untuk menghindar dari kehidupan lamanya, Madge tak begitu menyesal. Jadwal yang benar-benar padat dan hectic malah cukup membantu Madge untuk tetap sibuk. Dia jadi punya alasan untuk tidak mengunjungi ibu dan ayahnya.

"Tidak," Jawab Madge akhirnya.

Gale mengangguk mengerti, "Omong-omong, kau belum memberitahu alasanmu tidak mau ikut," kalimatnya dengan hati-hati dia susun.

Madge berdecak lalu menutup bukunya dengan kasar. "Alasanku rumit, Gale."

"Serumit apa, sih?"

Madge menghela napasnya, "Kau tidak akan mengerti."

"Baiklah, oke, toh aku memang tidak akan pernah mengerti wanita," Gale bergumam. "Kau 'kan tahu banyak buku, adakah satu yang menjelaskan bagaimana caranya mengerti perempuan?"

Madge tertawa, memutar badannya menghadap penuh pada Gale lalu melipat tangan di depan dada, "Oh, kurasa ada. Buku itu bagus sekali lho, di situ disebutkan kalau kami para wanita, adalah makhluk terhormat. Kami tidak egois dan angkuh dan arogan seperti kaum pria."

"Oh, benarkah?" Gale meniru gestur Madge. "Taruhan, pasti yang menulis buku itu adalah Effie Trinket."

Mata Madge melebar, "Astaga... bagaimana kau tahu? Kau menebaknya asal atau apa sih?"

"Hah?"

"Duh, Gale, 'Panduan Effie Trinket untuk Mengenal Wanita Luar Dalam'. Gale, perempuan menyebalkan itu yang menulisnya!" Madge berseru.

"Wow, aku benar-benar kehilangan kata-kata," kata Gale sarkastik—memutar matanya.

"Bukunya lumayan bagus, kok. Bahkan banyak perempuan yang membacanya."

"Serius? Kalian kurang bisa mengenal diri luar dalam, apa?" tanya Gale.

"Entahlah. Aku cukup mengenal diriku sendiri, kurasa."

"Oh, dan bagaimana seorang Madge Undersee menilai dirinya sendiri?"

Madge mengernyit bingung. Apa maksud Gale dengan pertanyaan itu? Dan bagaimana pula dia harus menjawabnya.

"Bukankah terlalu narsis kalau menceritakan diri sendiri. Biarlah orang lain yang menilaiku, aku tidak terlalu peduli."

Gale mengangkat bahu lantas menyesap cocktail berhias ornamen payung yang terletak di atas meja di sampingnya. Sensasi dingin yang menyegarkan menyentuh dinding kerongkongannya.

"Narsis adalah ketika kau menilai dirimu dengan hal yang bagus-bagus saja. Narsis adalah bibit awal keangkuhan," kata Gale.

Madge balas mengangkat bahunya juga, dia melepas sunhat-nya membiarkan rambut pirang panjangnya ditiup angin. "Baik, dari mana aku harus memulainya. Ah, aku seorang pemikir—eh, tunggu—kau yakin mau mendengar ini?"

Lagi-lagi Gale mengangkat bahunya, "Tidak terlalu sih, tapi hibur aku. Di sini mulai membosankan."

Madge memutar matanya lantas dia mendengus, "Ini terkesan tidak adil, bukan?"

"Heh?"

"Ya! Sepertinya konversasi ini semacam ilusi jika hanya aku yang bicara, kau juga harus bercerita tentang dirimu, Gale."

"Eh? Ilusi? Bahasamu berat sekali, sih. Aku akan ikut bicara, tenang saja, tapi yah, jangan berharap banyak. Kau bilang apa tadi? Seorang pemikir?" ujar Gale santai.

"Yeah, aku lebih suka menyendiri dan menghabiskan waktuku untuk berpikir. Terkadang aku merasa kebanyakan orang takkan sampai pada pemikiranku."

"Merendahkan orang sekali," Gale mencibir, merubah posisi duduknya menghadap Madge. Dia tak sepenuhnya menatap gadis itu. Pandangannya justru tertuju pada dua bocah laki-laki yang bermain pasir di kejauhan.

"Bukan," Madge menggeleng. "Aku suka berpikir, mengkhayal, aku merasa jika aku menuangkan semuanya, seperti menulis, aku bisa membuat bukuku sendiri."

"Oh, ya?" Gale berusaha terdengar seantusias mungkin. "Dan mengapa sampai sekarang bukumu belum terbit? Hmm?"

"Ish," Madge mendesis. "Aku sudah menulis beberapa, tapi sebagian diriku masih menganggap tulisanku belum cukup bagus, ja-"

"Jadi kau masih mau memperbaikinya," Gale menyelesaikan kalimat Madge.

"Semacam itu."

"Kau menulis saat di kantor?"

"Yeah, terkadang. Tapi aku hanya melakukannya saat tidak ada pekerjaan, kau tidak perlu khawatir aku melalaikan tugas untuk menulis," kata Madge.

"Oh," respon Gale singkat. Dia menaruh kedua tangannya di bawah kepala kemudian bersandar lagi di kursinya.

Suara angin yang bergesek dengan pohon kelapa dan debur ombak mengisi keheningan di antara mereka. Kali ini Gale tidak lagi risih dengan keheningan. Karena ini jenis hening yang nyaman, saat kau tidak perlu berpikir keras untuk mencari bahan pembicaraan. Keheningan sendiri adalah bahasa, dia punya cara berbicara juga.

"Giliranmu," kata Madge memecah kesunyian.

"Apa?" balas Gale innocent.

"Giliranmu, lupa ya? Aku ingin tahu bagaimana Gale Hawthorne memandang dirinya."

"Kau cerewet sekali, sih. Jangan berusaha menyamai Tongs, please, duh,"

Apa-apaan itu? Pekik Madge dalam hati. Tadi 'kan si mata lumpur ini yang memintanya bicara. Kenapa mood laki-laki satu ini gampang sekali berubah? Madge bingung, beberapa saat tadi dia berpikir Gale mungkin bisa menjadi teman ngobrol yang mau mendengarkan dan mau ambil andil dalam percakapan. Tapi sekarang, dia tidak yakin lagi.

Jangan-jangan semua laki-laki Seam memang seperti dia. Effie Trinket mungkin harus menulis buku lagi, sesuatu seperti: Panduan Lengkap Karakteristik Laki-laki Seam dan Bagaimana Cara Mengatasi Mereka.

Madge akan jadi pembeli pertama buku itu.

"Eh, aku lupa ingin bertanya ini," Gale berkata tiba-tiba, matanya bertemu mata Madge dengan instan. "Kenapa kau membaca buku Effie kalau kau bilang cukup mengenal dirimu?"

Dia tak bisa menahan tawanya. "Oh, Gale. Kau tidak benar-benar menyangka aku seorang gadis yang kehilangan jati diri, 'kan? Haha, aku membacanya karena penasaran, awalnya kukira Effie akan menulis tentang fesyen atau apalah."

"Oh," ucap Gale.

Sesosok laki-laki tua bertumbuh gempal terlihat mendekati mereka. Dia mengenakan kacamata hitam, celana pendek, dan kaus tanpa lengan. Gale menegapkan badannya, mencoba mengenali laki-laki itu.

Di luar ekspektasinya Madge bangkit berdiri dan langsung berseru, "Melville!" sepertinya Madge mengenali laki-laki itu.

Mereka berpelukan cukup erat, senyuman merekah terplester di wajah mereka. Tipikal situasi 'I-haven't-seen-you-in-ages'

"Oh, Madge... aku tidak mengira akan bertemu denganmu di sini. Pantas sejak tadi aku merasa familiar denganmu," laki-laki yang dipanggil Melville ini berkata dengan nada manisnya.

Mereka berpisah dan Madge buru-buru memperkenalkan Melville pada Gale. "Gale ini Melville Herkovits, dia mantan Wali Kota Distrik 4 dan teman ayahku," Madge menunjuk pada Melville, "Dan Mel, ini Gale Hawthorne, bosku di Distrik 2."

Gale dan Melville berjabat tangan, sampai akhirnya Melville menyadari sesuatu, "Astaga! Kau Gale, benar? Star Squad? Astaga, kau benar-benar Prajurit Gale."

Madge tertawa pada Melville yang terdengar komikal, seakan dia baru bertemu selebritis Capitol.

Gale menggaruk tengkuknya dengan malu-malu, yang mana membuat Madge semakin terbahak. "Kau tidak mau minta tanda tangan prajurit ini, eh, Mel?" goda Madge.

Melville jadi ikut terkekeh menyadari sikapnya yang seperti semacam penggemar fanatik Gale. Sikap yang memang tidak pantas jika mengacu pada umurnya sekarang.

"Aku merindukanmu, Maddie, mampirlah untuk makan malam di rumahku, kupastikan Carrole masak yang banyak malam ini," Melville berkata seraya membuka kaca matanya. Dia jauh terlihat lebih muda, pikir Gale. Dan mata laki-laki itu biru terang, hampir sama seperti Madge.

"Oh, aku ingin sekali, Mel, sungguh. Tapi esok harinya aku harus pulang ke Distrik 2," Madge mencoba menolak dengan halus, tampang kecewa sekarang menghiasi wajah keduanya.

"Wah, besok, bukan? Aku yakin mampir sebentar takkan membuat masalah, bagaimana? Lagi pula sudah berapa lama kau tidak pulang, Maddie? 6 bulan, seingatku. Kau benar-benar melukaiku kalau kau menolak tawaran ini," perkataan Melville sukses membuat Madge merenung kembali.

"Kurasa itu bukan ide yang bagus juga, Pak," kata Gale, mendorong tangannya ke dalam saku celana pendeknya. "Kami butuh mengepak barang-barang kami dan beristirahat untuk perjalanan pulang."

Melville akhirnya mengangguk mengerti, jari telunjuknya menggaruk dagu gemuknya, terlihat berpikir.

"Mel, aku minta maaf karena belum bisa mengunjungimu, aku cukup sibuk dan tidak bisa meluangkan waktu..." Madge terdiam, tapi Melville memberikan tatapan toleransinya.

"Ah, itu tak apa-apa, Maddie, aku bisa mengerti. Nah, Prajurit," dia beralih pada Gale, "Pukul berapa sekarang?"

"Pukul sebelas," jawab Gale setelah melihat arlojinya. Agak kesal karena si pria tua memanggilnya 'prajurit'

"Sebentar lagi makan siang, bukan? Ahhh, ini sempurna, Madge dan Prajurit, ayo kita cari tempat makan," Melville menyarankan.

Madge dan Gale menatap satu sama lain. Berbicara melalui keheningan. Gale mengangkat bahunya lantas Madge tersenyum.

"Ide brilian, Mel."

Melville terkekeh, mengambil tangan Madge dan mulai berjalan. Gale mengikuti di belakang. "Dan, oh ya, Prajurit Gale, aku kurang suka kau panggil 'pak', cukup panggil aku dengan 'Mel'"


Mereka bertiga duduk di meja bundar di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari pantai. Madge memekik girang ketika Melville membawa mereka ke tempat ini.

"Aku tidak sabar mencicipi daging kepiting bakar khas restoran ini!" Madge berseru. "Apa mereka masih menampilkan tarian aneh itu?"

Gale menemukan kalau ternyata Madge dan Melville cukup sering menghabiskan waktu di sini. Dan mereka sangat dekat! Kedekatan yang terlihat membuat Gale berpikir kalau mereka seperti ayah dan anak. Gale mengakui Melville memang ramah dan bersahabat. Kau bisa langsung ngobrol banyak hal dengan pria ini. Sesuatu di mata birunya yang memancarkan kenyamanan saat kau melihat ke dalamnya. Gale teringat pada Finnick. Apakah semua orang dari Distrik 2 bermata biru, tanya Gale dalam hati.

"Jadi, Prajurit Gale, ceritakan tepatnya apa posisimu di Divisi Pertahanan," kata Melville memulai percakapan.

"Maaf, Mel, bisa kau berhenti memanggilku 'prajurit'? Aku bukan seorang prajurit lagi, kau bisa memanggilku Gale."

Mellville melempar kepalanya ke belakang tertawa, "Mel dan Gale, nama kita berima," dia mengerling pada Gale. "Tapi, baiklah, mungkin kau risih dengan panggilan itu. Jadi, apa posisimu, Gale?"

"Wakil Kepala Divisi Pertahanan."

"Oh, benarkah? Siapa kepalanya, kalau begitu?"

"Beetee Latier," Madge menjawab, dia duduk di antara Gale dan Melville

"Oh, astaga, pemenang dari Distrik 3 itu? Dia jago sekali memainkan listrik."

"Ha! Kebanyakan permainannya terbukti mematikan," kata Gale.

"Hmm, aku ingat saat dia jadi peserta, entah apa yang dia buat dengan suplai peralatan listrik di Cornucopia-"

"Yang jelas dia bisa membunuh 6 Peserta yang tersisa dengan itu. Genius," kata Gale kagum.

"Itu bengis sekali," tambah Madge.

Gale menoleh pada Madge dan memberinya tatapan keheranan, "Itu bukan bengis, aku yakin, tapi lebih kepada pertahanan diri. Beetee bukan psikopat yang gemar membunuh sembarang orang," Gale lalu melempar pandangannya ke jalanan yang tidak begitu ramai dengan kendaraan bermotor, kebanyakan penduduk di sini menggunakan sepeda.

"Kudengar kau mengerjakan persenjataan dengan Beetee sewaktu pemberontakan," suara Mel menarik perhatian Gale.

"Yeah, aku selalu kagum dengan caranya merakit dan suatu kehormatan bisa membantunya."

"Gale penggemar Beetee," kata Madge tersenyum padanya.

"Kalian masih merakit senjata sekarang?"

"Hmm? Tidak, kami lebih fokus pada pendidikan kemiliteran untuk pemuda di sana,"

"Distrik 2 memang menjadi pemasok utama persenjataan Panem sejak dulu, jadi orang dari Capitol yang memegang kendali untuk itu," kata Madge.

Gale mengangguk setuju, "Divisi pertahanan masih mengatasi bagian persenjataan, Beetee yang menjadi pengambil keputusan untuk tiap aktivitas mereka."

"Bisa saya catat pesanan anda?" seorang pelayan datang dan menginterupsi mereka. Madge langsung memesan kepiting, Gale dan Mel harus berdebat antara udang saus asam paprika atau udang dan sup asparagus; dengan paprika juga.

Mel mendesak Gale untuk memesan udang saus asam itu, "Yang terbaik seantero Distrik 4," kata Mel.

Mereka akhirnya memutuskan untuk memesan semuanya, Gale mendesah lemah. Dia ingin mencoba lobster juga, sebenarnya.

Si pelayan pergi setelah mereka memesan minuman: rum, es kelapa, dan squash stroberi campur lemon.

"Pada awalnya, kukira Distrik 2 akan menolak kebijakan pemerintahan baru," kata Mel, memainkan kacamata di tangannya.

"Warga di sana benci pada Capitol sama seperti semua orang di distrik lain," sahut Gale.

"Dia benar," Madge ikut berpendapat. "Aku bisa melihat harapan mereka untuk bebas; memiliki hidup yang lebih layak."

"Ah, pikirku. Tahun belakangan ini memang lebih baik bukan? Aku ingat bulan lalu aku bangun tidur dan bersiap untuk upacara Pemungutan," Mel tertawa hambar. "Anak-anak lebih banyak tersenyum sekarang, dengan pipi merona. Mereka berkeinginan untuk menentukan hidup mereka; menciptakan kebudayaannya sendiri, mengabaikan teori superorganik tentang warisan turun temurun yang melingkupi Panem: rasa takut."

Madge dan Gale memperhatikan saat mata Mel mengenang tahun-tahun kelam Hunger Games. Mel mungkin sudah menyaksikan lebih dari setengah acara Hunger Games—usianya lebih dari setengah abad. Dia pasti sudah muak melihat anak-anak yang seharusnya penuh dengan pengetahuan justru bertarung untuk membunuh.

"Mel," Madge mengulurkan tangannya, menangkup tangan Mel yang tidak memegang kacamata. "Mereka—anak-anak—bisa tersenyum sekarang, kita juga layak untuk tersenyum, kau tahu."

Gale ingin menangkup tangan Madge yang menangkup tangan Mel, memberi ketenangan dobel. Tapi, dia urung melakukannya. Dia mengutuk dirinya karena sempat berniat begitu.

Mel tersenyum, getir dan dipaksakan, tapi itu tidak apa-apa. Gale sudah mencoba melupakan apa itu Hunger Games dan baginya semua orang layak untuk merasakan sedikit kebahagiaan, dan mungkin kebebasan.

Terkadang dia bisa tersenyum lebar, terkadang langit kelam melarangnya.

"Ada wacana untuk pemilihan presiden dalam satu atau dua tahun ke depan," kata Gale mengalihkan suasana. "Kau sudah tahu, Mel?"

Mel menggeleng, Madge mengangkat tangannya dari tangan Mel. "Mereka benar-benar akan melakukannya, ya?"

"Ya," kata Gale menyilangkan kakinya di bawah meja. "Orang-orang di Capitol mulai memikirkan status vakum kekuasaan di Panem."

"Oh, jadi itu ide orang Capitol," sahut Mel. "Kok, aku curiga, yah?"

"Maksudnya?" tanya Gale.

"Mereka tidak mencoba menciptakan Snow baru, 'kan?"

"Sepertinya tidak. Seluruh distrik berhak memilih. Sistemnya akan menjadi bebas dan adil, mereka juga akan melakukan penyuluhan bagaiman cara memilih dalam beberapa bulan ke depan. Kunjungan kami ke sini salah satu langkah pra-pemilihan," terang Gale.

"Apa tepatnya tugas kalian di sini omong-omong?"

"Kami mengerjakan proyek pembangunan kantor pertahanan," Madge menjawab. "Dan akademi kemiliteran. Kami harus meyakinkan Distrik 4 bahwa Capitol yang sepenuhnya menyokong masalah dana dan bahwa mereka mau bekerja sama dengan Distrik 4. Semacam itu."

"Dan apakah mereka sudah yakin?"

"80 persen," sahut Gale. "Wali Kota Trulock masih skeptis pada Capitol. Kau mantan Wali Kota, kan? Kenal dengan dia?"

Mel mendengus lantas menyahut, "Tidak juga, ada apa memang? Dia memberimu masalah?"

"Sedikit, dia cenderung bebal dan tidak mau mendengarkan. Konservatif."

Lalu Mel tertawa, keras-keras, sampai dia harus memegangi dadanya. "Ada apa?" tanya Gale, keningnya berkerut.

"Tidak ada," balas Mel tapi dia lanjut tertawa.

Mungkin Mel punya sejarah dengan Wali Kota yang sekarang, pikir Gale. Namun dia tidak repot meminta Mel untuk bercerita.

Tepat saat itu pesanan mereka datang. Aroma makanan laut menyeruak. Perut Madge meronta-ronta, mata Gale terfokus ketika piring-piring diletakkan di atas meja.

"Ini kelihatan lezat," kata Madge lalu menyeruput squash-nya.

Gale tidak bisa lebih setuju. Mereka bertiga menyantap hidangan dalam diam. Angin semilir berhembus di restoran terbuka ini. Sesekali mereka akan mengomentari makanan, sesekali akan berbincang-bincang tentang politik, dan beberapa hal lainnya.

Gale belum pernah merasa seramai ini selama beberapa tahun. Dia biasa makan sendiri lalu mengubur dirinya dengan tumpukan pekerjaan. Lalu Madge datang dan memaksanya masuk dalam rutinitas 'ayo pergi ke restoran itu, kita makan bareng'.

Dia tidak resistan, yang mana lucu. Sampai dia sadar dia adalah makhluk gregarius—makhluk dengan naluri untuk ingin selalu hidup dan berhubungan dengan manusia lain.

"Oh, astaga!" Mel memekik mengejutkan Madge dan Gale. "Mereka menampilkan tarian itu, Madge!"

Mata si pirang membesar, mulutnya sedikit terbuka, "Serius? Kau pasti bercanda!"

"Lihat ke sana!" Mel menunjuk ke dekat konter minuman, segerombolan penari dan seorang pemain gitar siap beraksi.

Penari-penari itu seluruhnya perempuan, dengan rok bunga-bunga dan tank-top, hiasan kepala mereka sesuatu seperti rangkaian bunga tropis.

Semuanya berambut pirang khas terbakar matahari, kulit cokelat dan mata biru. Si pemain gitar juga. Tubuhnya kekar dan tinggi. Dia tidak pakai baju; ototnya kemana-mana. Dia bernyanyi, kemudian para penari bergandeng tangan mengelilinginya, membuat gerakan simpel; melempar tungkai bergantian, bertepuk tangan, meloncat, berteriak yar! bergoyang, lalu berputar berkeliling lagi, semakin lama semakin cepat.

Mel berdiri setelah dia menyelesaikan udangnya, tangannya terulur pada Madge. "Maddie, ayo menari!"

Wajah Madge cerah seketika. Gale belum pernah melihatnya sebersemangat itu. Dia menyambut tangan Mel dengan mantap.

Mereka keluar dari meja dan menuju konter. Mel menoleh ke belakang, memberikan Gale tatapan 'bergabunglah dengan kami.'

Tapi Gale membalas dengan anggukan 'aku baik-baik saja'.

Madge berbalik dan menghampiri Gale, "Kau yakin? ini akan jadi sangat seru!"

"Aku..." Gale menjawab ragu. "Aku tidak pandai menari."

Madge mengikik. "Itu tidak terlihat sulit sama sekali, ayolah!"

Gale menggeleng keras-keras. "Pergilah. Aku menonton saja."

Madge mengangkat bahunya, berjalan bergabung dengan kelompok penari. Dia mengambil posisi di samping Mel. Mereka tertawa pada gerakan mereka yang kacau balau. Gale menyadari mungkin ini pertama kalinya mereka bergabung. Karena tidak ada pengunjung di sini yang melakukan itu.

Mel tersandung, menginjak kakinya sendiri, bertepuk tangan terlalu keras, dan hampir oleng setelah beberapa putaran. Madge hanya tertawa, dalam jumlah yang besar. Pipinya merona kemerahan, rambutnya berkibas ke kanan dan ke kiri.

Yar!

Gale mengetuk ujung kakinya ke lantai-di luar kendali, irama musiknya sederhana tapi enak di dengar. Ada urgensi untuk ikut menari juga, dan dia ingin melakukannya di samping Madge.

Oh, tidak, rencana itu hanya akan membuat situasi menjadi aneh. Seaneh kedengarannya.

Yar! Yar! Yar!

Mel oleng parah. Para penari itu membantu memeganginya. Mel hanya terbahak, berpikir seolah dia berusia 25. Tarian dilanjutkan dan Mel beristirahat di konter.

"Ha!" pekik Gale. Dia melihat Madge mulai menguasai tiap gerakan. Dia bukan penari yang buruk, pikir Gale. Dengan rambut pirang dan mata birunya, Madge terlihat seperti salah satu dari mereka yang sedang lupa memakai hiasan kepala.

Mata Gale terus terfokus pada sosok Madge sampai gadis itu menoleh, mengunci tatapan mereka. Tulus, Gale tahu, Madge tersenyum. Padanya. Dengan sejuta arti.

Gale terdiam. Dia tak bisa memilih harus tersenyum juga atau apa. Tapi, langit sangat bagus hari ini, dan Madge terlihat manis dengan dress putih tak berlengannya. Bahkan Mel merasa muda.

Dia sadar bahwa tak ada pilihan lain. Maka Gale balas tersenyum. Tulus juga. Dan hanya ada satu arti: bahagia.


"Bisa lebih cepat tidak, Pak Tua?" seru si gadis pirang melihat kepada Gale yang berusaha menyusul si gadis. Dia mendengus sambil terus berjalan. Madge berbalik dan mulai berjalan lagi. Satu dua kali dia terkekeh. Ahh... udara di sini ringan sekali.

Gale lalu berlari, mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menaklukkan bukit menanjak ini. Lelah, tapi paru-parunya seakan melebar meminta oksigen lebih. Jaketnya tersampir di bahunya. Rambut hitamnya tertiup angin, membuatnya terlihat berantakan.

Langkah Madge panjang-panjang, dia berkeringat, beberapa helai rambut menempel di lehernya, tapi matanya memancarkan semangat. Sebentar lagi matahari akan terbenam, dia sudah berjanji akan membawa Gale melihat fenomena itu. Sedikit lagi, kata Madge, menatap ujung bukit yang mengarah langsung ke laut. Di kejauhan dia bisa melihat batu karang yang tinggi menjulang, seolah siap menahan terjangan ombak yang datang setiap saat. Angin berhembus kencang di ketinggian ini, menyapa kulit penuh keringatnya dengan kasar. Dia menggigil, bulu kuduknya berdiri.

Gale berhasil mencapai sisi Madge lalu berhenti berlari; berjalan mengimbangi langkahnya.

"Apa sih yang ada di tasmu?" tanya Gale merujuk pada ransel di punggung Madge.

"Beberapa benda," sahutnya singkat.

Gale tidak mencoba untuk bertanya lagi.

Mereka lanjut mendaki dalam diam setelah itu tepat di satu poin sekawanan burung melintas dan laut biru kehijauan membentang jelas.

Madge menghentikan langkahnya, Gale juga; Madge menatap ke depan, Gale juga; Madge terkesiap, Gale melakukannya tiga kali.

"Ini..." Gale terdiam, lidahnya kelu.

Dia maju beberapa langkah, sedikit lebih dekat ke ujung. Semburat jingga terlukis di langit lalu menyebar ke horizon, seolah menyatu dengan laut. Beberapa orang dengan kamera terlihat berkeliaran di pantai. Mereka adalah pemburu senja; pengabadi momen-momen matahari terbenam. Ombak bergelung dalam gerakan perpetual, menyentuh bibir pantai kemudian mundur lagi.

"... mengagumkan," hela Gale.

Dia memutar badannya, "Ini luar biasa, Madge, tidakkah ini?"

Gale mengernyit saat Madge berlutut menyentuh rerumputan, mengeluarkan selimut dari tasnya dan mengalasi rumput dengan itu. Gale berjalan mendekat.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Gale, melipat tangan di depan dada.

"Menggelar karpet? Atau selimut? Atau... terserahlah mau kau sebut apa."

"Aku tahu," Gale memutar matanya. "Aku bisa melihat itu, tapi maksudku untuk apa?"

"Hhh," Madge membetulkan ujung selimut sampai benar-benar tergelar dengan rapi, dia kemudian duduk di atasnya, menekuk lutut menyentuh dadanya. Kepalanya meneleng ke samping, mengisyaratkan Gale untuk ikut duduk di sebelahnya.

Si mata kelabu ragu pada awalnya. Namun, dia menurut juga. "Lebih nyaman kalau sambil duduk, bukan?"

Saat Gale menghenyakkan bokongnya ke atas selimut dia menyadari ada tulisan yang terbordir di tepi selimut itu. "Kau mengambil selimut hotel?"

Madge menggeleng santai, "Aku meminjamnya, oke?"

"Tanpa izin?"

"Akan kukembalikan, kok."

"Terserah," Gale memutar matanya.

"Tunggu sebentar," Madge meraih tasnya yang dia letakkan di samping. Dia merogoh sesuatu.

Gadis itu mengeluarkan sekotak stroberi. Merah dan segar. Tanpa basa-basi dia mencomot satu lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

Gale menyandarkan berat badannya pada sikunya, "Dasar gadis stroberi," gumam Gale.

"Ini," kata Madge, pandangannya lurus ke depan. "Ini salah satu alasan mengapa aku tidak menyesal kembali ke Distrik 4."

Mengambil satu stroberi, Gale membalas, "Yeah, ini sepadan."

"Ada satu hal lagi," Madge tersenyum.

"Apa?"

"Melville Herkovits."

"Benarkah?" Gale menegakkan badannya, matanya membelalak. "Astaga... oh astaga! Kau pasti bercanda, Maddie-sayang!"

Madge tidak bisa percaya kalau barusan Gale meniru gaya Mel, lengkap dengan aksen komikal dan gestur badan yang dilebih-lebihkan. Dia bahkan memanggilnya Maddie! Luar biasa! Madge tertawa; Gale terbahak.

"Dia pria yang baik," kata Madge setelah berhasil mengontrol dirinya.

"Pria yang menyenangkan," dia mengiyakan.

Madge menghela napasnya, "Aku akan sangat merindukannya."

Gale menganalisa gadis pirang di sampingnya, mata biru gadis itu seolah berubah redup, menyesuaikan dengan warna oranye langit yang semakin menggelap, mengingatkannya kala dia menemukan si gadis berlinang air mata beberapa hari yang lalu. Sesuatu seperti menusuknya saat itu, tidak tahu apa itu dan bagaimana caranya.

Gale kembali mengunyah satu buah stroberi, si gadis juga. Dia bersandar bertumpu pada sikunya lagi, memikirkan sesuatu yang setidaknya bisa membuat Madge tersenyum.

"Hey, Maddie," panggil Gale.

Menoleh, Madge menjawab, "Kenapa kau pakai sebutan itu?"

"Bisa ajari aku tarian tadi?"

Kening dan hidung Madge berkerut. Serius? tanya Madge dalam hati.

"Serius?"

"Iya," Gale mengangguk lantas bangkit berdiri. Dia mendorong tangannya ke dalam saku celananya.

Madge mendongak, "Serius?" ulangnya.

"Iya!" dia memaksa.

Lalu Madge berdiri, bingung harus mulai dari mana, sampai kemudian dia menyodorkan tangannya pada Gale.

"Apa?" tanyanya.

"Ugh," Madge menggeram. "Mau diajari, tidak?"

Gale mengambil tangan Madge ragu. Namun, tangan si gadis menyelip sempurna di genggaman Gale, sensasi hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Oke, jadi pertama kau harus..."

Madge mengajari Gale detail per detail sambil menyenandungkan nada lagu pengiring tarian.

Madge mempelajari kalau Gale memang tidak bisa menari. Sama sekali. "Lempar kakimu menyilang dengan pelan tapi tegas," perintah Madge.

"Seperti ini?" tanya Gale, kakinya melambung terlalu tinggi.

"Sekarang coba sambil melompat, duh, ini gerakan mudah, Gale Hawthorne, bahkan bayi bisa menguasainya dalam sekejap."

Gale memutar matanya.

Gale bukan penari yang baik. Bukan juga murid yang baik.

"Oke, sekarang kita akan mulai gerakan berputarnya."

Masih menggenggam tangan Gale, Madge membawa tubuh bidang Gale dalam putaran. Semakin lama semakin cepat.

"Whoa," seru Gale, merasa pusing setelah beberapa putaran. Madge mengamit tangan Gale yang lain, menahannya jangan sampai oleng.

"Tadi itu... 5 dari 10," kata Madge. Kemudian bibirnya melengkung membentuk seulas senyum.

Gale tak pernah merasa se-penari ini. Tak pernah merasa sehidup ini, "Yar!" serunya kencang-kencang.

"Yar!" Madge mengikuti.

Dia takut Madge akan melepaskannya sekarang, jadi yang Gale lakukan hanya menatap gadis di depannya.

Jika menit-menit berlalu, Gale lupa. Dia menyalahkan siapa saja pengatur waktu di atas sana. Semburat oranye kini berganti lembayung, Madge yang terlebih dulu melepas genggaman mereka.

"Hey, Gale?"

"Ya?"

"Matahari akan terbenam."

Gale menoleh mendapati sang surya yang seolah tenggelam masuk ke dalam laut. Pelan namun pasti, dia merasakan tangan Madge menyusup bertaut dengan jemarinya. Badannya menegang, tapi dia diam saja, tidak mencoba untuk menolak tindakan Madge. Dia tak bisa menolak kehangatan yang tersebar ke tubuhnya


TBC